Maaff..~

Sibuk berkutat dengan fic sebelah, arrrgghh..~

Yap, daku sudah janji kan, chapter ini adalah chapter terakhir (Rin dan Len: Yes! Nggak ketemu Author sarap lagi ntar! XDDD *toss*), sori kalau ceritanya jadi agak-agak aneh gitu.. X'

Warning: random flashback, silakan lihat chapter-chapter sebelumnya untuk timeline yang lebih teratur.. O.O

Oke deh, enjoy~


siGre- chapter 5

Len

Pokoknya sudah lama sejak aku menjenguk dia deh, kenapa aku harus jadi tukang hitung waktu di sini?

"Batuk darah? Apa dia kena TBC?"

TBC?

T…BC?

TB..C?

To Be Continued? Bukan, pastilah itu.. tuberkulosis?

Aku pikir penyakit itu hanya ada di jaman-jaman dahulu kala, tapi ternyata gadis itu juga mengalaminya.

Menurut apa yang kutahu, tuberkulosis itu adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan, ISPA gitu deh.

Tes.. tes..

Kupandang awan mendung di jendela kelas. Hum, musim hujan. Dari awal aku memang tidak suka hujan. Cuacanya terlalu dingin, dan ada banyak petir. Itu membuatku takut.

"Wah, hujan! Udah bewcek, gag ada owjek.." seorang teman menirukan gaya berbicara seorang artis untuk memeriahkan suasana kelas yang ditinggal oleh guru untuk beberapa saat ini.

Aku meraih buku Matematikaku dengan malas. Sebenarnya sih aku sangat ingin belajar untuk sedikit melupakan semua yang tak ingin kupikirkan, tapi ternyata penyakit malas itu lebih menguasai jiwaku. Halah.

Kuambil selembar foto dari kantong celanaku. Masih ingat tidak dengan foto Rin yang dulu kucuri? Ya, saat akan meninggalkan rumah sakit, suster memberikan foto ini padaku.

"Saya menemukan ini di saku celana yang Anda pakai saat kecelakaan terjadi, saya rasa ini foto orang yang sangat berharga bagi Anda, jadi saya simpan sampai Anda keluar dari rumah sakit ini."

Foto itu sudah lecek. Banyak bekas kerutan di sana, bahkan ujungnya sudah sedikit sobek, namun itu tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Senyum kekanakan itu masih jelas, utuh terlihat.

Kupandangi lagi jendela kelas. Mataku tertumbuk saat melihat deretan mawar merah yang mekar dengan indahnya. Pasti itu..

Iya, aku ingat. Rin yang menanam mawar-mawar itu dulu.

Cepat mekar juga, ya..

"Um.. mawar di rumahku udah mekar, nanti aku petikkan satu untuk Len, ya?"

"Maaf. Aku bukan anak perempuan yang suka bunga-bunga seperti itu

"Len, nggak ingat aku? Len nggak ingat kejadian tujuh tahun lalu itu?"

Pikiranku benar-benar kacau sekarang.

"Aduh, mawarnya.. hiks.. hiks.. sekarang sudah.. hiks.. hancur.. huhuhuhuhuuu.. hiks.. Gi..gimana nih.."

"Tanam yang baru, dong!"

"Tanam.. yang baru?"

"Iya,"

"Memangnya bisa?"

"Bisa,"

"Ba.. baiklah! Aku akan menanam mawar yang cantik untuk Len!"

Apa dia juga merasakannya?

"Kalau kau memang benci padaku dan sudah lupa padaku, setidaknya katakanlah padaku! Perilakumu itu tidak berperasaan! Kau tidak menghargai pemberian orang lain! Apa itu yang namanya.."

"Jadi, kau hanya menyayangi mawar itu? Lebih baik kau pikirkan saja perasaanmu itu, baru kau datang lagi,"

Terlalu banyak kilas balik yang berputar-putar dalam kepalaku, semuanya hancur berantakan. Kelopak-kelopak mawar yang berguguran, sungguh. Semuanya lebih dari cukup.

Lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa kami berdua memiliki perasaan yang sama.

Rin

"Uhuk uhuk uhuk!"

Kubuka sapu tangan yang menutupi mulutku saat batuk tadi. Dan kalian pasti tahu apa yang akan aku temukan di sana. Percikan darah lagi.

Kini sudah lebih dari dua minggu aku mengalami batuk darah yang amat parah.

