Disclaimer: Bukan punya saia! *nyolong street signnya Shizuo* Kingdom Hearts punya Square Enix, en lagu 'Kokoro' itu punya Kagamine Rin dari Vocaloid yang merupakan milik Yamaha corporation. Dan... Street sign ini bukan punya saia. *ngacir* *dipentung*


Warning: mengandung nikot-bukan. *gemeteran liat vending machine yang melayang* Mengandung double character death (opojal?) dan plot asal ngawur ngalor ngidul nggak jelas asal ngikutin lirik lagu, yang nggak suka silakan pencet tombol ba-CK! *kena vending machine* *mati (?)*


Suara mesin itu terdengar jelas dari laboratorium rahasia milik profesor 'ajaib' bernama Sora. Sora tersenyum, melihat 'proyek ajaib'nya selesai.

"Nah... Selamat datang, 'Roxas'."


Roxas' POV

Namaku Roxas, sebuah robot yang dikembangkan oleh seorang profesor bernama Sora. Aku tidak tahu apakah penyebabnya dia membawaku ke dunia ini, meskipun dia bilang sebelum aku datang dia merasa sangat kesepian karena dia tinggal sendirian di kota ini. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti... Yah, sudah lah. Lagi pula aku tidak begitu menghiraukannya.

Aku ingat apa yang pertama kali dikatakan oleh Sora. Dia bilang bahwa kedatanganku ke dunia ini adalah sebuah 'keajaiban'. Mungkinkah manusia-manusia yang lain tidak bisa membuat robot sepertiku? Entahlah.

Sora pernah bilang, ada satu hal yang belum selesai-bahkan bisa jadi itu tidak bisa dibuat. Dia bilang... Itu adalah sebuah program yang bernama program "Hati"... Aku tidak mengerti.

Hari-hari yang kulewati bersama Sora terasa... Well? Aku sendiri tak yakin. Apakah itu menyenangkan? Menyedihkan? Membosankan? Mana aku tahu?

Well, apakah 'perasaan' itu tertuang dalam program 'hati' itu?


Kodoku na kagakusha ni

Tsukurareta ROBOTTO

Dekibae wo iu nara

"Kiseki"

(A lonely scientist

Developed a robot

The result was going to be

"Miracle")


Hari-hari terus berjalan. Setiap hari aku nyaris melakukan hal yang sama, yakni membangunkan Sora (yang selalu tertidur di depan komputer dengan tidak nyaman), lalu membuat sarapan, membuat kopi, dan berdiam diri, menonton Sora yang selalu berkutat dengan komputer kesayangannya, membuat program 'hati' yang akan dia hadiahkan padaku. Yah, kecuali hari Minggu, terkadang dia mengajakku jalan-kalan ke taman bunga di dekat sini.

Namun, hari ini Sora terlihat sangat berbeda dari hari-hari biasanya.

Kulihat wajahnya pucat, lingkaran hitam menghiasi bagian bawah matanya, dan anehnya lagi, dia terus terbatuk-batuk dan lemas. Ini... Pemandangan yang sangat tidak biasa bagiku. Melihat Sora yang biasanya cerianya minta ampun itu menjadi selemah ini... Rasanya aneh.

"Sora, apa kau baik-baik saja?" tanyaku kemudian. Rasa heranku benar-benar meluap-luap, dan sebagai robot, aku akan mendesak sampai aku mengetahui kenyataannya. Kulihat Sora menoleh, tangan kanannya menutupi separuh bagian mulutnya, dan wajahnya bahkan lebih pucat dari tadi pagi.

Sebenarnya ada apa ini...?

"Ah, Roxas... Aku tidak apa-apa, kok. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan..." katanya sambil tersenyum lemah. Bohong.

"Tidak, Sora. Kau bohong. Ada yang berbeda dari dirimu." elakku. Sora terlihat bengong, lalu memutar matanya. Yah, bisa jadi dia merasa sedikit salah karena membuat sistemku lebih pintar dari robot-robot biasanya.

"Ah, ternyata aku benar-benar salah membuat sistemmu lebih pintar dari robot la-" Kata-kata Sora berhenti ketika dia tiba-tiba terbatuk-batuk keras. Aku hanya terdiam di tempat, hanya bisa menonton Sora yang terbatuk-batuk keras seperti itu. Entah kenapa suaranya terdengar menyakitkan...

Dan pikiranku langsung terhenti. Mataku terbelalak.

Kini Sora tidak hanya terbatuk-batuk biasa, tapi... Mengeluarkan cairan merah pekat yang sering kukenali dengan nama 'Darah', yang biasa keluar apabila kulit manusia tergores atau terluka.

Sungguh, sebenarnya apa yang terjadi dengan Sora?

Kulihat Sora mengusap bibirnya yang menjadi berwarna kemerahan dengan darah. Aku mendekatinya dan menatapnya kosong. Bingung, ini membingungkan.

