-•-•-•- -•-•-•-
"NEIN"
A "BoBoiBoy" fanfiction by kurohimeNoir
Commission for Roux Marlet
Disclaimer: Monsta©
-•-•-•- -•-•-•-
.
.
.
.
.
NEIN
Epilog
.
.
.
.
.
"BoBoiBoy!"
Pemuda itu menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Tampaklah sosok Gopal yang tergopoh-gopoh masuk, lalu mendekati satu-satunya ranjang di ruangan yang nyaris serba putih itu. BoBoiBoy yang sedang dalam posisi duduk, agak terkejut saat Gopal tampaknya hendak melompat memeluknya. Namun, segera dicegah oleh Fang.
"Hei, BoBoiBoy masih sakit. Jangan sembarangan memeluk dengan tenagamu yang kayak kingkong itu. Bisa remuk dia."
BoBoiBoy hanya tersenyum samar. Sementara, Yaya dan Ying pun menyusul masuk.
"BoBoiBoy, udah merasa lebih baik hari ini?" tanya Ying.
"Kamu beneran udah boleh pulang besok?" Yaya ikut bertanya. "Nggak mau istirahat dulu di sini sampai kondisimu lebih baik?"
BoBoiBoy menatap keempat sahabatnya satu per satu. Sekali lagi, ia tersenyum, ingin menenangkan mereka. Ia lantas mengetik sesuatu pada aplikasi Notes di ponsel miliknya yang sedari tadi ia genggam. Kemudian menunjukkannya kepada Fang dan yang lain.
Aku ingin pulang secepatnya.
Keempat kawan BoBoiBoy saling bertukar pandang. Sampai detik ini pun, mereka masih belum terbiasa dengan kondisi ini. Namun, mereka tetap bersyukur semuanya sudah berangsur-angsur membaik.
Masih jelas di dalam ingatan Fang, Yaya, Ying, serta Gopal, betapa syoknya mereka ketika tiba-tiba mendapatkan telepon dari pihak kepolisian. Fang yang dihubungi, karena nomornya lah yang ada di daftar panggilan terakhir di ponsel BoBoiBoy. Sedangkan sang pemilik ponsel, ditemukan tak sadarkan diri di sebuah gang sepi.
Setelah itu, BoBoiBoy dibawa ke rumah sakit, dan mengalami koma hingga sembilan hari. Ketika tersadar, ia sudah dalam kondisi kehilangan suaranya. Dan saat ditanya, BoBoiBoy—melalui tulisan—mengaku tidak ingat apa yang telah terjadi.
"Oh iya, orang tuamu gimana?" tanya Gopal tiba-tiba. "Waktu itu kami nggak bisa mengabari keluargamu, soalnya nggak ada yang tahu kontak mereka. Nomor teleponnya yang ada di daftar kontak ponselmu juga susah dihubungi."
"Kamu bilang mau menghubungi mereka lewat email, 'kan?" sambung Ying. "Apa udah ada kabar?"
BoBoiBoy mengangguk pelan. Tak lama setelah siuman, ia memutuskan untuk mengontak ayahnya, setelah selama ini inisiatif untuk menghubungi duluan selalu datang dari orang tuanya. Itu pun biasanya BoBoiBoy hanya menanggapi dengan singkat.
Saat memikirkannya sekarang, ia berpikir, apakah dirinya selama ini terlalu dingin dan menjaga jarak dari orang tuanya sendiri? Padahal, ketika diberi tahu bahwa dirinya masuk rumah sakit dan kehilangan suara, BoBoiBoy bisa melihat ayahnya panik. Meskipun hanya lewat surel.
Bayangan dari 'dunia lain' itu tiba-tiba melintas di benak BoBoiBoy tanpa permisi. 'Masa depan baru' ketika 'dirinya yang lain' menangisi sang ayah yang terluka parah di pelukannya. BoBoiBoy tidak tahu, apakah saat itu sang ayah masih bernapas atau tidak. Dia hanya berharap dengan sepenuh hati, bahwa garis takdir di dunia itu benar-benar sudah kembali seperti semula, sebelum ia merusaknya.
