The Prodigy

Character : Masashi K.

Based on famous chinese saying:

《浪子回头金不换》that means you won't exchange the return of a prodigal son for gold

Genre : Hurt/Comfort & Romance

Sasuino

Probably two shoots, or maybe three shoots.

.

.

What kind of person do you imagine spending the rest of your life with?

Don't we all, deep down, only long for a person who will truly understand us and treat us well?

.

.

Karena kejadian itu, Tuan Sasuke marah selama setengah bulan penuh.

Belakangan, Tuan Sasuke menjadi terlalu sibuk sehingga dia lupa untuk marah. Sebenarnya, aku sangat jarang melihat Tuan Sasuke sekarang – setiap pagi, dia pergi lebih awal dan kembali terlambat. Terkadang, dia baru kembali untuk tidur setelah dua atau tiga hari pergi. Wajah Tuan Sasuke yang awalnya terang menjadi agak gelap. Tapi ada satu perubahan yang menurutku baik – Tuan Sasuke menjadi kuat.

Sebenarnya, tubuh Tuan Sasuke tidaklah lemah. Tapi karena cedera, seluruh tubuhnya sepertinya agak melemah. Setelah beberapa bulan ini, punggung Tuan Sasuke menjadi lebih lebar dan dadanya menjadi lebih bidang. Bahkan kedua lengannya menjadi lebih keras sedikit. Suatu kali, Tuan Sasuke pulang terlambat dan memanggilku untuk makan bersama. Aku bilang aku akan segera menyiapkan meja tapi Tuan Sasuke bilang tidak perlu, kita bisa langsung makan di dapur.

Tuan Sasuke duduk di bangku kecil, memegang semangkuk nasi dan makan dengan suapan besar – aku memandangnya bingung. Tuan Sasuke meletakkan mangkuk itu dan berkata dengan santai, "Mengapa kamu menatapku?"

Aku segera menundukkan kepalaku. Tuan Sasuke berkata, "Angkat kepalamu." Suaranya rendah, tapi itu bukan nada marah. Dia bertanya, "Mengapa kamu terus menatapku?"

Aku merasa otakku ditarik ketika aku membuka mulut, "Pelayan Anda yang rendah hati sedang melihat ... melihat perubahan Tuan Sasuke."

"Ah?" Tuan Sasuke menatapku dan bertanya, "Perubahan apa?"

Aku berkata, "Berubah dari sebelumnya."

Tuan Sasuke terlihat bingung lalu dengan santai meletakkan tangannya dengan ringan di kakinya, dia berkata dengan suara rendah, "Memang telah berubah."

Aku tahu dia salah paham dan dengan tergesa aku mengatupkan kedua tanganku, "Bukan… bukan karena itu."

Tuan Sasuke menatapku dan tidak berbicara. Aku hanya berkonsentrasi untuk menjelaskan, "Perubahan yang dibicarakan pelayan Anda ini... adalah ... adalah perubahan di tempat lain."

Tuan Sasuke berkata, "Tempat apa."

Aku berpikir cukup lama dan berkata, " Tuan Sasuke telah menjadi cokelat."

Setelah mengatakan itu, aku ingin menampar diri sendiri. Tuan Sasuke tercengang sejenak dan kemudian dia tertawa. Dia menyentuh wajahnya sendiri dan mengangguk, "Ya, memang menjadi lebih gelap." Dia menggosok dan berkata, "Lebih kasar juga."

Aku melihat dagu tegas Tuan Sasuke dan alis serta matanya yang cemerlang. Dia mengenakan jubah yang terbuat dari kain kasar dengan ikat pinggang. Sekarang, dengan hanya sedikit menyandarkan tubuhnya akan menyebabkan jubahnya menjadi ketat karena tubuh Tuan Sasuke yang berotot dan lebar. Tepat pada momen itu, aku menyadari bahwa Tuan Sasuke dalam balutan jubah sutra longgar, seorang pria yang memeluk gadis-gadis cantik dan bermain di Danau Barat kota sepertinya hanya ada dalam kenangan.

Saat aku sedang berpikir, Tuan Sasuke menatapku dan bertanya, "Tuan mana yang menurutmu lebih baik?"

Suara Tuan Sasuke berubah, lebih dalam dari sebelumnya dan lebih dewasa. Kadang-kadang aku memiliki perasaan bahwa saat ini aku malah seperti melayani mendiang Tuan Besar Uchiha. Mendengar pertanyaan Tuan Sasuke, aku bahkan tidak berpikir ketika menjawab, " Tuan Sasuke yang sekarang."

Sebelum aku menjawab, Tuan Sasuke tampak gugup, tetapi setelah aku berbicara, bahunya mengendur. Dia mengulurkan tangannya untuk membelai kepalaku, "Pergi dan istirahatlah."

Dengan muram, aku kembali ke kamar untuk tidur. Setelah beberapa hari, Tuan Sasuke tidak bisa bepergian setiap hari karena musim hujan telah tiba. Awalnya aku tidak terlalu menyadarinya dan mengira Tuan Sasuke akhir-akhir ini suka beristirahat di rumah. Namun, suatu kali ketika aku akan pergi ke kamar kecil di malam hari, di tengah rintik rintik hujan, aku mendengar suara dari kamar Tuan Sasuke.

Aku diam-diam pergi ke jendela untuk mendengarkan suara Tuan Sasuke. Suara itu menyakitkan…, sangat menyakitkan sehingga aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku meletakkan payung ke samping dan membuka jendela yang berderit kecil untuk melihat ke dalam. Di ruangan gelap, Tuan Sasuke meringkuk seperti bola, kedua tangannya memegangi kakinya, mulutnya menggigit selimut, lagi dan lagi dia membuat suara rendah dan menangis. Hujan terus turun di luar, angin dingin bertiup ke dalam ruangan dan Tuan Sasuke tiba-tiba mengangkat kepalanya. Di bawah sinar bulan, wajahnya mengerut kesakitan, seolah-olah seluruh wajahnya basah kuyup oleh hujan. Ketika dia melihaku, matanya kendur. Aku seperti melihat selembar kertas putih.

Aku berbalik dan bergegas keluar. Aku tidak membawa payung, tidak juga memakai jubah luar. Aku berlari ke toko obat dan mengetuk pintu. Asisten toko keluar dengan raut wajah seolah-olah dia ingin memukul seseorang tetapi melihat bagaimana penampilanku, dia mundur selangkah.

