Ino duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya.

Dengan pandangan mata sayu Ino memandang kearah ayahnya.

"Tousan" ujar Ino memecah keheningan.

"Ada apa Ino?" tanya ayahnya.

"Kemarin Shisui melamar ku"

Inoichi dan istrinya saling memandang dengan tatapan tak percaya.

"Benarkah?" tanya ibunya, Ino mengangguk.

"Lalu apa jawabanmu" ayahnya memastikan.

"Aku menerimanya, tapi.. aku belum memberi jawaban pada Shisui" ujar Ino.

"Aku menyetujuinya." sahut ayahnya.

Ino mengangguk, "Shisui bilang akan menemui Tousan, jika aku sudah menerima lamarannya"

"Baiklah, suruh Shisui segera menemui ku"

"Hai."

ooOoo

Aneh.

Benar-benar aneh.

Sampai saat ini bahkan hatinya belum benar-benar percaya jika Itachi telah meninggal.

Ninja setangguh dia tidak akan mati dengan mudah.

Meski ia sedikit membenci Itachi dan memutuskan untuk tidak mau peduli lagi.

Tetapi tetap didalam hatinya tak bisa berhenti memikirkan pria itu.

Ino mendecih.

Maksud dirinya menerima kehadiran Shisui sebenarnya untuk membantu mengalihkan pikirannya dari Itachi.

Ia tidak mau terus-terusan dibayangi oleh pria yang mencampakkan dirinya begitu saja.

Apalagi pria itu sudah mati.

Srekk

Suara pintu terbuka, Ino menoleh kearah pintu dan ternyata yang datang adalah Shisui.

"Disini ternyata" ujar Shisui.

Ino mengerjap bingung, "Shisui Nii"

"Aku mencarimu kemana-mana, tapi ibumu menyuruhku untuk datang kesini" ujar Shisui.

"Kau sudah pulang?" tanya Ino canggung.

"Hai, sudah dari kemarin tetapi aku baru sempat mengunjungimu sekarang"

Ino mengangguk lemah, "Syukurlah kau sudah kembali dengan selamat" ujar Ino.

Shisui menyematkan senyum.

Ino mengalihkan tatapannya, "Shisui Nii"

Shisui mendekati Ino. "Hai"

"Aku bersedia menikah denganmu.." ujar Ino pelan.

"Aku sudah bertemu dengan ayahmu, saat kemarin ikut membantu menginterogasi musuh yang tertangkap" ujar Shisui.

Ino melongo, lalu mengalihkan kembali pandangannya.

Shisui meraih tangan Ino.

"Ino" panggil Shisui.

"Hai" sahut Ino.

"Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku" ujar Shisui yang kini menggenggam tangan Ino seraya menatap kedalam matanya.

Ino menekuk wajahnya.

"Tetapi yang aku inginkan darimu adalah untuk berhenti meratapi kepergian Itachi"

Shisui mengecup kedua punggung tangan Ino.

Hingga membuat kedua pipi Ino merona.

"Aku yakin Itachi tidak akan suka melihatmu terus-terusan bersedih"

Ino menggeleng, "Kata siapa aku bersedih? Aku tidak memikirkan dia"

Shisui tertawa.

ooOoo

Shikamaru, Naruto dan Neji menyaksikan ucapan janji pernikahan antara Shisui dan Ino.

Shikamaru meneguk minuman digelasnya.

"Aku tidak menyangka Ino akan menikah secepat ini? Dan yang lebih mengejutkan lagi pria yang menjadi pendamping Ino" ujar Naruto.

"Benar, setahuku Ino berpacaran dengan Itachi" ujar Shikamaru.

"Aku sering melihat Ino dan Shisui sering berduaan ditaman pinggir desa" celetuk Neji.

"Heh? Benarkah yang kau katakan Neji?" tanya Naruto.

o

o

o

o

Malam ini merupakan malam pertama dirinya dan Shisui tinggal dalam satu atap.

Ino duduk diatas tempat tidur, sembari memandang kearah luar.

Air mata mulai mengumpul di pelupuk matanya, sesungguhnya didalam hati kecilnya sangat merindukan Itachi.

