Jreng-jreng-jreng-jreng! Chapter 2 tiba! \(^o^)/ Kenapa lama? Salahkan sekolah yang ga pernah bosan menyelenggarakan pesta(?) ulangan.

Dan ternyata banyak juga yang sudah memberi review. Makasih buat: YoshimiRei, ciocarlie, Hyuuzu, LuiseMeyrink, hibalicious, bhiblu21 dan Rakafuku. Jawaban pertanyaan kalian semua silakan dapatkan di chapter ini…. mungkin (/w)/ #tonfa'd #trident'd

Disclaimer: KHR belongs to Amano Akira.

.

WARNING: 6918, 6927 and D18


.

ChocolateFactory special presents

b i t t e r s w e e t

-part two-

.


Sang skylark Vongola duduk di sofa sambil menekuk kedua kakinya di depan dada. Menatap hampa layar televisi yang menyala. Berusaha menulikan telinga dari segala aktifitas di sekitarnya. Kedua tangannya mencengkram sofa begitu erat. Hingga tangannya memutih dan uratnya tampak. Tubuhnya bergetar pelan.

Ia ingin menangis.

"Hibari-san, kami sudah selesai mengambil semua barang Rokudou-san. Terima kasih," ujar lelaki yang bertanggung jawab sebagai agen pindah rumah Mukuro. Ia menunduk dalam sebelum meninggalkan ruangan dan menutup pintu.

Hibari tak menyahut. Karena ia tahu, kata pertama yang akan meluncur dari bibirnya akan menjelma jadi isak tangis. Dan ia bukan herbivora lemah yang cengeng. Tak ada alasan baginya untuk menangis. Tak ada.

Meski hatinya sakit tak terperi. Bayang-bayang kemesraan Mukuro dan Tsunayoshi masih melekat dengan jelas di tiap inci sel otaknya. Walau bagaimanapun ia mencoba menghapusnya, citra itu tak pernah pudar. Seolah terukir abadi dalam otaknya. Dan di tiap detik, lukanya menganga semakin dalam. Membuat nafasnya tercekat setiap kali dia mengingatnya.

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Tidak. Ia tidak akan menangis demi herbivora lemah selevel nanas seperti Mukuro. Memang sejak awal hubungan yang ia rajut dengan Mukuro tidak berlandas kepastian. Mereka tak pernah mengukir perjanjian sehidup semati bernama pernikahan.

Dan ia pikir tak perlu ada kata-kata yang mengikat kontrak rasa di antara mereka. Masihkah perlu kata jika Mukuro mengerti dengan baik perasaannya?

Hanya saja segalanya hancur menjadi ribuan keping. Ia tak pernah menyangka lelaki yang tak pernah berhenti membisikkan cinta padanya akan berdiri memunggunginya; meninggalkannya dalam keterpurukan. Dan berhenti mencintainya. Hingga ia harus menelan isak tangis yang membuat dadanya terasa sesak.

Salahkah ia tak pernah bersikap jujur? Salahkah kalau dia tidak pernah dengan lantang berkata, bahwa dia mencintai Mukuro melebihi segalanya?

Pemuda itu membenamkan wajahnya sambil memeluk lututnya begitu erat. Dadanya sesak. Seberapa keras ia berusaha memvonis bahwa ia tak apa-apa, jauh di dalam sana ia terluka. Ia merasa sakit meski tubuhnya baik-baik saja. Ia seorang diri. Rapuh. Dan hatinya telah teekoyak.

.

"Kyouya," panggil seseorang dengan lirih dari balik punggungnya.

Mantan ketua komite kedisiplinan Namimori itu tersentak. Kepalanya segera terangkat dan berputar ke belakang. Satu nama tertulis dalam benaknya. Bolehkah ia berharap pemuda itu kembali ke sisinya?

Tapi ternyata harapan tinggal jadi harapan. "H-Haneuma...!"

Dino Cavallone tersenyum kikuk. "Hai, Kyouya."

"Siapa yang mempersilakanmu masuk?" tanya Hibari ketus. Alisnya bertaut; kesal.

"Aku sudah mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Dan karena pintunya tidak terkunci, aku masuk," jelas lelaki berambut pirang itu. Peluh menghiasi sisi wajahnya. Ia menggaruk pipinya ragu. Pasrah menghadapi kemungkinan terburuk andai saja pemuda di hadapannya akan tiba-tiba menyerangnya.