"Sora, kau sakit?" tanyaku, bingung. Sora hanya terdiam, menatapku dengan kedua mata biru itu yang entah kenapa terlihat kosong, tidak bernyawa. Setelah lama aku menunggu, tidak ada jawaban sama sekali dari Sora.

"Sora?" tanyaku lagi. Diam lagi. Namun kali ini aku melihat tubuh Sora terjatuh ke depan-ke arahku. Refleks aku menangkapnya.

"Sora?" panggilku lagi. Aku terduduk sejenak talu meneliti wajah Sora yang memang terlihat pucat. Kudengar nafasnya tidak teratur, seperti terengah-engah. Aku bingung. Apa yang harus kulakukan?

Ayolah, Roxas. Sebagai robot yang cerdas, pikirkan cara yang tepat-

Ah, ya. Kasur. Aku harus memindahkan Sora ke kasur.

Aku kemudian membawa Sora ke kasur yang berjarak sekitar 5 meter dari tempat tadi. Aku membaringkannya pelan-pelan. Kulihat dia mulai sadar dan membuka matanya.

"Roxas..." panggilnya lemah. Aku terkejut. Suaranya terdengar lemah dan... Menyakitkan. Aku menggenggam tangannya yang terasa dingin. Sama sekali berbeda dengan suhu tubuh Sora yang biasanya-yang biasanya hangat.

"Roxas." panggilnya lagi. Kini dia membalas menggenggam tanganku. Lalu kulihat dia tersenyum lemah.

"Roxas, maaf ya... Aku tidak bisa menyelesaikan program 'hati' ini sekarang..." gumamnya lemah. Genggamannya pada tanganku mengerat. "Kau... Mungkin baru bisa menikmatinya... Nanti..." lanjutnya lemah. Aku hanya bisa diam.

"Roxas, maaf ya... Aku... Pergi dulu..."

Dan dengan itu, matanya birunya yang lemah tertutup. Genggaman di tangannya mengendur, bahkan bisa terlepas kalau aku tidak menggenggamnya.

"... Sora?" Kucoba memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Aku meraba bagian hidungnya. Tidak ada hembusan. Aku meraba bagian dadanya.

Tidak ada detakan.

Sora telah meninggal-meninggalkan dunia ini.


Sekitar seratus tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Aku menguburkan Sora di bukit dekat sini, salah satu tempat favoritnya. Dia sering mengajakku berjalan-jalan ke sana.

Seratus tahun. Rupanya seratus tahun itu lama, ya? Aku sama sekali tidak menyangkanya.

Dan lagi, seratus tahun sejah Sora meninggal itu, aku terus berharap. Menatap layar komputer raksasa yang selalu dihadapi Sora tiap hari. Menghitung kapan selesainya program yang dibuat Sora sampai dia meninggal-yang sampai kini sudah 99%. Aku ingin tahu... Seperti apakah program yang dibuat oleh Sora hingga titik darah penghabisannya.

Aku mendekati keyboard komputer itu, berdiri sejenak lalu menekan tombol "Enter" di sana.

Kemudian cahaya memenuhi ruangan ini.


Preparing for install...


Iku hyaku toshi ga sugi

Hitori de nokosareta

Kiseki no ROBOTTO wa

Negau

Shiritai ano hito ga

Inochi no owari made

Watashi ni tsukutteta

"Kokoro"

(Hundreds of years pass

Left alone

The miracle robot

Wishes

I want to know, why

Until the end of that person's life

For built a "Heart"

For me)


Code accepted.

Installing program...

Success


Aku merasakan hal yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sekarang aku mengerti apa itu perasaan. Seperti apa itu senang, seperti apa itu sedih, seperti apa itu marah... Dan perasaanku sekarang bercampur aduk. Di antara senang dan... Sedih?

Tes

Apa ini? Ketika aku menyentuh pipiku, kenapa pipiku basah oleh air mata? Kenapa aku menangis? Kenapa... Air mataku tidak bisa berhenti?

Kenapa tubuhku gemetar?

Aku meletakkan tanganku di depan dadaku. Sakit. Detakan-detakan yang keras dan kencang terasa... Sakit. Menyedihkan. Aku bingung.

Apakah ini, 'hati' yang kuharapkan?


Ima ugoki hajimeta kasoku suru kiseki

Nazeka namida ga tomaranai?

Naze watashi furueru? Kasoku suru kudou

Kore ga watashi no nozonda "Kokoro"?

(Now, movement has started, the miracle is accelerating

Why? My tears won't stop...

Why am I shaking? The beat is accelerating

This is the "Heart" I hoped for?)


"Hei, Roxas! Selamat datang di dunia ini! Namaku Sora... Kita hanya hidup berdua di kota ini. Aku harap kita bisa saling mengisi, ya!"

