Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.
Genre : Romance/Supernatural
Chara : You'll see.. nyahaha!
Nah, ini ch.2. Sebelumnya mohon maaf kalau pairing-nya nggak sesuai harapan minna-san. Dan memang nggak ada yg bisa nebak pairing yang satu ini *jangan2 cuma author lagi yang merasa pairing ini cocok? Hahaha…
Teruuuusss… saya juga mau ucapin terima kasih sebesar-besarnya buat minna-san yang udah ngereview, bilang bagus, dan ngefave juga. Makasih sebesar-besarnya XD
Tapi saya juga mau minta maaf kalau2 saya nggak bisa memenuhi permintaan beberapa reader sekalian untuk fic kali ini. Mohon maaf sebesar-besarnya dan semoga reader-tachi-san masih pada bersedia baca n bahkan ngereview fic ini. Hehehe
Singkatnya, moga-moga kalian nggak kecewa yah ama ch. ini.
Ohyah, satu lagi. Mau nanggepin review Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura-san dan Deidei Rinnepero13-san yang bilang ceritanya mirip Doraemon… Gomen! Saya sendiri nggak sadar sebelum dibilangin. Iya, saya inget yang bagian Dora n Nobi ke masa lalu buat nyelametin pernikahan ayah ibunya, pake boneka itu kan? Jujur, waktu bikin fic yang NaruSaku kemarin, boro2 saya inget adegan itu. Tapi, saya minta maaf buat para penggemar Doraemon kalau ide cerita fic saya yang kemaren agak mirip dengan cerita Doraemon. Saya nggak ada niatan buat plagiat ide sama sekali. Jadi sekali lagi, mohon maaf untuk kesamaan ide yang nggak disengaja ini. *membungkuk*
Oke, kayanya saya udah kebanyakan omong. So, this time for…
Reading the story! Enjoy!XD
Konoha Gakuen – Perguruan Konoha.
Sebuah perguruan terkenal yang terdiri dari Kindergarten sampai dengan High School. Sekolah terkemuka yang sudah berdiri puluhan tahun. Banyak orangtua lulusan sekolah itu yang kemudian menyekolahkan anak-anaknya di almamater mereka tersebut. Benar-benar suatu sekolah yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya.
Tapi…
Apa kau tahu bahwa di bagian High School dari perguruan ini memiliki suatu legenda yang cukup unik?
Tidak?
Kalau begitu biar kuceritakan sedikit padamu.
Di tengah-tengah tangga antara lantai 1 dan 2, terdapat sebuat jam kuno. Jam tersebut berbentuk sebuah jam tinggi dengan pemberat yang mengayun-ayun di bawahnya. Konon, jam tersebut tetap berjalan walaupun tidak disetel puluhan tahun. Yah, soal itu sih bisa jadi bohong. Dan memang bukan itu legenda yang kumaksud.
Yang ingin kusampaikan adalah…
Saat kau mendengar jam tersebut mendadak berdetak dengan keras yang diikuti suara lonceng yang berdentang dua kali, maka saat itulah kau akan mengalami suatu perjalanan waktu yang tak terduga.
Kau percaya?
.
.
.
TIME ~The Reason~
SasoTema : The Reason Why They Shouldn't Hesitate
Sabaku Temari adalah anak kedua dari empat bersaudara Sabaku. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu mahasiswi di Konoha University Fakultas Teknik. Sebetulnya, Temari berasal dari Suna. Namun, sudah sejak SMA ia menuntut ilmu di Konoha. Berbeda dengan kedua adiknya, Sabaku Kankurou dan Sabaku Gaara yang memilih untuk tetap menuntut ilmu di Suna.
Di Konoha, Temari tinggal bersama Aniki-kakak laki-lakinya. Sabaku Sasori. Keduanya tinggal di sebuah apartemen dua kamar yang terbilang sederhana namun apik. Cat-nya yang berwarna soft peach membuat apartemen itu terkesan tenang. Dan dipadu dengan interior minimalis, apartemen itu menjadi tempat tinggal yang sangat nyaman bagi Temari dan kakaknya.
Meskipun saat ini Temari sudah kuliah, namun di saat ia sedang tidak ada tugas ataupun tengah libur kuliah, ia akan memilih untuk mendatangi Konoha High School tempatnya bersekolah dulu. Selain alasan 'kangen' dengan teman-temannya yang satu angkatan di bawahnya, ada alasan lain mengapa Temari sering bolak balik ke sekolah tersebut. Dan alasannya adalah…
Karena sang kakak, Sasori bekerja di sana!
Sasori bekerja sebagai salah satu guru di Konoha High School. Tepatnya, sebagai guru seni musik. Dan hal ini tidak lepas dari kemampuannya yang luar biasa dalam kegiatan yang membutuhkan keterampilan tangan. Memasak, merajut, dan tentu saja bermain musik dapat dilakukannya dengan sangat handal. Karena itu, selain menjadi guru seni musik, Sasori juga dipercaya menjadi guru penanggungjawab ekstrakurikuler memasak.
Tapi jangan salah, meskipun wajah Sasori cenderung imut dan sudah memenuhi kriteria yang ideal untuk dijadikan seorang istri, Sasori sama sekali bukanlah pria melambai. Sebaliknya, dia adalah pria kejam yang tidak akan segan-segan untuk mengatakan hal-hal yang menyakiti hati perempuan sekalipun. Tanya saja siswa-siswi di Konoha High School. Mereka akan dengan suara bulat menyatakan bahwa Sasori adalah seorang guru killer, di samping Ibiki-Sensei sang guru Bahasa Jepang.
Satu lagi yang menjadi karakteristik utama Sasori adalah ia tidak suka membuat orang menunggu dan sangat tidak suka dibuat menunggu. Dengan kata lain, ia tidak sabaran! Kalau ada siswa yang berani datang telat ke kelasnya, jangan harap dia bisa selamat dari cacian, makian, serta tugas yang bertumpuk.
Apapun penilaian orang, bagi Temari, Sasori adalah Aniki terbaiknya. Dan memang, kalau tengah berhadapan dengan Temari atau kedua adiknya yang lain, Sasori bisa jadi sedikit lebih manusiawi. Yang jelas, Temari sangat sayang pada Sasori.
Dan rasa sayangnya ini sudah terlalu berlebihan hingga ia pun mendapat julukan brother-complex!
-o-o-o-o-o-
"Terus ya, Onii-san bilang…"
"Tentang Sasori-Sensei lagi, eh, Tema-chan?" ujar seorang gadis berambut coklat dicepol dua langsung memotong perkataan Temari.
Ya, dia adalah Tenten, sobat Temari yang lebih muda 1 tahun darinya. Kalau Temari sedang bermain ke Konoha High School, selain mencari sang kakak, biasanya Temari akan mencari gadis ini atau satu lagi adalah Nara Shikamaru. Ketiganya bersahabat dekat semenjak SMA. Kalau ditanya bagaimana mereka bisa dekat, itu karena ketiganya tergabung dalam klub luar biasa yang menamakan dirinya klub 'Playing with Full Spirit at Anytime and Anywhere!'. Kejadian bodoh sebenarnya sampai mereka bisa bergabung dalam klub tidak jelas itu. Tapi yang jelas, sejak saat itu bibit-bibit persahabatan tumbuh di antara mereka. Bahkan Tenten tidak lagi memanggil 'Senpai' pada Temari yang notabene setahun lebih tua darinya. Ia malah menambahkan akhiran '-chan' setelah menyingkat nama Temari seenaknya.
"Ng? Memang kenapa?" jawab Temari sambil menatap Tenten seolah kebingungan.
"Nggak. Hanya aja, mulai dari kita ketemu, sampai sekarang, kau terus menerus cerita soal Sasori-Sensei seolah nggak ada topik lain!" jawab Tenten sambil menyeringai jail. Ia bahkan menyenggol lengan Temari dengan sikunya.
"Hei? Apaan sih? Dia kan Aniki-ku! Aniki-ku lho! Salah yah kalau cerita soal Aniki-ku sendiri?" jawab Temari sambil menepuk lengan Tenten sekilas. Sebuah cengiran geli terpampang di wajahnya yang terlihat keras.