Omong-omong, BoBoiBoy memang mengatakan kepada semua orang bahwa ia tidak ingat apa yang terjadi. Lagi pula, siapa yang akan percaya andai ia menceritakan kejadian sesungguhnya? Namun, ia mengingat semuanya. Termasuk tentang Kaizo.
Tatapan BoBoiBoy jatuh kepada Fang. Mengingat Kaizo, ia jadi bertanya-tanya, bagaimana keadaannya sekarang? Kaizo sudah terperangkap di dalam dimensi kacamata hitam itu lebih lama daripada dirinya. Sedangkan ia sendiri telah koma selama sembilan hari dan sekarang kehilangan suaranya. Apakah ini adalah 'bayaran' yang diminta oleh kacamata terkutuk itu? Apakah mungkin Kaizo mengalami sesuatu yang lebih buruk?
"Kenapa, BoBoiBoy?"
Pertanyaan Fang memutus angan BoBoiBoy yang mengembara. Dilihatnya adik Kaizo satu-satunya itu tengah menatapnya penuh selidik. Mungkin ia heran karena terus dipandangi sejak tadi. BoBoiBoy pun menggeleng pelan, lantas mengetik di ponselnya.
Ayah dan ibuku sedang berada di Jerman. Sekarang ini belum bisa kembali ke sini.
Kawan-kawan BoBoiBoy bertukar pandang setelah membaca dua kalimat di layar ponsel pemuda itu.
"Oh iya, kamu pernah cerita ya dulu," komentar Yaya. "Ayahmu duta Malaysia untuk PBB, 'kan?"
"Jadi," Fang menyambung, "sekarang beliau sedang bertugas di Jerman?"
BoBoiBoy mengangguk. Lantas mengetikkan sesuatu kembali.
Rencananya, aku ingin menemui orang tuaku di sana. Kalian mau ikut?
Keempat muda-mudi itu terdiam setelah membaca kalimat BoBoiBoy. Perlu sekian detik hingga ekspresi kaget akhirnya memenuhi wajah mereka.
"Apa?!" Gopal yang pertama kali bereaksi. "Ke-Ke Jerman?!"
"BoBoiBoy," ujar Ying. "Kamu belum lama sadar dari koma, lho. Masa' udah mau bepergian ke luar negeri?"
Bukan sekarang, tapi nanti kalau kondisiku sudah pulih.
Demikian BoBoiBoy mengetik di ponselnya. Dilihatnya teman-temannya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku nggak masalah, sih," Fang menyahut kemudian.
"Kalau aku," kata Yaya, "harus minta izin dulu sama ibuku."
"Aku juga," sambung Ying, "harus kasih tahu mamaku dulu."
"Appa aku pasti setuju, sih," kata Gopal. "Tapi ... ntar ongkosnya dibayarin, 'kan?"
Yaya, Ying, dan Fang melayangkan tatapan datar kepada pemuda berdarah India itu. Sementara BoBoiBoy tertawa tanpa suara.
Jangan khawatir. Semua biaya aku yang menanggung.
Gopal bersorak, mengundang Fang untuk menggeleng sambil memutar bola mata. Yaya dan Ying saling pandang dalam senyuman.
"Tapi, BoBoiBoy," kata Yaya kemudian. "Ada angin apa tiba-tiba kamu ingin pergi ke Jerman?"
BoBoiBoy berpikir sejenak sebelum mengetik di ponselnya. Lantas menunjukkannya kepada Yaya dan yang lain.
Sudah lama aku nggak ketemu ayah ibuku. Aku pikir, mereka khawatir setelah mendengar aku masuk rumah sakit. Bahkan sampai kehilangan suara.
