Persona:

The Power of The Universe

Jembatan Moonlight, sebuah jembatan indah yang menghubungkan Iwaotodai city dengan Tatsumi Port Island, sebuah pulau kecil tenggara Iwaotodai city yang berkembang pesat berkat Kirijo Group. Kirijo Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan teknologi dan sains. Semenjak berpisah dari Nanjo group, Kirijo Group mampu berdiri dan berkembang menjadi salah satu perusahaan yang memegang peranan penting dalam kemajuan teknologi Jepang. Walaupun sempat dilanda krisis pada 1999 saat ilmuwan mereka mengalami kecelakaan dalam penelitian yang menyebabkan mereka kehilangan orang-orang terbaiknya. Kirijo mampu bangkit dibawah kepemimpinan Takeharu Kirijo, dan sekarang diteruskan anak perempuannya yang masih muda. Kabarnya, Kirijo muda sekarang sedang melanjutkan kuliahnya di Harvard University sambil memimpin perusuhaan dari sana.

Sekarang Souji Seta sedang berada di mobil hitam-putih, dengan diapit dua petugas polisi, melintasi Jembatan Moonlight. Walaupun pernah kesini saat Study Trip, Souji belum pernah melihat jembatan ini di malam hari. Rangkaian lampu di kabel-kabel besar yang menopang jembatan berwarna biru langit dipadu dengan lampu kuning yang menerangi jalan menciptakan pemandangan yang luar biasa. Tidak heran banyak model yang melakukan pemotretan disini, termasuk Rise. Dan Souji harus mengakui apa yang dikatakan Rise benar, bahwa jembatan ini memang benar-benar menakjubkan. Pemandangan luar biasa ini membuat Souji dapat melupakan sejenak masalah yang sedang menimpanya. Masalah besar yang membuatnya berada di mobil patroli polisi sekarang.

Mobil akhirnya sampai di ujung jembatan memasuki kawasan Port Island, dan sekarang menuju markas kepolisian Iwaotodai yang baru. Tidak sampai sepuluh menit memasuki kawasan Port Island, Souji melihat gedung besar berwarna putih yang tak lain adalah tujuan sebenarnya datang ketempat ini. Ya, yang sedang dilihat souji adalah Gekkoukan High. Sekolah Swasta populer yang didirikan Kirijo Group sekitar 10 tahun yang lalu. Melihat bangunan sekolah ini membuat pikiran Souji kembali diliputi masalah yang menderanya, maka ia menunduk melihat lututnya agar tidak melihat bangunan itu. Namun terlambat, segala kecemasan dan pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya lebih cepat dari reaksi Chie mendengar kata 'Steak'. Ia merasa tak akan bisa lolos dari penjara, kehilangan teman-temannya, kehilangan masa depannya.

Tidak-tidak! Aku akan benar-benar dipenjara bila terus pesimis begini! Yang harus aku lakukan adalah membuktikan kalau aku tidak bersalah. Dan aku akan menemukan bagaimana caranya. Batin Souji.

Tanpa terasa, mobil akhirnya sampai di markas kepolisian iwaotodai. Setelah mobil diparkirkan di belakang gedung, Souji diminta untuk keluar oleh salah satu petugas polisi. Kedua petugas tersebut menggiringnya masuk kedalam gedung, berjalan menuju ruangan interogasi. Sesampainya disana, Souji dibiarkan menunggu sendirian dengan hanya diberikan segelas air putih dan diperintahkan untuk menunggu orang yang akan menginterogasinya. Ia melihat sekeliling, disana hanya ada sebuah meja dan sepasang kursi. Dibelakang kursi yang didudukinya, hanya ada cermin dua arah yang berhubungan dengan ruangan disebelahnya. Keheningan terasa sangat lama, hanya dipecahkan suara detik jam yang seolah diperbesar beberapa kali. Ia meminum segelas air yang ada dihadapannya dan melihat jam yang menunjukan pukul 3 pagi, waktu sudah lewat dua jam setelah ia masuk ruangan tadi. Akhirnya ia berpikir mungkin orang yang akan menginterogasinya baru akan datang pagi nanti dan memutuskan untuk tidur sejenak.

Souji dibangunkan oleh suara pintu ruangan interogasi yang tiba-tiba membuka. Ia melihat jam, sudah pukul 9. Segera ia mengucek matanya, berharap segera terjaga. Ia melihat orang yang masuk tadi, lelaki paruh baya dengan rambut hitam pendek bermata tajam. Postur tubuhnya tegap walau tidak terlalu tinggi, hanya beberapa senti dibawah Souji. Dan menurut tanda pengenal di dada kirinya lelaki itu bernama Akira Moriyama, detektif dari bagian kejahatan kekerasan dan pembunuhan. Detektif Moriyama membawa berkas-berkas ditangannya dan dibacanya begitu duduk dikursi yang ada dihadapan Souji tanpa sekalipun melirik kearahnya. Souji hanya bisa diam menunggu sembari berusaha tetap tenang. Bulir-bulir keringat bermunculan didahinya dan mengalir turun ke pipi. Setelah beberapa menit, orang didepannya berdeham dan akhirnya memandang dirinya.

