Title: A Flower boy

Starring: Yoochun x Junsu

Yunho, Jaejoong, Changmin and many others

Genre: Humor, Romance

Rate: PG 15

Length: 1 / 3 (Threeshoot)

Warn: Boys Love, OOC, gaje, etc.

Author: Din_Cassie

OoOoO

"Junsu-ya?"

Deg!

Mendengar sebuah suara berat memanggil lelaki imut di depannya, sontak membuat Yoochun berbalik dan mendapati sesosok pria tinggi dengan aura yg memancarkan kewibawaan yg tinggi. Tapi, sepertinya Yoochun mengenalnya?

"Mr. Kim?" Pria itu menoleh pada Yoochun yg tidak sengaja memanggilnya.

"Yoochun-ah? Wah, kebetulan sekali bertemu disini," Yoochun berdiri dan menjabat tangan orang yg di panggil Mr. Kim itu.

"Iya, kebetulan sekali," kata Yoochun basa basi, sedikit melupakan kehadiran Junsu yg masih tidak bergerak dari tempatnya.

"Oh ya, appa dan hyung-mu ada dimana? Mereka baik-baik saja?" tanya Mr. Kim sambil menepuk bahu Yoochun.

"Appa sedang di Jepang bersama Umma, kalau Yunho-hyung sedang ada urusan sedikit. Dan mereka baik-baik saja" kata Yoochun. Mr. Kim mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya pada Junsu.

"Kau kenapa bisa dengan Junsu disini?" Yoochun mengalihkan pandangan pada Junsu, lalu bergantian memandang Junsu dan Mr. Kim.

"Loh, Mr. Kim kenal Su-ie?" Mr. Kim mengernyit mendengar panggilan Yoochun.

"Su-ie? Ah, tentu saja! Dia-"

"APPA!" teriak Junsu (setelah loading-nya selesai) sambil memeluk Mr. Kim yg ternyata ayah Junsu. Yoochun cengok melihat itu semua.

"Appa kapan pulang? Kenapa tidak kasih kabar? Umma mana?" tanya Junsu sambil celingukan mencari umma-nya.

"Aigoo, kamu tidak berubah. Appa baru pulang kemarin, umma-mu lagi di rumah. Appa kesini karena masih ada urusan bisnis, tapi tadi baru saja selesai. Appa baru saja ingin pulang, tapi pas appa lihat kamu, appa gak jadi pulang. Gimana kabarmu dan kabar hyung-mu?" tanya Mr. Kim sambil mengelus rambut Junsu.

"Aku dan Jae-hyung baiiiiik sekali! Tenang saja, appa!" kata Junsu bangga. Mr. Kim hanya bisa menggeleng kepalanya melihat kelakuan anak bungsunya itu. Kemudian matanya tertumbuk pada Yoochun yg berubah cengok gak jelas.

"Su, kau kenapa bisa disini dengan Yoochun-ah?" tanya Mr. Kim, membuat Junsu menoleh pada Yoochun.

"Appa kenal dia?" tanya Junsu balik sambil menunjuk Yoochun yg sudah bisa menutup mulutnya dan tersenyum.

"Tentu. Dia anak dari rekan bisnis sekaligus teman appa, Mr. Jung,"

"Yeh? Bisanya appa kenal dia?" cibir Junsu.

"Tentu saja. Nah, sekarang jawab pertanyaan appa tadi. Kalian kenapa bisa disini? Kalian kenal dimana?" tanya Mr. Kim.

"Itu-"

"Ah, kami kenal di jalan. Kami kesini karena saya mengajaknya makan," kata Yoochun. Entah kenapa suaranya menjadi tambah berat dan terkesan jaga image.

Mr. Kim mengangguk dan menatap Junsu yg masih menata Yoochun. Senyum jahil menghiasi bibirnya.

"Kalian kencan ya?" tanya Mr. Kim, sontak membuat Junsu dan Yoochun sedikit salah tingkah.

"I-itu..."

"Bi-bisa dibilang begitu," Junsu memberi deathglare pada Yoochun yg ditanggapi dengan senyum dari Yoochun. Mr. Kim tersenyum jahil, lalu menepuk bahu Yoochun dan Junsu bergantian.