"Begitu, ya," komentar Fang. "Kamu nggak ingin mereka terus kepikiran."
"Memangnya ... mereka masih lama harus stay di Jerman?" tanya Ying.
BoBoiBoy hanya mengangkat bahu. Setelah itu, keempat kawannya ramai berbincang tentang perjalanan mereka ke Jerman. Kapan kira-kira mereka akan berangkat. Apa saja yang perlu dibawa. Tempat-tempat mana saja yang ingin mereka kunjungi. Antusiasme yang membuat BoBoiBoy jadi lebih bersemangat daripada sebelumnya.
"Lagi pula, seru juga kalau sekali-sekali kita bisa liburan bareng," Ying berucap riang. "Ya, 'kan, BoBoiBoy?"
Yaya tertawa kecil. "Sesekali nggak apa-apa, 'kan, kalau kita bersenang-senang bersama."
"Uish! Sekalinya ngajak liburan, langsung ke Eropa. Gratis, pula," kata Gopal. "Anak duta memang beda!"
"Harus banget, ya, terus-terusan ngomongin soal gratis?" cibir Fang.
Keempat sahabat itu terus bersenda gurau, bercengkerama menemani BoBoiBoy hingga tiba jam makan siang. Mereka pun memberi tahu BoBoiBoy bahwa sore ini band mereka akan tampil di sebuah acara kampus. Sedikit ragu, BoBoiBoy menyampaikan pemikirannya kepada kawan-kawannya lewat tulisan.
Teman-teman, kalian nggak mau cari vokalis baru?
Pertanyaan itu menyentak Fang, Yaya, Ying, dan Gopal. Mereka pun saling pandang, sebelum akhirnya kompak menatap BoBoiBoy sambil tersenyum.
"Kami masih terus percaya dan berdoa," sahut Yaya, "suaramu pasti akan kembali!"
"Betul!" Gopal menyambung. "Kamu harus yakin, BoBoiBoy!"
"Lagian, masih ada aku yang bisa menggantikanmu sebagai vokalis," kata Fang. "Makanya, cepatlah kembali, atau kepopuleranmu akan kurebut."
"Ish, kamu ini, Fang." Ying mencibir sejenak, tapi kemudian tertawa kecil, diikuti yang lain. "Sementara itu, BoBoiBoy, kamu bisa main gitar. Jadi tukeran posisi, gitu, sama Fang. Dan tetap jadi komposer terbaik band kita yang nggak ada duanya!"
Ucapan teman-temannya membuat mata BoBoiBoy berkaca-kaca haru. Ia pun tersenyum, berpikir betapa beruntung dirinya bisa dipertemukan dengan mereka.
"Omong-omong soal itu," kata Ying lagi. "Kamu masih ngerjain lagu terbaru kita?"
Gadis berkacamata bulat itu mengerling ke arah kertas partitur yang tergeletak di atas ranjang, tepat di samping BoBoiBoy. Pemuda itu tersentak samar, lantas tersenyum sekali lagi. Diambilnya kertas itu, kemudian diberikannya kepada Fang yang berada paling dekat di sampingnya.
"Oh, sudah selesai?" komentar Fang sambil menerima partitur itu.
BoBoiBoy hanya mengangguk. Fang mempelajari lagu itu sebentar, sebelum akhirnya tersenyum tipis. Sementara BoBoiBoy kembali sibuk dengan ponselnya, mengirimkan sesuatu melalui grup chat band mereka.
"Ini lagu yang bagus," kata Fang kemudian. "Aku nggak sabar untuk memainkannya."
Tepat pada saat itu, fail yang dikirimkan BoBoiBoy telah sampai kepada kawan-kawannya. Mereka pun segera membuka ponsel masing-masing setelah mendapatkan notifikasi pesan masuk.
"Waah ... liriknya juga sudah jadi!" seru Yaya.
