Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.

Genre : Romance/Supernatural

Last chapter, before an epilogue. XD

Sebelumnya, kaya biasa, saya mu nanggepin beberapa ripiu yang udah masuk ya.

#el Cierto-nee : thanks nee ^^v

#Kara 'Lluvia' Couleurs : ckckck, ternyata ini asal mulanya dirimu memanggilku Susan ya? Trus lama-lama jadi Sus. =.=a

#Naohiro Tsujiai : hahaha. Iya, ni last chapter, tapi saya kepikiran buat bikin epilogue-nya walaupun nggak bakal panjang. Narusaku? Saya udah sempet buat khusus NaruSaku, judulnya 'Mine' n 'Back to December'. Silakan dibaca..*telat nggak promosinya?^^v

#Miya-hime Nakashinki : hahaha. Yup2. Thanks buat masukannya. :D:D:D

#Cendy Hoseki : yuppie. Nih chapter NejiTen-nya ^^

#uchihyuu nagisa : err…ni romantic nggak ya? Selamat membaca n ditunggu kesan-kesannya.

#NamiZuka Min-min : thanks dan maaf yah, nggak bisa apdet kilat. DX tapi moga-moga chapter ini memuaskan yah

#uchan aja lah : makasih buat review-nya, uchan ^^ ohyah, soal itachi, dia inget hinata juga cuma samar-samar kok. Walaupun lebih fresh, dia kan baru ketemu sekali. Jadi nggak ampe inget banget-banget kok, cuma samar-samar aja. Hehe. Kalau korban time slip itu pada sharing… yah pasti pada percaya-percaya aja, kan sama-sama mengalami :p

#Masahiro Night Seiran : ehehe, thanks yah buat review-nya. Iya sih, nyadar juga, si hina-chan terlalu tenang dan pasrah. Nggak tau, kenapa tuh anak ampe pasrah gitu. XD dan soal boneka, ya tetep punya satu lah? Nggak bakal jadi dua. Kan dia baru dapet bonekanya sekarang. Dulu dia nggak pernah dapet. Nah, bingung kan? Sama, saya juga. Hahaha. Soal NaruSaku, di epilogue deh yah. Tapi nggak janji panjang-panjang. Hehe.

#Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura : ehehehe. NS-nya yang 'Mine' ama 'Back to December' dulu yah? Anyway, thanks buat review-nya. Silakan, NejiTen. :D

#Nara Aiko : thanks buat review-nya, aiko-chan. Wah, kalau nggak bisa ketebak berarti saya sukses yah bikin ceritanya? :P

#Shu '2022' DarkWorld : ehehe, makasih buat review-nya. ^^

#Shaniechan : thanks buat review-nya. Silakan, NejiTen-nya. Hehe.

#Hana Arny : kyaa! Makasih! *blushing* SasuHina? Ditampung dulu yah. Belum dapet ide lagi buat mereka sih. Paling nti nyempil lagi dikit di epilogue. Hehe…

#Nerine 'Jie : wah, senangnya kamu suka ama fic ini. Thank you , maaf yah update-nya lama ^^v

#Sabaku Tema-chan : ehehe, ndapapa. Jadi, sekarang dah kembali dari hiatus-kah? Dan.. Yup! Ini NejiTen. :D

#NaraUchiha'malfoy : hehehe, glad u like it. And thanks for the fave ^^

#Yuki Tsukushi : moga-moga yang chap kali ini nggak mengecewakan yaaah…hahahay! Tapi kalau gaje-gaje dikit nggak apa-apa kan? *grin*

#Uzumaki Vengeance : dari awal sasuke udah suka hinata, nggak ada orang lain lagi.

#iRma : eh? SasuHina? Kapan-kapan lagi yah. Sekarang chap-nya buat NejiTen. Hehe.

#Sugar Princess71 : gakpapa, su-chan, makasih dah baca n review fic ini yah. Ohyah, mau bikin sasotema juga? Ayo bikin! Saya juga dah kepikiran bikin fic dengan pair mereka lagi. ^^v

#Kataokafidy : huney…congratz dah baca chapter 3! Ayo, ayo, tinggal chapter 4 dan 5 :P

Yosh, selesai juga balesin ripiu2nya. Sebelumnya, maaf juga yah kalau update-an buat chapter ini cukup lama. Terlalu asik dengan fic-fic lain, maafkan saya. *membungkuk*

Ohyah, sebelumnya, mau warning dulu, di chapter kali ini banyak pergantian scene yang cukup cepat. Alasannya? Silakan dibaca sendiri. :P

Ah, pokoknya, it's time for…

Reading the story! Enjoy!XD


Konoha Gakuen – Perguruan Konoha.

Sebuah perguruan terkenal yang terdiri dari Kindergarten sampai dengan High School. Sekolah terkemuka yang sudah berdiri puluhan tahun. Banyak orangtua lulusan sekolah itu yang kemudian menyekolahkan anak-anaknya di almamater mereka tersebut. Benar-benar suatu sekolah yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya.

Tapi…

Apa kau tahu bahwa di bagian High School dari perguruan ini memiliki suatu legenda yang cukup unik?

Tidak?

Kalau begitu biar kuceritakan sedikit padamu.

Di tengah-tengah tangga antara lantai 1 dan 2, terdapat sebuat jam kuno. Jam tersebut berbentuk sebuah jam tinggi dengan pemberat yang mengayun-ayun di bawahnya. Konon, jam tersebut tetap berjalan walaupun tidak disetel puluhan tahun. Yah, soal itu sih bisa jadi bohong. Dan memang bukan itu legenda yang kumaksud.

Yang ingin kusampaikan adalah…

Saat kau mendengar jam tersebut mendadak berdetak dengan keras yang diikuti suara lonceng yang berdentang dua kali, maka saat itulah kau akan mengalami suatu perjalanan waktu yang tak terduga.

Kau percaya?

.

.

.

TIME ~The Reason~

NejiTen : The Reason Why They Should Respect The Difference

Hyuuga Neji, salah satu penerus keluarga Hyuuga, yang kini telah duduk di bangku kelas 3 Senior High School, adalah mantan ketua OSIS yang kini sibuk belajar untuk menghadapi ujian kelulusan. Neji yang masih merupakan kakak sepupu dari Hyuuga Hinata dan Hyuuga Hanabi, diadopsi oleh keluarga kedua gadis itu semenjak orangtuanya sendiri meninggal dalam kecelakaan belasan tahun silam. Neji yang berambut coklat panjang ini memiliki sifat tenang di samping keinginannya untuk selalu ingin menang dalam berbagai bidang.

Maito Tenten, anak dari salah seorang guru di Konoha Senior High School, merupakan siswi kelas 3 yang juga akan menghadapi ujian kelulusan. Ia merupakan mantan anggota klub 'Playing with Full Spirit at Anytime and Anywhere!' bersama Sabaku Temari dan Nara Shikamaru. Dan karena kelas 3 sudah dilarang aktif ikut kegiatan klub apapun, Tenten sekarang layaknya siswi biasa yang mau menghadapi ujian, hidup dipenuhi jadwal belajar dan kursus. Meskipun demikian, gadis dengan rambut cepol dua ini selalu bersemangat dalam aktivitas apapun yang ia lakukan. Motto-nya yang terkenal – yang diinspirasi oleh Tou-san-nya sendiri – adalah 'Nikmati masa mudamu dengan semangat membara!'.

