"Ini tidak boleh, Natsume! Apa yang kita lakukan ini salah! Perasaan kita adalah dosa! Demi Tuhan, karena kita ini adalah adik dan kakak!" –Mikan Hyuuga
Yuuto Tamano disclaims Gakuen Alice.
Dedicated to hana 'natsu' phantomhive for her beautiful review in part I that motivated me to make something hardly plain.
Beware of OOC-ness, colorful language, and a little amount of smut.
Bagian II
Namanya Kaname. Lengkapnya Kaname Sono. Dia adalah seorang murid baru yang masuk di kelasku, kelas 2-C. Seharusnya dia sudah mulai masuk sekolah saat tahun ajaran baru dimulai, akan tetapi sebuah kecelakaan membuatnya menunda sekolah beberapa bulan dan baru masuk di pertengahan semester ini. Pantas saja.
Pertama kali aku melihatnya aku terkesima pada penampilan fisiknya; kulit pucat, rambut pirang, dan bola mata emerald. Kaname bagaikan seorang pangeran dari sebuah kerajaan antah-berantah—setidaknya ia persis seperti sosok pangeran yang ada dalam bayanganku saat ibuku sedang berdongeng pengantar tidur ketika aku masih berusia 8 tahunan. Ia juga ternyata memiliki senyuman yang mampu memikat hati para gadis yang ada di kelasku.
Termasuk diriku.
Entah kenapa saat itu aku merasa seperti ada sesuatu yang berloncatan di dalam dadaku ketika Kaname mengambil posisi duduk di sebelahku—kebetulan bangku di sebelahku memang kosong. Lalu entah kenapa wajahku tiba-tiba terasa hangat saat ia berkata padaku sambil tersenyum.
"Namaku Kaname Sono. Kau siapa?"
"A-Aku Mikan Hyuuga. Sa-Salam kenal." sahutku gugup. Kenapa aku gugup?
Kami pun saling bersalaman. Lagi-lagi aku merasakan seperti ada aliran listrik yang mengalir dalam pembuluh nadiku ketika kulit kami saling bersentuhan. Cepat saja aku menarik tanganku kembali dan menundukkan wajahku karena malu.
Kenapa aku malu?
Sejak hari itu aku tidak pernah menyangka bahwa kami akan menjadi dekat. Kami sering bercanda ria, berdiskusi berdua saat pelajaran—karena bangkunya dekat denganku, juga makan bento bersama-sama. Banyak teman-teman sekelas kami yang mengira bahwa kami pacaran, padahal sebenarnya tidak. Lebih hebohnya lagi, sahabatku dari SD, Hotaru Imai, juga sepertinya hendak mendekatkan kami berdua. Aku tahu hal itu tanpa sengaja dari Anna dan Nonoko, yang memang sering sekali keceplosan.
Membuatku malu setengah mati, walau di sisi lain aku merasa senang sekali.
Menjalani cinta baru dengan Kaname, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya bukan hal yang buruk bagiku, lagipula aku memang cukup menyukainya. Walaupun aku tak tahu apakah ia juga menyukaiku atau tidak. Semoga saja iya.
Karena dengan begitu aku akan bisa melupakan Natsume sepenuhnya.
Aku begitu optimis, hingga suatu hari sebuah kejadian yang tak menyenangkan terjadi. Aku melihat Kaname tampak tergeletak di tanah dengan wajah yang cukup babak belur di halaman belakang gedung sekolah. Segera saja aku menghampirinya. Khawatir dan cemas begitu memenuhi benakku.
"Kaname-kun! Kamu nggak apa-apa 'kan?" seruku cemas, sambil mengangkat sedikit kepalanya ke atas dan menyandarkannya pada tembok di belakangnya.
"A-Aku ng-nggak apa-apa… Mi-Mikan-chan…"
"Kamu tunggu sini ya! Aku akan segera memanggil bantuan!" Spontan aku segera berlari menuju ke beberapa anak cowok yang kebetulan sedang melewati tempat itu, kemudian meminta tolong kepada mereka untuk membawa Kaname ke klinik sekolah.
Luka-luka memar yang ada di wajah Kaname segera saja diberi salep dan perban khusus. Dokter juga menyuruhnya untuk tidak usah mengikuti jam pelajaran berikutnya dan beristirahat saja di klinik. Sementara sang dokter sedang membuatkan surat izin tidak mengikuti pelajaran untuknya, aku hanya duduk di kursi di samping tempat tidurnya, menggenggam dan mengelus-elus telapak tangannya. Mimik khawatir masih tergurat di wajahku dengan jelas.
"Kenapa kau bisa babak belur seperti ini, Kaname-kun? Apa yang terjadi?" tanyaku, sambil berusaha untuk menahan tangisku.
"Sebenarnya, seorang kakak kelas tiba-tiba saja mendatangiku dan menarik lenganku hingga ke belakang sekolah. Lalu tiba-tiba saja kakak kelas itu memukuliku. Tanpa alasan yang jelas."
"Eh? Siapa kakak kelas itu?"
"Entahlah, Mikan-chan. Aku tidak kenal. Aku murid baru disini jadi tidak kenal seorang pun kakak kelas maupun adik kelas."
"Ciri-ciri fisiknya?" Aku semakin penasaran dibuatnya. Siapa tahu saja aku mengenal kakak kelas yang telah memukulnya itu.
