Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.

Genre : Romance/Supernatural

Chara : You'll see.. nyahaha!

Nah, ini ch.3! *lonjak-lonjak kegirangan, gak nyangka bisa mengalahkan rasa malas* XD

Teruuuusss… saya juga mau ucapin terima kasih sebesar-besarnya buat minna-san yang udah ngereview, bilang bagus, dan ngefave juga. Makasih sebesar-besarnya XD

Ohyah, saya mu nanggepin beberapa ripiu yang udah masuk ya.

#CharLene Choi :wah! makasih! senang kalau kamu bisa suka ama pair SasoTema kemarin ^^

#Tsujiai-kun : makasih, makasih. ShikaIno? yosh, ayo lirik-lirik ke bawah ya dan lihat sendiri siapa pairnya XD

#Masahiro NIGHT Seiran gaklogin : ehehe. Makasih banyak! ^^ kalau chapter 2-nya gimana? *menanti penuh harap*

#temariris ga login : ide kamu boleh juga. Tapi karena saya lebih familiar dengan chara temari,jadinya SasoTema deh XD Soal chiyo dan ebizou, saya gak kepikiran orang lain lagi yang bisa jadi papa mamanya Sasori jadi maaf ya kalau bayangan kamu jadi kaya gitu. Hehe.

#chickenese : wah! Makasih masukannya. Teledor sekali saya, karena kebiasan nulis 'kok' pake huruf 'q' kalau lagi ngetik sms 6(=.=").

#Miya Hime Chan : genrenya bukan horror ^^ nah, nih dah diupdate. cukup kilat kan?:p

#Min Cha : makasih dah tetep mau baca walaupun belum bisa ngasih ShikaTema. Makasih juga dah bilang fic saya menarik *terharu*

#uchan aja lah : makasih banyak buat reviewnya. soal pairing... silakan discroll ke bawah... ehehhee...XD

#uchihyuu nagisa :huwaaa! maafkan saya kalau ternyata chapter kemaren aneh ya? Moga-moga yang kali ini nggak aneh lagi deh? :D

Dan buat review2 sebelum ini yang udah masuk, maaf saya nggak sempet bales satu-satu di chapter sebelumnya. Yang jelas, saya ucapin terima kasih banyak buat review yang udah masuk. satu review kalian bisa meningkatkan semangat menulis saya sebanyak 1 paragraf! :p dan yang pasti, saya senang banget kalau fic ini bisa diterima oleh kalian semua. Soal pairing, tunggu aja selalu udpate-an fic ini. Hihihi..*mau sok misterius, ckck*

Oke, kayanya saya udah kebanyakan omong. So, this time for…

Reading the story! Enjoy!XD


Konoha Gakuen – Perguruan Konoha.

Sebuah perguruan terkenal yang terdiri dari Kindergarten sampai dengan High School. Sekolah terkemuka yang sudah berdiri puluhan tahun. Banyak orangtua lulusan sekolah itu yang kemudian menyekolahkan anak-anaknya di almamater mereka tersebut. Benar-benar suatu sekolah yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya.

Tapi…

Apa kau tahu bahwa di bagian High School dari perguruan ini memiliki suatu legenda yang cukup unik?

Tidak?

Kalau begitu biar kuceritakan sedikit padamu.

Di tengah-tengah tangga antara lantai 1 dan 2, terdapat sebuat jam kuno. Jam tersebut berbentuk sebuah jam tinggi dengan pemberat yang mengayun-ayun di bawahnya. Konon, jam tersebut tetap berjalan walaupun tidak disetel puluhan tahun. Yah, soal itu sih bisa jadi bohong. Dan memang bukan itu legenda yang kumaksud.

Yang ingin kusampaikan adalah…

Saat kau mendengar jam tersebut mendadak berdetak dengan keras yang diikuti suara lonceng yang berdentang dua kali, maka saat itulah kau akan mengalami suatu perjalanan waktu yang tak terduga.

Kau percaya?

.

.

.

TIME ~The Reason~

ShikaIno : The Reason Why He Should Tell Her Faster

Nara Shikamaru, 16 tahun, kelas 2-1 Konoha High School. Seorang jenius dengan hobi tidur di kelas saat pelajaran. Kata favoritnya adalah 'mendokuse' dan kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya adalah kegiatan 'Playing with Full Spirit at Anytime and Anywhere!'. Walaupun demikian, sebenarnya dia bukanlah anggota aktif dan lebih sering kabur dari kegiatan ekstrakurikuler yang kerjanya hanya bermain-main, entah mengobrol di sekolah sampai sore atau jalan-jalan ke pusat kota dan melakukan banyak hal menyenangkan bersama teman-teman. Suatu kesalahan ia mengikuti ekstrakurikuler yang penuh semangat itu karena bagaimanapun, seorang Shikamaru teramat jauh dari kata 'semangat'.

Meskipun pemalas, Shikamaru termasuk orang yang mudah disenangi banyak orang. Mungkin hal ini tidak lepas dari sikap easy-going-nya. Ia mempunyai cukup banyak teman-yang mungkin malah mengganggapnya sebagai sahabat. Namun, bagi Shikamaru sendiri, sahabat terdekatnya adalah Akimichi Chouji yang sudah ia kenal sejak kecil. Selain itu, ada pula…

"Shikaaaaaa!" panggil seorang gadis berambut pirang panjang yang diikat ponytail sambil berjalan mendekat ke arahnya, tepat ketika ia tengah membuka pintu pagar rumahnya. "Berangkat bareng yaa!"

"Ck! Pagi-pagi sudah berisik saja kau, Ino!" jawab Shikamaru sambil mengernyitkan alisnya.

"Bagus kan? Penuh semangat! Dibanding kau? Selalu loyo sepanjang abad!" sindir Ino sambil menunggu Shikamaru menutup kembali pagarnya. Shikamaru hanya bisa mendengus kecil mendengar komentar dari gadis itu.

Ya, selain Chouji, ada pula gadis ini. Gadis berambut pirang dan bermata aquamarine yang juga merupakan teman mainnya sejak kecil. Shikamaru dan gadis itu juga bisa dibilang dekat, sedekat hubungannya dengan Chouji. Tapi Shikamaru sendiri tidak pernah mengakui gadis tersebut sebagai sahabatnya secara terang-terangan.

Gadis itu- Yamanaka Ino- berusia 16 tahun sama seperti Shikamaru dan kini ia duduk di kelas 2-2 Konoha High School. Ino adalah seorang anak yang talk-active dan menyukai fashion serta bunga. Di sekolahnya, Ino mengikuti kegiatan esktrakurikuler ikebana. Tapi karena klub satu itu sering kali tidak jalan karena satu dan berbagai sebab, Ino sering kali mengikuti kegiatan ekstrakurikuler cheer-leader sehingga orang-orang lebih mengenalnya sebagai anggota klub cheer-leader.

Keluarga Yamanaka sendiri hanya terdiri dari Ino dan ayahnya sehingga saat-saat berkumpul bersama keluarga Nara dan keluarga Akimichi adalah kesenangan tersendiri bagi putri Yamanaka tersebut. Bagaimanapun, kepala keluarga Yamanaka, Nara, dan Akimichi sudah saling mengenal sejak mereka masih di bangku sekolah. Karena itu, kedekatan di antara keluarga itu sudah bukan hal yang aneh. Bahkan jika orang yang tidak mengenal melihat mereka, orang tersebut akan menduga bahwa ketiga keluarga itu adalah satu keluarga besar.

Meskipun demikian, sedekat apapun mereka, yang namanya rahasia bukanlah suatu hal yang bisa dihindari. Sebagai contoh, tidak ada yang tahu kalau gadis keluarga Yamanaka sebenarnya menyimpan suatu perasaan rahasia pada salah satu dari dua pemuda yang dianggapnya sahabatnya tersebut.