Aku tau penampilanku saat ini tidak terlihat berbeda dari hantu. Pemilik toko itu terbangun dari dan keluar tidak dalam keadaan yang baik. Aku berlutut dan bersujud di hadapannya. Aku mengoceh dengan gila-gilaan. Aku hanya tahu kata memohon berulang kali, memohon padanya untuk menyelamatkan Tuan Sasuke. Setelah beberapa lama, pemilik toko itu menghela nafas, dia akhirnya memberikan resep dan mengumpulkan sebungkus jamu untukku. Aku takut ramuan itu akan basah dan menyimpannya di dalam lipatan baju.

Aku berlari pulang dengan gila. Setelah merebus ramuan, dengan hati-hati aku memberikannya kepada Tuan Sasuke. Tak beberapa lama, Tuan Sasuke yang akhir-akhir ini terlihat kuat di mataku, menjadi seperti anak kecil yang lemah, dia jatuh ke pelukanku dan tertidur.

Keesokan harinya, keadaan Tuan Sasuke membaik. Dia menatapku, dan untuk waktu yang sangat lama dia tidak berbicara. Setelah perjuangan tadi malam, pakaianku masih basah dengan rambut menggumpal di dahi yang penuh darah kering serta lutut yang berlumur lumpur.

Mungkin karena masih tahap pemulihan, mata Tuan Sasuke agak merah. Dia melambaikan tangannya ke arahku dan berkata dengan suara rendah, "Kemarilah."

Tapi seluruh tubuhku sangat kotor sehingga aku tidak berani mendekat. Aku berkata, "Tuan Sasuke, biarkan pelayan Anda yang rendah hati mengganti jubahnya terlebih dahulu."

Tuan Sasuke menatapku, bibirnya sedikit bergetar dan akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

Aku merasa semakin tidak dapat memahami Tuan Sasuke. Setelah itu, penyakit Tuan Sasuke sembuh dan dia menjadi hidup kembali. Pada waktu itu juga, Tuan Itachi kembali. Tuan Itachi kembali ke rumah dalam keadaan yang lebih buruk daripada saat Tuan Sasuke pertama kali pulang dengan cedera. Tuan Itachi dibawa pulang oleh Kisame dengan perasaan sedih.

Aku terkejut. Kisame menarikku ke samping dan memberitahuku dengan suara rendah, "Tuan Itachi telah ditipu oleh seseorang dan seluruh uangnya lenyap!" Setelah selesai, dia melihat ke kiri dan ke kanan dan bertanya dengan heran, "Ah? Kenapa rumah ini memiliki begitu banyak barang tambahan?

Aku tanpa sadar meluruskan punggungku dan berkata dengan bangga, " Tuan Sasuke membelinya!"

Kisame benar-benar terkejut. Aku memberi tahu dia apa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan bola mata Kisame hampir putus. Ketika aku ingin melanjutkan cerita, Tuan Sasuke kembali dari luar. Melihat aku dan Kisame yang sedang berbicara di sudut, wajah Tuan Sasuke langsung berubah menjadi merah. Aku dengan cepat menepuk tangan Kisame untuk menunjukkan bahwa Tuan Sasuke telah kembali dan kita tidak dapat melanjutkan pembicaraan lagi.

Namun, melihat itu wajah Tuan Sasuke lebih merah lagi.

Jadi, konsekuensi yang harus diterima oleh Kisame karena membicarakan tuannya di belakang adalah tidak mendapatkan makan malam hari itu.

Tapi kenapa aku dapat? Akupun tidak tahu.

Setelah mendengar bahwa Tuan Itachi telah ditipu, ekspresi Tuan Sasuke menjadi tidak bersahabat. Dia memanggil Tuan Itachi ke dalam rumah dan berbicara sepanjang sore. Ketika keluar, Tuan Itachi berkata bahwa cara Tuan Sasuke berbicara seperti mendiang Tuan Besar Uchiha.

Setelah itu, Tuan Itachi tetap tinggal untuk mengurus rumah tangga sementara Tuan Sasuke bepergian keluar.

Setiap kali dia pergi, dua bulan akan berlalu.

Perlahan, rumah yang kami tempati mulai berubah. Di akhir tahun, kami pindah ke rumah baru.

Meskipun tidak sebesar kediaman Uchiha sebelumnya, namun rumah itu jauh lebih terang dan kami bahkan menambahkan beberapa pelayan.

Satu-satunya hal yang disayangkan adalah ketika kami pindah rumah, Tuan Sasuke tidak ada. Aku tidak tahu apa yang Tuan Sasuke katakan kepada Tuan Itachi ketika dia pergi, tetapi Tuan Itachi tidak mengizinkan aku melakukan pekerjaan rumah.

Dia bahkan memberiku satu set pakaian baru untuk dipakai.

Beberapa bulan kemudian, Tuan Sasuke kembali. Tapi, dia kembali larut malam dan pergi sebelum matahari terbit.

Ketika aku bangun, Kisame memberi tahuku bahwa Tuan Sasuke tetap berada di sisi kasurku sepanjang malam.

Hatiku sedih. Aku tidak tahu mengapa Tuan Sasuke tidak membangunkanku.

Setengah tahun lagi berlalu ketika Tuan Sasuke kembali lagi.

Kali ini, seluruh kota Konoha sedang berdiskusi tentang Tuan Sasuke. Mereka memberinya julukan—'Half Fortune God'.

Aku ingin mengatakan Fortune God saja sudah cukup, tapi mengapa harus ada tambahan half? Tapi sepertinya Tuan Sasuke tidak peduli sama sekali terkait julukan itu.

Saat itu pertengahan musim gugur ketika dia kembali. Aku sedang membersihkan halaman. Meskipun pengurus rumah tidak mengizinkanku melakukan pekerjaan rumah, aku selalu ingat tugasku sebagai pelayan. Lagipula berdiam diri terus menerus juga membuat badanku sakit. Setiap hari, aku perlu melakukan beberapa tugas sebelum aku bisa tidur.

Aku sedang menyapu dedaunan di lantai ketika aku berbalik dan melihat seseorang duduk di bangku batu.

Aku tidak tahu kapan Tuan Sasuke duduk di sana. Dia bahkan membawa sepoci teh di tangannya. Tubuhnya dibalut sutra putih dengan jubah luar hitam. Rambutnya diikat tinggi, ada cincin hijau giok di telunjuk jarinya.

Meski sederhana, seluruh sikapnya memiliki keanggunan yang tak terlukiskan.

Aku berkata, "Tuan Sasuke, Anda telah kembali."

Dia menjawab "Hn," dan terus menatapku.

Aku melihat ke kanan dan ke kiri dan kemudian berkata, "Pelayan rendah ini akan menemukan pengurus rumah."

Dia tidak mengizinkanku dan berkata, "Kemarilah."