Denyut nyeri di dadanya tak dapat ia tahan, ketika mengingat momen kebersamaan mereka.

Dan kini suasana hatinya mendadak berubah jadi benci ketika mengingat Itachi yang menjauhi darinya.

"Baka Yatsu!" teriak Ino pada angin.

Bibirnya mengeluarkan decihan.

Cklek!

Pintu kamar terbuka, Ino reflek menoleh.

"Ino kau baik-baik saja?" tanya Shisui.

Ino mengangguk.

Mungkin Shisui mendengar suaranya barusan, yang berteriak memaki seperti orang gila.

Ino berdeham.

"Ah kau sudah berganti baju ternyata" ujar Shisui lagi.

"Hai, kau sudah mandi?" tanya Ino, iris matanya memperhatikan rambut Shisui yang basah.

"Sudah" jawab Shisui.

"Apa kau ingin tidur sekarang?" tanya Shisui yang membuat tubuh Ino menegang.

Shisui berjongkok didepan Ino, dan melepaskan tertawaan kecil ketika melihat reaksi yang ditimbulkan Ino.

"Tidak, maksudku kalau kau sudah mengantuk, segeralah tidur. Aku akan tidur diluar saja" ujar Shisui.

Ino mengangguk ragu.

"Aku tidak akan menyentuhmu sampai kau siap" ujar Shisui.

"Baiklah aku akan tidur diluar, panggil aku jika butuh sesuatu" ujar Shisui lalu berdiri.

"Hai"

Shisui pun berbalik, lalu melangkah pergi.

Saat baru dua langkah berjalan, Ino dengan ragu mencegat lengan Shisui.

"Tidurlah disini" ucap Ino, Shisui membalikan badannya.

"Tidak apa-apa jika kau tidur disini"

Shisui menatapnya penuh tanya. "Apa kau yakin?"

Ino mengangguk.

"Baiklah" ujar Shisui.

Ino kemudian berbaring, Shisui menutup jendela, setelahnya pun ikut berbaring.

"Apa kau menyukai tinggal disini" tanya Shisui.

Ino mengangguk.

"Aku suka, rumah ini ada ditengah-tengah desa. Jadi tidak akan jauh jika mengunjungi ibuku ataupun ibumu" sahut Ino.

"Hokage Sama memberikan rumah ini padaku, setelah melewati diskusi yang panjang dengan tetua akhirnya mereka setuju."

Alis Ino berkerut.

"Tetapi dengan syarat hak kepemilikan harus atas nama Yondaime Hokage" papar Shisui.

"Kenapa?" tanya Ino.

"Shiranai, mungkin mereka takut Uchiha yang lain akan ikut pindah diarea ini"

Ino membulatkan matanya, "Kau tidak tersinggung Shisui Nii?"

Shisui tertawa pelan, "Aku sudah terbiasa mendengar kalimat tidak enak dari para tetua"

"Sou Desu Ka"

ooOoo

Ino telah lama memperhatikan nama yang terukir disebuah pusara.

Suasana hatinya sedang baik, maka ia pun menyempatkan diri untuk pergi kesini.

Walau terkadang kebencian datang melingkupi dirinya.

Tetapi setelah kebencian tersebut menguar, perasaan rindu pada pria itu pun datang lagi.

Tanpa permisi.

Hingga membuatnya berakhir disini.

"Hah~" Ino menghela nafas panjang.

Tanpa mengucapkan apa-apa, Ino pun berbalik pergi.

Namun langkah Ino terhenti ketika melihat sosok Sasuke tengah berdiri dihadapannya.

"Sasuke Kun" gumam Ino.

"Kau terlihat lebih baik" ujar Sasuke yang membuat Ino agak sedikit terkejut.

Biasanya pemuda ini selalu ketus padanya.

"Aku memang baik-baik saja" sahut Ino.

Sudut bibir Sasuke membentuk senyum skeptis.

"Tampaknya Shisui Niisan berhasil membawamu keluar dari ruang kesedihan"

Ino mengerutkan keningnya.

