Disclaimer: SIAPA YANG BILANG PUNYA SAIA? *ngangkat vending machine* Kingdom Hearts punya Square Enix tercinta (cuih *plak*), en lagu "Trick and Treat" punya Kagamine Len sama Rin, yang sama-sama punyanya Yamaha corporation, yang gak tau donlot aja di http:/www . 4shared . com/audio/fyvI8PKD/Kagamine_Rin_Len_-_Trick_and . htm dan jangan lupa ilangin spasinya. Dan... Vending machine ini punya Heiwajima Shizuo (DRRR!). *dibalikin, kabur*


Song lyrics description:

Bold if Len sings his part.

Italic if Rin sings her part.

Bold and italic if they're sings together.


Track 2

Trick and Treat


... Well, welcome to our never-ending Halloween party...


31 Oktober. Artinya? Yup, hari Halloween. Biasanya hari ini dirayakan dengan pesta kostum, dilakukan pada malam hari, dan orang-orang yang merayakannya biasanya mengetuk pintu satu rumah, lalu ketika membukanya mereka berkata, "Trick or treat?". Ya, "Tipuan atau sungguhan"...

Itu yang biasa terjadi pada hari Halloween.

Tapi apakah yang akan terjadi apabila kalimat 'Trick or treat' berubah menjadi 'Trick and treat'?

.

Seorang gadis manis, berambut blonde muda dengan kedua bola mata berwarna biru segar sedang berdandan di dalam rumahnya. Dia sesekali bersenandung kecil sambil merapikan pakaian dan rambut blondenya yang panjangnya sebahu. Dia tersenyum melihat pantulan dirinya di kaca.

"Hmm... Selesai!" gumam gadis manis yang bernama Namine itu, putri tunggal dari profesor terkenal -yang sebenarnya jenggotnya lebih terkenal- yang bernama Ansem. Namine berputar-putar sejenak, mengamati setiap senti dari kostum Halloween kesayangannya yang kini sedang dipakainya. Gaun simpel merah tua mendekati hitam dengan cape berwarna senada dengan gaunnya. Dia tersenyum sekali lagi, lalu memakai topi dengan model tersobek-sobek pada ujungnya dengan warna yang sama.

"Namineeee! Teman-temanmu sudah datang!" teriak ibu Namine dari ruang tengah. "Iyaaaa!" balas Namine. Dia mengecek penampilannya sekali lagi di depan kaca. Setelah merasa semuanya beres, Namine beranjak keluar, bergegas menemui teman-temannya yang sudah menunggunya.

Sesampainya di luar, dia melihat teman-temannya sudah menunggu.

"Ah, akhirnya Namine-chan keluar juga~!" sahut senang seorang gadis berambut coklat kemerahan dengan kostum yang hampir sama dengan Namine. Bedanya hanya dalam warnanya. Nama gadis itu adalah Kairi.

"Wah-wah-wah. Cewek-cewek kok asal kembaran sih... Nggak seru." keluh seorang pemuda yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari mereka. Rambutnya yang merah mencolok disisir rapi, dan salah satu mata hijau emeraldnya ditutupi dengan eyepatch. Lelaki yang berdandan (asal-asalan) dengan kostum bajak laut itu bernama Axel. Axel terlihat cemberut sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya. Yah, walaupun tua tapi tetap childish... Apa boleh buat.

"Hmph, Axel, biarkan saja mereka kembaran seperti itu. Biar mereka dikira setan kembar..." ejek orang terakhir yang ada di sana. Lelaki yang selalu berekspresi "Whatever" itu memiliki rambut silver dan kedua mata hijau kebiruan yang terlihat kalem. Nama pemuda satu ini adalah Riku, dia memakai kostum werewolf dengan kedua telinga palsu berwarna putih. Yah, meskipun ekspresinya terlalu kalem dan cool untuk ukuran werewolf, dia memang hanya cocok memakai kostum satu itu.

"Haah, selalu deh kalian ini cerewet. Sudah lah, kita langsung ke sana saja." kata Namine, menyudahi. Kairi tersenyum, lalu mengangguk.

