Suara pijakan kaki terdengar ditiap dahan pohon.

Lajunya terpaan angin menunjukan seberapa laju gerakan Itachi.

Tanpa membuang-buang waktu sedikitpun Itachi dengan hati-hati memilih jalan yang sekiranya telah dilewati oleh Izumi dan dua temannya.

Itachi mengaktifkan Sharingan miliknya, dan terus melompati beberapa pohon menjulang didepan.

Pijakannya terhenti ketika melihat sosok Izumi tengah berdiri tegap didepan sana.

Seolah sosok tersebut sengaja menunggu kedatangannya.

"Itachi" ujar Izumi.

Iris mata Izumi pun berubah menjadi sebuah Sharingan.

"Kau benar-benar telah berubah" ucap Itachi.

Dengan gerakan perlahan Itachi mengeluarkan sebuah pedang.

Izumi sempat terpaku.

"Aku berubah karena keinginanku sendiri" sahut Izumi.

"Tetapi perubahanmu sangat merugikan orang lain" ujar Itachi.

Lalu bergerak menyerang Izumi yang terlihat siap siaga.

Itachi melesat kearah Izumi, dengan gerakan secepat kilat Itachi mengayunkan pedangnya kearah Izumi.

Namun mampu ditepis dengan sangat baik oleh Izumi, hingga kini terdengar suara gesekan pedang yang menggema.

Suara mata pedang yang saling beradu dengan sengit menunjukan bahwa kedua orang tersebut sedang bertarung dengan sangat serius.

Hingga pertarungan tersebut terhenti oleh kekalahan Izumi yang kini jatuh terhempas disebuah pohon.

Terlihat luka sayatan menghiasi sepanjang tangannya.

"Sebesar itu kah cinta mu pada wanita itu?" Izumi bersiap akan menyerang Itachi.

"Ini tidak ada hubungannya dengan dia" sahut Itachi yang juga bersiap menyerang Izumi.

Namun gerakan Itachi terhenti ketika Izumi membuat sebuah segel.

Itachi melepas pedangnya, dan dengan gerakan cepat membuat segel yang sama.

"Katon Gokakyu No Jutsu!" ujar mereka secara bersamaan.

Hingga muncul kobaran api yang sangat besar, dan saling menyerang satu sama lain.

Itachi menghentikan jurusnya.

Ia memusatkan sebelah matanya untuk mengaktifkan Mangekyo Sharingan.

"Amaterasu"

Tak berapa lama kobaran api hitam melesat menggantikan Jutsu sebelumnya.

Dalam sekejap berhasil melahap habis Jutsu Katon milik Izumi.

Izumi pun dengan gesit menghindar dan melarikan diri, hingga api hitam tersebut mengenai dan berhasil membakar habis pohon disekitar.

Itachi meraih pedangnya, dan tanpa memberi waktu sedikitpun, setelah mengetahui posisi Izumi, Itachi melesat bagai angin dan bergerak menyerang Izumi tanpa ampun.

SLASH!

Mata pedang Itachi dan Izumi saling bergesekan, menyebabkan pandangan mereka berdua saling bertemu.

"Lalu kenapa kau ingin membunuhku?" tanya Izumi sinis.

"Kau membuat kegaduhan, sehingga menimbulkan perspektif buruk pada klan Uchiha" sahut Itachi.

Itachi kembali mengaktifkan Mangekyou Sharingan dan melancarkan Genjutsu Tsukuyomi pada Izumi.

Target Itachi berhasil, sesuai keinginannya tubuh Izumi kini jatuh terhempas kebawah.

Dengan gerakan sigap Itachi mendekati Izumi dan bersiap menghunuskan pedang nya.

Namun gerakan Itachi terhambat ketika Tsukuyomi miliknya berhasil dipatahkan oleh Izumi.

Kini Izumi membangkitkan kekuatan besar yang menjadi ciri khas pengguna Mangekyo Sharingan.

Itachi pun melakukan hal serupa, hingga kini dua monster besar yang menjadi legenda kekuatan Uchiha tersebut saling berhadapan.

Tidak ada kata-kata yang keluar, lewat tatapan mata mereka mengerti apa yang ada dalam hati masing-masing.

Susanoo milik Itachi berubah pada mode sempurna.

Melihat hal tersebut Izumi pun melakukan hal yang sama.