Ying pun menyambung antusias. "Eh? Kamu bikin liriknya dalam dua bahasa? Ada versi bahasa Melayu, satunya lagi bahasa Inggris."
"Hmm ... Liriknya juga bagus," komentar Fang.
"Keren!" Gopal ikut heboh. "Memang terbaik lah, BoBoiBoy!"
Tanggapan penuh semangat dari teman-temannya membuat BoBoiBoy merasa senang. Ia masih terus tersenyum hingga mereka berpamitan. Dan rupanya, kegembiraannya hari itu masih belum selesai. Sedikit mengejutkan bagi BoBoiBoy, ketika tiba-tiba mendapatkan notifikasi pesan pribadi dari akun media sosial miliknya. Lebih terkejut lagi saat melihat pesan itu ternyata dari ayahnya. Biasanya, sang ayah sangat jarang aktif di medsos.
Penasaran, BoBoiBoy segera membuka pesan tersebut. Matanya seketika membulat ketika membacanya.
Nak, Ayah sudah menemukan orang yang kamu cari.
-•-•-•- -•-•-•-
BoBoiBoy dan kawan-kawan meregangkan tubuh sejenak begitu menginjakkan kaki di lobi bandara. Perjalanan udara berjam-jam membuat mereka letih. Ditambah jet lag karena perbedaan zona waktu antara Malaysia dan Jerman, tepatnya di ibu kota, Berlin.
Untunglah, hanya perlu menunggu sebentar, mereka telah dijemput. Sesuai yang dijanjikan, ayah BoBoiBoy sendiri yang datang bersama sang istri. BoBoiBoy terpaku saat mendengar namanya dipanggil oleh dua suara yang sangat familier, sekaligus dirindukannya. Ia hanya mematung ketika kedua orang tuanya sudah berada tepat di hadapannya.
Suasana canggung menyelimuti orang tua dan anak yang sudah lama tak bersua itu. Di belakang BoBoiBoy, keempat kawannya pun hanya saling berpandangan dalam diam. Sedangkan BoBoiBoy sendiri teringat banyak hal dari masa lalu. Lalu, di luar kehendaknya, kilasan kejadian dari dimensi lain itu pun kembali menghantui. Saat 'dirinya yang lain' harus menangisi ayahnya yang penuh luka di dalam pelukan.
Sekelumit desir menyakitkan melintas di dada BoBoiBoy. Rasa takut yang tiba-tiba, bercampur dengan kerinduannya sendiri, memicu air mata mengalir tanpa suara. Tanpa BoBoiBoy bisa mencegahnya. Ibu dan ayahnya yang melihat itu pun cepat-cepat mendekat.
"Nak, ada apa?" sang ibu bertanya cemas sembari meraih wajah putranya. "Kamu tidak enak badan? Ada yang sakit?"
BoBoiBoy hanya bisa menggeleng. Bermacam-macam emosi bercampur aduk di dalam dirinya. Mencipta sesak yang tak mudah dilegakan di dalam dadanya. BoBoiBoy membuka aplikasi Notes di ponselnya, mencoba menuliskan sesuatu walau air mata membuat pandangannya kabur. Bagaimanapun, ada hal yang ingin dan harus disampaikannya.
Ayah, Ibu, maaf. Waktu itu, aku pernah bilang benci pada Ayah dan Ibu. Aku sudah menyakiti hati kalian.
Dua pasang mata Amato dan istrinya pun berkaca-kaca ketika membaca kalimat demi kalimat di layar ponsel putra tunggal mereka. Keharuan makin menyeruak tatkala BoBoiBoy menambahkan satu kalimat lagi.
Aku rindu Ayah dan Ibu.
Sang ibu merengkuh putranya ke dalam pelukan. Isak tangis pun tak tertahankan. BoBoiBoy membalas pelukan hangat sang ibu, disusul Amato yang memeluk istri dan anaknya sekaligus. Air mata BoBoiBoy pun terus mengalir. Mengapa butuh waktu selama ini? Mengapa ia baru menyadari bahwa kehangatan keluarga yang dirindukannya itu sesungguhnya begitu dekat di dalam jangkauan?
