*canon mix dari Gravitation 6 Chapter 6, dibikin sedikit waras XD*
Keesokan harinya, hal yang pertama kali dilakukan Shuichi di sekolah adalah menggebrak pintu kelas Hiroshi. Seisi kelas 3B kaget saat Shuichi masuk ke kelas mereka dengan paksa.
"JANGAN MAIN-MAIN! Hiroshi, kau pengkhianat! Apa maksudmu dengan…"
Ketua kelas 3B pun mencoba melerai pertengkaran mereka. "Nah, Shindo-san, bukankah kelasmu ada di sebelah? Tolong, jangan membawa masalah pribadi ke kelas…" ujarnya, sambil mencoba menangkap Shuichi yang berontak.
"LEPASKAN!". Mendengar kemarahan Shuichi, sang ketua kelas pun akhirnya menyerah dan mempersilakan Shuichi menemui Hiroshi. Hiroshi hanya tersenyum melihat kelakuan Shuichi. Tekadnya memang sudah bulat, meskipun pada awalnya ia terpaksa, namun entah kenapa, ia merasa bahwa keluar dari Bad Luck adalah pilihan terbaik baginya.
"Nah, Shuichi, nampaknya demammu sudah sembuh. Jangan lupa…"
Shuichi segera memotong perkataan Hiroshi. "Oh, begini ya sekarang lagaknya sang calon dokter" ujarnya dengan nada sinis.
Hiroshi masih tersenyum, menahan amarahnya. "Ada apa pagi-pagi sekali kau menemuiku?"
Shuichi tak bisa lagi menahan amarahnya. Suaranya mulai meninggi. "Aku masih tak terima kau menyerah seperti itu. Setidaknya, bermainlah satu kali lagi saja, untuk acara perpisahan sekolah kita"
Mendengar itu, Hiroshi benar-benar ingin menyerah, namun apa daya, semua perkataan orangtuanya sudah melepaskan semua mimpinya di dunia music. Ia menghela nafas, kemudian berkata "Maaf, Shuichi. Aku tak bisa. Orangtuaku akan membunuhku jika mereka tahu aku bermain, bukannya berpidato, pada upacara perpisahan nanti"
Shuichi terdiam. Melihat senyum tenang Hiroshi, semua perkataan yang sudah ia siapkan dan semua nada kemarahannya mendadak tertahan. Ia mulai mencoba bersuara tenang, dan mulai menyindir Hiroshi.
"Oh, iya. Aku lupa. Hiroshi kan berbeda dariku. Ia kan si tuan sempurna. Beda denganku, yang hanya bisa menjadi seorang pemeran pengganti. Kalau kau tak suka caraku bermain, kenapa tak dari awal saja kau mencari vokalis lain? Masih banyak orang lain yang lebih baik! Oh, apa kau mencari orang yang bisa dipermainkan?"
Hiroshi kaget mendengar perkataan terakhir Shuichi. Ketenangan yang ada padanya habis sudah. Ia bangkit dari kursinya dan mulai melancarkan balasan.
"Jaga mulutmu, tuan. Aku memang bisa saja memilih vokalis lain. Tapi bukankah kita berdua yang saling memilih satu sama lain? Aku pun sudah diincar band lain yang lebih populer, kalau kau ingin tahu. Tapi…."
Shuichi tak lagi bisa menahannya. Ia kemudian meninju Hiroshi. "Teman takkan berkhianat, kau tahu itu?". Kekecewaan tampak jelas di matanya.
Baru saja Hiroshi akan membalas Shuichi, bel berbunyi dan guru kelas masuk. Sang guru terpana di depan pintu melihat pertengkaran mereka, dan kemudian mencoba menarik Shuichi yang masih akan memukuli Hiroshi.
"Shindou-san, anda akan ada dalam masalah besar jika pertengkaran ini terus berlanjut. Silakan keluar dari kelas ini. Dan Nakano-san, ikut keluar dengannya dan selesaikanlah masalah dengannya di luar kelas"
Setelah dihakimi sang guru, Shuichi dan Hiroshi keluar dari kelas itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya kemarahan yang ada di hati mereka.
"Kau harusnya bersyukur kita tak ditarik ke ruang BP" desah Shuichi. "Sekarang aku memberikan semua keputusan kepadamu. Aku akan ke ruang OSIS hari ini, meminta pembatalan penampilan kita"
Hiroshi tak mengatakan sepatah kata pun dan segera masuk ke kelasnya. Ia menarik nafas panjang, menyiratkan penyesalannya atas keputusannya berhenti.
Sepulang sekolah, Shuichi segera mampir ke ruang OSIS. Ia sengaja menghindari kelas 3B, karena tak ingin bertemu Hiroshi. Kejadian tadi pagi sudah cukup menyakitkannya.
"Permisi…" ujar Shuichi sebelum masuk. Nampaknya ruangan OSIS tengah dipenuhi anggotanya, yang sibuk mempersiapkan susunan acara perpisahan.
"Ah, Shindou-san, silakan duduk. Kami baru akan menentukan jam berapa Bad Luck akan tampil…"
Setelah melihat kesibukan mereka, Shuichi terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian. Akhirnya, ia mengatakan keputusannya dan Hiroshi. "Ano.. Maaf sebelumnya.. Kami tidak jadi tampil"
Seluruh ruangan hening sejenak, kaget mendengar keputusan Shuichi yang begitu mendadak. Keheningan itu dipecahkan Kai, ketua OSIS, yang menggebrak meja. Ia tidak terima pembatalan penampilan dilakukan secepat ini.
"Tidak bisa! Kalian harus tetap tampil! Apa yang terjadi?" tanya Kai.
"Kai-san, kami sudah bubar tadi pagi" Shindou berkata pelan, sambil menarik nafasnya. "Si tuan sempurna memilih fakultas kedokteran dan ia tak mau lagi bermain bersamaku. Aku kan bodoh" desisnya.
Seorang anggota sempat berkata "Ada apa sebenarnya? Kalian begitu kompak, tak biasanya kalian ribut". Shuichi menarik nafasnya, kemudian menjawab. "Ah, itu sudah kebiasaan Hiroshi. Kami berdua keras kepala, jadi ribut-ribut sudah biasa di balik layar. Lanjutkan rapat kalian, urusanku sudah selesai. Ja ne!"
Kai menarik nafas, kemudian melanjutkan rapatnya. Ia tentu kebingungan karena praktis tidak ada lagi hiburan pada acara perpisahan nanti. Beberapa band lain di menolak ajakan bermain di acara ini. Selepas rapat, jempolnya menari di atas keypad, dan matanya menyiratkan kelicikan. Ia akan mengirimi email kaleng untuk Shuichi.
"Bermainlah, berbaikan dengan Hiroshi, atau kalian akan diburu oleh seisi sekolah" email itu dikirimkannya berkali-kali, hingga memori pesannya penuh.
Shuichi yang menerima email itu hanya bisa kebingungan. Ponselnya terus bergetar, pengirimnya tak mencantumkan alamat email. Setelah badai email itu berakhir, ia segera melangkah ke apartemen Yuki, meskipun ia tahu akan diusir jika ia bertamu tanpa sepengetahuannya. Ia hanya ingin menceritakan semuanya pada Yuki.