"Ehem! Tapi kau itu kan.. Brother-complex!" ejek Tenten riang sambil menunjuk Temari. Temari menurunkan tangan Tenten yang menunjuknya dengan perlahan. "Akui saja biar hatimu tenang, Tema-chan?"
"Hih! Sejak kapan kau ketularan si Shikamaru nanas yang selalu memanggilku seperti itu?" balas Temari sambil menengokkan wajahnya ke arah etalase yang ada di sebelah kanannya.
Mungkin belum disebutkan, tapi kedua sahabat ini tengah berada di pusat kota yang penuh dengan tempat-tempat perbelanjaan. Karena hari ini adalah Minggu, Tenten memaksa Temari untuk menemaninya berbelanja. Awalnya Temari menolak karena tentunya hari Minggu akan lebih menyenangkan jika dilewati bersama sang Aniki. Tapi karena sang Aniki sendiri mengatakan ada janji dengan koleganya dan akan pulang begitu lewat sore, maka dengan terpaksa Temari menerima ajakan Tenten.
"Eh, Ten! Sweater itu lucu ya?" ujar Temari sambil mendekati sebuah etalase yang memperlihatkan sebuah manekin yang mengenakan sebuah sweater warna maroon dengan gambar kristal es putih berkilauan di tengahnya.
Tenten memperhatikan sweater itu sebentar sebelum dahinya berkerut akibat alisnya yang sudah melengkung di tengah. Tenten kemudian menggeleng pelan sebelum berkomentar.
"Aku nggak liat di mana lucunya sweater ini, Tema-chan! Dan maksudku.. C'mon! Kau sudah kuliah! Kurasa kau harusnya udah lebih memperhatikan penampilanmu sendiri!" ujar Tenten sambil berkacak pinggang.
Temari melihat ke pakaian sederhana yang digunakannya. Yah, sebuah T-shirt putih ketat dan celana jeans model legging warna biru yang robek di sana sininya. Bukan robek karena tidak disengaja. Itu memang modelnya. Lalu sepatunya pun sepasang sneakers yang memudahkan gadis itu untuk bergerak.
Memang, Temari tergolong anak yang tomboy. Berkebalikan dengan Aniki-nya, Temari malah tidak terlalu bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Kalaupun bisa, hasilnya pasti tidak terlalu memuaskan. Temari sendiri mengakui ia lebih bisa mengerjakan hal-hal yang berbau olahraga. Kalau ada yang butuh tenaganya untuk pindahan, Temari pasti dengan senang hati akan membantu.
"Yah…" ujar Temari berusaha menjawab, "Kurasa, asalkan aku menyukai penampilanku, nggak ada masalah kan?"
Tenten mendecak pelan. "Mana bisa seperti itu! Oh, ayolah! Akan kubuat kau berubah, setidaknya nggak setomboy ini! Supaya kau bisa segera dapat pacar dan nggak menyia-nyiakan semangat masa mudamu dalam kesendirian!"
"Haaa.. Semangat masa muda? Kau makin mirip Tou-san-mu, Ten!"
Tenten menyeringai, "Ada yang salah kalau anak mirip Tou-san-nya sendiri?"
Temari menggeleng sesaat sebelum ia dikejutkan oleh tindakan Tenten yang langsung menarik tangannya. Temari sendiri akhirnya hanya bisa pasrah ditarik-tarik temannya seperti itu. Dalam waktu singkat saja, keduanya sudah mengelilingi beberapa toko pakaian yang menyebabkan Temari, dengan amat sangat terpaksa, merogoh koceknya untuk baju yang direkomendasikan Tenten.
Tentu saja gadis tomboy satu itu bisa menolak. Seandainya Tenten tidak mengeluarkan kata-kata pamungkasnya.
"Percaya deh! Sasori-Sensei pasti memujimu habis-habisan!"
Demikianlah, kini Temari yang telah selesai belanja, tengah berada di kamarnya sendiri. Mengamati penampilannya yang sudah sedikit berubah. Bukan hanya pakaian sebenarnya, karena Tenten sempat menarik paksa Temari untuk masuk ke salon dan merapikan rambutnya sedikit. Setelah dari salon, Temari bahkan dilarang untuk menguncir empat rambutnya kembali.
"Ugh?" keluh Temari saat melihat penampilannya sendiri di depan cermin panjang yang menempel di lemari bajunya.
Saat itu, penampilannya menjadi cukup feminim dengan sebuah mini-dress polos berwarna putih gading bermodel sabrina long-sleeves yang memperlihatkan leher dan pundaknya yang mulus. Tepat di bawah dadanya, terdapat obi berwarna merah yang tidak terlalu lebar. Lalu ia juga mengenakan sebuah legging hitam dan sebuah sepatu boots setinggi mata kaki berwarna putih. Dua buah gelang berwarna putih juga tampak menghias pergelangan tangannya.
Sebenarnya, secara keseluruhan tidak ada yang salah dengan penampilan Temari. Hanya saja, gadis beriris mata warna gelap itu kurang percaya diri dengan penampilannya saat itu. Bukan apa-apa. Temari hanya tidak terbiasa menggunakan pakaian yang terkesan feminim seperti ini.
Saat ia tengah menghela nafas dan duduk di ranjang tepat di depan cerminnya, mendadak pintu kamarnya terbuka dan sebuah suara menyapanya.
"Temari, kau udah pulang? Ng?"
"Onii-san?" seru Temari yang sedikit panik saat melihat pria berambut merah itu berdiam di depan pintu kamarnya sambil mengamati penampilannya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya sebelum melihat penampilannya sendiri. "Eh… Ng… Aneh ya? Tenten yang memaksaku membelinya…"
Untuk sesaat Sasori terdiam sebelum ia berkata, "Ya.. Aneh!"
ZLEB!
Kata-kata Sasori menghujam langsung ke jantung Temari. Gadis satu itu langsung memaksakan tawa getir untuk menutupi kekecewaannya.
"Kau yang biasa… Lebih menarik untuk diliat!" ujar Sasaori lagi tepat sebelum ia beranjak keluar dan menutup pintu kamar Temari.
Tentu saja Temari langsung terbelalak saat mendengar perkataan Aniki-nya tersebut. Mulutnya terbuka sedikit tanpa bisa ia cegah. Kata-kata itu terus terngiang di telinganya hingga ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Ia melihat penampilannya lagi sekilas di cermin sebelum wajah yang semula ceria itu berubah cemberut.
"Padahal udah mahal-mahal kubeli! Ck! Tenten harus tanggung jawab buat hal ini!"
-o-o-o-o-o-
Keesokan paginya, Temari terbangun akibat dering handphone-nya. Ia memang tidak ada kuliah hari itu, makanya ia berniat bangun lebih siang. Dan agendanya sama seperti biasa, mengunjungi sang Aniki di Konoha High School.
Tapi niat bangun siangnya kacau dalam sekejab. Masih belum membuka matanya, Temari mengambil handphone yang terletak di meja kecil di samping ranjang. Ia pun menekan tombol untuk menjawab panggilan masuk tersebut.
"Moshi-moshi," ujar Temari dengan suara khas baru bangun tidur.
"Lho? Kau masih tidur, Temari?" tanya suara dari seberang teleponnya.
"Hmh," jawab Temari mulai bangkit dari posisi tidurnya. "Ada apa Kaa-san?"
"Ah, iya! Kau bisa pulang ke Suna nggak besok?" tanya sang ibu dengan latar suara minyak yang membuat Temari menduga bahwa ibunya menelepon sembari memasak.
Temari mengucek matanya sejenak, menguap sejenak, sebelum berkata, "Aku ada kuliah sih besok. Tapi mungkin sore-nya aku bisa pulang? Ada apa?"
"Ah! Sore pulangnya juga gakpapa koq!" jawab sang ibu dengan suara riang, "Acaranya lusa sebenarnya!"
"Acara apa?"
"Acara jamuan makan malam dengan rekan bisnis Tou-san!"
