"Tidurlah, Mikan, tidurlah. Walau apapun yang terjadi, aku tak akan pernah pergi dari sisimu."-Natsume Hyuuga


Yuuto Tamano disclaims Gakuen Alice.

Dedicated to hecate0o for everything. Blame me for the very late update.

Beware of OOC-ness, colorful language, and a little amount of smut.


Bagian III

Jika ada ungkapan yang menyatakan bahwa waktu berjalan lebih cepat daripada cahaya, aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mempercayai ungkapan itu. Walaupun aku tahu pada kenyataannya tak ada seseorang pun yang bisa mendeskripsikan kecepatan waktu, aku tetap saja mempercayainya. Waktu memang berlalu dengan sangat cepat. Akan tetapi ada sebagian orang yang menyadarinya dan sebagiannya yang tidak.

Orang-orang yang tidak menyadarinya itulah, yang pada akhirnya akan menyesali betapa cepatnya pergerakan sang waktu. Menyesal akan betapa singkatnya masa-masa yang telah mereka lalui. Dimulai dari masa kanak-kanak mereka, kemudian berlanjut ke masa remaja, hingga tanpa mereka sadari mereka telah menuju jenjang kedewasaan. Kemudian di saat dewasa itulah mereka akan mengenang dan mengenang, mengingat betapa indahnya masa-masa muda mereka dan berharap agar mereka bisa kembali ke masa itu.

Sayangnya, tak ada seorang pun manusia yang memiliki kekuatan untuk mengembalikan waktu. Sehingga manusia hanya bisa bergantung saja pada memori-memori yang akan selalu membekas seumur hidup mereka.

Dan aku termasuk salah seorang dari manusia-manusia tersebut.

Aku tak bisa melupakan memori-memori indah itu; ketika aku masih berada di sisi lelaki yang kucintai. Tak terasa sudah setengah tahun berlalu sejak Natsume menyatakan cintanya padaku. Dalam waktu setengah tahun itu pulalah kami saling memadu kasih dan menikmati betapa indahnya rasa cinta yang ada dalam hati kami. Sambil tetap berhati-hati agar tak ada seorang pun yang mengetahui hubungan kami, termasuk para sahabat dan orang tua kami.

Kalau boleh berkata jujur, aku merasa lelah memiliki hubungan backstreet seperti itu. Bayangkan saja, dalam sehari sungguh sulit bagi kami untuk bisa benar-benar berduaan. Kami berbeda sekolah—Natsume sudah SMA dan aku masih SMP. Selain itu, walaupun gedung sekolah kami berdekatan, tak pernah sekalipun kami berangkat sekolah bersama. Natsume selalu berangkat lebih pagi dariku, entah kenapa.

Pulang sekolah pun sama saja, kami tak pernah bisa berduaan selama ayah dan ibu masih berada bersama kami. Kami juga tak pernah pergi berkencan. Oh, tetapi jika ibu yang menyuruh kami pergi berdua untuk membeli bahan makan malam di supermarket terdekat juga bisa disebut kencan, maka kalau begitu, bisa dibilang kami sering sekali berkencan!

Mengesalkan memang. Tapi selama aku tahu Natsume masih mencintaiku dan juga sebaliknya, everything is worth of it.

Pernah suatu hari aku berpikir, bagaimana jadinya jika hubungan kami akhirnya diketahui oleh orang-orang di sekitar kami? Aku hanya bisa tertawa membayangkan reaksi Hotaru, Anna, Nonoko, dan bahkan Kaname. Mereka berempat pasti akan terkejut sekali—walaupun aku punya feeling kalau sikap Hotaru pasti akan datar-datar saja. Hotaru memang sahabatku yang paling aneh, tapi juga yang paling kusayang. Di antara keempat sahabatku itu, hanya Hotaru yang paling mengerti diriku. Aku yakin pasti Hotaru-lah orang pertama yang akan menerima hubungan kami.

Tapi yang paling tak bisa kubayangkan adalah jika ayah dan ibu mengetahui hubungan kami. Entah bagaimana reaksi ayah dan ibu nanti, terutama ibu. Kau tahu bagaimana reaksi ibu terhadap Natsume saat ibu mendapati aku yang mengetahui bahwa aku hanyalah anak angkat, 'kan? Karena itulah, aku sama sekali tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan ibu terhadap kami nanti.

Saat aku mengatakan hal itu kepada Natsume, lelaki itu malah menepuk kepalaku dan tersenyum simpul seraya berkata, "Kalau saat itu tiba, sekalipun mereka berniat akan membunuhku, aku akan tetap mempertahankan hubungan kita."

Aku hanya bisa mengulum bibir bawahku dan memukul lengannya, tidak percaya kalau ayah dan ibu akan sampai melakukan hal sejauh itu, karena bagaimanapun juga Natsume adalah anak kandung mereka.

Tapi tak pernah sekalipun aku menyangka, bahwa hari itu, hari dimana ayah dan ibu mengetahui hubungan kami datang juga.