"Ayo berangkat!" sahut Kairi semangat sambil berjalan menjauh dari depan rumah Namine. Axel hanya memonyongkan bibirnya, namun tetap ikut berjalan mengikuti Kairi, sedangkan Riku langsung berjalan tanpa berkata atau berkomentar apa-apa. Namine tersenyum dan mengikuti mereka dari belakang. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka sampai di area hutan. Hutan itu memang gelap pada saat malam hari. Apalagi saat ini malam Halloween, dan entah kenapa wilayah hutan itu pada malam ini berkabut. Namine meliriknya sebentar, lalu mengalihkan tatapannya ke depan lagi. Terlalu takut melihat ke dalam sana.

"Hei... Datanglah ke sini..."

Namine terkejut, reflek dia berhenti. Dia melirik ke kanan maupun ke kiri, tidak ada siapa-siapa. Dia merasa bulu kuduknya berdiri. 'Ah, paling itu hanya perasaanku saja...' batin Namine, berusaha menghibur diri dari ketakutan yang mendadak menyergapnya. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali berjalan mengikuti Kairi, Axel dan Riku.

Namun sayang, suara itu kembali lagi. Meskipun terdengar sedikit berbeda dari suara yang tadi.

"Ayolah, nona. Datanglah ke tempat kami sebentar saja... Kau pasti menikmatinya!"

Namine begidik ngeri. Dia bingung memutuskan untuk tetap mengikuti Kairi atau masuk ke dalam hutan untuk mengikuti 'undangan' misterus dari dua suara yang memanggilnya tadi. Saat dia memutuskan untuk mengikuti Kairi, ternyata Kairi sudah jauh di depannya.

"Hmm... Sebentar saja tidak apa-apa, kan?" gumamnya pelan. Akhirnya dia nekan memasuki hutan yang berkabut itu.

Pada awalnya Namine berjalan perlahan. Perlahan. Lalu makin cepat. Dan akhirnya dia sedikit berlari. Dia tidak tahu apa yang terjadi, hanya mengandalkan kaki-kaki putih mulusnya untuk menuju tempat misterius yang berada jauh di dalam hutan itu.

Dan tanpa Namine ketahui, kedua sosok lelaki yang berada di dalam hutan itu tersenyum senang.

.

Fukai, fukai kiri ni naka youen hibiku koe

Oide, oide, kono mori no motto okufaku made

Hayaku, hayaku, isogiashi de dekiru dake chikaku ni

Oide, oide, saa tanoshii

Asobi wo hajimeyou

(Deep, deep within the fog, a captivating voice

Come, come, until you goot deeper into the heart of the forest

Hurry, hurry, you're only get closer if you're quick

Come, come, now isn't it fun?

Let the games begin)

.

Jauh dari lokasi Namine berada saat ini, terlihat sebuah rumah kayu tua yang terlihat sedikit menyeramkan. Rumah itu ditinggali oleh dua lelaki yang entah bagaimana asal-usulnya.

"Haah, Sora, menurutmu anak tadi akan datang, tidak?" tanya salah seorang lelaki yang berambut blonde dan bermata biru safir. Dia menyenderkan punggungnya di sofa merah marun yang sedang didudukinya. Lelaki blonde ini sendiri memakai kemeja berwarna merah kehitaman dan celana panjang berwarna hitam. Kedua mata birunya yang tajam terlihat bosan.

"Mana kutahu, Roxas. Tapi sepertinya dia akan datang..." gumam lelaki yang satunya lagi, yang tadi dipanggil dengan nama 'Sora' oleh si blonde yang bernama 'Roxas'. Lelaki ini sendiri memakai baju hitam santai dengan celana panjang yang berwarna hitam juga. Laki-laki brunette dengan mata berwarna biru yang sedikit lebih gelap dari Roxas ini menyeringai. "Sepertinya nanti malam 'permainan' kita akan menyenangkan, Roxas..." gumamnya. Roxas terdiam sejenak, lalu ikut menyeringai bersama Sora.