Alis Temari mengkerut. "Lalu apa hubungannya denganku?"
Sang ibu tertawa jahil dari seberang telepon. "Soalnya anak rekan kerja Tou-san yang meminta untuk bertemu denganmu!"
"Hah?"
"Iya! Waktu mereka datang ke rumah, anaknya melihat fotomu! Dan katanya ia tertarik untuk bertemu denganmu! Makanya, usahakan datang ya! Siapa tahu kalian berjodoh?"
Ber.. Jo.. Doh?
"Kaa-san! Apa ini maksudnya perjodohan? Kalau iya, aku menolak!"
"Lho? Kenapa? Kau belum punya pacar ini kan?" tanya sang Ibu yang terdengar kaget.
Mendengar pernyataan sang ibu, pikiran Temari malah menggambarkan sosok Aniki-nya. Terang saja mata hijau gelapnya itu terbelalak seketika akibat pikiran yang diciptakannya sendiri. Ia pun langsung menggeleng cepat sebelum kembali menjawab.
"B-belum memang! Tapi aku nggak mau dijodohin!"
Saat itu Temari bisa mendengar ibunya menghela nafas. "Oke kalau kau nggak mau dijodohin! Tapi setidaknya, coba temui dia dulu. Ya? Kau mau kan?"
Temari memindahkan handphone-nya ke tangan yang lain.
"Yah.. Baiklah! Apa boleh buat!"
"Nah! Gitu dong! Ngomong-ngomong…"
Percakapan selanjutnya tidak lebih dari percakapan antara ibu dan anak yang biasa. Ibu Temari menanyai kesibukan anaknya akhir-akhir ini juga bagaimana kesehatannya dan sang Aniki. Cukup lama juga mereka berbincang pagi itu. Dan pada akhirnya, telepon dari sang ibu benar-benar membuat Temari bangun seutuhnya hingga ia tidak bisa melanjutkan tidurnya kembali.
Setelah sambungan terputus, Temari langsung meletakkan handphone-nya di atas meja dan ia pun beranjak ke kamar mandi. Ia memulai ritual membenahi penampilannya. Tidak lebih dari 30 menit dan Temari sudah siap.
Ia kemudian keluar dari kamarnya hanya untuk menemukan kesunyian. Tentu, Sasori sudah berangkat dari pagi ke Konoha High School untuk menjalani kewajibannya sebagai seorang guru. Tapi, seperti biasa, ia terlebih dahulu menyiapkan sarapan dan sebuah kotak bento bagi sang adik tersayang.
Temari tidak bisa melakukan hal lain selain tersenyum dan mulai menghabiskan sarapan paginya. Setelah itu, ia mengambil kotak bento dan tas punggungnya sebelum ia keluar dari apartemennya tersebut.
Tujuannya?
Tentu saja tempat Aniki-nya bekerja.
Ia melirik jam sekilas. Waktu istirahat masih di Konoha High School masih sekitar 3 jam lagi. Kalaupun ia datang sekarang, mungkin ia belum bisa bertemu Aniki-nya. Tapi mungkin ia malah bisa melihat saat-saat Aniki-nya mengajar?
Dengan pemikiran itulah, Temari sengaja mempercepat langkahnya untuk sampai di Konoha High School. Memang jarak antara sekolah itu dan apartemennya tidak begitu jauh. Tapi untuk mencapainya, Temari harus sekali naik bus terlebih dahulu.
Lima belas menit kemudian, ia telah sampai di gerbang Konoha High School. Setelah menyapa penjaga gerbang yang memang mengenalnya, Temari langsung meluncur ke ruang guru.
"Ohayou!" sapa Temari pada beberapa guru yang ada di sana.
"Ah? Temari-chan?" ujar seorang guru perempuan berambut hitam panjang. "Kau mau menemui Aniki-mu lagi?"
"Ya, Kurenai-Sensei!" jawab Temari tenang.
"Tapi dia lagi mengajar. Seperti biasa, di ruang musik!" jawab Kurenai sambil melihat sebuah benda semacam kalender yang tertempel di dinding. Jadwal guru mengajar.
"Baiklah! Aku akan melihatnya dari luar aja!" seru Temari sambil pamit undur diri dari ruang guru.
"Sebenarnya mereka cocok juga," ujar Kurenai sambil tersenyum pada salah satu rekannya yang berambut hitam dan nampak tomboy.
"Tapi tetap saja.. Mereka kakak-adik kan?" jawab rekannya tersebut sambil nyengir.
-o-o-o-o-o-
Tidak butuh waktu terlalu lama bagi Temari untuk bisa segera mencapai ruang musik yang berada di lantai 3. Dia alumni Konoha High School, ingat?
Sesampainya di sana, Temari hanya bisa melongok ke dalam ruang musik dari kaca kecil yang ada di pintu geser ruangan tersebut. Ia bisa melihat Aniki-nya yang sedang mengatakan sesuatu sambil membawa sebuah buku di tangan kirinya. Siswa-siswi di kelas itu tidak ada yang berbicara satu pun.
Temari nyengir geli sambil berpikir bahwa mungkin siswa-siswi itu takut pada Aniki-nya hingga tidak ada yang berani macam-macam dalam kelasnya.
Cengiran Temari berhenti saat ia melihat sang Aniki beranjak ke arah piano. Pria berambut merah itu tampak memberikan satu pengarahan terakhir sebelum ia mulai menekan tuts-tuts piano hingga membentuk suatu rangkaian melodi yang indah.
Ya. Indah.
Tapi..
Sedikit menyesakkan.
Temari cukup mengetahui lagu ini. Lagu ini sering kali dimainkan Aniki-nya saat mereka masih di Suna dulu. Lagu ini sendiri adalah gubahan sang Aniki, menggambarkan perasaan yang tidak akan pernah tersampaikan. Suatu cerita tentang sebuah cinta terlarang yang harus dipendam mati-matian. Keraguan, kebingungan, keputusasaan, ketakutan, dan kesedihan semua dikubur dalam sebuah senyum palsu agar hari tetap berputar seperti biasa. Tapi semakin berkembang senyum itu, semakin berkembang pula sakit dan perih yang harus dirasakan.
Sudah lama Temari tidak mendengar lagu ini. Dan kala ia mendengarnya kembali, yang ia rasakan adalah seuatu kegalauan yang tidak jelas penyebabnya.
Ia berbalik dengan posisi memunggungi pintu ruang musik. Kepalanya tertunduk dengan jemarinya yang menggenggam erat tas punggung yang ia sandangkan hanya di sebelah bahunya itu. Mata gelapnya tampak berkaca-kaca.
"Lho? Tema-chan?"
Sebuah suara yang dikenalnya spontan membuat Temari mendongakkan kepalanya.
"Ten!" jawab Temari saat melihat seorang perempuan berambut cepol dua melintas di depannya. "Ngapain kau?"
"Nggak bisa liat?" tanya Tenten sambil menunjukkan tumpukan kertas dalam pelukannya. "Aku disuruh Kakashi-Sensei mengambil fotocopy-an untuk dibagikan ke anak-anak sekelas!"
Temari tersenyum tipis. Tenten yang melihat sahabatnya itu tampak aneh akhirnya kembali buka mulut.
"Kau gakpapa?"
"Ng? Iya. Gakpapa. Kenapa memang?" jawab Temari sambil mulai beranjak dari depan ruang musik.
Tenten tampak terdiam sebentar sebelum samar-samar ia mendengar alunan musik yang sama seperti yang didengar Temari.
"Musiknya… Menyedihkan ya?" ujar Tenten sambil mengerutkan alisnya.
"He-eh! Tapi itu lagu kesukaan Onii-san lho! Beruntung juga anak-anak kelas ini bisa mendengar permainan Onii-san dengan lagu ini! Zamanku dulu lagu yang dimainkan paling Beethoven atau nggak Mozart!"
"Sama," imbuh Tenten sambil menghela nafas.
"Ten, kau nggak buru-buru emang? Mau kubantu bawa nggak?" ujar Temari saat melihat Tenten yang mulai memperbaiki posisi tangannya untuk memegang fotocopy-an tersebut.