Dua anak manusia, dua latar belakang yang berbeda, dua sifat yang berbeda. Siapa yang menyangka kalau keduanya bisa terlibat dalam hubungan kekasih? Tidak ada yang mengira. Keduanya pun tidak.

Interaksi antara keduanya bermulai saat Tenten dan Temari – yang saat itu masih tergabung dalam klub tidak jelas itu – bermaksud melancarkan protes pada Neji yang waktu itu menjabat sebagai Ketua OSIS. Bagaimana keduanya tidak protes kalau klub mereka terancam akan dibubarkan secara paksa?

Singkat cerita, pada akhirnya, Tenten dan Temari pun berhasil mempertahankan klub mereka. Dari situlah, hubungan Tenten dan Neji berawal. Tenten mulai berkeliaran di sekitar Neji dan membuat pemuda itu pusing dengan semangatnya yang seolah tidak pernah habis. Dan walaupun Neji sempat mengusir gadis itu, tapi tetap saja gadis itu akan datang kembali padanya.

Puncaknya adalah saat malam pentas kebudayaan sekolah mereka. Neji yang hanya menunggu dari ruang OSIS-nya sambil memandang ke arah kembang api yang dipasang, mendadak dikejutkan oleh kedatangan Tenten. Gadis berambut coklat itu menggerai rambutnya yang biasa dicepol dua dan mengenakan baju yukata yang tampak manis.

Tanpa diduga Neji, Tenten pun mengungkapkan perasaannya pada pemuda itu dengan nada riang. Dan entah karena angin apa, Neji pun menerima perasaan gadis itu. Ia kemudian memeluk Tenten dan mengecup puncak kepalanya.

Dan sekarang, jika diingat-ingat, hanya itulah hal teromantis yang pernah dilakukan Neji pada Tenten. Selanjutnya, hubungan keduanya berjalan sebagaimana biasanya, tidak terlihat layaknya hubungan kekasih, walaupun bisa dilihat bahwa Neji akan bersikap lebih protektif dan lebih lembut bila ia ada di sekitar Tenten.

o-o-o-o-o

"Neji, ini gimana sih?" tanya Tenten sambil menunjuk ke arah buku yang tengah dipegangnya.

"Hn. Pake rumus yang ini," jawab Neji sambil menunjuk ke buku lain yang memuat bermacam-macam rumus yang sudah ditulis sendiri oleh pemuda berambut coklat panjang itu.

"OOO!" Tenten membuka mulutnya, membentuk huruf 'o'. Setelah itu, ia langsung menulis kembali di bukunya. Tapi tidak lama kemudian, pensilnya sudah ia gunakan untuk menggaruk kepalanya. "Kalau yang ini?"

Sekali lagi, Neji menjelaskan cara yang harus digunakan gadis itu. Tenten mengangguk puas sebelum ia dengan semangat mengerjakan seluruh persoalan yang ada di bukunya. Neji sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat kekasihnya itu.

"Duh, mesranya~…" ejek seseorang dari arah luar kelas mereka. "Jam istirahat dipakai buat belajar bareng!"

Tenten menengok ke arah asal suara dan menemukan… Temari yang sedang menyeringai ke arah mereka.

"Tema-chan!" seru Tenten sambil beranjak bangkit dari kursinya dan menghampiri Temari.

"Hai, yang udah mau ngehadepin ujian!"

"Apa sih?" jawab Tenten sambil menyeringai dan menonjok pelan lengan Temari. "Ngomong-ngomong, ada angin apa?"

"Emang nggak boleh yah kalau dateng maen ke sini?"

"Yah, bukan gitu juga sih," jawab Tenten sambil menyentuh tembok di sebelah pintu kelas.

"Tapi yah… aku memang dateng bukan tanpa tujuan kok." Temari merogoh ke dalam isi tas selempangnya. "Nih! Khusus untukmu!" ujar Temari sambil menyerahkan sesuatu yang berupa kotak kecil berwarna kecoklatan dengan pita emas tertempel di pojok kanan atas. Sekali lihat, Tenten langsung mengetahui kalau kotak tipis itu adalah undangan. Dan nama yang tertera di undangan tersebut…

"KAU BENAR-BENAR AKAN SEGERA MENIKAAHHH?" teriak Tenten kemudian dengan mata terbelalak yang bergantian memandangi Temari dan kotak di tangannya.

Temari hanya memamerkan gigi-giginya. Meskipun demikian, terlihat semburat merah di kedua pipi gadis berkuncir empat itu. Tenten pun langsung menerjang Temari, memeluk gadis tersebut dengan erat.

"Oh, Tema-chan! Selamat ya!"

"Hahaha. Iya, iya!" ujar Temari sambil melepaskan dirinya dari pelukan maut Tenten. Ia kemudian melirik ke arah Neji yang tampak cuek. "Ajak pacarmu ya?"

"Pasti dong!" Tenten ikut melihat ke arah Neji. "Neji, kau pasti datang kan ya?"

Pemuda berambut coklat panjang itu hanya memberikan tatapan galak dengan alis yang mengernyit sebelum ia kembali melihat ke arah bukunya.

"Nah, dia pasti datang!" jawab Tenten yang seenaknya menyimpulkan.

Temari hanya melipat tangannya di depan dada sambil menggelengkan kepala. Ia pun kemudian pamit karena katanya hendak mencari Shikamaru dan yang lain sebelum ia menyebarkan undangan ke ruang guru. Tenten hanya mengangguk dan sekali lagi menyerukan janji bahwa ia akan datang ke pesta pernikahan sahabatnya itu.

Setelah itu, Tenten langsung melangkah lagi ke tempat duduknya yang berhadap-hadapan dengan Neji. Tenten kemudian menyangga wajahnya dengan kedua tangan lalu tersenyum-senyum dengan pandangan yang sudah tidak fokus.

"Apa yang kau pikirkan?" ujar sebuah suara berat yang sedikit mengejutkan Tenten dari lamunannya.

"Menikah. Indah yaa…"

Neji hanya mendengus. Tenten kemudian melanjutkan sambil tersenyum ke arah Neji.

"Bagaimana kalau habis lulus kita menikah saja, Neji?" ujar Tenten, melamar kekasihnya tersebut. Tentu saja, ucapan itu dikatakannya dengan nada riang dan perasaan ringan.

Namun, yang dilamar langsung saja menatap tajam ke arah Tenten sambil berkata, "Jangan berkata sembarangan!"

"Kok sembarangan sih?"

"Menikah itu bukan hal yang gampang tahu! Banyak yang harus dipikirkan. Tidak semudah membalik telapak tangan. Dan masalah yang ada tidak akan jadi masalah ringan antar anak-anak," jelas Neji panjang lebar.

"Tapi orangtuaku menikah setelah mereka lulus dan mereka baik-baik saja tuh sampai sekarang?" jawab Tenten sambil tertawa kecil.

"Jangan samakan aku dengan orangtuamu yang selalu kelewat menggampangkan masalah itu. Apa-apa diukur dengan semangat masa muda. Mana bisa aku mengikutinya?" ujar Neji sinis sambil menatap ke arah buku pelajaran.

