My Angel

SasuSaku

Chapter 3

"Kamu sebenarnya kenapa sih Sasuke-kun?" Sakura yang sudah tak tahan oleh sikap dingin Sasuke terhadapnya bertanya. Sasuke yang saat itu sedang menonton televisi terpaksa menengadahkan kepalanya karena pandangannya tertutupi tubuh mungil Sakura. Mengetahui Sakura yang saat ini berdiri di hadapannya, Sasuke melengos lalu berdiri hendak pergi.

"Tunggu Sasuke-kun. Aku belum selesai bicara!" Sakura meraih salah satu tangan Sasuke, membuat langkah Sasuke terhenti. Sasuke hanya diam. Tak menoleh maupun merespon ucapan Sakura.

"Kamu itu sebenarnya kenapa, Sasuke-kun?" Sakura mengulangi kata-katanya dan hal itu sukses membuat kedua kuping Sasuke panas bagai disiram api yang membara.

"Kamu terlalu mencampuri urusan orang lain. Ngerti!" teriak Sasuke tak tahan lagi. Sakura terperanjat. Ia tidak menyangka Sasuke akan mengatainya seperti itu.

"Mencampuri bagaimana? Aku kan cuma tanya!" seru Sakura tak mau kalah. Ia tersinggung dengan ucapan Sasuke barusan. Ia merasa tak bersalah sama sekali dan merasa Sasuke tak berhak memarahinya seperti itu.

"Kamu itu sok perhatian! Ngakunya ingin memberiku kebahagiaan, tapi apa? Kamu selalu bertindak semaumu tanpa mengerti perasaanku! Kalau kamu memang benar-benar malaikatku, tunjukkan! Jangan asal ngomong aja! Lakukan! Buat aku bahagia!" terlihat sorot mata Sasuke tajam.

Sakura tersentak kaget. Hatinya tersayat-sayat mendengarnya. Tak disangka ternyata Sasuke sangat terganggu akan kehadirannya. Memang benar, selama Sakura tinggal bersama Sasuke ia belum pernah bisa membuat Sasuke bahagia, bahkan membuatnya tersenyum dan tertawa lepas saja belum. Sakura bungkam seribu bahasa. Meresapi kembali perkataan Sasuke barusan. Bibirnya bergetar sedang tangisnya tak dapat ia bendung sehingga jatuh membasahi pipinya. Cepat ia mengusap air matanya lalu menatap lurus mata hitam milik Sasuke.

"I-Itu semua karena Sasuke-kun tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku. Kamu tidak pernah menceritakan semua masalahmu padaku. L-lalu...bagaimana caranya aku bisa membuatmu bahagia kalau kamu tidak bisa bersikap terbuka padaku?" isak Sakura.

"Alasan! Bilang saja kalau kamu memang tidak bisa membuatku bahagia. Iya kan? Ngaku aja deh!" ujar Sasuke dengan nada ketus. Tumpah sudah semua air mata Sakura. Makin lama ia makin tak dapat menahan air matanya. Tanpa sadar tangan Sakura menyambar tas sekolahnya dan melemparnya dengan sekuat tenaga ke arah Sasuke.

"Aduh, Sakit tahu!" Sasuke merintih menahan sakit.

"Baka*!" cepat Sakura berlari ke arah jendela yang terbuka lebar, dan dengan sayapnya ia terbang ke atas langit biru. Sasuke mengelus-ngelus kepalanya yang sakit, sampai akhirnya mata hitam miliknya tertuju pada benda asing yang keluar dari tas milik Sakura.

#####

Sakura terbang mengelilingi kota Konoha yang penuh sesak dengan kerumunan orang. Tampak mereka berlalu lalang dari satu tempat ke tempat lainnya, sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sakura memaklumi hal itu, karena kota Konoha terkenal rajin penduduknya. Walau hari Minggu, mereka tetap giat bekerja tanpa mengenal waktu sesuai dengan kewajiban yang sudah ditetapkan. Justru Sakura senang melihatnya. Karena menurutnya, semua pekerjaan yang dilakukan dengan tekun pasti akan menghasilkan keuntungan yang besar.

Perlahan Sakura turun ke sebuah taman kota tanpa di ketahui siapa pun. Sakura mengedarkan pandangannya, menikmati pemandangan di taman tersebut. Sakura menutup matanya yang basah karena air mata sembari menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi.

"Sakura!" sahut Ino dari kejauhan. Sakura membuka matanya dan melambai pelan ke arah Ino yang menghampirinya.