"Nggak usah, Tema-chan. Aku bisa koq! Dan ya… Aku rasa aku harus kembali ke kelas sekarang! Kau di sini sampai istirahat siang kan?"
"Yup!" jawab Temari sambil menyeringai.
Tenten mengangguk. "Kalau gitu temui aku di kelas pas istirahat nanti ya?"
"Ok!" jawab Temari lagi dengan singkat sambil mengangkat sebelah tangannya dan menyentuhkan telunjuk dan jempolnya, membuat sebuah lingkaran dengan itu.
"Jaa! Sampai nanti!"
Dengan itu, Tenten setengah berlari untuk menuju kelasnya yang berada di ujung lorong. Temari sedikit tersenyum saat melihat sahabatnya kemudian dibantu oleh seorang pemuda berambut panjang coklat untuk membawa fotocopy-an ke dalam kelasnya.
"Dasar," gumam Temari, "Dari tadi keq bantuinnya? Udah deket baru dibantuin! Payah!"
Baru saja Temari hendak melangkah pergi, mendadak terdengar suara pintu bergeser. Pintu ruang musik. Gadis berkuncir empat itu langsung menoleh hanya untuk melihat bola mata kecoklatan tengah memandangnya.
"Ah! Onii-san!"
"Ngapain kau di sini?"
"Err… Menunggu waktu istirahat?"
Sasori tampak memandang Temari dengan sorot mata yang aneh. Segera saja Temari melanjutkan jawabannya.
"Biar bisa makan siang bareng!" tambah gadis itu sambil mengangkat bekal yang dibuatkan Sasori untuknya.
Setelah beberapa saat hening, Sasori kemudian menghela nafas.
"Baiklah. Kebetulan. Aku juga perlu ngomong sesuatu denganmu!"
Mata Temari tampak berbinar senang.
"Ok!" jawab gadis itu sambil berkacak pinggang sebelah dan tersenyum manis. "Nanti ketemu di taman belakang aja yah, Onii-san?"
Sasori mengangguk.
"Sekarang kau pergilah dulu ke mana! Jangan hilir mudik di sini!"
"Ng?"
"Sudah ya!" ujar Sasori sambil masuk kembali ke dalam ruang musik.
Untuk beberapa saat, Temari masih memandangi pintu ruang musik yang sudah kembali tertutup. Sejenak, firasat buruk seperti melandanya. Tapi ia mencoba menghilangkan firasat itu dengan menggeleng sekuat tenaga.
Kemudian, dengan langkah yang mantap seperti biasa, Temari pun meninggalkan gedung sekolah sesuai permintaan Aniki-nya. Tapi ia akan kembali, sesuai janji, untuk makan siang bersama sang Aniki.
-o-o-o-o-o-
Sepuluh menit sebelum waktu istirahat, Temari sudah ada di tempat perjanjian mereka. Ia duduk di sebuah kursi kayu panjang di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia terdiam sambil memejamkan matanya, berusaha menikmati angin semilir yang membelai tubuhnya dengan lembut.
Mendadak saja, terdengar sebuah suara tidak jauh dari tempat Temari duduk. Temari tahu suara siapa yang tengah berbicara itu. Karenanya, ia meninggalkan kotak bekal serta tasnya di atas kursi hanya untuk menghampiri suara-suara tersebut.
"Onii…"
".. Aku tidak perlu nasehatmu!" ujar Sasori sambil memejamkan matanya.
Untung Temari menghentikan langkahnya tepat waktu. Ia pun bersembunyi di balik tembok besar untuk mencuri dengar percakapan yang tengah terjadi di antara Anikinya dan guru matematika- Anko Sensei.
"Fuh!" jawab Anko-Sensei sambil menyeringai. "Aku sudah memperingatkanmu ya! Jangan salahkan aku kalau nanti gosip semakin merebak!"
"Makasih udah mau repot-repot!" balas Sasori dingin.
"Yah… Kau emang nggak bisa dinasehatin sih!" ujar Anko-Sensei lagi sambil menyentuh dagu Sasori dengan telunjuknya. "Padahal ini kan demi dia juga! Walaupun kalian terlihat cocok sih sebenarnya! Tapi apa boleh buat kan? Kau harus bisa melepasnya!"
Sasori menyingkirkan tangan Anko dari wajahnya tanpa menunjukkan eskpresi apapun.
"Cerewet! Aku sudah tau! Enyahlah kau!" ujar pria berambut merah itu dalam nada yang datar.
"Ck! Kau itu bener-bener sadis ya?"
"Kalau kau sudah tidak ada keperluan, aku harus segera pergi! Aku ada janji!"
"Ah! Ok, ok! Kau tentu nggak suka terlambat kan?" ujar Anko dengan sebuah seringai geli. Guru tomboy itu kemudian menepuk pundak Sasori sekilas sebelum mengangkat sebelah tangannya dan berlalu begitu saja, meninggalkan Sasori yang kemudian menghela nafas.
Pria berambut merah itu segera berbalik dan sedikitnya ia tersentak saat melihat Imouto-nya yang sedang memandang lekat-lekat padanya.
"Apa yang kau lakukan? Janjiannya bukan di sini kan?" tanya Sasori sambil berjalan ke arah tempat perjanjian mereka sebenarnya.
"Aku cuma nggak sengaja ngedengar suara Onii-san, jadi ke sini deh!" jawab Temari sambil memaksakan sebuah senyum.
Memaksakan?
Ya. Temari sebenarnya sedang tidak ingin tersenyum.
Ia tidak senang. Tidak senang dengan kedekatan sang Aniki dengan guru matematika tersebut. Tidak senang saat ia mendengar bahwa ada seseorang yang sedang digosipkan dengan Aniki-nya. Bahkan menurut sang guru matematika, orang-yang-entah-siapa itu terbilang cocok dengan Aniki-nya.
Tapi…
Hei!
Kenapa Temari tidak senang?
Kalau Sasori-nii berhasil menemukan gadis yang cocok dengannya, harusnya ia ikut senang kan?
"Eh, Onii-san!" ujar Temari saat mereka sudah duduk di tempat perjanjian mereka.
"Hemh?" jawab Sasori sambil membuka tutup bento-nya.
"Siapa.. Cewe yang lagi digosipkan ama Onii-san? Orangnya kaya apa? Cantik?"
Sasori menggerakkan kepalanya untuk memandang Temari.
"Kau nguping ya?"
"Eh? Tadi nggak sengaja denger! Nggak ada niat untuk nguping sebetulnya!" bantah Temari sambil menggerakkan sebelah tangannya.
"Oh!"
Hanya itulah yang keluar dari mulut Sasori selanjutnya sebagai jawaban. Ia kemudian tidak lagi menanggapi pertanyaan Temari sebelumnya dan mulai fokus menghabiskan bento-nya. Temari akhirnya menyerah dan memilih untuk fokus pada bento-nya seperti yang dilakukan Sasori. Untuk beberapa menit ke depan, keduanya terjebak dalam keheningan yang canggung. Hanya suara kunyahan yang sesekali terdengar.
Tak lama, Sasori telah selesai dengan bekalnya. Ia menutup kembali kotak bento-nya dan langsung membungkusnya lagi dengan kain. Selanjutnya, ia menenggak air sebanyak yang ia perlukan sebelum ia menghembuskan nafas panjang.
"Temari," ujar Sasori akhirnya.
"Ya?" jawab Temari sambil menoleh ke arah Sasori.
"Sebaiknya mulai sekarang kau mengurangi jadwalmu untuk datang ke sini!" ujar Sasori tanpa memandang ke arah Temari.
"Eh?"
"Kalau bisa, hentikan saja kebiasaan itu! Nggak seharusnya kau terus menerus ke sini tanpa ada alasan yang penting!"
"Onii-san bilang apa?"
"Kubilang," ujar Sasori yang kali ini sudah memandang Temari, "sebaiknya kau nggak lagi bermanja-manja padaku! Terutama di sekolah ini!"
