Annasthacy Chashyme (c) 2010
Pandora Hearts (c) Mochizuki Jun
A Pandora Hearts FanFiction
Angst/Hurt/Comfort, T
Warning: Gaje, OOC, alur kecepetan, judul gak nyambung, dll.
PROMISE AND HURTS
Are you scared?
Scared of the truth, the time, and the chance?
Why are you scared?
Of me, of him, and of them.
No, please...
Don't be scared of me.
.
Sudah beberapa hari berlalu sejak 'pembicaraan hati ke hati' antara Alice dan Break. Saat ini semuanya seperti semula, Alice masih bandel dan tukang bolos, Sharon masih sering menghela napas panjang atas ulahnya, dan Break masih menjadi guru pelajaran tambahan bagi Alice. Yang beda adalah, sekarang Alice tak lagi kabur saat pelajaran tambahan – meskipun ujung-ujungnya ia hanya adu mulut dengan Break –.
Tapi tampaknya, hari ini tidak lagi sedamai hari-hari kemarin. Semua berawal dari ketukan di pintu rumah Sharon, ketukan dari seorang lelaki berambut emas panjang. Seseorang yang paling tidak ingin dilihat Alice.
Dan sialnya, yang membukakan pintu, tak lain dan tak bukan, Alice sendiri.
Wajah Alice langsung memucat seketika, seperti orang yang melihat hantu, sementara sang tamu tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"Hai, Alice-chan, lama tidak bertemu!" sapa orang itu seraya memeluk Alice erat. "Sudah lima tahun ya!"
Alice masih kaku, dan mau tak mau pikirannya melayang ke hari itu... Lima tahun yang lalu.
"Jack! Aku kangen...!" seru Alice – umur 10 tahun – yang tengah berlari menyongsong kedatangan sepupunya tercinta.
"Ahaha, kamu masih manis seperti dulu, Alice..." jawab lelaki dengan rambut emas panjang yang dikepang tersebut. "Bagaimana kabarmu?"
Wajah Alice jadi muram seketika. "Ayah dan ibu... Mereka..."
Senyum lembut Jack mengembang. "Tenang saja... Aku di sini, oke? Aku janji untuk selalu bersamamu."
"Jack? Oh, sudah kukira! Dari suaramu yang menyebalkan itu—" sapa Sharon yang tiba-tiba muncul.
"Hei, apa maksudmu menyebalkan, Sharon?" Jack melepaskan pelukannya, dan mengamati Sharon. "Wah, kau tambah cantik saja..."
"Dasar playboy. Kau kira sudah berapa hati wanita yang kau hancurkan, eh?" balas Sharon dengan nada jahil. "Alice, tentunya kau senang bertemu dengan Jack lagi?" tanyanya ramah.
Alice tidak merespon. "A—aku..." Tanpa melihat wajah Jack sedikit pun, Alice melepaskan diri dari kungkungan lengannya. "...Aku akan ambilkan minum." Dan ia segera kabur ke dalam rumah, meninggalkan Jack dan Sharon yang terheran-heran.
"Jack, antara aku dan Alyss... Siapa yang lebih kau sukai?"
"Kenapa bertanya begitu, Alice?" Jack balik bertanya.
"Sudahlah, jawab saja!"
Jack berpikir sesaat. "Hmmm... Tidak ada yang lebih kusukai, Alice."
Alice kecil mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Aku menyukai kalian berdua, sama besarnya..."
Tanpa bisa dicegah, tubuh Alice gemetaran. Ia bersandar di meja dapur, berusaha menenangkan dirinya... Tapi tidak bisa. Kenangan akan sakitnya dikhianati masih terbayang jelas di otaknya. Alice menggertakkan gigi. Dia tidak suka ini. Dia bukan anak yang lemah! Dia tidak akan kalah dari rasa sakit ini... Tapi ternyata sulit sekali.
"Sama?"
"Ya... Tidak ada yang lebih kusayangi di antara kalian berdua."
Sebenarnya Alice kecewa, tapi ia membesarkan hatinya. "Mungkin tidak, kalau suatu hari nanti, akulah yang lebih kau sukai?"
Senyum Jack memudar sedikit, tatapan matanya menjadi ragu. "Kurasa... mungkin saja."
"Benarkah?" tanya Alice sumringah.
"Ya, aku janji."
Tubuh Alice merosot turun, kini ia duduk dengan memeluk lutut. 'Kumohon... Seseorang, tolong aku...' pintanya dalam hati.
Seakan bisa mendengar permintaan mati-matian Alice, seseorang dengan rambut silver mendekatinya. "Alice?"
Alice mendongak, dan air matanya membanjir saat melihat wajah penuh prihatin orang tersebut. Tanpa berpikir dua kali ia bangkit, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Break yang balas memeluknya. Hatinya miris melihat gadis yang biasanya keras kepala dan serampangan ini bersimbah air mata.
Alice menyodorkan buket bunga yang dibawanya pada Jack, senyum malu-malu menghiasi wajahnya. "Jack, ini... Untukmu."
"Bunga? Dalam rangka apa, Alice?" tanya Jack heran.
"Aku... aku... Erm, aku hanya ingin bilang—" kalimatnya terpotong oleh jerit pilu seseorang di kejauhan.
"ALYSS!" seru Jack, ia segera berlari menemui Alyss, tanpa sedikit pun memedulikan Alice. Dan, tanpa sadar, tangannya memukul tangan Alice, sehingga pegangan gadis kecil itu terlepas.
Buket bunga malang itu jatuh ke tanah. Hancur. Seperti perasaan Alice yang remuk.