Hari itu hari Sabtu, aku masih ingat sekali, ayah dan ibu sedang tidak ada di rumah. Entah pergi kemana mereka, walaupun mereka bilang tak akan lama. Saat itu aku tengah membereskan perabotan dapur. Pekerjaan rumah tangga sudah seperti makananku sehari-hari, meskipun sampai sekarang aku belum bisa sepandai ibu dalam hal memasak. Setelah selesai dengan pekerjaanku, aku merebahkan diriku di sofa, menatap langit-langit yang begitu putih polos.

Kemudian, sesuatu menyadarkanku. Di rumah ini hanya tinggal aku berdua dengan Natsume. Berpikir itu membuat wajahku tiba-tiba saja terasa hangat.

Segera saja aku bangkit berdiri dari posisiku, kemudian melangkahkan kakiku menuju kamar Natsume di lantai dua. Kuketuk pintunya perlahan sebelum memutar kenop pintu ke kiri dan mendapati sosok Natsume tengah menyandarkan diri di kasurnya, dengan sebuah majalah komik di tangannya. Kudekati dirinya dan tampaklah sepasang mata crimson tengah menatapi tiap-tiap balon kata yang terdapat dalam komik tersebut.

"Natsume," panggilku, saat aku menempatkan diriku di sampingnya. "Lagi baca apa?"

Namun Natsume tak menjawab. Ia hanya menutup bukunya sejenak untuk memperlihat cover majalah komik tersebut. Shonen Jump.

Aku mencebil melihatnya kembali membaca komik tanpa menghiraukan diriku. Aku tahu kalau komik adalah segalanya bagi Natsume, tapi bukankah seharusnya aku sebagai pacarnya jauh lebih berharga dari komik-komik itu? Sedikit gemas dengan sikapnya, aku menggoyang-goyangkan bahunya cukup kencang.

"Apa?" tanyanya. Kedua alisnya yang pendek sedikit bertaut, membuatku tersenyum lebar.

"Ayah dan ibu lagi keluar." Aku menjawabnya dengan singkat, jelas, dan padat. Aku tahu ia pasti tahu apa yang saat ini kuinginkan.

"Lalu?"

"Sekarang kita tinggal berdua saja."—Okay, mungkin ucapanku itu terkesan cukup ambigu dan pervert. Tapi aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin banyak mengobrol dengannya selama kami sedang berduaan saja. Yah, mungkin ditambah dengan sedikit cuddling dan kissing. Tidak lebih dari itu.

"Dasar cewek mesum," ucapnya dengan seringai kecil.

"Aku nggak mesum!" sahutku sambil menjulurkan lidahku padanya. Aku pikir setelah ini kami akan saling bertukar argumen seperti biasanya.

Namun, diluar perkiraanku, ternyata ia malah mengembalikan fokusnya pada Shonen Jump di tangannya. "Nanti saja. Aku ingin menyelesaikan baca komik ini dulu. Jangan ganggu aku."

Semakin kesal dengan sikapnya, aku segera bangkit berdiri dari tempat tidurnya. Kemudian kedua mata hazel-ku menerawangi seisi kamarnya. Cat temboknya berwarna merah darah, serasi sekali dengan kedua iris matanya itu. Di sisi kanan tembok terdapat daun jendela yang sedikit terbuka, juga terdapat meja belajar dan satu set PC Toshiba. Di sisi kiri tembok terpajang beberapa poster band kesukaannya, Bloody Irish. Kemudian terdapat juga sebuah lemari baju dan satu set TV plasma 29" dan DVD player, lengkap dengan speaker-speakernya.

Sebuah ide tiba-tiba saja melintas di benakku. Segera saja kulangkahkan kakiku menuju koleksi DVD miliknya. Kebanyakan koleksinya adalah movie-movie Hollywood (terutama film-film action dan film-film yang ratingnya 18 tahun ke atas). Kemudian beberapa diantaranya terdapat MV Bloody Irish, beberapa lagu klasik karya Beethoven dan Mozart, dan film-film horor Thailand.

Iew. Film horor.

Kemudian kuambil salah satu keping DVD MV Bloody Irish, band v-kei yang kini sedang naik daun dengan ciri khas penampilan yang eksentrik (dan selalu menebar helai-helai mahkota bunga Blood Iris di akhir penampilannya) dan genre lagu heavy rock yang penuh dengan screaming. Tanpa basa-basi, aku nyalakan DVD player dan kumasukkan keping DVD tersebut ke dalamnya.

Kedua telinga tertutup rapat dengan kapas. Check.

Volume full. Check.

Setelah kutekan tombol play, screaming keras yang keluar dari dua speaker besar di sampingnya menggema ke seluruh ruangan. Keras sekali. Heck. Kalau aku tidak menutup kedua telingaku bisa-bisa aku menjadi tuli. Kulirikkan kedua mataku pada sosok Natsume. Lelaki itu kini sudah tidak lagi membaca manga-nya, melainkan menutup kedua telinganya dan menatap diriku dengan aura-aura hitam melayang keluar dari tubuhnya.

Aku menelan ludahku.