Ino sendiri telah melakukan beberapa pendekatan halus untuk mengetahui pendapat orang tersebut tentang dirinya. Tapi entah ia kurang jelas dalam mengungkapkan maksudnya, atau memang orang itu yang kelewat telmi, Ino tidak pernah berhasil mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Sering kali Ino menanyakan pendapat pemuda tersebut soal tipe gadis yang ia sukai, seperti saat ini, lagi-lagi Ino menanyakan hal yang sama.

"Ayolah Shikaaa! Beritahu aku!" rengek Ino saat mereka hendak menaiki bus yang akan membawa mereka sampai ke halte dekat sekolah mereka.

"Sudah berkali-kali kubilang padamu, itu bukan urusanmu!"

"Hei! Apa itu yang namanya teman?" balas Ino gemas.

"Teman nggak selalu harus mencampuri urusan temannya kan? Lagipula kenapa kau sebegitu ingin tahunya soal tipe cewek kesukaanku, heh?"

Ino mendecak perlahan sebelum ia menjawab dengan sedikit ragu-ragu, "Seperti yang juga sudah berkali-kali kubilang padamu, Tuan Pemalas, ada seseorang yang memintaku untuk menanyakannya!"

"Hah! Mendokuse!" jawab Shikamaru.

"Apa perasaan orang lain kau anggap merepotkan?" selidik Ino lebih lanjut.

"Perasaan yang nggak kubutuhkan tentu saja akan merepotkan!"

Jawaban sinis dari Shikamaru itu langsung membuat Ino terdiam seketika. Baiklah, Ino sudah tahu kalau si kepala nanas pemalas yang satu ini memang terlihat tidak begitu tertarik dengan masalah percintaan. Tapi, hei! Sampai kapan dia mau seperti itu?

"Kau nggak akan bisa punya cewek kalau tetap seperti ini, Shika!" ujar Ino dalam nada yang sedikit menyindir.

"Nggak perlu repot-repot memikirkanku, Ino! Pikirkan saja dirimu sendiri! Kau juga belum punya cowok kan?" jawab Shikamaru tepat ketika bus berhenti dan menandakan bahwa mereka sudah harus segera turun.

"Setidaknya, aku punya orang yang kusukai!" balas Ino saat keduanya sudah kembali berjalan beriringan untuk memasuki gerbang Konoha High School. "Sementara kau?"

"Ada!"

"Huh?"

"Kubilang, aku juga punya orang yang kusukai!"

"Si-siapa?" jawab Ino dengan mata yang tampak membulat. Ini suatu penemuan baru bagi Ino! Ternyata pemuda nanas itu mempunyai seorang gadis yang ia sukai! Dan Ino baru tahu hal ini sekarang? Ah! Keterlaluan sekali Shikamaru! Pemuda nanas itu tidak pernah sekalipun bercerita soal gadis yang ia sukai pada Ino! Yah, walaupun sebenarnya Ino juga melakukan hal yang sama sih, menyembunyikan orang yang ia sukai dari pemuda satu itu.

Tapi ini sesuai dengan yang sudah disebutkan sebelumnya bukan? Sedekat apapun mereka, tetap saja ada rahasia-rahasia yang tidak bisa diungkapkan satu sama lain. Entah untuk alasan apa, rahasia itu tetap terjaga. Walaupun sebenarnya bisa saja rahasia itu diungkapkan pada 'mereka' yang berhak untuk mengetahuinya.

Dan untuk menjaga rahasia itu, Shikamaru kemudian menjawab, "Lupakan!", setelah ia menghela nafas yang berat dan panjang.

"H-hei! Nggak adil! Shika! Beritahu aku!" teriak Ino setelah ia ditinggal menjauh oleh Shikamaru.

Selama perjalanan menuju kelas, hanya satu topik itu yang mereka bahas. Ino bahkan tidak terlalu mempedulikan ejekan beberapa temannya yang mengomentari kemesraan mereka yang dari pagi sudah bersama. Apalagi Shikamaru. Kapan sih ia pernah mau repot memikirkan omongan orang lain? Sementara omongan gadis yang terus mengikutinya ini sudah sangat, sangat merepotkan dirinya.

"Shikaaaaa~!" ujar Ino yang masih saja mengikuti Shikamaru sampai ke kelasnya.

"Mendokuse!" gumam Shikamaru lagi seraya melemparkan tubuhnya ke atas kursi. Ia kemudian meletakkan tasnya di atas meja begitu saja sebelum ia mulai melipat tangannya dan menjadikannya sebagai bantalan untuk kepalanya.

"Jangan tidur dulu! Shika!" panggil Ino seraya mengguncang-guncangkan tubuh pemuda berambut hitam dan diikat menyerupai nanas tersebut.

Seandainya Shikamaru bisa menghindari keadaan merepotkan ini. Terkutuklah mulutnya yang sudah membuat burung bawel itu terus menerus berkicau.

Meskipun demikian, tanpa sepengetahuan Ino, sebuah seringai terbentuk di bibir Shikamaru. Sayang, ia tengah menutupi wajahnya dalam posisi tidur di atas meja sehingga tentu saja seringai itu tidak akan bisa dilihat oleh Ino.

"Hah! Kau menyebalkan, Shikamaru!" ujar Ino yang putus asa.

Baru Shikamaru merasa bahwa ia bisa memulai tidur paginya yang tenang, mendadak sebuah suara membuat pemuda itu sedikit tersentak.

"Ohayou, Yamanaka-san!"

Shikamaru sedikit mengintip dari posisi tidurnya.

"Ah! Ohayou, Sai-kun!" sapa Ino riang. "Ngomong-ngomong, berapa kali kubilang untuk memanggilku dengan Ino saja?" sambung Ino lagi sambil berkacak pinggang sebelah sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk memegang tas.

Merasa itu sudah bukan urusannya, Shikamaru mulai kembali membenamkan kepalanya. Ia mencoba untuk tidur.

1 menit.

Suara keduanya masih terdengar jelas.

2 menit.

Suara keduanya tetap saja mengusiknya.

5 menit.

Baiklah, suara tawa Ino cukup mengundang rasa penasarannya akan topik yang tengah dibicarakan keduanya. Baru saja Shikamaru hendak mengangkat kepalanya, suara Ino selanjutnya sudah cukup menyadarkannya bahwa tindakannya akan sia-sia.

"Oh? Sudah bel! Aku ke kelasku dulu ya? Sampai nanti, Sai-kun!"

Shikamaru terlambat.

Ia tidak sempat mengetahui apa isi percakapan si gadis itu dengan si pemuda berkulit pucat teman sekelasnya.

o-o-o-o-o

Seperti biasa, Shikamaru tidak memperhatikan pelajaran meskipun saat itu pelajaran guru killer sekalipun. Sebagai informasi, walaupun ia bersikap seperti itu, namun tidak banyak guru yang berinisiatif untuk menegurnya. Yah, mungkin guru-guru itu sudah maklum dengannya. Lagipula, mendengarkan atau tidak, nilainya tetap saja sempurna. Guru-guru-pun jadi tidak bisa protes lagi kan?

Di kelas, Shikamaru yang duduk di dekat jendela hanya punya dua kegiatan rutin. Tidur atau melihat awan. Tapi sekali ini, perhatiannya sedikit teralihkan dari sang awan saat ia melihat siswa-siswi dari kelas 2-2 yang tengah menggunakan lapangan untuk pelajaran olahraga.

Ino ada di antaranya.

Sambil menyangga wajahnya dengan sebelah tangan, tatapan mata onyx-nya terus mengikuti pergerakan gadis yang terbilang lincah itu. Melihat itu, Shikamaru tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Meskipun tentu saja, senyum samar.

"Ada yang menarik di luar sana, Nara?" tanya Anko, guru matematika mereka yang merasa sedikit tertarik dengan pemandangan yang tengah dilihat Shikamaru.

Merasa namanya disebut, Shikamaru buru-buru menghadap ke arah gurunya tersebut.

"Tidak juga," jawabnya singkat.