"Hm… Sebentar kuingat-ingat lagi…Err, yang pasti sih tinggi, kulitnya putih, cukup tampan sih," Ia terhenti sejenak, tampak sedang berpikir. "Oh! Aku ingat satu hal yang paling mencolok dari dia—iris matanya! Ya, iris matanya berwarna crimson!"
Aku membelalakkan kedua mataku ketika tiba-tiba saja sebuah sosok seorang laki-laki terlintas di benakku. Tidak salah lagi. Satu-satunya siswa di sekolah ini yang memiliki iris mata berwarna merah hanyalah dia.
Natsume Hyuuga.
Tanpa basa-basi aku segera berlari meninggalkan Kaname. Mengabaikan teguran-teguran guru untuk tidak berlari-lari di koridor sekolah. Dalam pikiranku hanyalah dia. Aku harus menemui dia. Kemudian menyuruhnya untuk meminta maaf pada Kaname atas perbuatannya. Aku tahu kalau saat ini pasti dia sedang bolos pelajaran—aku sangat tahu. Dan aku juga tahu kira-kira dimana ia berada sekarang.
Pohon Sakura yang berada di bagian timur kompleks bangunan kelas tiga.
Benar saja, aku menemukannya tengah duduk menyandar pada batang pohon Sakura yang daun-daunnya masih berwarna hijau itu, sambil membaca komik kesayangannya.
"Natsume!"
Tepat di saat ia menolehkan wajahnya padaku, aku menampar pipinya, keras.
Entah kenapa waktu terasa berhenti sejenak setelah aku melakukannya.
"What the hell, Mikan! Kenapa kau—"
"Justru aku yang harus bertanya padamu!" potongku dengan intonasi yang tinggi, "Kenapa kau memukul Kaname-kun?"
"Kaname-kun? Siapa maksudmu?"
"Jangan pura-pura nggak tahu! Kaname-kun itu temanku, sahabatku, orang yang paling penting untukku. Sekarang dia terbaring di klinik gara-gara ka—"
Ucapanku terpotong saat Natsume tiba-tiba saja bangkit berdiri dan menarik lenganku, kemudian mendorong punggungku hingga menubruk batang pohon Sakura itu. Terasa sedikit sakit. Tapi kedua pergelangan tanganku yang digenggamnya dengan erat terasa jauh lebih sakit. Aku meringis pelan karenanya. Aku tak bisa lepas darinya—ia seperti mengurungku erat hanya dengan kedua tangannya yang kekar itu.
Kutundukkan wajahku ke bawah, menolak untuk bertatapan langsung dengannya.
Samar-samar dapat kurasakan aliran nafasnya. Desahannya. Membuat jantungku berdebar begitu kencang hingga nyaris copot. Entah itu karena rasa takut atau karena hal lain yang tak ingin aku akui. Selain itu, dapat juga kucium wangi tubuhnya, yang bercampur dengan wangi parfumnya. Sungguh khas dirinya. Wangi yang sudah tidak asing lagi untukku.
"Le-Lepaskan aku, Natsume…!"
Tak ada jawaban darinya, namun cengkeramannya padaku semakin erat hingga aku mengerang kesakitan.
"Le-Lepas…"
Lalu kucoba untuk sedikit melawan. Kukumpulkan seluruh tenagaku di kedua tanganku. Kemudian sedikit meronta-ronta untuk dapat lepas dari cengkeramannya. Namun hal itu ternyata sia-sia saja. Dia jauh, jauh, jauh lebih kuat dariku.
Saat itu aku begitu takut. Takut sekali. Lelaki yang ada di hadapanku saat itu sama sekali bukan kakakku, melainkan seseorang yang sama sekali tak kukenal. Siapa dia? Kemana kakakku yang biasanya?
"Ng—"
Tiba-tiba saja Natsume mendekatkan bibirnya pada telinga kiriku. Desahan nafasnya pada ujung atas daun telingaku membuatku merinding sekaligus geli, hingga kedua bahuku terangkat secara spontan. Kedua mataku terbuka lebar ketika ia membisikkan sesuatu di telingaku—sesuatu yang tidak pernah aku sangka-sangka.
"Aku paling benci melihatmu akrab dengan lelaki lain."
Setelah itu, ia akhirnya melepaskan kedua pergelangan tanganku dari cengkeramannya. Kemudian segera berlari meninggalkanku sendiri di tempat itu. Kedua kakiku terasa begitu lemas hingga diriku terjatuh dengan bertumpu pada kedua lututku. Aku masih merasakan seluruh bulu kudukku berdiri tegak, jantungku berdebar sangat kencang, dan wajahku terasa sangat panas. Betapa takut diriku saat itu.
"A-Apa maksudnya…?" Benar, apa maksud ucapannya itu?
Natsume benar-benar seorang lelaki yang sama sekali tak bisa kuterka pikiran dan tindak-tanduknya. Sesaat ia seperti yang benci padaku, tapi setelahnya ia seperti yang memberi harapan padaku.
Membuatku bimbang.
Kejadian itu membuat sosok dirinya sekali lagi memenuhi pikiranku.
—dan membuatku menjadi semakin sulit untuk melupakan rasa cinta terlarangku ini padanya.
Aku serasa seperti yang sedang dipermainkan olehnya.