Aku berjalan mendekat. Tuan Sasuke memandangi sapu di tanganku dan bertanya, "Apa ini?"

Aku menjawab, "Sapu."

Tuan Sasuke berkata dengan sedikit memerintah, "Buang saja."

Tentu saja aku tidak akan membuang barang-barang di depan Tuanku jadi aku meletakkannya di samping. Kemudian, aku dengan hormat berdiri di samping Tuan Sasuke. Dia mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki dan berkata, "Malam ini, ganti bajumu dan ikuti aku keluar."

Aku menjawab iya.

Saat malam hari, aku berdiri di samping Tuan Sasuke. Ekspresinya kaku ketika dia berkata, "Aku tidak memintamu untuk berganti dari satu setel pakaian compang-camping ke setel compang-camping lainnya."

"Ah" aku ragu apakah aku harus kembali untuk berganti pakaian, tetapi Tuan Sasuke melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak apa-apa, ayo pergi."

Kami pergi ke Danau Barat yang benar-benar ramai. Aku melihat barisan perahu yang indah di danau dan tercengang saat Tuan Sasuke membawaku ke perahu terbesar.

Sebelum kami naik perahu, banyak orang keluar dan tersenyum sangat lebar sampai matanya menjadi sipit.

"Ahhh... Tuan Muda Uchiha, kami dengan rendah hati menerima kedatanganmu di sini." Beberapa orang menyambut Tuan Sasuke di atas kapal dan aku mengikuti di belakang.

Ini adalah pertama kalinya aku naik kapal pesiar yang dicat indah ini. Di dalamnya luas dan cukup terang dan memiliki banyak dekorasi yang berkilauan. Ada dua meja dan beberapa penari eksotis yang memainkan alat musik dan bernyanyi.

Aku berbalik dan melihat para pelayan yang berdiri dengan hormat berjajar di samping. Pakaian mereka sama sekali tidak lusuh. Aku akhirnya mengerti mengapa Tuan Sasuke ingin aku mengganti pakaianku. Aku lagi-lagi menjatuhkan harga dirinya. Namun meski begitu, aku tetap harus melakukan tugasku sebagai pelayan.

Aku pergi untuk berdiri di dekat barisan pelayan dan dengan rendah hati menundukkan kepalaku. Ketika aku melakukan itu, beberapa pelayan menatapku dengan aneh.

Ah sungguh, aku tidak cocok berada di sini.

Aku memandang dengan rasa bersalah pada Tuan Sasuke.

Secara kebetulan, dia menoleh ke arahku dan matanya melebar seolah berkata, 'kenapa kamu berdiri di sana?'

Tuan Sasuke mengangkat tangannya, "Kemarilah." Aku lalu berjalan dan berdiri di sisinya. Tapi keanehan Tuan Sasuke belum selesai, dia bahkan menepuk kursi di sebelahnya.

Aku tidak mengerti.

Seorang pria yang mengamati di samping dengan cepat tersenyum padaku, "Nona muda Ino, cepat duduk."

Nona muda? Dengan mengangguk kaku, aku duduk.

Malam itu berlalu dengan sulit untuk dijelaskan. Banyak orang memberiku senyum hormat dan bahkan beberapa pelayan datang untuk menambahkan makanan untukku.

Aku ingin memberi tahu mereka bahwa aku juga seorang pelayan seperti mereka, tolong jangan tambahkan makanan untukku.

Tapi, aku tidak berani bicara.

Dalam kondisi seperti ini, aku bahkan tidak berani makan, apalagi berbicara.

Tuan Sasuke duduk di sisiku dari awal hingga akhir saat orang-orang menghiburnya.

Kemudian, setelah beberapa saat, seseorang tiba-tiba datang dari meja lain. Dia berdiri di depan Tuan Sasuke dan segera berlutut.

Aku memandangnya dan menyadari, ah…ini adalah kepala kelompok yang mengepung Tuan Sasuke dan bahkan memukuliku.

Dia berlutut di tanah tetapi pinggangnya tidak menekuk. Dia tampak seperti mabuk sedikit dan wajahnya memerah. Dia menatap Tuan Sasuke dan terengah-engah sambil berkata, "Tuan Muda Uchiha, saya tidak tahu mengapa Anda mengundang saya ke sini hari ini. Tapi, ada sesuatu yang perlu saya katakan!"

Aku menutup mataku sedikit karena teriakan pria itu. Padahal dia bisa berbicara saja, tidak perlu sampai berteriak.

Tuan Sasuke menatapnya dengan tenang dan berkata, "Bicaralah."

Orang itu sangat gelisah sehingga lubang hidungnya tampak melebar. Dia berbicara dengan lantang, "Ketika Tuan Muda Uchiha jatuh dalam kemalangan, Klan Inuzuka bukan hanya tidak mengirimkan batu bara saat musim salju kepada kediama Uchiha, saya, Inuzuka Kiba bahkan melempar batu pada Anda. Sekarang bisnis Tuan Muda Uchiha telah berkembang, menguasai setengah jalur perdagangan Konoha, sangat masuk akal jika bisnis Tuan tidak menjaga binis Inuzuka kami, Tapi—!"

Pemuda dari Inuzuka itu benar-benar minum terlalu banyak. Semua orang di perahu memandangnya saat dia menatap dengan tajam kepada Tuan Sasuke, "Tapi! Saya tidak menyesal!"

Suaranya bergetar dengan jejak air mata, "Saya tidak menyesal! Saat itu, di tahun sebelumnya, Anda membuat masalah di Kedai Osmanthus dan memotong rambut panjang istri saya. Selama setengah tahun, istri saya tidak berani keluar rumah dan bahkan tidak tersenyum. Apakah Anda bahkan ingat ini?!"

Aku terdiam saat aku mencuri pandang pada Tuan Sasuke yang tidak berekspresi.

Inuzuka Kiba akhirnya berteriak, "Jadi Saya tidak menyesal! Uchiha Sasuke, Kediaman Inuzuka-ku, meski tanpa bantuanmu, masih bisa bertahan!"

Tuan Sasuke akhirnya membuka mulutnya, "Lalu, mengapa kamu berlutut ke arahku?"

Semua orang diam, bahkan Inuzuka Kiba.

Jika Anda benar-benar tidak membutuhkan bantuan, mengapa Anda berlutut?

Kiba membungkuk dan menangis tersedu-sedu. Semua orang menonton.

Tuan Sasuke mendorong bangku dan berdiri di tanah. Dia tidak memegang kruknya. Tangannya bersandar di atas meja dan yang lainnya di bahu Kiba. "Bangkit."

Kiba tidak bergerak. Tuan Sasuke meningkatkan tekanan, "Tuan Muda Inuzuka, bangkitlah."

