SIANG itu hujan belum mereda sama sekali. Diluar rumah Changmin yang besar namun menipu, Donghae membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Ia berdiri diam selama hampir satu jam, tak mengatakan atau melakukan apapun. Sesekali ia menoleh kearah sebuah jendela di sebelah barat rumah itu. Minri ada didalamnya, namun sosoknya tak nampak.
Hujan hari itu sepertinya sangat enggan untuk pergi. Sekalipun langit yang kelabu sudah mulai kembali pada warnanya semula, namun bulir-bulir hujan yang jatuh tetap sama. Setelah terlepas dari lamunannya, Donghae merasakan seseorang datang. Sosok itu memayunginya dengan enggan.
"Apa yang kaulakukan disini?"
Donghae mengenali suara itu. Suara teduh milik Eunhyuk.
"Mencari udara segar."
"Kau ini kenapa? Tidak biasanya seperti ini," keluh Eunhyuk.
Selama beberapa saat Donghae terdiam. Sesekali ia mendongakkan kepalanya keatas, membiarkan hujan mengguyur wajah lelahnya.
"Hyung, aku punya… firasat."
"Firasat?"
"Kalau aku mungkin saja tidak akan bertemu kalian lagi."
"Ah!" Eunhyuk mencoba berekspresi senatural mungkin. "Apa karena kau memutuskan untuk pergi ke Paris?"
"Err… sepertinya bukan begitu."
"Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam. Mungkin omonganmu jadi kacau karena kau kena demam."
"Hyung—"
"Ayo!" Eunhyuk menarik tangan Donghae yang dingin karena tetesan air hujan. Entah bagaimana, ada sedikit perasaan Donghae yang tergetar. Ia teringat terakhir kali ayahnya menggandeng tangannya, terakhir kali kakak laki-lakinya membuatnya tertawa, dan terakhir kalinya Donghae merasa bahwa ia benar-benar manusia.
"Oh? Lee Donghwa dan adiknya? Mereka pasti sama saja seperti ayahnya! Kriminal!"
"Tidak heran kalau dia kabur dari rumah bersama kakaknya."
Semua cemoohan itu terngiang kembali. Suara-suara kebencian terhadap seorang Lee Donghae dan semua yang ia kenal. Pada akhirnya Donghae menyesali semua keputusannya, bahkan saat ia memaksa sang kakak, Lee Donghwa untuk pergi menjauh dari dunia mereka yang lama.
Saat itu musim panas. Donghae yang baru berumur tujuh belas tahun terlibat dalam sebuah cekcok dengan sang kakak. Perjalanan mereka dari Incheon menuju Busan jadi terasa lama sekali tanpa adanya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Donghae yang duduk di jok depan mobil hanya diam sambil memperhatikan jalan yang mereka lalui. Sedangkan Donghwa hanya terus-menerus fokus dengan rute yang mereka lewati.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Donghwa membuka mulut. "Lalu, kau mau kita kemana?"
"Ke tempat dimana kita tidak mengenal siapapun." Donghae menjawab tanpa menoleh.
Donghwa menarik satu nafas yang berat. "Satu-satunya tempat yang bisa kujangkau hanya Busan."
"Aku tidak peduli."
Donghwa menoleh. "Dengar, bisa tidak sekali saja kau tidak memikirkan dirimu sendiri?"
"Aku tidak memikirkan diriku sendiri!"
"Ya! Kau itu egois, tahu? Aku bahkan meninggalkan semua di Incheon hanya demi kau!"
"Kalau kau merasa terbebani, kau tidak usah lagi peduli padaku!"
"Donghae!"
"Aku tidak suka tinggal disana! Hanya karena ayah pernah gagal menjadi seorang pejabat berkedudukan tinggi, tidak berarti dia dan kita semua harus dibenci!"
"Berhentilah mengungkit-ungkit hal seperti itu!" Kali ini suara Donghwa terdengar sangat keras dan membuat Donghae tersentak.
"Aku bukan anak kecil lagi!"
"Kalau begitu, dewasalah! Berhentilah membebani orang lain!"
Membebani? Membebani, katanya?
"Aku benci kau!"
Hening. Nampaknya Donghwa terkejut dengan kata-kata Donghae barusan. Ia pun akhirnya tak menjawab apa-apa, hanya kembali mengemudikan kendaraannya.
