Astaga... Gara-gara liburan dan sekolah (lagi), sampe lupa buka ffn. Ini cerita udah saya tinggal selama kurang lebih sebulan ya? Haha, I'm so sorry guys *bow*
Well, here's chapter two, hope you can...
Enjoy! ^^
Annasthacy Chashyme (c) 2010
Pandora Hearts (c) Mochizuki Jun
A Pandora Hearts FanFiction
Angst/Hurt/Comfort, T
Warning: Gaje, OOC, alur kecepetan, judul gak nyambung, dll.
PROMISE AND HURTS
Alice mengerjapkan mata, kemudian menggeliat bangun. Sesaat ia keheranan melihat peranti serba pink yang sangat feminin, sampai kemudian ia teringat di mana ia berada.
'...Ah, ya.. Aku ada di rumah Sharon.'
Sembari memilin-milin sejumput rambutnya, Alice memutar kembali kejadian semalam. Ya, termasuk bagian dipeluk oleh guru nyentrik itu. Langsung saja wajahnya terasa panas, dan ia meninju bantalnya pelan.
'Argh, bisa-bisanya aku menyentuh orang itu? Bahkan... berpelukan dengannya? ARGH, hancur harga diriku!' batinnya kesal. Setelah puas meninju-ninju bantal tak bersalah itu, Alice berusaha menenangkan dirinya. 'Tenang Alice, tenang... Paling tidak kamu tidak akan bertemu dengannya sampai besok...' sugestinya.
"Alice? Kau sudah bangun?"
Alice menoleh ke arah pintu, di mana Sharon tengah melongokkan kepalanya ke dalam. "Oh, Sharon! Kenapa kau ada di rumah? Bukankah sekarang masih jam sekolah...?"
"Dan meninggalkanmu sendiri, terkapar tak berdaya di tempat tidur? Bisa-bisa aku dituntut dengan tuduhan lalai menjaga anak tetangga," jawab Sharon ringan sambil mengedipkan sebelah mata. Ia berjalan masuk, mendekati Alice dengan anggun. Kemudian ia meletakkan telapak tangannya di kening gadis itu. "Bagus! Demammu sudah turun..."
Sementara itu, Alice merasa ia harus bicara. Minta maaf, memberi alasan, atau apa pun. Namun lidahnya terasa kelu, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Dan ternyata, Sharon yang menduluinya berbicara. "Hei, Alice...," ujarnya lembut. "Aku minta maaf, kemarin kata-kataku keterlaluan... Seharusnya aku bisa lebih berempati atas keadaanmu, tapi aku gagal. Aku—"
"Tidak, Sharon!" potong Alice. "Kamu tidak salah. Aku yang salah! Aku yang harusnya minta maaf! Aku selalu egois, tidak memikirkan perasaanmu, aku jahat, aku...," suaranya memudar. Ini benar-benar tidak seperti dirinya, mati-matian minta maaf seperti ini! Tapi memang, terkadang kita harus meninggalkan image barang sejenak agar sesuatu yang berharga tidak terlepas dari tangan.
Sharon tersenyum manis. "Aku bisa mengerti kenapa kau bersikap seperti itu," ia menggenggam tangan Alice. "Tapi kumohon, jangan pernah lagi kabur seperti itu. Kalau saja tidak ada Break, aku... Kamu..." Ah, baru kali ini Alice melihat Sharon kehilangan kata-kata seperti itu. Serangan perasaan bersalah kembali datang.
"Ehem~" sebuah deham membuat Alice hampir terlonjak kaget. Sharon hanya tinggal sendiri, jadi seharusnya hanya ada mereka berdua di rumah ini, demi Tuhan! Secepat kilat ia mengedarkan pandangan ke luar kamar, dan nyaris tersedak melihat sosok berambut silver yang bersandar di daun pintu, senyum lebar nan jahil di wajah.
Ekspresi penuh perasaan Alice segera berubah menjadi enek dan kesal. "Sharon! Kenapa orang itu ada di sini?" protesnya.