Saat itulah Temari merasa ada sesuatu yang hancur dalam dirinya. Tidak berlebihan. Ia bahkan merasa seolah ia baru saja ditolak oleh Aniki-nya.
Selama ini, dia selalu ingin berada di dekat sang Aniki, tidak ingin berpisah jauh darinya. Makanya, saat Sasori memutuskan pindah ke Konoha, Temari-pun mengikutinya. Meskipun Temari kini sudah berkuliah, ia tetap rutin mendatangi sekolah High School-nya. Semata-mata, agar ia bisa selalu dekat dengan Sasori, sang Aniki.
Tapi apa?
Kini Sasori mengatakan agar Temari mengurangi, bahkan menghilangkan kebiasaannya untuk datang ke sekolah ini. Menghilangkan kebiasaannya untuk bermanja-manja dengan Sasori.
Kenapa?
"K-Kenapa tiba-tiba?"
"Aku.. Risih!" jawab Sasori singkat. "Sudah seharusnya kau mencari cowo lain dalam kehidupanmu! Bukan denganku yang notabene adalah Aniki-mu!"
"Aku…"
Temari mendadak terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat itu.
"Sudah ya! Aku harus kembali ke ruanganku! Setelah selesai makan, segera pulang!" ujar Sasori seraya menepuk kepala Temari. Ia pun melangkah dalam diam menuju gedung sekolah tempatnya mencari penghasilan.
Temari masih terdiam di tempatnya. Berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi sebenarnya. Ia merasa sedikit linglung. Nafsu makannya pun hilang sudah.
"Memangnya.. Kenapa kalau aku memilih bermanja-manja dengan Aniki-ku sendiri?" ujar Temari sambil menundukkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, ia mulai membereskan bento-nya.
"Aku aneh ya? Kalau lebih memilih menghabiskan waktu dengan Aniki-ku dibandingkan mencari cowo lain untuk bersenang-senang?"
Temari sadar, sejak kecil ia merasa tidak bisa lepas dari Sasori. Ia teramat menyayangi pria itu. Walaupun Sasori ditakuti oleh orang lain karena sifatnya yang memang kaku dan seringkali berbicara hal-hal, tapi bagi Temari, Sasori tetaplah seorang Aniki yang lembut. Bukan. Lebih daripada itu. Sasori adalah seorang pria yang sangat lembut. Setidaknya, di mata Temari.
Berbagai kenangan mulai menyeruak keluar dari dasar ingatan Temari. Layaknya sebuah proyektor yang menghasilkan gambar bergerak, demikian pula ingatan Temari perlahan-lahan bergerak.
Saat ia pertama kalinya bisa mengingat Sasori sebagai Aniki-nya, saat ia memanggil Sasori, saat Sasori menggendongnya, saat Sasori menemaninya bermain, saat Sasori menemaninya belajar…
Sasori selalu ada setiap kali Temari membutuhkannya. Sungguh, keberadaan Sasori begitu besar dalam kehidupan gadis itu.
Temari menyayangi Sasori.
Rasa sayang ini…
.
.
Gadis berambut kuncir empat itu langsung berlari setelah menyambar tas dan kotak bento-nya. Ia sudah tidak peduli lagi. Ia akan mengatakannya pada sang Aniki.
Terserah Aniki-nya mau menganggapnya aneh dan kemudian menolaknya untuk kedua kalinya. Terserah orang lain mau menganggapnya aneh karena rasa sayangnya yang terlalu berlebihan pada sang Aniki. Temari tidak peduli. Ia akan mengatakannya! Jika tidak, ia tidak akan bisa melangkah maju dan terus terikat dalam bayang-bayang Aniki-nya.
Gadis enerjik itu menggerakkan kakinya secepat yang ia bisa. Begitu menginjak lantai di pintu depan, bel masuk berbunyi. Artinya, Aniki-nya akan segera mengejar tidak lama kemudian. Ia harus bergerak secepatnya.
Tepat saat Temari menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, ia melihat rambut merah Sasori menyembul dari sela-sela pinggir tangga.
"Onii-san!" teriak Temari.
Sekali lagi, Temari sudah tidak mempedulikan pandangan siswa-siswi di sana yang melihatnya dengan aneh. Ia hanya ingin menghentikan Aniki-nya supaya ia bisa mendapat sedikit waktu lagi untuk berbicara empat mata.
Keinginannya terkabul. Anikinya berhenti tepat di anak tangga pertama setelah bagian lega tempat jam kuno berwarna kecoklatan itu berdiri. Temari berdiri sedikit mendekat ke arah sandaran tangga. Ia mengatur nafasnya yang terasa berat untuk sesaat sebelum kepalanya kembali ditegakkan untuk memandang Sasori.
Sasori sendiri memandangnya tanpa ekspresi. Bukan tanpa ekspresi. Tepatnya, ekspresi yang dipaksakan agar ia tampak tidak berekspresi. Karena, tidak bisa dipungkiri, Sasori tidak mungkin bisa bersikap biasa saja setelah ia melontarkan kata-kata yang bisa dikatakan menyakiti Imouto-nya tersebut.
"Ada apa lagi? Aku sudah harus masuk ke kelas untuk mengajar!"
"S-Sebentar saja! Dengarkan aku dulu!" ujar Temari sambil mengeratkan pegangannya pada bungkusan bento-nya.
"Cepatlah, aku…"
"Aku suka Onii-san!" ujar Temari cepat. "Aku sangat menyayangi Onii-san!"
Sasori terdiam di tempatnya, tidak bergerak.
"Berlebihan? Mungkin! Karena kupikir, rasa sayangku pada Onii-san.. Bukan sekedar rasa sayang seorang Imouto pada Aniki-nya! Sama sekali bukan!"
"Kau bicara apa? Kita…"
"Kakak adik! Aku tau!" potong Temari cepat sambil memejamkan matanya. Begitu ia membuka kembali matanya, sebuah senyum sedih kini mulai terlihat di wajahnya. "Tapi aku bisa apa? Saat perasaan ini sudah tumbuh?"
Tik.
"Aku ingin melepasnya… Tapi…"
Tik.
"Aku nggak tahu.. Harus menghabiskan waktu berapa lama!"
Tik.
"Temari…"
Teng! Teng!
Percakapan mereka terhenti oleh suara dentang bel dari jam kuno yang dengan setia bertengger di sudut tangga. Untuk sesaat, keduanya menoleh ke arah jam itu. Tentu keduanya terbelalak saat jarum jam tersebut berputar dengan cepat ke arah yang berlawanan dengan yang seharusnya. Namun, begitu jam itu kembali normal, Sasori dapat dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Sudahlah! Kita bicarakan ini nanti saja!" ujar pria berambut merah itu sambil bergerak dengan cepat dari tempatnya.
Temari yang untuk sesaat termenung akhirnya bisa kembali ke kesadarannya dan mulai beranjak untuk mengejar Sasori.
"Matte, Onii-san!" panggilnya sambil setengah berlari menaiki tangga yang juga telah dilalui oleh Sasori. Walaupun Sasori sudah cukup menjauh, tapi setidaknya Temari bisa tahu kalau pria itu akan menghampiri ruang guru terlebih dahulu, sebelum beranjak ke kelas yang akan diajarnya.
Benar saja, Sasori sudah berdiri di depan ruang guru. Namun anehnya, Sasori tetap berdiri di situ, tidak melangkah masuk, seolah ia tengah menunggu Temari yang mengejarnya.
"Onii-san?"
Saat itulah, Temari melihat apa yang Sasori lihat.
Sekumpulan guru-guru yang tidak pernah Temari lihat sebelumnya. Ada satu dua guru yang mungkin pernah ia lihat. Tapi anehnya… Guru-guru itu.. Terlihat lebih muda?
Lebih mengejutkan lagi, ada seorang guru yang Temari yakini telah… Meninggal!
"A…" ujar gadis itu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mundur selangkah.
"Eh? Kalian ada keperluan apa ya?" tanya si guru yang Temari yakini sudah meninggal. Bukan cuma yang harusnya sudah meninggal ini hidup kembali, ia bahkan terlihat lebih muda dari terakhir Temari melihatnya saat Temari masih diajar guru tersebut.