"…kan," ucapnya tidak terlalu jelas, karena kalah tersaingi oleh suara keras lagu milik Bloody Irish. Aku mengangkat kedua alisku.

"HAH? APA?" teriakku sambil melepaskan kapas yang menyumbat telingaku.

"…pat…kan…nya…lau…gak…"

"HAH? KAMU NGOMONG APA?"

Kedua mataku terbelalak ketika melihatnya bangkit dari tempat tidurnya dan segera menuju ke arahku. Ia kemudian mendorong kedua bahuku hingga menubruk lantai, menjebakku di antara kedua tangannya. Setelah menelan ludahku sekali lagi, kuberanikan diriku untuk menatapnya. Kedua matanya merahnya tampak menyala-nyala dan kedua alisnya bertaut. Aku yakin Natsume pasti tengah kesal sekali, namun seringai lebar di wajahnya itu membuatku mengenyahkan pikiran itu.

Natsume lalu mengangkat sebelah tangannya sejenak untuk mengecilkan volume speakernya sebelum berkata, "Kubilang, kecilkan volumenya, bodoh."

"Oh… hehehe." Aku hanya bisa menyengir. Setengah takut setengah gugup.

"Aku nggak nyangka kamu sekarang sudah jadi anak nakal, Mikan."

Sejenak seringai di wajahnya tampak semakin melebar dan sedetik kemudian Natsume menjatuhkan bibirnya tepat pada bibirku, menciumku dalam. Wajahku seketika terasa panas saat lidahnya mengulum bibir bawahku kemudian melesak masuk untuk memberi salam pada lidahku. Aku dapat merasakan seluruh tubuhku merinding saat pertemuan itu.

Kemudian ia menjauhkan bibirnya untuk mengambil nafas panjang. Setelah itu kembali menciumku lagi. Bosan dengan bibirku, ia lalu bergerak untuk menciumi kedua pipiku. Lalu hidungku, kelopak mataku, dan akhirnya menuju ke telingaku.

"Dan anak nakal harus mendapat hukuman." bisiknya jelas sebelum menjilati dan mengisap daun telingaku.

Kedua mataku terbuka lebar ketika tiba-tiba saja bibirnya beralih menuju leherku dan menggigitinya. Aku mengernyitkan kedua alisku dan mengulum bibirku sendiri ketika rasa sakit mulai dapat kurasakan di sekitar leherku itu. "Na-Natsume… sa-sakit… maafkan a-aku… kumohon henti—"

Aku menghentikan ucapanku ketika ia berhenti menggigit leherku itu. Rasa sakit masih dapat kurasakan dan aku yakin air mataku pasti akan jatuh apabila ia terus melakukan itu. Lalu tanpa sempat aku merespon, ia menjilati bagian kulit yang sebelumnya ia gigit itu, mungkin sebagai permohonan maaf atas apa yang dilakukannya. Mungkin.

"Itu adalah hukumanmu, Mikan." Setelah mengucapkan itu, ia kembali menciumku tepat di bibir.

Kemudian, samar-samar aku mendengar bunyi krriet dari arah belakang kami. Awalnya aku tidak terlalu menghiraukannya, menganggap bahwa itu hanya bunyi jendela yang bergesekan dengan angin musim gugur yang cukup kencang akhir-akhir ini. Namun, aku seharusnya tahu lebih baik dari itu.

"NATSUME! APA-APAAN INI?"

Seruan itu, seruan yang sangat familiar sekali bagi kami berdua membuat kami menghentikan aktivitas kami. Kedua mataku terbelalak ketika melihat sosok ayah dan ibu menatap kami dengan pandangan yang tak dapat kudeskripsikan.

Ayah kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah kami dan memukul Natsume tepat di wajah dengan kepalan tangannya. Keras.

"Natsume!" Spontan aku segera menghampiri Natsume yang tergeletak di lantai, "Ayah, apa yang ayah lakukan terhadap Nat—"

Ucapanku terpotong melihat betapa gelapnya tatapan yang dipancarkan ayah saat itu. Beliau lalu menarik lenganku untuk menjauhi Natsume, "Benar-benar tak bisa dimaafkan! Mencium adikmu sendiri seperti itu! Mulai sekarang aku tak mengijinkan kau mendekati Mikan lagi, dasar anak kurang ajar!" serunya pada Natsume sebelum akhirnya membawaku pergi keluar dari kamar itu.

Dan ketika aku dan ayah melewati ibu, bahu ibu tampak bergetar. Apakah beliau menangis? Entahlah. Ibu hanya berdiri membeku di tempat itu. Sosok ibu mulai tak terlihat saat aku dan ayah menuruni tangga untuk menuju lantai bawah.

Sepuluh menit kemudian, ibu lalu menyusul kami ke bawah.

Sejak hari itu ayah benar-benar melakukan apa yang dikatakannya; ayah melarangku untuk berbicara berdua dengan Natsume, bahkan bertemu saja pun sulit sekali. Ayah memindahkan kamarku ke kamar tamu di lantai bawah; yang letaknya berada tepat di sebelah kamar ayah dan ibu. Natsume juga tidak lagi makan pagi dan makan malam bersama-sama kami—ia selalu makan sendirian di kamarnya karena ayah yang menyuruhnya demikian. Setiap pagi pun ayah selalu memastikan bahwa aku dan Natsume tidak berangkat ke sekolah bersama-sama.