Pandangan mata nya menatap tidak percaya, Itachi benar-benar serius melawannya.

Ia memahami bertarung melawan Itachi adalah hal yang sia-sia, karena kekuatan Itachi bukanlah tandingannya.

Kelopak mata Izumi memejam.

Hari ini adalah hari terakhir dirinya menghirup udara kehidupan.

Karena sebentar lagi hidupnya akan berakhir ditangan pria yang dianggapnya sebagai teman, sahabat, kakak dan seorang yang sangat ia cintai.

.

.

.

.

Itachi bergerak menyerang Izumi, begitu pula dengan Izumi.

Hingga kini kekuatan besar yang menjadi wadah pelindung tersebut bertarung dengan sangat sengit diatas udara.

Tak menunggu waktu lama, serangan Izumi tertahan oleh perisai legendaris milik Itachi.

Izumi mengetahui benda itu, orang-orang menyebutnya dengan Yata No Kagami.

Kemampuan dari benda itu diketahui dapat memblokade jenis serangan apapun.

Kekhawatiran yang sempat melanda Izumi akhirnya terjawab, dirinya bukanlah lawan yang sepadan untuk Itachi.

Tak berapa lama Izumi bersama Susanoo miliknya tumbang, hingga kini jatuh terhempas kebawah.

Itachi datang dari arah udara menerjang Izumi dengan pukulan keras hingga menyebabkan suara hantaman keras yang lebih menggema.

DUARR!

Kini kekuatan besar yang melingkupi Izumi telah sirna sepenuhnya.

Hanya menyisakan Izumi yang berusaha bangkit sembari memuntahkan darah dari mulutnya.

Itachi menatap wanita didepannya dengan ekspresi sedih.

Dengan gerakan perlahan Susanoo miliknya meraih tubuh Izumi dan menggenggamnya.

"Sumanai" ujar Itachi, lalu menghunuskan pedang Totsuka ketubuh Izumi.

Jleb!

Mata Izumi terlihat membelalak, pandangannya kini menatap Itachi.

"Maafkan aku.." ujar Izumi sebelum kemudian terhisap kedalam guci.

Itachi pun terdiam kaku.

.

.

.

.

"Apa wanita itu sudah mati?" tanya sebuah suara.

Seseorang yang diajak bicara hanya diam memperhatikan.

Merasa ada yang datang Itachi pun menoleh.

TAP TAP

Dua orang yang lain datang, dengan menggunakan jubah yang sama seperti dua orang sebelumnya.

TAP TAP

Kemudian dua orang lain pun berdatangan menggunakan jubah yang sama.

Itachi menduga beberapa orang yang datang merupakan anggota organisasi yang diikuti oleh Izumi.

Dan Itachi memastikan jika kedatangan orang-orang tersebut adalah untuk menyerangnya.

TAP TAP

SHUUT!

"Itachii!" panggil sebuah suara yang ternyata berasal dari seorang Anbu.

"Zo?" gumam Itachi heran.

"Taicho menyuruhku untuk menyusul mu" jawabnya.

Itachi bergerak waspada, khawatir orang-orang dihadapannya menyerang secara tiba-tiba.

"Aku akan menangani masalah ini, kau pergilah" suruh Itachi.

"Tidak, aku akan membantumu"

"Ternyata hanya dua orang bodoh" ujar sebuah suara dengan sebuah senjata dengan tiga mata runcing yang bertengger ditangan kanannya.

Itachi dan Zo menengok sekeliling mereka yang telah dikepung.

"Lagi-lagi Sharingan! Aku membenci mata itu!" ujar seseorang yang tengah berdiri dipohon lain.

Itachi memperhatikan gerak gerik beberapa musuh yang mengelilingi mereka.

Merasa dirinya berada ditengah bahaya Itachi pun kembali menggunakan Susanoo miliknya.

"Mereka sudah siap!" ujar seseorang yang memegang senjata.

"Hiyaaa!"

ZLAT

JLEBB KRASSSH!

Zo menggeleng tidak percaya, serangan yang datang benar-benar diluar nalar.

Namun yang membuat Zo kagum adalah, serangan tersebut tidak berdampak apa-apa pada Susanoo milik Itachi.

ooOoo

Ino berhenti melangkah ditaman Senju, lama berpikir akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam.

Ia ingin menenangkan diri disini, siapa tahu tempat ini bisa memberinya inspirasi untuk menangani masalahnya.

