"LEE Donghae! Keluar dari mobil sekarang juga!"

Hening. Beberapa saat kemudian terdengar suara jeritan dari dalam mobil. Tak lama setelah itu, Lee Donghae keluar dari dalam BMW-nya. Namun Donghae tak sendiri, ia membawa serta Minri bersamanya. Tangan kiri Donghae yang kekar melingkari leher Minri saat mereka keluar, sementara tangan kanannya mengarahkan sebuah pistol ke kepala Minri.

Minri menjerit, matanya berair karena ketakutan. "O-oppa! Apa yang—"

"Diam!" Donghae menarik pelatuknya. "Kalian maju sedikit saja," kata Donghae pada seluruh agen kepolisian. "Maka perempuan ini mati!"

"Kau terbukti bersalah atas tuduhan tindakan terorisme," kata Siwon akhirnya. "Lepaskan dia, atau hukumanmu akan menjadi jauh lebih berat!"

Terorisme?

Mendengar itu, kaki-kaki Minri menjadi lemas. Itu tidak mungkin, 'kan?

Tapi kenyataannya Donghae sedang berdiri dibelakangnya, mengarahkan sebuah pistol ke kepalanya dengan yakin.

"Kau tidak akan membunuhnya," kata Hyungseo tiba-tiba. Dengan langkah tertatih-tatih karena luka yang belum sembuh benar, ia memaksakan kakinya untuk berjalan.

"Aku tidak akan segan-segan!"

"Matamu tidak seyakin ucapanmu."

"Hyungseo!"

Hyungseo menoleh. Siwon sedang menatapnya dengan tatapan yang menusuk.

"Biarkan dia pergi, Siwon-ah."

"Itu tidak mungkin! Kita sudah sejauh ini!"

"Kau mau mengorbankan nyawa perempuan itu?"

Siwon terdiam. Ia kembali menatap Donghae yang masih menodongkan pistolnya ke kepala Minri. Sesaat kemudian, Siwon memberi komando kepada seluruh bawahannya untuk menurunkan senjata mereka. Dan begitu Siwon membuang pistolnya, Donghae bergegas memasuki mobilnya lagi, masih dengan pistol yang mengarah pada Minri.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa, para agen kepolisian membuka barikade mereka. Dan tanpa basa-basi lagi, Donghae segera melesat secepat yang ia bisa. Begitu merasa sudah aman, Donghae meletakkan kembali pistolnya kedalam dasbor. Selama beberapa detik ia sempat melihat wajah ketakutan Minri yang basah oleh air mata. Namun Donghae tak berani berkata apa-apa. Ia segera mengambil ponselnya dari dalam saku kemeja, lalu dicarinya sebuah nama yang sudah lama tak dilafalkannya.

"Changmin… Changmin…" ucapnya pelan sembari mencari nama Shim Changmin di daftar kontaknya.

Beberapa detik berlalu, kemudian terdengarlah suara dari balik telepon.

"Hyung, aku butuh rumah itu," ucap Donghae singkat. "Tidak, bukan itu… bisakah kau panggilkan semua anggotaku? Ya, ya, secepatnya."

Donghae menutup teleponnya, lalu kembali memperhatikan Minri yang duduk dengan kaku. Gadis itu tak bicara apa-apa selain hanya menahan bulir air matanya yang selalu ingin meluap setiap kali Donghae bicara.

"Minri…" panggil Donghae, tapi gadis itu tak menjawab. Hanya sebulir air mata yang mengalir menuruni pipi Minri mewakilinya bicara.

xxXxx

PULUHAN kilometer jauhnya dari Seoul, berdiri sebuah rumah besar yang dari luar memang tampak reyot, namun didalamnya menyimpan banyak rahasia. Seorang pria berperawakan tinggi nampak berdiri didepan pagar rumah itu, menunggu sesuatu. Setelah beberapa kali terlihat menjawab teleponnya, pria itu akhirnya menghela nafas panjang, lalu bersandar di pagar. Tak lama kemudian, sebuah BMW hitam berhenti didepannya. Dari dalam mobil itu keluar sosok yang sudah ia tunggu-tunggu. Sosok pemuda itu menggandeng seorang perempuan yang wajahnya nampak tak sehat.

"Lama tidak bertemu," kata pemuda itu.

"Donghae-ah, aku tidak menyangka kau akan datang dalam keadaan seperti ini."

Donghae mengulas senyum tipis diantara kedua pipinya. "Hanya kau yang bisa kumintai bantuan di saat-saat seperti ini, Changmin-hyung."

Changmin menghela nafas lagi. "Masuklah. Semua anak buahmu sudah datang sejak setengah jam yang lalu."

"Cepatnya…"

"Ngomong-ngomong, siapa itu?" tanya Changmin setengah berbisik. Matanya mendelik kearah Minri.

"Err… pacarku."

"Hah?"

"Nanti kujelaskan."