Lebih parahnya lagi, ayah juga mempekerjakan seorang lelaki yang dikenal dan dipercayanya sejak lama untuk menjadi bodyguard pribadiku, untuk memastikan bahwa diriku jauh dari Natsume, kakakku sendiri.

Namanya Tsubasa Andou.

"It sucks. Menyebalkan. Kenapa ayah sampai harus berbuat seperti ini? Beritahu aku, Tsubasa-kun, kenapa?"

"Maaf Nona, aku hanya menjalankan tugas saja." jawabnya tanpa sekalipun mengalihkan fokusnya pada jalanan dan stir yang dipegangnya.

"Berhenti memanggilku 'Nona'. Sudah aku bilang 'kan untuk memanggilku dengan namaku saja."

"Baik, Mikan," Tsubasa berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "Tuan Hyuuga melakukan ini semua demi kebaikanmu."

"Kebaikanku? Dengan menjauhkanku dari lelaki yang kucintai? Apa itu bisa disebut sebagai 'kebaikan', huh? Aku lebih suka menyebut itu penderitaan!" seruku menaikkan intonasiku. Walaupun aku tahu Tsubasa sama sekali tak bersalah, aku tak dapat menahan amarahku ini dan pada akhirnya kulampiaskan padanya.

"Tapi bagaimanapun juga, Tuan Muda Hyuuga adalah kakakmu sendiri, Mikan—"

"Natsume bukan kakakku!" sanggahku tegas, "Kami tak ada hubungan darah!"

Tsubasa sama sekali tak merespon apa-apa dan begitu pula diriku. Aku hanya menatap jendela mobil di sampingku, memperhatikan tiap-tiap sisi jalan yang kami lewati. Kami terus terdiam seperti itu hingga akhirnya kami tiba di sekolah.

"Sampai jumpa sepulang sekolah nanti, Mikan." ucapnya sambil membuka pintu mobil untukku. Aku mengangguk pelan.

Aku segera turun dari mobil dengan langkah yang berat. Aku benar-benar tidak mood untuk pergi sekolah, apalagi ke sekolah dimana tidak ada Natsume di dalamnya. Aku menghela nafasku dalam. Sudah beberapa hari ini aku sama sekali tidak ada kontak dengan Natsume. Satu-satunya benda yang menjadi penghubung antara aku dengannya, handphone, sudah disita ayah seminggu yang lalu.

"Oi, Mikan." Aku mendengar suara Hotaru memanggilku. Sontak saja aku memeluk lengannya dan menempatkan wajahku di bahunya, yang sempat membuatku sempat merasa kaget karena ia tidak menolak. "Ada apa Mikan? Kemana dirimu yang biasanya berisik itu?"

Aku menghela nafasku lagi, "Aku cuma lagi nggak mood untuk pergi ke sekolah."

"Ngomong-ngomong, tadi aku ketemu kakakmu." Ucapan Hotaru itu membuat fokusku sontak tertuju padanya. Ia lalu merogoh saku roknya dan mengeluarkan sehelai kertas yang terlipat dua. "Hyuuga-senpai memintaku memberikan ini padamu. Tentu saja nggak gratis—hey!"

Cepat-cepat aku merebut kertas itu dari tangannya dan membuka lipatannya. Air mata nyaris meluncur jatuh dari kedua kelopak mataku saat aku membaca tulisan rapi khas Natsume di dalamnya.

.

To:Tangerine

Walau apapun yang terjadi, perasaanku padamu takkan berubah sampai kapanpun.

From:Jujube

.

"Hotaru… ini bagus sekali…" ucapku tersedu sambil memeluk Hotaru. Sang pemilik kedua mata amethyst itu hanya menatapku sipit. Kedua mata yang mengatakan bahwa dirinya menginginkanku untuk menceritakan apa maksud dibalik tulisan-tulisan yang ditulis Natsume itu.

Aku hanya mengangguk pasrah. Kami memutuskan untuk bolos jam pelajaran pertama dan kedua di atap sekolah. Dan disitulah aku menceritakan semua yang terjadi padaku, pada Natsume, dan juga tentang hubungan rahasia kami.

Reaksi Hotaru benar-benar di luar dugaanku; kupikir ia akan merasa terkejut dan kemudian mengatakan bahwa mencintai kakak lelaki sendiri, baik kandung maupun bukan, adalah hal yang salah, adalah sebuah dosa. Namun ternyata tidak, Hotaru malah menepuk kepalaku dan tersenyum, bukti bahwa ia mendukung hubungan kami dengan sepenuh jiwanya.

"Selama kau bahagia, tak masalah buatku." Ucap Hotaru, yang sama sekali tak bisa kulupakan sampai saat ini, "Oh, dan aku rasa menjadi tukang pos bukanlah hal yang buruk." Aku hanya tersenyum, mengerti maksud dari ucapannya itu.