"Ada siapa di sana?" tanya Anko lagi sambil mendekat ke arah jendela. Untuk sesaat, pelajaran matematika pun teralihkan. Beberapa siswa bahkan mengikuti jejak Anko untuk melihat ke arah luar jendela.

"Oh? Kelasnya Ino-chan!" celetuk seorang gadis berambut merah muda saat ia mengenali sosok salah seorang sahabatnya ada di antara anak-anak yang tengah berolahraga.

Serempak saja, anak-anak di kelas itu mulai mengejek Shikamaru. Bagaimanapun, kedekatan Shikamaru dan Ino bukan hal baru. Meskipun berkali-kali Shikamaru menyangkal bahwa di antara mereka terdapat hubungan yang lebih dari sekedar teman, tapi beberapa siswa tetap saja senang menggodanya.

"Mendokuse," keluh Shikamaru saat kelasnya malah jadi ribut menggosipkan dirinya dan Ino.

Saat semua orang asyik bergosip, hanya ada satu orang yang tetap diam dan tidak terpengaruh untuk ikut bergosip. Meskipun wajahnya tampak menyunggingkan senyum, tapi di sisi lain, tatapan matanya menyiratkan sebuah persaingan. Persaingan yang tidak pernah Shikamaru duga akan semakin merepotkan dirinya.

o-o-o-o-o

"Heh? Yang bener?" tanya Ino saat ia baru hendak menyantap makan siangnya.

Di siang kali itu, Ino, bersama Sakura, dan Hyuuga Hinata –teman sekelas Ino- memutuskan untuk makan siang bersama di kelas Sakura. Sekali itu, Sakura memang tidak ada janji untuk makan siang bersama Naruto sehingga pemuda berambut kuning itu memutuskan untuk ke kantin bersama teman-temannya. Sekali-sekali berkumpul bersama teman juga penting bukan? Dan beginilah keadaan mereka sekarang, duduk melingkar di depan dua meja yang diletakkan berdekatan.

"Iya! Tadi di kelas matematika sampai heboh!" ulang Sakura sambil nyengir. "Kau seneng kan, Pig? Seneng, heh?"

"Baka! Kenapa aku harus senang?" jawab Ino sambil menyumpit salah satu lauknya.

"Lho? Tentu saja! Karena orang yang kau sukai itu mungkin memendam rasa padamu! Kalau nggak, mana mungkin dia memperhatikanmu sampai sebegitunya?" jawab Sakura enteng.

"Huh! Siapa yang suka siapa?" balas Ino ketus. Sebenarnya ini hanya pertanyaan basa basi untuk menyangkal. Tapi Ino salah bertanya seperti itu. Karena dengan senang hati, Sakura akan menjawab untuknya, yang dapat berakibat pada terbongkarnya perasaan yang mati-matian disembunyikan Ino dari orang lain selain kedua sahabatnya ini.

"Kau! Suka sama Shikama-…"

"HAAAHH!" teriak Ino panik sambil mencondongkan tubuhnya melewati meja hanya untuk membekap mulut Sakura. Akibat kehebohan Ino, beberapa pasang mata malah mendelik curiga ke arahnya. Ino hanya bisa memberikan tawa getir sebelum ia menolehkan wajahnya ke arah Sakura. "Bicara lebih jauh dan kau mati! Ngerti kau Forehead?" ancam Ino dengan ganasnya.

Sakura sendiri hanya bisa nyengir tidak peduli.

"Lagian, kau itu ngaco, Forehead! Si nanas itu udah punya orang yang dia suka, tau?" ujar Ino sambil duduk kembali di kursinya.

"Makanya, orang itu kau!" ujar Sakura sambil menunjuk Ino dengan sumpitnya.

"Nggak mungkin, ah! Ya kan, Hinata?"

"Ah? Eh? Uhm.. A-aku setuju…" jawab Hinata, tergagap seperti biasanya.

"Kan?" potong Ino sebelum Hinata sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Ano.. Sama Sakura-chan," tambah Hinata akhirnya.

Sekali ini, Sakura mengacungkan tangannya dan mengajak Hinata ber-toss ria. Hinata hanya menanggapinya dengan tepukan pelan dan wajah yang tersenyum malu-malu.

"Uh! Kalian!"

"Kalau nggak percaya, tanya aja langsung ama orangnya!" saran Sakura sebelum ia menyuapkan isi bento-nya ke dalam mulut. "Tanya siapa yang dia suka dan aku yakin dia akan menyebut namamu di list pertamanya!'

"Ck! Kau kayak nggak kenal Shikamaru aja!" jawab Ino dengan pipi yang sedikit menggembung akibat cemberut. "Mana mau dia menjawabnya! Sorry, tapi saranmu itu sudah basi!"

"Ah, ah! Susah ya kalau suka ama orang nggak jelas macam dia!" ujar Sakura setelah ia selesai mengunyah makanannya.

Ino menyangga wajahnya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya sendiri hanya bisa memegang sumpit dan memainkan isi bento-nya tanpa ada niatan untuk dimasukkan ke mulutnya sama sekali. Pembicaraan tentang Shikamaru dan gadis yang disukai pemuda itu seolah membuat nafsu makan Ino hilang seketika.

"Yama –Ino!" panggil seseorang yang spontan membuat Ino menengok.

"Oh! Sai-kun? Ada apa?"

"Aku lupa bilang padamu tadi pagi, lukisan yang waktu itu sudah selesai! Kau mau melihatnya nanti?" ujar pemuda berkulit putih pucat sambil tersenyum.

"Boleh! Pulang sekolah ya?" ujar Ino tampak bersemangat. Pemuda itu, Shimura Sai, kemudian tersenyum sambil mengangguk kecil pada Ino. Ino sendiri melambaikan tangannya saat pemuda itu sudah menjauh.

Begitu perhatiannya kembali pada kedua temannya, Ino mendapati tatapan mengejek dari Sakura dan tatapan menilai dari Hinata.

"Apa?" tanya Ino sambil mengerjab-ngerjabkan matanya.

"Ano…" ujar Hinata yang kali ini berinisiatif untuk bicara terlebih dahulu, "Sai-kun suka sama Ino-chan ya?"

"Ukh!"

"Serius nih, Pig! Aku juga berpikiran sama ama Hinata!" imbuh Sakura sambil menyumpit lauk terakhir dalam kotak bento-nya. "Dan kayanya, daripada sama Shikamaru si nanas yang pemalas dan nggak jelas itu, mending kau sama Sai aja?" usul Sakura sebelum ia siap mendaratkan lauknya tersebut ke dalam mulut.

"Ah! Berhenti ngomongin soal aku!" ujar Ino sambil menutup kotak bekal yang bahkan belum disentuhnya.

"Yah, dia ngambek!" ujar Sakura meringis.

"I-Ino-chan… Gomen kalau menyinggungmu," ujar Hinata yang langsung merasa tidak enak hati.

"Nggak koq, Hina-chan! Cuma males aja ngomongin soal itu!"

"Baik, baik! Ganti topik!" usul Sakura akhirnya. Walaupun sebenarnya masih banyak yang ingin dibicarakan si gadis berambut pink itu mengenai Ino, ia memutuskan mengalah. Dibanding mood sahabat blonde-nya itu tambah buruk kan?

Dan setelah itu, ketiga sahabat tersebut tidak lagi membicarakan soal Ino. Tapi bagaimanapun, pembicaraan sebelum topik itu beralih telah terdengar jelas di telinga pemuda berambut hitam dan dikuncir jabrik –menyerupai nanas. Ya, karena posisi duduk ketiganya yang dekat ke pintu masuk, ditambah suara Sakura yang sedikit toa, hanya dengan menajamkan pendengaran sedikit, orang-orang sudah dapat mendengar percakapan ketiganya, termasuk si pemuda nanas yang saat ini jadi ragu-ragu hendak melangkah masuk atau tidak. Tapi begitu ia mendengar topik yang sudah berubah, akhirnya ia menghela nafas dan memutuskan untuk masuk ke kelasnya.