Sembari melangkah kedua tangannya bergerak merapatkan baju tebal yang digunakannya, ia merasa menggigil tiap terkena sapuan angin.

Mungkin karena pengaruh dari sesuatu yang sedang bersemayam didalam tubuhnya.

"Hah~" Ino menghela nafas.

TAP TAP TAP

Sebuah langkah kaki terdengar, Ino memutar bola matanya.

Mendengar langkah tersebut saja Ino sudah paham apa yang diinginkan si pemiliknya.

"INOO?!" panggil sebuah suara yang sangat Ino kenal.

Ino terus melangkah.

"INOO?! HEY" pekiknya.

Ino terus berjalan tanpa menoleh.

Hingga akhirnya pemilik suara tersebut berlari dan menarik paksa bahu Ino.

"INOO?! Apa kau tuli!?" ujarnya kesal.

Ino melemparkan tatapan tajam.

"Apa kau tidak merasa bersalah setelah menipuku!?" pekik Sakura penuh amarah.

"Kenapa kau menipuku!? Apa kau tahu kami sangat khawatir dengan keadaanmu diluar sana!?" kedua bola mata Sakura memelototi Ino.

"Urusai!" bentak Ino yang membuat emosi Sakura semakin memuncak.

"NANII!?"

"KAU BODOH! HEY KALAU IZUMI SAMPAI MEMBUNUHMU DILUAR SANA BAGAIMANA?!" teriak Sakura.

"Berisik Sakura! Kau tidak mengerti masalahku! Aku bahkan tidak sempat memikirkan hal itu" sahut Ino kesal.

"Kau tidak tahu seberat apa masalah yang sedang aku hadapi!" ujarnya lagi.

Sakura diam sejenak.

"Sampai sekarang aku bingung pada siapa aku harus bercerita dan meminta tolong untuk menyelesaikan masalah ini"

Pandangan Sakura mulai melunak, ia pun mendekati Ino.

"Gomen Ne Ino, aku tidak tahu masalahmu apa. Itu semua karena kau tidak pernah bercerita padaku" ujar Sakura.

Ino menggeleng.

"Aku ragu kau bisa memberikan solusi, ini masalah rumit Sakura" ujar Ino.

Sakura menatap Ino sinis, "Memangnya serumit apa? Makanya ceritakan padaku agar aku bisa membantu"

Ino melanjutkan langkahnya, ia malas adu argumen dengan Sakura.

Tujuannya kesini adalah untuk menenangkan diri, bukan untuk mengacaukan mentalnya.

Namun langkahnya ternyata diikuti Sakura.

"Apa masalahmu berkaitan dengan Itachi?" celetuk Sakura.

"Bukan dengan dia, tapi... dia ada sedikit kaitannya" sahut Ino yang membuat Sakura menjadi bingung.

"Hah? Bukan Itachi tetapi ada kaitannya sedikit dengan Itachi?" gumam Sakura heran.

"Coba katakan dengan jelas Ino?!" desak Sakura.

Ino mendecih. "Shiranai"

"Baka!" umpat sakura kesal.

Ino melipat tangannya didepan dada sambil terus melangkah tak tentu arah.

o

o

o

o

Kini Sakura dan Ino berjalan keluar dari Taman Senju.

Mereka berdua sama-sama mengatupkan bibir.

Saat berjalan mereka berdua tidak sengaja berpapasan dengan Naruto dan Shikamaru.

"Sakura Chan? Ino? Dari mana kalian?" sapa Naruto.

"Habis berkeliling untuk mencari udara segar, kalian dari mana?" tanya Sakura balik.

"Kami baru saja bertemu dan mengobrol dengan Sasuke" ujar Naruto.

Ino memutar bola matanya.

Ia sangat hafal reaksi apa yang akan ditimbulkan oleh Sakura setelah mendengar nama Sasuke.

"Sasuke Kun? Kalian mengobrol apa saja?" tanya Sakura penasaran.

Tepat seperti dugaan Ino, semangat Sakura akan membara seperti kobaran api jika menyangkut tentang Sasuke.

"Banyak sekali" jawab Shikamaru.

"Ya banyak" timpal Naruto lagi.

"Hanya saja Sasuke sedang berduka" ujar Naruto, Sakura terlihat tertarik.