Changmin mengangkat bahunya. Beberapa saat kemudian ia sudah berlalu begitu saja kedalam rumah itu.

xxXxx

SEMINGGU kemudian, gedung markas utama kini tinggal nama. Hampir 70 persen dari gedung itu hancur dan tak dapat digunakan lagi. Semua data-data dan rekaman penting sudah terbakar habis. Segala macam dokumen-dokumen rahasia pun tak tersisa lagi. Gedung itu kini kosong melompong, tak menyisakan apapun yang berharga selain berton-ton puing yang memenuhi bagian dalam gedung itu.

Jauh di sebuah kedai kopi yang sepi, Choi Siwon memandangi bekas tempat kerjanya itu dengan perasaan pilu bercampur kesal. Para teroris itu benar-benar mencampuri kehidupan pribadinya. Dan memikirkan semua itu membuat perasaan dendam Siwon makin memuncah.

Siwon akhirnya menghabiskan kopinya yang ketiga. Ia bisa memprediksi, nanti malam tidurnya pasti tidak akan nyenyak.

"Merindukan gedung itu?"

Siwon menoleh. Terlihat dihadapannya Leeteuk yang sepertinya baru datang.

"Huh? Eh… ya… kurasa begitu."

Leeteuk langsung mengambil tempat didepan Siwon. "Ah… setidaknya rehat selama seminggu ini berhasil mengurangi stresku."

"Aku masih stres," ucap Siwon datar.

Leeteuk menoleh. "Karena Youngna?"

Siwon hanya diam.

"Aku tahu, rasanya pasti sangat berat, hanya saja—"

"Bukan kau yang mengalaminya, Hyung."

"Kau kehilangan dirimu sendiri, Siwon. Apa kau pernah menyesali kematian Heechul? Atau Hyungseo yang terluka parah?"

Siwon tidak mampu menatap mata seniornya itu. "Apa maumu?"

"Siwon yang kukenal tidak seperti ini."

"Lalu aku harus bagaimana? Berhentilah memojokkanku!"

Leeteuk menarik nafas singkat. "Peperangan kita dengan kelompok teroris itu belum selesai—"

"Maksudmu dengan Lee Donghae?"

"Yah… terserah kau saja. Yang jelas, kau sendiri tahu kalau usaha pelacakan kita seminggu ini sudah berhasil. Kita tahu dimana mereka. Sekarang kita hanya harus mempersiapkan diri untuk penyerangan terakhir," ujar Leeteuk tegas. "Dan kau ingin menghadapi mereka dengan keadaan seperti ini? Itu sama saja artinya kau bunuh diri!"

"Sudahlah, Hyung—"

"Kalau kau begini terus, kau bahkan tak ada bedanya dengan orang-orang lemah di luar sana!"

Siwon memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Mungkin memang itulah kenyataannya."

"Aku tidak peduli. Yang jelas siang ini kami akan berangkat menuju lokasi kelompok teroris itu. Terserah kau mau ikut atau tidak. Semua ada ditanganmu."

Lalu Leeteuk tak bicara apa-apa lagi. Ia pergi begitu saja, sementara Siwon hanya bisa memperhatikan punggungnya yang mulai menjauh.

"Entahlah, Hyung…"

xxXxx

SIANG harinya, di 'markas sementara' tim yang—harusnya—diketuai Siwon, Leeteuk mulai menyiapkan persenjataan yang akan dibawanya. Bukan hanya dirinya, Yesung bersiap-siap dengan beberapa rompi anti peluru, Ryeowook mengecek kondisi beberapa senapan laras panjang, Hangeng melengkapi semua amunisi yang mereka butuhkan, sementara Shindong masih berkutat dengan komputernya, berusaha menyadap saluran telepon yang berasal dari tempat persembunyian Donghae.

"Begini sudah cukup?" Hangeng meletakkan kotak amunisi terakhir di tempat seharusnya.

"Kurasa cukup," jawab Leeteuk singkat.

"Ah, ngomong-ngomong, Siwon-ah tetap tidak mau ikut?"

"Entahlah. Ia keras kepala."

"Sepertinya kita harus berangkat tanpanya." Kini Ryeowook ikut bicara.

"Jadi… semua sudah siap?"

Ryeowook, Hangeng, dan Yesung saling melempar pandang.

"Ingat, ini bukan tugas individual, jadi bekerjasamalah! Kita berangkat!"

"Ahm… Hyung?"

Leeteuk berbalik. "Apa?"

"Sepertinya Siwon-ah berubah pikiran."

"Maksudmu?" Leeteuk menoleh kearah pintu depan. Dilihatnya Siwon tengah berdiri disana, lengkap dengan seragam agen kepolisian dan rompi anti peluru. Lingkar pinggangnya pun dilengkapi dengan sepasang revolver yang selalu Siwon gunakan.

"Apa yang—"

"Err… kurasa aku akan ikut."

xxXxx

SEJAK pagi hari, Incheon diguyur hujan lebat yang tak kunjung berhenti. Heo Minri menatap langit di luar rumah dengan perasaan sedih. Langit yang dipenuhi awan gelap itu benar-benar melukiskan perasaannya yang kacau belakangan ini. Seminggu terakhir ini, Minri bahkan belum bicara lagi dengan Donghae. Setiap kali pria itu datang, yang bisa Minri lakukan hanya membungkam mulut. Donghae sudah terasa seperti orang asing baginya, tak lebih dari sekedar seorang pimpinan kelompok teroris yang dingin.