"Ah, kejamnya dikau~" sahut Break dengan nada yang dibuat-buat.
"Alice, jangan begitu! Begitu-begitu, dia masih terhitung guru!"
"Ini toh bukan di sekolah," tukas Alice, menuai desahan panjang – dan setitik senyum – dari Sharon.
"Ahaha, sikapmu tidak berubah ya, Nona Alice~ Tenang saja, aku bukannya mau meminta bayaran darimu atas kebaikan hatiku semalam kok. Aku ingin berbincang-bincang denganmu, itu saja," Break memasuki kamar itu dan berpaling pada Sharon. "Iya kan, Sharon?"
"Begitulah... Jadi bersikaplah baik, Alice," pesan Sharon sebelum meninggalkan mereka berdua.
Atmosfer dalam ruangan tersebut terasa canggung, karena Alice segan juga membentak orang di hadapannya terang-terangan, tapi juga tidak mungkin untuk mempersilakannya duduk secara manis kan? Alice terus-menerus menghindari kontak mata dengan Break.
Untungnya Break mengambil inisiatif untuk buka suara duluan. "Bagaimana keadaanmu, Alice?"
"...Baik."
"Kau keberatan kalau aku duduk di sini?" lelaki itu menggeret sebuah kursi ke sisi tempat tidur.
"Tidak."
"Mau permen?" ia mengeluarkan sebatang permen lolipop dari sakunya.
"...Tidak," jawab Alice meski dengan kerutan di dahi.
"Astaga, Alice! Orang akan mengira kau hanya bisa mengucapkan sepatah kata saja! Ke mana Alice Baskerville yang biasa, yang suka bicara panjang lebar dan sok tahu~?" goda Break.
"Ap—! Kurang ajar!" seru Alice, menggunakan bantalnya untuk mendaratkan belasan pukulan di tubuh lelaki yang hanya tertawa-tawa geli tersebut. "Hei, berhentilah tertawa! Kau membuatku merasa seperti anak kecil di sini!"
Break menangkap bantal malang itu, sekaligus menahan tangan Alice, dan berkata, "Kau memang seorang anak kecil, Alice."
Tahu bahwa percuma melawan, Alice duduk di pinggiran tempat tidur sementara membiarkan pergelangan tangannya tetap dipegangi oleh Break. "Ha, kau saja yang sudah tua, Sensei."
"Paling tidak aku tidak pernah kabur dari rumah sepertimu."
Alice tidak menjawab. Ia merasa kesal karena ada orang asing yang mencampuri urusannya, juga malu, tapi juga takut. Semua bercampur jadi satu. Masih tidak mau menatap mata Break, ia memalingkan wajahnya dan berkonsentrasi menelusuri tiap ukiran tempat tidur.
"...Bisa kau ceritakan padaku? Apa yang terjadi selama ini?" tanya Break lembut.
"...Kau jadi guru konseling sekarang?" ujar Alice dengan nada menghina. Tapi Break tidak terpengaruh. Ia tetap menatap tajam wajah Alice dalam diam, berusaha mencari celah untuk menyelami kedalaman yang ada pada sepasang mata itu. "Keras kepala," ucap Alice lagi.
"Mungkin iya, tapi kurasa hanya kekeraskepalaan yang bisa melawan orang yang keras kepala juga."
Alice melirik lelaki itu sedikit. Baru kali ini ada orang yang mau memperhatikan dirinya – kecuali Sharon, tentu saja. Apa yang harus dilakukannya? Sesaat terlintas pikiran untuk 'membuang' orang ini, tapi kemudian, sanggupkah ia membuang orang yang sudah menyelamatkannya ini? Seperti kata Sharon, kalau tidak ada Break, bisa saja sekarang dia masih di luar sana, atau lebih parah, memilih untuk mengakhiri hidupnya!
Akhirnya Alice membuat keputusan. "...Apa yang ingin kautanyakan?"