"Silakan lanjutkan acara kalian. Yoochun-ah, kau harus menjaga anakku dengan baik. Aku merestui kalian," dengan segera Mr. Kim pergi meninggalkan Yoochun yg tersenyum sangat bahagia dan Junsu yg terpaku dengan wajah memerah sempurna.

1 detik

2 detik

3 de-

"APPAAAA!" lengkingan setara lumba-lumba itu terdengar keras, membuat semua yg berada di restoran itu menutup telinganya, termasuk Yoochun dan Mr. Kim yg buru-buru pergi dari restoran itu.

"Ya ampun, Su-ie chagiya. Suaramu itu," kata Yoochun.

"Biarin!" dumel Junsu sambil duduk kembali dan memakan makanan (yg entah kapan sudah ada) di depannya. Yoochun tersenyum kecil, lalu ikut duduk dan memakan makanan itu.

OoOoO

In Other Side

"Yun, kenapa kita kesini?" tanya Jaejoong heran. Dia heran karena seharusnya mereka sedang berada di studio foto atau tempat indah seperti pantai, tapi mereka malah berada di sebuah café mungil di pinggir kota.

"Mmm, setelah ini kita baru ke tempat pemotretan," kata Yunho sedikit gugup. Jaejoong mengangguk paham, lalu mengikuti Yunho yg menuju tempat duduk di dekat jendela café. Yunho memanggil waitress dan memesan segelas capuccino. Sedangkan Jaejoong memilih polka cake dan frapuccino. Setelah waitress pergi, suasana menjadi cukup hening. Maklumlah, di café itu hanya mereka berdua, seorang penjaga kasir dan dua orang waitress. Entahlah kenapa café senyaman itu bisa sepi seperti sekarang. Suasana menjadi sedikit canggung karena suasana sore tadi perlahan berubah menjadi senja yg indah. Sangat pas untuk menghabiskan momen bersama pasangan, begitulah pikir mereka.

Tidak lama, pesanan mereka datang. Dengan suasana diam, mereka menikmati pesanan yg baru saja di antar waitress tadi. Jaejoong menatap Yunho sebentar, sebelum membuka pembicaraan.

"Yun, sebenarnya aku masih penasaran kenapa kamu jadiin aku modelmu?" tanya Jaejoong. Yunho terbelalak kaget mendengarnya. Untung saja dia tadi tidak sedang minum.

"Err, sebenarnya..."

"..."

"Sebenarnya..." Jaejoong menunggu dengan setia jawaban yg akan keluar dari bibir Yunho.

"Sebenarnya... Aku sudah menyukaimu sejak pertama melihatmu menjual bunga. Kemudian aku memotretmu diam-diam, sampai kemudian aku berani mendatangimu dan memintamu langsung untuk jadi modelku. Rasa sukaku kemudian menjadi rasa cinta. Mianhae, Jaejoong-ah," kata Yunho sambil menutup mata, takut akan reaksi Jaejoong setelah dia mengatakan yg sebenarnya. Dia tahu Jaejoong tidak akan menerimanya atau malah jijik padanya. Namun...

"Gwenchanayo, Yunho-ya. Nado saranghae," Yunho membuka mata cepat dan mendapati Jaejoong yg tertunduk dengan rona merah menjalar di pipi dan telinganya. Yunho menepuk-nepuk pipinya kuat, meyakinkan kalo ini bukan mimpi.

"Jinjja?" tanya Yunho tidak percaya. Jaejoong mengangguk malu-malu, membuat Yunho berdiri dan melompat senang.

"Berhasil! Yes!" Yunho menghampiri Jaejoong dan mengajaknya berdiri. Lalu dia memeluk Jaejoong erat, diiringi tepuk tangan dan ucapan selamat dari karyawan-karyawan café itu.

OoOoO

Junsu menyandarkan punggungnya di jok samping Yoochun sambil bergumam pelan membuat Yoochun tersenyum melihat Junsu.

"Su,"

"Wae?" tanya Junsu sambil menutup matanya.

"Kita mau kemana lagi?" Junsu membuka matanya sambil menatap sayu langit di atasnya.