Sejak hari itu, dengan bantuan Hotaru dan seekor burung merpati putih milik kekasihnya, Ruka Nogi, aku mulai bertukar surat dengan Natsume, agar kami bisa saling berkomunikasi satu sama lain.

Karena kami tinggal bersama, sesungguhnya bertukar surat itu terdengar konyol sekali.

Surat-surat kami kebanyakan berisi tentang apa yang terjadi pada diri kami di saat kami tak berada di tempat yang sama, kemudian diakhiri dengan ucapan 'I love you' atau apapun yang menjadi bukti bahwa kami dalam sebuah hubungan yang resmi. Okay, jujur aku akui, Natsume memang tidak menulis banyak di dalam suratnya. Masing-masing tak pernah lebih dari satu paragraf dan masing-masing paragraf tak pernah lebih banyak dari lima kalimat. Natsume juga bukan tipe yang gombal. Ia menuliskan perasaannya apa adanya, realistis dan tak pernah berlebihan. Itulah hal lain yang aku sukai darinya.

Berhari-berhari berlalu sejak kami saling bertukar surat dan tak terasa telah 10 hari lamanya kami saling berkomunikasi hanya lewat surat. Apakah aku bahagia hanya dengan seperti itu? Jika boleh berkata jujur, aku masih belum merasakan kebahagiaan itu. Aku tahu aku tak boleh egois, mengingat kondisi seperti apa yang sedang kami alami saat itu. Tapi aku tak kuasa mengontrol perasaan ini.

Perasaan rindu ini.

Kau tak tahu bagaimana kedua mataku sungguh merindukan tatapan kedua mata crimsonnya yang seakan dapat membuat tenggelam masuk ke dalamnya. Kau juga tak tahu bagaimana kedua telingaku merindukan suaranya dan bagaimana seluruh sel-sel kulitku mendambakan sentuhan serta dekapannya.

Perasaan rindu itu benar-benar menguasai diriku. Aku benar-benar tak kuat menahannya. Sehingga akhirnya pada suatu hari aku nekat menuliskan surat padanya yang berisi:

.

To: Jujube

Jujube, my love, aku ingin bertemu denganmu. Aku benar-benar ingin bertemu. Aku ingin menatap kedua iris mata merahmu yang selalu nyaris membuat jantungku melewatkan satu detakannya. Aku ingin menyentuhmu, mendengar suaramu, merasakan nafasmu di sekujur tubuhku. Aku ingin merasakan sensasi itu lagi; sensasi saat bibir lembutmu mengulum bibirku. Aku mungkin terdengar sangat mesum, tapi aku sama sekali tak bisa menahan perasaan rindu ini lebih lama lagi.

Bisakah kita bertemu di suatu tempat?

From: Tangerine

.

Dan kiranya sepuluh menit kemudian, merpati putih itu datang mengirimkan surat balasan.

.

To: Tangerine

Kau serius?

From: Jujube

.

To: Jujube

Kau pikir suratku sebelumnya terlihat seperti sebuah candaan?

From: Tangerine

P.S. Gosh, Jujube, aku capek-capek merangkai kata-kata indah untukmu dan kau membalasku hanya dengan dua kata?

.

To: Tangerine

Aku rasa itu mustahil, Tangerine.

From: Jujube

P.S. Kau maunya berapa?

.

To: Jujube

Kenapa mustahil? Tak ada yang mustahil jika kita mau berusaha! Bagaimana pun juga aku ingin bertemu denganmu, Jujube. Aku ingin melihatmu dan menyentuhmu. Aku yakin kau juga merasakan perasaan yang sama denganku, Jujube, jika kau benar-benar mencintaiku.

From: Tangerine

P.S. Lebih panjang dari tulisanku ini.

.

To: Tangerine

Aku juga ingin bertemu denganmu. Tapi bodyguardmu pasti takkan membiarkan kita untuk itu.

From: Jujube

P.S. -_-"

.

To: Jujube

Kalau begitu aku akan cari cara agar bisa kabur dari Tsubasa-kun.

From: Tangerine

P.S. JUJUBE!

.

To: Tangerine

Sepulang sekolah tunggu aku di depan stasiun Kichijoji.

From: Jujube

.

Dengan sekuat tenaga aku berteriak dan melompat dari bangku taman sekolah sesaat setelah aku membaca surat itu, mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarku. Segera saja kutulis balasan untuk Natsume, kemudian kuikatkan surat itu di kaki burung merpati yang, aku yakin, sudah cukup lelah karena sedari tadi terbang bolak-balik antara sekolahku dan sekolah Natsume.

Ingatkan aku untuk nanti berterima kasih pada pacarnya Hotaru nanti setelah semua ini selesai.

Bel sekolah yang menandakan bahwa waktu istirahat telah selesai tak lama kemudian terdengar berbunyi. Dengan wajahku yang kini dihiasi dengan seulas senyum, aku berjalan kembali menuju kelasku. Aku sudah tak sabar ingin menceritakan tentang ini pada Hotaru, sekaligus memintanya membantuku mencari cara agar aku bisa pergi tanpa sepengetahuan Tsubasa-kun, bodyguardku.

