Naruto © Masashi Kishimoto
Badai © Liu Lin An
Pairing: SuiKarin; SasuSaku
Warning: Miss Typo, OoC, Alternative Universe/AU.
Don't Like? Don't Read!
.
Bagian ketiga Tetralogi Hujan
.
.
Seharusnya, Karin merasa jauh lebih baik hari ini.
Acara launching yang merepotkan itu sudah berlalu dengan lancar kemarin, dan seharusnya ia bisa sedikit beristirahat setelah dua hari bekerja tanpa tidur.
Karin sebenarnya tahu, celetukan Hozuki Suigetsu padanya tempo hari—yang memintanya menyelesaikan laporan acara kemarin dan menyerahkannya padanya pagi ini, hanya omong kosong belaka. Lagi pula mereka masih punya satu minggu penuh sebelum mereka harus menyerahkan laporan tersebut.
Namun Karin merasa ia benar-benar harus menyelesaikan laporan sial itu hari ini dan segera menjejalkannya di wajah menyebalkan pria pirang platina tersebut; dan kalau pun ia ditanya mengapa demikian, ia pun tak bisa menjelaskan 'mengapa'.
Dan meskipun ia sekarang ini sangat kelelahan—hingga rasanya nyaris bisa pingsan kapan saja, semua itu setidaknya terbayarkan saat Karin melihat raut terkejut di wajah seniornya itu pagi tadi, ketika ia benar-benar menyerahkan laporannya hari ini.
Tentu terkejut bukanlah kata yang tepat—tercengang, mungkin. Dan ada kilatan rasa bersalah yang begitu ketara dibalik kedua netra violet yang biasanya berpendar menyebalkan itu; yang mana tidak pernah Karin lihat sebelumnya.
Ha!
Setidaknya lelahnya sedikit terbayarkan untuk hiburan singkat tersebut.
Sayangnya, rasa puasnya itu tidak bisa bertahan lama. Karena ketika jam makan siang akhirnya tiba, Karin mulai merasa kepalanya seperti telah dipukul menggunakan martil penghacur beton.
Dengan langkah lemas ia pun segera naik ke atap kantornya untuk beristirahat sejenak. Karena sungguh, Karin ingin sedikit ketenangan hari ini, dan makan siang di kantin bawah nampaknya tidak akan memberikan itu padanya.
"Kau terlihat sangat menyedihkan."
Atau itulah rencananya, sebelum Tayuya dengan seenaknya memutuskan untuk mengganggunya. Terkutuklah hidupnya—kenapa semua orang suka sekali menganggunya sih? Karin hanya butuh ketenangan; istirahat sebentar. Tidakah orang-orang ini bisa mengerti itu?
"Tentu saja. Sekarang tutup mulutmu sebentar Tayuya, aku ingin istirahat." Dengan decakan kesal Karin membalas celetukan iseng gadis berambut fuschia tersebut.
Saat ini ia tengah duduk meringkuk di sebelah pintu masuk atap kantornya—dengan kepala tenggelam di lipatan lengannya dan lutut menempel di dadanya. Ia tidak bisa melihat Tayuya, tapi Karin bisa merasakan ketika gadis itu akhirnya mendekat dan ikut bergabung di sebelahnya sambil menyelonjorkan kakinya.
"Kau tahu kau tak harus menyerahkan laporan acara kemarin pada Suigetsu-senpai hari ini kan? Dia mungkin akan bertingkah menyebalkan, tapi dia tidak punya hak apapun untuk memarahimu." Celetuk Tayuya kemudian sambil menyodorkan sebungkus roti melon pada Karin. Yang dengan senang hati diterima oleh si merah marun—karena kalau boleh jujur, ia memang sedikit kelaparan.
"Aku tahu," jeda beberapa saat ketika Karin memutuskan untuk mulai mengunyah roti yang Tayuya berikan padanya. Lama si merah marun berpikir, bagaimana ia harus menanggapi gadis fuschia di sebelahnya, sebelum akhirnya ia hanya menghela nafas lelah dan menjawab sembarang.
"Aku hanya tidak ingin melihat wajah menyebalkannya mengerut tidak senang melihatku. Seolah-olah aku adalah orang yang paling tidak bertanggung jawab di muka bumi ini."
Mendengar penjelasan itu, mau tak mau Tayuya hanya bisa menaikan sebelah alisnya sambil menatap gadis bernetra ruby tersebut dengan raut bertanya-tanya.
Sungguh, sejak pertama kali Tayuya dan Karin bekerja di kantor ini, ia tahu betul si bungsu Hozuki dan si sulung Haruno sudah sama-sama saling tidak menyukai satu sama lain. Tayuya juga kurang mengerti kenapa tepatnya. Tapi yang pasti pria itu selalu saja berusaha mempersulit hidup Karin, dan gadis itu sendiri selalu dengan keras kepala berusaha meladeni semua permintaan Suigetsu—yang umumnya adalah pria yang menyenangkan, kalau saja kau bisa mentolerir celetukannya yang memang terkadang menyebalkan.
Tayuya pikir itu karena Karin memang mengenakan harga dirinya seperti pakaian di tubuhnya.
Namun ketika mendengar jawaban si marun barusan, aneh rasanya mengatahui bahwa Karin sendiri mengakui bahwa dia memang peduli dengan apa yang pria itu pikirkan tentangnya.
"Mmm, salah-salah aku bisa saja mengira kau telah naksir berat pada pria menyebalkan itu saking keras kepalanya kau ingin menyenangkannya selama ini." Tayuya tidak bermaksud apapun ketika mengucapkan itu, sungguh.
Namun celetukan sembarang Tayuya itu sukses mengenyahkan semua kantuk yang tengah menggerogoti Karin.
"Astaga, bukan begitu!" Sengit gadis berambut marun itu kemudian sambil menatap galak gadis di sebelahnya—yang sebelumnya terlonjak kaget mendengar seruan tiba-tiba Karin yang kelewat nyaring.
"Ya, tentu saja. Haruno Karin jatuh cinta. Aku rasa berkencan tidak masuk daftar prioritasmu yang hanya penuh dengan adik perempuanmu itu."
Tayuya hanya hendak bergurau ketika mengatakan balasan itu tanpa berpikir panjang. Karena sungguh, ia lebih dari paham bahwa rekan kerjanya itu saat ini sedang terlalu lelah untuk berdebat serius soal kompleksitas hubungannya dengan si bungsu Hozuki—yang mana mungkin saja Tayuya lakukan apabila kondisi Karin lebih baik.
"… bukan begitu." Namun ketika Karin tidak membalas guyonannya itu dengan kelakar kasar lain seperti biasanya, Tayuya segera menyadari ada yang salah.
"Hei, apakah kau pernah jatuh cinta pada orang yang kau sadari tidak seharusnya kau cintai?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut si gadis merah marun, dan langsung saja membuat Tayuya kehilangan kemampuannya untuk berpikir.
Dan Karin sendiri pun tidak tahu apa yang merasukinya sehingga ia malah tiba-tiba membicarakan topik yang sangat tabu ini; setelah sebelumnya ia bertekad untuk menyimpan rapat-rapat rasa cintanya terhadap bungsu Uchiha yang mempesona—kalau perlu hingga hari pemakamannya nanti.
Mungkin Karin sejatinya memang butuh teman bicara; atau mungkin dia hanya sedang, well, lelah. Entahlah.
"Aku mungkin telah jatuh cinta—untuk waktu yang cukup lama, pada pria yang tidak akan pernah menjadikanku pilihan."
Rasanya kejadian di halte baru terjadi kemarin, dan Karin yakin dirinya akan masih merona mengingat semua itu sebelum kemudian perasaan sesak tak berkesudahan menggerogotinya ketika ia kembali mengingat pemandangan yang ia dapati di pekarangan rumahnya keesokan harinya. Aneh bagaimana hidupnya telah jungkir balik tak karuan beberapa hari belakangan ini.
"Omong kosong," Ketika akhirnya Tayuya mendapatkan kembali suaranya—ia baru saja hendak menyanggah si gadis bernetra ruby, Karin buru-buru menambahkan.
"Dan dia adalah kekasih adikku."
"Oh," Dan sekali lagi Tayuya pun kehilangan kemampuannya untuk berpikir selama beberapa detik. Sungguh, bisakah si marun ini berhenti mengejutkannya barang sejenak saja?
"… kau baik-baik saja?" Selang beberapa menit dalam diam, Tayuya akhirnya kembali buka suara. Sambil menyentuh lembut pundak gadis berambut marun di sebelahnya, gadis bersurai fuschia itu menatap sepasang ruby yang terlihat lelah milik lawan bicaranya dalam genangan kekhawatiran tak berujung. Karena sejujurnya, ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaiman perasaan Karin sekarang ini.
"Aku pikir patah hati ini tidak akan sesakit ini," Karin menyentuh pelan tangan Tayuya di bahunya, sebelum kemudian meremasnya kuat-kuat hingga dirinya sendiri nyaris merasa menyesal melakukan itu.
"Ternyata jatuh cinta sendirian itu memanglah tidak menyenangkan."
Kedua netra keemasan Tayuya seketika terasa panas, dan sebelum ia bisa menyadarinya, wajahnya sudah banjir air mata. Well, Tayuya sebenarnya bukanlah gadis yang emosional. Dan kalau boleh jujur, empatinya nol besar. Tapi kini setelah mendengar cerita Karin, mau tak mau hatinya pun ikut terasa remuk redam; karena meskipun terkadang mereka berdua lebih banyak berdebat dan beradu argumen sakartis—bagi Tayuya yang merupakan seorang anak tunggal, ia nyatanya telah menyayangi Karin layaknya saudara sendiri.
"Hei, hei, hei. Jangan menangis. Sekarang kau membuatku merasa bersalah." Melihat gadis berambut merah fuschia di sebelahnya itu kini tengah tersedu sambil menyembunyikan netra emasnya dibalik kedua telapak tangannya, mau tidak mau Karin pun menjadi sedikit gelagapan. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Tayuya terkenal bukanlah sebagai pribadi yang simpatis.