Minri menyandarkan tubuhnya di dinding yang dingin. Ia hampir terlelap saat tiba-tiba didengarnya suara pintu terbuka. Minhyun datang membawakannya makanan. Perempuan itu meletakkan nampan yang dibawanya begitu saja, lalu sekilas memperhatikan Minri yang masih tak menoleh padanya.

"Makanlah," kata Minhyun akhirnya. "Kalau kau tidak mau makan, Donghae-sshi akan marah padaku."

Minri hanya diam.

"Hei, kau! Aku sudah susah-susah membuatkan makanan ini—"

"Aku tidak butuh."

Minhyun menggeleng. "Biar begitu, Donghae-sshi masih peduli padamu."

Minri terdiam sejenak. "Kenapa tidak sekalian saja kau membunuhku?"

Sekarang Minhyun yang tak menjawab.

"Kalian… hanya orang-orang berpikiran pendek," ujar Minri datar. "Apa kalian pernah berpikir, berapa nyawa tak berdosa yang kalian hilangkan? Berapa nyawa tak berdosa yang KAU hilangkan?"

Lidah Minhyun terasa tercekat mendengarnya. Entah bagaimana, bayang-bayang kematian Lee Youngna terlintas kembali dalam benaknya. Ia dapat mendengar kembali suara Siwon, raungan sirine ambulans, jeritan orang-orang, dan bahkan kata-kata terakhir yang Youngna ucapkan.

"Satu lagi." Minri meneruskan kalimatnya. "Kalau kau pikir kau bisa menghilangkan nyawa orang semudah itu, kau salah."

"Semua itu… hanya kulakukan dibawah perintah. Aku tidak pernah ambil pusing dengannya."

Minri akhirnya menoleh. "Kau adalah orang terkonyol yang pernah kutemui. Pernahkah kau berpikir untuk menjalani hidupmu sendiri?"

Minhyun nampak kewalahan. Untuk pertama kalinya sejak ia bergabung dengan kelompok teroris Donghae, wajahnya kembali menunjukkan ekspresi yang manusiawi.

Tak mampu membalikkan pernyataan Minri, Minhyun akhirnya keluar dari kamar itu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kamar yang kecokelatan. Lama-kelamaan kakinya yang terasa lemas memaksanya untuk mendudukkan diri disana. Didalam benaknya, kata-kata Minri kembali terngiang.

Berapa nyawa tak berdosa yang kami hilangkan? Berapa nyawa tak berdosa yang AKU hilangkan?

Minhyun tak menyadari bulir-bulir air mata mengalir dari sudut kedua matanya. Ia membungkam wajahnya diantara kedua lengannya yang selama ini ia gunakan untuk memusnahkan nyawa-nyawa tak berdosa seperti yang dikatakan Minri. Ia sendiri tak mengerti kenapa, tapi tetesan air mata itu tak mau berhenti. Minhyun pun tenggelam dalam tangisnya.

xxXxx

"JADI, sudah kauputuskan mau kemana setelah ini?"

Donghae menoleh pada Changmin yang menatapnya datar. "Paris."

"Paris?"

"Itu pilihan terakhir."

"Kau akan membawa serta perempuan itu?"

"Namanya Minri."

Changmin memutar matanya. "Ah, ya."

"Tentu aku akan membawanya."

"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan membawanya. Kau tahu dia hanya akan menjadi titik kelemahanmu."

"Aku tak mengerti maksud perkataanmu, Hyung," ucap Donghae datar. Lalu tanpa membiarkan Changmin bicara lagi, ia segera beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi begitu saja.

"Kuharap kau tidak menyesali keputusanmu, Donghae!"

Namun Donghae tak menggubrisnya.

SEMENTARA itu, jauh di Seoul, rombongan mobil polisi melesat dengan cepat menuju tempat persembunyian Donghae. Dibelakang mobil-mobil itu, nampak beberapa van berisi agen-agen kepolisian mengikuti rombongan mobil polisi didepannya. Belum cukup sampai disitu, jauh dibelakang rombongan mobil dan van polisi, sekumpulan helikopter bersenjata melengkapi pasukan yang dipimpin Siwon itu. Sementara Siwon sendiri ada di barisan terdepan. Dibelakangnya nampak Hyungseo dan Leeteuk dalam mobil yang sama.

"Van nomor tujuh, ulangi. Segera berpencar menuju jalan alternatif." Siwon memberi komando dari walkie-talkie.

"Dimengerti."

Tanpa basa-basi lagi, Siwon membelok dengan tajam. Terlihat jelas dihadapannya perbatasan wilayah Incheon. Sedikit lagi, Siwon. Sedikit lagi…

Siwon menjadi tak sabar untuk bertatap muka lagi dengan musuh terbesarnya.

– To Be Continued