Chapter kemaren
Hinata mendengus kesal. Wajahnya kini merah padam. Rupanya kerjaannya yang iseng membawa petaka. Dan sekarang sampai entah-kapan-akhirnya Hinata akan terus diteror. Ia tidak bisa ganti nomor lagi karena Neji tidak mengizinkannya gonta-ganti nomor. Supaya Neji bisa menghubunginya dan gak repot. Gitu. Dan pertarungan Wakil dan Ketua ini lewat SMS akan dimulai.
3
2
1
GO!
Naruto © Masashi Kishimoto
'Wakil dan Ketua Kelas'
Chapter 4
By: Putri Hinata Uzumaki Mafioz
Warning: OOC Hinata, AU, TYPO, DON'T LIKE DON'T READ.
Mata Hinata memancarkan kepuasan saat menekan-nekan tombol di HP-nya. Dia sedang membalas SMS dari Naruto dengan lebih kejam lagi.
~Tauk ah! Itu kan aku cmn iseng'' aja! Awas lu besok Narjuki! Jangan sebar-sebarin nomor gue ke yg laen! Huuuh!
Ad lah kucing di sawah. Kucingnya tuh rajin tauk! Membantu manusia menanam padi hahahaha… gak kayak lu! Disuruh bawa buku aja gak mau. Huuu pemalas tingkat akut!~
Naruto yang sedang berbaring di kasur empuknya merasakan HP-nya bergetar. Lalu dilihatnya SMS dari Hinata. Sedikit tersenyum membaca rangkaian kata-kata keji yang ditulis Hinata untuknya melalui SMS yang diterimanya. Tidak disangka, seorang Hinata yang galak mau meladeni SMS yang tidak penting dari seorang dia. Seorang Naruto.
~ya ampun Hina-chan. Iseng kok di gerobak sampah? Awas! Bz Di santet loocch! Oke aku gx akan nyebar''in No u ke org laen
Kan tadi kamu blg Klo Q kucing sawah. Berarti q rajin dumz.. hehehe
Hinata merasakan HP-nya bergetar. Dan dilihatnya Naruto mengirimi dia SMS lagi. Hinata mendesah dan nampak berfikir. Kalau dia SMS'an dengan Naruto, otomatis gratisan SMS dia akan berkurang. Tapi karena hari ini HP-nya sepi, jadi gratisan itu akan mubazir. Juga tidak ada salahnya kalau dia SMS'an dengan rivalnya yang satu ini. Lalu jemari lentik itu memencet-mencet tombol HP dengan cepatnya .Dan dengan wajah yang tersenyum seperti itu, Hinata membalas SMS dari Naruto dengan hati gembira.
Ingat lah! Tanpa ia sadari.
~yah aku pas itu lgy gx ad kerjaan, jadinya iseng aj nulis di ntu gerobax. Huuu masa ada orang yang mau nyantet aku? Berarti aku kurang kerjaan loh.
Janji gx bakal nyebarin?
RALAT! Kau bukan kucing sawah. Tapi genderuwo sawah! Wakakakak
Naruto menekan tombol hijau di HP-nya saat layar menunjukan bahwa ada 1 SMS masuk. Dengan teliti ia membaca SMS dari Hinata. Ia tersenyum sendiri saat membaca bagian 'Janji gx bakal nyebarin?" .Saat ia membaca bagian akhir yaitu bagian 'Genderuwo sawah', ekspresi Naruto berubah takut. Ia melirik ke kanan dan ke kiri dengan wajah cemas.
Naruto takut genderuwo.
~ yaya aku janji gak bakal nyebarin. Hin, aku telpon kamu ya?~
Hinata baru akan membalas SMS berisi penolakan kepada Naruto untuk meneleponnya. Tapi tidak sempat. HP-nya bordering tanda ada panggilan masuk.
"Halo?" Hinata memulai berbicara
"Hey Hin…hehehe" Suara baritone Naruto terdengar dari HP Hinata.