"Ugh. Ini semua sangat menyedihkan."
Setelah nyaris menangis selama lima menit penuh, Tayuya akhirnya mulai cukup tenang dan berhenti sesenggukan. Sungguh, di situasi normal Karin bisa saja menertawai si merah fuschia hingga terjungkal; siapa mengira ia bisa jadi secengeng ini. Tapi alih-alih tertawa, Karin membawa gadis tersebut ke dalam pelukannya; yang mana juga dibalas oleh Tayuya dengan lebih erat.
Untuk satu dan lain hal, Karin merasa sedikit lega. Pening di kepalanya terasa sedikit berkurang dan melihat Tayuya menangis untuknya anehnya membuat Karin merasa bahwa ia tidaklah sendirian.
"Terimakasih, karena sudah menangis untukku."
.
Suigetsu tidak bermaksud menguping.
Tentu saja
Sudah jadi kebiasaannya untuk pergi merokok di atap kantornya setiap jam istirahat.
Namun saat ia hendak membuka pintu yang langsung menghubungkan tangga darurat dan atap kantornya, suara yang begitu familier segera menghentikannya.
Itu Tayuya, dan Karin.
Suigetsu yakin dia sedang tidak ingin berurusan dengan gadis bersurai merah marun itu saat ini—atau mungkin sepanjang hari ini.
Sudah cukup buruk baginya setelah ia menyadari perasaannya terhadap si sulung Haruno kemarin sore. Dan lebih buruk lagi ketika gadis itu malah benar-benar menanggapi celetukan sembarangnya dan menyerahkan laporan acara kemarin padanya pagi ini.
Suigetsu berani bertaruh gadis itu telah kembali mengorbankan tidurnya untuk itu—menyumpahinya semalaman namun tetap bekerja untuk menyelesaikan laporan terkutuk tersebut.
Sialan, Suigetsu sudah merasa seperti bajingan sepanjang pagi hari ini. Dan dia tidak ingin merasa lebih buruk lagi dengan menguping percakapan gadis tersebut.
"Aku mungkin telah jatuh cinta—untuk waktu yang cukup lama, pada pria yang tidak akan pernah menjadikanku pilihan."
Namun ketika ia hendak berbalik turun ke ruangannya—dan memilih untuk absen merokok hari ini, kalimat tersebut sukses menghentikan langkahnya.
Suigetsu hapal betul siapa pemilik suara tersebut. Dan apapun itu yang dimaksudkan si sulung Haruno dengan kalimat tersebut, nampaknya sedikit mengusik rasa penasarannya.
Detik berikutnya, Suigetsu pun memutuskan untuk menjadi seorang penguping professional.
Apa maksud ucapannya itu? Apa Karin punya mantan kekasih? Suigetsu tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Sambil menyenderkan tubuhnya dengan malas di dinding sebelah pintu masuk dari baja tersebut, ia kembali mendengarkan kedua gadis dibalik pintu bercakap-cakap.
Apabila Sakon atau Aburame-san melihatnya, mereka sudah pasti akan menegur kelakuannya. Dan Shion tidak akan berhenti mencemoohnya, mengatainya bajingan lancang yang tak tahu sopan santun.
Tapi Suigetsu saat ini sedang tidak peduli, dan memang tidak ingin peduli.
Sialan, jatuh cinta memang benar membuatmu jadi dungu.
"Dan dia adalah kekasih adikku."
Suigetsu mau tidak mau ikut terpaku ketika mendengar kalimat tersebut; otaknya terasa membeku dan dia dapat merasakan sebuah lubang tak kasatmata tercipta di perutnya—menciptakan gigil mengerikan yang nyaris saja membuatnya ingin muntah.
Detik berikutnya, si bungsu Hozuki pun buru-buru menampar dirinya sendiri begitu menyadari insting pertama yang muncul saat semua informasi itu akhirnya dapat dicerna kepalanya adalah kemarahan.
Ia marah pada siapapun pria brengsek itu—yang sudah dengan seenaknya mempermainkan perasaan kakak beradik Haruno tersebut.
Ia marah pada Karin yang telah jadi terlalu pengecut untuk bersaing dengan adiknya sendiri; yang hanya bisa meratap setelah semuanya kini sudah terlampau terlambat.
Dan yang paling mengesalkan, nyatanya ia malah menjadi begitu marah pada dirinya sendiri karena tidak pernah berlaku baik pada gadis itu selama ini.
Suigetsu menyumpah pelan untuk semua kemarahan tak berdasar tersebut.
Well, dia tidak berhak marah pada siapapun; kecuali dirinya sendiri, tentu saja.
Karena, yah, Suigetsu memang merasa sudah menjadi seorang bajingan tengik tak tahu diri selama ini; dan ia pun menyesali semua itu.
Yang mana membuatnya kembali bertanya-tanya, sejak kapan sebenarnya ia telah menaruh hati pada si sulung Haruno yang ketus?
Dan sejujurnya, Suigetsu tidak ingin mencari tahu soal itu. Karena ia sendiri pun takut dengan kenyataan macam apa yang mungkin dia temui sepanjang memorinya.
Klang!
Jantung Suigetsu rasanya baru saja melompat bebas dari dadanya ketika pintu di sebelahnya membuka tanpa aba-aba.
Hal pertama yang Suigetsu khawatirkan adalah sepasang ruby cemerlang penuh selidik akan menatapnya konyol dari balik kacamata berbingkai hitam yang sangat dikenalnya. Namun ketika sepasang netra keemasanlah yang bersibobrok dengan violetnya, Suigetsu bisa merasakan dirinya sendiri menghembuskan satu tarikan nafas lega.
Tayuya menoleh sebentar padanya, langsung menyadari keberadaan pria itu begitu dia menutup pintu di belakangnya.
Awalnya, Suigetsu kira gadis itu akan segera menyumpah dan mencercanya sebagai penguping tengik tak beretika.
Namun gadis itu hanya menatapnya sekilas—dengan mata bengkak, sebelum melengos pelan dan berjalan menuruni tangga untuk kembali ke ruangan mereka.
Untuk sepersekian detik, Suigetsu rasa ia sudah kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Karena bagaimana pun, ia sudah bersiap untuk setidaknya satu atau dua cercaan kejam dari gadis berambut merah fuschia itu. Dan aksi diam Tayuya malah semakin membuatnya bingung.
Beberapa menit berlalu—oh Tuhan terimakasih, Suigetsu pun dapat segera tersadar dari keterkejutannya. Dan untungnya, otaknya masih mampu membuatnya mengambil keputusan paling waras yang bisa ia pikirkan; segera menyingkir sebelum Karin lah yang selanjutnya membuka pintu tersebut dan memergokinya menguping.
Oh, itu hal terakhir yang Suigetsu inginkan terjadi padanya hari ini.
Jadi dengan setengah mengendap, ia pun kembali menuruni anak tangga darurat kantornya; sambil tetap bertanya-tanya, apakah rasa sesak yang kini ia rasakan di dadanya adalah akibat olah raga jantung yang disebabkan Tayuya beberapa menit sebelumnya, atau hal lainnya—yang mana Suigetsu sendiri enggan untuk mencari tahu lebih jauh.
.
.
Tidak banyak yang berubah setelah Sakura dan Sasuke akhirnya berkencan—Karin sedikit mensyukuri itu. Awalnya dia khawatir akan mendapati pemuda itu akan sering mondar mandir di rumah mereka dan merayu adik perempuannya tepat di depan matanya. Karin yakin ia tak akan menyukai ide kedua muda mudi itu bercumbu rayu di bawah hidungnya.
Tapi seharusnya Karin tahu Sasuke bukanlah pemuda seperti itu. Jadi jelas ia bisa sedikit lega karena tidak perlu mengkhawatirkan hal konyol seperti itu akan terjadi. Setidaknya, ia bisa bersikap sedikit normal menyikapi kenyataan bahwa adiknya benar-benar telah berkencan dengan pria yang merupakan pujaan hatinya.
Sayangnya, Sakura tidaklah berpikir demikian.
Ia tidak yakin apa yang terjadi kepada kakaknya beberapa hari belakangan ini.
Karin lebih banyak murung dan melamun, bahkan dua hari lalu dia malah menggosongkan makan malam mereka. Hanya Sakura yang terbiasa melakukan itu, Karin seorang koki yang terlalu handal untuk membiarkan apapun terlalu lama di atas api.
Awalnya Sakura mengira pekerjaan kakaknya di kantorlah yang membuat gadis bersurai marun itu uring-uringan.
Namun saat Sakura akhirnya menanyakannya sendiri soal itu dan berusaha menghiburnya, Karin selalu mengelak bahwa dirinya sedang punya masalah. Well, sesekali dia memang akan membenarkan tebakan Sakura, bercerita bahwa pekerjaan di kantor dan seniornya yang menyebalkan memang benar-benar membuatnya pusing.
Namun Sakura sudah mengenal Karin seumur hidupnya, dan dia tahu kapan kakaknya itu tengah berbohong kepadanya.
Apapun itu yang mengganggu Karin, Sakura yakin betul, bukan bersumber dari tempat kerja kakak perempuannya itu.
Karin diminta untuk mengambil cuti hari ini karena telah bekerja keras—terlampau keras, untuk acara launching kemarin; yang mana disambutnya dengan sangat senang hati karena dengan begitu ia bisa bersantai seharian setelah beberapa hari tanpa tidur. Dan disinilah dia sekarang, jam sepuluh lewat dan asik menyiapkan burger kesukaan Sakura di dapur rumah mereka.
"Nee-san?"
Sakura memanggil pelan kakaknya dari dasar tangga yang berhadapan langsung dengan dapur; sebenarnya, ia tidak yakin untuk mengkonfrontasi Karin langsung soal ini, tapi sesuatu di belakang kepalanya selalu berdengung tidak menyenangkan soal tingkah aneh kakaknya belakangan ini.