Lalu beberapa bulan kemudian, hari kelulusan pun tiba. Natsume berhasil lulus dan masuk ke SMA favorit dengan nilai ujian masuk terbaik. Tentu saja hal itu membuat ayah, ibu, dan aku merasa senang sekaligus bangga terhadapnya.
Sedangkan aku, di bulan April ini, akhirnya telah menjadi siswi kelas 3 SMP.
Awalnya aku pikir hari pertama masuk sekolah akan menjadi hari yang menyenangkan bagiku, hingga Kaname tiba-tiba saja mengajakku ke sebuah spot di lingkungan taman sekolah yang dipenuhi dengan pohon Sakura yang daun-daun berwarna pink-nya itu tengah berguguran. Memberikan kesan romantis di antara kami berdua. Menyadari itu, mendadak aku punya feeling apa yang akan dia lakukan terhadapku.
Ternyata feeling-ku seratus persen tepat; Kaname menyatakan cintanya padaku.
Aku dapat merasakan wajahku memerah seperti tomat.
Ini dia yang kutunggu-tunggu. Ini dia yang kuharapkan.
Kaname yang menyatakan cintanya padaku, lalu setelahnya kami berpacaran dan menjadi pasangan paling romantis sedunia. Aku pasti akan merasa bagaikan seorang princess di pelukannya. Dan yang paling penting, aku akan dapat melupakan Natsume seutuhnya.
Walaupun terdengar mudah, tapi kenapa jawaban "iya" mendadak seperti yang tercekat di dalam tenggorokanku? Satu kata itu sama sekali tak bisa kukeluarkan dari bibirku.
Aku hanya diam menatapnya tanpa berkata apapun.
Melihat reaksiku yang seperti itu, Kaname yang awalnya percaya diri kini tampak berubah menjadi canggung. Ia menggaruk-garukan kepalanya, yang aku yakin sama sekali tidak terasa gatal.
Ia lalu mengatakan bahwa aku boleh berpikir-pikir dulu dan baru memberikannya jawabannya seminggu kemudian.
Aku hanya mengangguk pelan.
Aku benar-benar tak mengerti dengan diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa langsung menjawabnya? Kenapa aku seperti yang ragu? Bukankah aku juga menyukai Kaname? Saat itu aku benar-benar benci dengan diriku sendiri. Karena di saat Kaname sedang menyatakan cintanya padaku, bayangan Natsume terus saja muncul di benakku.
Dan itulah alasan kenapa kata "iya" tak dapat keluar dari bibirku.
Lalu keesokan harinya, akhirnya disepakati bahwa jawaban dari pernyataan cintanya terhadapku itu adalah dengan pergi kencan—jika aku datang pada tempat yang dijanjikan, itu berarti aku setuju untuk menjadi gadisnya.
Betapa bodohnya aku karena menceritakan tentang 'kencan' itu tidak hanya pada Hotaru saja, tapi juga pada Anna dan Nonoko.
Karena pada saat mereka berdua dan Hotaru sedang mampir untuk bermain ke rumahku, mereka berdua memberitahu ibuku tentang pernyataan cinta dan kencan itu.
Lalu ibuku yang merasa senang, menceritakan hal itu pada ayah dan juga Natsume.
Malam itu aku sedang asyik-asyiknya memandangi dewi malam dan para pengikutnya yang telah keluar dari balik awan. Cahaya purnamanya yang begitu kemilau membuatku tak bisa melepaskan kedua mataku darinya. Hangatnya angin pertengahan musim semi juga membuatku tak ingin bangkit dari beranda lantai dua rumah kami. Malam itu entah kenapa terasa begitu tenang dan damai.
Kemudian kudengar suara pintu digeser dan derai langkah kaki yang mendekatiku dari belakang. Tanpa sadar aku menahan nafasku mengetahui siapa pemilik langkah kaki itu.
Siapa lagi kalau bukan kakakku, Natsume.
Natsume lalu menghentikan langkahnya tepat di sampingku. Kulihat dirinya pun menengadahkan wajahnya dan turut memandangi bulan purnama di atas kami. Aku sontak mengalihkan tatapanku menjauhi dirinya ketika mendapati kedua mata merahnya tiba-tiba menatap balik diriku.
Hening sejenak.
"A-Ada apa?" tanyaku sedikit gugup, berusaha untuk setidaknya menghilangkan keheningan di antara kami.
Namun ia tak langsung menjawab. Aku dapat merasakan tatapannya yang tajam itu masih tertuju padaku.
"Kudengar, kamu ditembak?" tanyanya tiba-tiba.
"Huh?"
"Tch." desisnya, "Apa benar seseorang telah menyatakan cinta padamu?"
Spontan, aku kembali menoleh padanya, "Ta-Tahu darimana?"
"Dari ibu. Lalu?"
"Lalu apa?"
"Apa kamu setuju untuk pacaran dengannya, Baka?"
Kesal dengan panggilan bernada ejekan darinya, aku menjulurkan lidahku. "Setuju atau tidak, itu terserah aku. Sama sekali bukan urusanmu!" Kemudian kualihkan kembali fokusku pada pemandangan indah di atasku.
Sungguh indah dan tenang. Suasana di sekitarku kembali hening.
