My Angel
SasuSaku
Chapter 2
"Sasuke-kun! Ayo bangun!" dengan susah payah Sakura mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke. Namun Sasuke tidak berkutik sama sekali dari tempatnya.
"Dasar tukang tidur!" umpat Sakura dan tetap tak ada respon dari Sasuke. Sakura bangkit dari tempatnya duduk. Kedua kakinya dilangkahkan mondar-mandir ke kanan dan ke kiri. Sementara otaknya berpikir keras, mencari cara untuk membangunkan Sasuke.
"Aku tahu!" seru Sakura. Ia berdiri tepat di samping tempat tidur Sasuke. Lalu digulingkannya tubuh Sasuke yang masih terbungkus selimut hingga jatuh berbenturan dengan lantai.
"Aduh..." rintih Sasuke kesakitan.
"Ohayou, Sasuke-kun!" sapa Sakura riang karena rencananya telah berhasil.
Sesaat Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Diedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Dan seperti biasanya, Sasuke mendengus kesal saat mengetahui bahwa Sakuralah yang membuatnya jatuh dari tempat tidur.
"Kamu lagi, kamu lagi. Apaan sih? Masih pagi udah cari gara-gara," gerutu Sasuke sembari mengelus-ngelus punggungnya yang sakit.
"Aku cuma bantuin kamu bangun kok. Memangnya kamu nggak sekolah apa? Udah siang tuh!" ucap Sakura membela diri. Mendengar perkataan Sakura, Sasuke melirikkan matanya ke arah jam beker yang terletak di atas meja belajarnya.
"Baru jam 7."
"Iya, jam 7. Tapi kan kamu belum siap-siap. Belum mandi, belum pake baju, belum sarapan. Nanti telat!" nasihat Sakura.
"Tapi banguninnya juga jangan kasar-kasar amat. Sakit nih!"
"Percuma. Berkali-kali aku bangunin kamu. Bahkan sampai aku gedein volume suaraku se-jagad raya pun, kamu tetap nggak denger denger juga. Terpaksa deh aku pakai jurus rahasiaku tadi. Nggak tahunya berhasil." Sakura tertawa cekikikan mengingat bagaimana Sasuke jatuh tadi.
"Dasar cewek brutal!" cela Sasuke.
"Biarin!" Sakura menjulurkan lidahnya panjang-panjang ke arah Sasuke. Dan dengan cepat membalikkan badannya hendak pergi.
"Jangan lama-lama. Kalau udah selesai panggil aku ya? Aku ada di kamar. Kita makan sama-sama. Makanannya udah aku siapin di bawah. Aku tunggu!" kata Sakura panjang-lebar sembari menutup pintu kamar Sasuke.
"Iya! Iya!" ogah Sasuke berdiri dan mengambil handuknya yang menggelantung di kursi belajarnya. Lalu dengan langkah gontai, ia berjalan ke kamar mandi yang jaraknya tak jauh dari kamarnya.
Sementara Sasuke bersiap-siap, Sakura menunggunya dengan perasaan gelisah. Tujuh kali Sakura melewati cermin miliknya bermaksud bercermin diri. Dan tujuh kali pula ia tersenyum bangga melihat sosoknya berseragam sekolah SMA Konoha terpantul di cermin tersebut. Beberapa jam lagi Sakura resmi menjadi siswi SMA Konoha. Kemarin ia sudah membicarakannya dengan Sasuke. Awalnya Sasuke menolak. Tapi Sasuke tak dapat mengalahkan Sakura yang pandai bersilat lidah sehingga ia terpaksa menerima keputusan Sakura.
TOK-TOK-TOK...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Oi! Mau sampai kapan kamu di dalam?" seru Sasuke tak sabar.
"Iya, sebentar..." Sakura bergegas meraih tasnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya dan pergi menghampiri Sasuke yang menunggunya di luar.
"Lama amat!"
"Sabar sedikit kenapa?" tanpa menghiraukan omelan Sasuke, Sakura langsung meluncur ke bawah menuju ruang makan diikuti Sasuke di belakangnya.
"Kamu sebenarnya mau perang atau masak sih?" komentar Sasuke yang tampak terkejut melihat keadaan dapurnya yang kini berantakan dan tentu saja siapa lagi kalau bukan Sakura penyebabnya.
"Dimasakin susah-susah masih aja komentar. Udah bagus aku masakin, daripada kamu mati kelaparan gara-gara nggak ada makanan?" balas Sakura seraya menarik kursi dan duduk.
"Bukan itu masalahnya..." bantah Sasuke lalu menghela nafas berat. Ia ingat bahwa semua kata-katanya tak akan mempan pada Sakura. Pasti akan dengan mudah di tangkis olehnya. Ia pun memilih untuk diam dan mengalah. Ia tidak mau pagi-pagi sudah mencari masalah dengan Sakura.