Kiba mengangkat kepalanya untuk melihat Tuan Sasuke dan akhirnya berdiri. Lalu seseorang datang untuk membawa Tuan Sasuke ke kursi tetapi dia menggelengkan kepalanya.

Dia menuangkan secangkir anggur untuk dirinya sendiri dan berbalik. Tuan Sasuke berbicara kepada semua orang dengan suara rendah, "Semua orang, mereka yang saya undang hari ini - beberapa mengenal saya sebelumnya dan beberapa tidak. Beberapa berhutang terima kasih, beberapa berhutang dendam. Secangkir anggur ini, saya berikan kepada semua orang yang memiliki hutang budi."

Setelah dia selesai, dia membuang cangkir itu. Dia bergerak maju selangkah dan mengangkat kepalanya dan berkata, "Kepala ini, saya bersujud kepada mereka yang memiliki hutang dendam."

Setelah dia selesai, sebelum ada yang bisa bereaksi, Tuan Sasuke membungkuk ke depan dan dahinya membentur lantai kayu perahu dengan suara 'gedebuk'. Kaki Tuan Sasuke tidak sempurna, jadi melakukan kowtow* seperti ini tidaklah mudah.

Semua orang tercengang, termasuk aku.

Siapa yang berani menerima sujud dari Tuan Sasuke? Jangankan diriku yang pelayan ini, semua orang disini yang memiliki bisnis besar, mereka tidak berani menerima ini.

Tapi tidak ada yang bisa memprediksi skenario ini, jadi tidak ada yang berani buka mulut.

Tuan Sasuke bangkit. Ekspresinya tidak berubah saat dia menuangkan secangkir anggur lagi. Dia berkata, "Saya, Uchiha Sasuke, hanya mengandalkan tiga hal ketika saya melakukan bisnis—keberanian, otak, dan kepercayaan."

Suara Tuan Sasuke dalam dan tatapannya hitam, "Kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu, Surga telah menghukum saya. Jika semua orang bersedia memberi saya kesempatan ini, untuk mempercayai saya lagi, mulai sekarang, kita akan berbagi dalam kemakmuran dan dapatkan kesejahteraan bersama. Saya tidak akan memperlakukan kalian semua dengan buruk."

Tuan Sasuke yang ini benar-benar mirip Tuan Sasuke beberapa tahun lalu yang berjalan dengan santai di jalan-jalan Konoha. Dia tahu caranya membentuk kata-kata, hanya beberapa baris dan beberapa orang di sini sudah menangis.

"Untuk kamu," Tuan Sasuke memandang Kiba, dia mengarahkan telunjuk jarinya dengan cincin hijau giok ke arahku dan berkata dengan suara rendah, "Apakah kamu ingat dia?"

Kiba menatapku dan mengangguk. Tuan Sasuke dengan ringan berkata, "Kowtow padanya tiga kali dan berdoa dia akan memaafkanmu. Kemudian, kita akan melupakan kejadian hari itu."

Kiba berjalan di depanku dan berlutut. Dia bersujud tiga kali.

Aku dengan cemas menatap Tuan Sasuke tetapi dia tidak memiliki ekspresi apa pun. Aku mencoba mengatakan, "Ti…tidak apa". Tapi Kiba melanjutkan bersujud. Setelah selesai, Kiba bangkit dan Tuan Sasuke mengangguk padanya.

Dalam perjalanan pulang, Tuan Sasuke memanggilku ke kereta dan berkata, "Kamu telah menderita."

Aku terkejut. Aku dengan penuh kerendahan hari mengatakan ini adalah pertama kalinya aku disujud oleh seorang pria, aku tidaklah menderita.

Tuan Sasuke tertawa kecil dan berkata, "Duduklah lebih dekat, Ino."

Aku mencondongkan tubuh lebih dekat dan tidak berani melihat Tuan Sasuke. Kepalaku tetap menunduk.

Tuan Sasuke berkata, "Kepalamu selalu menunduk, apa yang kamu lihat?"

Tergagap, aku segera mengarang sesuatu, "Melihat cincin itu."

Tuan Sasuke menurunkan cincin di telunjuknya dan meletakkannya di telapak tanganku, "Apakah kamu suka ini? Kamu bisa memilikinya."

Beraninya aku menerima ini? Aku menggelengkan kepalaku, "Aku hanya.. hanya melihatnya."

Tuan Sasuke meraih tanganku dan meletakkan cincin jari di telapak tanganku sambil berkata, "Apa yang aku miliki, itu adalah milikmu, Ino."

Cincin hijau tua, masih membawa panas dari tubuh Tuan Sasuke. Aku membawanya di telapak tangan dan tidak berani berbicara.

.

.

.

Kali ini Tuan Sasuke tinggal untuk waktu yang cukup lama. Dia membeli kediaman besar lainnya, hampir sama dengan kediaman Uchiha sebelumnya.

Nyonya Besar Uchiha dan para wanita Uchiha lainnya dibawa kembali. Kediaman Uchiha menjadi ramai lagi.

Tuan Muda Kedua yang sebelumnya tidak disukai kini telah menjadi pemimpin Klan. Selain Nyonya Besar Uchiha, semua orang dengan hormat memanggilnya Tuan.

Karena ada lebih banyak orang, pengurus rumah tangga mempekerjakan lebih banyak pembantu. Sekilas aku melihat bahwa mereka akan dikirim untuk melayani di halaman Tuan Sasuke.

Malam itu aku duduk untuk waktu yang sangat lama dan menatap bulan dengan bingung.

Aku telah menghitung dalam hati berapa banyak uang yang aku miliki saat ini. Setelah menghitung selama setengah hari, aku mendapatkan hasil yang menyenangkan. Ternyata setelah bertahun-tahun, aku bisa dianggap orang kaya. Tidak, aku adalah budak yang kaya.

Dalam beberapa hari berikutnya, aku mengubah uangku menjadi mata uang kertas.

Aku menggadaikan perhiasan yang diberikan Tuan Sasuke kepadaku sebelumnya dan mengubahnya menjadi perak.

Hanya cincin hijau giok itu yang tidak aku gadaikan. Cincin itu sangat indah memiliki arti sangat besar bagiku, aku tidak tahan untuk menggadaikannya dan menyimpannya di tas ku.

Kontrak budak ku masih dengan Nyonya Besar Uchiha, jadi aku pergi mencarinya dan memberi tahu dia alasan kepergianku.

Aku memberinya uang agar dia bisa membebaskanku.

Nyonya Besar Uchiha menatapku dan berkata dengan suara ringan, "Tidak ada kontrak lagi. Setelah kejadian itu, semuanya hancur."