"Sepertinya kita harus membawa Rin ke rumah sakit," kudengar sayup-sayup suara ibuku di ruang tamu. Aku mencoba mengintip di balik tembok.

"Ya, kondisinya makin lama makin memburuk," ujar ayahku.

"Apa sebaiknya Rin tidak usah sekolah saja, ya?" tanya ibuku dengan wajah cemas.

"Sepertinya begitu. Kita harus berkonsentrasi menyembuhkan Rin, baru dia bisa mengulang sekolahnya," ayahku memijit keningnya.

"Tapi, itu akan memakan waktu yang lama. Rin mungkin bisa tertinggal setahun dari teman-temannya.."

"Sudahlah, hanya tertinggal setahun saja, kan? Itu bukan hal besar. Yang penting sekarang adalah, anak kita bisa sembuh total dan beraktivitas dengan baik,"

"Baiklah kalau begitu.."

Aku tersentak. Kepalaku serasa berputar. Nafasku terasa semakin berat dan sesak. Semuanya.. gelap?

"Rin..! Rin! Ya, Tuhan, badannya panas!"

Beberapa saat kemudian, malam hari..

A.. aku.. di mana? Semuanya putih..

"Anak anda positif mengalami TBC.." kudengar sayup-sayup suara seorang wanita muda.

Aku mencoba bergerak, tapi tak bisa. Tubuhku terlalu kaku untuk digerakkan. Kucecapkan lidahku, rasanya pahit. Tubuhku memucat dan rasanya panas, aku juga bisa merasakan bulir-bulir keringat menetes di sekujur tubuhku.

Krieeett..

Pintu kamar terbuka. Kulihat Ayah dan Ibu berjalan mendekatiku. Kulihat mata Ibu yang sepertinya habis menangis. Ayah mengelus-elus kepalaku dengan lembut.

"Apa yang kau rasakan sekarang, Nak..?" tanya ibuku dengan suara bergetar.

"Se.. sak.. Bu.. Panas.. Kepala Rin berputar.." ucapku lemah.

Seorang dokter laki-laki berambut pirang keperakan ditemani suster berambut merah lembut masuk ke dalam.

"Kagamine Rin?" tanya sang dokter padaku. Aku mengangguk lemah.

"Boleh saya periksa? Kita ke kamar rontgen.." ajak sang suster lembut. Ia meraih tempat tidurku lalu mendorongnya keluar menuju kamar rontgen.

Kurasakan sedikit mual, kepalaku masih sakit.

Tuhan, lindungilah aku dan Len…

Len

Pagi harinya.. huahm..

Hari-hari yang sangat biasa.

Kuambil selembar foto dari kantong celanaku. Masih foto yang sama. Sebenarnya aku tidak ingin membayangkannya saat ini, karena setiap kali aku memikirkan wajahnya, aku pasti terbayang akan air mata yang membasahi pipinya yang mulus. Aku hanya tidak mau melihatnya menangis lagi, tapi apa yang bisa kulakukan sebagai manusia?

Sekilas kulihat dua orang sedang berjalan bersama Kiyoteru-sensei dari ruangan guru. Sepertinya aku bisa mengenali yang wanita, beliau adalah ibu Rin. Yang laki-laki pasti ayahnya. Maklumlah, sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka, tapi aku ingat wajah ibu Rin karena waktu itu ia yang menyambutku saat aku datang menjenguk ke rumahnya.

Sedang apa mereka?

Semakin lama mereka berjalan semakin jauh. Karena penasaran, aku memanggil Lin yang berdiri tak jauh dari pintu ruangan guru.

"Lin! Yang tadi itu kenapa?" tanyaku.

"Yang tadi? I.. itu.." Aku melihat wajah Lin memerah menahan tangis.

"Kenapa sih?"

"Itu.. Rin keluar dari sekolah, dia mau diterapi total. Dia kena TBC.." gadis itu mulai terisak.

Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Rin

Dua bulan beberapa minggu kemudian, pada sore hari..

Aku masih terbaring lemah, meskipun sudah menjalani terapi selama dua bulan lebih. Nafasku masih sesak. Sesekali aku masih batuk darah. Keadaanku masih belum bisa dibilang pulih seutuhnya.

Tok.. tok..

Suster membuka pintu dan menutupnya kembali, lalu berjalan mendekatiku sambil membawa amplop coklat. Ia membukanya dan memberikannya padaku.