Sesaat, Hibari terlihat seperti hendak marah. Hanya saja detik kemudian, ia terkulai lemas di sofa. Pandangannya hampa, layaknya tubuh yang kehilangan jiwa. "Pulanglah, Haneuma."

Hari ini, ia sama sekali tak mau menemui siapapun bahkan bawahan kepercayaannya, Kusakabe. Padahal sudah dengan sengaja ia tidak berangkat ke Vongola HQ seperti biasa. Ia butuh waktu untuk terbiasa dengan kesendirian ganjil ini. Ia terbiasa dengan eksistensi sang ilusionis di sisinya. Dan dia tidak terbiasa sendirian di tempat yang kini terasa asing baginya.

Don Cavallone itu mendekat, ikut duduk di sofa. Ekspresi cemas terpeta jelas di wajahnya yang tampan. "Kyouya, ada apa?"

"Pulang, Cavallone. Aku tak perlu mengusirmu, kan?" tandas cloud guardian.

Lelaki berdarah Italia itu tak bergerak. Ia mengedarkan pandangan, merasa ada yang sesuatu yang aneh. "Apa ada sesuatu yang terjadi antara dirimu dan Muku-"

"Jangan sebut nama itu!" Hibari mengintrupsi, suaranya bergetar.

"Kyouya?" Kekhawatiran terlukis di wajah Dino. Tadi pagi, ia pergi ke Vongola HQ dan mendapati kenyataan yang mengejutkan. Mukuro datang sambil bergandengan tangan dengan Tsunayoshi. Tentu saja peristiwa itu serta merta membuat seisi markas gempar. Bukankah Rokudou Mukuro seharusnya bersama Hibari Kyouya?

Dino menggeser duduknya. "Ada apa denganmu dan Mukuro?" Ia mengangkat sebelah tangannya, hendak mengelus bahu kecil cloud guardian yang bergetar.

"Jangan sentuh aku dan jangan ucapkan nama itu," respon Hibari sinis. Dia yakin tidak akan bisa lagi menahan isak tangisnya jika sekali lagi mendengar nama itu terucap.

"Ah, maaf." Lelaki berambut pirang itu menurunkan tangannya. Menatap sosok frustasi Hibari yang baru pertama kali ini ia lihat. Ia menelan ludah; menahan hasratnya untuk memeluk tubuh kecil itu.

Rambut hitam Hibari jatuh menutupi sebagian matanya saat ia menunduk semakin dalam di antara kedua kakinya. "Mau apa kau, Haneuma?"

"Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi, aku yakin ada sesuatu di antara kalian berdua. Dan aku di sini hanya untuk memastikan kau baik-baik saja," jawab Dino lembut.

Keheningan menyambut dalam ruangan sepi. Yang terdengar hanyalah detak jam dinding yang seirama dengan desah nafas. Kesunyian yang menyesakakan. Kepingan puzzle yang jatuh berserakan itu hancur jadi ratusan fragmen yang mustahil disatukan lagi. Mencetak dengan jelas rasa sakit yang tak lagi tertahan, membuat detak berpacu dalam perih yang menusuk setiap bagian tubuh.

Mantan prefek Namimori-chuu memeluk dirinya semakin erat. Dadanya sakit. Ia merindukan kehangatan Mukuro di sekeliling dirinya. Ia menginginkan rasa damai yang selalu diberikan sang ilusionis. Pemuda itu menggeleng lemah. "Aku b-baik-baik saja…."

Pengingkaran yang ia berikan meruntuhkan pertahanaannya sendiri. Kebohongan yang ia ciptakan tak sanggup menutupi luka hatinya. Dan air matanya meleleh tanpa bisa ia kendalikan. Hibari Kyouya menangis dalam diam.

"K-kenapa...?" tanya Hibari tak mengerti. Air mata hanyalah milik herbivora. Dan dia bukan herbivora, lantas kenapa saat ini ia menangis?

Dino menarik pemuda beriris kelabu itu dalam pelukannya. Menyenderkan kepala pemuda itu di dadanya. Mengelus helaian rambut hitam sang skylark. Mendekap tubuh pemuda yang usianya terpaut jauh dengannya.

Belum ada tiga detik berlalu, pemuda berdarah Jepang itu meronta. "L-lepaskan aku!"