"Ayah dan Ibu juga sangat merindukanmu, Nak," ujar Amato begitu mereka melepaskan pelukan. "Maafkan Ayah, selama ini tidak bisa selalu ada untukmu."
"Satu hal yang harus kamu ingat, anakku," sang ibu menyambung. "Ibu dan Ayah selalu menyayangimu."
Sang ibu kembali memberikan satu pelukan singkat. Sementara Amato menepuk bahu putranya. Setelah itu, mereka pun meninggalkan bandara. Meskipun harus sedikit berdesakan di dalam mobil Amato, atmosfer kegembiraan menyelimuti mereka semua.
"Paman Amato, setelah ini kita langsung ke hotel tempat kami menginap?" tanya Yaya.
"Oh, tentu Paman akan mengantar kalian ke sana," Amato menyahut dari balik kemudi. "Tapi, sebelum itu, kita mampir dulu ke suatu tempat."
Hanya BoBoiBoy yang mengulum senyum, sementara keempat kawannya saling pandang dengan sorot mata bertanya-tanya.
"Memangnya, kita mau ke mana?" Fang bertanya mewakili teman-temannya.
"Kebetulan di Berlin ada seorang warga negara Malaysia yang sedang membutuhkan bantuan, jadi pihak kedutaan yang mengurusnya. Paman juga ikut membantu," Amato menjelaskan. "Singkatnya, dia ditemukan tak sadarkan diri di sebuah gang sepi, lalu dibawa ke rumah sakit. Setelah sempat koma selama dua bulan, dia siuman beberapa hari yang lalu dalam keadaan hilang ingatan. Satu-satunya identitas yang bisa ditemukan padanya adalah bahwa dia warga negara Malaysia. Dia seorang pemuda berusia 28 tahun. Namanya ... Kaizo."
"Ya ampun, kasihan sekali," komentar Yaya prihatin.
"Berarti sekarang Paman mau melihat keadaannya di rumah sakit?" tanya Ying.
"Iya, betul. Kalian tunggu sebentar di mobil, tidak apa-apa, 'kan? Tidak akan lama, kok."
"Iya, Paman."
Saat tak seorang pun memperhatikan, BoBoiBoy memandang ke arah Fang. Dilihatnya, Fang sedikit menunduk. Kedua tangannya mengepal di pangkuan, bergetar samar. Ekspresinya tampak gelisah, sekaligus cemas.
"Paman Amato," akhirnya Fang memutuskan untuk bicara. "Apa boleh ... saya ikut melihat orang itu?"
"Oh ... Iya, boleh saja, tapi ... kenapa?"
Fang ragu sedetik. "Saya punya ... kenalan ... yang namanya sama. Jadi saya ingin memastikannya."
"Begitu ... Baiklah. Kalau benar dia kenalanmu, Paman akan sangat terbantu."
Perjalanan ke rumah sakit yang dimaksud oleh Amato memakan waktu hingga lima belas menit kemudian. BoBoiBoy melihat Fang tampak makin gelisah. Kegelisahan itu terus bertambah, dan mencapai puncaknya ketika mereka telah tiba di ruang rawat inap. Pada akhirnya, hanya ibunda BoBoiBoy yang menunggu di mobil. Ying berkata ingin menemani Fang. Yaya dan Gopal pun akhirnya ikut. BoBoiBoy sendiri, tentu saja ikut, karena dia pun ingin melihat keadaan Kaizo setelah semua insiden yang mereka lalui bersama.
"Fang," Amato berkata saat melihat pemuda itu tetap terdiam di depan pintu kamar. "Kita masuk sekarang?"