"Kau akan menyesal mengatakan itu."
"Tidak akan!"
Merasa terpojok dengan keyakinan Donghae, Donghwa mencoba melihat wajah adiknya, tapi Donghae hanya melongok keluar jendela, tanpa bersuara.
"Seyakin itukah kau?"
"Ya! Aku tidak pernah seyakin ini—"
BRAKK!
Donghae langsung menoleh begitu merasakan benturan yang amat keras di kepalanya. Ia memegangi kepalanya dan merasakan ada darah yang mengalir. Donghae memanggil kakaknya, namun ia tak menjawab. Begitu menoleh kearah Donghwa, Donghae menyadari sang kakak telah tewas seketika. Bagian depan mobil itu hancur, tertabrak sebuah mobil polisi yang sedang mengejar mobil lainnya. Sementara itu tubuh Donghwa tak bergerak sama sekali. Donghae mencoba mengguncangnya, namun percuma. Saat itu juga Lee Donghae merasa hidupnya sudah berakhir.
xxXxx
ROMBONGAN kendaraan polisi yang dipimpin Siwon akhirnya tiba di tujuan akhir. Sekitar tiga puluh meter jauhnya dari lokasi utama, Siwon menyiapkan semua pasukannya sesuai tempatnya. Satu-persatu tim sniper ditempatkan di masing-masing pos, begitu juga dengan agen lapangan yang lain. Sementara Ryeowook memimpin tim sekunder, Siwon, Hangeng, Yesung, dan Hyungseo mengendap-endap menuju sebuah rumah besar tempat persembunyian Lee Donghae.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka akhirnya berhenti hanya beberapa meter dari pintu utama. Semua senjata telah siap dalam genggaman. Selanjutnya hanya tinggal menunggu komando dari Siwon. Bahkan hari hujan pun tak menghentikan semangat Siwon yang sudah terlanjur terbakar.
Di waktu yang sama, Lee Sungmin yang berjaga di lantai dua rumah itu merasakan ada pergerakan yang aneh jauh dibawahnya. Ia mencoba memastikan lagi dan mengkonfirmasi bahwa yang dilihatnya benar-benar polisi. Setelah yakin, Sungmin merogoh sakunya lalu mengambil sebuah walkie-talkie, lalu disambungkannya salurannya dengan saluran walkie-talkie Kyuhyun. Ia dapat mendengar suara gemerisik dari seberang sana.
"Ada apa?" tanya Kyuhyun singkat.
"Kurasa aku baru saja melihat orang-orang berseragam yang memakai… rompi anti peluru."
"Maksudmu, polisi?"
"Begitulah. Bisa kausampaikan pada Donghae-ah? Salurannya sibuk. Kupikir—eh, Kyuhyun? Kau dengar aku?"
Hening. Satu-satunya yang dapat Sungmin simpulkan hanyalah Kyuhyun memutus saluran walkie-talkie-nya.
Sedangkan Cho Kyuhyun yang berada di lantai dasar hanya menyunggingkan sebuah senyum tipis setelah mendengar laporan singkat dari Sungmin. Ia membuang walkie-talkie-nya begitu saja, lalu dengan segera ia mengambil semua pistol yang ada didalam ruangan itu. Waktunya untuk keluar dari dunia kecil yang diciptakan Donghae, batinnya.
SIWON dan Yesung yang berdiri paling dekat ke pintu utama akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya pintu itu terbuka juga. Terpampanglah sebuah ruangan tua yang Siwon yakini bergaya Jepang kuno. Cukup aneh melihat rumah seperti itu di Korea, pikir Siwon. Setelah sedikit menjelajah, akhirnya mereka berpencar. Siwon dan Yesung bergerak menuju dapur, sedangkan Hangeng dan Hyungseo memeriksa seluruh kamar.
Sementara itu Donghae, Eunhyuk, Kangin, Minhyun, dan Changmin yang masih berkumpul di kamar paling pojok merasa ada yang aneh. Minhyun dan Kangin akhirnya memutuskan untuk memeriksa keadaan di luar, sementara Donghae menunggu laporan mereka.