"Hm?" Karin bergumam pelan sambil masih asik membolak balik daging burger di wajannya; sama sekali tidak menoleh pada adiknya, sehingga ia tidak bisa melihat ketidak nyamanan si merah muda.
"Nee-san, apa aku melakukan kesalahan?"
Dalam sepersekian detik tersebut, Karin rasa jantungnya telah berhenti berdetak dan ia dengan segera mengalihkan perhatiannya secara penuh kepada sang adik yang kini tengah duduk lesu di kursi meja makan mereka.
"Apa yang kau bicarakan Sakura?" Tanya Karin kemudian setelah mematikan kompornya, mengelap cepat kedua tangannya pada celemek yang ia kenakan, dan kemudian berjalan pelan mendekati si merah muda yang masih duduk gelisah di kursinya.
"Yah, aku tidak tahu. Tapi, aku merasa Nee-san sedikit menjaga jarak denganku?"
Kalau saja seseorang dapat tersambar petir tanpa sebab, seperti itulah yang tengah Karin rasakan ketika mendengar pertanyaan tersebut. Seketika tubuhnya terasa kaku, dan rasa bersalah yang tak berkesudahan membanjiri dirinya.
"Omong kosong," Sambil berusaha menampar dirinya sendiri, Karin pun kemudian berdehem pelan dan segera melepas celemeknya, kemudian merentangkan kedua tangannya.
"Kemarilah."
Sakura menatap sejenak kakak perempuannya itu—yang kini tengah menunggunya sambil merentangkan tangan lebar-lebar, kemudian dengan lemas bangkit dari tempat duduknya dan masuk begitu saja ke dalam dekapan kakaknya tersebut.
"Aku mencintaimu, kau tahu kan." Ujar Karin lembut sambil memeluk erat Sakura. Kerongkongannya terasa terbakar ketika mengucapkan itu, dan rasa bersalah itu kembali menusuknya dengan keji ketika merasakan Sakura mengangguk pelan dalam dekapannya.
"Hmm."
Setelah menggumamkan itu, Sakura akhirnya memutuskan untuk memeluk balik kakaknya dan semakin menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Karin. Mungkin dia memang telah jadi terlalu paranoid sehingga memikirkan hal yang tidak-tidak.
Ini kakak perempuanya yang sedang kita bicarakan; gadis yang empat tahun lebih tua darinya, yang lebih banyak mengalah terhadapnya selama ini dan selalu saja mendahulukan Sakura di atas kepentingannya sendiri.
"Nee-san, terimakasih sudah sudah menjadi kakak yang luar biasa," Sambil semakin mengeratkan pelukannya pada sang kakak, Sakura kembali berujar lirih. Karin tidak akan pernah menyembunyikan apapun darinya, benarkan? Sakura ingin mempercayai itu semua seperti bagaimana ia pun mempercayai cinta Karin terhadapnya.
"Dan terimakasih sudah menggantikan cinta Kaa-san dalam hidupku."
Meskipun jauh dalam hati kecilnya, Sakura masih merasa ada sesuatu yang salah dengan kakanya, Sakura tahu betul, apapun itu, Karin tetaplah mencintainya dengan sepenuh hati, dan begitu pula sebaliknya. Dan Sakura ingin mempercayainya sepenuhnya, bahwa semuanya baik-baik saja.
Dilain pihak, Karin ingin mengubur dirinya hidup-hidup saat itu juga mendengar ucapan Sakura. Terkutuklah dirinya karena ia telah dengan sengaja membohongi adiknya sendiri soal perasaannya.
"Aku juga mencintaimu."
.
Setelah sesi mengharukan mereka tersebut, adik perempuannya itu pun pamit untuk melaksanakan ujian masuk akademi kedokterannya—yang ternyata dilangsungkan hari ini, mau tidak mau Karin mendapati dirinya termenung di meja makan rumah mereka—setelah sebelumnya menyiapkan bekal untuk Sakura dengan terburu.
Rasa bersalah setelah percakapannya dengan Sakura masih menghantuinya. Seketika ia sadar betapa ia telah berlaku tidak adil pada Sakura selama ini; bahwa ia pun telah jatuh cinta pada si bungsu Uchiha sejak lama.
Dan, well, Sakura pada kenyataannya berhak untuk sebuah penjelasan. Atau setidaknya, dia berhak untuk sebuah konklusi.
Aku percaya padamu, itu saja. Terlebih dari bisa atau tidaknya dirimu mengerjakan tugas yang aku berikan, aku tahu aku bisa mempercayaimu
Tiba-tiba, pujian aneh yang Suigetsu lontarkan padanya saat acara launcing beberapa hari yang lalu kembali terngiang di kepalanya.
Karin mengernyit ketika mengingat pujian yang aneh tersebut, kemudian mengingat gelagat aneh seniornya itu di kantor kemarin—Suigetsu mati-matian berusaha menghindarinya seharian. Itu sangatlah tidak biasa, dan mau tidak mau, Karin menjadi sedikit jengkel karenanya.
Tapi pujian itu pula telah membuatnya merasa sedikit lebih percaya diri—mungkin malah cukup banyak.
Jika Hozuki Suigetsu, yang sangat menyebalkan dan tidak berperasaan itu bisa menaruh kepercayaan sebesar itu padanya, Karin seharusnya bisa mempercayai dirinya sendiri untuk mengambil keputusan terhadap dirinya sendiri.
Lagi pula, ini bukan tentang Sasuke, ataupun adiknya.
Ini semua tentang dirinya.
Dan meskipun dengan berat hati Karin harus mengakui bahwa ia memang setidaknya masih sedikit berharap—berharap kalau saja Sasuke mau sedikit saja membalas perasaannya dan berpaling kepadanya, ia tahu betul dirinya tidak akan pernah jadi pilihan.
Jadi dengan agak terburu—karena sungguh Karin takut semakin lama ia mengulur waktu ia malah akan kehilangan seluruh keberaniannya, ia kemudian mengeluarkan handphonenya dan menelpon nomor yang sudah hampir dua tahun ini ia simpan saja di selulernya tanpa pernah berani melakukan apapun.
"Halo, Sasuke-kun. Ah, ini Karin, kakak Sakura."
"Oh, tidak-tidak. Dia tidak melupakan apapun,"
"Tapi, apakah aku bisa bertemu denganmu besok sore?"
"Ada hal penting yang harus aku katakan kepadamu."
Bagi Karin, ini tentang mempertaruhkan segalanya atau meratap dalam penyesalan selamanya.
Karena bagaimana pun, harus ada konklusi untuk kisahnya dan si bungsu Uchiha.
.
"Mau sampai kapan wajahmu ditekuk seperti itu Bos?"
Hal terakhir yang Suigetsu inginkan hari ini—di hari yang anehnya terasa begitu panjang tanpa kehadiran si marun yang judes, adalah melihat cengiran jahil menyebalkan yang terpatri di wajah juniornya yang centil.
Karena sungguh, mengenal Tayuya, Suigetsu tahu betul akan kemana arah pembicaraan mereka ini.
Dan kalau boleh jujur, Suigetsu sedang tidak ingin membahas kejadian di atap kemarin dengannya.
"Che, diam kau." Ketus pria bernetra violet itu kemudian sambil tetap fokus dengan layar komputernya.
Tentu saja, Sakon—yang sangat baik hati itu, telah dengan penuh percaya diri menginfokan Aburame-san bahwa semua laporan acara kemarin sudah Karin serahkan kepadanya sehari sebelumnya.
Oh, pria itu terkesan, tentu saja.
Dan sebagai gantinya, dia ingin Suigetsu pun menyelesaikan laporan bagiannya secepatnya, sehingga nantinya bosnya itu bisa mengevaluasi acara kemarin sepenuhnya dan menyiapkan planning untuk acara mereka selanjutnya.
Suigetsu tidak keberatan; karena yah, laporannya tidaklah sebanyak itu, dan ia memang sedang butuh pengalih perhatian.
Sayangnya—lagi, Sakon yang baik hati itu pun nampaknya tidak terlalu berbaik hati pada si gadis berambut fuschia hari ini, karena ia pun meminta Tayuya menyelesaikan draft untuk design beberapa sampul buku yang hendak mereka terbitkan; yang mana sudah telat beberapa hari dari deadline gadis itu.
Membuat si pirang platina kini terjebak bekerja lembur dengan si junior yang sepertinya sangat senang menguras kesabarannya di setiap detiknya.
"Hee, Hozuki-senpai, kau itu gampang sekali ditebak." Dari ekor matanya, Suigetsu bisa melihat gadis itu kini tengah menatap ke arahnya sambil memangku dagu di sebelah tangan dan dengan jahil menaik turunkan kedua alisnya. Suigetsu berani bertaruh jika Tayuya bukanlah seorang gadis, ia sudah akan melempar benda apapun yang bisa dijangkau tangannya ke arah gadis tersebut.
"Pulang sana. Kau tidak ada janji kencan dengan si tengik menyebalkan di bilik sebelah?" Ketusnya lagi, sambil tetap tidak melepaskan pandangannya dari laporan yang tengah dikerjakannya.
"Hmm, kau cemburu?"
Tayuya sebenarnya sudah menyelesaikan semua pekerjaannya; dia baru saja mengirimkan semua design yang diinginkan seniornya yang lain dan saat ini sudah nyaris pukul sepuluh malam. Tentu dia ingin segera pulang ke rumah dan tidur pulas hingga esok hari.
Tapi menganggu seorang Hozuki Suigetsu yang menyebalkan terasa lebih menyenangkan sekarang ini untuknya.
Seharian ini pria pirang platina itu terlihat terlalu banyak melamun, dan dia bahkan tidak menceletukan satupun kalimat menyebalkan yang biasanya selalu saja dia sempat celetukan pada siapapun. Dan mau tidak mau, Tayuya menjadi tergelitik untuk mencari tahu lebih lanjut apa yang menyebabkan seniornya ini menjadi begitu pendiam hari ini—meskipun Tayuya punya tebakannya sendiri soal itu.