Ketiga gadis itu sempat terkejut saat pemuda nanas itu masuk. Tapi keterkejutan itu berganti menjadi kelegaan karena mereka telah mengganti topik percakapan mereka, terutama bagi Ino. Tentu saja Ino tidak tahu kalau sebenarnya, pemuda itu mendengar percakapan mereka mulai saat mereka membicarakan mengenai Shimura Sai. Dan saat ini, pemuda itu berada dalam mood terburuknya.

o-o-o-o-o

Pulang sekolah, waktu yang banyak ditunggu para siswa. Ada yang langsung melesat pulang, ada yang memilih berkumpul dengan temannya, ada pula yang pula yang langsung menyambangi ruang klub-nya. Lalu bagaimana dengan Ino?

Gadis berambut pirang itu tentu tidak melupakan janji yang telah dibuatnya dengan Sai. Ia menunggu pemuda berambut ebony pendek itu di depan kelasnya. Suatu tindakan yang agak salah sebetulnya. Karena dengan melakukan itu, Ino membuat Shikamaru bisa melihatnya. Meskipun demikian, gadis itu sama sekali tidak menyadari pandangan menusuk yang sekilas ditunjukkan oleh teman main sejak kecilnya tersebut.

Lebih menyebalkan lagi bagi Shikamaru, sebelum benar-benar meninggalkan kelasnya, Sai menengok ke arahnya. Ia lalu menyunggingkan sebuah senyum yang membuat Shikamaru membelalakkan matanya sekejab.

"Ada apa Sai-kun?" tanya Ino dengan polosnya saat ia melihat Sai yang masih saja tersenyum, meskipun tidak ada sesuatu yang tampak menarik –setidaknya menurut Ino.

"Ah, nggak ada apa-apa koq!" jawab Sai masih dengan senyumnya.

Ino hanya bisa tersenyum kebingungan sambil menaikkan sebelah alisnya. Tapi selanjutnya mereka mulai membicarakan soal lukisan sampai mereka tiba di depan ruang klub seni.

Sai segera membuka pintunya dan membiarkan Ino masuk terlebih dahulu. Sebenarnya, Ino cukup sering datang dan bermain ke ruang klub ini sejak ia kenal dengan Sai di kelas 1. Klub seni sendiri sebenarnya termasuk klub dengan jumlah anggota terbesar. Tapi untuk hari-hari tertentu, klub ini begitu kosongnya hingga Ino bisa masuk ke ruangannya dengan mudah. Bersama Sai tentunya.

Ino sendiri tidak ada maksud apa-apa dengan Sai. Ia murni menganggap pemuda itu sebagai temannya. Bahkan terkadang Ino suka curhat dan menceritakan soal Shikamaru pada Sai, meskipun Ino tidak terang-terangan menyebutkan soal perasaannya seperti ia menceritakannya pada Sakura dan Hinata.

"Lalu? Mana lukisan itu?" tanya Ino sambil meletakkan tasnya di sebuah kursi yang menganggur.

Sai pun segera beranjak ke salah sebuah lukisan yang masih terletak di balok kayu tempatnya dan tertutup oleh sebuah kain berwarna putih. Sebuah senyum puas tampak merekah di wajah Sai saat ia mulai menarik kain penutupnya.

"Astaga! Sai-kun!" seru Ino dengan tangan yang terangkat ke dekat mulutnya. Mata aquamarine-nya tampak berbinar memandangi hasil karya ciptaan seorang anak manusia berbakat. "Ini indah sekali!"

Ino perlahan mendekat ke arah lukisan yang menggambarkan suatu padang bunga. Semakin mendekat, Ino bisa melihat sosok seseorang berambut pirang tengah tersenyum di tengah-tengah padang bunga tersebut. Sosok itu mengenakan sebuah topi lebar dengan gaun berwarna putih.

Tangan lentiknya kemudian bergerak dan menyentuh lukisan sosok gadis berambut pirang itu.

"Ini… Aku?" tanya Ino sambil menengok ke arah Sai.

Sai mengangguk.

"Kau suka?"

"Lebih dari suka! Kami-sama! Sai-kun! Kore wa tottemo suteki na! Ii desu!" seru Ino dengan tangan yang terkepal di depan dada. "Kau benar-benar berbakat!"

Sai tampak salah tingkah hingga wajahnya sedikit merona. Ia lalu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya seraya mengatakan, "Arigatou!"

Ino tersenyum sambil kembali mengarahkan pandangannya pada lukisan padang bunga itu.

"Kalau kau mau… Lukisan itu akan kuberikan untukmu!" ujar Sai lagi.

"Yang benar?" tanya Ino sedikit terkejut. "Tapi.. Eh.. Ini terlalu indah! Apa gakpapa?"

"Ya! Atau kau lebih suka kalau aku yang menyimpan lukisan dengan dirimu sebagai modelnya ini?" ucap Sai sambil mengangkat lukisan yang tidak terlalu besar tersebut dan menyerahkannya pada Ino.

Ino tersenyum sambil menerima lukisan tersebut. "Arigatou!"

"Sebagai gantinya…"

o-o-o-o-o

Cukup! Shikamaru tidak mau melihatnya lagi!

Apa-apaan itu? Apa-apaan si Ino? Hanya karena sebuah lukisan, ia mau begitu saja didekati oleh Sai! Dan adegan terakhir itu…

Saat Sai mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Ino…

Tidak! Shikamaru tidak mau melihatnya!

Katakan saja dia pengecut atau apapun, Shikamaru tidak akan peduli!

"Cih! Lebih baik aku langsung pulang ke rumah dan tidur!" gerutunya sambil menuruni tangga satu demi satu. Tapi begitu sampai di tempat di mana sang jam kuno kokoh berdiri, Shikamaru malah terdiam.

Pikirannya mulai melayang-layang.

"Heh, jadi tipe cowok yang disukai Ino seperti itu?" ujar batinnya.

Kesal akan pemikiran itu, Shikamaru menendang sedikit tembok pembatas tangga yang ada di dekatnya.

TIK.

"Tapi aku nggak punya hak untuk marah kan?" ratapnya, sedikit frustrasi. "Aku bukan siapa-siapanya!"

TIK.

"Sial! Padahal aku sengaja menahan diri agar aku tetap bisa di sampingnya…"

TIK.

"Tapi kalau begini…"

TENG! TENG!

Shikamaru sedikit tersentak saat mendengar bunyi dentang jam yang ada di sebelah kirinya. Sekejab saja kepalanya menengok ke arah jam yang mulai menunjukkan keanehan dengan memutar jarum jam-nya searah putarannya yang biasa, namun dengan kecepatan yang luar biasa.

Tentu saja pemuda jenius itu langsung mengernyitkan alisnya dan mulai membuat bermacam-macam analisis tentang jam yang rusak dan sebagainya. Namun, otaknya yang memang dipenuhi logika itu belum sampai pada pemikiran bahwa jam di depannya ini sedang mencoba menerbangkannya ke suatu masa yang berbeda dengan masa seharusnya ia berada.

Shikamaru akhirnya hanya bisa mengangkat alisnya sebelah saat jam itu mulai berhenti menunjukkan keanehannya. Ia kemudian bergumam pelan soal kemungkinan korslet sementara yang dialami jam tersebut. Tapi toh akhirnya jam itu tidak lagi menarik perhatiannya.

Ia hanya ingin segera pulang.

Tapi belum sempat ia turun lebih jauh, matanya kini beradu pandang dengan mata seorang wanita yang berusia sekitar 25-26 tahun yang menggunakan kemeja putih gading dan rok ungu sekitar 5 cm di atas lutut. Wanita yang semula hendak melangkah naik itu malah terdiam di salah satu anak tangga dengan yang tampak menganga. Sementara, otak Shikamaru sendiri mulai berputar keras untuk bisa mengenali siapa wanita cantik berambut pirang tersebut.

Rambut pirang dengan model high ponytail dan poni yang sedikit menutupi mata kanannya.