Sementara itu, di tengah hutan Namine masih terus berlari pelan. Nafasnya sedikit terengah-engah karena jarak antara luar hutan sampai ke pelosok lumayan jauh. Setelah merasa kelelahan, Namine memilih untuk berjalan pelan-pelan. Sambil mendengarkan suara sayup-sayup yang memanggilnya tadi, tak lama kemudian dia melihat sebuah rumah kayu tua yang terlihat seran -sebenarnya hanya karena latar belakangnya gelap-. Namine merasa bulu kuduknya berdiri. Dia menelan ludah, lalu memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam rumah seram itu, yang merupakan sumber suara tadi. Namine kemudian mendekati rumah itu pelan-pelan. Namun belum sampai sana, dia mendengar suara kedua lelaki yang tadi 'mengundang'nya ke sana.

"Wah wah wah, nona. Kau benar-benar datang, ne?"

"Fufufu, sudah kubilang kan Roxas, dia akan datang~"

namine berhenti mendekati rumah itu. Dia mendongak, melihat dua lelaki yang kira-kira seumuran dengannya sedang duduk di atas atap. Ya, Sora dan Roxas, kedua lelaki remaja penghuni rumah kayu tua tersebut. Namine mundur selangkah, sehingga bisa melihat penampilan Sora dan Roxas yang membelakangi cahaya bulan.

"Ah ah ah, nona~ Kau pasti datang ke 'pesta' kami malam ini, ne~?" undang Sora dengan suara menggoda. Namine menelan ludah. Baru pertama kali ini seumur hidupnya dia merasa setakut ini. Dia melihat Sora menyeringai, lalu menghilang.

"Hi-hilang?" gumam Namine terkejut. Dia kemudian melihat sekelebat bayangan orang di depannya. Dia menurunkan level kepalanya, menatap ke arah depannya, dan didapatinya Sora yang sedang merogoh kantong tas Namine.

"Hmm~ Ah, apa ini?" gumam Sora sambil mengeluarkan sebuah benda yang berwarna kecoklatan. Kayu manis. Roxas yang melihat adegan itu dari atas atap rumahnya langsung turun, berdiri di sebelah kiri Sora.

"Ah, cinnamon stick, ya?" guman Roxas sambil menyeringai seram. Namine merasa bulu kuduknya berdiri sekali lagi, dan kedua kakinya melemas ketika melihat seringaian Roxas.

"Hm... Ah, nona. Apakah kau tahu kalau cinnamon stick itu adalah 'tongkat ajaib'?" tanya Roxas tiba-tiba. Namine terkejut, sekaligus bingung.

"... 'Tongkat ajaib',..?" tanya Namine bingung. Sora dan Roxas saling berpandangan.

"Yah, begitulah, nona! Kalau kau ayunkan seperti ini," Sora mengayunkan cinnamon stick yang dibawanya tadi. "... Maka sirupnya akan bertambah banyak!"

Perkataan Sora memang benar. Tapi bertambah banyak itu bukan seperti biasanya. Sirup yang keluar sangat banyak-bahkan nyaris membanjiri tanah dari seisi hutan. Namine terkejut ketika sirup itu mulai membanjiri kakinya dan makin meluap ke atas. Sora dan Roxas melompat ke atas atap, menonton tubuh Namine yang mulai tenggelam di lautan sirup, lalu keduanya menyeringai.

"Nah, nona, tidurlah yang nyenyak, karena-"

"-pesta kita baru akan dimulai..."

.

SHINAMON SUTIKKU wa mahou no SUTEKKI

Hitofuri suru dakede SHIROPPU ga fueru

Nigasa sae wasurete amai yume no naka

Tengai ni mamorarete

Nemuri ni ochiru

(The cinnamon stick is a magic wand

With just one flick the syrup will swell

Into a dream so sweet you'll forget you knew bitterness

Sheltered by the canopy

You'll fall deep asleep)

.

Sementara itu, jauh dari lokasi di mana Namine bertemu Sora dan Roxas, Riku, Axel dan Kairi gelagapan mencari Namine yang tiba-tiba hilang.

"Axel, Riku, kalian lihat Namine, tidak?" tanya Kairi cemas. Axel dan Riku saling berpandangan, keduanya menggigit bibir.

"Tidak... Sejak tadi kita keluar dari hutan, aku sama sekali tidak melihat Namine." jawab Axel. Riku menghela nafas lalu menyilangkan tangannya di depan dadanya. Kairi terlihat makin cemas.

"Namine di mana, ya..." gumam Kairi, ketakutan ketika rasa mencekam tiba-tiba menyerangnya. Riku melihat sekeliling, lalu pandangannya terhenti ke arah hutan. Dia terdiam cukup lama.

