Rin: *kupas jeruk*
Len: Hari ini panas ya..
Rin: Iyaa..~
(terdiam beberapa saat)
Len: Anoo.. kenapa kita menurut saja apa kata Author sarap itu ya?
Rin: Iya, masa kita disuruh ikutin naskah di dalam naskah kayak gini? *makan jeruk*
Len: *makan pisang*
Rin: *baca review siGre sambil menahan tawa* Huahahahahaaa..! Lihat ini Len! Bahkan In-Chan Sakura saja menganggapmu kleptoman! maksudnya kleptomania
Len: A..apaan sih! Aku kan bukan kleptoman! *blushing*
Lagipula, masa si Author sarap itu bikin aku kecelakaan sih? Aku nggak rela ngliat para cewek nangis gara-gara itu, terutama si Rii-kun! Kurara animeluver juga, aku kan nggak sejahat itu aslinya! Aaarrggghh..! Aku jadi pengen nghajar si Author sarap itu! *bawa senapan*
Rin: Ah! Len!
Sementara itu..
Author: *sembunyi di kolong meja* kufufufu kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi! Ahahahahahaaaa..~~ → suara hati Author sarap
siGre- Chapter 3
Rin
"Leeenn..! Menyingkirlah! Awaaaass…!"
BRRUUUUUUKKKKK…!
Aku menyaksikan tubuhmu terpental jauh setelah ditabrak truk yang kencang menderu.
Aku tak sanggup menyaksikan semua ini…
"Ada yang kecelakaan!" seru seorang gadis berambut biru dikuncir dua yang berlari ke arahmu. Aku tak kuat menahan tubuhku. Aku relakan kakiku terkulai lemah.
"Rin, kamu nggak apa-apa?" Stella, gadis yang aku tahu sebagai kakak kelasku tergopoh-gopoh berlari dan membantuku berdiri.
"Itu, Len kecelakaan? Ya ampun, ayo kita lihat!" Kak Stella memegang tanganku dan mengajakku berlari menuju tempatmu terkapar.
"Kalian cuman bisa berdiri dan melihat saja, hah? Telepon ambulans!" seru seorang laki-laki berambut ungu dengan nada tegas, sambil memeriksa luka-lukamu. Gadis berambut biru tadi langsung mengeluarkan handphonenya.
"Halo? Rumah Sakit? Di Jalan xxxx dekat SMP xx ada yang kecelakaan! Tabrak lari! Korbannya selamat tapi keadaannya kritis!"
Aku.. tak sanggup.. Len..
"Loh! Loh Rin! Aduh dia pingsan! Rin, sadar Rin!"
Len
Hah, kapan ini? Aku di mana?
Aku perlahan membuka mataku. Kepalaku terasa amat sakit, seperti ada yang menusuk otakku.
"Selamat pagi, Tuan.." seorang suster memasuki ruangan tempat aku berada saat ini. Ia menyibak tirai putih yang menutupi jendela, mempersilahkan cahaya matahari menyelimuti ruangan ini. Aku menggerakkan tanganku, tapi terasa sakit sekali. Hal yang sama terjadi saat aku menggerakkan kakiku.
"Tuan jangan banyak bergerak dulu sebelum pulih benar.." sang suster berambut pink merapikan selimutku. Lalu ia kembali bergerak membawakanku sarapan pagi, semangkuk bubur.
"Aku akan menyuapkan makanan untukmu, jadi kau tak perlu susah payah bergerak," suster itu tersenyum dan mulai menyuapiku. Aku merasa lebih tenang sekarang.
"A.. ano, mengapa aku masuk rumah sakit? Kemarin aku kenapa, suster?" tanyaku lemah.
"Tuan menjadi korban tabrak lari, setidaknya itu yang saya ketahui.." ia kembali menyuapkan sesendok lagi bubur untuk terakhir kalinya.
"Nah, kau perlu banyak istirahat agar cepat pulih.." suster itu tersenyum sebelum ia menutup pintu dan membiarkanku sendiri, mencoba menutup mata dan beristirahat.
Rin, saat kecelakaan itu, apa yang ia rasakan? Apa yang ia lihat?
Rin
Siang harinya…
"Yakin nih Len dirawat di kamar ini?" gumamku sambil memegang secarik kertas bertuliskan nomor kamar rumah sakit yang kau tempati dengan ragu. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk membuka pintu di hadapanku ini. Kau masih tertidur. Pelan-pelan kuletakkan sebuket mawar di meja di samping tempat tidurmu, bersama dengan catatan-catatan dan PR-PR yang ada hari ini. Tiba-tiba kau membuka matamu perlahan. Mungkin kau terusik karena kehadiranku.
"L..Len..? Apa.. kau sudah baikan?" tanyaku dengan perasaan gugup.
Kau hanya menatapku lemah.
"Menurutmu, apa aku sudah baikan?" kau balik bertanya dengan suara pelan yang terdengar dingin.
"Aku bawakan catatan hari ini. Tugas-tugas yang harus dikerjakan juga sudah aku bawakan. Lalu.."
Kau menatapku lagi.
"Kau ini.." lirihmu.
Aku tak bisa menahan air mata. Tatapan matamu yang kurindukan tak ada lagi. Tak ada lagi yang bisa membuatmu tersenyum seperti dulu.
"Ada apa kau..? Mengapa kau menangis, hah…?" tanyamu. Aku masih berdiri di sampingmu, mengusap air mataku yang mengalir di pipi.