"Sedang apa kamu disini?" tanya Ino pada Sakura.

"Hanya sekedar main kok. Bosan di rumah terus." Sakura mencoba tersenyum pada Ino. Namun senyumnya tampak kaku.

"Kamu kenapa? Ada masalah ya?" Ino mengernyitkan dahi saat mengetahui mata basah Sakura.

"Nggak kok. Nggak ada apa-apa," balas Sakura berbohong.

"Bohong. Pasti soal Sasuke ya? Cerita aja, mungkin aku bisa bantu?" tawar Ino. Sakura diam sejenak, berpikir apa ia akan menceritakan semuanya pada Ino atau tidak. Selang beberapa detik kemudian Sakura mengangguk. Ino manggut-manggut melihat reaksi Sakura. Diajaknya Sakura duduk disebuah kursi taman yang letaknya dekat dengan pohon rindang.

"Sasuke marah padaku..." kata Sakura lirih.

"Marah? Kenapa?"

"Aku juga tidak tahu." Sakura menggeleng pelan.

"Ooh...tapi sebenarnya Sasuke baik kok." Sakura mengangkat alisnya, tak mengerti dengan ucapan Ino. Ino tersenyum simpul sambil tetap memandangi langit behiaskan awan-awan putih.

"Aku, Naruto dan Sasuke sudah berteman sejak kecil. Dulu Sasuke anak yang periang dan ramah. Setiap kali aku dan Naruto sedang kesusahan dia pasti siap membantu. Tapi entah kenapa tiba-tiba sifat Sasuke berubah. Dia jadi cepat marah dan tersinggung. Apalagi kalau sudah menyangkut tentang keluarganya, dia jadi sangat sensitif. Pernah aku dan Naruto mencoba untuk menanyakan penyebabnya, tapi Sasuke tidak mau cerita bahkan dia lebih suka mengalihkan pembicaraan daripada menjawab pertanyaan kami. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa Sasuke tidak mau kami datang berkunjung ke rumahnya," cerita Ino panjang lebar. Sakura mendengarkan setiap kata yang dilontarkan Ino dengan seksama.

"Memangnya...apa yang terjadi dengan keluarga Sasuke-kun?" tanya Sakura penasaran.

"Lho? Seharusnya aku yang tanya padamu. Memangnya kamu tidak tahu? Bukannya kalian saudara?" Ino mengerutkan dahi tak mengerti. Spontan Sakura langsung membekap mulutnya.

"N-Nggak, soalnya keluarga Sasuke tidak ada yang memberitahuku dan juga keluargaku. Sasuke juga tidak mengatakan apa-apa," jawab Sakura cepat. Hampir saja ketahuan.

"Ooh...Aku sendiri juga tidak tahu. Yang aku tahu Ayahnya sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Walau aku dan dia sudah berteman akrab, yaah...seperti yang aku bilang tadi, Sasuke tak mau menceritakan apa-apa tentang keluarganya. Kalaupun dia menjawab, dia hanya menjawab sekenanya saja. Tidak lebih."

Sakura tertunduk lemas. Merasa satu-satunya informasi yang bisa ia dapat untuk membahagiakan Sasuke lenyap sudah.

"Jangan khawatir, aku yakin suatu saat nanti Sasuke akan menceritakan semuanya

padamu," ujar Ino bermaksud menyemangati Sakura. Sakura menoleh, menatap mata biru Ino lekat-lekat. Entah kenapa rasanya Ino selalu tahu apa yang ada di pikiran Sakura.

"Sudah...sudah...jangan nangis lagi ya?" Ino mengelus-elus kepala Sakura pelan. Sakura mengangguk, menyeka air matanya dan tersenyum pada Ino manis sekali.

"Kawaii! Ternyata memang Sakura paling cocok kalau tersenyum! Kamu manis banget!" seru Ino histeris dan langsung memeluk tubuh Sakura. Sakura terkekeh geli dibuatnya.

"Eng...Ino-chan, aku harus segera pulang. Aku ingin cepat-cepat minta maaf dan berbaikan dengan Sasuke-kun. Arigatou..." Sakura buru-buru pamit. Ino tersenyum lalu melambaikan tangannya ke arah Sakura.

"Sakura, ganbatte*!" teriak Ino dari kejauhan (*Berjuanglah)

"Ehm!" Sakura membalas senyuman Ino dan kembali melanjutkan langkahnya.