"Ada apa? Kok nelepon?" Tanya Hinata. Tangannya menggaruk-garuk kepala Indigo itu. Karena gatal.
"Hemm gak papa. Kok tadi kamu pake bilang aku Genderuwo sih?" Naruto menepuk jidatnya. Selangkah lagi Hinata akan tahu rahasia tentang dirinya. Mati saja jika Hinata tahu kalau seorang berandalan seperti Naruto, TAKUT GENDERUWO.
"Kenapa? Memang mirip kok. Malahan bagusan genderuwonya daripada kamu!" Suara Hinata terdengar ceria di dalam HP Naruto. Tanpa Naruto sadari, sebuah senyuman manis melengkung di bibir indahnya. Entah kenapa rasa takut yang menderanya tadi hilang karena mendengar suara Hinata yang ceria. Senang rasanya. Naruto seperti ingin melompat ke taman buaya saking senangnya. Beda saat dia bercanda dengan Sakura. Tertawa sih tertawa, tapi Naruto tidak pernah merasakan seperti ini saat bersama Sakura. Hinata benar-benar ajaib. Lewat telepon saja, Hinata dapat membahagiakan Naruto dengan suaranya. Walaupun kesan pada kalimat itu adalah ejekan. Beda saat dia dengan Sakura. Naruto juga merasa nyaman saat berada didekat Sakura, tapi tidak pernah sekalipun Sakura membuat Naruto sesenang ini. Sifat Sakura terlalu kekanakan dan manja. Tapi entah keenapa Naruto menyatakan cinta pada gadis itu. Bodoh!
"Ah jangan gitu lah! Bayi aja tau kalo gua ganteng!" Balas Naruto disambut tawa cekikikan Hinata.
"Halah bilang aja loe takut genderuwo!" KLOP! Tembakan sempurna! Hinata, Kau bisa membuat Naruto terbengong dengan keringat dingin menetes di pelipisnya! Tepuk tangan buat Hinata.
"Enggak! E-enggak!" Naruto kalang kabut saking takutnya. Dalam fikirannya kini, kamarnya seolah kuburan angker yang terdapat banyak setan.
"Hehehe bener kan? Udah gak usah takut! Nanti aku yang ninju!" Hinata membela Naruto. Oops mengejek.
"Haah! Dasar gadis aneh!" Naruto mengalihkan topic pembicaraan. Atau tepatnya mengalihkan topic pembicaraan untuk menggoda Hinata.
"Narjuki!" Balas Hinata sengit
"Hina-chuan"
"Narjuki!"
"Hina-chuuuaaan! Luchuk duuweecch!"
"Apaan loe Autis Gila!"
Dan mereka berdua terus beradu mulut tiada Henti. Naruto senang sekali menggoda Hinata. Sedangkan wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus. Mati kutu karena digoda Naruto terus. Hanya jawaban "Huuh!" "A-aa…" "Buk-Buk…an!" yang bisa diucapkan Hinata dengan terbata-bata. Hingga pada akhirnya Tepat pukul 02.30 a.m Hinata mengeluh ngantuk. Dan Naruto menyuruh Hinata untuk segera tidur. Tak lupa ia mengatakan..
"Hin…met tidur aja. Jangan sampai kesiangan" yang hanya ditanggapi Hinata dengan kata "Hn yah…met malem".
.
.
.Hinata's POV
"Mati aku! Telat! Telat!" Pikiranku saat ini panik sekali. Bagaimana tidak? Gara-gara Naruto sialan itu, aku jadi telat kelewat setengah jam! Kalau tidak sekolah, aku bisa dimarah nih sama Tou-san. Terus aku berlari di sisi kiri jalan raya. Aku takut terlambat. Aku takut dicap sebagai Wakil Ketua Kelas yang tidak disiplin. Cukuplah Ketua Kelasnya saja yang pemalas akut. Tapi jangan sampai Wakilnya juga begitu. Aku terus berlari…lari…lari sampai akhirnya…
'GABRUUKK!'
