Ting tong~
Len: Biar aku yang buka.
(sementara itu..
Gubraaakk..! Bruuukk! Plak! Heaaahh! Dhiieesss…! Meaaaouuww…! -?-)
Rin: Ada apa sih itu?
Len: Oh, nggak apa kok~ *kembali dengan langkah ringan*
Rin: Tadi siapa yang datang?
Len: Si mesum.
Rin: Mesum yang mana sih?
Len: Yang rambut ungu ==a
Rin: *sweatdrop sesaat* Itu surat dari mana?
Len: au ah gelap, liat aja! *lempar surat ke Rin*
Rin: *ngbaca*
PT Xaraph Company
Jalan Raya Nomor Togel Gang Sempit, Dimana Ajaboleh
Telepon (061) 234567890
Medan, 20 November 2010
Nomor: 195/SKNBB/XI/2010
Lampiran: 1 halaman
Perihal: Nyapa doang~
Ytc Kagamine Rin dan Len
Jalan Jalan Nomor Cantik
Dimana Terserahelo
Dengan cinta.. (halah~)
Hai Rin, Hai Len! Ini Author sarap yang kalian rindukan itu loh! –gilased by penggulung jalan-
Dengan ini aku sampaikan bahwa aku kangen sekali sama kalian, halah.
Aku baru belajar bikin surat niaga nih! buehehehe gag ada yang nanyak ya? :3
Wahai Rin, Len, dan para pembaca yang saya kasihi *dihajar*, ini sudah mau chapter terakhir, ternyata harus begini, aku membelah endingnya jadi dua chapter..~
Maafkan daku yaa~
Aku sayang kalian muah muah~
Cinta gue,
Omepoid Tsoureisa
Tembusan:
- RNV Riikun
-Amu 'Yui-Hirasawa' Hinamori
- Kurara animeluver
- In-Chan Sakura
- and all great readers out there~ :D
Rin dan Len: *sweatdrop berdua*
Rin: L..Len.. kita.. langsung masuk ke cerita aja yuk, sepertinya kesarapan Author kita perlu diperbaiki..
Len: Nggak akan bisa sembuh, Rin, percayalah..~ *pergi bareng Rin*
siGre- chapter 4
Len
Seminggu lima hari kemudian…
Aku sudah bisa diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit, hanya saja aku masih perlu pengawasan khusus agar keadaanku tidak memburuk. Yah, beberapa tulangku patah dan ada yang harus digips, tapi sudah mulai pulih. Mereka tercengang dan berkata bahwa aku mengalami mukjizat. Entah apa maksudnya.
"Wah Len, selamat datang kembali!" sambut Sai, si ketua kelas.
"Terimakasih," sahutku pelan, kuberikan sebuah senyuman tipis.
"Uhuk uhuk!"
Aku menoleh ke arah orang yang membuat suara berisik itu. Ternyata itu adalah Rin. Ia memandangi tangannya yang tadi digunakannya menutup mulut saat batuk, kulihat wajahnya sangat pucat dan ketakutan. Ia lalu berlari ke luar kelas dengan napas tersengal-sengal.
Tunggu..
Mengapa badan gadis itu terlihat mengecil?
Rin
Ya Tuhan, aku benar-benar takut!
Aku menatapi tanganku yang berlumuran darah. Aku tak menyangka akan mengidap penyakit ini.
Aku tahu, banyak kebiasaan burukku yang menyebabkanku menderita TBC, Salah satunya adalah paru-paruku yang lemah karena sebegitu seringnya aku berada di dalam cuaca dingin, terutama saat hujan. Aku teringat wajah orangtuaku yang cemas karena penyakit ini berkembang semakin parah.
Ayah, Ibu, maafkan aku..
Bruuukkk…!
Len
"Wooooiii.. ada yang pingsan!"
Aku mendengar suara gaduh saat aku membaca buku kumpulan rumus matematikaku. Murid-murid lain berlari ke arah si pembuat gaduh, lalu kembali dengan menggotong seorang gadis yang bertubuh pucat, tangannya terkulai lemas dengan bercak darah di telapak tangannya.
Rin..?
Kau.. kenapa?
Aku ikut berlari bersama mereka menuju UKS. Kak Lily, penjaga UKS menyambut kami dengan wajah keheranan.
"Ngapain kalian rame-rame gotong satu cewek doang? Dia kenapa.. ya Tuhan…" Kak Lily cepat-cepat membaringkan Rin ke tempat tidur dan mulai memeriksanya.
"Bercak darah? Dari mana ini?" Kak Lily memperhatikan tangan Rin dengan wajah khawatir.
"A..anoo.. Dulu itu Rin juga batuk darah, Kak.." Lin maju mendekati Rin yang terbaring lemah.
"Batuk darah? Apa dia kena TBC?" tanya Kak Lily.
TBC?
Seminggu kemudian..
Aku berdiri di depan pintu rumah gadis itu. Aku ingin menjenguknya. Tapi, bagaimana reaksinya nanti ya?
"Permisi.." aku mengetuk pintu. Seorang wanita membukakannya untukku, itu ibunya Rin.
