Warn : Hati-hati sakit mata


"Tsk, sialan. Tidak pernah kusangka akan sesulit ini."

Kurama mendengus, "Itu sudah wajar, mengingat kau bukanlah pemilik asli dari mata itu." menutup mata sejenak bersama dengan hembusan nafas pelan. "Tapi harus kuakui, Naruto. Meski ini bukan mata aslimu, tapi kau telah menggunakannya dengan sangat baik dalam 2 tahun ini. Juga hanya tinggal memfokuskan pengontrolanmu pada Rinnegan, kita tidak tau seberapa besar chakra yang dibutuhkan oleh mata itu, walaupun itu tidak berarti apa-apa mengingat seberapa besar cadanganmu."

"Maa, harus kuakui jika Rinnegan memang istimewa, tapi aku benar-benar tidak menyangka jika mata ini tidak sepenuhnya mendapatkan keenam jalur." Menggosok pelan mata kirinya yang tertutup, "yaa, tapi harus kuakui juga meski tidak mendapat keenam jalur Rinnegan, tapi itu ditebus dengan beberapa kemampuan jikukan-nya."

"Untuk sekarang lebih fokuskan pada pelatihan Rinneganmu, portal yang kau buat masih belum stabil. Jangan lupakan tujuanmu sekarang."

"Aku mengerti. Mungkin untuk sekarang lebih baik fokus untuk mengendalikan jalur Rinnegan yang dapat kugunakan."

"Kenapa tidak kau coba-Tidak, tunggu, ada yang mendatangimu. Lebih baik kau keluar, dan ingat; jangan gunakan chakra ku dulu. Aku harus mengumpulkan chakra, untuk saat ini kau harus gunakan chakramu sendiri, seharusnya itu sudah cukup untuk sekarang."

Naruto tersenyum menoleh ke sekelilingnnya, mendapati delapan gumpalan tubuh yang meringkuk rapat mengelilinginya. Dengan lambaian tangan ringan, "Hai hai, sankyuu Kurama. Sampaikan salamku ketika yang lain sudah bangun."

Membuka mata perlahan, dia disambut oleh hamparan rumput luas dengan langit malam yang berhiaskan bintang. Menghembuskan nafas pelan dia menutup mata kembali mengendalikan nafasnya dengan hembusan angin, mencoba mengambil energi alam sembari menunggu tamu yang sedang menuju kearahnya.

Tak menunggu lama ledakan tercipta ketika sebuah cahaya yang berbentuk tombak menabrak ketempatnya.

...

Menuju sumber energi yang tak dikenalnya, dua orang berjubah hitam dengan dengan tudung munutupi kepalanya dan sayap hitam yang menyerupai gagak mendapati seorang pemuda, yang jika dilihat dari penampilannya masih berusia sekitar 17 tahun sedang duduk diam.

Berhenti diudara dengan jarak aman, salah satunya bertanya kepada rekannya, "Jadi, hanya seorang manusia, eh?"

"Aku juga tidak menyangka jika seorang manusia bisa menarik energi disekitarnya," balasan terucap dari lawan bicaranya. "Bukankah ini yang para Yōkai sebut sebagai senjutsu, Kabane?"

Orang pertama yang sekarang dikenal sebagai Kabane hanya mendengus, "Hmph, walau harus kuakui aku cukup tertarik dengan kekuatan senjutsu ini, mengingat sejarah yang tercipta dari Nekomata yang dikenal sebagai buronan itu. Tapi tetap saja kita harus menghilangkan ancaman yang ada untuk Tuan."

"Tapi tidakkah kau sadar jika orang ini cukup tenang walaupun sedang dipenuhi senjutsu?"

"Dan katakan padaku Ghwein. Apakah kita harus diam saja jika ada seseorang muncul yang berpotensi sebagai ancaman untuk Tuan?"

Rekannya yang dikenal sebagai Ghwein hanya diam, pandangannya terpaku pada sosok pemuda yang sedang duduk diam.

Kabane yang tidak mendapat balasan mengangakat tangannya, dengungan lembut terdengar dan sebuah tombak cahaya tercipta ditangannya.

"Aku tidak peduli seberapa lemah orang itu, selagi dia mempunyai kekuatan, dia berpotensi sebagai ancaman." Dengan itu Kabane melemparkan tombaknya menuju pemuda yang tetap diam.

Dan ledakan tercipta dari tumbukan tombaknya ketika menyentuh manusia itu.