#####

Sudah beberapa menit berlalu, namun mata Sasuke tetap tertuju pada benda yang keluar dari tas Sakura yang tidak lain adalah sebuah handphone. Bentuknya mirip seperti handphone biasa yang di gunakan orang awam, hanya saja coraknya agak berbeda, menggambarkan ciri khas seorang malaikat. Sempat Sasuke berniat mengambilnya, tapi ia urung. Bagaimana pun juga itu milik Sakura, dia tidak berhak mengambil seenaknya tanpa ijin dari pemilik.

Sasuke berbalik hingga akhirnya langkahnya terhenti oleh dering handphone Sakura. Ditatapnya kembali handphone tersebut, menimbang-nimbang apa ia akan mengambilnya atau tidak. Karena rasa penasarannya terlalu kuat, alhasil Sasuke lebih memilih mengambilnya. Dengan hati-hati jari putih Sasuke menekan tombol handphone yang ada di genggamannya hingga akhirnya sebuah pesan muncul dari layar handphone Sakura.

Bagaimana? Sudah bertemu dengannya?

Sasuke mengernyit, tak mengerti dengan isi pesan tersebut. Kembali ia menekan tombol, bermaksud melihat pesan lainnya yang sebelumnya dikirim oleh sang pengirim maupun oleh Sakura.

From : Sakura

To : Kurenai-san

Ehm...Kurenai-san, ada yang ingin kutanyakan? Boleh?

From : Kurenai-san

To : Sakura

Tentu saja. Tanya apa?

From : Sakura

To : Kurenai-san

Apa kalau aku bisa menemukan kebahagiaan, Kurenai-san benar-benar akan mengabulkan permintaanku?

From : Kurenai-san

To : Sakura

Pasti. Aku tidak akan melanggar janjiku padamu. Yang penting sekarang kamu harus bertemu dengan Sasuke dan menemukan kebahagiaannya secepatnya.

Lagi-lagi Sasuke mengernyitkan dahi. Pesan terakhir yang dibacanya sukses membuat rasa penasarannya semakin besar. Sebenarnya apa hubungan Sakura dengan orang yang bernama Kurenai dan apa maksud dari permintaan yang dikatakan Sakura? Mau tidak mau pertanyaan itu terus membayangi pikiran Sasuke tanpa henti. Sasuke menggeleng cepat, mencoba menepis pertanyaan yang keluar dari kepalanya dan meneruskan membaca pesan Sakura.

From : Sakura

To : Kurenai-san

Ehm! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Sasuke-kun! Pasti!

Sasuke mengulum senyum. Rasa bersalah tiba-tiba merasuki hatinya. Sebenarnya Sasuke tahu betul Sakura sudah berusaha sebisanya untuk membahagiakannya. Tapi entah kenapa ego milik Sasuke begitu besar, sehingga tanpa sadar ia melukai hati Sakura.

TOK-TOK-TOK

Kini pandangan Sasuke beralih ke arah pintu apartemennya. Dimasukkannya handphone Sakura kedalam tas dan bangkit dari tempatnya duduk untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.

"S-Sasuke-kun..." tampak Sakura gelagapan saat Sasuke membukakan pintu.

"A-Aku mau minta maaf. Eng...kalau memang Sasuke-kun terganggu, aku bisa pindah dari tempat ini secepatnya. Honto ni gomenasai*!" Sakura sedikit membungkukkan tubuhnya, tanda ia sangat menyesal. (*Aku benar-benar minta maaf)

Sasuke menghela nafas panjang lalu membalikkan badannya. Mengetahui ketidak acuhan Sasuke, Sakura menengadahkan kepalanya. Sempat Sakura hampir meneteskan air matanya, tapi ia tahan karena ia tidak mau membuat Sasuke susah dan merasa bersalah karena membuatnya menangis.

"Mau sampai kapan kamu disitu? Cepat masuk." Sasuke menoleh pada Sakura yang masih berdiri mematung di depan pintu. Sakura mengerjapkan mata tak percaya.

"T-Tapi kan..."

"Aku juga minta maaf. Bicaraku kelewatan tadi." Sasuke memalingkan wajahnya, berusaha menutupi wajahnya yang kini memerah karena ucapannya sendiri.

"Jadi Sasuke-kun memaafkanku? Itu artinya aku masih bisa tinggal disini?" tanya Sakura memastikan.

"Hng." Singkat, tapi cukup bagi Sakura untuk tersenyum kegirangan. Tanpa pikir panjang ia langsung menghambur ke arah Sasuke dan refleks memeluknya. Tentu saja hal itu membuat jantung Sasuke berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Arigatou, Sasuke-kun! Aku janji, mulai saat ini aku akan berusaha untuk menjadi malaikat yang terbaik untukmu!" teriak Sakura tak tertahankan.