"Hmm, aku tahu orang yang tepat untuk membantumu." jawab Hotaru, setelah aku memberitahu tentang rencana pertemuanku dengan Natsume padanya. Aku masih ingat bagaimana bibir merah persiknya mengguratkan sebuah seringai. Aku hanya bisa melongo menatapnya. Seakan-akan ia dapat membaca ketidakmengertianku, ia segera melanjutkan kata-katanya. "Misaki Harada, maksudku."

"Anak kelas sebelah itu?"

"Ya, dan kau tahu orang yang seperti apa dia itu 'kan? Kita bisa meminta bantuannya untuk 'mengalihkan perhatian' bodyguardmu itu sejenak."

Aku hanya mengangguk pelan. Misaki Harada, yang kudengar, adalah seorang perempuan cantik dari kelas sebelah yang terkenal dengan julukan 'penakluk lelaki'. Entah sudah berapa banyak lelaki yang ia kencani, mulai dari tingkat SMP hingga kuliah. Ia selalu saja terlihat bersama lelaki yang berbeda setiap minggunya, namun hubungan itu tak pernah lama, tak pernah lebih dari dua minggu. Tampaknya ia memang belum menemukan cinta sejatinya.

Ia mungkin memang terkesan seperti perempuan murahan, tapi satu hal yang aku salut darinya, ia tak pernah membawa teman kencannya ke tempat tidur.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, cepat-cepat aku dan Hotaru menghapiri ruangan kelas di sebelah kami, mengabaikan Anna, Nonoko, dan Kaname yang menatap kami dengan aneh. Wajar saja mereka bersikap seperti itu. Aku sama sekali belum menceritakan hubunganku dengan Natsume pada mereka bertiga dan saat itu aku sama sekali tak berniat untuk melakukannya.

Cepat saja aku menemui Misaki, dengan rambut sebahu berwarna kemerahan yang membuatku sempat berpikir apakah warna rambut itu asli dari lahir atau tidak. Tapi toh aku tidak terlalu peduli. Senyumku mengembang ketika Misaki menganggukan kepalanya menyetujui permintaan kami.

"Siapa namanya? Umurnya berapa?" tanya Misaki kemudian.

"Tsubasa Andou," jawabku cepat, "Umurnya, kalau aku tidak salah, 19 tahun?"

"Nama yang bagus." ucapnya menyeringai. Aku hanya melongo menatapinya. Kami bertiga kemudian melangkahkan kedua kaki kami keluar dari kelas dan segera menuju gerbang sekolah. Disana ternyata sudah menunggu mobil Mercedes Benz hitam yang sudah aku kenal baik dan tampak pula sesosok seorang lelaki berjas hitam yang tengah menyandarkan dirinya pada mobil tersebut. Lelaki itu, Tsubasa Andou.

Dengan sebuah kedipan pada kami, Misaki segera membuat langkahnya menuju Tsubasa-kun. Mereka lalu terlihat mengobrol dengan asyiknya (walau Tsubasa-kun tampak terlihat agak canggung). Melihat kesempatan itu membuatku diam-diam menyelinap keluar gerbang didampingin Hotaru yang posisinya cukup menutupiku dari pandangan Tsubasa-kun.

Aku berhasil kabur dengan sukses.

Setelah mengucapkan 'terima kasih' dan 'sampai jumpa' aku segera naik bus menuju tempat pertemuanku dengan Natsume, yaitu stasiun Kichijoji di kota Musashino. Entah apa yang dipikirkan Natsume saat itu, mungkinkah ia akan membawaku ke tempat lain? Wajahku memerah seketika. Rasanya seperti akan kawin lari saja.

Di depan stasiun Kichijoji penuh sekali dengan orang berlalu lalang saat itu, aku ingat sekali. Seketika turun dari bus, aku segera melirik ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok seseorang bermata merah dan berseragam SMA Musashino, salah satu SMA terbaik di Tokyo. Namun sayangnya, aku tak menemukan lelaki dengan ciri-ciri tersebut. Aku kemudian menyandarkan diriku pada tembok gedung stasiun, menatapi orang-orang yang lalu lalang dan gedung-gedung cukup tinggi dengan billboard berwarna kuning dan merah. Kemudian kutatap jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, namun Natsume masih belum juga kelihatan batang hidungnya.

Kurasakan bunyi gemuruh di dalam perutku. Aku ingat aku belum makan apapun sejak istirahat siang karena terlalu sibuk dengan surat-surat dan burung merpati itu. Sekali lagi kulirikkan wajahku ke kanan dan ke kiri, masih belum tampak keberadaan Natsume. Aku menghela nafasku, kemudian memutuskan untuk membeli burger dan kentang goreng di McDonald di seberang jalan.

Dengan cepat aku memesan makananku, sambil melirik ke arah stasiun, bersiaga kalau-kalau Natsume tiba saat aku tengah memesan McDonald.