"Dalam mimpimu. Sudah, cepatlah pulang Tayuya."
"Senpai kemarin menguping kan? Jujur saja."
Dan bagi Tayuya, harinya akan terasa kurang apabila dia tidak mencecar si bungsu Hozuki tentang insiden di atap kemarin siang.
Sebenarnya, Tayuya ingin mengatakan satu dua patah kata padanya kemarin; bagaimanapun, menguping itu tidaklah sopan. Namun gadis bernetra keemasan itu sudah menghabiskan seluruh tenaganya untuk menangis, dan mengkonfrontasi seniornya tersebut saat itu juga—terutama dengan mata bengkak, terdengar sangatlah melelahkan.
Dan harusnya kalau Suigetsu beruntung, Tayuya akan tetap merasa demikian; apalagi setelah dicerca Sakon untuk segera menyelesaikan draftnya yang mangkrak hari ini juga.
Sayangnya, setelah menegak dua kaleng kopi hitam dan beberapa sus stroberi lainnya, energi gadis itu pun sudah pulih total, dan kini siap mencecarnya lagi soal insiden canggung di atap kemarin.
"Aku tidak mendengar apapun."
"Wajahmu jelas tidak bilang begitu."
"Memangnya kenapa wajahku, sialan?!"
"Oh! Menakutkan."
Suigetsu sudah merasa sangat buruk seharian ini; seolah kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta dengan si sulung Haruno tidak lebih buruk, ia harus tidak sengaja mendengar—menguping, bahwa gadis itu sejatinya telah jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta, pada kekasih adiknya sendiri.
Kebetulan menyedihkan macam apa itu? Kalau saja Suigetsu tidak mengenal sendiri gadis berambut marun tersebut, dia mungkin akan selamanya berpikir kisah-kisah macam demikian hanya bisa terjadi dalam novel.
"Pulanglah Tayuya. Jangan menggangguku. Pekerjaanmu sudah selesai kan." Suigetsu kembali berujar, kali ini dengan nada yang lebih terdengar lelah alih-alih ketus. Ia masih berusaha mengusir si merah fuschia—yang nampaknya semakin menemukan lebih banyak kesenangan di setiap detiknya dengan merecoki si pria pirang platina.
"Aku hanya ingin menghiburmu, senpai."
"Tidak ada yang perlu kau hibur."
"Ya, tapi senpai 'tanpa sengaja' harus mendengar bahwa Karin-chan telah mencintai kekasih adiknya sendiri."
Untuk sepersekian detik, Suigetsu bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak begitu kalimat tersebut meluncur dengan mulus dari mulut lawan bicaranya. Karena sungguh ia sendiri tidak begitu yakin bagaimana perasaannya mengenai semua ini.
"… itu tidak penting." Suigetsu tidak bermaksud berbisik ketika mengucapkan itu, tapi nyatanya suaranya sendiri malah mengkhainatinya.
"Jelas menurutmu tidak begitu."
"Apa sih yang kau inginkan?" Kali ini, Suigetsu akhirnya mengalihkan padangannya dari layar komputernya dan menatap netra keemasan Tayuya dengan setengah kesal. Karena sungguh, kalau ia akhirnya benar-benar kehilangan kesabarannya, Suigetsu tidak yakin dia tidak akan mencekik gadis itu sekarang juga.
"Aku hanya ingin senpai jujur dengan perasaanmu sendiri." Tayuya hanya menggedikan bahunya acuh sambil mengembangkan seulas senyum miring yang—oh Tuhan, sangat mengesalkan di mata Suigetsu.
"Oh, dan bagaimana menurutmu perasaanku, oh Tayuya yang Agung dan Maha Tahu?" Pria bernetra violet itu bisa melihat senyum di wajah si gadis fuschia menghilang seketika ketika ia berujar demikian; dan mau tidak mau, Suigetsu tidak bisa menghentikan dirinya untuk menarik sedikit ujung bibirnya sendiri ketika melihat sang junior yang kini malah memberengut sambil mulai membereskan mejanya.
Akhirnya memutuskan untuk mengalah dan segera bergegas pulang.
"Sudahkah ada yang pernah bilang kau sangat menyebalkan senpai?"
"Selalu."
"Tidak heran,"
Suigetsu baru saja hendak menghela nafas lega mengetahui Tayuya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan topik pembicaraan mereka tentang insiden di atap sebelum gadis itu tiba-tiba kembali menceletuk.
"Maksudku adalah, senpai harus mau mengakui, kalau senpai… menyukai Karin-chan. Itu saja."
"Heh, darimana datangnya itu?" Suigetsu berani bertaruh dia nyaris saja tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar kalimat tersebut.
"Hei, aku tidak buta." Menanggapi reaksi si pria pirang platina, Tayuya hanya bisa mengerlingkan matanya bosan. Sungguh, hanya orang tolol yang tidak bisa melihat bagaimana si bungsu Hozuki sebenarnya menaruh hati pada si sulung Haruno—setidaknya untuk Tayuya, sampai kemarin siang.
Karena, yah, selama ini ia pun berpikir Hozuki Suigetsu yang menyebalkan memang benar-benar tidak menyukai teman kerjanya yang satu itu. Tapi ketika Tayuya melihat raut wajah pria itu ketika ia memergokinya telah menguping pembicaraanya dan Karin di atap, Tayuya sepenuhnya sadar kalau selama ini senpainya itu sejatinya menaruh perhatian lebih pada si gadis marun. Dan lucunya, sepertinya pria itu sendiri tidak menyadarinya, dan malah memutuskan untuk mencurahkan perhatiannya dengan merecoki gadis tersebut dengan hal-hal menyebalkan yang seringnya mengikis kesabaran.
"Well, aku memang tidak bisa memaksamu senpai," Sambil memasukan semua barang-barangnya ke tasnya, Tayuya berusaha mengucapkan itu setidak acuh mungkin.
"Tapi Karin-chan gadis yang baik, dan terlepas dari keketusanya, aku rasa dia tidak pernah membencimu—kalau itu yang kau takutkan. Malah menurutku, dia juga memandang lebih dirimu." Lanjutnya lagi sebelum ia akhirnya menoleh pada sang senior, dimana Suigetsu sudah menghadiahinya dengan tatapan tidak percaya sambil memincingkan matanya.
"Tayuya, semakin lama kau mulai membual, semakain banyak laopran yang aku ingin kau selesaikan besok." Ancam pria itu sebelum kemudian kembali fokus pada laporannya. Sungguh, omong kosong ini benar-benar memperlambat pekerjaanya.
"Hei! Itu tidak adil!" Seruan protes dilepaskan gadis berambut merah fuschia tersebut sambil memasukan barang terakhirnya ke dalam tas sebelum menutup resletingnya.
"Oleh karena itu," Suigetsu menghela nafas lelah, sebelum kemudian menoleh kembali pada Tayuya yang kini telah menggedong tasnya dan bersiap pulang. "Tutup mulutmu dan pulanglah."
"Ugh, aku harap kau tidak akan menyesalinya Hozuki-senpai."
Namun bukan Tayuya namanya apabila dia hanya membiarkan perdebatan mereka berhenti begitu saja.
"Ketika Karin-chan nantinya memiliki kekasih dan meninggalkamu untuk membusuk menjadi perjaka tua!"
Suigetsu kembali berdecak pelan, namun ia enggan kembali menoleh menatap gadis yang kini sudah berjalah perlahan menuju pintu keluar ruangan mereka.
"Cepat pulang sana, bualanmu hanya membuatku semakin mengantuk." Timpalnya seadanya—kini benar-benar berharap gadis tersebut segera enyah dari pandangannya.
"Tsk, ya sudah. Selamat bekerja keras dan menikmati masa-masa menjadi perjaka tua, senpai!" Setelah mengucapkan itu dengan lantang, Tayuya pun menghilang di balik pintu ruangan mereka. Dan begitu gadis itu akhirnya pergi, Suigetsu segera menjatuhkan kepalanya dengan lelah pada permukaan berpelitur meja kerjanya.
"Ugh, ingatkan aku untuk memberitahu Sakon soal gadis itu."
Tapi tiga puluh menit setelah Tayuya berlalu, kata-kata gadis itu malah terus-terusan terngiang di kepalanya.
Ketika Karin-chan nantinya memiliki kekasih…
Bukan berarti Suigetsu ingin peduli. Terserah gadis itu apabila ia ingin memiliki kekasih atau tidak; atau masih memilih untuk larut dalam kisah percintaan rumitnya—yang konon katanya bertepuk sebelah tangan.
Tapi apakah memang benar demikian?
Apakah memang bertepuk sebelah tangan?
Dan tiga puluh menit yang lain pun berlalu dengan Suigetsu yang sudah berhenti menyentuh laporannya sejak setengah jam yang lalu.
"Sialan."
.
Ketika sebuah nomor tak dikenal tiba-tiba muncul di layar selulernya yang bergetar, Sasuke tidak pernah ingin menjawabnya.
Itu bisa dari siapa saja yang berniat menjual sampah-sampah tidak berguna padanya, atau memaksanya untuk ikut program afiliasi yang membingungkan. Atau malah, hendak menawarinya pinjaman kredit dengan bunga tidak masuk akal.
Sasuke benci untuk meladeni semua itu, dan lebih benci lagi untuk berbicara dengan orang asing.
Namun hari itu suasana hatinya sedang bagus; Sakura baru saja mencium pipinya sekilas sebelum mereka berpisah saat Sasuke mengantarnya ke tempat ujian masuk akademi kedokteran dilaksanakan. Jadi, yah, apa salahnya menyenangkan hati penelpon misterius ini?
"Halo?"
Halo, Sasuke-kun. Ah, ini Karin, kakak Sakura.
"Apa Sakura meninggalkan sesuatu di rumah?"