Awalnya, Tenten terdiam. Tapi tak lama kemudian, alis gadis itu berkerut.

"Apa maksudmu berkata begitu?"

"Sudah jelas kan? Terutama Tou-san-mu. Selalu ribut dengan ucapan jiwa masa muda yang entah apa maksudnya. Memaksakan orang-orang agar semangat sepertinya. Heran, tidak semua orang bisa menggampangkan masalah seperti dia kan? Ada kalanya orang ingin diam dan tenang, tidak meledak-ledak sepertinya."

BRAK!

Tenten memukul mejanya di hadapannya, membuat Neji mendongak ke arahnya.

"Apa sih masalahmu? Kenapa malah menjelekkan Tou-san-ku? Padahal kau nggak tahu apa-apa soal Tou-san!"

Neji menghela napas. "Semua murid bahkan tahu seperti apa Tou-san-mu!"

"Oh, yah. Memang Tou-san selalu bersemangat sampai dikenal semua murid. Beda dengan keluarga Hyuuga yang selalu bersembunyi dalam rumah besar kebanggaannya, bersikap kaku dan ketus pada semua orang, hobi meremehkan orang sehingga selalu terkucil dari pergaulan kecuali yang bersifat bisnis. Begitu kan, Hyuuga Neji?" balas Tenten sambil melipat tangannya di depan dada.

"Kurasa kau harus memperhatikan kata-katamu, Maito Tenten!" balas Neji tenang, meskipun tak kalah sengit.

"Ya, aku memperhatikannya. Nggak seperti kau!"

Neji mengernyitkan alisnya. Wajahnya sudah tampak kesal. Tapi bukan Neji namanya kalau ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia tidak akan memperlihatkan sikap penuh energi seperti itu. Sebagai gantinya, ia hanya membuang muka, kembali menatap bukunya, sambil berkata.

"Terserah kau saja!"

Merasa kesal dengan sikap Neji itu, Tenten langsung mengambil bukunya dan kemudian melemparnya ke arah Neji yang refleks menahannya dengan lengan.

"Sebelum menghina ajaran orangtuaku, sebaiknya kau juga membenahi ajaran orangtuamu! Toh kau nggak lebih baik dariku!"

Setelah mengatakan itu, Tenten pun berlalu, keluar dari ruang kelasnya.

Neji menggeram.

"Kau sendiri… tidak tahu apa-apa soal keluarga Hyuuga!"

o-o-o-o-o

Kesal, Tenten berjalan dengan setengah menghentakkan kakinya. Membuat orang yang melihatnya sampai memasang mata padanya untuk beberapa saat. Tidak terkecuali dengan Hinata dan Sakura yang sedang berbincang-bincang di koridor depan kelas mereka.

"T-Tenten-nee?" panggil Hinata saat melihat gadis bercepol dua itu menuruni tangga. Refleks, Tenten berhenti melangkah dan segera menolehkan kepala ke asal empunya suara.

"Hinata-chan," panggilnya sambil bergerak ke arah Hinata dan Sakura. "Sakura-chan," panggilnya lagi setelah mengenali si gadis berambut pink.

"A-ada apa?" tanya Hinata saat Tenten sudah berdiri di hadapan mereka. "K-kau terlihat kesal."

"Huh! Salahkan saudaramu itu, Hina-chan!" jawab Tenten sambil berkacak pinggang. "Bisa-bisanya dia menghina Tou-san-ku!"

Hinata pun langsung melempar pandang dengan Sakura.

"M-menghina Gai-Sensei? Neji-nii?"

Tenten mengangguk.

"Memang apa katanya?" Kali ini Sakura yang berujar.

"Yah… dia bilang semacam… Tou-san selalu bersemangat tanpa lihat situasi dan kondisi! Dia juga bilang Tou-san itu orang yang selalu menggampangkan masalah."

"E-eh? Neji-nii bilang s-seperti itu?"

"Aku menangkapnya seperti itu," jawab Tenten sambil mengangkat bahunya.

"M-mungkin, Neji-nii nggak bermaksud begitu…"

Tenten menatap Hinata sebelum ia menghela napas. "Aku sampai lupa kalau kau juga Hyuuga, Hina-chan. Dan sudah pasti kau membela Neji yah?"

"T-tidak. Bukan begitu, Tenten-nee. Aku…"

"Ah, sudahlah!" jawab Tenten sambil mengangkat sebelah tangannya. "Aku mau ke kantin dulu. Sampai nanti, Hina-chan, Sakura-chan."

Tenten pun segera menggerakkan kakinya. Baru ia sampai di lantai tempat sebuah jam kuno berdiri, ia langsung mendengar suara detak jarum yang begitu keras sampai ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh.

Setelah beberapa saat terdiam terpaku, jam itu pun berdentang dua kali sebelum berputar secara abnormal berbalik arah dari yang seharusnya. Tenten semakin melongok melihat kejadian tersebut. Ia bahkan sampai enggan bergerak dari tempatnya untuk melihat apa yang terjadi.

Dan suara tawa kemudian mengalihkan perhatiannya.

o-o-o-o-o

Neji melihat ke arah tempat duduk gadis itu. Gadis yang baru saja marah-marah padanya. Gadis yang baru saja membentaknya karena ia mengejek ayahnya. Secara logis, tentu saja tidak ada seorang anak pun yang senang saat orangtuanya diejek. Dan reaksi Tenten yang marah sebagai tanggapan atas kata-katanya adalah hal yang wajar.

Tapi…

Apa iya gadis itu marah sampai-sampai merasa perlu untuk bolos pelajaran?

Itu di luar kewajaran.

Ya, saat ini, pelajaran sudah akan segera dimulai kembali. Bel sudah berdentang, siswa-siswi sudah kembali ke kelas mereka masing-masing. Tapi tidak halnya dengan Tenten. Gadis itu belum kembali. Dan ini membuat Neji mengerutkan dahinya semakin dalam. Tenten bukan orang yang suka membolos. Dia adalah gadis dengan semangat tinggi untuk mengikuti segala aktivitas termasuk belajar. Dia tidak akan sengaja membolos hanya karena ia sedang merasa tidak mood untuk itu. Neji tahu. Karenanya, ia merasa sedikit heran.

Ia melirik ke arah pintu kelas sebelum menggerakkan bola mata pearl-nya ke arah depan, dimana sosok guru yang akan mengajar mereka belum tampak. Entah didorong oleh apa, Neji pun bangkit berdiri dari kursinya, beranjak keluar segera sebelum gurunya datang dan menghentikan.

Sambil menerka-nerka, ia pun menggerakkan kakinya ke beberapa tempat yang paling mungkin didatangi kekasihnya. Ke atap sekolah, ke ruang klub, ke kantin, ke ruang kesehatan…

Nihil.

Ia tidak bisa menemukan gadis itu di mana pun.

"Ke mana dia?" gumam Neji sambil menyusuri tangga, untuk kembali ke kelasnya.

Baru sampai di tangga tempat jam kuno itu berdiri, ia bisa melihat seorang pria di ujung tangga, berambut bob menempel pada kepala, beralis tebal dan hidung yang agak besar. Pria itu juga melihat balik ke arahnya.