Aku bingung, lalu berkata, "Kalau begitu hamba yang rendah ini akan pergi sekarang. Nyonya, tolong jaga dirimu."

Nyonya Besar Uchiha tidak mengatakan apa-apa. Dia duduk di paviliun, menundukkan kepalanya dan menyeka matanya.

Bagaimana aku bisa pergi?

Aku lalu bangkit dan menghiburnya, "Nyonya, tolong jangan menangis."

Nyonya Besar Uchiha menangis, "Sasuke-ku yang malang ..."

Tuan Sasuke? Aku berkata, "Ada apa dengan Tuan Sasuke?"

Nyonya Besar Uchiha menggelengkan kepalanya dan berbicara tanpa tujuan pada dirinya sendiri, " Oh, Sasuke-ku, Sasuke-ku yang malang..."

Aku tidak tahu apa yang dia tangisi dan berkata, "Nyonya, jangan menangis. Tuan Sasuke kita saat ini luar biasa."

Nyonya Besar Uchiha mengabaikanku dan terus menangis.

Melihat bahwa aku tidak bisa menghiburnya, aku mendesah dan berbalik untuk pergi. Ketika aku berbalik, aku melihat Tuan Sasuke bersandar pada kruknya, berdiri tidak jauh dari situ.

Dia terus memandangi tasku. Kepala Pelayan dengan gugup berdiri di sisinya. Aku berjalan dan memberi hormat.

Aku berkata, "Tuan Sasuke, saya pergi."

Tuan Sasuke mengangguk dan berkata, "Oke."

Aku bingung dan sedikit tidak bahagia. Bukankah aku telah menderita bersamamu selama bertahun-tahun? Meskipun aku hanya seorang pelayan kecil, tetapi dia tidak harus berbicara sesingkat itu kan?

Tentu saja, aku tidak berani menunjukkan ketidaksenanganku. Aku bersujud pada Tuan Sasuke, "Tuan, jagalah kesehatan dan hiduplah untuk waktu yang lama."

Setelah selesai berbicara, aku berbalik dari sisinya untuk pergi.

Setelah berjalan sangat jauh, aku diam-diam berbalik dan melihat Tuan Sasuke masih berdiri di sana.

Kepala Pelayan berlutut di sisinya. Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Aku merasa punggung Tuan Sasuke sedikit membungkuk dengan kepala tertunduk.

Bagaimana mungkin?

Karena itu, kemudian aku segera menoleh ke belakang. Aku menyewa gerobak sapi dan bersiap untuk kembali ke kampung halaman ku.

Tapi, aku pergi tidak sampai tiga hari ketika perjalananku dihentikan Kepala Pelayan Uchiha. Ketika dia melihatku, dia seperti melihat ibunya sendiri. Dengan bunyi gedebuk, dia berlutut. Semua orang di penginapan berbalik untuk melihat.

Dia berkata, "Nona muda, tolong kembali! Saya mohon Anda untuk kembali!"

Aku bertanya, "Apa yang kamu lakukan?"

Kepala Pelayan mengoceh selama setengah hari dan akhirnya aku mengerti - Tuan Sasuke jatuh sakit.

Akhirnya aku memutuskan untuk melihat Tuan Sasuke sebentar. Aku berangkat dengan kereta sapi tetapi kembali dengan kereta kuda.

Dalam perjalanan pulang, aku bertanya kepada Kepala Pelayan, "Hanya tiga hari, bagaimana dia bisa jatuh sakit?"

Wajah Kepala Pelayan menjadi sedih, "Aiya…bagaimana ini, bagaimana ini..." Dia tidak menjawab pertanyaan ku dengan benar.

Aku semakin mendesak, "Penyakit apa?"

Kepala Pelayan menghela nafas panjang dan berbicara dengan penuh arti kepadaku, "Nona, hati Tuan dipenuhi kepahitan."

Aku berhenti bertanya.

Ketika kami kembali ke kediaman Uchiha, semua orang menatapku.

Aku menegakkan leherku dan memasuki halaman Tuan Sasuke. Halamannya sangat besar tetapi tidak ada satu orang pun di sini.

Dalam hatiku aku memarahi Kepala Pelayan. Kalian mempekerjakan begitu banyak pelayan tapi kenapa tidak ada satu pun yang melayani di sini?!

Aku mengetuk pintu Tuan Sasuke dan bertanya, "Tuan Sasuke, apakah Anda masih terbangun?"

Tidak ada suara.

Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi jadi aku segera mendorong pintu.

Di dalam, Tuan Sasuke mengenakan jubah tidurnya dan berbaring di tempat tidur dengan mata tertutup.

Saat aku melihatnya pertama kali, aku tahu bahwa Tuan Sasuk benar-benar sakit. Aku berjalan mendekat dan berkata dengan suara ringan, "Tuan Sasuke, bagaimana perasaan Anda? Pelayan yang rendah ini akan mencarikan tabib untuk Anda."

Tuan Sasuke perlahan membuka matanya dan menatapku. Dia berbicara dengan suara serak, "Jadi kamu masih peduli dengan hidup atau matiku?"

Aku membuka mulutku tetapi tidak berbicara. Aku tidak tahu harus berkata apa.

Tuan Sasuke mengulurkan tangannya dan tanpa sadar aku memegangnya.

Tangan Tuan Sasuke sangat lebar, ada kapalan di sekujur tangannya. Aku tidak tahu apakah tangan mendiang Tuan Besar Uchiha seperti tangan Tuan Sasuke yang selalu menahan angin dan salju?

Tangannya yang lain menutupi matanya saat dia berbicara dengan suara serak, "Ino, bisakah kamu tidak pergi? Jika kamu pergi, aku tidak bisa lagi bertahan ..."

Ini adalah kata-kata yang paling tak tertahankan yang dikatakan Tuan Sasuke kepadaku. Dibandingkan dengan tendangan yang dia berikan padaku sebelumnya– ini jauh lebih menyakitkan.

Tapi aku mengatakan kepadanya, "Tuan Sasuke, saya tidak bisa tinggal."

Tangan Tuan Sasuke selalu menutupi matanya. Setelah mendengar kata-kataku, dia tidak membuka mulutnya, juga tidak menurunkan tangannya.

Aku berkata, "Tuan Sasuke, Anda harus memberi tahu Kepala Pelayan semua yang perlu dilakukan. Jika tidak, saya khawatir dia tidak akan bisa merawat Anda dengan baik."

Tuan Sasuke tidak bergerak. Jadi aku bertindak atas kemauan ku sendiri untuk memanggil Kepala Pelayan. Aku mengatakan kepadanya, " Kepala Pelayan, Anda harus ingat apa yang akan saya katakan kepada Anda."

