Update datang! Maaf lama banget... (_ _)


Annasthacy Chashyme (c) 2011

Pandora Hearts (c) Mochizuki Jun

A Pandora Hearts FanFiction

Angst/Hurt/Comfort, T

Warning: Gaje, OOC, alur kecepetan, judul gak nyambung, kissing scene, dll.

PROMISE AND HURTS


What is it that you wish?

Tell me, tell all you want.

Your desires, your wishes, your dreams,

I'll grant each one of them

.

Tidak pernah Alice menyangka hal ini sebelumnya. Ia akan menikah. Kurang lebih tiga bulan setelah pernikahan Alyss dengan Jack, kini gilirannya untuk menikah...

Dengan Xerxes Break. Mantan gurunya semasa SMA. Guru yang aneh, nyentrik, dan selalu membuat orang lain geleng-geleng kepala ataupun mengelus dada.

Tapi guru yang sama pula yang telah menyelamatkannya dari jurang keputusasaan. Ia pula yang terbukti tidak pernah absen berada di sampingnya. Break juga menepati janjinya untuk menemani Alice serta memberinya dukungan agar ia bisa mengucapkan selamat dengan tulus pada Jack dan Alyss. Hidup ini memang lucu dan tidak terduga.

Kedua orangtuanya memang tidak bisa lagi disatukan, Alice juga sudah menyerah untuk berbicara dengan ayahnya. Tapi paling tidak, aspek lain dalam hidupnya bisa membaik.

"Alice, ayo cepat! Semua sudah menunggu!" seru Sharon. Ah, tentang Sharon... Siapa sangka dia akan menikah dengan rekan sesama guru yang berpenampilan ekstra rapi, dengan rambut pendek dan kacamata yang kelewat sering dibersihkan – namanya Liam –? Mereka bahkan sudah memiliki sorang anak.

Alice berjalan tergesa – juga susah payah karena tidak terbiasa mengenakan rok, apalagi rok panjang – ke arah pintu gereja, di mana Jack sudah menunggu untuk mengantarnya masuk. Dengan kedipan jahil Jack mengulurkan lengannya, dan langsung disambut oleh Alice. Pintu gereja terbuka, dan mereka masuk diiringi tepuk tangan meriah.

Di sana, di ujung lorong, di depan altar... Break menunggu. Alice tertawa dalam hati saat ingat akan kejadian 'melamar' antara dirinya dan Break.


"Jack sudah menikah dengan Alyss... Lalu kamu akan menikah dengan siapa?" tanya Break jahil.

"Berhentilah bilang begitu! Kami – aku dan Alyss – bahkan belum lulus SMA, kami belum akan menikah."

"Tapi pernikahan mereka sudah terencana matang sejak setahun yang lalu kan? Tinggal tunggu waktu saja. Dan apa kamu tidak mau bersiap-siap?"

"Ha, tidak ada laki-laki yang cocok untukku!"

"...Apa kamu tidak ingin menikah, Alice?" tanya Break lagi, tiba-tiba serius.

"Tentu saja aku ingin!" balas Alice langsung. "Tapi... tidak akan ada yang mau jadi pasanganku."

"...Lalu apa yang selama ini kau lihat dari diriku, Alice?"

"Eh?" wajah Alice merona. "A—aku tidak mengerti..."

"Kamu ingin menikah, Alice? Akan kukabulkan keinginanmu."

"S—stop! Jangan lanjutkan..."

"Kenapa, Alice?"

"Jangan buat aku salah paham..."

"Aku tidak bercanda, Alice. Menikahlah denganku."

...

"Kau gila?" seru Alice, wajah merah padam. "Kau melamar muridmu sendiri?"

"Apa masalahnya? Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku."

Wajah Alice masih merah padam, dan kali ini jantungnya berdebar keras. "Hei, kurasa... Ada yang salah."

"..Apa?"

"Masa kau langsung melamar seorang gadis begitu saja?"