"I-Iya, iya. Terserah. Tapi lepas dulu!" seru Sasuke tak kalah keras. Sakura terkekeh geli mendengarnya dan tiba-tiba muncul pikiran jahil di kepalanya.

"Sasuke-kun malu ya? Wajahmu merah seperti kepiting rebus!" goda Sakura.

"A-Apa? Siapa juga yang malu!" Sasuke membantah perkataan Sakura dengan menjawab sebiasa mungkin. Namun apa yang ditangkap Sakura justru sebaliknya. Sasuke-kun lucu kalau salah tingkah, begitu pikir Sakura.

"Eng...Kalau begitu sekarang Sasuke-kun mau apa? Aku jadi bersemangat mencari kebahagiaanmu. Katakan saja, apapun akan aku lakukan untukmu!" ucap Sakura antusias. Sasuke menyeringai. Dan kini gantian pikiran jahil yang masuk ke dalam kepalanya.

"Hmm...jadi kamu akan melakukan apa saja untukku ya?" Sasuke mendekati Sakura hingga wajahnya hanya berjarak sekitar satu senti dengan wajah Sakura. Yaah...tak dapat dipungkiri, kini posisi Sakura sama seperti Sasuke ketika ia menggodanya.

"A-Apa maksudmu Sasuke-kun?" ujar Sakura mencoba menenangkan diri sambil mengatur detak jantungnya yang sudah tak karuan.

"Jadi kamu nggak tahu ya? Oke, aku kasih tahu. Aku laki-laki dan kamu perempuan, tinggal satu atap lagi. Memangnya kamu nggak takut?" Sasuke tersenyum penuh arti sedang Sakura merinding mendengarnya.

"A-Aku..."

"Bercanda. Mana mungkin aku mau melakukannya denganmu, bodoh." Sasuke segera mengakhiri pembicaraannya dan meninggalkan Sakura yang sudah hampir pingsan dibuatnya. Rasakan! Makanya jangan macam-macam denganku, batin Sasuke.

"M-Matte, Sasuke-kun! Kamu belum menyebutkan permintaanmu," cegah Sakura cepat.

"Nggak perlu."

"Huh, selalu saja begitu! Baiklah, kalau tidak mau biar aku buatkan sesuatu untukmu ya? Kamu pasti lapar." Sakura menutup matanya dan tiba-tiba dua buah sayap menjuntai dari balik punggungnya bersamaan dengan munculnya sebuah tongkat kecil dari tangan Sakura. Diayunkannya tongkat itu lalu seketika itu juga semua peralatan dapur, seperti panci, wajan, dan lain sebagainya bergerak sesuai perintah yang diberikan Sakura. Sasuke yang melihatnya berdecak kagum. Itu semua karena baru pertama kali ini ia melihat Sakura memakai sihirnya. Selama ini yang ia lihat hanya Sakura mengeluarkan sayapnya, tidak lebih.

"Sughoi*!" gumam Sasuke dalam hati. (*Hebat/Keren)

Baru saja Sasuke akan melontarkan rasa kagumnya kepada Sakura, sihir Sakura kehilangan kontrol. Alhasil sebuah wajan yang tadinya siap untuk menggoreng, terbang melayang tepat ke arah kepala Sasuke. Tampaknya hari ini dewi keberuntungan tidak sedang bersama Sasuke.

"G-Gomen...Aku masih pemula sih, jadi sihirku masih belum terlalu kuat. S-Sasuke-kun?"

"Aku salah, ternyata memang lebih baik kamu pergi dari sini!" geram Sasuke.

"HEEEH..."

Begitulah, kelihatannya Sakura masih butuh waktu lama untuk membahagiakan Sasuke. Ia harus bekerja ekstra. Dan diperkirakan perbandingan keberhasilannya satu banding seribu. Sementara Sasuke harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi kecerobohan Sakura.

To Be Continued

Akhirnya setelah menjalani UTS selama seminggu, bisa update yang chapter 3! ^_^ Tapi kok kalau dilihat-lihat ceritanya makin lama makin ngelantur ya? Huwaaa! Maklum masih newbie, bahasa sama alurnya masih berantakan. ,

Yaaah...pokoknya buat para reader dimohon dengan sangat review dan sarannya. Yoroshiku Onegashimasu. ^^