Sasuke bisa merasakan sesuatu membelit perutnya dengan tidak menyenangkan begitu mengetahui bahwa panggilan tersebut berasal dari kakak kekasihnya. Karena sungguh, apa yang mungkin membuat kakak kekasihmu menelpon secara tiba-tiba saat kau baru saja mengantarnya untuk melaksanakan ujian masuk akademi yang paling diimpikannya? Satu-satunya yang Sasuke pikirkan hanya kemungkinkan bahwa Sakura mungkin saja telah melupakan sesuatu yang penting di rumah; dan ia telah siap berlarian untuk bisa membantu gadis itu kalau memang demikian adanya.
Oh, tidak-tidak. Dia tidak melupakan apapun,
Sasuke segera saja menghembuskan nafas lega mendengar itu. Namun itu semua tidak berlangsung lama, karena kalimat selanjutnya kembali membuat seluruh tubuhnya menegang.
Tapi, apakah aku bisa bertemu denganmu besok sore?
"Ya?"
Hanya ada satu skenario yang bisa pemuda raven itu pikirkan ketika mendengarkan permohonan yang terdengar begitu mendesak tersebut. Dan jujur saja, Sasuke kurang suka skenario tersebut; terlebih lagi apabila itu semua nyatanya malah melibatkan kakak perempuan kekasihnya.
Ada hal penting yang harus aku katakan kepadamu.
"Oh, baiklah. Haruskah aku ke rumah kalian?"
Ah, tidak tidak. Tapi bisakah kau menemuiku besok sore di café depan halte bus?
Permintaan terakhir tersebut secara otomatis mengkonfirmasi kekhawatiran Sasuke sepenuhnya. Dan apabila ternyata yang ingin disampaikan kakak Sakura padanya besok memang benar seperti dugaannya, Sasuke sendiri tidak yakin bagaimana dirinya harus bersikap. Dia sudah tahu pasti jawaban yang akan dia berikan, tentu saja. Tapi Sasuke tidak terlalu yakin bagaimana dia harus menangani situasi setelah itu.
"… tentu."
Baiklah. Terimakasih. Sampai bertemu besok sore kalau begitu.
Jadi dia pun hanya bisa menjawab permintaan si sulung Haruno dengan apa yang akan semua orang berakal sehat dan yang memiliki hati lalukan di situasi yang sama; setuju untuk mendengarkan dan menyampaikan permohonan maaf.
Sasuke hanya berharap, bahwa tebakannya salah. Dan apapun yang hendak Karin sampaikan padanya, tidaklah seperti yang ia duga.
"Ya, sampai besok."
.
.
Ketika si bungsu Uchiha terbangun keesokan harinya, ia tidak begitu yakin apakah ia siap menjalani hari ini dengan sebagaimana semestinya.
Sasuke memang tidak peka, tapi dia juga tidak buta.
Tidak sulit menerka apa yang sekiranya hendak Karin sampaikan padanya—Sasuke sudah melewati tiga tahun masa sekolah menengah atas dengan nyaris lusinan skenario yang sama. Sehingga dia pun tahu betul, kapan seorang gadis hendak menyatakan perasaan mereka kepadanya.
Karin hendak menyatakan perasaanya, kepadanya.
Bukannya dia ingin menjadi terlalu besar kepala. Tapi tiga tahun pengalamannya di sekolah menengah atas sudah membuatnya terlalu hafal dengan hal-hal berbau demikian.
Biasanya dia hanya akan cuek saja, karena sungguh. Dia tersanjung, tapi dia tidak ingin mengencani siapapun selain Sakura seumur hidupnya, jadi dia pun harus menolak gadis-gadis tersebut satu persatu.
Namun ini Karin, kakak perempuan Sakura—kekasihnya.
Sasuke tidak yakin apa yang seharusnya dia rasakan.
Dia bingung, tersanjung dan agaknya sedikit ketakutan.
Ya, Sasuke takut.
Karin jatuh cinta kepadanya adalah hal yang tidak pernah Sasuke sangka-sangka. Karena selama ini interaksi mereka tidak lebih dari sekedar ramah tamah seorang tetangga, benarkan?
Atau ada hal penting yang sepertinya telah Sasuke lewatkan?
Dan sekarang ini, kepalanya telah dipenuhi sejuta skenario dan alasan-alasan masuk akal lainnya untuk menolak gadis yang lebih tua empat tahun darinya itu—tanpa membuat semuanya menjadi semakin rumit.
Tidak, Sasuke bukannya tidak menyukai Karin. Dia gadis yang menyenangkan, dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, Sasuke rela menukarkan kakak lelakinya sendiri untuk memiliki kakak seperti Karin.
Astaga, dia begitu menyayangi Sakura. Dan melihat kakak beradik Haruno tersebut bercanda atau hanya sekedar bercakap-cakap ringan acap kali membuat Sasuke mempertanyakan sendiri kasih sayang Itachi—kakak lelakinya, padanya.
Apa yang Karin dan Sakura miliki itu istimewa, dan Sasuke membenci ide bahwa dia akan menjadi orang yang merusak hubungan persaudaraan kedua gadis tersebut pada akhirnya.
Karena sungguh, menurutnya tidak ada yang lebih mengerikan daripada gadis-gadis yang memperebutkan seorang pria; terimakasih pada Itachi, Sasuke sudah banyak melihat contoh-contoh nyata untuk itu semua.
Jadi ketika sore harinya—setelah menghabiskan waktu seharian terdiam dan merenung di kamarnya sendiri, Sasuke berusaha menyeret kakiknya sendiri ke tempat pertemuan yang telah dia janjikan dengan kakak perempuan kekasihnya.
Sasuke bahkan tidak bisa bertemu Sakura karena gadis itu tengah sibuk dengan rekan-rekannya untuk melihat hasil pengumuman ujian masuk yang akan dibagikan hari ini. Dan kenyataan tersebut nyatanya malah membuat si pemuda raven merasa lebih buruk lagi.
Astaga, dia bahkan merasa tengah menyelingkuhi gadis berambut senada dengan bunga kebangsaan Jepang tersebut.
Yang sebenarnya cukup konyol, karena dia sama sekali tidak ada niatan kesana. Namun tetap saja, Sasuke merasa buruk.
"Hei, senang kau bisa datang."
Begitu lonceng di pintu café tersebut berdenting nyaring ketika Sasuke membuka pintu, suara yang cukup familier itu segera masuk ke pendengarannya, dan mau tidak mau onyx kelamnya langsung mencari sumber suara.
Sasuke mendapati gadis itu tengah duduk manis di sebuah meja yang cukup dekat dengan pintu masuk café tersebut; di samping jendela besar yang langsung berhadapan dengan trotoar di luar café. Pemuda itu kemudian berusaha menyunggingkan seulas senyum sopan sambil mengangguk pelan, menyapa gadis tersebut.
"Karin…neesan."
Panggilan itu terasa begitu aneh di mulutnya ketika Sasuke mengucapkannya keras-keras.
Selama ini ia rasa ia tidak pernah benar-benar memanggil kakak kekasihnya itu demikian. Dan saat Sasuke merasa situasi ini tidak akan menjadi lebih canggung lagi, keramahan yang ditunjukan gadis berambut merah marun tersebut nyatanya malah semakin membuatnya tidak nyaman.
"Oh, ya. Silahkan duduk. Kau mau pesan sesuatu?" Dengan agaknya sedikit terlalu ceria, Karin bangkit dari kursinya dan segera menawarkan pemuda bernetra gelap itu untuk duduk di kursi di hadapannya. Dan begitu Sasuke akhirnya memposisikan dirinya di hadapan gadis itu, seorang pelayan berpakaian rapi segera mendekati meja mereka untuk mencatat pesanan.
"Americano."
"Satu americano dan satu kopi latte. Terimakasih." Si pelayan—yang terlihat tidak jauh lebih muda dari Sasuke, segera mengangguk pelan setelah Karin menyebutkan pesanan mereka, sebelum kemudian berlalu pergi.
Dan keheningan yang memekakan telinga pun kembali menyusup di antara mereka segera setelah kepergian si pelayan. Untuk beberapa saat, Sasuke tidak yakin lagi bagaimana ia harus bersikap. Ya ampun, situasi ini bahkan sepuluh kali lipat terasa lebih menegangkan dari ujian kelulusan kemarin.
"Jadi," Ketika Karin akhirnya memecah keheningan di antara mereka, Sasuke memutuskan untuk mendongak dan menatap sungguh-sungguh lawan bicaranya; karena bagaimana pun, ia rasa Karin perlu tahu bahwa dia memang benar-benar tengah mendengarkan apapun itu yang ingin gadis itu katakan kepadanya.
"Jadi?" Namun beberapa menit berlalu, dan Karin tak kunjung melanjutkan ucapannya, sehingga mau tidak mau Sasuke pun harus ikut memancing apapun itu yang gadis itu ingin bicarakan dengannya.
Karin menatap lekat sepasang onyx di hadapannya selama sepersekian detik, sebelum mengalihkan perhatiannya pada pemandangan trotoar di balik jendela sebelum akhirnya melanjutkan dengan lemah.
"Aku rasa kau cukup tahu apa yang ingin aku katakan kepadamu."
Sasuke tidak yakin bagaimana caranya menanggapi itu; jadi dia pun hanya bisa berdehem pelan dan balik melemparkan pertanyaan bernada retoris pada si gadis merah marun.
"Apakah itu membuatku menjadi terlalu percaya diri?"
Mendengar itu, Karin kemudian terkekeh pelan. Sungguh, ia mungkin telah membuat pemuda ini merasa sangat tidak nyaman; dan dia pun telah menjadi teramat kejam karena telah menikmati itu semua.
"Tidak. Tidak, tentu saja." Setelah Karin mengatakan itu, si pelayan kemudian kembali ke meja mereka dengan nampan berisikan dua cangkir dengan asap mengepul.
"Kau tahu, kau itu sangat tampan kan." Celetuk Karin tiba-tiba begitu si pelayan pergi dari meja mereka setelah menyerahkan pesanannya. Sasuke—yang tengah membuka paket gula untuk minumannya, seketika membeku di tempat duduknya. Karena sungguh, ia tidak yakin darimana datangnya topik yang begitu acak ini.