Ino pun sama tertariknya, tatapan matanya kini menuntut Naruto untuk menjelaskan makna dari kalimat akhir yang diucapkannya.

"Sasuke Kun berduka? Memang hal seperti apa yang dapat membuatnya sampai berduka?" tanya Sakura.

Ino masih betah mengatupkan bibirnya.

"Itachi.. dinyatakan tewas dalam pertempuran saat menjalankan misi" ujar Shikamaru.

Sakura, Shikamaru serta Naruto menatap kearah Ino dengan pandangan prihatin.

Ino diam membisu, lama terdiam akhirnya ia pun kembali membuka suara.

"Jadi maksudnya Itachi telah tiada?" tanya Ino tak percaya.

Merasa masih jadi bahan perhatian teman-temannya, Ino pun balas menatap kearah mereka.

"Nande?" tanya Ino bingung.

"Kabar ini benar adanya Ino" ujar Naruto.

Ino memalingkan wajahnya, lalu tertawa.

"Hahahaha!"

Shikamaru, Naruto dan Sakura saling bertatapan.

"Apa dia berubah jadi gila?" bisik Naruto pada Shikamaru.

ooOoo

1 jam telah berlalu.

Dan Ino masih betah duduk merenung sembari menyandarkan tubuhnya disebuah pohon.

Iris biru lautnya menatap intens aliran sungai didepannya.

Pikirannya sekarang sedang campur aduk, saat memijak tanah pun ia tidak merasa sedang menapak bumi.

Tubuhnya serasa melayang.

Srakk

Ino menutup kelopak matanya, sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa.

Ia ingin sendiri.

"Ino" panggil sebuah suara, dengan malas Ino menoleh.

Namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Pelaku yang memanggil tertawa pelan, "Apa kau masih marah padaku" tanyanya.

"Tidak" jawab Ino singkat.

"Oh ya, apa kau sudah mendengar kabar Itachi?"

Ino menatap lurus kedepan.

"Sudah" jawab Ino.

Shisui berdiri dihadapan Ino seraya menatap kearah langit.

Sedangkan Ino menundukkan kepalanya, ia membiarkan air mata lolos dari kelopak matanya.

Shisui kembali menoleh kearahnya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Shisui prihatin.

Ino mengangguk.

"Saat mendengar kabar itu aku hanya bingung harus bereaksi seperti apa" ujar Ino.

Shisui diam.

"Sebelum kepergiannya Itachi hanya meninggalkan kenangan buruk untukku" ujar Ino lalu menghela nafas berat.

"Jadi aku bingung, apakah harus bersedih atas kepergiannya atau masih bersedih atas sikapnya yang acuh tak acuh padaku?"

Shisui bergeming, "Jadi kedatangan mu kemari bukan untuk melepas perasaan sedih?" tanya Shisui.

Ino menggeleng sembari menghapus air mata yang masih mengalir.

"Aku sedang memikirkan solusi untuk masalahku" ujar Ino serak.

Shisui menatap Ino lama.

"Sebenarnya masalah apa yang sedang menimpamu Ino?" tanya Shisui.

"Berat" jawab Ino, Shisui menatapnya penuh tanya.

"Seberat apa?" tanya Shisui.

"Sangat berat." jawab Ino.

"Dan masalahku menjadi semakin berat ketika Itachi pergi untuk selamanya"

Syuut~

Angin berhembus hingga mengenai mereka berdua.

Cuaca diatas langit terlihat mulai berubah, beberapa menit lagi akan berganti menjadi malam.

Shisui kini ikut bersandar disebuah pohon tempat Ino menyandarkan tubuhnya.

Shisui melipat kedua tangannya.

"Kenapa kau tidak menceritakan masalahmu dengan jujur, agar orang terdekatmu bisa membantu mencari solusi"

Ino menatap Shisui sekilas, "Masalahku ini rumit" ujar Ino.

Shisui menghela nafas, "Mau sampai kapan kau akan menyembunyikan nya?" tanya Shisui.

Ino berbalik menatap Shisui.

"Aku tidak menyembunyikannya" ujar Ino setengah kesal.

"Kau tidak mengerti!" ujar Ino lantang.

Shisui pun diam, sedangkan Ino kini terlihat menyesal setelah berkata dengan nada kasar.

Ia sudah merasa jahat pada Shisui.

Semilir angin sore berhembus menerpa mereka berdua.

Shisui memutuskan untuk duduk disebelah Ino.