"Kairi... Bagaimana kalau Namine ada jauh di dalam hutan sana?" tanya Riku tiba-tiba. Kairi mengarahkan pandangannya ke dalam hutan-yang entah kenapa terlihat sangat menyeramkan. Kairi menggigit bibirnya.

"Bagaimana kalau kita susul mereka?" usul Axel tiba-tiba. Riku dan Kairi menatap Axel tajam, keduanya tampak berfikir. Lalu Riku dan Kairi saling berpandangan, dan keduanya mengangguk. Axel, Riku dan Kairi kemudian berjalan bersama-sama ke arah hutan.

Jauh dari sana, Sora dan Roxas yang sedang mengurusi Namine yang sedang pingsan menatap ke arah luar hutan.

"Roxas, ada yang datang. Bagaimana?" tanya Sora sambil menatap Roxas yang sedang memegangi tubuh Namine. Roxas terdiam sejenak. "Biar kutangani saja. Kau tutup mata Namine dulu." jawabnya sambil menyerahkan Namine ke Sora. Sora mengangguk sambil menyeringai santai.

Sementara itu, Axel, Kairi dan Riku sama-sama berlari mendekat ke arah kediaman tua milik Sora dan Roxas. Namun baru saja mereka sampai di tengah hutan, sekelebat bayangan berwarna kemerahan menghentikan mereka. Refleks, Kairi memeluk tangan Riku, ketakutan. Sementara Axel mengambil ranting yang berada di dekatnya, waspada.

"Wah wah wah. Kalian berani juga masuk ke sini tanpa kami undang, ne?" kata bayangan tadi sambil berdiri dan mengangkat wajahnya, menampakkan rambuut blonde berantakan yang merupakn ciri khas darinua. Kemudian dia membuka matanya, menampakkan mata biru yang tajam dan dingin khas miliknya.

"Kau.. Siapa?" tanya Axel waspada. Kairi yang merasa makin ketakutan mengeratkan genggamannya pada baju Riku.

"Hmm... Kalian ingin tahu siapa aku?" tanya Roxas, menyilangkan tangannya di depan dadanya. Axel dan Riku memasang kuda-kuda, kalau-kalau Roxas tiba-tiba menyerang. Roxas hanya diam, lalu menyeringai seram, membuat ketiga orang di depannya itu gemetar dan terkejut.

"Kalian tidak perlu tahu siapa aku."

.

Sora duduk-duduk di bawah pohon sambil memasang ekspresi bosan. Sesekali dia melirik Namine yang masih tertidur-walaupun matanya ditutup oleh blindfold. Sora mendesah bosan. Tiba-tiba suara 'Srek' mengalihkan Sora dari kebosanannya.

"Roxas! Ah, lama sekali kau. Kau membuatku bosan, tahu tidak? Menunggumu selama itu bisa membuatku menjamur! Lagi pu-"

"Iya, iya. Maafkan aku Sora. Hentikan omelan panjangmu itu," Roxas memotong omelan panjang Sora yang kalau dilanjutkan entah kapan selesainya. Sora mendengus kesal. "Lagi pula mereka bertiga. Dan yang rambut merah ini ternyata kuat sekali. Haah, aku sampai pegal-pegal melawannya." lanjut Roxas sambil melempar sesuatu ke sebelah Sora. Sora meliriknya sejenak.

"Oya oya, Roxas. Kau kejam sekali, membunuh mereka bertiga..." kata Sora sambil mencolek-colek ketiga tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Roxas menghela nafas.

"Apa boleh buat. Hanya itu yang bisa kulakukan... Cepat, kau masukkan mereka ke ruangan yang sudah kita siapkan tadi. Biar aku yang mengurusi nona ini." perintah Roxas sambil bersender di satu pohon di dekat Namine. Sora mengangguk, lalu membawa ketiga tubuh tak bernyawa itu ke ruangan yang dikatakan Roxas tadi.

Tak lama kemudian, jari-jari Namine bergerak sedikit. Roxas menyadarinya, lalu berdiri tegak.