"Ini.. Lelucon apa?" ujar Sasori sambil memandang tajam ke seluruh pelosok ruang itu. Bukannya takut akan tatapan tajam Sasori, orang-orang di dalam ruangan itu malah saling berbisik satu sama lain dengan wajah yang menyiratkan kebingungan.
"Maksudmu lelucon?" tanya salah seorang yang ada di ruangan itu. "Kalian ini anak dari mana? Dan apa keperluan kalian?"
"Onii-san.. Apa yang terjadi?" ujar Temari mulai menyipitkan matanya, melihat ke sekeliling ruang guru itu dengan tatapan menyelidik.
Mendadak, Sasori berbalik dan menarik Temari menjauh. Seruan yang memanggil keduanya tidak digubris oleh Sasori. Ia bahkan semakin mempercepat langkahnya, menuruni tangga, dan akhirnya sampai di depan gedung Konoha Gakuen itu.
"Apa ini?" seru Temari saat melihat gedung yang tampak kuno, berbeda dengan gedung sekolah yang selama ini ia lihat.
"Persis!" ujar Sasori dengan wajah yang masih mendongak ke arah gedung. "Ayo!" ujarnya lagi, kali ini sambil kembali menarik Temari. Mereka pun keluar, meninggalkan gedung sekolah. Dan yang menanti mereka adalah situasi yang cukup asing.
"Kenapa…"
Sasori menghela nafas.
"Sepertinya kita mengalami time-slip," ucapnya tenang.
Spontan, Temari menengok ke arah Sasori.
"Tadi kulihat di ruang guru, dan kalendarnya menunjukkan waktu 24 tahun silam!" lanjut Sasori lagi sambil berjalan perlahan. "Artinya, aku baru berusia 1 tahun dan kau belum lahir!"
Temari yang semula terdiam di tempatnya akhirnya sadar bahwa Sasori mulai menjauh. Ia pun langsung menggerakkan kakinya dan membuat dirinya sejajar kembali dengan pria itu.
"Tapi.. Bagaimana bisa?"
"Entahlah! Itu yang lagi kupikirkan!" jawab Sasori dengan pandangan lurus ke depan, tidak memandang Temari sedikit pun.
Temari mengerutkan alisnya. Tapi kemudian ia mulai mengedarkan pandangannya. Melihat ke kanan-kirinya hanya untuk menemukan beberapa toko yang belum pernah ia lihat juga pemandangan jalan yang masih terdapat cukup banyak pohon.
Saat keduanya sama-sama sedang terdiam dan berkutat dengan pikiran masing-masing, saat itulah, mereka mendengar sebuah suara dari belakang mereka.
"Ah! Sasori-chan lucu sekali ya! Kau beruntung Chiyo-chan!"
Tentu saja Temari dan Sasori langsung berbalik. Dalam sekejab, wajah mereka langsung menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
Ya, yang mereka lihat adalah pasangan suami istri Sabaku serta sepasang lagi yang hanya pernah mereka lihat dalam foto. Dua pria berjalan di depan dan para wanitanya di belakang. Otomatis saja, keduanya terdiam dalam posisi yang menghadap ke arah orang-orang itu. Tapi, sebelum keempat orang yang sedang asyik berbicara satu sama lain itu menyadari tatapan keheranan mereka, Sasori dengan cepat menarik tangan Temari dan berjalan ke arah sebaliknya dari yang sebelumnya mereka tempuh.
Setelah dirasa cukup, Sasori kembali berbalik. Kali ini, ia berjalan lebih pelan. Mengintai keempat orang tersebut, sambil berusaha mencuri dengar apa saja yang mereka bicarakan.
"Onii-san! Dua orang kan yang ada di foto di ruang keluarga? Kalau nggak salah, teman baik Tou-san dan Kaa-san!"
Sasori menjawab, "Aku tahu. Diamlah, Temari! Dan coba dengarkan apa saja yang mereka bicarakan!"
Temari mendecak pelan karena itu. Ya, saat ini mood Temari tidak bisa dikatakan baik. Sudah ia mengungkapkan perasaannya pada sang Aniki dan belum mendapat tanggapan, sekarang ia harus mengalami keanehan semacam ini. Memang sih, ada senangnya juga karena ia bisa bersama-sama Aniki-nya. Tapi Aniki-nya bahkan seolah sudah melupakan pengakuannya akibat kejadian aneh yang mendadak terjadi ini.
"Ah! Aku juga jadi ingin punya bayi segera!" ujar wanita berambut pendek yang dikenali Temari dan Sasori sebagai Kaa-san mereka, Sabaku Karura.
"Kalau begitu cepatlah menikah dengan Kaze-kun, Karura-chan! Kalian sudah pacaran selama itu, apa lagi yang kalian tunggu?" ujar wanita lain yang tengah membawa suatu gembolan dalam pelukannya. Dan kalau menghubungkan percakapan mereka dengan gembolan tersebut, bisa diduga kalau yang tengah digendongnya itu adalah seorang bayi. Temari juga bahkan bersumpah melihat rambut merah tipis yang menyembul keluar dari gembolan tersebut.
"Yah, tapi…. Ah! Aku mau coba gendong Sasori-chan! Boleh?"
"Tentu!" jawab Chiyo sambil tersenyum dan menyerahkan bayi dalam pelukannya ke tangan Karura.
"Sasori-chan nggak rewel ya?" ujar Karura lagi sambil tersenyum manis melihat anak dalam gendongannya yang tampak tidak begitu peduli meskipun ia sudah berpindah tangan.
"Iya, dia…"
Belum sempat Chiyo menyelesaikan kalimatnya, mendadak ia dikagetkan oleh seseorang yang langsung saja menarik tas tangannya. Chiyo menjerit sehingga suaminya dan Sabaku muda langsung menaruh perhatian.
"TASKU!" ujar Chiyo sambil menunjuk ke arah seorang pria yang tengah berlari cepat.
Tidak menunggu waktu lama, kedua pria yang bersahabat itu langsung mengejar sang penjambret. Mereka berhasil mengejarnya dan menjatuhkannya. Tapi siapa yang menduga kalau sang penjambret tersebut memiliki senjata. Saat merasa terdesak, ia langsung menembakkan pistolnya.
Sabaku Kaze terkena tembakan di kakinya. Namun malang bagi suami Chiyo, Ebizou. Ia terkena tembakan di tepat di dadanya. Tentu saja orang-orang di sekitar mereka jadi panik. Penjambret itu pun kembali mencoba melarikan diri. Di tengah-tengah kehisterisannya karena melihat suaminya tertembak, Chiyo terbakar emosi saat melihat sang penjambret itu berusaha kabur lagi. Ia pun kembali mengejarnya tanpa mempedulikan teriakan Karura dan Sabaku Kaze yang berusah menghentikannya. Dan sekali lagi.. Suara letusan pistol-pun terdengar…
Ambulans dan polisi datang tidak lama kemudian. Chiyo, Ebizou, serta Kaze yang tertembak di kaki segera dilarikan ke rumah sakit. Karura menemani mereka. Polisi pun memulai tugas mereka menanyai para saksi mata yang terlibat.
Sebelum polisi sempat menghampiri mereka, Sasori yang baru sadar dari rasa kagetnya, kini harus menarik Temari kembali. Mereka harus menjauh dari tempat itu sesegera mungkin. Setidaknya, itulah yang bisa dipikirkan Sasori saat itu.
-o-o-o-o-o-
Kedua insan itu kini tengah berada di sebuah tanah berumput dengan sebuah sungai besar berada di hadapan mereka. Keduanya tengah terduduk sambil mengatur nafas mereka yang sedikit tidak beraturan setelah berlari cukup jauh. Untuk sesaat, tidak ada seorangpun yang berbicara. Hanya ada suara desahan nafas yang perlahan terdengar lebih teratur dibanding sebelumnya.
"Onii-san," panggil Temari lagi akhirnya sambil melihat ke arah Sasori yang tampak sedang melayangkan pandang ke sungai yang sedikit berkilauan akibat pantulan matahari, "apa kau.. bisa mengerti apa yang baru saja terjadi?"