Tak ada satu pun dari kami yang setelahnya mengeluarkan sedikit pun suara. Kami terus saja terdiam. Seperti dua orang bisu tengah bersandingan. Cukup lama. Sampai-sampai aku nyaris melupakan keberadaannya di sampingku.
Hingga tiba-tiba saja jari-jemarinya perlahan meraba-raba telapak tangan kiriku. Dilingkarkannya masing-masing jarinya pada jari-jariku dan menggenggam tanganku erat setelahnya. Membuatku sontak membelalakkan kedua mataku karena terkejut akan panas tubuh yang mengalir masuk ke dalam kulitku. Hingga wajahku pun tiba-tiba terasa panas dan aku seperti dapat mendengar denyut jantungku sendiri. Keras dan cepat. Kurapatkan bibirku. Merasa aneh pada diriku sendiri yang tak dapat menolak sentuhan dirinya.
Dan aku sama sekali tak berkomentar apa-apa. Aku hanya pasrah.
Kemudian dapat kurasakan salah satu jarinya bergerak-gerak di telapak tanganku dan mengelus-elus. Sedikit geli. Gerakannya itu begitu pelan dan teratur. Hingga kusadari membentuk sebuah huruf.
Terus bergerak dan membentuk sebuah kata.
Ia lalu melepaskan genggamannya dariku, setelah selesai dengan urusannya itu, dan segera melangkah cepat kembali ke dalam rumah. Kutolehkan wajahku pada sosok punggungnya yang semakin menjauh, hingga masuk ke dalam kamarnya. Kuarahkan kembali fokusku pada telapak tangan kiriku dan kutatap lekat-lekat.
"Jangan."
Saat itu aku benar-benar tak mengerti apa maksudnya menulis kata "jangan" itu di telapak tanganku. Mungkinkah ada hubungannya dengan pernyataan cinta Kaname padaku? Aku menghela nafasku dalam. Itu tidak mungkin, bukan?
Aku pun segera membuat langkahku kembali menuju kamarku, yang berada tepat di seberang kamarnya.
Sepanjang malam itu aku terus memutar otakku. Mencari makna dari setiap tindak-tanduknya. Namun aku tetap tak bisa mengerti. Semuanya seperti blur. Sulit sekali untuk kuterka. Aku terus memikirkan itu sambil menatap langit-langit kamar tidurku, hingga aku jadi tak bisa tidur. Meskipun aku telah menempatkan posisiku dengan nyaman di atas kasurku dan juga telah kuselimuti setengah tubuhku, aku masih belum dapat tidur.
Membuatku jengkel.
Walaupun sebenarnya ada sebuah ide yang sempat terlintas di benakku. Namun ide itu langsung kubuang jauh-jauh karena aku tidak ingin mengakuinya—tidak, melainkan karena aku terlalu takut untuk mengakuinya.
Mengakui bahwa Natsume mungkin merasa cemburu.
That's so not going to be happened, karena hanya cintaku yang bertepuk sebelah tangan.
—atau begitulah pikirku.
Waktu benar-benar bagaikan angin di musim semi, berlalu begitu cepat hingga tanpa kusadari hari dimana aku akan menjawab pernyataan cinta Kaname akhirnya tiba juga.
Setelah kupikirkan baik-baik selama seminggu itu, aku tak dapat menemukan alasan kenapa aku harus menolak Kaname. Hotaru, Anna, dan Nonoko, juga tampaknya sangat mendukung sekali kalau aku pacaran dengan Kaname. Menurut mereka, Kaname itu lelaki yang sungguh baik dan dia pasti akan memperlakukanku dengan baik pula. Aku hanya tersenyum saja mendengar argumen-argumen ketiga sahabatku itu. Lagipula, setelah kupikir-pikir lagi, Kaname memang lelaki yang sangat baik dan perhatian. Setidaknya, ia takkan membuatku 'sakit', tidak seperti seseorang bermata merah yang selama ini aku kenal baik.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menerima pernyataan cintanya.
Dengan mengenakan dress berwarna oranye cerah dan celana jeans mini, aku segera turun dari kamarku, mengabaikan godaan ibuku yang tahu kalau aku akan kencan hari ini. Juga mengabaikan kalimat "lain kali bawa dia ke rumah" yang diserukan ibu padaku saat aku sedang memakai high-heels-ku di teras rumah. Setelah itu, aku cepat-cepat pergi menuju tempat yang dijanjikan.
Menara jam di depan stasiun Hitotsubashi, pukul 10 pagi, akan menjadi saksi bisu awal hubunganku dengan Kaname.
Memikirkan itu membuatku tersenyum.
Perjalanan 30 menit dengan menggunakan bus serasa seperti lama sekali bagiku. Aku menatap pemandangan gedung-gedung yang bergerak semu dari balik jendela bus sambil menyangga daguku pada telapak tanganku. Aku menghela nafasku. Dalam benak terus saja memastikan bahwa yang kulakukan ini pilihan yang tepat. Ya, aku masih meragukan kedatanganku pada kencan hari ini. Pikiranku masih dipenuhi oleh hal itu ketika tiba-tiba saja kedua mataku menangkap sesuatu yang membuatku sempat terkejut.
Motor Natsume—aku melihat seorang pengendara sepeda motor yang menggunakan motor yang sama dengan milik Natsume, bahkan sampai helmnya juga.