Menunggu debu tebal yang tercipta dari ledakan mereda. Kabane mengamati dengan hati-hati daerah tersebut.

"Sekarang, bukankah itu tidak sopan, tuan-tuan?"

Suara yang cukup mengejutkan mereka berdua datang dari balik punggung, yang mengakibatkan Ghwein melompat maju menjauh dan Kabane segera menciptakan tombak cahaya lagi dan segera menebas kebelakang.

Dentingan terdengar ketika lightspear-nya bertabrakan dengan chokuto yang tergenggam ditangan manusia yang sebelumnya duduk jauh didepannya.

'Bagaimana...'

Kabane hanya bisa menelan pikirannya dan terbang menjauh ketika beban tebasan dari pedang lawannya semakin berat.

"Jadi ada alasan apa tuan-tuan menyerang saya?"

Kabane maupun Ghwein hanya diam mengamati ketika pemuda itu jatuh turun menapak tanah tanpa suara, dan menemukan fakta bahwa manusia itu hanya mempunyai tangan yang tersisa dibagian kirinya.

"Tidak mau menjawab ya..." Mata kedua orang bersayap melebar ketika manusia tersebut menghilang dan muncul dibelakang Kabane, "...maka aku tidak akan bersikap sopan lagi."

Sebelum bisa membalikan badan, Kabane mendapati tubuhnya tidak bisa begerak, 'bidang pandangku berputar?'

Dan begitulah, sebuah kepala terjatuh dan mengungkapkan rambut coklat dan mata hitam yang perlahan kehilangan cahaya kehidupannya.

...

Naruto memandang kepala yang jatuh ketanah tersebut, melihat ketika sebelum kepala tersebut menyentuh tanah, mulai berhamburan menjadi cahaya disertai dengan guguran bulu hitam.

'Inikah yang disebut Malaikat Jatuh oleh Yasaka-san?'

"Seharusnya benar, terbukti dari energinya yang suci tapi ternoda." Kurama menjawab ketika dia menyaksikan kejadian tersebut.

'Tapi aku tidak mengerti Kurama, mengapa mereka mendatangiku setelah sekian lama kita mendapatkan ketenangan'

"Bah, aku tidak peduli. Bersyukur saja kita mendapatkan target pelatihan selain beberapa Youkai lemah didaerah sini."

Naruto untuk sejenak deadpand ketika mendengar ucapan sombong temannya tersebut, 'Heh, aku harusnya tau jika kau akan berkata seperti itu.'

Mengalihkan pandangannya kepada rekan berjubah satunya yang tetap diam ketika menyaksikan temannya tewas, dia mulai mengaliri pedangnya dengan chakranya.

...

Ghwein terpaku ketika melihat rekannya mendapat kematian instan, dia tidak melihat kapan manusia itu bergerak. Dia cukup yakin jika dia dan rekannya masih termasuk kejatuhan yang memiliki kekuatan dan pengalaman mumpuni. Tapi ketika menghadapi manusia ini, dia seperti menghadapi salah satu Cadre kejatuhan mereka.

Pemikiran mengenai 'bagaimana' dan 'siapa' manusia tersebut mulai berhenti ketika Ghwein mendengan suara berderak dari sesuatu, seperti cicitan burung yang bersahutan, dan ketika dia tau darimana suara itu berasal, dia mulai mendapati kesiagaannya kembali.

Kali ini dia bisa melihat pergerakan manusia tersebut, atau mungkin memang manusia tersebut sengaja melambatkan kecepatannya dengan pedang ditangan kirinya yang diselimuti petir kebiruan.

'Petir suci? Tidak, bukan. Itu berbeda, hanya saja sepertinya ini tidak kalah dari kekuatan.'

Apapun yang dipikirkan harus segera dihilangkan ketika dia menangkis ayunan sederhana tersebut dengan tombak yang baru diabuatnya.

'APA?!'

Segera dia harus melompat mundur ketika pedang yang dialiri petir tersebut menebas lightspear-nya menjadi dua seolah itu bukan apa-apa.

"Jadi kembali lagi ke awal, bisakah anda memberitahuku kenapa kalian menyerangku?" tatapan tajamnya diarahkan pada manusia tersebut.

'Orang ini terbukti berbahaya untuk Tuan jika dibiarkan.' Menciptakan kembali tombak ditangannya, "aku tidak diperkenankan untuk menjawab pertanyaanmu, manusia!"