"Ah! Neji! Sedang apa kau di situ? Bel sudah berbunyi! Jangan sia-siakan masa mudamu untuk membolos pelajaran ya? Hahaha!" Pria itu kemudian berlalu begitu saja sebelum memberikan Neji sebuah jempol dan seringai yang memperlihatkan gigi putih berkilau andalannya.

Melihat pria itu, Neji malah mendecih, teringat pertengkarannya dengan anak perempuan sang pria, yang merupakan pacarnya sendiri. Ia tidak pernah terbiasa dengan ayah gadis itu. Orang yang berisik, terlalu optimis, dan terlalu terbuka pada orang lain. Ia tidak akan pernah terbiasa.

Setidaknya, itu yang ia pikirkan sebelum ia mendengar suara detik jam yang mendadak mengeras. Kepalanya kemudian menengok ke arah jam yang mendadak saja berdentang keras. Keanehan selanjutnya yang dilihat Neji adalah bahwa jarum jam tersebut kemudian berputar cepat ke arah yang berlawanan dengan arah seharusnya jarum jam berputar.

Neji hanya bisa menatap bingung pada fenomena yang baru saja terjadi di depan matanya. Meskipun demikian, ia tidak bisa berlama-lama diam karena pelajaran tentu sudah dimulai. Walaupun dapat dipastikan bahwa ia akan terlambat masuk ke kelasnya, itu lebih baik dibanding ia tidak mengikuti pelajaran sama sekali.

Membuang jauh-jauh keanehan mengenai jam tersebut dari benaknya, Neji kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju kelas…

Saat ia tiba-tiba melihat sesuatu yang malah menghentikan langkahnya.

o-o-o-o-o

Tenten hanya bisa menganga saat dua orang yang mengeluarkan suara tawa tadi lewat di sampingnya. Dengan ekspresi penuh tanda tanya, gadis bercepol dua itu pun menggerakkan arah pandangnya, mengikuti kedua orang yang baru lewat tersebut.

"Nggak mungkin," gumamnya, "barusan… Tou-san dan Ji-san-nya Neji?"

Merasa bahwa penglihatannya mungkin mulai sedikit bermasalah, Tenten pun secepat kilat mengikuti kedua orang yang sudah berlalu begitu saja. Sesampainya di lantai bawah, Tenten langsung mendapati bahwa kedua orang tersebut hendak bergerak ke arah kantin. Dalam langkah yang terbilang halus, ia pun membuntuti keduanya.

Begitu ia sampai di kantin, Tenten hanya bisa menahan napas terkejut. Pertama, ia tidak salah lihat, kedua orang pemuda tadi memang Hizashi dan Hiashi, Tou-san dan Ji-san Neji. Kedua, ia melihat keduanya tengah dikerubungi banyak orang dan tertawa-tawa dengan lepasnya. Dan ketiga, yang membuat Tenten semakin tidak bisa menutup mulutnya adalah fakta bahwa Hizashi – Tou-san Neji, masih hidup dan bahkan bisa tertawa seperti itu.

"Ini nggak mungkin. Cuma mimpi kan? Cuma mimpi… coba aku…IIIKKHH! Sakiiit!" serunya sesaat setelah ia mencubit tangannya sendiri sekuat tenaga.

'Jadi ini bukan mimpi?' batinnya berkata. 'Tapi… mana mungkin? Tou-san Neji kan sudah meninggal! Lagipula… eh…'

Tenten melihat sekelilingnya. Saat itu, sadarlah ia kalau tidak satu pun orang yang ada di situ yang ia kenal. Jika Tenten melihat ke cermin, ia bisa melihat, betapa pucat wajahnya sekarang.

'Jangan-jangan aku…' Tenten menelan ludah. 'Terlempar ke masa lalu?'

o-o-o-o-o

Neji mengerjabkan matanya saat melihat seorang pemuda berambut hitam legam, dengan alis yang tebal tampak berjalan tertunduk lesu di lorong menuju kelasnya. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum ia menggeser pintu ruang kelasnya.

Neji yang masih terpaku hanya bisa terdiam sampai suara sorak sorai dan riuh rendah terdengar dari ruang kelas yang dimasuki pemuda tadi. Tak lama, pemuda itu kembali keluar dan berlari tanpa mempedulikan Neji yang masih memasang mata padanya. Samar-samar, Neji bisa melihat, setetes butir bening keluar dari mata sipit pemuda tadi.

"Tidak mungkin…" gumam Neji.

Neji pun kemudian mengikuti pemuda itu, dengan berlari, berusaha mengejarnya agar tidak kehilangan jejak. Neji tidak tahu mengapa, ia tidak mengerti alasannya, tapi ia merasa, ia harus mengikuti pemuda tersebut. Dan sekarang, di sinilah ia berada, di bawah bayang-bayang sebuah tembok, mengamati seorang pemuda yang tengah meringkuk, memeluk kakinya, menangis.

'Tapi dia… bukankah dia Gai-Sensei?' batin Neji. 'Apa-apaan dia? Menangis seperti itu?'

"Aku selalu menjadi orang gagal yang tidak diinginkan, hiks…" Dengan sesenggukan, pemuda itu terus dan terus mengeluh. Ia bahkan sampai tidak menyadari kalau Neji terus mengamatinya, memasang ekspresi kebingungannya.

Seolah tersadar akan sesuatu, Neji kemudian melihat ke sekelilingnya. Pemandangan yang cukup familiar, tapi berbeda. Ini sekolahnya, tapi juga bukan. Orang itu Gai-Sensei, tapi dia bukan Sensei yang ia kenal.

Neji menyentuh dahinya dengan tangan yang terkepal.

'Apa ini yang namanya time-slip?'

o-o-o-o-o

Masih dengan kebingungannya, Tenten terduduk di salah satu kursi kantin. Seorang diri, di lingkungan asing yang dianggapnya sebagai merupakan masa lalu. Kepalanya tertunduk lesu dengan kedua tangan menyangga di dahi. Sesekali, gadis berambut coklat itu mencuri pandang ke arah dua orang Hyuuga yang tampak begitu akrab dengan banyak orang. Tidak ada kata-kata sinis, tidak ada kata-kata ketus, tidak ada kewaspadaan yang biasanya terpancar dari keluarga Hyuuga –kecuali Hinata mungkin. Keduanya tertawa lepas, seakan semua hal di sekitar mereka terus membuat mereka senang.

"Heh. Hyuuga itu hanya dua orang yang bodoh kan?"

Begitu telinga Tenten menangkap pembicaraan tersebut, spontan kepalanya langsung menengok ke arah dimana segerombolan pemuda dan pemudi tengah duduk di suatu meja kantin. Gerombolan tersebut memasang mata meremehkan dengan seringai menyebalkan ke arah dimana Hiashi dan Hizashi duduk.

Penasaran, Tenten semakin menajamkan pendengarannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.

"Dekati saja. Begitu dia percaya padamu, dia akan melakukan apa saja untukmu! Hah! Mereka bahkan tidak ragu-ragu mengeluarkan banyak uang. Dasar orang kaya!"