Tidak mungkin 'kan? Walaupun sudah memiliki motor sendiri, tapi ayah sama sekali belum mengijinkan Natsume mengendarainya karena belum memiliki SIM.
Benar, pengendara motor itu pasti orang lain, yang kebetulan motor dan helmnya sama dengan milik Natsume.
Kualihkan pandanganku menjauh dari jendela bus. Membuang bayangan pengendara motor itu jauh-jauh dari benakku.
Dadaku tiba-tiba bergemuruh kencang ketika akhirnya bus yang kutumpangi berhenti di halte tujuanku, yang jaraknya 500 meter dari menara jam tempat diriku dan Kaname akan bertemu. Walaupun banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang, tetapi dari halte bus ini, samar-samar aku sudah dapat melihat sosok Kaname yang tengah menyandarkan dirinya pada dinding menara jam tersebut. Ia yang mengenakan kaos cokelat lengan panjang bergaris-garis dan celana jeans berwarna senada yang panjangnya ¾ panjang kakinya membuat jantung yang ada di dalam dadaku serasa berdebar lebih cepat daripada biasanya.
Aku tidak sabar lagi.
Segera saja aku berlari menuju dirinya. Aku tak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi. Namun, baru saja aku berlari sejauh kira-kira 100 meter dari halte bus, sebuah tangan membekap mulutku dan tangan yang lainnya melingkari pinggangku. Kemudian kedua tangan itu menarikku masuk ke dalam sebuah gang kecil di antara dua gedung besar.
Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan diriku dari lelaki misterius itu—aku tahu kalau dia laki-laki dari kedua tangannya yang kekar. Tangannya yang terus membekap mulutku membuatku tak bisa berteriak meminta bantuan. Aku pernah dengar kalau beberapa minggu terakhir ini sering terjadi tindak kriminal penculikan seorang gadis remaja oleh lelaki yang tidak waras untuk kemudian dibunuh.
Seluruh tubuhku bergetar tak terkendali. Apa aku akan menjadi salah satu korban pembunuhan itu? Apa kasusku akan dicetak di halaman pertama semua koran di Tokyo?
Aku tak bisa lagi menahan tangisku ketika lelaki itu menubrukkan punggungku pada tembok di belakangku. Sedikit sakit. Aku pikir aku akan segera say goodbye pada dunia fana ini. Namun pikiran itu terhempas begitu saja ketika aku mendongakkan daguku untuk melihat seperti apa rupa lelaki itu.
Wajah tampan dengan rambut raven dan bola mata crimson yang menatap lurus padaku. Sosok wajah yang selama bertahun-tahun ini terus memenuhi benakku.
"Natsume, kenapa ka—"
Kata-kataku terhenti ketika tiba-tiba saja bibirnya menyentuh bibirku. Melarangku untuk menyelesaikan kalimatku. Aku tak dapat menahan diriku untuk tidak membelalakkan kedua mataku, juga tak dapat menghentikan debaran cepat jantungku, sampai-sampai aku dapat mendengarnya di kedua telingaku. Aku juga merasakan sebuah perasaan yang sama sekali tak dapat kudeskripsikan saat ia menjilati bibir bawahku. Membuatku tak dapat menolak, pun tak merespon balik semua sentuhan dirinya.
My first kiss was just being stolen by my own older brother.
Aku cepat-cepat mengambil banyak-banyak oksigen saat dia menjauhkan bibirnya dari bibirku. Aku tak menyangka bahwa ciuman akan membuatku merasa sesak seperti ini. Aku pikir rasanya akan manis seperti yang ada di drama-drama. Ah, saat ini bukan seharusnya aku memikirkan itu.
Tanpa kusadari rintik air mataku kembali jatuh membasahi pipiku. "Ke-Kenapa kau lakukan itu padaku?"
Ia hanya diam. Kedua matanya itu terus saja menatap diriku. Alis-alis pendeknya itu sedikit berkerut.
Kecewa dengan reaksinya, aku memukul-mukulkan kepalan tanganku ke dadanya berkali-kali. "Cepat katakan padaku kenapa kau lakukan itu padaku…?" tanyaku sesegukan. Aku benar-benar tak bisa menerima ini. Aku benar-benar tak mengerti. Saat itu aku sama sekali tak mengerti akan apa yang sedang dipikirkannya.
Lalu tiba-tiba Natsume menggenggam lenganku—yang sejak tadi memukulnya—kemudian mendorong pergelangan tanganku itu hingga menubruk tembok yang ada di belakangku. Aku menutup kedua kelopak mataku, menolak untuk melihat langsung ke arah kedua iris mata merahnya yang seakan-akan dapat menyerapku masuk ke dalamnya.
"Tatap aku." perintahnya.
Aku menggeleng-gelengkan wajahku.
"Kubilang tatap wajahku, Mikan!" perintahnya lagi sambil menaikkan intonasinya. Membuatku kaget dan sontak saja kedua kelopak mataku terbuka lebar.
Dan aku nyaris menahan nafasku melihat kedua mata itu, yang kini penuh dengan… aku tak bisa mendeskripsikannya.
"Shit… I fucking hate this." Samar-samar aku mendengarnya mengeluh pelan.
Aku hanya menatapnya saja dalam diam.
"Kenapa kau tidak menuruti kata-kataku?" tanyanya kemudian, sedikit kesal.