Air mataku terus mengalir. Aku sangat menyesali hari itu.

"Roxas... Kau tidak bisa merasakan apa-apa, ya?"

Aku menyesal. Aku sangat menyesal ketika tidak menggenggam tangan Sora waktu itu.

"Roxas... Lihatlah. Bunga itu indah, bukan?"

Aku menyesal karena membuang hari-hariku bersamanya.

"Roxas, kuharap kau senang berada di dunia ini, ya..."

Aku menyesal.

Air mataku terus mengalir. Tidak bisa berhenti. Otakku terus saja memutar hari-hariku bersama Sora. Hari-hariku yang menyenangkan maupun menyedihkan.

Membingungkan. Ya. Bagiku 'Hati' itu sangat membingungkan. Aku tahu bahwa 'hati' adalah hal-hal yang menyenangkan. Aku tahu bahwa 'hati' adalah hal-hal yang menyedihkan. Tapi tetap saja ini membingungkan. Kenapa... Rasanya sesedih ini?


Fushigi kokoro kokoro fushigi

Watashi wa shitta, yorokobu koto o

Fushigi kokoro kokoro fushigi

Watashi wa shitta, kanashii koto o

Fushigi kokoro kokoro mugen

Nande fukaku setsunai...

(Mysterious, heart, heart, mysterious

I know, there are things to happy about

Mysterious, heart, heart, mysterious

I know, there are things to grieve about

Mysterious, heart, heart, mysterious

How deeply painful...)


Ah... Kini aku mengerti. Aku mengerti alasan kenapa aku 'dilahirkan' ke dunia ini. Tentu saja, sendirian itu pasti kesepian. Karena itu Sora membuatku untuk menemani dirinya yang sendirian di hidupnya yang saat itu hanya tinggal sebentar.

Ah, andaikan saja hari-hari itu aku mempunyai perasaan...

Andaikan saja aku bisa memutar kembali sang waktu...

Biarkan aku mengatakannya.

Sekarang aku bisa mengatakannya. Kata-kata sesungguhnya... Yang kupersembahkan untukmu.


Process accepted


Ima kidzuki hajimeta umareta riyuu o

Kitto hitori wa sabishii

Sou, ano hi, ano yo ni

Subete o kioku ni yadoru "Kokoro" ga afuredasu

Ima ieru hontou no kotoba

Sasageru anata ni

(Now I realize the reason I was born

Being alone is sure lonely

Yes, that day, at that time

All the memories dwelling in my "heart" began to overflow

Now, I can speak true words

I dedicated them to you)


Sending process...


Terima kasih... Karena sudah membawaku ke dunia ini-membuatku menemanimu meskipun aku belum bisa merasakan apa-apa.

Terima kasih... Atas semua hari-hari yang telah kau berikan padaku-baik itu menyenangkan maupun menyedihkan.

Terima kasih... Atas semua yang kau berikan padaku-termasuk 'hati' yang telah kau buat sampai penghabisan nyawamu yang bagiku berharga.

Terima kasih... Aku akan bernyanyi selamanya...

(End of Roxas' POV)


"Arigatou..." Kono yo ni watashi o unde kurete

"Arigatou..." Issho ni sugoseta hibi o

"Arigatou..." Anata no watashi ni kureta subete

"Arigatou..." Eien ni utau...

("Thank you..." For bringing me to this world

"Thank you..." For the days we spent together

"Thank you..." For everything you have given me


Success

Message sent


Suara nyanyian merdu itu terdengar dari dalam laboratorium 'ajaib' milik Sora. Suara yang terdengar itu memang suara Roxas-robot 'ajaib' buatan Sora. Robot itu terus bernyanyi. Namun sayang, program 'hati' yang dibuat Sora itu terlalu besar. Sistem-sistem robotik di dalam tubuh Roxas tidak kuat menahannya, dan akhirnya meledak. Tubuh Roxas terjatuh menghantam tanah, sinar-sinar yang menyala di tubuh Roxas meredup perlahan-lahan, dan kemudian mati. Namun, ada suatu hal yang berbeda dibanding robot kebanyakan.

Dia tersenyum-seperti puas dan bahagia.


Owari


Footnote: ALL HAIL SHIZAYA! *plak* Oh, maaf, saya ngigo lagi. Ahahaha. Sungguh. Otak saia melayang ke fandom Durarara! sih. Tapi tetep aja chapter ketiga dari "Select, Play" ini bisa lahir dengan (tidak) selamat. Yah... Maafkan bila ada kata-kata yang tidak berkenan maupun typo. Terima kasih.

Shizuo (Durarara!, nyasar): *bawa-bawa vending machine* REVIEW ATAU MATIIIIIIIIIIIII!


Next track: Kokoro - Kiseki, Kagamine Len. (Kokoro in Len's part)