"Ssshh... menangislah, Kyouya," bisik Dino lembut. Sebelah tangannya bergerak membelai punggung lelaki yang lebih muda. "Menangislah dan kau akan merasa lebih baik. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku akan ada di sini."

Hibari tidak menyukai kedekatan yang tercipta di antara dirinya dan Dino. Ia tak bisa menerima perlakuan lembut selain dari sang ilusionis. Hanya saja perlindungan yang diberikan sang Don Cavallone membuatnya tak bisa mengontrol diri. Rasa hangat. Rasa aman. Rasa tentram. Segalanya membangkitkan kerinduan yang terbayang dalam jiwanya. Kemudian, ia mulai terisak pelan di pelukan Dino Cavallone.

.

Sang pemuda mengerjapkan matanya berulang kali; berusaha membiasakan matanya dengan cahaya dari jendela yang terbuka. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang; meregangkan tubuhnya. Iris matanya menatap berkeliling, keningnya berlipat. Sejak kapan ia ada dalam kamar?

Aroma roti bakar menarik kesadarannya secara utuh. Kakinya melangkah perlahan meninggalkan kamar. Menuju dapur.

Sesosok lelaki berdiri di depan meja dapur. Rambutnya diikat ke belakang dengan rapi. Apron hitam menutupi tubuhnya, lengan kemejanya dilipat sebatas siku. Pisau berlapis coklat tergenggam di salah satu tangannya. Iris matanya terpaku menatap pemanggang roti.

Hibari mendekat perlahan. Setengah tak percaya pada pemandangan yang terhampar di hadapannya. Dia... "M-Mukuro..."

Kepala yang sejak tadi tertunduk itu terangkat. Senyum lembut tersungging di bibirnya. "Kau sudah bangun, Kyouya."

Suara itu... bukan milik Mukuro. Sang skylark menggelengkan kepala pelan. Dalam sekejap, citra sang ilusionis pecah. Sosok itu lebih tinggi. Rambutnya lebih terang –pirang tepatnya. Dan senyum di wajah itu bukan senyum jahil dan mesum.

"Ha-Haneuma..." Suara Hibari serak.

"Duduklah. Aku sedang buat sarapan." Dino Cavallone menggaruk pipinya. "Maaf, tadi aku memecahkan piringmu."

Dalam sekejap, ingatan tentang kemarin berkelebat cepat dalam benak Hibari. Air mata, isak tangis, pelukan, kehangatan, penghiburan, rasa aman, belaian dan cerita. Semalam ia sudah menunjukkan kelemahan di hadapan herbivora selain Mukuro. Dan ia tidak suka hal itu.

Tonfa metal cloud guardian segera berada di urat nadi sang tutor. Iris mata Hibari nyalang. Ia mendesis penuh ancaman, "Aku akan membunuhmu jika kejadian tadi malam menyebar, Haneuma."

Dino berkeringat dingin. Ia mundur selangkah. Sambil tertawa ganjil ia merespon, "A-aku akan merahasiakannya, Kyouya. Aku kan sudah mengatakannya padamu."

Semenit berlalu sebelum Hibari menurunkan senjatanya. Tak habis pikir kenapa kemarin ia bersikap begitu tidak karnivora. Mencoreng predikat predator Namimori di pundaknya. Ia menyimpan tonfanya sebelum berbalik.

Sang bucking horse menghela nafas lega telah lolos dari ancaman maut. Manik matanya terpaku pada punggung Hibari. Ada kesedihan terbayang di sana. Rasanya bukan tindakan ksatria jika ia mendekati Hibari yang sedang terluka karena Mukuro. Tapi dia ingin sekali memeluk permuda di hadapannya seperti yang ia lakukan semalam. Apakah keadaan ini berarti kesempatan baginya untuk mendapatkan hati sang murid? Ataukah tindakannya hanya akan semakin melukai pemuda itu?

.

"Hanya itu, Herbivora?" tanya Hibari kaku.

Don Vongola muda itu mengangguk. "Ya, Hibari-san. Tapi, misi kali ini lebih berbahaya. Kau butuh bantuan? Aku bisa menyertakan Yamamoto atau Mukuro bersamamu."

Selama sepersekian detik, Hibari terdiam. Nama Mukuro masih menyebabkan dadanya nyeri. Hanya saja, catat ini baik-baik. Ia bukan herbivora lemah. "Tak perlu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri." Pemuda Jepang itu bangkit dari kursi berlengan tepat ketika pintu terbuka.

