Chapter 1 : Vampire Yang Nekat
Malam ini begitu dingin dan sunyi. Angin bertiup lembut. Beberapa helai daun jatuh tertiup olehnya. Bahkan atap rumah keluarga Kuran jatuh satu. Suara derit-derit yang gak jelas asalnya dari mana, mengiring langkah Kaname menaiki tangga depan rumahnya yang udah gak keliatan lagi batang hidungnya.
JREEEKKK!
Di anak tangga ketiga, eh… keempat, eh… kedua kali ya? Ya pokoknya gitu deh. Soalnya gak keliatan batang anaknya. Kaki yang ntah kanan atau kiri, amblas masuk ke dalam lubang setelah anak tangga yang dia injak roboh. Kaname cuma terdiam dengan kakinya yang terjebak itu. Tanpa pikir panjang, dia langsung menarik keluar kakinya itu. Alhasil kakinya luka. Tapi biasalah. Sedetik dua detik juga hilang kakinya eh… lukanya maksudnya.
"Aku pulang…" seru Kaname sambil masuk ke dalam rumah. Dia berbalik badan untuk menutup kembali pintu rumahnya.
JGREEKK!
Kaname terpaku ditempatnya masih dengan posisi menutup pintu. Dia masih memegang gagang pintu sementara pintunya sudah tertutup rapat.
"Kaname!" seru Yuuki yang langsung meluk Kaname dari belakang, meskipun dia belum mandi seminggu dan belum ganti baju sebulan. Rambutnya masih acak-acakan kayak kuntilanak kesiangan. Bajunya lusuh kayak gembel dan bau badannya bunga bangkai cap kemeyan. Muka Kaname langsung pucat kayak mayat dan bibirnya biru. Bukan karena baunya Yuuki yang bisa bikin orang lima RT gak nafsu makan, tapi karena begitu Yuuki nubruk Kaname, pintu rumahnya langsung roboh ke depan (alasannya gak banget deh. Masa kaname bisa pucet cuma gara-gara itu?), sementara gagang pintunya masih dia pegang. Kaname langsung balik badan dan tangan kanannya myembunyiin gagang pintu dibalik tubuhnya.
"Ada apa, Yuuki? Sepertinya ada yang lain dengan kamu hari ini…" tanya Kaname.
"Aku pengen nanya sesuatu. Tapi aku gak yakin juga," kata Yuuki.
"Ada apa? Tanyakan saja. Keluarkan semua yang ingin kau tanyakan." Yuuki diam bentar lalu natap Kaname.
"Kenapa sih aku gak boleh keluar?" tanya Yuuki. Kaname ngusap pipi Yuuki dengan tangan kirinya yang belum dicuci habis cebok.
"Kan aku sudah pernah bilang, kalo kamu keluar kamu bisa masuk angin terus tetanus. Malahan sekarang kamu bisa kena rabies. Kamu gak mau kan?" kata Kaname yang bo'onk banget. Yuuki yang polos malah ngeri ngedenger kata-kata Kaname.
"Ra…rabies itu apa?" tanya Yuuki.
"Rabies itu suatu penyakit yang sangat berbahaya. Kamu bisa terbaring lemah di kasur dengan badan panas dingin (bukannya itu demam ya? LOL)." Yuuki yang sebenarnya gak begitu ngerti, gemetar.
"Tapi kok kakak boleh keluar dan gak masuk angin, tetanus sama rabies?" tanya Yuuki. Kaname mulai bingung cari alasan.
"Eee… kalo kakak itu kebal. Jadi gak bakal kena hal-hal seperti itu. Kalo kamu gak bisa kayak kakak."
"Eeee? Kenapa gitu?" Kaname mulai garuk-garuk kepala sampe ketombe dan kutunya pada jatuh semua.
"Soalnya kamu itu lemah Yuuki. Jadi kamu akan mudah terkena hal-hal yang seperti itu." Lagi-lagi Yuuki diam.
"Oya, daritadi sepertinya kakak memegang sesuatu dibalik tubuh kakak. Ada apa?" Yuuki mencoba melihat ke belakang tubuh Kaname. Tapi Kaname langsung mengelak menutupi pandangan Yuuki.
"Yuuki, sebaiknya kita lanjutkan bicara di dalam saja ya. Gak enak bicara di depan pintu sambil berdiri gini. Lagipula kamu udah gak sabar pengen minum darah kakak kan?" Kaname mencoba mengalihkan perhatian. Begitu denger darah, Yuuki langsung ngiler. Apalagi dia paling suka darah Kaname yang rasa jengkol cap pete. LOL
Keesokkan harinya, lagi-lagi Kaname pergi dengan alasan yang gak jelas. Setelah pamit sama Yuuki dan minta babunya yaitu si Hanabasi Hanabusa untuk jagain Yuuki, dia langsung ngacir sama mang Aidou, bapaknya Hanabusa. Sebelumnya tak lupa dia berpesan pada Yuuki untuk tidak keluar rumah.