...

"Aku tidak diperkenankan untuk menjawab pertanyaanmu, manusia!"

Naruto menghela napas lelah, 'merepotkan...' sentakan nafas tajam terdengar dari kepalanya, 'Kurama, ada apa?'

"Tidak..." Kurama diam beberapa saat, sebelum melanjutkan. "Aku hanya tidak menyangka jika kau mulai terdengar seperti teman pemalasmu."

'Benarkah?' Naruto berkedip untuk beberapa detik sebelum gerutuan keluar dari mulutnya, 'sialan.'

"Juga, Naruto..."

'Hm?'

"Daripada membunuhnya dengan sia-sia, lebih baik gunakan Rinnegan untuk informasi," Naruto diam, tau jika temannya belum selesai. "Kita tidak tahu perkembangan diluar wilayah Youkai dikarenakan pelatihanmu, lebih baik ekstrak informasi dari kejatuhan didepanmu untuk perkembangan sekarang, kita bisa mencari yang lain jika memang membutuhkan seorang agen sebagai sumber informasi menggunakan Sharinganmu."

'Sharinganku, eh?'

"Ck, diamlah dan lakukan saja bocah!"

'Hai hai.'

Fokus sekali lagi dengan Malaikat Jatuh didepannya, dia menghentikan aliran chakranya yang bersirkulasi menjadi afinitas petir meredup dan pedang ditangannya menghilang dengan letupan asap, menciptakan kebingungan dari kejatuhan didepannya.

Sebagai gantinya, dia mengalirkan chakra diseluruh tubuhnya untuk mendapatkan momentum kecepatan instan, dan menggunakan salah satu jutsu yang biasa dikenal juga sebagai Shunshin no Jutsu.

...

'Lagi?!'

Sebelum Ghwein bisa merespon kejadian didepannya, dia merasakan tangan mencengkram kepalanya. Mendapati dirinya tidak bisa bergerak, seolah-olah tubuhnya terbungkus erat oleh rantai, dan jiwanya dicengkram erat oleh sesuatu. Air liur keluar dari mulutnya dengan mata melotot yang seakan-akan ingin keluar dari rongganya.

Dia merasa dingin menjalari tubuh dimulai dari kakinya. Saat dingin yang merayapi seluruh tubuhnya, dia hanya bisa mendengar bisikan samar, bisikan yang menandakan jiwanya meninggalkan tubuhnya...

"Ningendo"


Kuoh Academy, surga para lelaki bisa dibilang. dengan rasio perbandingan 8:2(perempuan:laki-laki). Tidak heran, mengingat sekolah ini awalnya adalah sekolah khusus perempuan.

Dan saat ini dilorong sekolah pada sore hari terlihat Naruto yang dengan santai sedang melintasi lorong sekolah tersebut. Mengenakan kemeja putih lengan panjang, dengan celana olahraga panjang warna hitam, lengan yang hilang dibiarkan mengayun tertiup angin dengan bebas.

Sekolah telah usai, hanya saja dia mempunyai urusan dengan salah satu muridnya. Berhenti ketika mencapai ruangan yang mempunyai tag 'Ruang Osis', dia mengetuk pintu dan segera memasuki ruangan ketika mendengar izin masuk.

Dia mendapati sang murid yang sedang duduk mengerjakan tumpukan dokumen diruangan tersebut, Souna Shitori yang menjabat sebagai Ketua Osis. Tak lupa juga sang wakil Tsubaki Shinra yang setia berdiri disampingnya, beserta anggota lain yang berdiri di belakangnya menatap diam kearahnya.

"Silahkan duduk, Sensei."

Mengangguk dan lekas duduk diam menatap dan menunggu Sona mengerjakan dokumen, tak berapa lama kemudian Tsubaki dengan cekatan memberikan suguhan teh dan makanan ringan yang muncul entah darimana asalnya. Mengangguk terima kasih dan mendapat balasannya, dia mulai mencicipi hidangan kecil tersebut, mengangguk puas dengan rasa yang ditawarkan.

"Jadi, apakah ini tentang dua hari lalu?" dia memulai pembicaraan ketika mendapati Sona mulai menatapnya.