"Kita pulang," Junsu menutup mata lagi hingga terdengar dengkuran halus darinya. Yoochun mengelus pipi Junsu dan melajukan mobilnya membelah jalanan yg sepi. Pikirannya lalu tertuju pada pertemuan pertamanya dengan Junsu sampai sekarang. Pertemuan dengan malaikat yg merubah Yoochun dari seorang playboy menjadi seorang pria dengan hanya satu cinta, yaitu cinta pada namja imut disebelahnya. Kemudian dia teringat pertemuannya dengan sahabat ayahnya yg ternyata adalah ayah Junsu, calon mertuanya -kalau boleh disebut begitu. Hatinya senang dengan kenyataan kalau dia mendapat restu dari ayah Junsu. Namun bagaimana dengan ayahnya, mengingat ayahnya menginginkan keturunan sebagai penerus perusahaan dan itu tidak mungkin diwujudkan bila kedua putranya akan menikahi lelaki juga. Yoochun mengacak rambutnya sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya. Apa yg harus dia lakukan? Dia mengetahui kalau kakaknya begitu memuja Kim Jaejoong dan tidak mungkin dia menyuruh kakaknya berkorban sedangkan dia bahagia. Tidak mungkin! Karena dia amat menyayangi Yunho. Tapi, apakah dia yg harus berkorban? Melepas Kim Junsu yg benar-benar dia cintai? Mungkin jawabannya, ya. Sebelum mereka terikat makin jauh.

OoOoO

Mereka akhirnya sampai di depan rumah Junsu. Yoochun mematikan mesin mobilnya, lalu memandang Junsu yg masih tertidur lelap. Yoochun tersenyum sambil mengelus pipi chubby Junsu. Dia lalu mendekat dan mengecup pelan bibir Junsu, berusaha menyalurkan rasa cintanya pada Junsu. Dia lalu keluar dan berjalan menuju tempat Junsu. Setelah pintu mobil disamping Junsu terbuka, dengan segera dia menggendong Junsu. Dia tidak ingin membangunkan malaikat cantiknya.

Dengan segera dia masuk ke dalam dan mencari-cari kamar Junsu. Namun, suara deru mobil yg berhenti di depan rumah Junsu mengurungkan niatnya menidurkan Junsu. Dia menaruh Junsu di sofa panjang dan mencoba mengintip siapa yg datang. Dan ternyata dia melihat Yunho dan Jaejoong bergandengan tangan menuju depan pintu Junsu dan Jaejoong. Yoochun juga melihat Yunho mencium Jaejoong dengan sayang, membuat rencana menjauhi Junsu pun makin kuat. Biarlah dia yg mengalah, asalkan Yunho bahagia, begitu pula dengan Junsu. Junsu harus mendapatkan yg lebih baik darinya dan bisa mempunyai keturunan yg dapat meneruskan perusahaan ayah Junsu.

Cklek

Pintu terbuka dan menampakkan wajah kaget Jaejoong yg melihatnya ada di dalam rumahnya.

"Yoochun?"

"Ah, maaf hyung. Tadi Junsu ketiduran, jadi saya membawanya ke dalam. Tapi saya tidak tau kamarnya, makanya saya menunggu hyung pulang," kata Yoochun, berusaha menjelaskan yg terjadi. Jaejoong mengangguk paham.

"Terima kasih, Chun,"

"Sama-sama, hyung. Ah, sudah malam, saya harus pergi. Hyung, titip Junsu ya? Annyeong, " Yoochun segera pergi meninggalkan Jaejoong dengan tatapan heran atas kalimat Yoochun tadi. Jaejoong menghela nafas, lalu menutup pintu dan memapah adiknya menuju kamarnya.

OoOoO

Tok Tok Tok

"Hyung?" panggil Yoochun.

"Masuklah,"

Cklek

Blam

Yoochun berjalan menuju balkon kamar Yunho. Yunho menutup mata sambil menikmati angin yg seakan membelai wajah tampannya. Raut bahagia jelas tergambar di wajahnya. Yoochun tersenyum miris melihatnya. Haruskah raut itu terganti raut kesedihan? Tidak!

"Ada apa, Chun?" tanya Yunho.

"Hyung, aku mau bertanya,"

"Hmm..." Yoochun yg mengerti maksud Yunho lalu melanjutkan bicaranya.

"Hyung dan Jae-hyung sudah berpacaran?" Yunho membuka mata dan melihat Yoochun heran.