Minhyun melangkah dengan pasti diantara lorong rumah yang cukup panjang. Ia langsung berhenti dibelakang sebuah dinding ketika mendengar suara langkah disekitar tempat itu. Minhyun menoleh, dilihatnya seorang agen kepolisian tengah berdiri membelakanginya. Tampaknya agen itu tak begitu waspada.
"Tetap bergerak, Yesung-hyung," kata suara yang lain. Minhyun mengenali suara itu. Itu Choi Siwon yang dilihatnya minggu lalu. Begitu melihat sosok Siwon, Minhyun menyembunyikan dirinya lagi dibalik dinding.
Dia datang untuk membalas dendam, gumam Minhyun dalam hati. Maka entah mendapat dorongan dari mana, Minhyun langsung mengokang silent gun-nya, lalu ditembakkannya peluru silent gun itu kearah Siwon. Sayang, peluru itu meleset. Yesung pun secara spontan menembakkan peluru revolvernya kearah Minhyun, namun semua peluru itu hanya mengenai dinding.
"Siwon-ah! Pergi dari sini!"
"Tidak bisa! Apa yang—"
DOR! DOR!
Beberapa letusan senjata api dari revolver Yesung menghentikan kata-kata Siwon.
"Cari Lee Donghae! Kau tidak ingin dia kabur, 'kan?"
Siwon terdiam. Beberapa saat kemudian emosinya pada Donghae membuatnya setuju untuk meninggalkan Yesung.
"Kau yakin, Hyung?"
"Pergilah!"
Dengan setengah hati, Siwon akhirnya meninggalkan Yesung yang masih terlibat baku tembak dengan Minhyun. Sementara itu, Minhyun di seberang sana mulai kehabisan peluru. Ia akhirnya memasukkan slot peluru terakhirnya, namun empat peluru pertamanya tidak mengenai Yesung sama sekali. Bahkan sampai pada peluru kelimanya pun, semuanya luput dari Yesung. Hingga akhirnya, Minhyun lebih memilih untuk berlari, sedangkan Yesung… jauh dibelakangnya, mengarahkan revolvernya kearah punggung Minhyun, satu-satunya tempat yang memungkinkan.
Dan terdengarlah, suara letusan senjata api sebanyak tiga kali, dan ketiga-tiganya tepat mengenai punggung Minhyun. Gadis itu ambruk, namun matanya masih terbuka. Sekilas, ia melihat dengan jelas sosok Cho Kyuhyun yang berlari hanya beberapa meter darinya. Mata mereka saling bertemu, namun Kyuhyun nampak acuh.
"Kyu… hyun…" panggil Minhyun dengan sisa tenaganya. Namun pria yang dipanggilnya justru pergi. Pada akhirnya Minhyun harus menelan bulat-bulat kekecewaannya. Kyuhyun berlalu begitu saja.
xxXxx
SEMENTARA itu, Donghae merasa bahwa sudah waktunya bagi dirinya untuk pergi. Ia tak habis pikir bagaimana kelompok polisi itu bisa menemukannya, bahkan di tempat terpencil seperti itu. Begitu Donghae membuka pintu kamar dan berlari keluar, ia melihat sosok Minri yang juga tengah membuka pintu kamar tempatnya menetap. Selama sepersekian detik mereka saling menatap, namun semua itu terhenti saat tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api. Hangeng muncul dari dalam lorong, berlari menuju Donghae. Secara spontan, Minri meneriakkan kata yang selama ini dipikirnya tak akan pernah terlontar dari mulutnya.
"Pergilah! Segera pergi dari sini!"
Dan dengan berat hati, Donghae pun pergi. Minri sendiri tak mengerti kenapa. Apakah perasaannya telah mengalahkan kecintaannya pada keadilan? Entahlah. Yang penting Minri hanya menginginkan Donghae selamat.
Di sudut rumah yang lain, Siwon masih memeriksa beberapa kamar. Semuanya kosong. Lalu ia beralih ke salah satu ruangan dengan banyak pintu. Keseluruhan pintu itu mengarah ke ruang tengah, dimana ia bisa melihat semua yang berlalu lalang disana, termasuk Donghae yang tengah berlari menghindari kepungan di sekeliling rumah itu. Begitu melihat sosok lelaki yang tengah berlari itu, Siwon merasakan sesuatu membakar dirinya, hatinya. Maka dengan segera Siwon ikut berlari mengejar Donghae yang telah diburunya selama ini.