Benar saja, walaupun banyak sekali orang di depan stasiun itu, aku melihat sosok Natsume yang tampak seperti tengah mencari orang. Senyumku mengembang begitu lebar melihatnya. Akhirnya, akhirnya, pikirku saat itu, akhirnya aku bisa berduaan dengan Natsume! Aku pun cepat-cepat membayar pesananku dan mengambil burger serta kentang gorengnya, kemudian cepat-cepat berlari keluar.

"Natsume! Natsume!" teriakku, berharap ia akan mendengarnya. Jantungku berdetak kencang melihatnya menoleh padaku.

Aku sudah tidak sabar. Aku benar-benar tidak sabar.

Segera saja aku berlari hendak menyeberang, tanpa menyadari bahwa lampu penyeberangan telah berubah dari hijau menjadi merah. Pikiranku hanya terfokus pada sosok Natsume saja. Dan itu adalah kesalahan paling besar yang pernah kubuat.

Aku tak menyadari ada mobil yang tengah melaju kencang ke arahku.

Semuanya terjadi begitu cepat. Samar-samar aku mendengar teriakan Natsume yang memanggil namaku. Kututup kedua mataku, bersiap diri untuk merasakan mobil itu yang menabrak tubuhku. Namun, pada akhirnya tak pernah kurasakan itu, melainkan aku merasakan seseorang mendorongku, membuat tubuhku terpental menjauhi mobil itu. Kurasakan sedikit sakitnya ketika tubuhku menubruk aspal di bawahku. Namun ketika kubuka kedua kelopak mataku, hendak mengetahui apa yang sedang terjadi, seluruh tubuhku nyaris membeku seperti patung.

Aku melihat Natsume tergeletak di aspal, darah merah merembes keluar dari kepalanya.


Bulir-bulir air mata kembali jatuh membasahi kedua pipi Mikan Hyuuga. Ia berhenti sejenak, kemudian menyeka air matanya. Namun entah kenapa, entah seberapa banyak pun ia menyeka, air mata itu terus saja mengalir keluar dari kelopak matanya, seakan-akan tak bisa dihentikan.

Ia menundukkan wajahnya sejenak. Keheningan menggema di sekelilingnya, menunggunya untuk kembali menuturkan kata-kata. Detik demi detik pun berlalu, Mikan masih belum mengangkat wajahnya. Semua orang yang hadir di tampat itu, dapat melihat betapa kencang kedua bahunya bergetar.

Tsubasa merasakan bahwa Mikan mungkin sudah tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Ia lalu segera bangkit dari tempat duduknya, hendak menjemput gadis berambut brunette yang tengah berdiri menunduk di atas podium itu. Sudah cukup, pikirnya, sudah cukup Mikan menanggung semua beban berat itu di dalam hatinya.

Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat Mikan akhirnya kembali mengangkat wajahnya. Matanya yang sudah tampak memerah itu kini semakin sembab.

"Se…Setelah itu," lanjut sang gadis, sedikit terisak-isak, "Natsume segera dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil yang sama dengan mobil yang menabraknya. Pengendaranya saat itu adalah seorang wanita, aku tak perlu menyebutkan namanya, ia benar-benar merasa bersalah akan apa yang telah dilakukannya. Ia juga berkata bahwa ia bersedia menanggung semua biaya rumah sakitnya."

Mikan kembali terdiam sejenak.

"Tapi aku sama sekali tak menyalahkan wanita itu, karena aku tahu siapa sebenarnya yang salah dalam kejadian itu. Orang itu… aku. Aku, aku, aku, dan aku."

Mikan kembali menangis.

"Sa…Sayangnya… pada akhirnya… ia tak perlu membayar biaya rumah sakit… karena Natsume… Natsume… Natsume…"—Mikan menggigit bibir bawahnya sejenak, seakan-akan memaksa bibirnya untuk melanjutkan kata-katanya—"…Na-Natsume… meng… menghembuskan nafas terakhirnya… sebelum kami tiba di r-rumah sakit…"

Mikan kembali menundukkan wajahnya, tidak, tapi kali ini tubuhnya terjatuh menubruk lantai, membuat semua yang ada di tempat itu berteriak histeris. Tsubasa dan Hotaru segera melangkahkan kedua kaki mereka dengan cepat untuk menghampiri Mikan yang tergeletak di lantai, diikuti oleh Kaoru Hyuuga dan suaminya yang kedua pipi mereka sudah basah oleh air mata.

Dengan sigap, Tsubasa segera menyentuh pergelangan tangan Mikan hendak memeriksa denyut nadinya. Wajahnya yang tampak tegang seketika melemas. Dengan senyuman yang sedikit dipaksakan, ia berkata, "Nona Mikan hanya pingsan, syukurlah…"

Pada akhirnya Mikan tak pernah menyelesaikan pidatonya.


Ketika Mikan mendapatkan kembali kesadarannya, orang pertama yang ia lihat adalah ibunya, Kaoru, yang langsung memeluknya erat sedetik setelah ia membuka kedua kelopak matanya.