"Kenapa?" tanya Yunho balik.

"Jawab saja, hyung,"

"Mmm... Iyaa," Yunho tersenyum senang. Yoochun memalingkan pandangannya melihat bintang yg bertabur indah di atasnya.

"Hyung, apa yg akan appa katakan kalau tau kita mencintai namja?" Yunho menatap Yoochun yg sedang menutup mata dengan pandangan yg heran. Kenapa dengan Yoochun? Begitulah batin Yunho.

"Molla. Tapi aku yakin appa merestui kita. Kalaupun tidak, aku tetap akan bersamanya," Yoochun terdiam sejenak.

"Hyung, bagaimana jika appa menginginkan penerus?" Yunho tertohok dengan pertanyaan Yoochun.

"Aku.. tidak tau," Yoochun tersenyum miris dan membuka mata. Sudah diputuskan, dia akan pergi.

"Hyung, berbahagialah dengan Jae-hyung," Yunho heran lagi dengan kata-kata Yoochun.

"Maksudmu?" Yoochun menepuk bahu Yunho pelan.

"Aku yg akan memberi appa penerus bersama seorang yeoja. Tolong jaga Junsu. Berbahagialah, hyung," Yoochun berbalik dan keluar dari kamar Yunho. Yunho terdiam mendengar kata-kata Yoochun. Yoochun menjadi makin dewasa, namun tidak dengan keputusannya. Perlahan dia meremas rambutnya. Haruskah adik semata wayangnya itu mengorbankan cintanya untuk kebahagiaannya sendiri? Dia tidak bisa melakukannya! Dia bukan manusia tak punya hati! Tapi, bagaimana selanjutnya? Haruskah dia yg berkorban?

OoOoO

"Baik, aku setuju. Tapi..."

"Masalah itu biar aku yg mengurus," lelaki itu tersenyum senang.

"Baiklah,"

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa, kawan,"

Blam

OoOoO

Tok Tok Tok

"Masuk,"

Cklek

"Appa,"

"Yunho? Ada apa?" Yunho berjalan dan duduk di kursi di depan ayahnya. Yunho menunduk sebentar lalu menatap ayahnya tajam.

"Appa, aku dan Yoochun sudah menemukan orang yg pantas mendampingi kami," ayah Yunho menatap Yunho intens. Ingin berbicara, namun dia melihat kata-kata Yunho belum selesai.

"Dan kami mencintai anak-anak dari Mr. Kim, sahabat ayah," ayah Yunho tersentak.

"Bukankah anaknya lelaki semua?" tanyanya memastikan.

"Benar," ayah Yunho kaget.

"Yun, kau tau kalau appa membutuhkan penerus perusahaan, dan..."

"Biarkan saja," suara husky menginterupsi kata-kata pria itu. Di depan pintu berdiri sosok Yoochun yg sedang menatap mereka tajam.

"Maksud-"

"Appa, biarkan Yunho-hyung bersama orang yg dicintainya. Biar aku yg akan memberikan ayah keturunan,"

"Bagaimana bisa? Kau juga mencintai namja!"

"Tidak. Aku akan menikah dengan yeoja,"

"Tidak! Aku tidak setuju, Chun! Kau seharusnya bahagia dengan dia, Chun! Biar aku yg berkorban!" teriak Yunho.

"Tidak, hyung. Aku tau kamu sangat mencintai Jae-hyung. Biar aku saja, toh kami belum terikat dan belum tentu dia cinta aku,"

"Aku yakin dia juga cinta, kau! Aku bisa lihat mata dan kelakuannya!"

"Tidak, hyung!"

"Tapi..."

"YOOCHUN! YUNHO!" teriak ayah mereka menginterupsi pertengkaran itu. Serentak mereka terdiam dan menatap ayah mereka.

"Kalian..." geramnya sambil memijat kepalanya.

"Mianhae, appa," kata Yoochun.

"Mianhae," kata Yunho.

"Ne. Ayah sudah memutuskan kalau kalian tidak akan bersama mereka dan appa akan menjodohkan kalian dengan yeoja pilihan appa,"

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kalian tidur, sudah malam," Yoochun berjalan keluar dengan langkah gontai diikuti Yunho.