"Tsunyoshi-kun~" Jeda sejenak. "Ups, kau sedang ada tamu ternyata."

"M-Mukuro-san..." Tsunayoshi segera berdiri. Tangannya mengepal erta dan berkeringat dingin.

Manik mata sang skylark dan sang ilusionis bertemu selama beberapa saat. Saling menatap. Saling menyelidik. Saling melumat. Kelabu bertemu merah dan biru. Membangkitkan rasa rindu yang segera pupus saat keduanya berpaling.

Mukuro berjalan mendekati Tsunayoshi. Bibirnya melengkung sempurna membentuk senyuman. "Tsunayoshi-kun, kita kencan sepulang ini bagaimana?"

"M-Mukuro-san!" Vongola Decimo itu menatap ngeri sosok Hibari. Ia tak enak hati jika Mukuro bersikap manja padanya di hadapan Hibari. Biar bagaimanapun, Mukuro adalah mantan kekasih sang cloud guardian. Ah, apakah benar mantan kekasih? Bahkan tidak pernah ada kalimat penjelas yang menyatakan hubungan mereka berakhir.

Sang ilusionis mengabaikan kekhawatiran yang terlukis di wajah pemuda beriris karamel. Ia justru memeluk tubuh yang lebih kecil sebelum bergelayut manja. "Bagaimana, Tsunayoshi-kun?"

"M-Mu-Mukuro-san!" Rona kemerahan menghiasi wajah pemuda itu. "Ada H-"

"Aku pergi. Tiga hari lagi akan aku berikan laporannya padamu, Herbivora," sela Hibari tegas. Ia muak. Dadanya sesak. Tidak akan bisa lagi melihat pemandangan yang tersaji di depannya.

Dan sosok mist guardian yang memeluk Tsunayoshi semakin erat adalah pemandangan terakhir yang terpatri di kedua bola matanya sebelum pintu tertutup rapat. Memecahkan keping hatinya menjadi remukan kecil yang tak lagi menyatu.

.

Di batas khatulistiwa, matahari kemerahan menarik kelambu malam. Membiaskan cahaya keemasan di awan putih yang bergumul. Membelah langit biru keunguan dengan kuas jingga. Mengukir cakrawala yang bergelayut di langit. Senja telah datang.

Hibrid terbang berkeliling dalam ruangan beralas tatami sebelum berhenti di pangkuan pemuda berambut kelabu. Yukata biru tua membalut tubuhnya. Menutupi kulitnya yang seputih susu. Pandangannya menerawang jauh melewati batas horizon. Ada duka tak terlukiskan di iris matanya. Ada perih yang tergambar dengan jelas di wajahnya, tak tertutupi oleh ekspresinya yang datar.

Tangannya bergerak mengelus bulu halus Hibird. Sudah lama rasanya tidak setenang ini. Sudah lama juga ia tak kembali ke rumahnya. Sejak menjalin hubungan dengan Mukuro, ia tinggal di apartemen dekat Vongola HQ. Dan kembali ke apartemen itu hanya akan memperbesar luka hatinya yang kini menganga lebar.

Setiap sudut dipenuhi aroma teratai khas sang ilusionis. Setiap inci mengingatkan akan eksistensi pemuda berdarah Italia. Semakin lama berada di sana, semakin kuat ingatannya akan saat-saat bersama Rokudou Mukuro. Semakin sadar ia bahwa seperti apapun dia mencoba menyangkalnya, dia mencintainya. Mencintai Rokudou Mukuro

Bagaimana pemuda itu tersenyum menatapnya. Bagaimana model rambut nanas itu selalu membuatnya tertawa. Bagaimana jemari ramping membelai pipinya. Bagaimana bisikan manja mencapai indera pendengarannya. Bagaimana kehangatan terbentuk saat sang ilusionis merangkulnya.

Semua itu membuatnya sakit. Semua itu membuatnya sesak.

.

.

"Kyouya-chan~," bisik mist guardian ketika tangannya menarik tubuh pemuda yang lebih kecil dalam pelukannya. Ia membenamkan kepalanya di lekukan leher Hibari.

Hibari berdecak kesal. "Lepaskan aku, Herbivora." Hanya saja, ia tak berusaha melawan pelukan itu. Dia senang dengan keberadaan pria pengganggu itu di dekatnya.