"Len? Oh, Len! Masuk, Nak! Sudah lama tidak ketemu ya. Bagaimana kabar keluargamu?" ibunya mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya.
"Baik Tante," jawabku.
"Kamu mau menjenguk Rin, kan?" beliau menatap sebuket besar mawar merah yang kubawa.
"Iya, Tante.." jawabku lagi sesopan mungkin.
"Rin ada di kamarnya, di samping ruang keluarga," beliau menunjuk ke arah sebuah pintu dengan gantungan bergambar jeruk. Aku mengangguk.
"Terimakasih, Tante. Permisi.."
Aku berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya perlahan. Kulihat Rin sedang terbaring, matanya sayu dan tubuhnya memucat.
"Ah, Len.." ia tersenyum lemah. Aku benar-benar tak tega melihatnya seperti itu.
"Ya, ini aku," sahutku. Kuletakkan sebuket mawar yang kupegang sedari tadi di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Len, itu.. mawar?" tanyanya. Bahkan untuk menoleh ke samping saja pun ia terlihat kesusahan.
"Menurutmu?" aku balas bertanya.
Ia hanya tersenyum. Wajahnya memucat, begitupun bibirnya.
"Aku pikir kau takkan datang, Len. Aku selalu menunggumu di sini.." lirihnya.
Aku tersentak.
"Tapi, aku masih pengecut, ya? Aku hanya menunggumu di sini, padahal seharusnya aku.."
"Cukup," potongku.
"Len..?"
"Jangan banyak omong kalau lagi sakit," ujarku.
Tanganku bergerak mendekati wajahnya, ah tidak! Bodoh kau, Len! Kuatur tanganku agar menjauhi bibirnya.
"Len?"
Akhirnya aku memutuskan untuk mengelus rambutnya saja.
"Len..?" gumamnya pelan.
"Diam, istirahat saja sana," aku masih mengelus rambutnya dengan lembut.
"Aku tidur dulu, Len.." ia menutup matanya perlahan.
Aku menghentikan gerak tanganku pada rambutnya, lalu beralih menuju matanya yang terpejam. Aku meyentuh perlahan kelopak matanya dengan jariku. Lembut dan hangat. Mata yang selalu menangis bersama hujan..
Jiah, baru diomongin, tiba-tiba hujan muncul menderas.
Kau ingin menangis bersamanya, hujan?
Baiklah..
Perlahan aku beranjak dari tempatku, pergi meninggalkan Rin yang tertidur pulas, dan menutup pintunya diam-diam agar ia tidak terbangun. Aku tak ingin membangunkannya, sudah cukup aku membuatnya sedih. Aku ingin dia menangis sendirian bersama hujan dalam mimpinya, karena aku tak tahan melihat air mata itu. Aku selalu ingin menghapusnya..
Rin
Matahari meninggi.
Benar, kan?
Aku membuka mataku pelan, sinar matahari menyerbu penglihatanku yang belum sempurna benar. Aku mengucek mata karena kesilauan.
"Hari ini sekolah ya.." gumamku.
Oh iya, kau pasti sudah pergi ke sekolah kan, Len?
Pasti aku ketinggalan banyak materi pelajaran.
Aku ini sudah lemot, malah ketinggalan pelajaran, lagi. Terlalu!
"Rin.." panggil ibuku.
"Aku datang.." aku beranjak pelan dari tempat tidurku, menghampiri ibuku.
"Ibu sudah masakkan sarapan untukmu. Makanlah.."
Sarapan hari ini adalah pancake dengan irisan pisang panggang di atasnya. Aku tersenyum. Kalau tidak salah, kau suka pisang, kan?
Aku meneguk jus jeruk di samping piringku. Rasanya segar.
"Syukurlah keadaanmu lebih baik dibanding kemarin. Ibu senang dengan kemajuanmu," sahutnya.
"Terimakasih, Ibu.." lirihku.
Setelah aku menyelesaikan sarapanku, aku mencuci piringku lalu pergi ke kamar. Matahari yang cerah masih setia bertengger di atas awan.
Mataku memandang buket mawar pemberianmu. Sedikit layu. Aku menyentuh kelopak merahnya, lalu memetik beberapa helai. Kutaburkan di atas tempat tidurku, bahkan di atas bantalku. Harum mawar menyeruak.
Mawar-mawar yang tersisa kubawa dalam pelukanku, lalu aku memejamkan mataku setelah aku berbaring.
Harum ini, aku seperti mencium keberadaanmu di sini.
Kapan kau akan datang lagi?
Hiks! Segini dulu…
Chapter kelima adalah chapter terakhir~
Terimakasih sudah menunggu lanjutan fic ini ya, maaf lama diupdate..
Kayaknya aku harus lebih update lagi pengetahuan seputar TBC =w=
Terimakasih sudah RnR, yang R aja aku juga senang~
Buat Amu-chan dan yang lain, cerita asli siGre bisa kamu lihat di PVnya di Youtube~
Keren loh! Sekali aku melihatnya aku langsung nangis gaje.. TT^TTd
Untuk chapter terakhir, aku akan berusaha lebih keras lagi! XD