Kepala Pelayan menganggukkan kepalanya. "Apa yang ingin dikatakan Nona?"

Aku berkata, "Luka kaki Tuan Sasuke hampir sembuh, tetapi kakinya akan sakit pada hari yang dingin dan hujan. Anda harus menyiapkan handuk panas terlebih dahulu untuk menekan kakinya. Ada toko obat bernama 'Spring Hall' di jalan lama, jalan tempat kami tinggal. Meskipun itu toko kecil, para tabib di sana sangat terampil. Selama bertahun-tahun mereka telah merawat kaki Tuan Sasuke, jika ada masalah, Anda harus pergi ke sana."

"Tiang bambu untuk kaki harus diganti setiap tiga bulan. Para tukang kayu di kota mengetahui ukuran yang tepat. Anda tidak dapat menggunakan kain sutra halus untuk menutupi kaki karena tidak tahan, Anda harus menggunakan kain kasar. Untuk pakaian Tuan Sasuke, lengan jubah kiri membutuhkan lapisan tambahan, saya sudah menyerahkan ukuran celana kepada Nyonya Besar Uchiha."

"..."

"Tuan Sasuke tidak pilih-pilih makanan tapi dia menyukai makanan dengan rasa kuat. Untuk alasan kesehatan, dia tidak boleh makan makanan pedas. Kamu harus memberi tahu pelayan dapur untuk memantau jumlah cabai saat memasak."

"Kamu harus lebih awas di malam hari - ketika Tuan Sasuke tidak bisa tidur, dia suka minum alkohol di halaman. Tapi, dia tidak akan minum terlalu banyak. Jangan ganggu dia, diam-diam bersembunyi di balik rumah untuk awasi dia, jangan biarkan dia terlalu sedih—... Kepala Pelayan?"

Aku hanya mengatakan beberapa patah kata dan melihat ada garis-garis air mata di wajah Kepala Pelayan dan dia sedang berlutut.

"Nona–" Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kepala Pelayan. Sebelumnya ketika Mendiang Tuan Besar Uchiha masih ada, aku tidak pernah menyadari bahwa dia sangat suka menangis.

Aku menoleh dan berpikir untuk meminta Tuan Sasuke mengucapkan beberapa kata untuk menghibur Kepala Pelayan, tetapi Tuan Sasuke masih dalam posisi yang sama dan tidak bergerak.

Aku tiba-tiba merasa seperti kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika Tuan Sasuke baru saja pulang setelah cedera. Bayangan dirinya yang tidak bisa hidup namun tidak bisa mati. Aku mengguncang Tuan Sasuke dan bertanya, "Tuan Sasuke, apa yang terjadi padamu?"

Tuan Sasuke tidak bergerak, telapak tangannya masih menutupi matanya, hanya memperlihatkan sepasang bibir yang terkatup rapat.

Kepala Pelayan menambahkan, "Sejak Nona pergi, Tuan belum makan selama tiga hari."

Mataku melebar dan aku bertanya pada Tuan Sasuke, "Tuan, mengapa kamu tidak makan?"

Kepala Pelayan bersujud ke arahku dan kemudian bangkit. Dia berkata, "Nona, saya sudah tua dan tidak dapat mengingat semua hal ini! Anda harus melakukannya sendiri."

Setelah dia selesai berbicara, dia berjalan pergi.

Aku terkejut dan bingung. Dia bisa menjadi Kepala Pelayan yang bertindak seperti itu?

"Ino ..." Tuan Sasuke membuka mulutnya, aku buru-buru mengalihkan perhatianku padanya.

Aku bertanya, "Tuan Sasuke, apa yang ingin Anda makan? Saya akan menyuruh dapur untuk menyiapkannya."

Tuan Sasuke tampak berpikir sejenak dan kemudian dia berkata, "Mie."

"Oke, tunggu sebentar."

Aku berlari ke dapur untuk membuat semangkuk mie.

Dalam perjalanan ke dapur, ketika semua orang menatapku, tatapan mereka terlihat sangat tulus. Aku terinfeksi oleh semburan kehangatan ini dan hatiku berpikir bahwa tidak peduli metode apa yang aku gunakan, aku harus membuat Tuan Sasuke menelan mie.

Aku memikirkan kembali tentang bagaimana ketika Tuan Sasuke tidak mau makan sebelumnya, aku bahkan menggunakan kekerasan.

Ah, tapi aku tidak bisa menggunakan metode itu sekarang karena dengan kekuatan Tuan Sasuke saat ini, dia bisa dengan mudah menghancurkanku.

Tetap saja, kali ini Tuan Sasuke sangat kooperatif. Ketika aku memberinya semangkuk mie, dia dengan cepat memakannya.

Melihat dia memiliki kekuatan untuk makan, hatiku menjadi rileks. Tuan Sasuke berhenti setelah beberapa suap. Dia melihat ke mangkuk dan bertanya dengan suara rendah, "Apakah kamu ingat bagaimana kita makan mie sebelumnya?"

Aku mengatakan bahwa aku ingat. Ketika dia pulang terlambat, kami sering duduk di dapur sambil makan mie bersama. Meski mie-nya masih sama, namun sekarang mangkoknya terbuat dari porselen.

Tuan Sasuke berkata, "Pada hari-hari ketika kamu pergi, aku terus memikirkan semangkuk mie ini."

Aku berkata, "Jika Tuan suka makan mie, Anda bisa meminta Kepala Pelayan." Mengapa Anda membuat diri Anda kelaparan?

Tuan Sasuke tertawa pahit sejenak dan menjawab, "Ino, kadang-kadang aku benar-benar tidak tahu apakah kamu benar-benar bodoh atau berpura-pura bodoh."

Aku tidak berbicara.

Tuan Sasuke bersandar di samping tempat tidur dan berkata dengan ringan, "Tahun lalu, aku sedang dalam perjalanan ke Kumogakure ketika aku menghadapi badai hujan yang sangat besar. Kelompok pedagang terjebak di pegunungan dan tidak dapat pergi."

Aku tidak tahu mengapa Tuan Sasuke tiba-tiba membicarakan hal ini kepada ku, tetapi aku diam-diam mendengarkan.