"Ini hasil rontgennya yang terbaru," ucap suster itu.

Aku terpaku melihat hasil rontgen itu. Aku agak jijik melihatnya, namun memang itulah yang terjadi saat ini.

"Rin, kau.. tidak apa-apa kan?" kulihat kau mendobrak pintu kamar rumah sakit. Nafasmu terengah-engah, sepertinya kau baru saja berlari kencang.

"Kau tak apa-apa kan, Rin?" ulangmu.

Sejenak aku terdiam, sambil menahan sesak di dadaku. Suster meninggalkan ruangan ini, sehingga hanya ada kita berdua.

"Aku.." aku menatapmu dengan wajah sayu. Aku tak ingin berbohong, namun aku juga takut berkata jujur padamu. Aku takut menyusahkanmu.

"Rin, maafkan aku, aku.."

Kucoba meraih tanganmu yang terkulai di atas tempat tidurku, tepat di samping tanganku.

"Len, seharusnya aku yang minta maaf.." ucapku lirih.

"Untuk apa?"

"Aku selalu saja menyusahkan..mu.." nafasku kembali berat.

"Bodoh! Kaulah yang selama ini menyusahkan dirimu sendiri dengan pikiran-pikiran seperti itu! Berhentilah memikirkan hal-hal itu!" serumu.

"Len, aku tak mau membuatmu kesal lagi. Kau selalu seperti itu di depanku. Aku jadi takut, jadi aku.."

"Cukup, aku muak mendengar itu darimu," potongmu.

Tiba-tiba kau mendekatkan wajahmu ke arahku. Aku terkejut.

"Len.. jangan.. a.. aku.."

Perlahan kau menjauhkan wajahmu.

"Aku lupa. Nafasmu nanti sesak," ucapmu pelan. Kau memalingkan wajahmu dari tatapanku.

"Aku.. pulang saja deh," ucapmu lagi.

"Mau ke mana?" tanyaku. Bodoh, kamu kan bilang pulang, pasti pergi ke rumahmu, ya..

"Aku mau ke rumah Kiyoteru-sensei, mau belajar," kau mengecup dahiku perlahan. Aku terkejut lagi. Wajahku semakin memanas.

"Oh.." aku menggumam pelan. Kau beranjak pergi tanpa suara, tanpa salam perpisahan.

Aku masih tertegun.

"Nona Rin, Anda harus makan.." suster kembali datang sambil membawakanku bubur hangat.

"Tidak, terimakasih, aku tidak lapar.."

"Tapi Anda harus segera makan, Anda belum makan pagi kan?" tanyanya.

"Tapi saya tidak nafsu makan, suster.." gumamku lirih.

Suster itu menghela napas, lalu keluar dari kamarku. Tiba-tiba saja aku merasa kondisiku menurun drastis. Nafasku mulai terengah-engah, rasanya sesak. Seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin. Apa lagi yang sedang terjadi saat ini?

Aku tak bisa melihat apa-apa, yang bisa kudengar hanya sayup-sayup suara riuh rendah, dobrakan pintu kamar, dan aku merasa seperti ada yang menyetrum dadaku. Kurasakan detak jantungku perlahan melemah. Aku tidak bisa bernapas lagi.

Satu hal yang kudengar sebelum aku memejamkan mata untuk selamanya adalah sebuah jeritan panjang.

Len

Di acara pemakaman Rin, lusa harinya..

Aku menatap peti mati yang ada di hadapanku dengan mata basah. Aku berusaha agar aku tidak kehilangan kontrol atas keseimbangan kakiku yang menjejaki bumi. Rasanya ingin aku jatuh terkulai lemah karena kakiku yang limbung, bergetar hebat oleh kesedihan.

Jangan cengeng, Len, jangan cengeng!

Aku sudah terlalu capek menipu hatiku dengan berlagak jahat di hadapannya. Tenagaku sudah habis seluruhnya.

Dan aku baru bisa jujur saat wujud gadis itu hanya tinggal bayangan.

Betapa pengecutnya aku!

"Rin.."

Aku tak bisa menahan air mataku lagi. Aku mulai menangis di hadapan tubuhnya yang terbujur kaku. Tak kuhiraukan apa kata orang kalau melihat laki-laki sepertiku menangis, aku hanya ingin ia kembali, meskipun hanya untuk tersenyum sedetik saja.