"Semua orang selalu mengatakan itu," Jawab si pemuda raven kemudian sekenannya. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin Sasuke hindari untuk ia bicarakan, dan wajah rupawannya ada dalam salah satu list teratasnya. Orang-orang selalu sibuk membicarakan itu; baik di depan maupun di belakangnya. Dan Sasuke sudah terlampau lelah menanggapinya. Semua orang, kecuali satu.
"Kecuali Sakura." Tambahnya dengan cepat. Karin mengangguk pelan mendengar jawaban pemuda itu sebelum kemudian mulai menyesap kopinya. Gadis itu sebenarnya ingin mengikik geli ketika Sasuke mengatakan hal tersebut, karena bagaimana pun Karin tahu bagaimana adiknya itu telah selalu mengumandangkan puja puji atas rupa rupawan pemuda itu. Lucu bagaimana Sakura malah tidak pernah memuji si pemuda raven langsung di hadapannya.
"Mungkin tidak di depanmu. Tapi percayalah, dia pun juga berpikir demikian."
"Kalau begitu hanya pendapatnya yang penting."
Sasuke tidak bermaksud terdengar begitu defensif ketika mengatakan itu. Namun nyatanya memang itulah yang dia lakukan, dan Sasuke langsung saja mengutuki dirinya sendiri setelahnya. Apalagi ketika menyadari raut tercekat si gadis merah marun begitu ia selesai mengucapkan hal tersebut. Sial, kini ia merasa seperti bajingan yang paling buruk di dunia ini.
"Benar," Karin tidak yakin bagaimana tepatnya perasaannya ketika mendengar balasan yang kelewat defensif tersebut. Disatu sisi, ia senang Sasuke begitu membela adiknya, tapi di sisi lain, Karin sendiri tidak bisa memungkiri rasa sesak yang ia rasakan setelah mendengar bagaimana si pemuda raven begitu memihak adiknya, "hanya pendapatnya yang penting."
Karin kemudian memejamkan matanya sambil menarik satu tarikan nafas dalam-dalam, sebelum ia benar-benar menghembuskan kata magis tersebut.
"Aku mencintaimu."
Sasuke bersyukur dia belum sempat menyesap kopinya—karena jika dia mendengar Karin mengucapkan itu sambil menyesap kopinya, Sasuke yakin betul dia akan langsung menyembur kakak perempuan kekasihnya itu dengan kopi dari mulutnya.
Keheningan canggung kemudian menyusup di antara mereka tak lama setelah Karin menyampaikan pernyataan cintanya. Onyx Sasuke menatap si gadis merah marun dengan salah tingkah, sedangkan ruby Karin menatap nanar pemuda raven di hadapannya.
Sungguh ini semua terasa konyol; dan salah.
Tapi Karin harus tetap melanjutkan; karena bagaimana pun, ini adalah konklusi yang diinginkannya. Dia tidak bisa terus-terusan memendam cinta bertepuk sebelah tangan ini pada kekasih adik perempuannya itu.
Karin butuh sebuah akhir, dan satu-satunya cara Karin untuk mengakhiri ini semua adalah dengan memulainya.
"Oh, maafkan aku, maksudku, aku jatuh cinta padamu. Sejak lama." Tambah gadis itu kembali setelah tepat lima menit mereka berdua terdiam dalam keheningan yang begitu canggung—yang mana kalau kecanggungan itu berbentuk padat, Karin yakin dia bisa memotongnya seperti sebongkah kue buah.
"Terimakasih?" Sasuke tidak yakin tanggapan seperti apa yang harus dia berikan untuk semua ini. Well, dia memang mempersiapkan kemungkinan terburuk—tapi ketika dirinya benar-benar di lapangan, semua persiapannya seolah menguap tak berbekas. Jadi dia hanya bisa menunduk di tempat duduknya sambil menggusap kikuk tengkuk lehernya.
Menyadari pemuda di hadapannya itu kini terlihat begitu kesulitan—dan sepertinya sudah berada di tingkat ketidak nyamanan maksimal, mau tidak mau Karin merasa bersalah.
"Kau tidak usah menjelaskan apapun. Tanpa kau jelaskan pun aku sudah tahu jawabanmu." Bagaimana pun, ia tidak ingin menempatkan Sasuke pada posisi yang begitu sulit dan canggung di antara dirinya dan Sakura.
"Setidaknya, kau berhak untuk sebuah penjelasan," Timpal si pemuda raven dengan lemah kemudian. "Aku mencintai Sakura, dan akan selamanya begitu. Maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu." Lanjut si raven sambil membungkuk dalam di tempat duduknya.
"Aku tahu," Kedua netra ruby Karin terasa panas, dan dia berusaha mati-matian menahan tangisnya. "Aku hanya perlu konklusi. Kau tahu, jadi aku pun akhirnya bisa menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan hidup." Diam-diam, Sasuke sendiri tidak bisa untuk tidak merasa bersyukur saat wanita yang nyaris lima tahun lebih tua darinya itu menerima begitu saja penjelasan singkat si pemuda raven. Well, Sasuke hanya menginginkan Sakura seorang dalam hidupnya. Dan ia tidak yakin dirinya bisa menjelaskan lebih semua itu pada Karin tanpa terdengar seperti hendak meminta ijin untuk menikahi adik perempuan gadis tersebut—yang mana, terasa sangatlah memalukan.
"Apa Sakura tahu?"
"Tidak. Dia tidak tahu. Dan aku akan sangat berterimakasih padamu apabila akan terus begitu. Setidaknya, untuk sekarang ini."
"Kenapa? Tidakkah ini semua akan menyakiti perasaannya?"
Sasuke ingin mendebat soal keputusan gadis bersurai merah marun tersebut. Sudah cukup buruk baginya untuk menemui Karin tanpa sepengetahuan Sakura. Menyembunyikan ini semua dari Sakura malah membuat Sasuke semakin merasa seperti tengah menyelingkuhi gadis itu. Lagi pula, sejujurnya ia sendiri tidak tahu apakah dirinya bisa menyimpan rahasia dari Sakura. Si merah muda selalu saja bisa membuat Sasuke mengatakan apapun yang ingin gadis itu dengar darinya.
"Lalu menurutmu ketika dia tahu dia tidak akan tersakit? Ketika dia akhirnya mengetahui bahwa kakak perempuannya ternyata selama ini mencintai kekasihnya. Menurutmu bagaimana reaksinya?" Tapi Karin memiliki pendapat berbeda soal itu. Baginya, semua ini sudah sangat salah sejak awal. Seharusnya, dia tidak perlu larut dalam pesona si bungsu Uchiha yang menawan, dan memutuskan untuk menganggap lalu perhatian pemuda itu kepadanya. Tapi semua sudah terjadi, dan Karin hanya bisa berusaha memperbaiki apapun yang mampu ia perbaiki sekarang ini. Dan salah satunya adalah, tetap menjaga rahasia ini diantara dirinya dan si pemuda raven.
Karena sungguh, Karin mengenal baik adik perempuannya itu seperti telapak tangannya sendiri. Dan jika Sakura sampai tahu soal semua ini, ia tidak akan segan untuk memaksa Sasuke meninggalkannya untuk mengencani kakak perempuannya. Semata-mata hanya karena ia pun ingin melihat kakak perempuannya bahagia.
"Sasuke, Sakura adalah adikku. Aku tahu betul dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika dia tahu aku jatuh cinta padamu. Pernah. Aku yakinkan padamu, kau tidak ingin dia kemudian memaksamu untuk mengencaniku atas dasar rasa bersalahnya." Tapi bagi Karin, bukan itu kebahagiaan yang diinginkannya. Dan ketika ia memikirkan kembali, kebahagian macam apa yang sebenarnya dia inginkan, melihat senyum Sakura adalah jawaban final yang bisa ia pikirkan.
"… baiklah." Sasuke menghembuskan kata tersebut dengan nada menyerah. Tiga puluh menit bercakap-cakap dengan si merah marun, Sasuke sadar mendebat gadis itu tidak akan ada gunanya. Pemuda itu pun akhirnya memutuskan untuk mulai menyesap kopinya yang sebelumnya telah terabaikan di atas meja.
Anehnya, americano yang diminumkan di hari itu terasa jauh lebih pahit dari yang seharusnya.
"Kau harus menjaganya baik-baik." Selang beberapa menit kenehingan di antara mereka, Karin kembali bergumam pelan. Namun kali ini, tanpa melihat Sasuke. Alih-alih, gadis itu malah sibuk menerawang jauh ke jendela dan pemandangan kota di baliknya.
"… tentu saja." Sasuke tidak perlu berpikir dua kali untuk menimpali ucapan kakak perempuan kekasihnya itu. Tanpa diminta pun, memang itulah yang ingin Sasuke lakukan—menjaga Sakura selamanya.
"Aku akan mengejarmu ke ujung dunia lalu menghajarmu sampai tidak bisa dikenali lagi kalau kau sampai membuatnya menangis." Karin terkekeh pelan di akhir kalimatnya tersebut. Kini ia sudah kembali menatap Sasuke dengan raut mengancam ala seorang kakak perempuan terbaiknya. Dan mau tidak mau, Sasuke pun menyunggingkan seulas senyum kecil menanggapi ancaman tersebut.
"Aku tidak meragukan itu."
Karena sejujurnya dia pun tahu betul, ancaman si gadis marun bukanlah sekedar ancaman kosong belaka.
"Kau harus membuatnya bahagia Sasuke." Karin kemudian menyentuh lembut satu tangan Sasuke di atas meja. Insting pertama Sasuke adalah menghempaskan tangan wanita itu sesegera mungkin—yang untung saja, bisa ia tahan sebelum ia malah membuat dirinya sendiri terlihat menggelikan. Karena ketika si pemuda raven akhirnya memutuskan untuk benar-benar menatap lawan bicaranya, sepasang ruby penuh tekad tengah menatap balik onyx kelam miliknya. Instingnya untuk segera menjauhkan sentuhan gadis itu darinya pun kini lenyap tak bersisa. Dan seketika, Sasuke sendiri bisa merasakan beratnya tanggung jawab dalam kalimat si sulung Haruno tersebut.