"Hah~" Yuuki menghela nafas.|
"Nopo tho cah ayu? Kok menghela nafas? Mengko kebahagianmu ilang piye?" tanya Hanabusa si babu gaul dari Jawa.
"Kenapa sih gue harus terus-terusan dirumah? Sedangkan kakak bisa enak-enakan keluar. Gue bête. Gue pengen keluar. Gue penasaran. Sebenarnya apa sih yang bikin dia ngelarang gue keluar? Gue ngerasa ada yang disembunyiin sama dia," kata Yuuki yang tau-tau udah ngomong pake lo-gue. Yuuki berbalik menatap Hanabusa. "Lo kan royal dan deket banget sama abang gue. Lo pasti tau sesuatu. Ya kan?"
"Kulo boten ngertos, non. Kulo cuma ngelakoni opo sing dikandake karo Raden Mas Kaname-sama. Kulo bakal ngelakoni opo wae sebab kulo percaya karo Raden Mas Kaname-sama. Sebab beliau raka bakal macem-macem. Beliau pasti ngelakoni sing terbaik kanggo Raden Ajeng Yuuki-sama. Sebab…"
"Oke, stop! Gue gak mau telinga gue pendarahan. Kelamaan dengerin lo nyerocos otak gue bisa jungkir balik. Udah ah! Gue gak peduli lagi!" Yuuki langsung lari ke pintu depan dan mencoba membukanya. Tapi ternyata dikunci.
"Hehehe… Maaf, Non. Kulo disuruh karo Raden Mas Kaname-sama buat ngunci pintu. Kalo-kalo Raden Ajeng Yuuki-sama mau keluar koyo saiki…" kata Hanabusa sambil mengangkat kunci pintu di tangan kanannya. Senyumnya lebar begitu menyilaukan.
"Berikan!" perintah Yuuki sambil menengadahkan tangannya. Hanabusa langsung menyembunyikan kunci itu dibalik tubuhnya.
"Lo mau melanggar perintah dari vampir darah murni?" tanya Yuuki dengan nada mengancam. Meskipun dia sendiri gak begitu mudeng apa itu vampire darah murni. Yang jelas menurutnya itu hebat dan bisa bikin semua vampir tunduk.
Tangan Hanabusa mulai gemeter. Tapi dia tetep gak mau ngasih kunci ke Yuuki. Yuuki pun kesal dan akhirnya berbalik menatap pintu. Dengan perasaannya yang menumpuk antara marah, kesal, bête dan keinginan kuatnya ingin keluar, pintu itu langsung retak dan akhirnya hancur. Yuuki dan Hanabusa sama-sama kaget. Tapi kekagetan Yuuki gak berlangsung lama. Dia langsung memanfaatkan hal itu untuk langsung keluar. Tapi sayangnya dia harus berhadapan dengan hutan rimba (baca: rumput liar) terlebih dahulu.
"Eeeehhh! Non, tunggu! Ojo lungo! Piye tho?" seru Hanabusa. Hanabusa yang melihat itu langsung buru-buru ngejar Yuuki.
Setelah melewati 'hutan rimba', Yuuki masih harus menelusuri hutan yang sebenarnya. Tanpa alas kaki dia terus berjalan. Rasa sakit karena tertusuk atau tergores sesuatu di tanah udah gak terasa lagi sama dia. Keinginan kuat dan rasa penasarannya mampu menghilangkan semua itu. Bahkan suara Hanabusa yang nyinden pun udah gak didenger dia lagi.
"Non, tunggu. Iki swallow ne ketinggalan. Ojo lunga. Mengko nek Raden Mas Kaname-sama tau, kulo iso di penggal," kata Hanabusa dengan suara perut karena suara kerongkongannya udah habis (emang bisa?). Meskipun begitu suara merdu (baca: merusak dunia) Hanabusa gak terdengar oleh Yuuki. Belakangan diketahui bahwa telinganya kesumbat tahi lalat.
Penantian Yuuki terjawab saat dia mendengar suara-suara di depannya. Setengah berlari dia menuju suara itu dan menyibak rumput dan pohon terakhir. Betapa kagum dan terpesonanya Yuuki melihat pemandangan kota yang begitu ramai. Orang-orang sibuk berlalu lalang dan bekerja. Banyak toko-toko dan gedung-gedung ala Inggris. Sungguh pemandangan yang baru pertama kali dia liat. Saking kagumnya, matanya tak berkedip sedikitpun.