Fang hanya mengangguk pelan. Ia masuk lebih dulu, diikuti BoBoiBoy dan ayahnya. Ying dan yang lain pun mengikuti, kemudian berdiri mengawasi di dekat pintu masuk. Mereka semua serempak membiarkan Fang maju sendiri, mendekat perlahan ke arah tempat tidur rumah sakit.
Di sana, tampak seorang pria muda berambut biru jabrik, tengah duduk sembari menatap jauh ke luar jendela kaca. Dilihat dari samping, tampak kemiripannya dengan Fang. Ia pun memiliki sepasang mata beriris merah yang sama persis dengan milik Fang.
Sementara itu, Fang telah merasakan detak jantungnya menguat sejak memasuki ruangan itu. Matanya berkaca-kaca ketika melihat orang yang disebut bernama Kaizo itu tepat di hadapannya. Disinari mentari pagi yang menerobos masuk melalui jendela, sosok itu tampak rapuh. Dada Fang terasa sesak. Ia tercekat sebelum satu kata itu mampu terucap, hingga dirinya harus mati-matian menguatkan diri.
"A ... Abang?"
Suara Fang bergetar ketika kata itu akhirnya terlontar. Kaizo tersentak pelan, lantas menoleh. Saat melihat Fang, matanya membulat sejenak.
"Kamu ... siapa?" tanyanya.
Fang mengepalkan kedua tangan. Hatinya begitu pedih. Namun, dikuatkannya diri untuk terus mendekat hingga tepat di sisi ranjang. Selama itu, tatapan Kaizo tak sedetik pun teralih darinya. Hati Fang kembali tergetar. Matanya memanas ketika melihat Kaizo tiba-tiba meneteskan air mata. Tanpa suara.
"Apa ...?" Kaizo berusaha menghapus air matanya, tapi cairan bening itu tak mau berhenti mengalir. "Kenapa—"
Ucapan Kaizo terputus oleh Fang yang tiba-tiba memeluknya. Kaizo terpaku, masih menangis dalam diam, tetapi tidak menolak pelukan Fang yang entah mengapa terasa begitu hangat dan nyaman.
"Abang ... Ini aku, Fang. Adikmu." Pemuda itu menarik napas, mencoba menenangkan diri. "Abang jangan khawatir. Mulai sekarang, aku yang akan merawat Abang."
Kaizo membalas pelukan Fang perlahan, lantas memejamkan mata. Yaya dan Ying, juga Gopal, sudah ikut menangis sejak tadi. BoBoiBoy pun sempat berkaca-kaca. Namun, ia lega sudah berhasil mempertemukan Fang dengan abangnya.
BoBoiBoy menatap ayahnya, tepat pada saat Amato juga menoleh ke arahnya. Keduanya tersenyum. BoBoiBoy memang sengaja meminta bantuan sang ayah agar pertemuan kembali abang dan adik ini seolah-olah tidak disengaja. Di tengah-tengah suasana haru, BoBoiBoy mengucapkan tiga kata dengan tulus kepada ayahnya walau tanpa suara.
Terima kasih, Ayah.
-•-•-•- -•-•-•-
Dua hari kemudian, BoBoiBoy dan keempat kawannya berjalan-jalan bersama menyusuri kota Berlin. Agak sulit membujuk Fang untuk keluar sejenak dari rumah sakit tempat abangnya dirawat. Namun, pada akhirnya pemuda itu setuju, karena di hari sebelumnya, ia sudah tidak ikut dalam acara jalan-jalan mereka ke beberapa tempat wisata.
"Waah ... Tempat ini indah, ya!" Ying berseru penuh semangat ketika mereka berjalan-jalan santai di taman kota.
"Sesekali kayak gini menyenangkan juga," kata Yaya.
"Udah lama kita nggak hang out bareng kayak gini, 'kan," Gopal menambahkan. "Tapi capek juga, ya. Gimana kalau istirahat dulu?"
"Yaelah, baru juga jalan sebentar," sahut Ying.