"Tidak, aku yang berhasil bangkit dari keterpurukan"

"Jaga kesehatanmu agar anak itu juga sehat" ujar Sasuke dengan nada datar.

Ino terperangah.

Hingga sedetik kemudian ia mengembangkan senyum.

Ia paham sekarang, Sasuke ini sebenarnya pribadi yang baik hati dan penyayang.

Namun tertutupi oleh sikapnya yang kaku dan dingin.

"Hai" sahut Ino.

Sasuke menggeser tubuhnya seolah memberi jalan.

Ino kemudian berlalu pergi.

.

.

.

.

Lama berjalan akhirnya Ino berhenti melangkah.

Ino berjalan kearah pintu rumah dan membuka pintu.

Ia terkejut saat pintu tersebut terbuka, seingatnya saat tadi pergi ia mengunci pintu.

Akhirnya Ino masuk dengan ragu, kepalanya menoleh kekanan kiri untuk memastikan apakah ada maling atau tidak.

"Ah Ino? Sudah pulang?" interupsi sebuah suara.

Ino tersentak kaget mendengar suara tersebut.

"Shisui Nii? Kau sudah kembali?" tanya Ino balik.

Seraya menekan kain kasa ditangannya Shisui mengangguk, "Hai, aku kembali lebih awal"

Ino memperhatikan tangan Shisui, "Ada apa dengan tanganmu?"

Ino buru-buru menghampiri Shisui.

"Ah ini, aku nyaris masuk kedalam jebakan. Beruntung Kamachi menolongku" ujar Shisui.

Ino meraih tangan Shisui, "Apa lukanya dalam?" tanya Ino.

"Hai, tetapi sudah diobati Nona Shizune" sahut Shisui.

"Oh syukurlah" jawab Ino.

"Mandilah, aku akan menyiapkan baju untukmu" ujar Ino lalu meninggalkan Shisui yang diam tak bergeming.

Ino mengunci pintu rumah, lalu pergi kearah kamar.

o

o

o

o

Lama tertidur akhirnya Ino terbangun, seolah kaget Ino dengan gerakan buru-buru bangun.

Ia terkejut ketika menoleh ke sebelahnya, Shisui tengah terlelap.

Ino mengusap kelopak matanya, ia menoleh kearah jendela yang ternyata sudah tertutup.

Ino kembali berbaring, lalu menghadap kearah Shisui.

Suasana lampu temaram membuat Ino memfokuskan tatapannya pada paras Shisui.

Shisui pun terlihat menggeliat, kelopak matanya mulai mengerjap.

Hingga kini tatapannya dengan Shisui bertemu.

"Kau sudah bangun?" tanya Shisui.

"Hai, baru saja" jawab Ino.

"Setelah selesai mandi aku melihatmu sedang tertidur. Dan ternyata aku pun ikut terlelap" ujar Shisui.

Ino tertawa, "Itu tandanya kau butuh istirahat"

Shisui tertawa. "Mungkin karena suasananya sepi" sahut Shisui.

Ino tertawa.

Setelahnya hening, Ino dan Shisui saling berpandangan.

Dan pandangan tersebut membuat mereka berdua larut dalam suasana.

Tanpa disadari bibir mereka berdua pun bertemu.

Dan berlanjut menjadi sebuah ciuman yang penuh gairah.

Namun terhenti ketika mereka sadar dengan apa yang sudah terjadi, namun sisi lain dari mereka berdua menginginkan sesuatu yang lebih.

Gairah yang sedang membara kini menuntun bibir mereka berdua untuk kembali menyatu.

"Chu~p"

Ino menutup matanya kala Shisui mengecup bibirnya.

Tubuhnya hanya berbaring pasrah saat Shisui menaiki tubuhnya.

Samar-samar Ino melihat wajah Shisui sekilas seperti Itachi.

Apa mungkin suasana kamar sedang remang-remang?

Sehingga menyebabkan penglihatan Ino jadi terganggu?

"Ino" panggil Shisui penuh gairah.

"Hai" sahut Ino dengan lembut.

"Bolehkah.."