"Namamu Souji Seta benar?" Tanya Detektif Moriyama, memulai interogasi.

"Ya." Jawab Souji, berusaha tetap tenang.

"Kau terdaftar di Yasogami High di Inaba, benar begitu?"

"Ya."

"Dan tujuanmu datang kemari untuk meneruskan sekolah disini?"

"Kurasa ya." Jawab Souji singkat. Walaupun tidak terbayangkan dia akan bisa sekolah lagi mengingat situasi yang sedang di hadapinya.

Moriyama berhenti bertanya dan memandang Souji dalam-dalam, seolah ingin melihat menembus dirinya.

"Apakah kau membunuh Hiroko Takahashi didalam kereta pada jam 12 malam?"

"Tidak."

Moriyama menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau membunuhnya?"

"Kubilang aku tidak membunuhnya! Bahkan aku tidak mengenalnya, juga tidak pernah bertemu sebelumnya!" Souji mulai kehilangan ketenangannya.

"Tapi sayangnya seluruh bukti yang kami temukan berkata sebaliknya." Moriyama tersenyum kecil. "Dalam Pedang yang berlumuran darah korban hanya ditemukan satu sidik jari, sidik jarimu. Bahkan saksi mata mengatakan ia melihatmu memegang pedang tersebut di samping mayat korban. Selain itu didalam gerbong tersebut tidak ditemukan orang lain. Jadi kutanya sekali lagi, apa motifmu?"

"SUDAH KUBILANG BUKAN AKU PEL-"

"Tunggu!" Terdengar suara lain dari arah pintu. Souji menoleh dan melihat remaja bertopi biru yang sudah amat dikenalnya.

"N-Naoto, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Souji keheranan, apa berita dirinya sudah menyebar di media? Tapi Souji mengingatkan dirinya sendiri bahwa Naoto adalah detektif yang pastinya punya jaringan informasi dalam tubuh kepolisian.

"Anda tidak berhak menginterogasinya sekarang detektif Moriyama." Dengan suara berat khasnya, tanpa menjawab pertanyaan Souji tadi. "Anda tidak berhak melakukan interogasi sampai keluar surat penangkapan dari pengadilan setelah memberikan bukti-bukti yang kuat. Oleh karena itu, status Souji Seta saat ini masih sebagai saksi penting. Yang berarti ia berhak menolak interogasi"

"Hmph.. dan apa urusanmu disini?" Tanya detektif Moriyama.

"Saya datang sebagai keluarga dari saksi. Kurasa dalam tahap ini tersangka masih diizinkan untuk bertemu pihak keluarga."

"Apa kamu benar-benar keluarganya?"

"Apa perlu saya buktikan?" balas Naoto kalem.

"Baik-baik, kuberi kalian waktu 15 menit." Moriyama berjalan ke pintu. "Tapi kurasa tidak perlu kuingatkan lagi posisimu dalam kasus ini, 'Detektif Prince'."

Naoto segera menutup pintu setelah Moriyama meninggalkan ruangan dan berbalik memandang Souji dengan tatapan cemas.

"Astaga apa yang terjadi? Kenalanku yang bekerja disini bilang kau dituduh melakukan pembunuhan. Kau tidak benar-benar membunuh kan?" Ujar Naoto dengan cepat, 'kembali' ke suara perempuannya.

"Tentu saja tidak." Jawab Souji. "Shadow yang melakukannya."

"Shadow? Tapi mayat ditemukan disalah satu gerbong kereta dalam keadaan terpenggal. Normalnya korban dari shadow tergantung di tempat tinggi dengan penyebab kematian yang tidak jelas. Kecuali kalau senpai mau bilang ada shadow yang muncul di dunia nyata."

"Tapi memang itu yang terjadi. Shadow muncul di dunia nyata, dunia kita." Lalu Souji menceritakan kejadian di kereta dan pertarungannya dengan shadow.

"Kau pasti bercanda." Naoto tidak percaya

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" balas Souji sedikit kesal. "Aku perlu bicara dengan Teddie atau Rise soal ini. Apa mereka kemari bersamamu?"

"Tidak." Naoto mengelengkan kepala. "Kurasa mereka belum tahu saat ini. Tapi aku meragukan mereka tidak segera tahu."

"Kau benar, mereka akan tahu." Souji Setuju, sulit rasanya menyembunyikan sesuatu di jaman media informasi yang serba canggih ini.

"Apakah senpai yakin itu shadow?" Naoto bertanya pelan. "Bagiku masih tetap aneh."

"Ya, aku yakin yang kulihat itu shadow. Tapi..." Souji terdiam, berusaha mengingat sesuatu.

"Tapi apa?" Pancing Naoto

Souji berjalan mondar-mandir keliling ruangan sambil mengerutkan dahinya dan bergumam sendiri. Ia memandang lampu yang menerangi ruangan dan tiba-tiba teringat.