Kedua ruby Karin yang cemerlang menatap lekat netra kelam pemuda di hadapannya dengan penuh pengharapan. Berharap bahwa pemuda itu tidak akan pernah menyakiti adik perempuan yang begitu ia sayangi sebagaimana pemuda itu telah mematahkan hatinya sekarang ini.
"Kau bisa pengang janjiku… Karin-neesan."
Dan begitu saja, Sasuke kemudian membalas mantap genggaman tangan gadis yang lebih tua lima tahun darinya itu.
Seolah mengikat janji tak terucap; bahwa setelah pertemuan ini, ada banyak hal yang harus mereka tepati.
.
Suigetsu tidak bermaksud menjadi penguntit.
Astaga, dia bukan orang seperti itu!
Tapi saat pagi tadi Karin datang ke kantor dan terlihat 'berbeda' dari biasanya, mau tidak mau dirinya pun menjaadi penasaran.
Astaga gadis itu berdandan!
Berdandan
Well, dandanannya memang tidak terlalu mencolok. Hanya sedikit polesan bedak, pemerah pipi dan pewarna bibir sewarna peach. Tapi tetap saja, dia tidak pernah mau repot-repot mengenakan riasan wajah selama ini. Dan ketika dia muncul dengan pakaian yang sedikit lebih rapi dan modis dari biasanya, Suigetsu pun tidak bisa menghentikan dirinya untuk mengikuti gadis itu setelah mereka pulang kerja hari ini.
"Oh, aku tidak menyangka kau ternyata memiliki bakat ini dalam dirimu senpai!"
"Tutup mulutmu Tayuya."
Dan disnilah dia sekarang, duduk di lantai dua sebuah kedai kopi sederhana yang langsung berseberangan dengan café tempat Karin tengah duduk menunggu siapapun itu yang ditunggunya.
Bersama Tayuya, tentu saja, kapan sih dia tidak ingin ikut mengekor untuk melihat drama?
Terkadang Suigetsu tidak bisa untuk tidak bertanya-tanya, apa sih yang dilihat Sakon dari gadis ini? Jelas untuk Sakon yang pendiam dan tidak banyak tingkah, Tayuya terlalu berkebalikan dengannya.
"Kau tahu, aku mulai merasa bersalah melakukan ini." Sambil membolak balikan buku menu di tangannya, gadis berambut merah fuschia itu kembali menceletuk bosan. Mendengar itu, Suigetsu hanya bisa mengerlingkan matanya bosan.
"Kalau begitu pulanglah. Itu jauh lebih baik, terutama untukku." Ketusnya kemudian sebelum kembali memperhatikan si gadis merah marun di seberang jalan.
"Dan membiarkanmu menderita sendirian? Tentu saja tidak," Sambil menggebrakan buku menu di tangannya dengan dramatis ke meja yang mereka duduki, Tayuya menyahuti celetukan bernada ketus si pria pirang platina sambil menunjukan wajah tidak percaya terbaiknya. Sebelum kemudian menyunggingkan seulas senyum mengejek, yang menurut Suigetsu sendiri, oh sangat menyebalkan. "Setidaknya aku ingin melihatmu merana."
"Pernahkah seseorang memberitahumu kalau kau itu sangat kurang ajar?"
"Tidak. Penarnakah kau?"
Setelah satu sesi perdebatan lainnya yang sangat tidak berarti, Tayuya segera memanggil pelayan untuk memesan makan malam.
Adalah sebuah kesialan tak terduga bagi Suigetsu ketika si gadis benetra keemasan itu malah jadi orang pertama yang memergoki aksi menguntitnya ketika dirinya membututi Karin ke dalam bus—yang semua orang tahu, tidak pernah ia naiki saat hendak pulang ke apartemenya. Untungnya Suigetsu bisa dengan segera menyumpal mulut cerewet Tayuya sebelum gadis itu benar-benar meneriakan namanya seperti orang dungu dan membuat Karin malah menyadari keberadaan mereka berdua. Sayangnya, itu berarti Suigetsu harus menyeret si merah fuschia bersamanya, dan pria bernetra violet tersebut tahu betul, gadis itu akan dengan senang hati memerasnya untuk semua makanan yang hendak di pesannya. Dan jika kau mengenal Tayuya cukup lama, kau akan tahu, gadis itu benar-benar tahu apa yang ingin ia santap.
Setelah si pelayan muda yang nampaknya agak kikuk—dan selebihnya terkejut, mencatat pesanan mereka dan berlalu pergi, Tayuya adalah menjadi orang pertama yang menyadari bahwa 'tamu' yang sedang ditunggu-tunggu oleh gadis di seberang jalan sudah tiba.
"As-ta-ga."
Sebenarnya, Suigetsu ingin memprotes reaksi berlebihan juniornya itu. Namun ketika ia pun ikut menoleh dan memperhatikan pria yang akhirnya tiba itu, Suigetsu sendiri pun tidak bisa lagi menemukan alasan mengapa ia tidak setuju dengan Tayuya.
Well, mungkin lebih tepatnya, seorang pemuda.
Dia terlihat agaknya terlalu muda untuk sepantaran mereka; dan dari gaya berpakaiannya pun Suigetsu bisa memperkirakan usia pemuda itu tidak lebih dari awal dua puluhan.
Namun bukan itu tepatnya, yang membuat Tayuya kini tengah keblingsatan seperti cacing kepanasan di tempat duduknya.
Siapapun itu pemuda yang kini tengah bersama Karin, dia sangat tampan. Dan ketika Suigetsu mengatakan itu, ia tidak mengacu pada ketampanan para supermodel necis yang suka berlenggak lenggok di depan kamera. Astaga, pemuda itu nyaris setampan dewa dewa Yunani yang diceritakan dalam kisah kisah dongeng magis penuh misteri. Dan tentu saja, itu semua membuat gadis di seberangnya nyaris saja melakukan salto saking tidak percayanya.
"Kau bercanda?! Anak laki-laki itu tampan sekali! Aku tidak pernah melihat jenis yang seperti ini sebelumnya?"
Suigetsu mengerutkan lubang hidungnya ketika mendengar celetukan acak Tayuya tersebut. Karena sungguh, ia bisa saja berpikir gadis itu tengah mengacu pada spesies hewan langka eksotis jika dirinya tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya tengah gadis itu maksudkan.
"Hati-hati. Aku bisa mengadukanmu." Cecar Suigetsu kemudian; berusaha mengingatkan si gadis benetra keemasan tentang insiden sesi ciuman panasnya dengan sang editor di bilik kantor mereka.
"Oh, aku hanya mengagumi. Ini negara bebas bung." Namun Tayuya hanya menanggapi pria itu dengan menggedikan bahunya tak acuh sambil tetap tidak melepaskan pandangannya dari pasangan di seberang jalan.
"Menurutmu apa yang sedang mereka bicarakan?"
Suigetsu langsung mengutuk mulutnya sendiri ketika pertanyaan itu lepas begitu saja dari mulutnya. Jika saja yang kini di hadapannya adalah orang lain, ia mungkin tidak akan mempermasalahkan pertanyaan tersebut. Tapi ini Tayuya. Dan Tayuya, well, selebihnya selalu bertingkah seperti seorang 'Tayuya'.
"Mungkin soal masa depan? Kau tahu, pemuda itu mengencani adiknya."
Tentu saja
Seolah-olah Suigetsu bisa melupakan soal itu.
Karena yakin dirinya tidak akan mendapatkan informasi berguna apapun dari si gadis merah fuschia, Suigetsu memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan mereka dan lebih fokus mengamati pasangan di seberang jalan tersebut.
Bahkan dari jarak seratus meter, Suigetsu bisa merasakan kecanggungan di antara dua insan yang kini tengah bercakap-cakap di café seberang. Si pemuda raven terlihat sangat kikuk, sementara Karin terlihat sangat tidak nyaman.
Atau setidaknya, begitulah pengamatan Suigetsu untuk sepuluh menit pertama.
Sebelum kemudian pasangan itu terlihat mengobrol lebih santai, dan seketika Suigetsu disergap ketakutan tak berkesudahan karenanya.
Bukan begini tepatnya yang pria pirang platina itu pikir akan ia saksikan ketika memutuskan untuk menguntit si sulung Haruno.
Suigetsu memikirkan drama; teriakan, aksi saling tunjuk, dan air mata.
Karena setidaknya, ia kemudian bisa melangkah masuk ke dalam situasi tersebut dan menghibur si gadis bernetra ruby yang tengah menangis dan patah hati.
Tapi kelihatannya semuanya berjalan begitu baik antara Karin dan si pemuda tampan berambut raven; mereka bahkan kini tengah menyunggingkan senyum kecil kepada satu sama lain.
Seketika, perkataan konyol Tayuya tempo hari kembali tengiang di kepalanya.
Ketika Karin nantinya memiliki kekasih…
"Tidak lucu."
Tayuya akhirnya mengalihkan pandangannya dari pasangan di seberang jalan ketika mendengar celetukan tak berarti dari seniornya tersebut. Bagaimana pun, Tayuya tidak merasa telah melemparkan guyonan apapun selama nyaris sepuluh menit belakangan ini.
"Hei, aku tidak sedang melucu." Timpal gadis itu kemudian sambil menatap Suigetsu dengan alis mengerut jelek.
Tak lama kemudian, si pelayan pun datang kembali dengan semua pesanan mereka—beberapa seri makanan yang dipilih Tayuya, dan secangkir macchiato untuk Suigetsu.