"Mikan! Syukurlah kau tidak apa-apa! Ibu takut terjadi apa-apa denganmu… Ibu sangat tak ingin kehilangan dirimu juga, Mikan…" isak Kaoru.

Kata 'juga' itu membuatnya akal sehatnya kembali sepenuhnya.

"Kenapa ibu tak marah padaku?"

Kaoru pun melepaskan pelukannya, menatapnya bingung, "A-Apa maksudmu, Mikan? Kenapa ibu mesti marah…?"

"A-Aku adalah orang yang telah membunuh anakmu! Anak kandungmu!" teriak sang brunette, "Se-Seandainya aku tak pernah mengajak Natsume untuk bertemu, maka kejadian itu tak perlu terjadi, Natsume pasti akan berada di samping kita seka—"

"Itu bukan salahmu, Nona Mikan!" potong seseorang di belakang Kaoru, yang ternyata adalah Tsubasa. Saat itu pulalah Mikan menyadari bahwa di dalam ruangan itu—ruangan yang tak ia kenali itu—tidak hanya ada dirinya dan ibunya, melainkan juga ayahnya, Tsubasa, dan Hotaru.

"Tsubasa-kun…"

"Kejadian itu adalah salahku. Seandainya saat itu aku benar-benar memperhatikanmu, Nona Mikan, pasti pertemuan itu takkan terjadi dan pasti kau dan tuan muda Natsume sedang berada di rumah dengan aman sekarang!"

Seperti menyetujui apa yang dikatakan Tsubasa, Hotaru pun turut menyalahkan dirinya sendiri, "Seandainya aku tak bersedia membantumu, Mikan-idiot, bodyguardmu pasti sudah mengantarmu pulang ke rumah dengan selamat."

"Benar, Mikan, kau sama sekali tidak bersalah." Ayah Mikan pun berucap pelan, "Seandainya ayah menyetujui hubunganmu dengan Natsume, semua ini tak perlu terjadi."

Tak tahan dengan semua pembelaan orang-orang terdekatnya, membuat Mikan tak kuasa menahan air matanya. Dirinya kembali jatuh dalam tangisannya. Kaoru pun turut menangis melihat anak perempuannya menangis seperti itu. Dengan lembut, ia menempatkan Mikan dalam pelukannya seraya berkata, "Tidak ada yang salah disini Mikan. Kepergian Natsume memang Tuhan yang menghendakinya. Kita tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah dan berdoa agar ia diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya."

"Ibu…" isak Mikan.

"Hentikan tangismu, Mikan. Natsume juga takkan senang melihatmu seperti ini bukan?"

Mikan mengangguk.

"…Jika kau memang mencintai Natsume, kau harus bisa merelakannya pergi."

"Ibu!" Mikan cepat-cepat mengangkat wajahnya, hendak melayangkan protes. Namun berubah pikiran melihat tatapan mata merah ibunya yang membuatnya mau tak mau menganggukkan wajahnya pelan.

"Bagus. Kini istirahatlah, Mikan. Biar ibu dan ayah yang akan mengurus semuanya."

Mikan, sekali lagi, hanya bisa mengangguk dan merebah dirinya di kasur. Dikecup keningnya sejenak oleh ibu dan ayahnya sebelum keduanya melangkah keluar dari ruangan itu. Diikuti oleh Tsubasa dan Hotaru yang merasa bahwa Mikan sangat memerlukan waktunya untuk sendirian.

Merasa lelah, Mikan menutup kedua kelopak matanya. Pada saat itulah ia merasakan sentuhan tangan yang kemudian mengelus rambut dan pipinya dengan lembut, sangat lembut hingga membuatnya merasakan rasa aman dan nyaman yang belum pernah ia rasakan sejak kepergian kekasih tercintanya. Ia tak tahu tangan siapakah itu dan sayangnya juga sudah terlalu lelah untuk membuka kedua matanya.

Sesaat sebelum ia memasuki alam mimpinya, samar-samar terdengar sebuah suara yang begitu familiar di kedua telinganya.

"Tidurlah, Mikan, tidurlah. Walau apapun yang terjadi, aku tak akan pernah pergi dari sisimu."

A Piece of Memories - THE END


Author's Note: Not my best chapter. Not the best ending either.

Seriously, I WAS not in the mood to continue this fic. Aku mengupdatenya karena aku ingin cepat-cepat lepas tanggung jawab dari fic "A Piece of Memories" ini.

Aku sempat punya pikiran untuk men-delete fic ini. To tell the truth, aku nggak terlalu suka dengan fic ini. Aku ingin sekali menghapus fic ini dari daftar ficku, tapi aku berubah pikiran, melihat jumlah review yang aku terima untuk fic ini cukup banyak. 21 reviews untuk 2 chapter! Thanks all. Walau sebenarnya aku nggak terlalu mengerti apa yang kalian suka dari ini.

Well, aku yakin aku nggak akan banyak mendapatkan review untuk chapter ini. Aku nggak terlalu berharap. Tapi jika masih ada yang peduli dengan fic ini, aku ucapkan banyak terima kasih.

Bandung, 11 April 2011

Yuuto Tamano