"Apa kau pernah melihat bulan purnama berwarna hijau belakangan ini?" Tanya Souji.

"Tidak pernah seumur hidupku kurasa." Jawab Naoto heran.

"Tapi aku melihatnya tadi malam. Bulan berubah menjadi hijau, kereta tiba-tiba mati begitu juga dengan seluruh penerangan di kota. Dan udara saat itu benar-benar berat."

"Maksudnya, senpai merasa seolah-olah berada di dunia lain saat itu?" Naoto terlihat sedang berpikir.

"Yah, seperti itu rasanya."

"Mungkin itu salah satu dunia shadow selain TV world dan itu dapat menjelaskan munculnya shadow. Jujur saja, menurutku satu tahun kita melawan shadow tidak benar-benar membuat kita memahami segalanya tentang mereka." Naoto mengambil kesimpulan.

"Jadi, apa yang sebaiknya kulakukan? Menceritakan yang sebenarnya pada para polisi itu?"

"Tidak! jangan ceritakan itu." Jawab Naoto tegas. "Mereka hanya akan mengira senpai mencari-cari alasan atau berhalusinasi akibat pengaruh narkoba. Bahkan paman Dojima yang mengenal senpai saja tidak percaya."

" Kau benar." Teringat terakhir kali ia di interogasi polisi yang tidak lain adalah pamannya sendiri. "Jadi, apa yang harus aku lakukan? Menunggu surat penangkapan itu keluar?"

"Yah, aku berpikir itulah yang terbaik saat ini." Ujar Naoto hati-hati.

Souji memandangnya, tidak percaya teman di hadapannya mengatakan yang terbaik saat ini adalah dirinya ditahan dipenjara.

"Maksudku, saat surat penangkapan itu keluar dan senpai ditetapkan sebagai tersangka. Kita bisa membuktikan senpai tidak bersalah lewat pengadilan, yang bisa dibilang lebih adil dalam mengambil keputusan. Karena tidak ada gunanya bila kita melawan disini. Seperti detektif Moriyama tadi yang tidak mendengarkan pembelaanmu."

Souji berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk setuju. Naoto tersenyum melihatnya.

"Sekarang sebaiknya senpai tidak berbicara soal kasus ini sampai mendapat pengacara. Dan ngomong-ngomong soal pengacara, keluarga kami punya beberapa kenalan pengacara yang cukup handal dalam menangani kasus seperti ini. Aku harap salah satu dari mereka mau menjadi pengacaramu." Selesai berkata begitu, Naoto melihat jam tangannya. "Sudah hampir 15 menit, sebaiknya aku pulang sekarang."

Tiba-tiba Souji teringat sesuatu. "Naoto, kau detektif! Kurasa bila kau ikut ambil bagian dalam kasus ini, aku bisa bebas bahkan tidak perlu menghadapi pengadilan!"

Naoto memandangnya dengan tatapan bersalah. Sesaat ia terlihat ragu, dan akhirnya bicara. "Sayangnya nama Shirogane tidak cukup baik di mata kepolisian Iwaotodai semenjak kakekku menangani kasus disini sekitar 13 tahun yang lalu. Lagipula, fakta bahwa kita adalah teman dekat membuat kredibilitas hipotesisku akan diragukan di pengadilan nanti." Ia berhenti sejenak. "Tapi aku dan teman-teman di Inaba akan selalu membantumu, tidak peduli bagaimana caranya"

Usai mengucapkan salam, Naoto segera keluar dari ruangan itu. Tidak lama kemudian detektif Moriyama masuk dan mengatakan bahwa sampai surat penangkapan dari pengadilan keluar, ia akan tidur di sel tahanan sementara. Souji kemudian digiring ke sel tahanan sementara oleh petugas polisi yang terlihat masih muda. Souji mengira umurnya hanya berbeda beberapa tahun darinya, namun Souji sedikit lebih tinggi. Warna rambutnya pun hampir sama, hanya saja potongan rambut petugas itu lebih pendek. Souji berpikir teman-temannya pasti akan mengira mereka adik-kakak.

Sesampainya di ruang tahanan, Souji langsung menjatuhkan diri ke kasur yang ada disana. Walaupun kasur itu kumal dan berbau apak, namun itu tidak menyurutkan rasa kantuk yang tiba-tiba melandanya. Perlahan-lahan ia menurunkan kelopak matanya hingga tertutup sepenuhnya. Dan Souji pun mulai memasuki alam tidurnya yang damai, melupakan masalah yang akan dihadapinya besok.

ahahahaha, lama tenan aku update. Maklum authornya g bakat nulis. Thx bwt Hamuci, AkiraRaymundo, ngeeeng-sama, heylalaa, Sakakura Ryusuke, dan meshi-chan karena telah sudi telah meng review fic ini.

Meshi-chan: shadow yang mirip yoshitsune? Wah yoshitsune aja belum liat saya. Pokoknya tuh shadow samurai yang ada di monad ajaa..

Well, itu aja deh kata-kata dari saya..

Moga2 aja chap berikutnya tak selama yang ini..