"Mian, hyung," gumam Yoochun, tapi masih bisa terdengar oleh Yunho.

"Gwenchanayo, Chun. Tidurlah," Yunho memasuki kamarnya dengan gontai. Perlahan, air mata menetes di pipi Yoochun dan dengan segera dia masuk ke kamarnya.

OoOoO

In the Morning

Ruang makan terasa sepi, hanya ada suara denting piring yg terbentur garpu dan sendok. Ruang makan hanya berisi kesunyian hingga seorang dari empat orang disana beranjak pergi. Seorang namja tampan menghela nafas melihat raut sedih orang yg baru saja keluar itu.

"Yoochun, ada apa?" tanya seorang wanita cantik yg sudah berumur itu.

"Ani, umma." jawab Yoochun sambil memijit kepalanya.

"Appa?" panggil Yoochun.

"Ada apa?"

"Apa keputusanmu tidak bisa diubah? Tolong appa, hanya untuk Yunho-hyung saja. Aku akan tetap menikah dengan yeoja pilihan ayah," kata Yoochun tegas. Ibu Yoochun memandang heran pada suami dan anaknya tanpa bermaksud menyela. Sementara ayahnya menghela nafas.

"Tidak." katanya tegas. Yoochun menutup mata, entah kenapa ayahnya menjadi berubah.

"Aku mohon, appa. Hanya sekali ini saja. Aku akan mendengar kata-kata appa asal appa bisa merestuinya," mohon Yoochun. Ayahnya tampak berpikir sejenak.

"Baiklah. Tapi kau akan tetap appa jodohkan dengan pilihan appa." Yoochun mengangguk dan bergegas menuju kamarnya, meninggalkan pasangan suami istri yg masih terdiam di ruang makan.

"Ada apa sebenarnya, sayang?" tanya ibu Yoochun pada suaminya.

"Tidak."

"Tapi, bukankah..."

"Nanti kamu tau, sayang," wanita itu mengangguk paham dan kemudian melanjutkan makannya.

OoOoO

BRAK

Yunho membuka kasar pintu kamar Yoochun. Dengan segera dia mendatangi Yoochun yg sedang memainkan grand piano putihnya.

"Kenapa kau lakukan itu, Chun?" tanya Yunho sambil menatap geram pada Yoochun yg masih duduk, namun sudah tidak memainkan pianonya.

"Aku hanya ingin membuat hyung, appa dan umma bahagia," kata Yoochun.

"DAN MENGORBANKAN KEBAHAGIAANMU DENGAN JUNSU? TIDAK CHUN!" teriak Yunho sambil mencengkram kerah kemeja Yoochun.

"HYUNG, HARGAI KEPUTUSANKU! TOLONG HARGAI!" Yoochun menitikkan air matanya. Yunho tersentak, lalu memeluk adik kesayangannya itu.

"Mianhae, Chun. Hyung hanya ingin kamu juga bahagia," kata Yunho sambil mengelus punggung Yoochun.

"Aku bahagia kalau kalian bahagia. Percayalah," Yunho memeluk erat Yoochun.

"Baiklah. Hyung akan mendukung semua keputusanmu,"

Mereka terdiam sesaat sampai suara berat Yoochun memecah keheningan itu.

"Hyung,"

"Wae, Chun?"

"Tolong, kau harus bahagia. Dan tolong jaga Su-ie ku. Aku ingin dia juga bahagia dengan seorang yeoja," pinta Yoochun.

"Baiklah, Chun. Semoga kamu bahagia," Yunho menutup matanya. Miris, adiknya harus berkorban untuknya. Jadi, dia sekarang hanya bisa memenuhi permintaannya dan mendoakan agar adiknya bahagia sepertinya.

OoOoO

2 Weeks Later

Yoochun's POV

Dua minggu ini berjalan dengan cukup baik. Semua terlihat bahagia. Bahkan Yunho-hyung sudah membawa Jae-hyung ke rumah. Untunglah appa dan umma menerima dengan senang hati. Bahkan nampaknya umma menyukai sosok Jae-hyung, dan itu membuatku senang. Jae-hyung sering diajak Yunho-hyung kerumah dan aku senang melihat umma dan appa bercengkrama dengannya. Kadang, aku menghayalkan kalau itu adalah Junsu. Sungguh, aku amat bahagia. Namun, itu tidak mungkin.