Mengerti dengan maksud Shisui, Ino pun mengangguk dengan pasrah.

Ia membiarkan Shisui melepaskan bajunya, pikiran Ino kembali melayang saat dulu Itachi melakukan hal yang sama padanya.

Tiap sentuhan yang Ino rasakan sekarang ini, semakin membawanya pada momen bersama Itachi.

"Eunghhh~" Ino membuka matanya, dan balas menggenggam tangan Shisui yang tengah menyatukan tangan mereka.

Ciuman dilehernya kini mulai merambat hingga ke belahan dadanya.

Genggaman tangan mereka terlepas hingga kedua tangan Shisui kini mulai menggerayangi payudaranya.

Puas menggerayangi badannya, kini tangan tersebut mulai meloloskan pakaian yang menutup area bawah Ino.

Ino menutup matanya.

Deru nafas Shisui menarik Ino untuk kembali membuka mata.

Kini Shisui mulai melepaskan seluruh pakaiannya.

Ino hanya pasrah saat tubuh bagian bawah nya dilebarkan.

Ia menutup matanya saat merasa sesuatu menerobos masuk kedalam selangkangannya.

Tatapan Ino dan Shisui saling beradu, hingga membuat bibir mereka berdua kembali bertaut.

Tubuh Ino pun mulai menegang ketika tubuh bagian bawahnya mulai dihentakkan oleh Shisui.

"Ahh~" Ino mendesah, tangannya mencengkeram sebuah bantal yang tergeletak disamping tubuhnya.

Ino menatap Shisui yang ternyata tengah memandangnya.

Tubuh bagian bawah mereka semakin beradu, Ino mencengkeram lengan Shisui.

"Shisui Nii~"

"Nanda~" sahut Shisui dengan nafas tak beraturan.

Ino menggigit bibirnya.

Hentakan pada area tubuhnya, menyebabkan sebuah desahan harus kembali terdengar.

Ditengah-tengah rasa nikmat yang diterimanya, Shisui menghentikan aksinya dan memilih untuk menciumnya.

Nafas mereka berdua saling berlawanan, Ino menyentuh wajah Shisui.

Hingga kini Shisui merubah posisinya, dengan berbaring disamping tubuhnya.

Ino menatap wajah Shisui yang tengah meraup udara.

Dengan penuh gairah Shisui menuntun tubuh Ino agar berada diatas, pandangan mereka berdua saling menatap intens.

Ino tersadar, saat kedua tangan pria dibawahnya meremas dadanya.

"Ahh~ Yamete" desah Ino.

Shisui tidak menghiraukan, kini ia mulai menyatukan kembali tubuh bagian bawah mereka.

Ino menutup matanya, merasakan hentakan sensual yang begitu nikmat.

Bibirnya tak henti-hentinya mengeluarkan lenguhan kenikmatan.

Ditengah-tengah kemesraan yang terjalin, mereka sempat berhenti ketika suara hujan mulai turun.

ooOoo

Tatapan mata intens mengawasi gerak gerik seorang pria yang memiliki ciri khas rambut merah dan seorang wanita berambut pirang.

Dua orang berbeda jenis tersebut tengah duduk berdampingan disebuah kursi yang terletak disebuah taman.

"Taicho" panggil sebuah suara.

"Doushita No" sahutnya tanpa menoleh.

"Ternyata kau disini?" ujar seseorang yang baru datang tersebut.

Orang tersebut mengikuti arah pandang Shisui.

"Bukankah perempuan itu istrimu?" tanyanya, Shisui diam tak menjawab.

"Apa kau tidak cemburu melihatnya sedang berduaan dengan seorang pria?"

Shisui tertawa pelan, "Tidak apa-apa selama mereka tidak melakukan hal yang melewati batas"

"Pria itu mantan kekasih istrimu kan?"

"Ya"

o

o

o

o

"Aku dengar kau sudah menikah dengan seorang pria dari klan Uchiha"

Ino mengangguk, "Hai"

"Bukankah usiamu yang sekarang terlalu cepat untuk menikah?" tanya Gaara.