Aku jatuh tersungkur. Kurasakan dengkul kakiku nyeri dan perih. Dengan tertatih-tatih aku tetap berjalan menuju sekolahku yang letaknya masih jauh. Akh! Aku menepuk jidatku.
"Hadeeh! Ngapa gua kagak naik bis?"
End of Hinata's Pov
Hinata terus merutuki dirinya yang bodoh sesaat. Kenapa dia capek-capek lari kalau dia bisa naik bis? Lagipula Tou-sannya Hinata sudah berkali-kali melarang Hinata untuk tidak diantar oleh supir jika dia akan pergi kesekolah. Hinata kau itu kenapa?
"Mas!" Hinata melambai kepada angkot berwarna merah yang melintasinya. Angkot itu pun berhenti. Hinata lalu naik dan mengambil tempat di ujung belakang. Untungnya angkot sepi
"Mau kemana neng?" Tanya sang kenek angkot. Lucu sekali. Sempat mengira bahwa sang kenek adalah lelaki tapi aslinya kenek angkot itu cewek yang sepertinya tomboy. Dengan pakaian lusuh seadanya. Rambut merahnya digelung dan sebuah topi lusuh menutupinya. Dan dia memakai kacamata. Tapi juga membuat Hinata agak sedikit takut.
"A-ano ke KHS" Jawab Hinata tergagap.
"Owh… dua rebu" Sang kenek menyodorkan telapak tangannya di depan wajah Hinata. Sungguh brutal.
"Ah I-iya" Hinata takut dengan kenek angkot. Dengan gemetar ia mengambil selembar uang 'dua rebu' di sakunya dan memberikannya pada kenek angkot. Sang kenek tersenyum lalu berjalan menunduk kearah supir. Menghindari kepalanya terbentur di atap angkot.
"Sui! KHS cepet oceh!" Kenek itu memerintah supir berambut abu-abu. Sang supir menyeringai. Menampakkan gigi-gigi tajamnya. "Sip"
.
.
.
Setelah beberapa lama, akhirnya sampai juga Hinata di depan pintu gerbang KHS. Hinata lalu turun dari angkot. Tapi saat ia membalikkan badan, Hinata melihat adegan yang 'wahh'
Sang kenek ingin memberi perintah pada sang supir untuk jalan lagi. Tapi tanpa disangka, sang supir malah mencium bibir sang kenek angkot dengan ganas. Dan lebih nekatnya lagi, sang supir menyetir angkotnya dengan keadaan berciuman seperti itu. Huuu STRUK
"Brutally Romantic. Eh?" Gumam Hinata dengan raut muka innocent. Setelah itu dia berlari menuju gerbang. Dan Hinata, kau celaka lagi. Gerbang telah ditutup dan dikunci.
Hinata merasa kacau. Dengan perjuangan keras ia pergi menuju kesekolah. Tapi berujung seperti ini. Air mata menetes pelan dipipi putih tersebut. Lalu Hinata berjongkok, menyandarkan punggungnya di tembok dan menangis.
Hinata gagal menjadi Wakil Ketua Kelas yang baik.
Ia gagal untuk disiplin.
Hinata semakin bersedih. Airmata jatuh tepat di luka di dengkul kakinya yang masih baru. Perih. Serta darah yang terus mengalir di dengkul kakinya. Tak terasa lama sekali Hinata menangis. Sampai sebuah tangan mengusap ujung kepala Hinata dengan lembut. Hinata mendongak. Didapati seorang laki-laki berambut kuning jabrik sedang tersenyum kearahnya. Laki-laki inilah yang membuatnya jadi seperti ini.
"Gua telat Nar" Hinata membuka suara. Naruto mengambil duduk di sebelah kanan Hinata.
"Sama…. Maafin gua yah?" Naruto menjawab dengan parau. Rasa amarah yang ingin Hinata lampiaskan kepada Naruto, reda saat mendengar suara Naruto yang…. Tercekat.
"Gak apa-apa" Hinata menjawab lemah.