"Tapi bagus kan? Kita bisa mengeruk keuntungan dari kekayaan mereka!"

"Mereka boleh jenius dalam pelajaran, tapi soal beginian, mereka begitu bodoh sampai gampang ditipu!"

'Apa-apaan orang-orang ini?' batin Tenten saat ia mulai menangkap pembicaraan orang-orang dalam satu meja tersebut.

"Mereka bahkan nggak kunjung sadar kalau orang-orang itu juga hanya menjilat mereka!"

"Yeah! Kalau begitu, sekarang aku juga akan menjilat Tuan Muda Hyuuga tersebut. Wish me luck, guys!"

Tenten sudah hendak membentak mereka, andai ia tidak ingat dimana ia berada sekarang. Karenanya, ia hanya bisa membeku di tempat duduknya saat seseorang dalam gerombolan itu melewatinya dan mendatangi tempat duduk Hyuuga bersaudara tersebut.

Sesuai rencana, kawanan gerombolan tersebut mulai menjilat, memuji, mengelukkan Hiashi dan Hizashi yang tampak percaya begitu saja. Sekejab saja, Tenten langsung merasa muak. Ia ingin langsung menyemprot orang-orang munafik tersebut.

Tapi apa dayanya?

Ia tidak punya bukti kan?

Lagipula, jika ia melakukan sesuatu, tidakkah masa lalu akan berubah? Dan jika masa lalu berubah, bukankah masa depan tempatnya tinggal juga akan mengalami perubahan?

Mengingat hal itu, Tenten hanya bisa mengatur napasnya kembali, mengontrol emosi yang sudah hampir meluap. Tapi, berada di tempat itu lebih lama, bersama kumpulan orang munafik hanya akan membuat Tenten tidak bisa menahan emosinya lebih lama. Karena itulah, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu, ke suatu tempat yang sepi.

Di taman belakang adalah tempat yang sesuai dengan kebutuhan Tenten saat itu. Gadis itu pun mengambil tempatnya dan terduduk dengan nyaman di bawah suatu pohon rindang. Ia kemudian menghela napas panjang dengan jari-jarinya yang mulai memijat pelipisnya.

Kepalanya kini sudah menyandar pada batang pohon di belakangnya.

"Kenapa bisa begini?" ujar Tenten sambil menutupi matanya dengan sebelah lengannya. "Benarkah ini di masa lalu?"

Tidak ada jawaban.

"Kalau benar demikian, kenapa aku sampai bisa terlempar ke sini?"

Tetap hening.

"… Neji…"

Mendadak, nama itu terlintas dalam benak Tenten hingga bibir mungilnya mengumandangkan nama tersebut. Dengan sebelah tangan yang ia letakkan di dadanya, pikiran Tenten mulai bergelut ke seputar keadaan kekasihnya.

'Sedang apa Neji sekarang?'

'Apa dia mencariku?'

'Ah. Tapi aku sedang marah tadi. Dia juga. Apa dia bahkan menyadari kalau aku hilang?'

'Tentu saja kan? Kalau aku nggak kembali ke kelas, harusnya dia mencariku!'

Tenten kemudian menyingkirkan tangan yang menghalangi pandangannya. Kepalanya kemudian mendongak ke arah langit dimana beberapa burung tampak terbang dengan anggunnya. Tenten membetulkan posisi duduknya sedikit.

"Neji," gumamnya kemudian. "Aku bertemu dengan Tou-san-mu yang masih hidup. Ji-san-mu juga."

Mendadak sebuah senyum terlintas di wajah Tenten.

"Keduanya tampak berbeda ya? Penuh senyuman. Padahal kau kaku seperti itu…" Gadis itu kemudian mengepalkan tangannya dan meletakkan di depan mulut saat ia tertawa kecil mengingat perbedaan antara kekasihnya dengan orangtua, juga paman dari kekasihnya tersebut. Tapi tawa itu seketika menghilang saat ia mengingat kejadian lain yang membuatnya kesal.

"Tapi di sini banyak orang munafik, Neji. Nggak seharusnya Tou-san dan Ji-san-mu itu bersikap mudah percaya seperti itu!"

Menghirup napas panjang-panjang, Tenten kemudian berdiri.

"Aku akan melakukan sesuatu. Setidaknya, Hiashi-Jisan dan Hizashi-Jisan harus tahu bahwa teman-temannya itu bukan orang baik-baik!"

o-o-o-o-o

Neji masih terpaku di tempatnya. Sebelah lengannya sedikit bersandar pada tembok gedung di sebelahnya sementara kedua tangannya terlipat rapi di depan dada. Ia terus menunggu dan menunggu, hingga pemuda yang mirip Sensei-nya itu berhenti menangis.

Dilihatnya pemuda itu kemudian menghapus sisa-sisa air matanya dan kemudian menggosok bagian bawah hidungya dengan lengan. Selajutnya, pemuda itu pun berdiri.

"Aku… mau pulang saja…" keluhnya perlahan. "Di sekolah juga, nggak ada hal yang menyenangkan."

Neji mengerutkan dahinya.

Inikah orang yang selalu menjeritkan semangat masa muda? Kenapa ia tampak loyo dan tidak berenergi seperti ini?

"Huuuff…" Pemuda itu menghela napas. "Padahal aku sudah berjanji agar lebih bersemangat. Tapi ternyata memang nggak bisa. Ayame pasti kecewa denganku sekarang…"

Neji menegakkan posisi berdirinya.

'Ayame? Teuchi Ayame? Bukankah itu Kaa-san Tenten?'

Mendadak, sebuah senyum sedih terlintas di wajah pemuda berambut hitam. Dengan kepala tertunduk, ia kemudian berjalan menuju ke arah gerbang sekolah. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Neji hanya bisa memandangi punggung yang tampak rapuh itu, sampai tiba-tiba suara teriakan keras mengagetkan Neji, bahkan berhasil menghentikan langkah si pemuda berambut hitam tersebut.

"GAAAIII!"

"A-Ayame-chan?"

Gadis berambut coklat panjang itu kemudian berdiri di hadapan si pemuda yang ternyata benar-benar bernama Gai.

"Kau mau ke mana?"

"A-aku…"

"Kau mau kabur lagi, heh?"

Gai tidak bisa menjawab apa-apa, kepalanya hanya tertunduk. Ayame melihatnya dengan alis yang berkerut. Selanjutnya, gadis itu menghela napas.

"Kau itu… apa-apaan tampangmu yang menyedihkan itu? Ayolah, Gai! Masa kau mau menyia-nyiakan masa mudamu dengan bersikap murung begitu? Semangatlah!"

Dengan suara pelan, pemuda itu menjawab, "Ayame-chan… nggak pernah berada dalam posisiku. Kau… nggak ngerti…"

"Hah? Kau ngomong apa sih?"

"Kau yang selalu dikelilingi teman, mana mengerti perasaanku yang selalu bahan ejekan? Apanya yang masa muda menyenangkan! Coba saja kau jadi aku, tiap hari diejek, dipermalukan, dijadikan bahan olok-olok! Apa kau masih bisa tetap bersemangat?"

Neji semakin memasang telinganya. Sedikit demi sedikit, otak jeniusnya mulai bisa menangkap apa yang terjadi. Saat itulah, mendadak Ayame memasang tatapan sinis yang membuat Gai kaku dalam sekejab.