Mata aquamarine.

Postur tubuh dan wajahnya itu…

Tidak mungkin!

"Ino?" seru Shikamaru dengan tatapan yang kini tidak kalah kagetnya dengan wajah wanita di depannya.

"S-Shikamaru?" ujar wanita itu sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. "Bagaimana bisa?"

Shikamaru mengerjab-ngerjabkan matanya sebelum ia kemudian menggeleng dan memijit dahinya sedikit.

"Sepertinya penglihatanku mulai bermasalah."

Tapi apa pendengarannya juga ikut bermasalah karena ia mendengar.

"Ino-Sensei! Mata ashita!" seru seorang gadis berseragam sambil melambaikan tangan ke arah wanita berambut pirang tersebut.

"A-ah! Hai'! Hati-hati pulangnya!" ujar Ino sambil menengok ke arah bawah dan melambaikan tangannya sekilas. Setelah itu, ia kembali mengalihkan pandangannya pada pemuda yang masih tampak belum bisa menerima apa yang tengah terjadi.

"Jadi… Kau benar-benar Shikamaru?" tanya wanita itu sambil mengamati Shikamaru dari atas sampai ke bawah. "Kenapa kau menciut?"

"Sebentar!" ujar Shikamaru sambil mengangkat sebelah tangannya. "Aku yang menciut atau kau yang membesar?"

Tak pelak lagi, kali ini giliran wanita itu yang mengerjab-ngerjabkan matanya.

"Kau yang menciut!" ujar wanita itu tegas.

"Ck!" decak Shikamaru sedikit sebal.

Tapi kemudian, wanita itu tampak mencuri-curi pandang ke arah benda yang ada di belakang Shikamaru. Ia kemudian tampak menepuk tangannya dengan riang sebelum menarik tangan Shikamaru dan membawa pemuda itu ke atas.

"Ikut aku!"

"He-hei!"

Wanita itu, Ino dengan perawakan seperti wanita berusia 25 tahun, mengabaikan protes Shikamaru dan terus saja menyeret pemuda itu ke suatu ruangan di lantai 2 yang Shikamaru kenali sebagai ruang praktek masak.

"Nah, di sini kita bisa bicara dengan tenang!" ujar wanita itu lagi sambil melepaskan lengan Shikamaru. "Langsung aja ya!" sambung wanita itu lagi dengan ekspresi yang tampak riang dan keingintahuan yang jelas terlihat.

"Kau datang dari masa lalu kan? Jadi legenda jam itu benar?" tanyanya bertubi-tubi.

"Hah?"

"Benar kan?" ujar wanita itu lagi dengan penekanan kata yang seolah hendak memojokkan Shikamaru.

Shikamaru menggeleng.

"Aku nggak mengerti maksudmu!" jawabnya sinis. "Sudahlah! Aku mau pulang! Sepertinya aku butuh istirahat!"

"Yakin nih?" tanya wanita itu saat melihat Shikamaru sudah mulai melangkah ke luar ruangan praktek masak tersebut. Wanita itu pun akhirnya mengikuti Shikamaru yang mulai mencoba mengumpulkan ketenangannya dan berharap agar ia segera bangun dari mimpi anehnya ini.

Wanita itu hanya mendampingi Shikamaru dalam diam. Hanya sesekali ia berseru menyampaikan sampai jumpa pada beberapa siswa yang bahkan tidak pernah dilihat Shikamaru. Perlahan, Shikamaru mulai merasa bahwa perkataan wanita itu benar. Bahwa ia sudah terlempar ke masa depan.

Tapi…

Shikamaru masih menolak untuk percaya. Seandainya ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Gedung Konoha High School yang terlihat lebih megah di luarnya. Jalanan di depan sekolah itu pun tampak berbeda. Tidak mungkin kan manusia mengubah gedung dan pemandangan ini hanya dalam waktu beberapa jam? Pasalnya, waktu Shikamaru dan Ino berangkat ke sekolah ini pagi hari, semua masih tampak normal dan seperti biasa.

Melihat keanehan itu, Shikamaru akhirnya hanya bisa terdiam di depan gerbang Konoha High School. Perlahan, kepalanya pun kembali menoleh pada wanita yang tengah berdiri di belakangnya.

Wanita itu kemudian tersenyum.

"Sudah kubilang, lebih baik kita bicarakan di ruang praktek masak!"

o-o-o-o-o

"Hahaha! Sudah kuduga! Kau memang Shikamaru!" ujar wanita itu tampak senang. Kini ia sudah mengambil suatu posisi yang nyaman di atas sebuah kursi tinggi di ruang praktek masak. "Kau pasti nggak percaya semudah itu kan?"

"Tentu saja! Ini di luar logika!"

"Tapi lihat dirimu!" tukas wanita itu lagi. "Di mana kau berada sekarang?"

Wanita itu menyeringai sambil memangku wajahnya dengan sebelah tangan yang bertumpu pada meja.

Shikamaru yang masih menolak untuk duduk mulai tampak berpikir keras. Tapi mendadak, ia mendekati sebuah kursi dengan meja di depannya. Ia meletakkan tasnya sembarangan dan kemudian naik ke atas kursi itu.

Lalu katanya, "Ini cuma mimpi! Sekarang aku akan tidur dan begitu aku terbangun, aku nggak akan melihatmu lagi!"

"Silakan!" jawab wanita itu sambil menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyum geli yang terlihat jelas.

1 menit.

10 menit.

30 menit.

1 jam.

"Sudah bangun?"

Shikamaru membulatkan matanya saat melihat wanita berambut pirang itu masih ada di hadapannya. Ia mengucek matanya dengan tidak sabar. Tapi percuma, sosok itu belum juga menghilang.

"Kubawakan sesuatu yang mungkin bisa membuatmu percaya!"

Shikamaru melihat ke benda yang dibawa oleh wanita itu. Sebuah kalender. Kalender dengan tahun yang menunjukkan angka 10 tahun kemudian dari masa yang seharusnya ia tinggali.

Akhirnya, Shikamaru hanya bisa menggaruk kepalanya dengan pasrah.

"Oke! Kalau begitu, kenapa aku bisa terlempar sampai ke sini? Bagaimana caranya?"

"Tau?" jawab wanita itu sambil meletakkan kembali kalender tersebut di atas meja. "Dugaanku sih berkaitan dengan legenda jam yang sudah kuceritakan padamu itu! Tapi kau nggak percaya kan?"

"Baik, baik! Anggap saja aku percaya," ujar Shikamaru kemudian. "Kalau gitu, kenapa sampai jam itu membawaku ke sini?"

"Justru aku yang mau tahu! Katanya jam itu nggak akan bereaksi kalau nggak ada sesuatu! Jadi, pasti ada sesuatu dalam dirimu! Apa yang terjadi?" tanya wanita itu lagi.

Oke, dari cara bicaranya dan kebawelannya serta sifatnya yang percaya dengan hal-hal di luar logika seperti ramalan dan sejenisnya, Shikamaru kini benar-benar yakin kalau wanita ini memang benar adalah Ino. Ino sepuluh tahun kemudian tepatnya.

Shikamaru menggumamkan 'mendokuse' sembari mengangkat bahunya.

"Aku sendiri nggak tahu kenapa aku bisa berada di sini!"

"Wah?" ujar Ino dewasa sambil memainkan sebuah bolpoin di tangannya. "Nggak tahu atau nggak mau mikirin?"

Shikamaru menatap Ino dewasa itu dengan alis yang sedikit mengernyit. Tapi akhirnya ia hanya bisa menghela nafas.

"Aku benar-benar nggak tahu!"

Sekali ini, Ino yang memasang wajah bingung. Tapi ia tidak kehabisan akal.

"Kalau begitu, coba kau ceritakan saat terakhir yang kau ingat di masamu? Hari dan tanggal berapa, ada kejadian apa sebelum kau bertemu denganku?" tanyanya panjang lebar. "Mungkin aku bisa sedikit membantu?"