"Sudah sadar, ne, nona?" tanya Roxas sambil berjalan mendekati Namine. Namine terkejut ketika mengetahui Roxas tahu kalau dia sudah sadar, lalu mengangguk pelan. Namine merasa ada yang aneh di daerah matanya. Dia mengangkat tangan kanannya ke arah blindfold tadi, namun Roxas segera menghentikan gerakan tangan Namine. Namine terkejut ketika merasakan tangan Roxas yang dingin sekali, sama seperti es. Dia merasakan hembusan nafas yang dingin di sekitar pipinya.

"Oh, jangan lakukan itu, nona. Jangan lepas blindfold-mu... Nanti jadi tidak seru." bisik Roxas rendah, dingin dan mencekam. Namine kemudian merasakan tangannya ditarik oleh Roxas.

"Ayo nona. Percayalah padaku... Kuantar kau ke dalam 'pesta' kami malam ini."

.

Gensou no saimin ni oboreta mama de ii

Mekakushi wo hazushicha omoshiroku nai desho

Ashimoto gochuui sono te wa boku ga hiku kara

Sono mi wo ima sugu ni

Yudanenasai saa

(It's okay to be lost, mesmerized my mirages

If you loosen the blindfold it won't be fun

Watch your step! I'll take you by the hand

So, right away

Entrust yourself to me)

.

Sora dan Roxas memperhatikan keadaan Namine yang -lagi-lagi- pingsan. Mereka berdua lalu berpandangan.

"Aah, Roxas! Kau apakan dia, pingsan tuh! Jangan-jangan kau melakukan-"

"Aku hanya membawanya masuk seperti yang kau katakan tadi. Jangan menuduh yang tidak-tidak. Begitu memasuki rumah, dia langsung pingsan. Bukan salahku, kan?" potong Sora sebelum Sora mulai asal-asalam menuduhnya. Sora memajukan bibirnya dalam kekesalan. Roxas hanya menggaruk kepalanya, pusing akan kelakuan kakak kembar yang malah lebih childish darinya itu.

"Aaah, sudahlah. Tunggu saja sampai dia bangun." kata Sora kemudian. Dia berbalik, menatap tubuh Axel, Riku dan Kairi yang tak bernyawa. Dia menyeringai. "Aa, kira-kira apa reaksi nona itu ketika dia bangun dan melihat ini, ya?" gumam Sora disertai tawa. Roxas hanya terdiam ketika menyadari tempo nafas Namine berubah.

"Sora, sepertinya nona ini sudah bangun." kata Roxas tiba-tiba. Sora berhenti tertawa, lalu berbalik, menatap Namine, lalu dia menyeringai.

"Aah~ sudah bangun ya? Bagus, lah..." gumam Sora, masih menyeringai. Roxas hanya bisa mendesah pasrah atas kelakuan Sora.

"Diamkan saja dia dulu, Sora." saran Roxas. "Kau belum membersihkan kamarmu. Kau mau kamarku kubuat lebih berantakan lagi, hah?" tanya Roxas. Sora memajukan bibirnya lagi, lalu berjalan ke arah kamarnya dengan perasaan sebal.

Sementara itu, Namine masih bingung dengan apa yang terjadi.

'Apa yang terjadi sebenarnya? Seingatku, aku bersiap-siap untuk mendatangi pesta halloween bersama Riku, Kairi dan Axel, lalu aku dipanggil oleh suara misterius dari dalam hutan, lalu kedua lelaki itu-' Namine menghentikan pikirannya.

'Dua lelaki itu... Tidak menangkap Riku, Axel, maupun Kairi, kan?'

Namine merasa bulu kuduknya berdiri ketika medengar kedua lelaki tadi -Sora dan Roxas- bercakap-cakap. Dia menggigit bibirnya, lalu berusaha mengintip dari balik blindfold yang masuk menutupi matanya, dan betapa terkejutnya dia.

Axel, Riku dan Kairi sudah tidak bernyawa lagi.

.

Itsukaraka ginen no ha ga miegakure suru

Ai to iu menzaifu nado wa sonzai shinai to

Mekakushi no sukima kara nozokimita RANTAN ga

Utsushi dashita kage ni omowazu

Mi no ke ga yodatta

(For some time the blade of doubt has been fading in and out

The mercy of love has no place here

Through the slit of the blindfold you peeped

And saw the shadow cast by the lantern

Suddenly, your hair stands on end)

.