Aku hanya diam, tak mengerti apa yang dimaksudkannya.
"Kencan sialan ini… kenapa kau malah datang? Bukankah aku suruh untuk jangan?"
Oh. Benarkah?
Sambil menggigit bibir bawahku, aku memberanikan diri untuk berkata, "Me-Memangnya kenapa kalau aku datang? Semua ini tidak ada hubungannya dengan—"
"Ada hubungannya denganku, dimwit!" potongnya, membuatku sedikit tersentak kaget. "…karena aku suka padamu—"
Ia berhenti sejenak.
"—karena aku mencintaimu, baka Mikan!"
Aku hanya diam, tak mampu berkata-kata. Saat itu aku begitu kaget, terkejut, dan tidak percaya. Benarkah dia berkata apa yang aku dengar ia katakan kepadaku? Ataukah telingaku hanya salah mendengar?
"Ja-Jangan bercanda! Itu tidak—"
Kemudian ia menciumku lagi, melarangku untuk menyelesaikan kalimatku.
"Aku tidak sedang bercanda," ucapnya setelah ia menjauhkan bibirnya dari bibirku, "kalau iya, aku tidak akan menciummu seperti ini."
Aku masih tetap tidak percaya.
"Se-sejak kapan?"
"Sudah lama. Aku tak ingat."
"Kau bohong—"
Lalu dia menciumku lagi.
"—sejak kau mulai tidur bersamaku saat usiamu masih 10 tahun. Aku langsung jatuh cinta melihat wajahmu ketika sedang tidur." lanjutnya, membuat wajahku memerah seketika.
Aku sama sekali tidak dapat mendeskripsikan perasaanku saat itu. Yang aku tahu, aku merasa senang dan bahagia. Seperti ada sesuatu yang menekan tombol 'klik' di hatiku. Membuatku seperti terbangun dari mimpi panjangku. Tapi siapa sih yang tidak bahagia, saat lelaki yang kau cintai menyatakan cintanya padamu?
Lalu apa yang ia ucapkan setelahnya, membuatku tak bisa menghentikan senyumku, "Aku tidak ingin kau pacaran dengan lelaki pirang itu—whatever his fucking name is."
Tanpa kuperintah, wajahku tiba-tiba saja bergerak mendekati wajahnya. Dan betapa terkejutnya aku ketika bibirku memberi bibirnya sedikit kecupan.
Membuatnya membelalakan kedua matanya.
"Aku mengerti. Aku takkan menemui Kaname-kun. Takkan pernah."
Kini giliran dirinya yang tak mengutarakan kata-kata. Aku yakin sekali dia merasa kebingungan mendengar ucapanku. Mungkin ia berpikir bahwa aku akan menolaknya, marah padanya, dan merasa jijik padanya. Jika ia benar-benar berpikir seperti itu, betapa salahnya ia, karena itulah cepat-cepat aku berkata,
"Aku juga mencintaimu, Natsume. Sejak kau menyelamatkanku dari tiga anak SMP, lima tahun yang lalu."
Ia menyeringai lebar. "Kau tahu, kau adalah alasan kenapa aku putus dengan mantan pacarku, Luna."
Aku tersenyum. Aku ingat sekali saat aku memergoki Natsume yang tengah ditampar pipinya oleh Luna-senpai sepulang sekolah di kelas mereka berdua beberapa bulan yang lalu. Saat itu sekolah sudah sepi. Aku baru saja dari selesai menjalani hukuman Jinno-sensei untuk membersihkan toilet di gedung kelas tiga yang terkenal kotor dan hendak pulang ketika aku mendengar suara teriakan dari arah ruang kelas Natsume. Dan diam-diam aku mengintip ke dalam dan menemukan mereka berdua tengah bertengkar. Aku tak bisa melupakan kata-kata "mulai sekarang kita putus!" dan raut wajah Luna-senpai ketika akhirnya pergi meninggalkan Natsume sendirian di kelas.
Tapi Natsume tak perlu tahu akan hal itu.
"Memangnya aku kenapa?"
"Katanya," jawabnya santai sambil melepaskan genggamannya dari kedua pergelangan tanganku, "selama pacaran aku selalu saja bercerita tentangmu. Aku sama sekali tak menyadari hal itu."
Kami pun tertawa setelahnya. Lalu Natsume menciumku lagi untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku membalasnya dengan menaruh kedua lenganku di lehernya dan memperdalam ciuman kami. Seluruh bulu kudukku berdiri ketika bibirnya perlahan-lahan mulai bergerak meninggalkan bibirku menuju leherku, menciuminya, dan mengisapnya dengan lembut. Membuatku mengerang pelan akan sensasi yang dihasilkannya.
Ia lalu bergerak ke atas, tepatnya ke arah daun telinga kananku. Dicium dan dijilatinya daun telingaku itu, membuatku merasa geli. Namun aku meresponnya dengan desahan yang sedikit lebih keras dari sebelumnya, karena aku tak ingin ia berhenti melakukannya, setidaknya seperti itu sebelum ia bergumam,
"…dan Luna juga berkata kalau aku ini gila, sister-complex akut, karena mencintai adik perempuanku sendiri…"
Gumaman itu mau tak mau membuatku sadar akan siapa diriku, siapa dirinya, dan apa yang sedang kami lakukan saat itu. Dengan kedua tanganku, aku mendorong tubuhnya menjauh dariku. Ia pun tampak terkejut dengan tingkahku.