Mengangguk adalah jawaban yang diberikan Sasori.
"Apa itu artinya…"
Temari segera menggantungkan kata-katanya. Entah mengapa, terasa berat bagi gadis itu untuk melanjutkan perkataannya barusan. Ia kemudian hanya bisa diam sambil memandangi Sasori lekat-lekat.
Mendadak, Temari merasa sangat tidak enak. Ia mengganti arah pandangnya dengan menundukkan kepalanya.
"Kedua orang itu.. Bagaimana keadaannya sekarang ya?"
Sasori mengangkat bahunya.
"Entahlah. Yang jelas, mereka nggak akan selamat," jawab Sasori sinis.
Temari membesarkan matanya meskipun ia tidak memandang ke arah Sasori. "Kau dingin sekali, Onii-san! Padahal mereka kan.."
"Gini ya," jawab Sasori lagi, "itu kenyataan yang udah nggak bisa diapa-apain lagi. Aku hanya mengutarakan fakta itu. Apa aku salah?"
"Kau.. Nggak sedih?" tanya Temari selanjutnya.
"Sedih?" Sasori menggeleng. "Aku nggak merasakannya!"
"Onii-sa..!"
Temari kembali memutuskan kata-katanya. Kali ini, di luar kemauannya. Dan hal ini.. karena ia melihat air mata sang Aniki di wajahnya yang tetap saja nampak datar. Temari akhirnya kembali membuang muka. Ia pun tidak bertanya apa-apa lagi dan membiarkan keheningan kembali menyelimuti. Ia hanya bisa menekuk kedua kakinya dan meletakkan kedua tangannya di atas lututnya. Selanjutnya, Temari mendekatkan dagunya ke atas lututnya tersebut.
Diam.
Hening.
"Onii-san… Mungkin aku memang cewek jahat," ujar Temari mendadak. "Aku.. Memang sedih saat melihat kejadian sebenarnya."
Sasori kini sudah menghilangkan bekas air matanya sehingga tidak sedikit pun terlihat bahwa ia baru saja menumpahkan emosi yang jarang ditunjukkannya.
"Tapi aku," ujar Temari sambil tersenyum sedih dengan tatapan yang mengarah pada sungai di depannya,"di satu sisi aku merasa senang. Merasa lega. Karena kita… Bukan kakak-adik sesungguhnya!"
Sekali ini, giliran Sasori yang membelalakkan matanya.
"Maaf kalau aku mengatakan ini di saat yang nggak tepat," ujar Temari kemudian sambil menundukkan kepalanya hingga wajahnya terbenam di antara tangannya.
Sasori melirik Temari dari sudut matanya. Ia kemudian menghela nafas sebelum akhirnya ia mendongak melihat ke arah langit.
Ia mendadak berdiri dan kemudian berkata, "Ayo, Temari!"
"Huh?" jawab Temari yang spontan mengangkat kepalanya.
"Kita harus pulang!"
"Eh? Oh? Gimana caranya?" tanya gadis itu kemudian sambil mengikuti Sasori bangkit berdiri.
"Aku punya dugaan!"
Dan setelah itu, Sasori langsung berjalan dengan tangan yang kembali menyambar tangan Temari. Sekali ini, Sasori menggenggam tangan gadis itu dengan erat sehingga hangat tubuhnya terasa mengalir sampai ke dada Temari. Tak ayal lagi, senyum Temari berkembang setelahnya.
Tidak lama kemudian, keduanya sudah kembali di depan gedung Konoha Gakuen yang sunyi senyap. Betul, sudah pukul 4 sore dan kebanyakan siswa sudah menjauh dari tempat itu, kecuali yang masih mengikuti ekstrakurikuler. Dengan mudah, keduanya masuk dalam gedung bagian High School dan sampai kembali di depan sebuah jam kuno yang terletak di tengah-tengah tangga antara lantai 1 dan 2.
"Jam ini…"
"Kurasa aku pernah mendengar sesuatu tentang jam ini. Dan kau ingat bukan, sesaat sebelum kita mengetahui bahwa kita mengalami time-slip, jam ini menunjukkan keanehan?" jelas Sasori dengan cukup panjang lebar.
"Aku tahu," jawab Temari sambil menyentuhkan tangannya yang tidak digenggam Sasori ke badan jam yang terbuat dari kayu tersebut. "Masalahnya, bagaimana caranya membuat jam ini memulangkan kita kembali?"
"Yah…" jawab Sasori yang juga menyentuh jam tersebut.
Temari memandangi Sasori yang sedang tampak merenung. Gadis itu kemudian tersenyum dengan sangat manis.
Saat itulah, batin Temari mulai berisik, "Seandainya kami nggak bisa pulang pun, asalkan bersama Onii-san, aku nggak peduli!"
Rupanya sang jam itu memang senang mempermainkan orang. Baru beberapa saat batin Temari mengungkapkan keinginan sebenarnya gadis itu, jam kuno itu kembali menunjukkan keanehannya. Tentu saja, Sasori menanggapinya dengan ekspresi datar sementara Temari hanya bisa mendesah kecewa namun di satu sisi ia merasa lega juga.
Keduanya langsng berpandangan setelah sang jam berhenti melakukan keanehannya. Dengan cepat, keduanya kemudian naik ke atas, menuju ruang guru.
"Lho? Sasori? Koq masih di sini? Nggak ngajar?"
Temari menyeringai senang. Ya, sekali ini ia merasa senang melihat seorang guru wanita yang sebelumnya ia cemburui karena terlihat begitu akrab dengan Aniki-nya. Melihat guru itu, Temari menjadi semakin yakin kalau keduanya memang sudah kembali ke zaman mereka seharusnya.
"Maaf!" ujar Sasori yang semakin mengeratkan pegangannya pada Temari. "Tolong gantikan aku mengajar!"
Entah yang ke berapa kalinya hari itu, Sasori menarik-narik Temari. Yang ditarik sih tidak merasa keberatan dan dengan setia mengikuti setiap pergerakan pria minim ekspresi yang terkenal sinis tersebut.
Belum sempat Temari bertanya tujuan mereka kali ini, Sasori justru langsung memberitahukan tujuannya.
Mereka akan pulang.
Ke Suna.
Hari ini juga!
Saat ini juga!
-o-o-o-o-o-
"Hah?" tanya seorang wanita paruh baya berambut coklat tipis dengan panjang yang tidak mencapai sebahu.
"Ya, aku meminta penjelasan saat ini juga, soal orangtuaku yang sebenarnya!" pinta Sasori tanpa basa basi sesaat setelah ia berhasil mengumpulkan Kaa-san, Tou-san, serta Otouto-nya di ruang keluarga. Terang saja, semuanya tampak terkejut mendengar pertanyaan Sasori. Ralat, semakin terkejut. Kedatangannya yang tiba-tiba saja sudah membuat terkejut keluarga Sabaku.
Karura, sang Nyonya Sabaku memandang ke arah suaminya. Suaminya sendiri memasang wajah yang seolah hendak berkata 'terserah-kau-sajalah' di balik ekspresinya yang cukup datar. Kankurou, si putra kedua, apabila Sasori masih dihitung, berpandangan dengan si bungsu, Gaara. Berbeda dengan orangtua mereka yang lebih tepat dikatakan terkejut, keduanya lebih menunjukkan kebingungan atas ucapan Aniki mereka tersebut.
Setelah menghela nafas, Karura beranjak sejenak ke sebuah meja tempat ia meletakkan beberapa buah foto. Ia mengambil satu di antaranya dan kemudian tersenyum. Selanjutnya, ia menyerahakan foto tersebut pada Sasori.
"Akasuna Ebizou dan Akasuna Chiyo," ujar Karura sambil menunjuk dua orang yang berdiri berdekatan di dalam foto tersebut. "Merekalah orangtuamu sesungguhnya!"
Berbeda dengan Temari yang tampak 'biasa' saja, reaksi kedua adiknya yang lain cukup luar biasa. Kankurou menganga dan Gaara mengerjab-ngerjabkan matanya seolah ia baru saja mendengar berita bahwa ia akan dinobatkan sebagai Walikota Suna.