Jae-hyung sudah diceritakan Yunho-hyung tentang ini. Awalnya dia berniat mundur, namun akhirnya aku bisa membujuknya. Jae-hyung mengalah dan malah menceritakan Junsu yg selalu menanyakanku padanya dan Yunho-hyung. Hatiku miris, namun perjodohan itu tak mungkin dibatalkan.

Dan malam nanti, aku akan bertemu dengan calon 'istri'ku. Seorang yeoja bernama Jung Jessica. Calon istri? Bukan. Dia dan aku hanya sebagai alat pemberi keturunan untuk appa. Poor for me and for her. Ingin rasanya memberontak, namun kebahagiaan Yunho-hyung taruhannya. Jadilah aku sebagai alat appa.

Aku ingin melihatnya. Melihat Junsu yg aku cintai, walaupun hanya dari jauh. Dan disinilah aku sekarang, di sebuah café dan tepat di seberang sana adalah rumahnya. Menatap hanya untuk melepas rasa rinduku pada sosok imutnya. Namun, sejam berlalu tapi dia belum keluar. Ada apa dengannya?

Tak lama pintu rumah itu terbuka dan menampilkan sosok Jae-hyung dan Yunho-hyung yg sedang tersenyum bahagia. Dan kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka dan menampilkan seorang wanita berambut pirang panjang. Aku tidak bisa melihatnya karena dia membelakangiku. Wanita itu memeluk Jae-hyung dan Yunho-hyung. Nampaknya mereka sudah akrab. Namun, tunggu! Jae-hyung tertawa dan menunjuk pintu seakan memberitahukan bahwa ada seseorang menunggunya di dalam dan dengan tergesa wanita itu masuk. Siapa dia? Ibu Jae-hyung dan Junsu? Tapi dia masih muda. Lalu siapa dia? Pacar Junsu? Tidak, tidak mungkin! Tapi... Arrggh!

Keadaan ini membuatku sakit kepala. Bergegas aku keluar dari sana dan segera memasuki mobilku sebelum memacunya ke rumah. Pikiranku kalut, dan hatiku perih. Kenapa?

OoOoO

07 : 05 pm

Malam hari yg seharusnya indah, menjadi sangat mengesalkan bagiku. Kenapa? Karena malam ini aku harus bertemu dengan calon 'istri' pilihan appa. Hahaha, malangnya nasib percintaanku. Playboy yg jatuh cinta pada namja imut, namun harus melepaskannya demi kebahagiaan orang lain. Miris, seperti kisah di fanfic. Tapi, jika kisah itu berakhir bahagia, maka tidak untuk kisahnya yg pastinya harus berakhir menyedihkan.

Dan sekarang disinilah aku, di ruang keluarga rumah kami, menunggu perempuan itu. Tapi, kenapa lama sekali? Apa dia perlu berdandan dahulu biar bisa menarik perhatianku? Heh, usaha yg pasti tidak akan membuahkan hasil. Mau dia secantik apapun, dia tidak akan bisa membuatku berpaling dari Kim Junsu! Tidak akan!

"Ah, itu dia!" teriak umma-ku sambil berdiri dan menyambutnya. Aku mendongak dan melihat seorang gadis berambut pirang. Wajahnya tidak terlihat karena dia sedang berpelukan dengan umma. Tapi... tunggu! Bukankah dia yg tadi dirumah Junsu? Pacar Junsu? Tapi...

"Yoochun, perkenalkan. Jung Jessica," kata umma sambil terkikik pelan. Aku mendongak dan menatap wajahnya. Oh my god! Dia imut sekali! Persis seperti Junsu-ku. Pipi chubby, bibir merah, mata indah. Satu kata untuknya, imut dan mirip Junsu!

"Yoochun?" panggil umma. Aku tersentak dan menatapnya lagi. Ah, biarpun mirip tapi dia bukan Junsu-ku. Titik.

"Park Yoochun." kataku dingin.

"Jung Jessica," Omo! Suaranya juga mirip. Umma terkikik lagi. Aneh.

"Nah, Yoochun bawa Jun- ah, Jessica ke taman belakang," kata umma. Dengan berat hati aku mengikuti kata-kata umma.