"Kenapa Mikan?" tanyanya heran.
Aku lalu menyilangkan kedua lenganku di dada dan menaikkan kedua bahuku yang tak bisa berhenti bergetar tak karuan. "I-Ini tidak boleh, Natsume! Apa yang kita lakukan ini salah! Perasaan kita adalah dosa! Demi Tuhan, karena kita ini adalah adik dan kakak!"
Aku tak bisa menghentikan diriku untuk tidak meneteskan air mataku. Samar-samar aku dapat mendengar Natsume berdesis. Lalu sedetik kemudian ia menggenggam—tidak, lebih tepatnya mencengkeram kedua bahuku. Membuatku fokusku seratus persen tertuju padanya.
"Dengar Mikan," mulainya, "dengarkan aku baik-baik. Seharusnya aku tak boleh mengatakan ini—ibu sangat melarangku untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Karena itu, pasang telingamu baik-baik, aku takkan mengulang untuk yang kedua kali…"
Aku menelan ludahku, tetap tak mengalihkan fokusku dari raut wajahnya yang keras itu.
"…percayalah padaku Mikan, kau bukan adik kandungku. Dari awal aku tak pernah punya seorang adik. Dengan kata lain, kau bukan anak kandung ayah dan ibu!"
Saat itu aku merasa seperti ada yang menusuk tepat di jantungku. Membuatku tak bisa bergerak, tak bisa bernafas. Rasanya sesak. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar—aku tak ingin percaya. Mungkin saja aku hanya salah mendengar atau Natsume hanya ingin menjahiliku saja. Ya, ucapannya itu pasti cuma bercanda. Ia cuma ingin main-main denganku.
Aku memaksa diriku untuk menyunggingkan sedikit senyuman, "O-Oke, kau menang. Kau berhasil membuatku terkejut. Tapi April Mop sudah lewat, Natsume. Dan candaanmu itu sama sekali tidak lucu—"
"Aku serius Mikan! Damn it!" potongnya tegas, "Lagipula siapa yang ingin bercanda denganmu di saat-saat seperti ini? Aku tegaskan sekali lagi, aku serius tentang kau yang bukan anak kandung ayah dan ibu. Lima tahun yang lalu, aku menemukan—"
Dadaku terasa sangat sesak, sampai-sampai aku tak dapat lagi mendengar kata-kata Natsume. Kepalaku terasa pusing. Aku juga merasakan seperti ada beban berat di punggungku, membuatku terasa lemas dan sulit berdiri tegak. Lalu aku coba untuk menengadahkan daguku, samar-samar melihat ke arah wajah Natsume, yang mulutnya masih bergerak mengucapkan sesuatu yang tak bisa kudengar.
Kemudian semuanya berubah menjadi gelap.
Dan ketika aku mulai kembali mendapatkan kesadaranku, aku melihat sosok ibu, yang terlihat begitu mengkhawatirkanku.
"Mikan, syukurlah kau sadar! Asmamu sepertinya sempat kambuh lagi. Tapi dokter bilang sekarang sudah tidak apa-apa. Syukurlah. Kau benar-benar membuat ibu cemas. Oh ya, apa kau mau minum, nak?"
Melihat tangan ibu yang menyodorkan segelas air putih padaku, aku menghempaskannya. Membuat gelas itu terlempar dari tangan ibu dan jatuh ke lantai. Lalu pecah menjadi berkeping-keping. Suaranya terdengar begitu nyaring di telingaku.
Aku sempat melihat kedua mata merah ibu yang terbuka lebar, mungkin karena terkejut dengan tingkah lakuku, sebelum aku menghamburkan wajahku ke dalam selimut.
"Mikan… kenapa?"
"Pergi menjauh dariku!" teriakku kencang, "Kau bukan ibuku! Kau bukan ibu kandungku! Pergi! Pergi! Aku cuma ingin ibu yang melahirkanku!"
Aku menangis keras sekali waktu itu. Aku tak tahu bagaimana reaksi ibu mendengar kata-kataku, karena wajahku tengah kututupi dengan selimut. Tapi aku yakin bahwa beliau pasti benar-benar terkejut. Kedua mata ibu yang berwarna merah darah itu pasti semakin terbuka lebar dan mulut ibu pasti menganga. Itu ekspresi yang diperlihatkan ibu saat sedang terkejut. Aku sangat tahu itu.
Kemudian aku merasa beban di kasurku seperti berkurang—ibu pasti telah bangkit berdiri dari kasurku dan berjalan keluar kamar, karena aku mendengar suara langkah kaki yang semakin lama terdengar semakin kecil hingga akhirnya tak terdengar lagi. Namun yang tak kusangka-sangka adalah suara teriakan ibu yang memanggil-manggil nama Natsume.
Dan yang kudengar setelahnya adalah suara tamparan. Suaranya terdengar keras sekali.
Lalu disusul dengan bentakan-bentakan ibu, yang tak dapat kudengar dengan begitu jelas karena aku telah menutup kedua telingaku dengan tangan.
Aku tak ingin mendengar ibu memarahi Natsume.
Semuanya salahku.