Yah, semenjak pertarungan Issei dengan Riser dua hari lalu yang dimenangkan oleh Issei, Sona mencoba mencari motif keberadaan Naruto berada di Kuoh. Meski dia melihat jika Issei masih banyak kekurangan dipertarungan, dia tidak menyangka jika Issei akan menggunakan Air Suci yang bagi iblis adalah kelemahan fatal mereka. Cukup mengejutkan juga baginya melihat Issei bisa menggunakan Balance Breaker saat dia baru beberapa bulan mengetahui Sacred Gearnya.

"Bisa dibilang, iya." Sona mengangguk membenarkan, "anda tidak memberi kami informasi yang relevan tentang diri anda, Sensei. Kami tau mungkin anda bermaksud menyembunyikan sesuatu menyangkut keterlibatan anda mengenai dunia supernatural, hanya saja kami tetap tidak yakin apa motif anda yang sebenarnya."

Naruto mengangkat alis mendengarnya, dia mendesah lelah, "aku tau kekhawatiranmu tentang itu, Sona. Tapi tetap, aku akan bilang aku tidak mempunyai motif tersembunyi terhadap dua pewaris, tidak ada untungnya juga bagiku."

"Lalu, apakah anda mempunyai keterlibatan dengan hilangnya beberapa iblis liar dikota beberapa hari ini?"

"Ya."

"Jika pun begitu, mengapa anda menyembunyikan identitas anda selama ini dari kami?"

"Lalu kau ingin aku bagaimana? Mengumbar kekuatanku?" dia meraih cangkir teh dan menatap isinya yang telah berkurang setenganya. "Aku awalnya hanya bertemu kakakmu di sebuah Restoran saat dia sedang istirahat setelah menangani diplomasi dengan Kyoto. Dan dia tiba-tiba menyuruhku untuk tinggal disini beberapa tahun yang lalu. Aku awalnya menolak, tapi kau tau bagaimana keras kepalanya kakakmu jika dia sudah menginginkan sesuatu, ditambah sifatnya yang kekanak-kanakan."

Tidak bisa menyalahkannya juga, karena dia memang mempunyai beberapa keterlibatan dengan dunia mereka. Meski enggan mengakuinya, dia memang terkadang membersihkan beberapa yang disebut iblis liar dibeberapa tempat. Yah, walau ada beberapa kejatuhan yang terkadang dia bersihkan juga.

"Apa kau bilang bahwa kau sebelumnya pernah bertemu dengan kakakku sebelum kau bertemu dengannya di Kyoto?" pewaris Sitri menyipitkan matanya ketika dia curiga mengenai satu hal yang disebutkan Sensei nya tersebut.

"Yaah, memang. Mungkin sekitar sembilan? atau sepuluh? sebelum aku didunia Manusia, aku berada diperawatan kakakmu, karena saat itu aku sedang terluka." Matanya berkaca-kaca ketika mengingat masa lalu, "mengenai kenapa aku terluka, kita bisa simpan itu untuk lain hari."

"T-tunggu sebentar! Sekitar sepuluh tahun yang lalu? Tapi kau bahkan terlihat tidak lebih tua beberapa tahun dari kami sensei." Tsubaki menyela pembicaraan ketika menemukan hal yang tidak mungkin terjadi kecuali dia adalah ras selain manusia.

Masih tenang dengan tehnya, Naruto hanya tersenyum, "Maa, aku mengerti apa maksudmu, Tsubaki. Tapi anggap saja itu salah satu berkah yang kumiliki."

"Salah satu? apakah maksudmu kau memiliki berkah yang lain? Semacam Sacred Gear?"

"..."

Meski tidak puas karena Naruto tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Queen-nya, Sona hanya bisa menghela nafas lelah dan berdehem mencoba mendapatkan pembicaraan kembali.

"Anda sebelumnya terluka dan tiba di Underworld, dan kebetulan juga ditemukan oleh kakakku?"

"Yap!"

Sekarang semakin rumit, kecurigaan Sona semakin bertambah mengenai mengapa dan bagaimana tentang cerita yang diberikan Naruto padanya. Dia masih sulit mempercayai apa yang dikatakan padanya, tapi ketika mendapati jika gurunya tersebut berada disini karena paksaan kakaknya dia mencoba untuk melepaskan beberapa kecurigaannya.

"Maka aku akan membiarkannya untuk kali ini."

"Maa, memang harus begitu dari kemarin juga," senyum kecil mencuat ketika dia menikmati tehnya, "jika kau masih sulit mempercayai alasanku, kau bisa bertanya pada Sera untuk itu."