"Ceritakan lah padaku agar aku dapat mengerti dan membantumu"

"Apa kau yakin dapat membantuku?" tanya Ino.

Shisui menganggukan kepalanya.

"Aku akan lakukan jika tidak bertentangan dengan aturan Shinobi" sahut Shisui.

"Aku.. hamil"

Kelopak mata Shisui seketika membelalak lebar.

Cukup lama.

"Apa?!" pekiknya Shock.

"Aku sedang bingung, dan aku sudah tidak dapat berpikir" ujar Ino.

Shisui masih terdiam Shock.

"Aku semakin kehilangan arah ketika Itachi tiba-tiba bersikap dingin padaku." Ino menumpu dagunya dikedua lututnya.

"Terkadang aku berpikir untuk mengakhiri hidup dan mati saja" ujar Ino.

Shisui bersusah payah menelan liurnya, tatapan Shock nya kini menyorot Ino.

"Kenapa kau menyembunyikannya dari Itachi?" tanya Shisui seraya menggeleng tidak percaya.

"Dan kenapa baru sekarang bercerita saat orangnya sudah tidak ada?" cecar Shisui.

Ino menatap Shisui, "Bagaimana caranya bercerita pada Itachi jika saat bertemu saja dia tidak pernah menganggap aku ada!?" sahut Ino kesal.

"Aku mengerti tetapi hal ini bukan untuk dipendam sendiri!" ujar Shisui.

Ino menatap kearah lain, ia memilih diam.

"Kenapa kau diam saja diperlakukan dengan buruk oleh Itachi?! Sementara hubungan kalian sudah sejauh itu!"

Ino diam tak menjawab.

"Harusnya kau memikirkan konsekuensinya sebelum memutuskan untuk melewati batas dalam sebuah hubungan"

"Dan sekarang Itachi sudah tidak disini" ujar Shisui yang tiada henti mengomelinya.

Kesal dicecar dengan kalimat sarkastik, dengan ekspresi kesal Ino bangkit lalu mulai berjalan meninggalkan Shisui.

Namun baru sekali melangkah, Ino merasakan lengannya ditahan oleh sebuah tangan.

Ino mencoba melepaskan tangan Shisui, namun genggaman pada tangannya semakin erat.

"Jangan terus-terusan menyudutkan aku.." ujar Ino dengan mata memerah.

"Aku tidak tahu salahku apa, dia tiba-tiba saja mengacuhkan aku" ujar Ino menangis terisak.

"Saat mendengar berita kematiannya pun aku masih menyimpan perasaan sakit hati"

Tanpa diduga Shisui membawa Ino kedalam pelukannya.

Merasa baru mendapat sandaran, Ino pun menangis sejadinya dalam pelukan Shisui.

Hingga terdengar lebih keras dari sebelumnya.

ooOoo

Ino membuka pintu kamarnya lalu berjalan keruang tamu untuk mencari keberadaan ayah dan ibunya.

Kebetulan ayahnya sedang keluar kamar.

"Tousan!?" panggil Ino ragu.

Ayahnya menoleh, "Ino Ka, ada apa?" tanya ayahnya.

"Aku ingin berbicara serius dengan Tousan dan Kaachan"

Ekspresi bingung menghiasi wajah ayahnya, sembari mengangkat bahu ayahnya berbalik.

"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya ayahnya.

"Aku ingin kalian duduk, aku ingin berbicara serius"

Ayahnya menautkan alis, "Baik, panggil ibumu"

Ino diam cemberut.

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan Ino?" tanya ayahnya heran.

Ino menggigit jari telunjuknya.

Ayahnya kemudian berjalan memanggil ibunya.

Ino semakin tidak dapat menahan perasaan cemasnya, ketika Ibu dan ayahnya keluar dari kamar.

Dan sekarang berjalan menuju kursi dan duduk.

Sedangkan Ino masih berdiri dengan perasaan takut dan gelisah.

"Ino?!" interupsi ayahnya.

Ino menelan liurnya.

"Katakan apa yang ingin kau ceritakan?" desak ayahnya.

"Ino mengatakan apa tadi padamu?" tanya ibunya pada ayahnya.

"Katanya ada yang ingin dibicarakan" sahut ayahnya lagi.

Kini ibunya memandangnya.

"Apa Ino?" tanya ibunya penasaran.