BoBoiBoy tersenyum selama kawan-kawannya berbincang dan bersenda gurau. Ia pun menatap Fang. Dilihatnya, pemuda itu masih tampak muram. Bukan hanya BoBoiBoy, teman-temannya yang lain pun menyadarinya.
"Eh, teman-teman, lihat!" Yaya menunjuk ke satu tempat tiba-tiba dengan wajah ceria. "Ada pertunjukan kecil di situ!"
BoBoiBoy dan yang lain mengikuti arah yang ditunjuk Yaya. Tampak dua orang gadis tengah bernyanyi sambil bermain gitar dan keyboard. Mereka pun ikut mendekat, menikmati musik bersama para penonton dadakan yang lain. Tak lama, konser kecil itu pun berakhir, disusul tepuk tangan dari penonton.
"Teman-teman, aku punya ide!" kata Yaya tiba-tiba. "Sebentar, ya?"
Yaya berlari kecil menghampiri kedua gadis itu, meninggalkan teman-temannya yang saling pandang penasaran. BoBoiBoy mendengar Yaya berbicara dengan bahasa Inggris, untuk meminjam alat musik kedua gadis itu, dan mereka setuju.
"Kamu ingin kita perform di sini?" tanya Fang setelah ia dan yang lain menyusul Yaya.
"Betul sekali!"
"Oh! Aku tahu!" seru Ying antusias. "Kita mainkan lagu baru itu aja, yang versi bahasa Inggrisnya. Biar aku yang main gitar, Yaya di keyboard, dan Fang yang nyanyi. Gimana?"
"Dey! Terus aku sama BoBoiBoy jadi obat nyamuk, gitu?"
BoBoiBoy hanya tersenyum. Ia duduk di bibir kolam air mancur, tepat di belakang mereka. Gopal pun akhirnya mengikuti, lalu duduk di sebelah BoBoiBoy. Persiapan Yaya, Ying, dan Fang, selesai dengan cepat. Setelah itu, Fang mulai memperkenalkan band mereka dalam bahasa Inggris kepada orang-orang yang berada di sekitar sana.
"Alright, then! Please enjoy our brand new song: NEIN."
Fang mengerling kepada Yaya dan Ying. Kedua gadis itu mengangguk, lantas mulai memainkan intro yang segera menarik perhatian orang-orang untuk berkumpul. Gopal mulai bertepuk tangan dalam ketukan berirama, menggantikan fungsi drum. Sementara BoBoiBoy, sang pencipta lagu, memejamkan mata. Merasakan kebersamaan dengan kawan-kawannya di dalam satu lagu itu.
Tak ada satu pun di antara mereka yang menyangka, akan mementaskan lagu itu pertama kali di negeri yang begitu jauh. Namun, di sinilah mereka sekarang. Intro yang indah dari Yaya dan Ying berakhir, lantas memasuki melodi lagu. Mengiringi suara Fang yang mengalun merdu, membawakan lagu milik mereka di bawah langit Berlin yang biru.
Misery happens all the time in this ninth reality
But I won't deny this life where I met you
Is it okay for me to be loved?
To be honest, I'm scared of being betrayed
But even then, I've decided to love the world
So I'll sing till my last breath
Nein
Don't deny us, we are all weak
Nein
But that's why we suffer
And our pain can lead to something new
.
.
.
.
.
TAMAT.
.
.
.
.
.
Side Note from Roux Marlet:
Cuplikan lagu di bagian terakhir adalah bagian dari lagu "Saihate no L" atau "L of the Farthest End" versi bahasa Inggris yang dibawakan oleh Sound Horizon, lagu terakhir dalam album kesembilan mereka, NEIN.
Epilog cerita ini diikutsertakan dalam event #BBBFangBirthMonth2023 Day 30 – Apart! Terima kasih pada penyelenggara Far_happiness di Twitter!
Akhir kata, terima kasih sudah membaca sampai sini!
[12.04.2023]