Seharusnya aku tak bersikap begitu terhadap ibu, jika aku tahu bahwa pada akhirnya Natsume yang akan kena batunya. Tapi aku tak dapat menolong diriku sendiri untuk tidak melakukan itu. Aku tahu kalau aku cukup egois. Tapi bukankah wajar sekali jika aku bereaksi demikian saat aku tahu kalau ibu yang merawatku dari bayi hingga sekarang ini dengan penuh kasih sayang bukanlah ibu yang melahirkanku?
Kalau begitu dimanakah orang tua kandungku sekarang? Apa mereka masih hidup? Atau sudah meninggal?
Pada malam harinya, ketika kondisiku sudah semakin membaik, ibu memanggilku menuju ruang keluarga. Disitu, di sofa yang dijajarkan membentuk huruf U itu, sudah duduk ayah dan juga ibu di sampingnya. Lalu tak lupa sosok Natsume yang juga tengah duduk di sofa di sisi kiri huruf U, dengan tangannya yang mengusap-usap pipi kirinya yang memerah. Apakah ayah juga turut memukulnya? Entahlah. Dan ekspresi wajah Natsume adalah yang paling sulit kudeskripsikan daripada ekspresi-ekspresi di wajah ayah dan ibu yang sudah tak mampu kudeskripsikan.
Setelah aku menempatkan diriku dengan empuk di sofa yang berseberangan dengan Natsume, ibu memulai perkataannya. Saat itu, ibu menceritakan semuanya tentangku, juga tentang ayah dan ibu kandungku. Ayahku bernama Izumi Yukihira dan ibuku bernama Yuka. Mereka berdua meninggal saat usiaku masih beberapa minggu dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ajaibnya hanya aku yang selamat dalam peristiwa itu. Namun tak ada satu pun kerabat dari pihak Izumi dan Yuka yang mau membesarkanku. Karena pada dasarnya, pernikahan mereka ditentang oleh keluarga besar kedua belah pihak.
Kemudian datanglah ayah dan ibuku yang sekarang, Ioran Hyuuga dan Kaoru Hyuuga, yang menawarkan diri untuk membesarkan anak sahabat mereka.
Mungkin kau berpikir bahwa aku ini adalah seorang gadis yang cengeng, tapi aku benar-benar tak bisa menahan air mataku untuk tidak mengalir keluar dari kelopak mataku saat aku mendengar cerita tentang orang tua kandungku itu.
Apalagi keesokan harinya, ayah dan ibu mengajakku pergi berziarah ke makam mereka. Aku menangis sepuasnya di tempat itu.
Butuh waktu seminggu sampai kondisi mentalku benar-benar pulih. Walaupun aku tahu aku hanyalah anak angkat, aku tetap menyayangi orang tuaku yang sekarang seakan-akan mereka adalah orang tua kandungku, begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang berbeda dari kehidupan kami setelahnya.
Kecuali mungkin, hubunganku dengan Natsume yang telah menjadi sangat dan sangat dekat, karena secara resmi aku telah menjadi pacarnya. Sejak aku mengetahui bahwa aku tidak ada hubungan darah dengan Natsume, aku tak lagi membatasi hubungan kami. Aku tak lagi berpikir tentang hubungan terlarang, incest, or whatever. Aku mencintai Natsume dan Natsume juga mencintaiku. Itulah yang terpenting.
Namun tentu saja kami menyembunyikan hubungan dan perasaan kami itu dari ayah dan ibu. Natsume bilang, mereka tak perlu tahu hal itu.
Oh, lalu bagaimana dengan Kaname? Aku meminta maaf padanya saat kami bertemu lagi di sekolah. Aku juga mengatakan bahwa aku tak bisa menjadi pacarnya, karena ada lelaki lain yang kusuka. Kaname pun tampak memaklumi walaupun aku dapat melihat rasa sakit hati terpancar di wajahnya. Kami pun tetap menjadi teman baik setelah itu.
Sedangkan sahabat-sahabatku; Hotaru, Anna, dan Nonoko tampaknya sangat terkejut saat mengetahui bahwa aku menolak Kaname. Mereka sangat menyayangkan keputusanku itu. Aku hanya tersenyum saja menghadapinya.
Tak ada seorang pun dari mereka yang tahu bahwa aku pacaran dengan Natsume, kakakku. Biarlah hubungan kami menjadi rahasia kami berdua saja.
Sampai tiba waktu yang tepat bagi kami berdua untuk menceritakan segalanya.
Bersambung ke Bagian III
Author's Note: Oke, aku mengakui, aku telah mengacaukan segalanya. Ralat: fic ini tidak lagi menjadi fic two-shot, akan tetapi menjadi three-shot. Sebenarnya bisa saja aku langsung menamatkan di bagian II ini, tapi nanti hasilnya akan sangat panjang sekali. Bisa jadi 8000 words ke atas. Maafkan aku atas ketidak-konsistenanku. Aku janji aku tidak akan mengulangi lagi kesalahan seperti ini untuk yang kedua kalinya.
Selain itu, aku juga gagal untuk meng-update seminggu setelah bagian I publish. Maaf. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa karena ini memang murni kesalahanku.
Aku akan sangat senang sekali kalau pembaca masih mau review, meskipun aku telah membuat kesalahan yang jauh lebih fatal dari typos. Beribu-ribu terima kasih kuucapkan untuk semua reviewer di fic ini!