Sang ilusionis tertawa pelan. Ia mempererat pelukannya. "Ti amo, Kyouya."

Tak ada kata terangkai dari bibir sang skylark. Ia memutar tubuhnya; menghadap pemuda berdarah Italia. Wajahnya dihiasi senyuman. Seyuman yang seolah berkata: 'Aku tahu'.

Keduanya bertatapan. Iris kelabu memandang iris dwiwarna dengan lekat. Kemudian, mereka saling mendekat. Merapatkan jarak di antara mereka hingga bibir mereka bertemu dalam kecupan lembut.

"Kyouya, mau tinggal dengaku?" tanya Mukuro pelan saat mengurai ciumannya.

Kepala sang cluod guardian terangguk pelan, mengiyakan ajakan sang ilusionis. Yang segera saja disambut dengan ciuman hangat lain dari pemuda berambut panjang. Dan keduanya terlena dalam kebersamaan.

Kebersamaan semu. Karena sisi puzzle yang berbeda itu sekarang tidak bisa menyatu.

.

.

Tok Tok.

Ketukan itu mengembalikan dirinya ke masa ini. Namun, ia yakin kali ini bukan Rokudou Mukuro yang bertandang ke rumahnya. Pemuda berdarah Italia itu sudah berhenti mencintainya.

Detik kemudian, pintu bergeser terbuka. Dan sosok Dino Cavallone berdiri.

"Hai, Kyouya," sapa Dino.

Hibari tak bergerak sama sekali. "Mau apa kau?"

Yang ditanya justru melangkah mendekat dan mengambil tempat di samping Hibari. Wajahnya seketika menjadi serius. "Kau baik-baik saja, Kyouya?"

"Berhenti memperlakukanku seperti herbivora lemah," jawab mantan prefek Namimori segera.

Bucking horse itu menarik Hibari ke pelukannya. Menyenderkan kepala pemuda itu di dadanya. "Aku tahu kau terluka dan mungkin waktunya salah. Hanya saja, aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu, Kyouya. Dan itu berarti aku akan melakukan apa saja untuk meringankan perasaanmu."

Mata Hibari mengerjap tak percaya. Baru saja Dino menyatakan perasaan padanya. Yang benar saja!

Tidak! Ia tak bisa mencintai Dino. Ia sudah punya... siapa yang ia miliki? Mukuro? Bukankah ia sendirian sekarang? Mukuro meninggalkannya dan menjalin hubungan dengan Tsunayoshi. Berarti tak masalah baginya untuk menerima perasaan Dino 'kan?

Seharusnya begitu. Hanya saja, ia tak punya perasaan apapun pada Dino. Dia tidak mencintainya, bahkan menyukainya pun tidak.

"Kau tak harus menjawabnya, Kyouya. Aku hanya ingin mengatakannya, dan aku hanya mohon kau bisa mencoba mencintaiku."

Tiba-tiba saja, bayangan Mukuro dan Tsunayoshi terbayang dengan jelas di pelupuk matanya. Saat Mukuro memanggil Tsuna sambil tersenyum, saat Mukuro bergelayut manja pada Tsuna, saat-

Muak. Satu kata itu yang terlintas di benak Hibari. Ia tertawa sinis saat mengangkat wajahnya. Menatap Dino tepat di kedua manik matanya. "Kau mencintaiku, huh?"

"Ya. Aku mencintaimu, Kyouya," jawab Dino sungguh-sungguh.

"Kalau begitu, kau siap jika aku mengajakmu menikah saat ini juga?"


.

-part two-

e n d

Kei & SS

.


Sayangnya, ini batal menjadi twoshots. Dan ceritanya justru berkembang menjadi aneh begini. Oya, salahkan SS jika terlalu banyak hint D18 atau 6927. Karena SS yang ngetik chapter ini. Eh, tapi jangan, ini kan milik kami berdua, jadi salahkan diri kalian sendiri yang mau membacanya, oke? #slapped#

Jangan lupa ikut MistCloud in Honeymoon Event (MCH Event) yang diselenggarakan dari 25 Desember 2010 – 9 Januari 2011. Informasi lebih lanjutnya silakan tanya pada SS (Eszett) atau Kei (Keiko no Midori). Atau lewat facebook. Alamat facebook kami bisa didapatkan di profil kami masing-masing.

_Kei_SS_