Kuambil sapu tangan di saku celanaku, lalu kuusap perlahan mataku. Kudekati peti matinya untuk melihat wajah pucatnya lebih dekat.

Kudekatkan wajahku ke arah wajahnya, mengecup lembut bibir pucat dan dingin itu. Kurasakan sedikit kehangatan di hatiku yang rawan.

Wajah itu tak lagi memancarkan rona merah muda. Ya iyalah, wong orangnya sudah meninggal. Tapi dalam bayanganku, wajahnya begitu berseri-seri.

Kupandang buket mawar yang aku bawa. Bunga mawar itu aku petik dari kebun sekolah, mawar yang dulu ia tanam dengan sepenuh hatinya. Mawar yang ditanam dengan cinta..

"Rin, kurasa mawar ini akan lebih bahagia bila ia berada dekat dengan orang yang menanamnya dengan tulus.." lirihku.

Kupetik sekuntum mawar, lalu menaburkan kelopak-kelopaknya di peti mati itu, di sekujur tubuhnya. Rona merah kelopak mawar memang cocok untuknya.

Hujan masih turun membasahi kota ini sedari tadi. Hujan juga masih turun di dalam hatiku yang tercabik-cabik. Aku meraih payungku dan berpamitan pada keluarganya.

Setelah sampai di rumah, tanpa suara aku bersiap untuk tidur, namun mataku tak kunjung terpejam. Hujan yang masih menghembuskan udara dingin yang cocok untuk menidurkan orang pun tak mempan membuat mataku menurut.

Aku menghela napas panjang, merapatkan selimutku untuk yang kesekian kalinya.

Kucoba memejamkan mataku, sambil berdoa agar pagi nanti aku bisa melihat pelangi yang cantik melengkung di langit, pelangi yang seindah senyuman gadis itu, seindah mawar yang basah oleh embun pagi.

Hujan, sampaikanlah padanya, aku benar-benar mencintainya…


Yosh, owari~

Akhirnya siGre selesai seluruhnya, terimakasih bagi yang sudah membaca dari awal sampai akhir!

Selain kepada readers yang udah meluangkan waktunya membaca dan mereview dan bahkan me-like fic ini, aku juga mau ucapin terimakasih buat Mbah Gugel yang bersedia menjadi bahan referensi daku dalam menyelami penyakit TBC. Sumpah, berasa ilmiah banget kayaknya ini chapter, tapi aku cukup menikmati proses observasi kali ini. Ada banyak yang bisa dipelajari dari penyakit TBC, sehingga kita nggak ikutan terkena penyakit ini. Namun, masih ada harapan sembuh, meskipun harus dilakukan dengan usaha ekstra ketat dan keras.

Oh ya, aku mau ngejawab review yang dari Chapter 4 lalu..~

In-Chan Sakura: heheh, sorii.. Rin nya aku bikin meninggal~ *tapoked*

Eh ya, kita nyekik Len nya barengan yuk? XD (Len: APA? *lindas Author sarap pake penggulung jalan*)

DitaxWata: iyah, Len emang terlahir jahat~ (Len: mau kulindes lagi kau, Author sarap? *ngejar*)

Heheh, makasih banget buat ketelitiannya, Dita! Maklum, ngerjainnya sambil dengerin lagunya langsung, jadi kebawa perasaan deh.. O.O

Anyway, terimakasih pujiannyaaa..~ uwaahh.. aku jadi terharu nih kalau tahu banyak yang nangis gara-gara fic ini! (Rin: *kasih tisu yang banyak*)

Kurara animeluver: siiipp.. total semuanya neh ada 6 halaman Word! Aku pake huruf TNR dengan ukuran 12 pt dengan Styles and Formatting nyah pake Clear Formatting~ (Rin: dasar author sarap, belum tentu Kurara nya nanya.. =.=). Semoga chapter ini bisa memuaskan dikau~ XDD

Sori buat update nya yang luamaaaa… T^T

Amu 'Yui-Hirasawa' Hinamori: gehehe, itu karena Amu-chan yang minta duluan sumber cerita asli siGre tersebut, halah. Betewe semua udah pada nonton PVnya? Keren kaan? XDD

Eh, semoga puas deh dengan chapie yang ini~!

Sempat terpikir untuk membuat versi remake fic ini, dengan alur dan couple berbeda. Ada yang mau request? Silakan~ your wish is my command, after all~

Sekali lagi terimakasih ya..~