Tuan Sasuke menepuk kakinya dan menatapku. "Saat itu, tiang bambu ku hilang dan aku harus berjalan telanjang kaki. Pada malam hari, ketika kami bersembunyi di dalam gua, cuacanya sangat dingin sehingga bisa merenggut nyawa kami. Rombongan khawatir kami akan mati begitu saja. Kami berbincang satu sama lain untuk meningkatkan semangat kami. Saat itu, orang di sebelah ku bertanya, 'Kamu sudah seperti ini, kenapa kamu keluar?' Aku mengatakan kepadanya bahwa saya keluar untuk mencari uang. Orang itu tertawa dan berkata, 'Itu benar. Jika bukan karena uang, siapa yang mau menanggung kesulitan bepergian jauh.' Aku kemudian mengatakan kepadanya bahwa saya keluar untuk mendapatkan uang, tetapi itu bukan untuk uang. Dia bertanya apa maksud ku..."

Saat Tuan Sasuke mengingat kejadian itu, dia dengan ringan mengelus kakinya dan suaranya tetap tenang. "Aku mengatakan kepadanya, setelah aku kehilangan kaki ku, aku merenungkan hidupku yang tidak ada artinya lagi dan berniat untuk tidak hidup lagi. Tapi suatu hari, tiba-tiba aku menyadari bahwa masih ada satu orang di dunia ini yang bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk orang cacat seperti ku. Tapi orang itu bodoh sampai sekali, jadi aku pikir jika aku mati seperti ini, apa yang akan terjadi padanya?"

"Diperlakukan seperti putri oleh pria yang tidak berguna, tetap tidak berguna. Jadi aku berkata pada diri ku sendiri, aku harus bangkit, menjadi pria yang berdiri di atas pria. Meskipun tinggiku hanya setengah pria sekarang, aku harus bisa mengangkat derajat orang itu. "

"Aku rela menanggung kesulitan apa pun. Aku rela tinggal di luar di bawah bintang dan bulan, makan di hutan belantara, minum angin dingin dan menelan pasir, tetapi selama aku memikirkan dia menikmati hidup di Konoha, hatiku nyaman dan aku bisa melanjutkan perjalanan."

Aku tidak tahu kapan tetapi mata Tuan Sasuke memerah, sangat merah sehingga aku tidak berani menatapnya lagi.

"Ino..." Dia menarik tanganku, menekuk pinggangnya dan bertanya di samping wajahku yang tertunduk, "Apakah kamu tahu apa yang paling aku sesali dalam hidup ini?"

Aku dengan paksa menggelengkan kepalaku. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa.

Tuan Sasuke menjawab dengan suara gemetar, "Bahwa aku tidak mengingatmu."

Tuan Sasuke menarik tanganku dan meletakkannya di dadanya. Air matanya yang panas mengalir ke pergelangan tanganku. Hatiku terasa ditekan begitu tak tertahankan sehingga aku ingin mati. "Aku sangat menyesal karena aku tidak mengingat mu."

Dia mengambil tanganku untuk memukul dadanya lagi dan lagi. "Kamu tinggal menjadi pelayan di halamanku selama dua tahun, namun aku benar-benar tidak dapat mengingatmu. Aku bahkan dapat mengingat berapa banyak bukit dan kolam palsu yang aku miliki di halamanku, tetapi aku tidak dapat mengingatmu. Satu-satunya orang dalam hidupku yang tidak meninggalkan ku, namun aku tidak dapat mengingatnya. Katakan, apakah kamu berbohong kepada ku? Apakah kamu benar-benar tinggal di halaman ku?"

Aku tiba-tiba merasa sangat marah sehingga aku ingin mati. Aku menangis, "Saya tidak berbohong kepada Anda. Saya betul pelayan di halaman anda! Saya tetap—!"

Tuan Sasuke memelukku seketika dan berkata dengan suara rendah. "Kamu tidak berbohong padaku, aku tahu kamu tidak berbohong padaku. Sekarang, pembalasanku telah tiba. Sebelumnya ketika aku memilikimu, aku tidak melihatmu. Sekarang aku ingin melihatmu, kamu ingin pergi. Ino, apakah kamu ingin Tuanmu ini terus hidup?"

Aku terus meratap. Tapi Tuan Sasuke berbau sangat harum– bersih dan sedikit hangat.

Aku menangis selama setengah hari dan tertidur dalam pelukan Tuan Sasuke. Ketika aku bangun, aku menyadari bahwa Tuan Sasuke juga tertidur. Tubuhnya bersandar ke samping dengan lengan memelukku.

Ketika aku bergerak sedikit saja, cengkeraman Tuan Sasuke menegang dan matanya terbuka.

Aku hanya budak rendah yang tidak berpengalaman; ini adalah pertama kalinya aku terbangun dalam pelukan seorang pria.

Aku berjuang untuk mencoba dan mempertahankan kesopanan ku. Lengan Tuan Sasuke seperti lingkaran logam dan aku tidak bisa melepaskan diri. Aku mengatakan kepada Tuan Sasuke untuk melepaskannya.

Tuan Sasuke menatapku, wajahnya tanpa ekspresi saat dia bertanya, "Jika aku membiarkanmu pergi dan kamu pergi, apakah kamu ingin aku merangkak dan mengejarmu?"

Aku berhenti bergerak. Lagipula, pelukan Tuan Sasuke sangat lebar dan hangat.

Setelah merenung beberapa saat, aku berbicara dengan suara kecil, "Saya tidak ingin menjadi pelayan kamar**."

Tuan Sasuke tertawa pelan di atas kepalaku, "Mengapa?"

Aku bilang, "Seorang pelayan kamar akan ditendang..." Itulah yang aku lihat sebelumnya.

Tuan Sasuke sepertinya tidak mengerti arti mendalam dari kata-kataku. Dia berpikir sejenak dan bertanya, "Apakah kamu mengatakan aku akan memukulmu?" Setelah dia selesai, dia dengan cepat menambahkan, "Sebelumnya, aku tidak memukul pelayan mana pun."

Aku mengangguk, "Ya, Tuan Sasuke hanya memukul ku."

Lengan Tuan Sasuke menegang, "Apa?"

Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya dan memberitahunya tentang bagaimana dia biasa melampiaskan amarahnya pada diriku.

Wajah Tuan Sasuke memutih. Dia menggigit giginya sambil berkata, "Tidak mungkin! Tidak mungkin aku memukulmu!"

Aku merasa bahwa Tuan Sasuke tidak mempercayai ku, jadi aku mengulangi semua kejadian dengan hati-hati. Bagaimana dia menendang, bagaimana dia mendorong, bahkan menampar.

Wajah Tuan Sasuke menjadi lebih putih saat dia mendengarkan, seluruh tubuhnya gemetar saat dia duduk. Aku melihat bahwa tatapannya benar-benar membawa jejak ketakutan.

"Jadi... jadi kamu sebenarnya membenciku kan? Karena aku memukulmu sebelumnya, kamu membenciku kan..."