"Itadakimasu*!" ujar Sakura dan Sasuke bersamaan lalu menyantap makanan mereka masing-masing. (*Selamat makan)
"Ngomong-ngomong dimana keluargamu Sasuke-kun?" tanya Sakura tiba-tiba. Sendok yang tadinya sudah siap masuk ke mulut Sasuke jadi terhenti karenanya.
"Pergi," jawab Sasuke singkat.
"Kemana? Kok lama?"
"Nggak tahu. Bukan urusanmu." Sasuke memalingkan wajahnya dari Sakura yang sedari tadi terus menatapnya. Ia malas menjawab pertanyaan Sakura yang bersifat pribadi itu.
"Huh! Selalu begitu!"
"Seharusnya kamu lebih tahu daripada aku. Bukannya kamu malaikatku?" Sasuke balik bertanya membuat Sakura semakin kesal.
"Iya. Tapi bukan berarti aku tahu semua tentangmu." Kali ini Sakuralah yang mendengus kesal. Sasuke tertawa dalam hati. Ia senang karena untuk pertama kalinya ia menang dari Sakura.
"Gochisousama deshita*." Sakura mengakhiri percakapannya dengan Sasuke lalu membereskan sisa-sisa makanannya. (*Terima kasih atas hidangannya)
KRIIIIINGGG!
Handphone Sasuke berdering dengan nyaringnya. Namun Sasuke tak mengangkatnya maupun melihat siapa yang menelponnya. Dibiarkannya suara dering handphonenya berbunyi hingga tak bersuara. Sakura mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan sikap Sasuke yang menurutnya aneh itu.
"Kenapa nggak diangkat?" Akhirnya pertanyaan yang membayangi pikiran Sakura keluar juga.
"Cuma orang nggak penting," ujar Sasuke. "Ayo berangkat." Sasuke beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Sakura yang melongo karena jawaban Sasuke yang tak masuk di akal.
Sakura mengedikkan bahunya lalu segera mengikuti langkah Sasuke. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruang makan, kepalanya tak tahan untuk menoleh ke arah handphone Sasuke. Dipandangnya handphone itu yang sengaja Sasuke tinggalkan di meja makan berharap suara dering kembali terdengar. Namun harapan Sakura sia-sia. Ternyata benar apa yang dikatakan Sasuke, cuma orang iseng! Batin Sakura. Tapi jauh di lubuk hati Sakura, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Sasuke darinya. Dan ia yakin cepat atau lambat ia akan tahu apa masalahnya.
"Uchiha Sakura, masuklah," perintah Kakashi-sensei yang tidak lain adalah wali kelas Sasuke. Mulai hari ini nama Sakura berubah menjadi 'Uchiha Sakura', karena selama ia bersekolah di SMA Konoha ia menyamar menjadi saudara sepupu Uchiha Sasuke, sesuai dengan perjanjian yang ia buat dengan Sasuke kemarin.
Sakura mencoba mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Jujur ia grogi sekaligus senang. Perlahan ia menjejakkan kakinya masuk ke dalam kelas. Dan tak dapat dipungkiri bahwa kini semua mata tertuju pada Sakura, menatap Sakura dari atas ke bawah. Banyak di antara mereka berbisik-bisik dengan temannya, membicarakan tentang kedatangan Sakura sebagai murid baru.
"Sasuke, jadi ini ya sepupumu yang kamu bilang akan pindah ke sekolah ini?" bisik Ino pada Sasuke yang duduk di belakangnya.
"Hm." Sasuke mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Ino.
"Kayaknya pernah lihat deh? Kalau nggak salah dia yang ada di supermarket kemarin kan?" Naruto yang duduk di sebelah Sasuke juga ikut bertanya.
"Hm." Kembali Sasuke mengangguk.
"Wah, asyik nih! Entar jangan lupa kenalin aku sama dia ya, Sasuke?" seru Naruto riang sembari nyengir-nyengir nggak jelas.
"Dasar! Pikiranmu cewek mulu!" timpal Ino.
"Biarin!" Naruto menjulurkan lidahnya ke arah Ino. Sasuke tersenyum simpul, ia teringat kembali akan kejadian tadi pagi.
"Ayo semuanya diam." Kakashi-sensei mengetuk-ngetukkan ujung bolpointnya ke arah meja sebagai tanda agar semua muridnya diam.
"Coba perkenalkan dirimu di depan teman-temanmu sekarang." Kakashi-sensei mempersilahkan Sakura untuk berbicara. Sakura terdiam sejenak. Ditariknya nafasnya dalam-dalam.