"A.. aku.." aku tak bisa meneruskan kalimatku.
"Kalau kau menangis, aku akan.."
"Len, aku menyayangimu!" pekikku. Entah dari mana aku mendapat keberanian untuk mengucapkannya.
Hening menyelimuti ruangan. Angin dingin berhembus. Kupandang mendung yang tampak di langit dari jendela kamar rumah sakit ini.
"Apa sudah benar-benar kau pikirkan perasaan itu, Rin?" tanyamu pelan.
Aku terdiam. Kau masih benci padaku karena mawar itu, Len?
"Aku.. tak bisa menyayangimu seperti kau menyayangiku,"
Aku terkejut mendengarnya. Seperti ada guntur yang menyambar hatiku yang rapuh. Dan di mana gemuruh petir menggelegak, di situ pulalah turun hujan yang amat, amat deras.
"Rin, pergilah. Jangan khawatirkan aku lagi," lanjutmu, seakan belum puas mengoyak segala perasaanku.
"Tapi, Len.."
"KELUAR!" serumu, bersamaan dengan kilat membawa suara petir yang menyambar keras. Aku menutup telingaku dengan refleks, air mata masih mengalir dari kedua mataku.
Hujan kali ini, benar-benar tidak indah. Hujan kali ini amat menyakitkan. Tak hanya telingaku, hatiku.
Dadaku tiba-tiba terasa sakit. Nafasku melemah.
Len
Malam harinya..
"Len, aku menyayangimu!"
Masih terbayang suaranya yang bercampur isak tangis itu.
Rin, dia selalu, selalu saja menangis.
Mengapa?
Aku menggerakkan kepalaku, menoleh ke arah meja kecil di sampingku. Sebuket bunga mawar tergeletak di atasnya.
Pasti ini darinya.
Perlahan kuperintahkan otak kiriku untuk menggerakkan tangan kananku, meraih setangkai mawar yang terselip di antara mawar-mawar lain. Kubawa mendekati hidungku. Wangi mawar mulai merasuki penciumanku.
Kupandang lagi buket mawar itu. Aku baru sadar kalau ada sebuah surat mengintip di balik mawar-mawar itu. Kucoba meraihnya dan membacanya:
"Mawar, selain memiliki bentuk yang indah dan penuh misteri, juga menyimpan banyak kenangan dalam setiap kelopaknya.
Wangi mawar selain bisa menenangkan, juga bisa meningkatkan konsentrasi.
Aku tahu Len selalu mempelajari Matematika dengan sungguh-sungguh, jadi aku bawakan mawar agar Len bisa belajar dengan baik.
Aku juga membawa catatan yang dititipkan Kiyoteru-sensei padaku. Aku baru tahu ternyata kau ikut Olimpiade Matematika 6 bulan lagi.
Len, setiap kali aku melihat mawar, aku selalu mengingatmu, mengingat kejadian tujuh tahun lalu, saat kau memberi harapan pada mawarku yang hancur.
Dan hujan, selalu memberikan memori istimewa akan kehadiranmu.
Aku selalu berdoa agar kau baik-baik saja, Len…"
Kuperhatikan benar surat itu. Di ujungnya ada bercak darah yang amat kecil, tertangkap dalam pengamatanku.
Apa gadis itu baik-baik saja?
Aku tak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Rin, mawar, dan hujan yang masih membasahi kota ini tanpa henti dari siang tadi.
Rin
Tiga hari kemudian, pagi harinya..
"Uhuk uhuk!" aku terbatuk dengan suara agak kencang, membuatku menjadi pusat perhatian dalam sesaat.
"Ada apa, Rin?" Meiko–sensei bertanya setelah menghentikan sejenak kegiatannya menulis di papan tulis.
"Ti..tidak Sensei, saya hanya batuk biasa.." aku meneguk air putih dari termos.
"Entah kenapa saya agak curiga dengan batukmu itu," Meiko-sensei kembali sibuk menulis pengertian hukum menurut para ahli di papan tulis. Aku ikut melanjutkan catatan Kewarganegaraanku itu.
"Loh, Rin? Itu darah siapa?" Lin menunjuk ke arah lembaran buku catatanku yang ternoda oleh bercak darah.
Ya Tuhan! Ini pasti karena aku batuk tadi! Aku tidak memperhatikan darah di tanganku!
Kuambil termosku. Benar, ada bekas darah juga di sana.
"Batukmu aneh, Rin! Berdarah!" pekik Lin dengan nada cemas. Aku pun ikut ketakutan. Apa yang terjadi denganku, Tuhan?
Yaakk~
Ya ampun, maaf sekali. Akan ada chara death di chapter terakhir. Yang udah nonton PVnya pasti tahu siapa yang akan meninggal, dan tahu pula apa sebab kematiannya.
Aku nggak pandai ngarang sebab kematian. Ide bikin Len kecelakaan aja dapet entah dari mana. Aslinya kan dia ketembak peluru gitu~
Anyway, terimakasih sekali lagi buat mata jeli kalian kalau ada yang menemukan typo. Aku bener-bener kebawa perasaan nulisnya, jadi nggak perhatiin keyboard lagi deh X)
Makasih banyak juga buat yang sudah RnR.. kalau ada yang mau disampaikan, sampaikan saja. Segalanya berarti buat kemajuanku juga loh~ ^^v