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Tuan Sasuke begitu panik. Dia berbalik dan aku pikir dia ingin mengambil kruknya, tetapi dia benar-benar jatuh ke depan sekaligus.

Aku buru-buru berteriak 'Tuan Sasuke tetapi dia sudah jatuh ke lantai.

Aku bergegas ke bawah tempat tidur dan melihat kakinya sudah terluka karena jatuh.

Aku ingin keluar dan mencari obat tetapi Tuan Sasuke menarik tangan ku, "Jangan pergi, Ino! Jangan pergi!"

Tuan Sasuke berjongkok di tanah, tidak peduli bagaimana penampilannya saat dia memegang tanganku dalam genggaman maut. "Kamu bisa memukulku kembali! Pukul aku, pukul aku kembali!"

Aku akhirnya menyadari apa yang dia lakukan.

Aku membungkuk dan menopang bahu Tuan Sasuke dan membawanya kembali ke tempat tidur.

Aku mengatakan kepadanya, "Tuan Sasuke, masalah sebelumnya telah berlalu, Anda harus melupakannya."

Tuan Sasuke menundukkan kepalanya, ekspresinya menunjukkan rasa sakit yang dalam. Melihat Tuan Sasuke yang tidak ada respon, otak kecil ku tiba-tiba mendapatkan inspirasi. Aku merasa ini adalah kesempatan yang bagus dan dengan cepat menambahkan, "Tuan Sasuke, saya tidak ingin menjadi pelayan yang digunakan untuk urusan kamar tidur."

Kepala Tuan Sasuke masih tertunduk dan dia menjawab dengan suara rendah, "Lalu bagaimana kalau nyonya digunakan untuk urusan kamar tidur."

Aku bingung. Apa yang dilakukan nyonya untuk urusan kamar tidur?

Aku dengan hati-hati bertanya, "Tuan Sasuke, nyonya yang digunakan untuk urusan kamar tidur ini ... ada berapa?"

Tuan Sasuke dengan cepat mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tajam, "Berapa banyak Nyonya yang dimiliki Klan Uchiha sebelumnya?!"

Aku memikirkannya dan menjawab, "Hanya satu…, Ahh…hanya satu nyonya!"

Aku pikir aku membuat diri ku lebih bingung ketika aku tiba-tiba menyadari apa maksud Tuan Sasuke.

Tuan Sasuke melihat tatapan ku menjadi cerah dan tahu bahwa aku akhirnya mengerti. Dia mengembuskan napas rendah dan memalingkan muka.

Aku memandangnya dan berkata, "Tuan Sasuke, wajahmu sangat merah."

Tuan Sasuke berbalik dan memberiku senyum kejam. Aku segera tahu bahwa masalah akan muncul dari kebahagiaan ku.

Memang, pada saat berikutnya, Tuan Sasuke dengan pelan mendorong ku ke tempat tidur, membuatku terbaring seperti manusia mati.

Tuan Sasuke menghampiri dan sedikit bersandar pada tubuhku.

Aku dengan gugup bertanya kepadanya, "Tuan Sasuke, Anda ... aroma apa dari tubuh Anda?" Mengapa baunya sangat harum?

Tuan Sasuke menatapku dan berkata dengan enteng, "Aroma seorang laki-laki."

Aku tidak berani berbicara lagi.

Hari itu, aku secara pribadi mengalami apa yang dikatakan pelayan kamar sebelumnya tentang pengalaman "menakjubkan seperti naik ke surga". Karena aku benar-benar seperti naik ke surga.

Aku memandangi Tuan Sasuke tidur nyenyak di sebelah ku.

Dia terus bertanya padaku kapan aku melihatnya pertama kali tapi aku bilang aku sudah lupa.

Sebenarnya, aku berbohong.

Bagaimana aku bisa melupakan momen itu?

Hari itu dia mengenakan jubah putih sambil duduk di tengah aula. Tangannya yang panjang dan anggun memegang secangkir teh sambil berkata, "Angkat kepalamu."

Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya mengerutkan alisnya dan kemudian tertawa meremehkan, "Benar-benar terlihat seperti monyet."

Saat itu, semua pelayan di sekitar tertawa, tapi aku tidak peduli.

Aku selalu mengawasinya, memandanginya yang berada di atas sana, seolah-olah melihat yang abadi.

Sebelumnya, aku berpikir bahwa untuk orang seperti Tuan Sasuke, bahkan setelah menghabiskan seluruh hidup ku yang malang, aku tidak akan dapat menyentuh ujung jarinya sekalipun.

Namun kemudian, Tuan Sasuke terluka dan aku bisa tetap merawatnya. Meskipun melelahkan, setidaknya dia telah jatuh sedikit dari tumpuannya yang abadi dan sekarang aku bisa menyentuhnya.

Tapi siapa yang tahu bahwa Tuan Sasuke begitu kuat?

Sejak dia keluar dari nerakanya sendiri, aku pikir dia akan kembali ke tempat asalnya. Siapa yang menyangka bahwa dia kembali dengan menarik tanganku bersamanya.

.

.

.

Belakangan Tuan Sasuke sering meminta ku untuk menceritakan kepadanya kisah-kisah masa lalu. Jika aku tidak memberitahunya, dia akan merasa sedih. Tetapi setelah aku selesai bercerita, dia akan pergi ke sudutnya sendiri dan menjadi muram.

Awalnya, hatiku tidak tahan tetapi kemudian aku merasa kegiatan itu sangat menyenangkan.

Tapi, aku hanya berani bercerita tentang kejadian di mana dia kehilangan kesabaran dan memukuli ku.

Saat dia tidak melampiaskan amarahnya, saat dia diam-diam melintas melewati wajahku, saat dia duduk dengan anggun di ruangan yang sedan aku bersihkan, aku tidak pernah berani memberitahunya tentang ini.

Karena aku takut begitu aku menceritakan ini, beberapa perasaan tidak dapat disembunyikan lagi.

FIN


Notes:

*Kowtow 磕头 is the act of deep respect shown by prostration, that is, kneeling and bowing so low as to have one's head touching the ground. In Sinospheric culture, the kowtow is the highest sign of reverence. It was widely used to show reverence for one's elders, superiors, and especially the Emperor of China, as well as for religious and cultural objects of worship

** chambermaid/Fúwùyuán/服务员 : a woman employed to clean and tidy bedrooms

It's been a long time, I know. Deeply apologized.

I tried to make Ino's narrative in a monotone. She was able to (unintentionally) be dense, cute, sarcastic, funny and compassionate in a completely matter-of-factly manner as she told the story, and still managed to stir up emotions. I just have a soft spot for this kind of narrative.