Mengangguk menyetujuinya, memperbaiki letak kacamatanya sejenak. "Jika begitu, Sensei. Aku mempunyai proposalー"

"Peerage?"

Meski kesal perkataannya terpotong ketika bebicara, dia tetap mengangguk. Dia tidak akan memungkiri jika dia menginginkan Naruto berada di peeragenya, mengingat dari pembicaraan mengenai pembersihan iblis liar, sudah dipastikan gurunya sudah lebih dari mampu. Apalagi mengingat hubungannya dengan kakaknya, dia penasaran seberapa kuat Naruto saat ini.

"Untuk itu maafkan aku, Sona." Meletakkan cangkir yang telah kosong, dia menatap Sona tepat dimatanya, "aku tidak bisa, aku ingin ketika diriku mati, aku mati sebagai manusia."

"Tapi Sensei, anda tahu bagaimana berbahayanya makhluk supranatural jika mengetahui keberadaan seperti anda berkeliaran bebas bukan?"

"Aku tau Sona, tapi tetap saja itu telah menjadi pilihanku. Bahkan ketika kakakmu menawari hal yang sama ketika kita pertama kali bertemu dulu, aku harus menolak hal yang sama. Aku memulai hidup sebagai manusia, Sona. Jadi biarkan aku mati sebagai manusia juga."

Bahu Sona turun ketika mendengar penolakan tersebut, dia tidak bisa memaksanya. Sekeras apapun dia ingin merekrut Naruto, dia tidak bisa tidak menghormati ketika mendengar alasan yang diberikannya.

Pikirannya terputus saat Naruto bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Jika hanya itu yang ingin kau bicarakan denganku, maka aku akan pulang Sona. Banyak hal yang perlu kuurus dirumah." Naruto berhenti sejenak, "dan jika kalian membutuhkan bantuan, kalian bisa menghubungiku."

"Tunggu, Sensei!"

Naruto memutar kepalanya kearahnya dengan bingung, "ada apa?"

"Bisakah... Bisakah lain kali kita mengadakan sparring?"

"Ho~" Naruto berbalik menghadapnya dengan senyum tertarik, "aku tidak akan menolaknya, aku juga ingin melihat seberapa kuatnya kalian. Hubungi aku lain kali ketika kalian sudah siap."


Saat ini di sebuah hutan diwilayah Kuoh, duduk tegak dengan posisi lotus di bawah salah satu pohon adalah Naruto yang masih mengenakan pakaian yang sama setelah bertemu dengan Sona, sedang memejamkan mata fokus, memfokuskan diri untuk menyerap dan memurnikan energi alam yang tercemar disekitarnya.

Meski dia tidak asing dengan aktifitas energinya, tapi harus dia akui jika energi alam disini kotor dikarenakan mungkin banyaknya ras yang berbeda berkeliaran dengan berbagai macam keburukan yang disebarkan. Dia bisa merasakan banyaknya kebencian serta kemarahan alam yang mendominasi aliran energi. Inilah yang membuatnya harus begitu fokus dengan pembersihan sekitarnya.

Membuka mata dan melepaskan seluruh energi alam yang didapatnya, telinganya mendengar dengkuran halus di pangkuannya, dia mendapati seekor kucing hitam dengan mata emasnya sedang memandangnya. Saling memandang sebelum diputuskan oleh sang kucing yang mendengkur lebih keras, dia meletakkan tangannya diatas tubuh kucing tersebut dan mulai membelainya, menghasilkan dengkuran lebih keras yang menandakan betapa puasnya kucing tersebut.

Mengamati sekitarnya, dia baru sadar betapa gelapnya sekitarnya, beruntung baginya dia masih bisa melihat jelas sejelas siang hari. Dia berterima kasih kepada pengalaman hidupnya karena membentuk dirinya yang sekarang.

Kembali memandang kucing dipangkuannya, "apakah kau tersesat, Kucing kecil?" Pertanyaan keluar dari mulutnya.

Dan tentu saja hanya dijawab dengan dengkuran kucing tersebut.

"Ingin ikut pulang bersamaku?"

Seakan mengerti ajakan tersebut, kucing itu mulai memanjat tubuh Naruto dan mendekam melingkari belakang lehernya, Naruto yang melihat itu hanya mengelus lebih banyak di kepala kucing tersebut. Berdiri dan mulai berjalan pulang menuju rumahnya, dia mendesah puas merasakan betapa segar udara disekitar.