Dengan malas, Shikamaru menjawab pertanyaan hari dan tanggal. Namun, untuk kejadian yang terakhir dialaminya sebelum ia terlempar ke masa depan, Shikamaru memilih untuk diam. Tentu, mana mungkin ia mengakui pada wanita di depannya bahwa ia baru saja mengikuti sosok wanita itu di masa lalunya karena ia ingin tahu apa yang wanita itu lakukan dengan si pria putih pucat!

"Jadi? Ada apa?" desak wanita itu lagi setelah ia selesai menuliskan sesuatu di atas sebuah kertas kecil.

"Nggak ada apa-apa," jawab Shikamaru berbohong.

Wanita itu tampak cemberut sebelum melemparkan tatapan menyelidik pada Shikamaru.

"Benar?"

"Kalaupun ada, apa perlu aku katakan padamu?"

"Hei? Barangkali saja aku bisa membantu memecahkan masalahmu?" ujar wanita itu lagi dengan nada seolah ia tidak ingin dibantah. "Memang kau nggak ingin segera pulang ke masamu?"

"Entahlah," jawab Shikamaru terdengar sedikit ogah-ogahan.

"Ck! Pemalasmu ini nggak bisa sembuh apa?" ujar wanita itu lagi sambil menusuk-nusukkan ujung bolpoinnya yang tumpul ke dahi Shikamaru.

Dengan gerakan lambat, Shikamaru menyingkirkan bolpoin itu dari dahinya.

Tapi setelah ia melakukan itu, mendadak, Shikamaru menyadari keberadaan sebuah cincin yang melingkari jari manis tangan kanan Ino versi dewasa tersebut.

Cincin… Pernikahan?

"Jadi kau sudah menikah?" tanya Shikamaru dengan tatapan yang masih terpaku ke arah cincin.

"Ng?"

Ino mengangkat tangannya dan melihat ke arah cincinnya. "Ini? Yah.. Begitulah…"

Nyaris saja Shikamaru kelepasan dan menanyakan nama suami wanita itu. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin membuat wanita itu berpikiran macam-macam terhadapnya.

"Kau nggak mau nanya siapa yang jadi suamiku?"

"Apa aku perlu tahu?" tanya Shikamaru kemudian dalam intonasi datar, berupaya menyembunyikan rasa ketertarikannya.

"Nggak harus," jawab Ino singkat sambil tersenyum kecut.

Melihat ekspresi wanita itu yang sedikit tidak enak, Shikamaru hanya bisa menghela nafas kembali sebelum bertanya, "Oke! Siapa suamimu?"

Mendadak, wanita itu malah menyeringai. Lalu dengan jahilnya, wanita itu malah menjawab, "Rahasia!"

"Cih! Mendokuse!"

Ino tertawa saat mendengarkan Shikamaru mengucapkan kata-kata favoritnya tersebut. Tapi mendadak, tawa itu berhenti seketika. Ruang praktek masak itu pun dilanda keheningan sesaat. Shikamaru mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan wanita yang ada di hadapannya ini. Tapi itu tidak perlu, karena wanita itu akan segera mengutarakan apa yang ia pikirkan.

"Hei, Shikamaru!"

"Hn?"

"Apa pendapatmu, tentang aku? Tentang Yamanaka Ino?"

"Kenapa kau menanyakan itu tiba-tiba?"

"Hanya ingin tahu," jawab wanita itu lagi sambil mengangkat bahunya sedikit.

Shikamaru kembali terdiam selama beberapa saat. Ia enggan menjawab pertanyaan itu. Tapi entah kenapa, ia merasa harus mengatakannya. Mengatakan pada wanita bernama Ino yang ada di hadapannya.

"Kau.. bawel!"

"Ukh!"

"Dan kau juga.. cewek bodoh yang dapat dibujuk dengan lukisan!" ujar Shikamaru menumpahkan perasaan yang sedari tadi sedikit banyak mengganjalnya, mengganjal hati dan pikirannya.

"Hei? Apa maksudmu?"

"Kalau kau bertanya apa yang kuingat sebelum bertemu denganmu, sekarang akan kujelaskan. Aku melihatmu dan Sai hampir berciuman di ruang klub seni!" ujar Shikamaru lagi tanpa bisa ditahan kali ini.

"Apa? Kapan a…"

Wanita itu memutuskan kata-katanya mendadak. Ia kemudian tampak berpikir sehingga mengundang rasa ingin tahu Shikamaru.

"Apa?" tanya Shikamaru kemudian.

"Nggak jadi. Lanjutkan dulu ceritamu!"

Entah ke berapa kalinya Shikamaru menggumamkan kata-kata favoritnya hari itu.

"Singkatnya, kau dan pria pucat itu berciuman nggak lama setelah ia memberikan sebuah lukisan padamu!"

"Lalu? Kau nggak melakukan apapun?"

"Untuk apa? Aku…"

"Aku ingat sekarang!" ujar wanita itu sambil menutup bolpoinnya. "Kau benar! Aku memang berciuman dengan Sai hari itu! Nggak kusangka kau melihatnya! Kau membuntutiku ya?"

Sekejab saja, Shikamaru merasa posisinya kurang menguntungkan. Ia tampak salah tingkah dan tidak berani memandang wajah wanita itu. Salah memang, karena ia sudah menceritakan yang tidak seharusnya ia ceritakan. Padahal awalnya ia berhasil menahan diri untuk tidak berkata apa-apa. Kenapa mendadak ia jadi lepas kontrol seperti itu?

Ino dewasa itu terdiam sesaat sebelum ia terkikik geli. Bagaimana tidak? Di hadapannya kini ada seorang Nara Shikamaru muda yang tampak merona setelah ia berhasil memojokkannya. Wanita itu kemudian menyangga pipinya dengan sebelah tangan.

"Ne, Shikamaru! Kau menyukaiku ya?"

Dalam sekejab, rona di wajah Shikamaru semakin menebal. Ia tidak sanggup berkata-kata, apalagi memandang wanita di hadapannya.

"Akui sajalah?"

"Jangan sembarangan bicara! Mendokuse!" jawab Shikamaru seraya berusaha mendapatkan ketenangannya kembali.

Ino dewasa mengangkat sebelah kakinya dan menumpangkannya di kaki yang lain. Ia kemudian tersenyum simpul sebelum berkata.

"Kau pengecut ya? Segitu sulitkah mengutarakan perasaanmu?"

"Kurasa itu bukan urusanmu!"

"Urusanku! Karena aku menyukaimu!"

Kali ini, mata hitam Shikamaru tampak membesar mendengar pernyataan cinta itu. Ya, Shikamaru tidak salah dengar. Wanita di depannya ini baru saja mengatakan bahwa ia menyukainya.

"Tapi itu dulu!"

Shikamaru menyipitkan matanya.

"Kau mengerti maksudku?" ujar Ino dewasa itu sambil memicingkan matanya. Wanita itu kemudian mengangkat tangannya dan memperhatikan cincin berwarna keemasan di jari manisnya dengan seksama. Tentu saja pergerakannya yang mencolok itu membuat Shikamaru mengikuti arah pandangnya.

"Ini…" ujar Ino dewasa lagi itu dengan suara yang perlahan. "Adalah cincin pernikahanku dengan…"

Belum sempat wanita itu menyelesaikan kata-katanya, Shikamaru sudah keluar dari ruangan itu dengan sedikit panik. Ia bahkan melupakan tasnya dan meninggalkannya begitu saja seolah tas itu tidak ada arti untuknya. Ia berlari sampai ia berada di depan jam kuno yang katanya telah membawanya sampai ke sini.

Dengan kedua tangannya, ia kemudian mencengkram sisi kiri dan kanan jam tersebut.

"Jangan.. Jangan biarkan aku terlambat! Kumohon!" pinta Shikamaru.

Tidak ada reaksi.

Shikamaru memejamkan matanya dan menundukkan wajahnya hingga kepalanya nyaris bersentuhan dengan jam tersebut.