OoOoO

Normal POV

Yoochun berjalan cepat, meninggalkan Jessica yg kesulitan menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Yoochun.

"Tunggu!" katanya sambil berlari. Namun sayang, sepatu pantofel yg menyulitkannya berjalan membuatnya jatuh dan menubruk Yoochun.

"Aduh!" erang keduanya. Yoochun membuka mata dan mendapati wajah Jessica di depannya. Seketika wajah mereka memerah.

"YA! Minggir kau!" teriak Yoochun membuat Jessica berdiri dan segera memperbaiki dirinya. Yoochun pun ikut berdiri, lalu dia berjalan menuju sebuah gazebo dan duduk disana. Jessica juga mengikutinya dan duduk agak jauh dari tempat Yoochun.

Keheningan menyergap mereka sampai suara Jessica membuyarkan keheningan itu.

"Yoochun-sshi, boleh saya bertanya?" tanya Jessica.

"Hmm..." Jessica terdiam sebentar.

"Kamu kenapa menerima perjodohan ini? Padahal kamu terlihat tidak suka dengan saya," Yoochun menatap Jessica sebentar. Angin menerpa wajahnya dan membuat rambut pirangnya bergoyang indah. Seketika bayangan Junsu memenuhi pikirannya.

"Yoochun-sshi?" Yoochun menggelengkan kepalanya.

"Karena aku ingin membahagiakan keluargaku." kata Yoochun singkat. Jessica mengangguk.

"Apa kamu memiliki seseorang yg kamu cintai?" tanya Jessica lagi. Yoochun menatap langit dan tersenyum indah.

"Ada. Namanya Kim Junsu, seorang namja imut yg membuatku berubah. Entah apa yg digunakannya hingga aku berubah, tapi aku cinta dia," ekspresi Yoochun melembut mengingat sosok imut itu. Jessica tersenyum.

"Kenapa tidak menikah dengannya?" Yoochun menutup mata, seketika ekspresinya berubah miris.

"Karena appa ingin keturunan dan tidak bisa di dapatkan jika aku menikahi seorang namja," kata Yoochun miris. Perlahan dia membuka mata, namun pandangannya tertutup setangkai mawar merah di depannya. Seketika dia mengambil mawar itu dan menoleh ke arah Jessica.

"Berikan itu padanya," Yoochun mengambil bunga itu dan menghirup harumnya dalam.

"Tidak mungkin."

"Kenapa?" tanya Jessica lagi.

"Dia tidak ada disini."

"Ada kok," Yoochun menatap Jessica lagi. Jessica lalu tersenyum. Perlahan, dia menarik rambutnya dan menampilkan rambut pendek berwarna hitam. Lalu, dia menghapus riasan wajahnya dengan tisu basah dan menampilkan wajah aslinya. Wajah seorang Kim Junsu.

"Su-ie?" kata Yoochun kaget.

"Jadi, kalau dia ada disini, kamu mau kasih itu ke dia?" Yoochun menepuk pipinya, berharap ini bukan mimpi. Dan ternyata benar! Ini bukan mimpi! Segera dia memeluk Junsu erat, seakan tidak ingin melepas namja imut itu.

"Ya, Chun! Lepas! Sesak tau!" teriak Junsu, membuat Yoochun terkekeh pelan.

"Tidak akan, Su. Aku tidak akan melepasmu. Saranghae," wajah Junsu merona merah. Perlahan dia membalas pelukan itu.

"Nado, Chun. Nado saranghae," Yoochun terus saja memeluk Junsu, tanpa menghiraukan tatapan senang dari ayah, ibu, kakak dan calon kakak iparnya.

Akhirnya kebahagiaan mengakhiri kisah antara si Playboy dan si Penjual bunga. Kisah cinta yang indah, seindah mawar merah di genggaman sang Playboy. Kisah cinta berakhir bahagianya bersama sang Flower Boy.

OoOoO

THE END

OoOoO

Note: makasih buat yg ngikutin(?) cerita abal bin gaje ini. hadeeh, ending'x aneh kah? atau gaje kah? kecepetan kah?

Yang mau epilog or sekuel, ada dif b-ku, tapi belum bias aku publish di sini. Mian. :(

Review?

Always Keep the Faith