Ino menarik dalam-dalam nafasnya, lalu kemudian duduk bersujud dihadapan ayah dan ibunya yang kebingungan.

"Tousan, Kaachan maafkan aku, aku sungguh menyesal telah membuat kalian kecewa."

Ayah dan ibunya saling bertatapan.

"Apa maksudnya Ino?" tanya ayah dan ibunya secara bersamaan.

"Kalian boleh mengusirku dari rumah, kalian layak memaki aku" ujar Ino lagi.

"Apa maksud dari semua kata-katamu itu?" tanya ayahnya heran.

"Aku hamil" ujar Ino.

Seketika suasana berubah hening.

Kedua orang tuanya kini diam mematung.

Ibunya terlihat menutup mata seraya menarik nafas.

"Kau apa?" tanya ibunya dengan nafas naik turun.

"Aku akan segera pergi jika kalian tidak ingin melihatku lagi" ujar Ino seraya mengepalkan tangannya

"Apa.." ayahnya menarik nafas dalam, lalu kemudian berdiri.

"Apa ini perbuatan Itachi?" tanya ayahnya melanjutkan kalimatnya.

Ino mengubah posisinya menjadi duduk, lalu menatap ayahnya, "Aku melakukannya atas dasar cinta Tousan" jawab Ino.

Ayahnya tertawa meremehkan, "Jangan jadikan cinta sebagai alasan untuk melindungi perbuatan tak terpuji kalian"

"Mulai hari ini kau tidak akan pergi kemana-mana, kau tetap dirumah!" perintah ayahnya.

Ino membuka mulutnya bermaksud ingin protes.

Namun ia urungkan ketika ayahnya memberi isyarat lewat gerakan satu jari.

"Tidak ada yang boleh membantah. Kali ini aku marah!"

o

o

o

o

"Lama tidak berjumpa Inoichi San" sapa Fugaku.

Pikiran Yamanaka Inoichi masih melayang, hingga tidak menyadari kedatangan seseorang yang sedari tadi ia tunggu.

"Ah, silahkan duduk Fugaku San" ujar Inoichi.

Fugaku pun duduk. "Ada apa kau mengundangku kemari" tanya Fugaku sembari memperhatikan area sekitar yang dikelilingi oleh kolam teratai dan pepohonan.

"Ada berita penting yang harus ku sampaikan padamu" ujar Inoichi.

Fugaku mengangguk, "Mengenai apa?" tanya Fugaku.

"Ini berkaitan dengan anakmu Uchiha Itachi" Inoichi menatap lurus kearah Fugaku.

Ekspresi Fugaku berubah sendu.

"Ah Itachi, ada apa dengan Itachi"

"Pertama aku ingin mengucapkan bela sungkawa atas peristiwa yang menimpa Itachi" ujar Inoichi.

Fugaku mengangguk.

Inoichi kembali melanjutkan kalimatnya.

"Selama sehari semalam aku tidak dapat tidur karena memikirkan masalah ini, saat pertama kali mengetahui masalah ini aku ingin menemui mu secara langsung" ujar Inoichi.

Fugaku diam mendengarkan.

"Tetapi aku khawatir hal ini akan membuatmu semakin terpuruk, apalagi setelah mendengar kejadian yang menimpa Itachi" ujar Inoichi.

"Maka aku putuskan untuk menundanya, untuk memberimu waktu" lanjut Inoichi.

Fugaku memperhatikan tiap kalimat yang dipaparkan oleh Inoichi.

"Katakanlah Inoichi San, apa pun sanksi nya aku akan menerima dengan lapang dada" sahut Fugaku dengan nada pasrah.

"Ino sedang hamil" ujar Inoichi yang membuat Fugaku terdiam.

"Aku sudah menanyakan segala hal pada Ino, dia mengaku bahwa dia dan Itachi melakukannya atas dasar cinta" Inoichi mengalihkan pandangannya.

Sedangkan Fugaku masih diam membisu.

Cukup lama hingga Fugaku mencoba membuka suara.

"Aku tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi Inoichi San" ujar Fugaku.

Fugaku menarik nafas.

"Aku meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu dan keluarga besar mu atas kejadian ini" ujar Fugaku.

"Aku mengakui tindakan Itachi salah, tetapi dari hati yang paling dalam aku meminta padamu, untuk jangan mengutuk Itachi" ucap Fugaku.