"Perkenalkan nama saya Uchiha Sakura. Senang berkenalan dengan kalian. Mulai sekarang dan seterusnya saya akan belajar bersama kalian di kelas ini. Yoroshiku Onegaisimasu*," kata Sakura seraya mengumbar senyum manisnya ke seluruh murid yang ada di kelas itu. Tentu saja semua murid cowok terpana melihatnya, kecuali Sasuke. Dan tanpa sadar hal itu menyebabkan hati murid cewek terbakar amarah. (*Mohon bimbingannya)
"Nah, tempat dudukmu ada di..." belum sempat Kakashi-sensei menyempurnakan kalimatnya Ino mengangkat tangan, membuat perhatiannya tertuju pada Ino.
"Sensei, biar Sakura duduk di sebelahku saja," usul Ino.
"Baiklah, Uchiha-san silahkan duduk di sebelah Yamanaka-san," kata Kakashi-sensei dengan tangan menunjuk ke arah kanan Ino.
Sakura mengangguk pelan, lalu berjalan ke tempat duduknya.
"Namamu Sakura ya? Nama yang bagus," puji Ino sesaat setelah Sakura duduk di sebelahnya.
"A-Arigatou..." wajah Sakura langsung memerah dibuatnya sementara mata Ino sibuk memperhatikan Sakura. Manis, pikirnya.
"Oya, kenalin namaku Yamanaka Ino. Senang berkenalan denganmu." Ino pun mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat oleh Sakura.
"Tunggu! Biar beda kamu panggil Ino-chan saja. I-NO-CHAN..." cepat Ino meralat kata-katanya.
"Ino...chan?" ucap Sakura dengan tatapan bingung. Anehnya, hal itu dibalas oleh Ino dengan mata berbinar-binar. Membuat Sakura semakin bingung.
"Kawaii*! Kamu manis sekali Sakura! Ok, sudah diputuskan mulai sekarang kamu panggil aku Ino-chan ya?" seru Ino histeris. (*Lucunya...)
"EHEMM!" Kakashi-sensei berdehem cukup keras. Beliau tersinggung mendengar suara Ino karena merasa Ino tak memperhatikan pelajaran yang diberikannya. Mengerti apa maksud Kakashi-sensei, Ino pun segera meminta maaf pada Kakashi-sensei dan menelengkan kepalanya kembali ke arah papan tulis.
Bel tanda istirahat berbunyi. Sakura bergegas membereskan bukunya dan memasukannya ke dalam tas.
"Hai, Sakura-chan! Kenalin aku Uzumaki Naruto. Yang duduk di belakangmu," sapa Naruto pada Sakura. Sakura menoleh dan tersenyum pada Naruto.
"Ehm...Mau ke kantin nggak? Makanan di sini enak-enak lho! Aku traktir deh," tawar Naruto. Ino langsung melirik Naruto tajam.
"Jangan lupakan aku Naruto!" serobot Ino.
"Aku kan nggak nawarin kamu."
"Yaudah, kalau begitu Sakura nggak boleh pergi denganmu. Yuk, kuantar kamu berkeliling Sakura!" cepat tangan Ino menggaet tangan Sakura pergi menjauh. Naruto terbelalak dan segera menghadang Ino.
"Tunggu Ino!" cegat Naruto.
"Kenapa?" Ino mengangkat sebelah alisnya. Menanti jawaban yang ditunggu-tunggunya dari bibir Naruto.
Naruto menghela nafas berat. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah dompet berwarna oranye. Dilihatnya isi dompetnya itu untuk memastikan uangnya cukup untuk mentraktir Sakura sekaligus Ino.
"Iya deh. Kamu boleh ikut," kata Naruto dengan berat hati.
"Nah...gitu dong. Sasuke! Katanya Naruto mau traktir kita! Kamu mau ikut tidak?" tanya Ino pada Sasuke yang duduk termenung di bangkunya. Untuk kedua kalinya Naruto terbelalak. Di belakang Ino, Naruto memberikan sinyal kepada Sasuke agar Ia tidak ikut. Tapi Sasuke hanya menyeringai. Bermaksud tak mengindahkan peringatan Naruto.
"Ikut," balas Sasuke ringan tanpa beban. Sudah jelas Sasuke menerimanya. Siapa coba yang akan menolak jika diberi makanan? Gratis pula.
"Nambah satu orang nggak apa-apa kan Naruto? Lebih rame kan lebih enak!" Ino memasang tampang tak bersalah. Membuat Naruto semakin geram. Dalam hati ia berjanji akan membalas perbuatan Ino tadi.
"Terserah," ujar Naruto pasrah seraya meratapi isi dompetnya yang semakin menipis. Sementara Sakura tertawa kecil melihatnya.