"Begitu? Menurutku, kau jadi bahan olok-olok karena sikapmu sendiri!" Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya. "Kalau kau merasa nggak bisa menghadapinya, yaudah, teruskan saja hidupmu yang menyedihkan itu!"

Setelah mengatakan itu, Ayame berbalik. "Oh iya," ujarnya mendadak sambil menengok sedikit ke arah Gai, "mungkin aku memang nggak tahu rasanya diolok, karena aku nggak akan membiarkan diriku diolok. Akulah yang berusaha agar aku bisa berbaur dengan anak-anak itu. Dan… bodoh kalau kau menghabiskan masa-masa muda yang menyenangkan ini dengan sikap pesimismu yang berlebihan itu!"

Dengan itu, Ayame pun akhirnya benar-benar pergi, masuk kembali ke dalam gedung sekolah, meninggalkan Gai yang semakin tertunduk lesu dan Neji yang masih saja mengawasi keadaan.

Pemuda berambut coklat panjang itu kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah langit.

"Ten… siapa yang pernah mengira kalau Tou-san-mu itu pernah bersikap pesimis seperti ini?"

Neji kembali mengarahkan pandangannya ke arah Gai yang masih berdiam dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Neji pun jadi merasakan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu. Walaupun untuk sekarang, dia bingung mengenai apa yang harus ia lakukan dan hanya bisa bergerak mengikuti instingnya, ke arah Gai yang masih terdiam tak bergerak.

o-o-o-o-o

Setelah bertanya pada beberapa orang, Tenten akhirnya berhasil mengetahui loker milik Hizashi dan Hiashi. Sambil menengok ke kanan kirinya, Tenten kemudian membuka loker mereka satu per satu dan memasukkan secarik kertas yang terdapat tulisan tangannya di masing-masing loker.

'Hanya cara ini yang bisa kulakukan agar membuat mereka sedikit lebih waspada.'

Setelah itu, Tenten hanya menunggu sampai bel pulang berbunyi. Hatinya berdegup kencang saat ia melihat sosok Hizashi sampai di lokernya lebih dahulu dibandingkan Hiashi. Pemuda berambut coklat panjang yang mirip kekasihnya tersebut pun menghampiri lokernya dan langsung menemukan surat Tenten begitu pintu lokernya terbuka.

Dari balik loker-loker lain, Tenten mengamati pemuda itu dan perubahan ekspresinya. Bukan pertanda baik. Hizashi malah tampak kesal dan kemudian meremas surat dari Tenten yang bernada memperingatkan.

Baru saja Tenten menghela napas kecewa, mendadak suara lain terdengar menghampiri Hizashi.

"Hai, Hizashi! Mau pulang?"

"Aaa… Hm!" jawab Hizashi sambil menganggukkan kepalanya.

"Kebetulan, kami baru mau ke karaoke, mau ikutan nggak?"

"Tidak, aku… hari ini aku harus pulang cepat," jawab Hizashi sambil tersenyum.

"Begitu… sayang sekali," jawab temannya yang lain. Tiga orang selain Hizashi itu kemudian saling pandang dan berbicara pelan sebelum akhirnya yang seorang kembali membuka mulut.

"Gini, Hizashi, boleh pinjem uang dulu nggak?"

"Eh?"

"Iya, pinjem dulu ya? Nanti kuganti deh? Uang kerja sambilanku belum turun nih," ujar temannya – kalau memang bisa dibilang teman – sambil mengatupkan kedua tangannya, berpose memohon.

"Tapi kau belum mengembalikan hutangmu sebelumnya," jawab Hizashi sambil menyipitkan matanya.

"Nanti deh, sekalian," jawab lawan bicara Hizashi itu lagi, "lagipula, hutangku nggak seberapa kan? Kenapa nggak kau lupakan saja sih? Kita teman kan? Hahaha."

Tenten sudah hendak maju dan menjotos pemuda tidak tahu diri itu saat seseorang sudah mendahuluinya dan memberikan satu tonjokan tepat di wajahnya.

"UAAGHH!" teriak pemuda yang menerima pukulan tersebut.

"Nii-san?"

"Hiashi! Kau apa-apaan?"

"Entahlah. Aku merasa ingin memukul kalian saja!" jawab Hiashi sambil membunyikan jari-jarinya. "Yah, kurasa, kalau kalian bersedia kupukul, aku akan menghapuskan hutang kalian selama ini. Pilih mana?"

"Si-siaal! Dasar orang kaya berengsek! Tunggu aja pembalasan kami!" Dengan itu, ketiga pemuda barusan langsung berlari, meninggalkan Hiashi yang memandang mereka dengan kecut dan Hizashi yang hanya bisa menunduk.

"… Kenapa Nii-san langsung memukul mereka?"

Hiashi memandang Hizashi yang masih tidak mau melihat ke arahnya. "Aku juga… tidak tahu…"

"Tapi mereka temanku! Bagaimana kalau mereka tidak mau lagi bicara denganku?"

Hiashi menatap Hizashi yang dua tahun lebih muda darinya itu dengan pandangan yang aneh. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi Hizashi yang menatap marah padanya tampak tidak akan mau mendengarkan.

Selama ini, Hiashi samar-samar sudah menyadari bahwa semua yang mendekati mereka hanya ingin mengeruk keuntungan dari mereka. Bukan cuma Hiashi, Hizashi juga pastinya merasakan hal yang sama. Tidak ada teman yang benar-benar tulus terhadap mereka.

Tapi, keduanya seolah menutup mata. Bagaimanapun, seberapa jahatpun, mereka adalah teman-teman yang pertama kali mereka dapatkan. Sampai Junior High School, keduanya menerima pendidikan home-schooling sebagai penerus keluarga Hyuuga. Guru-guru yang didatangkan pun bukan guru sembarangan. Merasa bosan dengan situasi yang seperti itu, Hiashi pun akhirnya meminta, setengah mendesak pada Tou-san mereka agar diberikan kesempatan untuk mengecap pendidikan di sekolah biasa. Beruntung, akhirnya sang Tou-san pun luluh dengan keinginan anak-anaknya.

"Nii-san tahu kan? Mereka adalah teman yang berhasil kita dapatkan setelah membujuk Tou-san untuk membiarkan kita bersekolah seperti anak-anak yang lain."

"Aku tahu!" seru Hiashi sambil meletakkan sebelah tangannya di kepala. Setelah itu, ia melipat tangannya di depan dada dan sambil memandang tajam ke arah Hizashi, "Tapi… dibandingkan mendapat teman seperti itu, aku… lebih baik tetap mendalami home-schooling."

"Nii-san bicara apa?"

"Seperti yang kukatakan tadi, Hizashi! Aku tidak mau lagi menipu diriku! Teman… apanya yang teman kalau mereka hanya berniat mengeruk keuntungan dari kita?"

Hizashi terdiam.