Karura kembali ke tempat duduknya sementara Sasori dan Temari memilih berdiri. Sasori masih memandangi foto tersebut saat Karura mulai menceritakan mengenai kejadian naas yang tentu saja sudah diketahui oleh Sasori maupun Temari. Sekali ini, Kankurou tampak berkaca-kaca sementara Gaara hanya bisa mengambil kotak tissue untuk Aniki-nya yang satu itu.
"Jadi, begitulah! Maaf selama ini menyembunyikannya! Kami pikir kau.. Wah?"
Belum sempat Karura menyelesaikan kalimatnya, Sasori sudah menarik Temari ke dekatnya, mengangkat foto tersebut untuk menyembunyikan adegan ciuman yang dilakukan keduanya. Walaupun tetap saja, semua tahu pasti apa yang keduanya lakukan di balik foto tersebut.
Sabaku Karura hanya bisa menyeringai dengan sebelah tangan menutupi mulutnya, Sabaku Kaze tetap dengan wajah stoic-nya, Kankurou semakin menganga, dan Gaara sekali lagi mengerjab-ngerjabkan matanya sebelum Kankurou akhirnya menghalangi pandangan Otouto-nya tersebut dengan sebelah tangan.
"Onii-san…" ujar Temari lembut saat bibir keduanya sudah terlepas. Jujur, sebenarnya Temari sendiri tidak pernah menduga akan mendapat ciuman tersebut.
"Bukan 'Onii-san' lagi kan?"
"Uh? Oh.. Ya.. S-Sasori.. Kun…?"
Sasori mengangguk kecil.
"Ini jawaban untuk pernyataanmu tadi, Temari!"
Temari merasa seolah ia tengah melayang ke langit ke tujuh saat mendengar pernyataan Sasori tadi. Ia kemudian hanya bisa tersenyum sambil menyentuhkan dahinya dengan dahi Sasori yang tengah menunduk. Tidak bisa digambarkan betapa senangnya ia saat ia mengetahui bahwa Sasori juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tidak perlu kata-kata, Temari sudah cukup mengenal Sasori. Ya, bagaimanapun mereka sudah bersama selama ini. Tindakan tegas Sasori tadi sudah menjelaskan segalanya bagi Temari.
Keduanya kemudian berbalik ke arah keluarga Sabaku yang lain sehingga Karura tidak dapat menahan diri untuk tidak berceletuk, "Berarti, pertemuan dengan anak rekanmu itu kayanya harus dibatalkan, Sayang!"
Kaze hanya bisa mengangkat bahunya tanpa ekspresi.
"Singkatnya, Sasori-nii tetap akan menjadi Aniki kami kan?" ujar Kankurou yang sudah menjauhkan tangannya dari mata Gaara.
"Benar juga! Kalau begitu, sekalian saja tetapkan tanggal pernikahan kalian!" ujar Karura bersemangat. Wanita itu kemudian siap melangkah untuk mulai mencari kalendar yang membuat semua yang ada di situ-minus Karura tentunya- ber-sweatdrop-ria.
"Oh, Kaa-chan! Yang benar aja! Kenapa harus terburu-buru!" protes Temari yang sebenarnya tidak keberatan. Toh selama ini ia sudah tinggal bersama Aniki-nya. Kalau hanya berubah status sedikit dan perubahan itu bisa membuatnya semakin dekat dengan sang Aniki, Temari tentunya tidak akan menolak kan? Tapi karena di sisi lain ia juga tahu sakralnya pernikahan, maka ia pun tidak mau terburu-buru. Bagaimanapun, secara tidak langsung, ia telah berhasil mengikat sang Aniki koq!
"Biarkan saja," ujar Sasori yang spontan membuat Temari menoleh ke arahnya. "Toh kita sudah terlalu saling mengenal. Pernikahan bukan ide buruk!"
"Koq bisa semudah itu sih? Walaupun sudah saling mengenal, tapi perasaan kita kan baru aja kita sadari akhir-akhir ini?"
Sasori menaikkan alisnya.
"Bagimu ya? Bagiku, aku sudah terlalu lama menahan perasaanku!"
Satu jawaban dari Sasori itu membuat Temari tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menunjukkan ekspresi keterkejutannya atas pernyataan tersebut.
"Lagipula, secepatnya fakta ini diungkapkan, semakin cepat pula gosip yang aneh-aneh akan menghilang!"
"Huh?"
"Ya, mereka nggak akan bisa lagi menyebutmu brother-complex atau menyebutku sister-complex! Karena kenyataannya, kita memang bukan kakak adik kandung!"
Temari melongo mendengar jawaban Sasori. "Jadi karena itu tadi kau menyuruhku agar menghilangkan jadwal berkunjung ke sekolah?"
"Ada alasan lain?"
"Sejak kapan Oni- Sasori-kun," ujar Temari sedikit terbata karena ia harus menyesuaikan panggilan barunya, "memikirkan pandangan orang lain?"
"Semenjak aku mulai memikirkanmu bukan sebagai adik!" jawab Sasori tenang sambil tersenyum tipis. Tentu saja hal itu membuat Temari merona. Bahkan tanpa pikir panjang lagi, gadis itu langsung menghambur ke pelukan Sasori.
"Sepertinya aku mendapat ide untuk menciptakan lagu baru yang bernada lebih bahagia!" gumam Sasori perlahan.
"Eh? Apa?"
"Nggak!"
"Eh? Apa sih?" tanya Temari sedikit memaksa. Sasori sendiri memilih untuk tutup mulut dan menyimpannya untuk menjadi kejutan nanti.
Pria berambut merah itu kemudian berjalan mendekat ke arah Karura yang sudah kembali dengan kalendar di tangannya. Mau tidak mau, Temari pun mengikutinya. Selanjutnya, percakapan mengenai pernikahan keduanya-yang sesungguhnya amat sangat terlalu cepat- menjadi topik hangat di keluarga Sabaku malam itu. Suasana bahagia melingkupi mereka semua.
Ah!
Akhirnya!
Tiada lagi keraguan.
Perasaan itu bisa bebas bertumbuh dengan indahnya.
Sungguh, akhir yang bahagia bukan?
Dengarlah jam kuno itu berdentang dengan riangnya. Tak lama, mungkin dentang itu akan berubah menjadi dentang bel dalam suatu upacara pernikahan.
Ya..
Dalam waktu dekat!
*** FIN***
Gyahahaha! Jadi juga chapter ke-2 ini! SasoTema! Yaaayyy!
Tetep panjang aja kaya sebelumnya. Dan yah.. Mungkin Tema-chan agak OOC? Atau Sasori-nya juga? Duh, saya berusaha sebisa mungkin biar mereka nggak terlalu OOC dengan nunjukin sifat Temari yang kuat dan tegar serta si Sasori yang kaga sabaran dan kaga bereskpresi, sinis pula. Tapi kalau ampe jadi OOC, maafkan saya ya..X(
Ohyah, karena saya nggak tau nama orangtua Sasori, jadi Chiyo dan Ebizou saya jadiin orangtua Sasori (padahal Chiyo kan neneknya Sasori, kakak ade pula ama Ebizou. Ah, karena itulah cerita ini dinamakan fanfic bukan?) :P dan berhubung saya gak tau nama ayahnya Temari, Kankurou, dan Gaara, saya namain aja dia Kaze (kan ayahnya Kazekage, hahaha)
Terus, buat Min Cha-san yang nge-request ShikaTema, saya minta maaf karena belum bisa memenuhi request kamu ya? Pada dasarnya saya udah nyiapin kelima pasang yang bakal saya ceritain. Tapi mungkin lain kali saya bisa coba bikin ShikaTema. Hehehe..
Okey, next couple is….. Just wait n see!XD
Nah, gimana menurut minna-san buat chapter kedua ini? Anehkah? Jelekkah?
Review, onegai?
Masukan dan kritik membangun amat sangat diharapkan. ;)
~Thanks for reading!~