Suasana tenang menyertai dua makhluk yang sedang menikmati betapa damai perjalanan pulang mereka.

...

"Tadaima!"

Salam diucapkan ketika dirinya bersama 'teman baru'nya sampai pada rumah sederhana yang menjadi tempat tinggalnya.

Langkah kakinya menuju area yang dikenali sebagai dapur. Menghentikan langkahnya ketika dia telah sampai di tempat tujuan, mengambil sekotak susu lemari pendingin, membuka dan menuangkan isinya di piring yang siap sedia di meja dapurnya. Menurunkan kucing yang masih setia bertengger di belakang kepalanya didepan susu yang disiapkannya.

Mengendus susu beberapa kali, kucing itu dengan senang hati menikmati susu yang dihidangkan padanya. Sedangkan Naruto yang melihat itu hanya tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya pergi, menuju kamar mandi untuk membersihkan keringat dan debu yang menempel ditubhnya setelah aktifitasnya hari ini.

Tak sampai 20 menit dia habiskan waktunya menikmati air yang membasahi tubuhnya, dia melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit menutupi area pinggang kebawah, menunjukan tubuh bagian atasnya dengan bekas luka yang terpampang jelas di bagian dada kiri menembus punggungnya. Mungkin dia terlihat kurus ketika mengenakan pakaian, tapi itu tidak menampik tubuhnya yang sekarang terlihat tampak begitu padat dengan otot.

Menuju kamarnya, ketika melewati ruang tamu dia mendapati kucing hitam yang telah menyelesaikan kesibukannya didapur sedang melingkarkan dirinya disofa. Mengabaikan hal itu dia melanjutkan jalannya menuju kamarnya, tanpa peduli jika kucing tersebut mengikutinya dan mulai melingkari dirinya di tempat tidurnya, yang anehnya memperhatikan Naruto ketika dia sibuk mengganti bajunya dengan setelan olahraga tanpa mengalami kesulitan berartiーtanpa tangan kanan.

"Kau kucing mesum bukan?"

Pernyataan mengejek diluncurkan Naruto ketika mendapati dirinya diperhatikan, "harus kupanggil apa dirimu?"

"Meong"

Tentu saja kucing itu hanya mengeong.

"Hm, mengingat bulumu hitam. Lebih baik kupanggil Kuro saja bukan?"

Jawaban sama terdengar dari si kucing yang sekarang sebut saja Kuro.

Merebahkan dirinya ditempat tidur, dia mulai mempersiapkan dirinya untuk tidur. Dengkuran kembali terdengar ketika Kuro merebahkan dirinya di atas tubuh berbaring Naruto.


Hari berikutnya...


"Aku kalah, aku mengakuinya."

"Maafkaan aku."

"Jaga mataku bersama dirimu."

"Dia menitipkan matanya padamu, agar dia bisa melihat dunia yang kau lihat, Naruto."

Matanya terbuka perlahan, melihat sekitar kamarnya, mendapatkan fokusnya pada jam yang menunjukan pukul 7:45. Bangkit perlahan dan merenggangkan badan yang kaku setelah tidur nyenyaknya, dia mendapati kucing kecilnya masih tertidur disamping tubuhnya. Tidak membuang waktu, dia lekas menuju kamar mandi dan membasuh mukanya.

Ketika menatap cermin, dia berhenti sejenak untuk mendapati mata onyx yang berbalik menatapnya. Mengalirkan chakra menuju matanya dan perubahan mulai terjadi, mata yang tadinya sehitam arang perlahan mulai berubah merah dengan tiga tomoe berputar sebelum menyatu dan membentuk pola indah segi enam.

'Menatap dunia yang kulihat, 'kah? Meh, yang terjadi hanyalah menatap diriku yang menyedihkan bukan, Sasuke?'

"Naruto..."

Suara berat yang sangat dikenalnya berdengung dikepalanya.

"Selamat pagi, teman-teman."

"Selamat pagi."

"Pagi..."

Kumpulan suara bersahutan sebagai jawaban di dalam kepalanya dimana para Bijuu yang disebut teman-temannya berada.

"Hmm, ingat jangan salahkan dirimu. Kami selalu ada bersamamu, sudah beberapa tahun berlalu dan seharusnya kau mulai maju, Kit."

"Aku tau, aku tau Kurama. Hanya saja, aku merasa seperti orang brengsek, kau tau?" dia terkekeh pelan ketika memikirkannya lagi.