"Kau juga bukan tidak tahu kan, Hizashi? Dari awal kau juga sadar kan?" Hizashi memegang pundak Hiashi. "Mereka bukan teman…"

Dengan kasar, Hizashi kemudian mendepak tangan Hiashi dari bahunya. Kepalanya kembali tertunduk. Saat ini tentunya pemuda itu sedang mengalami pergolakan batin yang cukup kuat. Di satu sisi, ia sadar kalau apa yang dikatakan Aniki-nya adalah suatu kebenaran. 'Teman-teman'-nya bukanlah teman sebenarnya. Mereka hanya ingin mengeruk keuntungan dari keluarga Hyuuga yang terbilang keluarga kaya. Hizashi bukan tidak mengingat, entah berapa kali mereka telah berhutang padanya. Setiap mereka berkumpul pun, selalu Hizashi yang mengeluarkan uang sementara tidak terlihat satupun dari mereka yang keberatan.

Tapi, di satu sisi, walaupun mungkin semua hanyalah kepura-pura-an, Hizashi akhirnya bisa mendapatkan teman sebagaimana yang ia harapkan selama ini. Dan… haruskah ia melepaskan teman-temannya hanya karena ia merasa telah dimanfaatkan oleh mereka?

"A-ano…"

Kedua Hyuuga itu pun akhirnya spontan menengok ke asal suara. Suara yang lembut, suara yang feminim.

"Aku… mungkin aku memang nggak berhak berkata macam-macam. Tapi… kurasa, kalian nggak seharusnya terpaku pada orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kalian," ujar Tenten yang sudah tidak bisa menahan dirinya untuk bersembunyi lebih lama. "Yang seperti itu… sama sekali bukan teman!"

"Kau… siapa kau?" tukas Hizashi sambil memasang tatapan tidak suka karena Tenten mendadak menginterupsi mereka.

"Aku… bukan siapa-siapa. Dan nggak penting juga untuk tahu siapa aku," jawab Tenten tanpa melihat ke arah mereka. "Yang jelas, aku harap kalian nggak berkelahi satu sama lain hanya karena meributkan orang-orang yang nggak pantas kalian ributkan."

Sekali ini, Hiashi dan Hizashi hanya bisa terdiam dan memandang gadis berambut coklat yang dicepol dua tersebut.

"Menurutku juga, nggak ada salahnya jadi orang yang sedikit kaku dan lebih berhati-hati dalam memilih teman. Maksudku… bukan berarti kalian harus menutup diri dari pertemanan, tapi…" Tenten memandang mereka, "kalian bisa memilah-milah, mana yang benar-benar teman kalian dan mana yang bukan. Nggak memilih-milih teman memang bagus, tapi dalam kondisi seperti kalian, kurasa… lebih baik bersikap lebih waspada karena nggak semua orang itu baik."

"Kau…"

"Ah! Tapi yah, kalau kalian sudah menemukan orang yang kalian anggap sebagai teman kalian, tentu saja kalian harus bisa menjaga mereka baik-baik."

Tenten kemudian meletakkan kedua tangannya di belakang. Kepalanya pun kembali ia tundukkan sedikit. Saat ini, selain permasalahan kedua orang Hyuuga di hadapannya, Tenten teringat pada permasalahannya sendiri dengan seorang Hyuuga yang lain. Seolah mendapat pencerahan, mendadak Tenten merasakan suatu keinginan yang kuat, sangat kuat, untuk bisa segera kembali ke masanya sendiri dan menyelesaikan pertengkaran bodoh yang baru saja ia hadapi dengan kekasihnya.

"Hemh… itu saja yang ingin kusampaikan. Terserah kalian mau mendengarkannya atau nggak. Sudah ya! Jaa!"

Tenten pun segera berbalik dan kemudian berlari, meninggalkan kedua kakak beradik Hiashi dan Hizashi yang hanya bisa memandangnya dengan heran.

Tenten sudah melakukan apa yang bisa ia lakukan dengan kedua Hyuuga itu. Terserah mereka mau mendengarnya atau tidak.

Yang jelas, masih ada hal lain yang harus dilakukan Tenten.

Dan ia ingin segera melakukannya.

o-o-o-o-o

"Ng?" seru pemuda bernama Gai itu saat ia melihat Neji mendekat ke arahnya.

Neji memandang pemuda berwajah mengenaskan itu sebelum ia membuang muka ke arah kiri. Gai yang menerima perlakuan seperti itu dari Neji tampak shock dengan mulut yang langsung terbuka lebar dan mata yang terbelalak.

"B-bahkan orang yang nggak kukenal membuang muka setelah melihatku," lirih Gai yang semakin putus asa.

"Aa…" seru Neji yang merasa kelepasan telah membuang muka. Ia pun kembali mengalihkan wajahnya pada Gai. Meringis, Neji menahan dirinya untuk tidak kembali membuang muka saat melihat wajah pesimis sosok masa lalu dari Sensei yang dikenalnya. Bahkan dalam hati, Nei bersyukur karena Tenten lebih mengikuti wajah Kaa-san-nya dan bukan Tou-san-nya. Pemikiran yang cukup jahat sebetulnya.

"Ng…" ujar Neji berusaha berkata-kata.

Gai kembali menatapnya dengan pandangan yang memelas, membuat Neji semakin susah berkata-kata.

'Tenang, Neji. Tenang. Kau harus bisa menghadapinya! Bagaimanapun, mungkin saja dia akan menjadi mer –…'

Pemikiran Neji langsung terpotong begitu saja saat ia menyadari apa yang hampir saja terucapkan oleh batinnya. Wajahnya sedikit merona. Akibatnya, ia pun menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.

"Apa maumu?" ujar Gai usia SMA itu dengan nada yang terdengar lemah. "Kalau kau ingin mengejekku, katakan saja dengan cepat!"

Neji mengerutkan kening sambil menyingkirkan tangannya dari wajahnya. "Kenapa kau malah berpikiran kalau aku akan mengejekmu?"

"Bukankah semua orang seperti itu? Mereka hanya mau mempermainkanku, mengejekku…"

Neji menghela napas. "Entah kenapa, kurasa itu karena kau sendiri yang terlebih dahulu mengeluarkan aura 'ejek aku'!"

"Apa?"

"Seperti kata cewek tadi," ujar Neji sambil melihat ke arah gedung sekolah, "kau sendiri yang membuatnya jadi menyedihkan."

Pemuda Gai itu terdiam.

"Kenapa tidak sekali-sekali kau tunjukkan optimisme-mu? Dengan begitu, aku yakin mereka juga jadi segan mengejekmu."

'Tapi mungkin akan tetap membicarakan diam-diam sih,' batin Neji dengan begitu sinisnya.

"B-benarkah bisa begitu?"

Neji mengangkat bahu. "Kenapa tidak kau coba saja? Cewek tadi juga sudah mengatakannya padamu kan?"

"Aku… apa aku bisa?"

Sekali lagi, Neji mengangkat bahu. "Tunjukkan saja semangat masa mudamu dan buat mereka gentar untuk mengejekmu."

'Mereka pasti merinding dan mundur dengan sukarela,' batin Neji lagi.

Mendadak, Gai pun bangkit berdiri dari keterpurukannya. "Ah… entah kenapa, aku jadi bersemangat. Aku merasa… jadi percaya diri setelah kau mengatakannya."

"Hm…"

"Ya. Aku jadi merasa yakin kalau aku bisa berubah." Gai langsung menatap gedung sekolahnya. "Baik! Akan kucoba!"