Ino mengalihkan tatapannya, "Ya benar, tetapi ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk cepat menikah" ujar Ino.

Gaara terdiam sesaat, iris matanya menjelajahi tiap inci tubuh Ino.

Merasa diperhatikan oleh Gaara, dengan gerakan reflek Ino melipat kedua tangannya.

"Ada apa?" tanya Ino canggung.

"Kau sedikit berubah" ujar Gaara, Ino tertawa seraya menggaruk tengkuknya.

"Benarkah?" tanya Ino dengan senyuman garing.

"Tetapi tetap cantik"

Ino seketika tersipu, kedua tangannya menepuk pipinya.

Tanpa diduga Gaara memegang tangan Ino dan kemudian menggenggamnya.

"Selamat atas pernikahanmu" ujar Gaara.

Ino tersenyum tipis seraya mengangguk, "Terima kasih Gaara Kun"

"Lain kali jika kau melarikan diri dari Konoha, datanglah ke Suna aku akan menerimamu dengan senang hati"

Ino terdiam dengan mulut menganga, tak ia sangka berita tersebut tersebar diluar desa.

"Kau mengetahuinya?" tanya Ino kaget.

"Naruto memberitahuku" sahut Gaara.

Ino menghela nafas, "Waktu itu aku sedang bingung, dan sedang banyak masalah"

"Aku memaklumi, semua manusia akan kehilangan arah jika diterpa banyak masalah" ujar Gaara.

Ino mengangguk, "Benar"

"Gaara" panggil Ino.

"Nande?"

"Apakah kau sudah punya kekasih?" tanya Ino.

"Sudah" jawab Gaara, Ino tersenyum penuh arti.

"Apa dia tidak cemburu jika melihat kau memegang tanganku?" goda Ino.

Gaara tertawa, "Dia tidak akan cemburu karena tidak melihat langsung"

Gaara melepaskan tangan Ino.

"Kapan-kapan datanglah ke Suna"

"Kalau ada waktu aku akan berkunjung kesana" Ino menarik senyum.

"Sungguh?" tanya Gaara.

Ino mengangguk, "Benar"

"Aku akan menunggu kedatanganmu" ujar Gaara.

"Apa kekasihmu akan baik-baik saja dengan kedatanganku?" tanya Ino.

Gaara tertawa pelan, "Tidak masalah, lagipula dia tidak mengetahui masa lalu kita"

"Lagipula kau sudah menikah" ujar Gaara menyambung kalimatnya.

Ino balas tertawa, "Benar juga"

"Ayo kita pulang, aku memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan dengan Hokage Sama" Gaara beranjak dari tempat duduknya.

Diikuti oleh Ino yang kini berdiri berhadapan dengan Gaara.

"Ayo, aku akan pulang kerumahku"

Gaara mengangguk, "Ayo kuantar kerumahmu"

"Aah, tidak perlu Gaara rumahku tidak jauh dari sini" ujar Ino berupaya menolak.

"Baiklah" sahut Gaara.

"Hai, selesaikan dulu pekerjaanmu" ujar Ino.

"Hai, jangan khawatir"

Ino dan Gaara berjalan beriringan, mereka berdua berpisah saat berjalan keluar dari taman.

"Hati-hati dijalan" ujar Gaara.

Ino menarik senyum, "Hai, Kau juga" sahut Ino.

Mereka berdua saling melambaikan tangan.

o

o

o

Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, Shisui belum pulang juga.

Tadi pagi saat pergi Shisui tidak memberi tahunya tidak akan pulang.

Jika Shisui tidak pulang Ino akan menginap dirumah ibunya, ia takut tidur sendirian disini.

Tetapi apabila Ino menginap ditempat lain takutnya Shisui mendadak pulang.

Tokk Tokk Tokk

Ino bergeming, ia secepat mungkin berlari menuju pintu depan.

Saat mengintip keluar, terlihat Shisui yang sedang berdiri dengan menggunakan pakaian Anbu lengkap, serta sebuah pedang yang masih bertengger dibelakangnya.

Ino membuka kunci pintu, lalu mempersilahkan Shisui masuk.