Sesaat Break terdiam. Melongo. Tapi ia segera paham maksud Alice, dan ia tersenyum nakal. "Baiklah, nona Alice Baskerville~ Dengan ini, aku, Xerxes Break, menyatakan bahwa aku sudah jatuh cinta padamu~"

"Pernyataan cinta macam apa itu! Dasar bodoh!"


Break menepati janjinya. Ia meminang Alice secara resmi saat gadis itu lulus sekolah. Tentunya disambut dengan suka cita oleh Sharon dan Jack, serta Alyss – sudahkah disebutkan bahwa setelah lulus sekolah, Alyss mengajak Jack untuk tinggal bersama Alice? – sampai-sampai Alice harus menahan diri untuk tidak berteriak menyuruh ketiga orang itu diam.

Kembali ke masa kini, Alice sudah sampai di depan altar. Dengan canggung ia mengambil posisi di hadapan Break, yang terus-terusan tersenyum jahil, membuat perasaan Alice tidak enak.

Prosesi pernikahan berjalan lancar, dan cincin telah dipasangkan di jari kedua mempelai. Kini tiba saat yang paling dinanti-nanti: prosesi berciuman. Setelah dipersilakan oleh pendeta, dengan lembut Break membuka cadar putih tipis yang dipakai Alice, menunjukkan wajah gadis itu yang merah padam.

"Kita sudah pernah berciuman sebelumnya, tenang saja," bisik Break ngawur.

"Tapi tidak pernah di depan umum kan!" balas Alice panik. "Break, kumohon, jangan lakukan di sini! Aku bisa mati malu!"

Senyum Break semakin berkembang. "Jawab, apa pernah aku tidak menepati janjiku untuk mengabulkan setiap permintaanmu?" Alice menggeleng, setengah tidak yakin. "Dan aku akan mengabulkan keinginanmu kali ini juga!" Tanpa peringatan Break mengangkat tubuh Alice dan menggendongnya. Lalu dengan tawa kemenangan ia berlari secepat kilat keluar gereja, meninggalkan para hadirin yang melongo.

"...EH?" gumam Jack. "Kenapa mereka kabur?"

"Alice sudah pernah bilang kan, kalau momen dalam prosesi pernikahan yang paling ditakutinya itu saat berciuman," jawab Sharon tenang. "Kurasa Break hanya 'menyelamatkan' Alice dari hal itu."

"...Pasangan aneh."

.

Benar saja, seperti kata Sharon, Break tertawa-tawa bersama Alice di halaman belakang gereja yang sepi. Mereka mengacau di acara pernikahan mereka sendiri!

Setelah puas tertawa, Break menatap Alice lembut. "Saat pertama kali bertemu, aku yakin kau bahkan tidak tahu cara tertawa."

"Memang. Yang aku tahu dulu hanya rasa sakit, bukan suka cita seperti ini."

"Kau jauh lebih cantik saat tertawa," ujar Break sembari berjalan mendekat, telapak tangannya mengusap pipi Alice perlahan – yang sangat merah, mind that, folks –.

"...Gombal."

Break terkekeh. "Tapi memang benar, Alice~ Dan aku sudah tidak sabar untuk mencicipi bibir merahmu itu~"

"Hei! Dasar guru mesum—"

Tak ada gunanya melawan, bibir Break sudah menempel di bibirnya, dan ia menariknya ke dalam pelukan hangat yang seolah tak berujung. Dan saat ia akhirnya melepaskan tubuh Alice, gadis itu tertawa pelan.

"Dasar tidak mau rugi."

"Tentu saja," jawab Break seraya menggandengnya kembali ke gereja, di mana para undangan menyoraki kedatangan mereka.


FIN


...oke, waktu bikin cerita ini dulu, saya sedang suka dengan adegan kissing. Sorry *swt*

Dan... entah apa yang merasuki saya sampai-sampai bikin happy ending yang nggak nyambung gini. Tapi tetep, semoga para readers menyukainya~!

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan review~