Inoichi diam termenung.

"Andai Itachi masih ada aku akan menikahkan Itachi dengan anakmu"

ooOoo

Ino berdiri didepan sebuah tanaman bunga mawar berwarna putih.

Ingatannya kini melayang ke satu momen dimana Itachi masih berhubungan baik dengannya.

Air matanya jatuh ketika mengingat momen mesra bersama Itachi.

Mawar putih ini melambangkan cinta sejati, cinta suci pada seseorang yang terkasih.

Seperti perasaan cintanya yang sangat tulus pada Itachi.

Namun sedetik kemudian ekspresi Ino berubah penuh amarah, ingatannya tiba-tiba berputar pada momen Itachi mengacuhkan dirinya.

"Kono yatsu!" umpat Ino pada angin.

Ia lalu berbalik dan melempar gunting ditangannya ke sembarang arah hingga menimbulkan bunyi keras.

DUAKK!

"Aku seperti orang bodoh menangisimu!" teriaknya pada ruang kosong.

Ino kemudian duduk dilantai, dan menyandarkan kepalanya disebuah meja.

Manik matanya memperhatikan seisi ruangan toko bunga miliknya.

Pandangannya beralih kearah pintu saat suara langkah terdengar.

Dan saat pintu terbuka Ino melihat sosok Shisui datang dengan menggunakan pakaian serba hitam.

Ekspresi Shisui tampak terkejut saat melihatnya, Ino hanya tertawa melihat Shisui yang berlari menghampirinya.

"Ino Daijoubu Ka?" tanya Shisui terlihat khawatir.

"Daijoubu Desu" sahut Ino.

"Kau tidak datang di pemakaman Itachi?" tanya Shisui.

Ino menggeleng, "Aku tidak mampu" ujar Ino lirih.

"Meski aku membencinya, tetapi hatiku tetap tidak bisa menahan kesedihan" ujar Ino dengan nada bergetar.

Ino tertawa sinis, "Dan bodohnya aku selalu menutup mata ketika mengetahui dia tidak pernah mencintaiku"

Shisui menyentuh tangan Ino.

"Jika Itachi masih ada, nasibku pasti akan sama saja meski pun dia menikahi aku" ujar Ino seraya meneteskan air mata.

"Perbedaannya hanya dia akan mendampingi statusku, tetapi aku akan menjadi orang tua tunggal selamanya"

Shisui menggeleng.

"Itachi bersikap abai karena belum mengetahui fakta yang sebenarnya" celetuk Shisui.

Ino tertawa.

"Kenapa kau terus saja membela Itachi, dan Itachi pun selalu begitu padamu" ujar Ino membiarkan air mata mengaliri pipinya.

Ino meluruskan kedua kakinya.

Shisui tersenyum, "Dalam hal apa Itachi selalu membelaku?"

"Dalam hal apapun, sepertinya dia lebih menyayangimu daripada aku" Ino menatap kearah lain.

Shisui pun tertawa, "Jangan bilang kalau kau iri padaku"

Di detik berikutnya Ino terdiam, seolah teringat oleh sesuatu Ino pun menjambak kasar rambutnya.

"Kenapa aku malah membahas dia, arrgh!" pekik Ino diakhir kalimatnya.

Tangannya kini bergerak memukul-mukul kepalanya.

Dan gerakannya tersebut dihentikan oleh Shisui yang kini memegang kedua tangannya.

"Jangan sakiti dirimu" tegur Shisui.

Ino pun diam.

"Lepaskanlah kesedihanmu" ujar Shisui.

Ino menggeleng.

"Aku hanya sedih ditinggalkan seorang diri dengan anak ini" ucap Ino sembari menghapus air matanya yang mengalir tanpa henti.

"Seharusnya aku tidak berakhir menyedihkan seperti ini" ujar Ino menahan isakannya.

"Semua terjadi ketika aku menganggap dia sebagai nyawaku" Ino kemudian melepaskan tangisannya.

Setelah beberapa menit Ino menghentikan tangisnya.

"Ino" panggil Shisui.

Ino menoleh dengan lemas.

"Nan Desu Ka.." ujar Ino dengan nada pelan.

"Izinkan aku untuk bertanggung jawab pada anakmu" ujar Shisui yang seketika membuat manik mata Ino bergetar.

Nafasnya seolah berhenti.

"Maukah kau menikah denganku?"

TBC