Suigetsu meringis pelan melihat deretan piring berisi sandwich, kentang goreng, beberapa donat dan juga croissant di hadapan gadis berambut merah fuschia tersebut. Ia pun heran bagaimana Tayuya sendiri akan memasukan semua makanan tersebut ke perutnya.
Sambil menggeleng pelan, Suigetsu kemudian menyesap pelan kopinya. Sebelum akhirnya kembali mengalihkan perhatiannya pada pasangan di seberang jalan.
Sialnya, pemandangan yang selanjutnya dilihatnya malah lebih seperti mimpi buruk.
Karin tersenyum. Tersenyum. Dengan sebelah tangan bertautan dengan si pemuda raven di atas meja.
Dan seketika, Suigetsu merasa sebuah lubang besar telah muncul tiba-tiba di bawah kakinya dan menelannya seutuhnya.
Aksi menguntit ini sedari awal memanglah sangat konyol; dan pria bernetra violet itu pun segera merasa dirinya telah melihat telalu banyak.
"Bos, mau kemana?" Tayuya menaikan sebelah alisnya ketika melihat Suigetsu tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan memakai kembali mantelnya.
"Pulang. Aku sudah melihat cukup banyak."
Setelah mengatakan itu, Suigetsu segera berbalik pergi setelah sebelumnya meletakan uang secukupnya untuk membayar kopinya.
"He-hei! Tunggu! Ini siapa yang akan membayar billnya?! Senpai!"
Tayuya hanya bisa memandang punggung pria berambut pirang platina itu semakin menjauh tanpa mengindahkan panggilannya, sebelum kemudian berdecak sebal.
"Sialan."
.
Awalnya Karin bersikeras untuk pulang sendirian, tapi Sasuke bersikeras untuk mengantarnya pulang—karena yah, ini sudah nyaris gelap. Meskipun Sasuke masih merasa canggung dengan Karin, ia tetap merasa bertanggung jawab untuk mengantarkan kakak kekasihnya itu tiba di rumah tanpa masalah. Dan kendati Karin pun merasa tidak enak, ia tidak bisa untuk tidak mensyukuri gestur manis si bungsu yang bersikeras mengantarnya pulang.
Dalam hati, wanita bersurai merah marun itu pun hanya bisa tersenyum kecut. Inilah alasan mengapa ia jatuh hati pada si bungsu Uchiha yang tampan.
"Sasuke-kun, terimakasih." Karin berujar pelan saat mereka berdua akhirnya tiba di depan pintu rumah keluarga Haruno. Sasuke hanya mengangguk pelan sebagai balasan, karena, yah, ia sendiri tidak tahu harus berlaku bagaimana.
"Karena sudah membelaku di toko kelontong," Sasuke baru saja hendak berbalik pergi sebelum kemudian merasakan tangan Karin yang hangat mengamit pelan tangannya—kemudian meremasnya pelan sambil menatap Sasuke dengan pandangan berkaca-kaca.
"Dan karena sudah menawarkan payungmu dan berlaku manis padaku,"
Sasuke membeku ditempat saat ia merasakan kedua lengan mungil Karin kemudian melingkari tubuhnya. Well, dia masih merasa tidak nyaman, tentu saja. Tapi dia pun tahu dia tidak bisa memberikan penghiburan apapun pada gadis yang juga merupakan kakak perempuan kekasihnya itu.
Jadi dengan gerakan canggung, Sasuke pun membalas dengan menepuk pelan punggung gadis itu.
"Maafkan aku." Lirih si pemuda raven kemudian, yang selanjutnya dibalas dengan gelengan lemah wanita yang masih merengkuhnya tersebut.
"Aku tahu mencintaimu adalah kesalahan. Tapi aku tidak pernah menyesalinya."
"Apa ini?"
Dan tentu saja, terlarut dalam semua percakapan emosional yang mereka lakukan beberapa jam belakangan ini, mereka nampaknya melupakan sesuatu yang sangat penting.
"Sakura,"
Itu si merah jambu, dengan wajah penuh keterkejutan tengah menatap tidak percaya kakak dan kekasihnya—yang telah dengan terburu-buru menjauhkan diri dari satu sama lain.
Sial. Karin lupa bahwa mereka saat ini sedang berada di depan rumahnya dan adiknya bisa pulang kapan saja.
"Nee-san, jawab aku."
Untuk Sakura, semua ini terlalu membingungkan untuk dicerna cepat oleh otaknya.
Tentu saja, skenario seperti ini sempat terpikirkan olehnya. Tapi Sakura masih percaya, Karin tidak akan pernah menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Dan Sakura mempercayai wanita yang nyaris lima tahun lebih tua darinya itu dengan sepenuh hati.
Lalu apa yang kakaknya dan Sasuke lakukan di depan rumah mereka? Mengapa mereka berpelukan? Dan mengapa Karin bilang bahwa dia tidak akan pernah menyesali telah mencintai pemuda itu?
Seketika semua ketakutan yang sebenarnya berusaha ia pendam dalam-dalam bangkit merangsek naik ke permukaan dengan satu hentakan paksa; menciptakan mual memuakan dan Sakura seketika merasa kehilangan kemampuannya untuk bernafas.
"Sakura—"
"Jawab aku."
Dan kendati Sakura sendiri pun takut dengan jawaban macam apa yang tengah hendak dia tarik paksa ke permukaan, ia merasa bahwa dia memang harus mendengar penjelasan langsung dari mulut Karin; pengakuan dari mulut kakaknya sendiri.
"Saku—"
"Karin-neesan!"
Tapi itu adalah hal terakhir yang Karin inginkan.
Ia sudah bersumpah akan membawa semua rahasia ini bersamanya hingga hari pemakamannya.
Dan kedatangan Sakura—yang sebenarnya bisa diduga tapi tidak terpikirkan olehnya, telah membuatnya mengkhianati sendiri sumpah tersebut.
Kedua ruby Karin menatap lekat emerald Sakura yang kini penuh dengan kepahitan yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Seketika hati Karin pun mencelos menyadari itu semua adalah karena ulahnya.
Sakura berhak untuk sebuah penjelasan.
"Ya," Sambil menarik satu tarikan nafas dalam, Karin berusaha keras untuk mengerahkan semua kemampuannya untuk bicara.
Menjelaskan pada sang adik, tentang rahasia besar macam apa yang telah coba ia sembunyikan darinya selama ini.
"Aku mencintai Sasuke. Sama sepertimu, aku mencintainya," Kedua ruby Karin kembali menatap nanar emerald Sakura yang kini berubah semakin gelap setiap detiknya, sebelum dengan kepahitan yang sama kembali menambahkan "bahkan sebelum kalian mulai berkencan."
Keheningan yang sangat tidak menyenangkan menggantung di antara mereka nyaris selama lima menit penuh. Gerimis kecil mulai jatuh ke bumi, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau repot-repot berpindah dari tempat mereka berdiri. Seolah alam sekali pun tidak akan dapat mengusik ketegangan diantara kakak beradik Haruno tersebut dan pemuda yang menjadi sumber masalah mereka itu.
"Kenapa?"
Sakura jadi yang pertama kali buka suara, dengan sangat lirih ia melemparkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri pun tidak yakin mau mendengar jawaban seperti apa untuk pertanyaannya tersebut. Beberapa surai merah mudanya mulai layu akibat semakin banyaknya air hujan yang jatuh membasahi bumi, tapi dingin hujan tidak mampu menandingin gigil lain yang kini tengah bergulat dalam dirinya.
"Sakura, dengarkan aku, ini tidak—"
"Kenapa?!"
Seumur hidupnya, Sakura tidak pernah meninggikan suaranya pada Karin. Kalau pun ada seseorang yang berteriak nyaring, itu pasti Karin—yang bersusah payah mengingatkan adiknya tentang satu dua hal yang pastinya gadis bersurai merah muda itu suka lupakan meski diingatkan berkali-kali.
Dan adiknya yang telah berteriak sangat nyaring itu kini tengah menatap nanar dirinya dengan seraut emosi yang tak pernah Karin jumpai sebelumnya.
"Nee-san bilang, nee-san mencintaiku," Lamat-lamat Sakura kembali buka suara, kali ini sambil menunduk dalam. Saat Karin hendak melangkah maju untuk menyentuh pelan pundak adiknya, Sakura dengan segera melompat mundur beberapa kali untuk menghindari sentuhan kakaknya tersebut, "tapi nee-san sendiri telah membohongiku."
Seketika hati Karin mencelos mendengar itu semua.
"Tidak. Sakura!"
Karin berteriak terlampau nyaring sehingga tenggorokannya pun terasa perih setelahnya; namun ia tidak terlalu mempedulikan itu, karena saat ini adiknya telah membalikan tubuhnya dan berlari pergi—melompati pagar tanaman pendek rumah mereka dan berlalu menembus hujan yang jatuh semakin deras.
"Sakura! Tunggu Sakura!"
Sayup-sayup Karin bisa mendengar Sasuke berteriak, berusaha menyusul si merah muda yang kelewat lincah—tapi berakhir nihil. Gadis itu bergerak cepat, dan hal terakhir yang Karin ketahui hanyalah dirinya dan Sasuke yang masih berdiri mematung meratapi kepergian Sakura.
Dan begitu saja, Sakura menghambur pergi, menerjang hujan badai yang sepertinya tidak akan reda dengan cepat.
Meninggalkan Karin yang masih terpaku di tempatnya berdiri, dengan badai lain berkecamuk di hatinya.
.
.
Badai Fin
.
.
Catatan Penulis
Holla, saya rasa ini bagian terpanjang dan terpadat di tetralogi ini—karena yah, cukup sulit untuk merangkum semua konflik di sekeliling kakak beradik Haruno ini dalam satu chapter saja. Lagipula, ini bagian Badai, dan sepertinya sudah sepatutnya chapter ini 'badai kata-kata' sampai hampir sepuluh ribu kata.
Semoga chapter yang padat ini tidak malah membuat para pembaca sekalian merasa bosan ya.
See you on the last part soon 😊
Thank you for reading.
With Love,
Lin.