Alice tidak pernah keluar. Tidak pernah lagi menemui Jack. Ia mengunci diri di kamar, tanpa seorang pun yang menemani. Sementara itu Break, Sharon dan Jack berbincang-bincang di ruang tamu.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul, Jack?" tanya Sharon pelan.
"Aku sudah memutuskan... untuk meminang Alyss," jawabnya tak kalah pelan.
"Meski kau tahu perasaan Alice?"
"Justru karena itulah, aku datang kemari... Aku tidak ingin perang dingin ini berlanjut, Sharon. Aku berharap masalahnya bisa selesai."
"Selesai? Dengan membuatnya jauh lebih sakit hati?" Sharon menatapnya tajam. "Dia jauh lebih senang kalau tidak pernah mendengar namamu lagi, apalagi melihat wajahmu, Jack!"
Lelaki itu tertunduk. "Aku hanya tidak ingin menyembunyikannya dari Alice."
"Terkadang ada hal yang lebih baik tidak diketahui," timpal Break.
"...Aku terlalu egois."
"Syukurlah kau paham," ucap Sharon tanpa ampun, ia mengempaskan punggungnya di sofa. "Aku sebenarnya tidak ingin menyalahkanmu terus-terusan, tapi... Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa lagi, atas kondisinya sekarang."
Keheningan mencekam, dan Break beranjak dari tempat duduknya tanpa suara. Ia menaiki tangga, berniat menemui Alice. Hatinya panas kalau terus-menerus berada di tempat itu. Bisa-bisa ia lepas kendali dan memukul lelaki bernama Jack tersebut.
Break mengetuk pintu perlahan, lalu membukanya sedikit. Malam telah turun, namun Alice tidak menyalakan lampu. Ia termenung di jendela, memandangi langit. Seolah tidak tahu kehadiran Break.
"...Kau tidak cerita tentang pemuda itu." Pernyataan, bukan pertanyaan.
"Kau kira mudah apa, menceritakan semuanya sekaligus?" sahut Alice ketus.
Sambil menghela napas untuk menenangkan dirinya, Break menghampiri tubuh kecil Alice. Ia berdiri diam di sampingnya, namun Alice tidak sekali pun mengalihkan pandangannya dari langit.
"Dia cinta pertamamu, eh?"
"Begitulah... Dia selalu baik padaku, dia yang selalu menjagaku jika orangtuaku tidak di rumah... Ah, maksudku, kami," sambungnya langsung, sentingan nada pahit kentara. "Seharusnya aku tahu sejak awal... Jack hanya melihat Alyss... Alyss yang lebih cantik, lebih manis, lebih lembut... Mana mungkin aku yang dipilihnya.
"Apalagi aku yang membuat Alyss lumpuh sekarang. Pastinya ia semakin membenciku," Alice tertawa kering. "Aku terlalu naif."
Hening lagi. Alice bergerak sedikit, menopang dagu kali ini. Namun tetap tidak melihat ke arah Break.
"Alice, aku... Aku yakin dia tidak membencimu... Aku jan—"
"Hentikan!" sela Alice keras. "Jangan berjanji... Sudah cukup aku dikhianati oleh janji-janji palsu!"
Break menatap gadis itu nanar. Itukah sebabnya ia pernah bilang bahwa ia tidak akan melanggar janji? Karena ia tahu rasanya jika janji diingkari... Ia menunduk, dan berkata pelan, "Mereka akan menikah... Jack dan Alyss."
"Begitukah?" suara Alice tercekat.
Tidak ada yang tahu. Alice membuang bunga dalam buketnya satu per satu... Meremasnya hingga hancur, kemudian melemparnya ke kolam.
Dia bahkan tidak menangis.
Janji palsu... Janji manis yang ia tahu akan diingkarinya sendiri.
Alice membenci dirinya karena sempat percaya akan janji itu.
"Sudah kuduga, saat itu akan datang..." bisiknya. "Entah aku bisa mengucapkan selamat dengan tulus atau tidak."
"Kau bisa," sahut Break cepat. Sekali lagi, ia merengkuh gadis itu dalam pelukannya yang menenangkan. "Aku akan menemanimu. Jangan khawatir, aku akan berusaha untuk selalu menemanimu."
"...Tapi aku takut." Alice menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku takut aku hanya akan semakin sakit hati..."
"Kalau kau sakit, maka aku akan carikan obatnya."
Janji manis lagi. Seharusnya Alice marah, membencinya karena menawarkan janji lain. Tapi kenapa... ia ingin percaya? Ia punya perasaan bahwa orang ini tidak akan mengingkarinya.
"Gunakan kesempatan ini, Alice. Untuk mendapatkan kembali orang berharga itu... Dia mungkin pernah membuangmu, tapi saat ini dia memberimu kesempatan untuk kembali. Tergantung keputusanmu, untuk menerima uluran tangannya atau tidak, Alice..." kata Break panjang lebar.
Alice berusaha meresapi perkataan Break, dan ia mengengguk kecil. Memang ada benarnya... Tapi tetap saja rasa takut itu ada. "Kau akan menemaniku, kan?" tanyanya.
Break mengangguk.
'Terima kasih...' ucap Alice dalam hati.
Tanpa mereka berdua sadari – ah, sebenarnya Break tahu tapi diam saja – Jack mendengarkan seluruh pembicaraan mereka. Seulas senyum – bersalah, kagum, dan juga sayang – terbentuk di bibirnya. Tanpa suara ia meninggalkan kedua insan yang tengah berpelukan tersebut.
TBC
Reviews please~
Thank you ^^