"Kumohon…"

.

.

.

"Shikamaru! Kau ketinggalan tasmu!" ujar Ino dewasa tampak panik. Ia baru saja menyadari keberadaan tas itu beberapa saat setelah Shikamaru keluar dari ruang praktek masak itu. Tapi bukan Shikamaru kecil yang ia temukan sedang berada di depan jam kuno itu.

"Shika…?"

Pria itu menengok ke arah Ino dewasa. Pria dengan model rambut yang tidak berubah sejak mudanya itu kemudian berkata, "Sudah selesai kan mengajarnya?"

Ino mengangguk kaku.

"Ada apa?" tanya Shikamaru versi dewasa tersebut sambil menaiki tangga ke arah Ino. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.

Ino masih menerjab-ngerjab sebentar sebelum ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Ah! Kau pasti tidak akan percaya, Shika!"

Shikamaru dewasa itu mengernyitkan alisnya.

Ino mengabaikan tatapan kebingungan Shikamaru dan langsung melanjutkan perkataannya dengan riang, "Ngomong-ngomong, kau tau kan kalau dulu aku menyukaimu?"

Tentu saja Shikamaru semakin kebingungan dibuatnya.

"Dulu?" tanya pria yang saat itu memakai setelan jas berwarna beige yang senada dengan warna celana panjangnya.

Tanpa peringatan sebelumnya, Ino kemudian menghambur ke pelukan pria itu setelah ia meletakkan tas yang bukan miliknya itu di lantai. Tentu saja pria itu langsung mengeluarkan kedua tangannya dari saku celananya untuk menahan tubuh sang gadis blonde, memperlihatkan sebuah cincin berwarna keemasan yang sedikit berkilau di jari manis tangan kanannya.

"Ya," jawab Ino berbisik. "Dulu! Kata lampau!"

"Kalau begitu sekarang?" tanya Shikamaru sambil mengecup pipi wanita itu.

"Sekarang aku sangat menyukaimu! Mencintaimu!"

Ino terkekeh sendiri dengan jawabannya. Shikamaru-pun hanya bisa menghela nafas maklum. Bagaimanapun, bukan cuma sekali saja kan Ino menunjukkan gelagat aneh yang penuh rahasia?

"Dan kau tau, Shika? Kurasa aku sudah berhasil membantu diriku di masa lalu dengan membuatmu salah paham! Dengan begitu kau pasti akan segera mengakuinya!"

"Hah?"

"A~h! Menyenangkan sekali!" lanjut Ino tanpa menggubris keheranan pria yang tengah dipeluknya tersebut.

Sekali lagi, Shikamaru dewasa itu hanya bisa memasang ekspresi wajah kebingungan menghadapi wanita yang sekarang menyandang nama Nara itu.

"Semoga dia nggak jadi stres karena beban mengajar yang terlalu berat. Mendokuse!"

Demikianlah doa Shikamaru dewasa tanpa tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.

o-o-o-o-o

Shikamaru memandang ke sekelilingnya dengan curiga. Ia baru saja mendengar dentang bel yang sama seperti saat sebelum ia terlempar ke masa depan.

Apa artinya ia sudah kembali ke masa di mana seharusnya ia berada?

Shikamaru kemudian melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju ke ruang klub kesenian. Baru kali ini wajahnya terlihat panik. Biasanya ekspresi yang ditunjukkan pemuda ini sangat terbatas dan hanya bergantian antara ekspresi malas, ngantuk, dan bosan.

Tapi orang bisa berubah kan?

Tidak semuanya memang, tapi perubahan itu pasti ada.

Dan waktu adalah kekuatan terbesar yang bisa memaksa seseorang untuk berubah.

"Ino?" panggil Shikamaru sambil menggeser pintu ruang klub seni.

Betapa terkejutnya Shikamaru karena ternyata yang ada di ruangan itu cuma si seniman berkulit pucat –Sai.

"Oh, Nara-san!" sapa Sai, seperti biasa, sambil tersenyum.

"Mana Ino?"

"Apa kau berharap aku akan memberitahukannya padamu?" jawab Sai sambil memberikan tatapan menantang.

"Kau.." jawab Shikamaru sedikit geram.

"Kurasa kau sudah menyadarinya, Nara-san. Aku juga menyukai Ino! Jadi…"

"Ah!" ujar Shikamaru sinis. "Aku nggak ada keperluan dengan perasaanmu!"

Sai tersenyum kecut saat perkataannya dipotong begitu saja oleh Shikamaru.

"Begitu? Kalau begitu kenapa kau mencarinya?" ujar Sai akhirnya.

"Itu bukan urusanmu!" jawab Shikamaru mulai kehilangan kesabaran. "Sudahlah! Kalau kau nggak mau memberitahukannya, akan kucari sendiri! Maaf sudah mengganggumu!"

"Kurasa dia ke atap sekolah!" ujar Sai tepat sesaat setelah Shikamaru membalikkan badannya. Akibat perkataan barusan, Shikamaru jadi menghentikan langkahnya dan kembali menghadap ke arah Sai. Seniman itu kemudian menambahkan, "Dia bilang dia mau mencarimu!"

Shikamaru memasang pandangan penuh tanya pada teman satu kelasnya itu. Walaupun ia tidak suka pada temannya yang satu itu, tetap saja pemuda berkulit pucat itu punya suatu informasi yang tidak diketahui Shikamaru. Dan tidak ada salahnya ia mengorek sedikit informasi lagi dari si seniman pengobral senyum itu.

"Kenapa?" tanya Sai saat melihat ekspresi penuh tanya dari Shikamaru. "Atap sekolah itu tempat kesukaanmu kan? Karena dari sana kau bisa memandang awan dengan bebas?"

"Dari mana kau tahu?"

Sai tersenyum.

"Kau tidak bodoh sampai harus memaksaku untuk menjawab pertanyaanmu kan?" tanya Sai lagi.

Shikamaru menatap Sai sebentar lagi sebelum berkata, "Mendokuse!"

Setelahnya, Shikamaru melesat pergi, mengabaikan protes kecil dari Sai yang bukannya menerima ucapan 'terima kasih' malah mendapat ucapan 'merepotkan'. Tapi tidak lama kemudian, pemuda berambut ebony itu hanya bisa tersenyum dan merebahkan dirinya di atas sebuah sofa yang empuk.

Helaan nafas yang berat terdengar sebelum ia bergumam.

"Padahal sudah ditolak, tapi aku aku malah membantunya! Apa aku terlalu baik ya?"

o-o-o-o-o

Shikamaru sudah selangkah lagi sebelum ia mencapai pintu menuju atap sekolah. Tepat saat ia hendak memutar gagangnya, terlebih dahulu pintu tersebut menjeblak terbuka dan menghantam wajah Shikamaru dengan sukses.

"Eh? Eh? Shikaa!" teriak seorang gadis berambut pirang yang panik saat melihat ada seseorang yang kini tengah berjongkok sambil menutupi wajahnya. "Gomen! Da-daijoubu ka? Shika?"

Mendadak, pemuda satu itu berdiri dan kemudian menarik gadis bernama Ino itu kembali ke atap sekolah. Pintu pun kembali ditutupnya hingga kini Ino hanya bisa ternganga. Apalagi saat Shikamaru balik menghadap ke arahnya.

"Ada yang mau kutanyakan padamu," ujar Shikamaru cepat sebelum Ino sempat berkata apa-apa. Perlahan, Shikamaru menyingkirkan tangan yang semula masih ia pakai untuk menutupi wajahnya yang terkena hantaman pintu.

Melihat tatapan serius Shikamaru, Ino malah merasa merinding.

"A-apa sih, Shika? Kau tampak aneh!"

"Apa benar kau berciuman dengan Sai tadi?" tanya Shikamaru yang tidak mengacuhkan pernyataan Ino sebelumnya.