"Terima kasih, Alice," Break tersenyum simpul.
"Sudahlah, cepat katakan, sebelum aku berubah pikiran!"
"Baiklah, baiklah... Pertama-tama, aku ingin tahu masalah keluargamu."
Alice meliriknya tajam. "Kukira Sharon sudah memberitahumu?"
"Tidak, dia bilang yang berhak memceritakannya hanya kamu sendiri." Melihat sikap Alice yang terkesan tidak nyaman, ia melanjutkan, "Kau keberatan?"
Setelah menelan ludah, Alice menjawab, "Tidak, akan kuceritakan... Aku sudah berjanji untuk meladenimu, kan? Aku tidak pernah melanggar janji..." 'Karena aku tahu sakitnya jika janji diingkari,' sambungnya dalam hati. Alice menarik napas panjang. "Sebenarnya aku bukan anak tunggal... Aku mempunyai seorang saudara kembar, namanya Alyss. Kami sangat akrab, sangat dekat, meskipun sifat kami bertolak belakang.
"Suatu hari, aku... hampir membunuhnya," kata Alice pahit. Break tidak menyahut, tapi ia mempererat genggamannya pada tangan Alice, memberi dukungan batin. "Ceritanya panjang, dan intinya, Alyss mengalami luka parah. Ayah dan ibuku jadi sering bertengkar karenanya, mereka ribut membicarakan pengobatan Alyss... Ah tidak, sebenarnya masalah ini hanya sebagai pemicu keluarnya segala masalah yang selama ini mereka pendam.
"Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk bercerai. Supaya adil aku dan Alyss terpaksa dipisah, Alyss bersama ibuku pergi ke luar negeri yang medisnya lebih maju, sementara aku tinggal bersama ayahku... Bersama Glen, yang sejak kelahiranku tidak pernah peduli padaku. Aku pernah mencoba menarik perhatiannya, dan berakhir dengan tamparan di wajah." Di titik ini, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Alice. Secara tidak sadar ia memegangi pipinya yang masih terasa panas.
Rapuh. Hanya itu yang ada di benak Break saat mendengarkan cerita Alice mengenai keluarganya yang tercerai-berai. Gadis semuda ini, sudah seberapa banyak yang ia terima? Break tahu tentang sejarah pendidikan Alice. Anak berandal. Diskors. Dikucilkan. Bahkan teman-temannya saat sekolah menengah pernah melemparinya dengan batu dan sampah, karena Alice – secara tidak sengaja, menurut Sharon – memecahkan kaca jendela kelas mereka.
'Tidakkah mereka mengerti? Ia hanya gadis yang kurang kasih sayang. Gadis yang bisa dibilang sudah dibuang oleh keluarganya sendiri. Seharusnya ia dirangkul, diberi dukungan, bukan malah diperlakukan seperti penjahat begitu!' batin Break geram. 'Benar-benar picik, mereka itu... Hanya karena Alice tidak pernah menangis, tidak pernah meminta bantuan, dan tidak pernah memberi tahu siapa pun mengenai kondisinya, mereka menganggap semua kelakuannya memang didasarkan oleh kepribadian yang buruk!'
Betapa Break ingin memeluk gadis tersebut, seperti semalam... Tapi bagaimana kalau dia hanya akan menambah sakit hatinya kelak?
"...Hei, kemarilah."
"Ya?" kata Break kebingungan.
"Kemarilah! Sudah, lakukan saja!" desak Alice. Maka Break pun menurutinya, ia bergerak mendekat. Lalu tiba-tiba, Alice melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhnya. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu bergetar pelan, menandakan bahwa ia sedang menangis.
'Bahkan sampai saat terakhir, dia tetap tidak ingin dilihat saat sedang menangis,' Break tersenyum lembut dan mengusap-usap punggung gadis rapuh itu.
Aneh ya? Gaje ya? Wajar kok, itu kan sudah jadi trademark saya~ *kicked*
Whatever deh, tapi tetep dong, review please?
Thank you! ^^