Naruto bergerak dan membuka resleting tas punggungnya. Mengambil botol berisi air mineral dan sapu tangan. Lalu saputangan itu dibasahkan menggunakan air mineral itu. Lalu Naruto mengusapkan saputangan basah itu ke luka Hinata.
"Luka ini gara-gara gua ya?" Naruto bertanya sambil membersihkan darah pada luka Hinata.
"Bukan, gara-gara kesandung" Jawab Hinata terisak. Sesekalai ia mengaduh.
"Pelan pelan!" Keluh Hinata
"Iya"
Hinata memandang Naruto yang sedang membersihkan luka di dengkulnya itu. Memang karena laki-laki ini ia terluka,terlambat,dan menangis. Tapi Hinata tidak bisa marak kepada Naruto.
"Okeh selesai" Naruto menempelkan plaster Handsaplast pada luka Hinata. Luka Hinata cukup besar dan lebar. Sehingga Naruto menempelkan 2 buah plaster.
"Makasih ya." Hinata tersenyum tulus. Membuat Naruto Blushing.
"Umm A-ano. Kita kan udah terlanjur bolos nih. Jalan-jalan yuk!" Ajak Naruto kepada gadis indigo disampingnya. Semata-mata untuk memudarkan rona merah di wajahnya. Naruto berkeyakinan bahwa Hinata akan menolak ajakannya. Tapi malah…
"Hmm…okelah" Hinata menerima ajakan Naruto yang semata hanya untuk pelampiasan. Okey! Naruto, kamu juga senang kan?.
Lalu Naruto membantu Hinata berdiri dan membopongnya. Membantu berjalan.
.
.
.
Karena dua orang terpenting di kelas XII B tidak hadir dengan huruf 'A' pada papan absen siswa. Terpaksa tugas mengambil buku menjadi tanggung jawab sekretaris kelas pada hari itu. Sakura sedang berjalan di koridor dengan Shikamaru disampingnya. Nampaknya Shikamaru seperti orang yang berjalan sambil tidur. Dengan mata terpejam, ia mengangkat tumpukan buku 127 halaman setinggi hampir menutupi hidungnya.
Sementara Sakura juga mengangkat setumpukan buku. Ia ternyata sedang galau memikirkan kekasihnya, Naruto. Tumben sekali Naruto Alfa. Walaupun Naruto sering bolos pelajaran, tapi tidak pernah ada huruf A pada absennya. Aneh.
-TBC-
Wahaha! Padahal saya ngeti panjang. Tepaksa saya potong menjadi 2 chapt. Maaf ya.
Balesan review akan saya tulis di Chapt-chapt ganjil.
Hmmm tanggal 04 desember besok, saya ULTAH!
Jadi saya mau buat QUIZ buat para Reviewan dan Reviewati semuanya *?*
Mohon dijawab pertanyaan ini:
Ayo tebak! Netbook saya merknya apa? –merk saja–
Ayo tebak! HP saya merknya apa? – merk & type–
Memang pertanyaan yang gak mutu. Mohon dijawab di REVIEW ya. 2 orang pereview yang menjawab dengan benar, Saya akan memberikan kalian pulsa Rp.5000 untuk masing-masing pemenang. PeReview yang jawabannya benar semua, akan saya undi. Dan pemenang akan di umumkan di chap depan. Kalau namanya keluar…PM oke! Kuis ini berlaku sampai tanggal 9-12-2010.
Oiya… lagu lagu yang menginspirasi saya saat ini adalah…
Arashi – Hatenai Sora
Genie – Kuse Ni Naru Wa
Utada Hikaru – Goodbye Happiness
Guo Shu Yao – Honey
Sekai No Owari – Teshi To akuma
Pornografitti – Kimi wa 100%
Dijamin lagunya keren banget!.semoga para pembaca juga mau mendownload dan mendengarkannya.
ARIGATO
Tertanda
P.H.U.M
Rabu 01 Desember 2010
=Review=
=view=
=ew=
=3=