"Okaeri Nasai" ucap Ino.

Shisui tidak merespon, Ino membuka jalan saat Shisui akan melangkah masuk.

Ino melirik Shisui yang berjalan tanpa menoleh kearahnya, sikap acuh yang ditunjukan barusan membuat Ino heran.

Tidak biasanya Shisui bertingkah aneh begitu.

Ino kemudian menutup pintu dan menguncinya rapat.

"Shisui Nii.. Aku pikir kau tidak pulang" ujar Ino lagi, ia mengejar Shisui dan bergelayut manja ditangan Shisui.

Namun yang mengejutkan Shisui melepaskan kungkungan tangannya.

Lalu melepaskan pedang dari belakangnya.

Ino terdiam kaku saat mendapat penolakan dari Shisui.

"Aku lelah, aku ingin mandi" ujar Shisui datar.

Ino berpikir keras dengan perubahan sikap Shisui, sesaat ia berpikir kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga Shisui mengabaikannya.

Apa Shisui marah padanya atau terkena imbas dari masalah pekerjaannya?

"Aku akan ambilkan baju" ujar Ino.

"Tidak usah" jawab Shisui dingin.

Tubuh Ino diam membatu, sebelumnya Shisui tidak pernah bersikap begitu.

Biasanya Shisui selalu berperilaku hangat padanya.

Namun malam ini ia benar-benar berbeda.

Seingat Ino tadi pagi interaksi mereka berdua baik-baik saja, malah terjadi momen romantis ketika Shisui akan pergi.

Ino berjalan kearah ruang tamu dan duduk disana, ia menyalakan TV untuk mengusir kegelisahan yang melanda hatinya.

Ino menekan dadanya.

Area tersebut berdenyut, entah mungkin Ino yang terlalu sensitif.

Tetapi perlakuan Shisui barusan sukses membuatnya sakit hati.

Ino menggelengkan kepalanya, ia tidak mau air mata sampai jatuh.

Shrekk

Shisui sudah selesai mandi, Ino menoleh kearah Shisui yang berjalan masuk kekamar tanpa meliriknya.

Ino mengalihkan pandangannya keasal semula.

Pintu kamar kembali terbuka, Ino kembali menoleh, ia melihat Shisui membawa handuk.

Tanpa meliriknya sedikitpun, Shisui berjalan kearah dapur.

Dengan buru-buru Ino mematikan TV, ia meneguhkan hatinya sebelum kemudian melangkah pergi menyusul Shisui.

"Shisui Nii" panggil Ino seperti biasa.

Shisui meliriknya dengan tatapan tajam.

Seketika nafas Ino tercekat.

Nafasnya tidak dapat masuk dan berhembus secara normal, tatapan tersebut terlihat mengerikan saat menyorotnya.

"Apa" sahut Shisui dingin.

Ino menarik nafasnya perlahan.

"A -apa kau sudah makan?" tanya Ino terbata.

"Sudah" jawab Shisui singkat, padat dan jelas.

Lalu berjalan masuk meninggalkan Ino yang berdiri dengan tatapan sedih.

Ino berjalan mengikuti langkah Shisui, lalu memasuki kamar dan memberanikan diri duduk disebelah Shisui.

"Shisui Nii.." panggil Ino pelan.

Shisui menoleh tanpa menjawab.

"Apa kau marah padaku?" tanya Ino.

Shisui menarik nafas panjang lalu menatap Ino dengan serius.

"Kau.."

Shisui memegang bahunya, dengan kelopak mata yang menutup Shisui menarik nafas.

"Tidurlah, aku lelah" ujar Shisui.

Ino mengangguk kaku, "Baiklah" sahut Ino lalu berbaring di kasur.

Tak lama Shisui pun berbaring namun dengan pose yang membelakangi dirinya.

Ino lagi-lagi dilanda perasaan bingung.

Beberapa pertanyaan muncul dibenaknya.

Apa mungkin Shisui sedang ada masalah dengan anggota Anbu?

Sehingga dirinya terseret dalam lautan emosi Shisui.

TBC

Thanks for review :)

love you all.