"..." Kurama diam, begitupula Bijuu yang lainnya, tidak bisa membantah.

Merasa selesai dengan sapaan pagi, dia memutus saluran chakra yang mengalir dimatanya, dengan terbukti kembalinya iris hitamnya. Dia mulai berjalan keluar kamar mandi dan melihat kuro menatapnya seakan menunggunya.

"Pagi, Kuro."

Salam yang sama dilontarkan kepada kucing hitam yang mulai mengikuti langkahnya keluar kamar. Dan tentu saja seperti biasa, hanya mengeong seperti halnya kucing lainnya sebagai jawaban.

Mulai menuju dapur untuk menuangkan sekotak susu pada mangkuk kecil untuk kuro, dia juga memasak air dan mempersiapkan cup ramennya.

'Selalu mulai pagi dengan makanan para dewa.' Dia terkekeh pelan, mengabaikan dengusan yang terdengar didalam kepalanya.

"Mungkin setelah ini aku harus kembali ke hutan untuk menyaring kemarahan alam lagi." Bergumam untuk dirinya sendiri, dia merencanakan apa yang akan dilakukannya, mengingat hari ini juga hari libur.

"Maa, terserah. Ramen adalah fokus utama untuk sekarang."

Mengabaikan mata kucing yang menatapnya semenjak dia memulai kesibukan kecil didapurnya.


Kembali lagi ketempat kemarin dimana dia mengumpulkan energi alam sekaligus memurnikan energi alam yang tercemar, beberapa tahun ini dia hanya memiliki kesibukan berlatih dan memurnikan energi alam itu selain membasmi dan menjadi guru olahraga disekolah.

Menyelaraskan chakranya dengan energi alam disekitarnya terbukti cukup sulit baginya meskipun dia telah terbiasa. Meski terbukti jika energi alam disini melimpah, tapi ketika dimurnikan itu tidak sekuat yang diduganya. Beberapa perbedaan itu terlihat dengan bagaimana encernya energi tersebut, sama encer dengan chakra yang didapatinya ketika dia masih di Kyotoーdimana youkai disana tidak sekuat yang terlihat, meski Yasaka yang sebagai Kyuubi dikatakan cukup kuat, tapi tetap masih tidak bisa dibandingkan dengan Kurama.

Yah, asumsinya juga mungkin karena Kurama adalah kumpulan dari chakra itu sendiri, yang terbukti kepadatannya.

Dan juga, dia sebenarnya tidak masalah dengan seberapa padat atau tidaknya chakra disini, dia tetap mengakui jika bukan masalah kepadatan chakra seseorang saja yang membuktikan kekuatan seseorang dengan aliran chakra.

"Hah! Seolah-olah, aku ingin melihat mereka mencoba!" Sahutan sombong bergema dikepalanya, yang menyebabkan keringat besar jatuh dikepala Naruto.

Naruto hanya terkekeh masam, 'selalu seperti itu bukan?'

"Aku hanya bicara kenyataan, bocah!"

'Dan kenyataan itu yang memukulmu ketika aku menendang pantat berbulumu.'

"Pffttー"

"Bwahahaha"

"Kau bajingan sialan!"

'Kurama, bahasa!'

"Aku tidak akan mendengarkan kata-kata dari monyet kecil sepertimu, kau sialan!"

'Lalu kau akan mendengarkan Son? Betapa sayangnya kau pada saudaramu' Naruto hanya terkekeh geli menghadapi amukan rubah ditubuhnya, 'kau dengar itu Son?'

"Aku mendengarnya, terima kasih," kali ini suara berat lain menjawab, "Kau tau, aku sangat tersentuh." Son tidak mungkin melewatkan sesi ejekan untuk sesama penghuninya.

'Apapun untukmu, Son.'

"Lebih baik kau diam juga atau kuledakkan kepalamu monyet sialan!"

"Hah! Seolah-olah, aku ingin melihat kau mencoba!"

Tanggapan sombong yang sama terlontar, hanya beda yang melontarkannya. Naruto yang mendengar tidak bisa menahan senyum gelinya.

'Selamat menikmati harimu teman-teman.'

"TUNGGU KAUー"

Memutus link menghindari teriakan yang menggema dia menghirup nafas panjang sebelum membuangnya kembali, mencoba mendapat ketenangan untuk menarik kembali energi alam.

Menghabiskan sisa cahaya siang untuk mendapat kemurnian alam kembali.


12-04-2023