Kantin SMA Konoha luas dan bersih. Berbagai macam stand-stand makanan berjejeran di dalamnya. Makanan yang di jual di sana pun bervariasi, dari makanan ringan seperti snack dan makanan yang mengandung karbohidrat, sehingga bagi para murid yang perutnya keroncongan bisa mengisi perut mereka dengan makanan tersebut sesuai dengan selera masing-masing.
Sesampainya di kantin, Sakura, Naruto, Ino, dan Sasuke segera mencari tempat duduk. Mereka mengambil tempat yang agak sepi. Di sebelah kanan pojok nomor dua dari belakang itulah yang jadi tempat mereka makan.
"Pesan apa?" tanya Naruto layaknya seorang pelayan restoran.
"Hm...apa aja deh. Yang penting enak!" jawab Ino.
"Kalau kalian apa?" tawar Naruto pada Sasuke dan Sakura.
"Sama," balas mereka serempak.
"Ok, kalau begitu." Naruto membalikkan badan dan menghampiri salah satu stand bernama 'Ichiraku'. Selang beberapa menit kemudian, Naruto datang dengan membawa nampan berisi empat mangkuk ramen yang masih hangat.
"JENG...JENG...empat mangkuk ramen sudah siap. Douzo*!" tercium aroma ramen yang dibawa Naruto, membuat semuanya yang duduk di meja itu semakin kelaparan. (*Silahkan)
"Itadakimasu!" tanpa pikir panjang semuanya langsung menyantap ramen pemberian Naruto.
"Sakura-chan, enak nggak? Aku bilangin deh. Ramen di sini paling enak lho. Pokoknya Ichiraku ramen paling top!" seru Naruto riang. Biasa, kalau sudah ada ramen semua kekesalan Naruto menghilang tanpa bekas. Termasuk kekesalannya pada Ino tadi. Sakura menanggapi perkataan Naruto dengan mengangguk pelan.
"Hm, enak!" kata Sakura membuat senyuman Naruto semakin melebar.
"Oya, kamu dan Sasuke sepupuan kan? Tapi kok wajahnya beda?" tanya Ino mengalihkan pembicaraan lalu menatap wajah Sakura dan Sasuke dengan heran secara bergantian. Sakura tersedak. Dilirikkan matanya ke arah Sasuke yang masih tenang memakan ramennya.
"Eng...mungkin hanya perasaanmu. Lagipula kami kan saudara jauh, jadi bisa saja wajah kami berbeda. Ya kan Sasuke-kun?" Sakura melirik pada Sasuke panik.
"Hm," dengan tenangnya Sasuke menjawab.
"Ooh begitu." Ino yang mendengarnya hanya ber'oh' ria. Sementara Sakura menghembuskan nafas lega.
"Terus sekarang kalian tinggal serumah dong? Kapan-kapan boleh main ya?" tanya Ino lagi. Kini Sasuke lah yang tersedak di buatnya.
"Nggak boleh," cepat Sasuke berkata membuat Ino, Naruto, dan Sakura terperangah.
"Lho? Kenapa Sasuke-kun?" tanya Sakura bingung. Sasuke menatap Sakura dengan tatapan sinis, bagaikan seorang penjahat yang siap membunuh korbannya.
"Pokoknya kalau aku bilang nggak boleh ya nggak boleh!" bentak Sasuke dengan nada agak tinggi.
"I-Iya sudah...nggak apa-apa kok Sakura. Kita juga bisa main selain di rumah Sasuke kok. Nggak masalah," ujar Ino menengahi diikuti anggukan kepala Naruto.
Seketika itu juga keheningan melanda mereka. Suasana berubah jadi tidak enak. Tak ada yang berani membuka mulut sedikit pun.
KRIIIINGG
Bel tanda masuk tiba-tiba berbunyi, memecah keheningan di antara mereka. Sasuke bangkit dari duduknya dan meninggalkan teman-temannya begitu saja. Sakura menatap nanar punggung Sasuke yang makin lama makin menjauh, hilang ditelan kerumunan orang. Dekat di mata jauh di hati, itulah yang dirasakan Sakura saat ini. Ino yang melihat kekhawatiran Sakura menghela nafas panjang. Lalu dengan salah satu tangannya, Ino membelai kepala Sakura lembut.
"Kalau Sakura, pasti bisa mengobati luka di hati Sasuke. Aku yakin itu!" ucap Ino optimis, seakan tahu keresahan yang ada di hati Sakura. Sakura mengulum senyum. Dalam hati ia berjanji akan mengeluarkan Sasuke dari jurang kesedihan yang dibuatnya. Pasti!