Kedua bola mata Namine membulat sempurna. Dia menahan sekuat tenaga agar tidak berteriak ketoka melihat tubuh ketiga temannya yang nyaris hancur. Dia merasakan tubuhnya mulai gemetaran, dan srat!

Blindfold milik Namine terjatuh ke lantai. Menampakkan kedua bola mata Namine yang telah membulat sempurna. Sora dan Roxas yang aslinya sedang bertengkar kecil menghentikan kata-kata mereka, lalu mereka saling menatap ke arah Namine.

"... Wah, ternyata kau benar-benar sudah bangun, nona." gumam Sora dingin, tatapan matanya menusuk Namine.

"Nah, karena blindfold-mu jatuh... Apakah aku perlu membuatmu buta sekalian?" sahut Roxas dingin dengan suara yang amat rendah, membuat Namine gemetar. "Ayolah, tersenyum! Bukannya 'permainan' kita baru akan dimulai?"

Namine hanya bisa terdiam, membeku. Dia merasa tenggorokannya tercekat, dan nafasnya berubah menjadi tidak beraturan. Dia makin terkejut ketika melihat Roxas yang berada di depannya tiba-tiba, lalu menyentuh bagian kanan dari mata Namine. Namine kemudian melihat Roxas menyeringai lebar.

"... Bisa berikan kami ini?"

.

Oya oya warui ko mou omezame desu ka?

Mekakushi ga toketa nara moumoku ni shiyoi ka?

Hora hora warainasai kawaii okao de

Kegawa wo mata kabutte

Shibai ni modoru

"... Ne, choudai...?"

(My my, what a wicked child! You're already awake?

If the blindfold came off, then shall I blind you?

Come now, smile! Let's see that precious face

Slip back into your skin

And go back to the show

"... Hey, give me some...?")

.

Namine membuka mulutnya untuk berteriak, namun Roxas membungkamnya duluan. Sora mendekati mereka sambil menghela nafas.

"Hei hei, nona manis! Kenapa kedua matamu lebar sekali, ne? Apakah aku perlu membawakan susu hangat untukmu?" tanya Sora sambil menyeringai. Roxas hanya menatap Namine tajam, merasakan tubuh Namine gemetar makin hebat.

"Ayolah, tidak apa-apa. Toh, sebagai gantinya, kami hanya ingin mengambil kedua bola matamu, kok..." kata Roxas sambil memainkan jari-jari tangan kirinya di sekitar mata Namine. Sora tersenyum, lalu tertawa keras.

"Ayolah nona! Sebentar saja tidak apa-apa, lalu kami minta kedua bola matamu! Gampang, kan?" tawar Sora. Roxas tersenyum dingin. "Cepatlah nona, tidak ada waktu lagi." gumam Roxas rendah sambil menghujamkan kuku-kuku tangan kirinya ke mata Namine.

"Kuambil, sekarang juga!"

Dan teriakan Namine menghiasi malam kelam itu.

.

Doushita no sonna me de karada wo furuwasete

Atatakai MIRUKU de motenashite hoshii no?

Saa naka ni ohairi koko wo totemo atatakai

Mikaeri wa POKETTO no nakami de ii kara

Choudai hayaku hayaku nee hora ima sugu ni

Nisha takuitsu no gensoku no kanagurisute

Mayakashi de motenashite amai mitsu wo sutte

Choudai yokose hora ima sugu ni

Choudai

(What happened to make your eyes so wide?

Shall I bring you some warm milk?

Now now, come inside! It's very warm in here

The stuff from your pockets will be enough in return

Give me something, hurry, hurry hey c'mon, right away

Abandon the notion of having a choice

We'll lure you in with lies, so just slurp the weet honey

Give me some, hey now, hand it over, right now

Right now!)

.

Owari

.

A/N: ARHHFTUHDRYJGRDSCVGYHJOI *gila, abaikan!* Akhirnya penpik ini selesai juga =A="! Pegel ngetiknya, mentelengi hape sampe jari-jari kanan maupun kiri pegel semua. (ngetik di hape sih. Praktis!)

Ahaha. Happy Halloween lah, minna-san! Semoga taun ini makin serem dah. *sesat*

Next track: Kokoro, Kagamine Rin.