Mata aquamarine gadis itu membulat dengan sempurna dan bibir merah mudanya tampak menjauh satu sama lain. Jelas terlihat bahwa gadis itu terkejut. Tapi begitu ia menyadari bahwa pemuda di depannya ini tengah menanti jawabannya, ia akhirnya menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Siapa yang mengatakan itu hah? Itu fitnah! Fitnah tau!" ujar Ino setengah berteriak. Mau tidak mau, Shikamaru sedikit menutup telinganya dengan jari-jari telunjuknya.

Wajah Ino di hadapannya kini sudah merah padam. Entah karena merasa malu atau marah. Yang manapun, Shikamaru tidak berniat mempermasalahkannya.

"Lalu? Apa yang ia lakukan padamu tadi?" tanya Shikamaru setelah ia melihat bahwa Ino sudah terdiam dan sedikit bergerak dengan gelisah.

"Kapan?"

"Setelah ia memberikan lukisan padamu?"

Sekali lagi, semburat merah memenuhi wajah oval sempurna gadis itu.

"I-itu bukan urusanmu, Shika!" jawab Ino sambil menyelipkan sebagian rambutnya yang keluar ke belakang telinganya.

"Urusanku! Karena aku menyukaimu!" ujar Shikamaru cepat dengan menggunakan kata-kata yang sama persis dengan yang diucapkan Ino dewasa padanya.

Kini rahasia terdalam Shikamaru terungkap sudah. Dan spontan saja, pengakuan itu membuat Ino mundur selangkah ke belakang dengan wajah yang sudah sangat, sangat memerah. Tangan gadis itu kemudian terangkat keduanya hanya untuk ia diamkan di depan mulutnya yang tampak enggan untuk menutup.

"K-kau apa?" tanya Ino, berusaha memastikan kalau ia tidak salah dengar.

Shikamaru menghela nafas dengan tidak sabar.

"Aku menyukaimu! Nah, sekarang jawab pertanyaanku! Apa yang ia lakukan padamu tadi?"

"A-ano.. Sai-kun bilang dia menyukaiku dan bertanya apa aku mau menjadi pacarnya atau tidak," jawab Ino yang akhirnya berkata dengan jujur.

"Cuma itu? Kulihat ia mendekatkan wajahnya padamu!"

"Iya! Dia mendekatkan wajahnya hanya untuk membisikkan hal itu padaku! Nggak ada hal lain yang dia lakukan!" seru Ino cepat. "Apalagi berciuman? Nggak! Nggak mungkin! Mana mungkin kubiarkan dia melakukannya!"

"Begitu?" jawab Shikamaru dengan nada malas yang kembali mendominasi.

Ino menatap Shikamaru sejenak sebelum ia mengangguk dengan perlahan. Rona merah di wajahnya sudah berkurang. Tapi tetap saja, jejak-jejak berwarna merah muda masih terlihat cukup jelas.

"Kalau begitu," ujar Shikamaru lagi sambil mendekat ke arah Ino, "bagaimana denganku?"

"Eh?"

Sebelah tangan Shikamaru kini sudah merangkul pinggang Ino dan sebelah tangannya yang lain sedikit mengangkat dagu gadis itu.

"Apa kau akan membiarkanku melakukannya?"

Ino menatap langsung ke dalam mata onyx Shikamaru. Shikamaru balik memandangnya lekat-lekat. Kemudian, seolah Ino sudah menjawabnya dengan kata-kata, Shikamaru perlahan semakin mendekatkan wajahnya dengan gadis itu. Ino sendiri hanya bisa memejamkan mata dengan sebelah tangannya menyentuh tangan Shikamaru yang menyangga pinggangnya.

Tidak lama, bibir keduanya pun bersentuhan. Sekali itu, Ino melingkarkan tangannya ke leher Shikamaru dan Shikamaru memindahkan sebelah tangannya yang semula memegang dagu Ino ke pinggang gadis itu, seperti tangannya yang lain.

Cukup lama mereka saling mengunci bibir satu sama lainnya hingga kebutuhan akan oksigen menghentikan aktivitas mereka. Keduanya langsung mengambil nafas sesaat sebelum mata keduanya kembali bertemu.

"Aku menyukaimu, Shika!" ujar Ino kemudian sembari melayangkan sebuah senyuman manis pada pemuda di hadapannya.

"Ya," jawab Shikamaru sambil melepaskan pinggang Ino. "Kau membiarkanku menciumku. Kurasa itu sudah jadi jawaban!"

Ino tertawa kecil.

"Setidaknya," ujar Shikamaru lagi sambil menggenggam tangan Ino, "Aku nggak terlambat kan?"

Jika di masa depan, Shikamaru-lah yang dibuat bingung dengan tingkah Ino, di masa ini, Ino-lah yang dibuat bingung dengan tingkah Shikamaru.

"Apa maksudmu, Shikamaru?" tanya Ino ketika mereka berdua sudah berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan.

Shikamaru hanya terdiam dengan seulas senyum tipis. Ino masih dibuat bingung terutama ketika Shikamaru mendadak berhenti setelah mereka berada di depan sebuah jam kuno yang seolah sudah jadi maskot bagian High School tersebut.

"Maksudku," ujar Shikamaru mendadak, "aku berhasil memastikan bahwa cincin yang melingkar di jari manismu adalah milikku!"

"Hah?"

"Walaupun imbalannya adalah tasku beserta isinya sih! Haaa~h! Mendokuse!" ujar Shikamaru yang mendadak teringat akan nasib tasnya. Dan ia pun jadi menghela nafas setelahnya.

Tetap saja, jawaban itu tidak bisa menjelaskan apapun bagi Ino. Yang ada, gadis itu semakin bertambah bingung dengan keanehan yang ditunjukkan pemuda berambut model nanas tersebut.

Karena itu, spontan saja gadis belia itu berdoa dalam hatinya.

"Kami-sama! Jangan buat Shikamaru jadi gila karena terlalu senang bisa mendapatkan cintaku! Jenius ditambah gila itu mengerikan!"

Tentu saja doa itu dikabulkan. Shikamaru tetap normal tanpa mengurangi kejeniusannya sedikit pun. Setidaknya Ino boleh bernafas lega atas fakta itu meskipun ia tetap tidak bisa mengerti kata-kata yang diucapkan Shikamaru sebelumnya.

Yah. Ino bukan tidak bisa mengerti. Ia hanya belum mengerti.

Belum saatnya ia mengerti.

Pada saatnya nanti, gadis berambut blonde itu akan paham dengan sendirinya.

Kemudian, ia akan tersenyum, tidak hanya pada pemuda nanas itu, tapi juga pada jam kuno yang akan tetap setia untuk berdiri tegak di tempatnya.

Untuk sekarang ini, biarkan saja jam itu yang mengetahui segalanya.

Dan kita cukup menikmati dentangan bel-nya yang berbunyi dengan riang.

*** FIN***


Yahoo! Chapter 3 is done! It's ShikaIno as you can see! *nyengir* Dan beda dari dua pair terdahulu, kali ini Shika terlempar ke masa depan seorang diri! Bosen kan ke masa lalu mulu?XD

Dan yah… Saya tau, Shika-nya agak OOC kan? Atau malah kebangetan? Mungkin Ino-nya juga. Aaah! Padahal saya udah berusaha sebisa mungkin biar chara-nya nggak terlalu OOC. Jadi sekali lagi, kalau minna-san ada yang terganggu dengan ke-OOC-an, saya minta maaf! T.T

Ngomong-ngomong, ini dah pair ke-3 lho! Artinya… Tinggal 2 pair lagi! Perlukah saya beritahukan siapa pair selanjutnya? Nggak usah? Yaudah, tunggu chapter berikutnya aja yah? Hahaha!

Yaaahh, seperti sebelumnya, saya masih butuh komentar minna-san yang terhormat untuk fic saya yang satu ini. Moga-moga sih fic ini dan terutama chapter ini nggak mengecewakan yah :3

Review, onegai?

Masukan dan kritik membangun amat sangat diharapkan. ;)

~Thanks for reading!~