Mengetahui dirinya tengah dikejar, Donghae mempercepat laju berlarinya, terlebih setelah Donghae mengetahui siapa yang sedang mengejarnya.
Choi Siwon, mengejarnya penuh hasrat ingin membunuh.
DI bagian rumah yang lain, Cho Kyuhyun menuruni sebuah tangga kayu menuju bagian luar rumah itu. Tawanya tak dapat terbendung lagi begitu ia merasa telah mencapai bagian rumah dimana tidak seorangpun akan mengetahui keberadaannya, termasuk para agen kepolisian bodoh akhirnya sampai di sebuah pagar kecil, penghalang terakhir menuju dunia luar. Dengan perasaan yakin ia membuka pagar itu. Begitu yakinnya sampai tiba-tiba ada sesuatu yang menghentikannya.
"Jangan bergerak!"
Kyuhyun pun terdiam. Begitu ia menoleh, sebuah senyum picik terkembang di wajahnya.
"Oh, kau rupanya. Masih hidup?"
Lee Hyungseo mendengus kesal. "Ya. Masih hidup untuk menghabisimu."
"Kau suka granat ciptaanku? Aku merancangnya dua bulan terakhir—"
"Tutup mulutmu!"
"Hei, hei, seorang wanita harusnya berbicara dengan lemah lembut. Benar 'kan, Minhyun?"
Hyungseo tak menyadarinya sama sekali. Ia menoleh ke belakang, dan dilihatnya Kim Minhyun yang sedang mengarahkan pistolnya pada Hyungseo. Terlihat bekas darah di mulutnya yang membuat Hyungseo yakin bahwa Minhyun telah tertembak. Namun gadis itu masih berdiri tegak dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Wanita jaman sekarang memang tidak cepat mati," kata Kyuhyun lagi.
"Kau yang disana." Minhyun akhirnya bicara. Ia menunjuk Hyungseo dengan pistolnya. "Minggir, aku punya urusan yang belum selesai dengannya."
Kyuhyun yang mendengar itupun termangu. "Apa maksudmu, Minhyun?"
"Kau dengar aku, 'kan? Minggir!"
Kali ini Hyungseo menurunkan pistolnya, lalu ia menjauh dari Minhyun yang kini mengarahkan pistolnya pada Kyuhyun.
"Apa yang kaulakukan?"
"Semua yang dikatakan Kibum ternyata benar. Kau memang pengkhianat terbusuk yang pernah ada!"
Kyuhyun tercekat, tak dapat menjawab apa-apa.
"Kau ingin menyelamatkan dirimu sendiri, hah?" ucap Minhyun lagi. "Kalau aku harus mati, aku akan membawamu!"
Tiba-tiba Kyuhyun tertawa. "Memang kau mau apa? Setelah aku bisa lolos dari semua ini, aku bisa bergabung dengan organisasi gelap lainnya. Itulah hidupku!"
"Kau—!"
"Tapi karena kalian terlalu banyak tahu," kata Kyuhyun sembari mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya. "Maaf saja, aku tidak bisa membiarkan kalian hidup lebih lama."
Minhyun mempererat genggaman pistolnya. "Kau mati lebih dulu."
"Sekedar mengingatkan, kau sudah menembakkan enam pelurumu tadi. Kau yang mati lebih dulu."
Minhyun diam, sejenak kemudian terdengar suara letusan senjata api dari pistolnya. Peluru terakhirnya pun melesat dan tepat mengenai dada kiri Kyuhyun, salah satu bagian paling fatal dari tubuhnya.
"Salah, aku menembakkan lima."
Cho Kyuhyun tak bergerak lagi. Hyungseo yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa termangu.
Semudah itukah?
"Katakan pada perempuan bernama Minri itu, aku tidak akan membunuh orang lagi."
Hyungseo tak menjawab apa-apa. Ia akhirnya berlalu begitu saja, meninggalkan Minhyun dengan sisa-sisa nafasnya. Setelah sejenak Hyungseo pergi, ia dapat mendengar suara tubuh Minhyun yang roboh. Tidak heran, ketika Hyungseo melihat tiga bekas tembakan di punggung gadis itu. Semuanya terasa Minhyun pergi secepat itu, dengan setetes air mata menuruni sudut matanya.
- To Be Continued