Ia pun sudah akan berlari saat tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh! Terima kasih banyak atas nasihatmu, Tuan Tidak Dikenal! Saat kita bertemu lagi, akan kutunjukkan kalau aku tidak lagi tertindas!"

Neji pun tertawa getir dalam hati. Ia sudah melihatnya, bagaimana sosok bersemangat Gai yang tidak akan pernah bisa ditindas lagi akibat optimisme-nya itu. Tapi bagaimanapun, Gai yang bersemangat dan berisik memang jauh lebih baik dibanding Gai yang pesimis dan murung.

Menghela napas, Neji pun memandang ke langit cerah yang berwarna biru dengan hiasan awan putih. Suatu perasaan gundah mendadak menyusup dan terasa menekan dadanya.

"Ten," ujar Neji sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celana panjangnya, "aku jadi ingin bertemu denganmu."

o-o-o-o-o

Tenten berdiri diam, memandang jam kuno aneh yang berdiri tegak di tempatnya.

Neji berdiri diam, memandang jam kuno aneh yang tetap bergeming di tempatnya.

Dua masa yang berbeda, satu tempat yang sama. Satu perasaan dan harapan yang sama.

"Saat itu, aku melihat jam ini menunjukkan keanehan dan setelah itu, tahu-tahu aku melihat Tou-san dan Ji-san Neji," gumam Tenten sambil menyentuh jam kuno yang dilapisi kayu sebagai pelindungnya. "Mungkinkah jam ini yang menyebabkanku terlempar ke sini?"

Neji yang juga berada di depan jam kuno itu, namun di masa yang berbeda dengan Tenten kini memasang matanya baik-baik pada jam kuno di hadapannya.

'Semua keanehan ini terjadi setelah aku melihat keanehan jam ini, memang tidak masuk akal… tapi bagaimana jika jam inilah yang membuatku berada di sini sekarang?' batin Neji sambil menyipitkan matanya. Perlahan, sebelah tangannya pun terulur ke arah jam tersebut.

Tenten sudah memejamkan matanya, berdoa sepenuh hati agar dia bisa dipulangkan ke masanya sekarang.

Neji tetap memandangi jam tersebut dengan seksama, sembari membatinkan keinginannya agar bisa kembali ke masa dimana seharusnya ia berada.

Jam itu masih tidak bereaksi. Tenten memejamkan matanya semakin kuat, Neji menggertakkan giginya semakin keras.

"Kumohon!" ujar keduanya di saat yang bersamaan walaupun keduanya tengah berada di masa yang berbeda. "Aku ingin pulang dan bertemu lagi dengannya!"

Saat itulah, jam mulai memperdengarkan bunyi detaknya dengan semakin kencang. Setelah itu, jam tersebut berdentang dua kali sebelum berputar searah jarum jam dalam kecepatan yang tidak wajar.

Neji yang melihat seluruh kejadian itu hanya bisa membeku di tempatnya sampai ia merasakan sesuatu yang hangat berada di bawah telapak tangannya. Tenten yang belum juga membuka matanya masih saja bertahan pada posisinya saat ia merasakan ada sesuatu yang hangat di atas punggung tangannya.

Perlahan, Tenten membuka matanya. Setelah melihat ada sebuah tangan yang tengah menangkupi tangannya, Tenten pun menggerakkan kepalanya ke arah kanan.

"Selamat datang, Ten," ujar Neji sambil tersenyum.

"Ne-Neji?" Seketika itu wajah Tenten pun langsung memerah. "Ke-Kenapa kau… dan… ah! Jangan-jangan kau juga… terlempar…"

Neji menghentikan kata-kata Tenten dengan kelima jari tangannya yang bebas. Tangan lainnya yang semula menyentuh punggung tangan Tenten kini menggenggam tangan itu dengan lebih erat.

"Aku… ingin minta maaf karena telah mengejek Tou-san-mu. Aku tidak tahu apa-apa soal Tou-san-mu dan aku seenaknya mengata-ngatainya. Aku sungguh rendah. Maafkan aku!" Neji pun menundukkan tubuhnya sedikit ke arah Tenten.

"Ti-tidak. Aku juga… aku juga seenaknya mengatai orang-orang keluarga Hyuuga sebagai orang yang kaku sehingga dikucilkan dari pergaulan! Aku… aku juga minta maaf!" ujar Tenten yang tanpa melihat situasi langsung menundukkan kepalanya hingga… kepalanya dan Neji pun beradu, menimbulkan bunyi yang cukup keras. "Adududuh!" ujar Tenten sambil memegangi dahinya dengan kedua tangan setelah sebelah tangannya dilepas oleh Neji.

"Kh~!" Neji sendiri hanya bisa menggeram pelan sambil memegangi kepalanya dengan sebelah tangan.

"Gomen!" ujar Tenten lagi sambil menundukkan kepalanya berkali-kali dengan sebelah tangan yang masih tertempel di dahinya.

Neji tersenyum simpul sebelum ia menghentikan Tenten dengan memegang tangannya yang menyentuh dahi. Ia pun menjauhkan tangan itu dari dahi Tenten dan kemudian menariknya hingga sang gadis jatuh ke pelukannya.

"Sudahlah. Karena kita juga saling mengejek, anggap saja kita impas," ujar Neji perlahan di dekat telinga Tenten. Tentu saja, hembusan napas serta suara maskulin Neji membuat Tenten semakin berdebar. "Tapi pastikan, kejadian seperti tadi tidak akan lagi terulang untuk kedua kalinya."

Mendengar kata-kata terakhir Neji, meskipun debaran dadanya masih terasa begitu nyata, Tenten pun tertawa kecil.

"Kita nggak bakalan tahu ke depannya gimana," ujar Tenten sambil menyenderkan dahinya ke bagian dada di bawah pundak Neji. "Tapi, kita bisa mengusahakan agar perselisihan yang melibatkan keluarga kita nggak sampai terjadi."

Tenten mendorong Neji sedikit menjauh.

"Bagaimanapun, suatu saat nanti, keluargaku akan menjadi keluargamu dan keluargamu akan menjadi keluargaku kan? Perbedaan yang ada dalam keluarga kita, tidak boleh menjadi penghambat."

Neji membelalakkan mata pearl-nya dan kemudian, dalam gerakan yang sedikit mengindikasikan kalau ia salah tingkah, Neji pun menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Tenten tersenyum kecil saat menyadari rona merah mulai berpendar di kedua pipi kekasihnya.

"Kau tetap seja bisa mengatakan hal itu dengan enteng," ujar Neji nyaris berbisik.

"Aku hanya mengatakan kenyataan, Neji…" jawab Tenten sambil menyeringai. Gadis itu kemudian meletakkan kedua tangannya di masing-masing pipi Neji. Neji sendiri menangkap pergelangan tangan Tenten saat gadis itu sudah berjinjit dan semakin mendekatkan wajahnya.

Baru saja bibir keduanya bersentuhan sekilas, mendadak suara keras membuat mereka memisahkan diri untuk melihat siapa yang baru saja berteriak.

"K-kalian! KALIAN BOLOS PELAJARAN?" teriak – siapa lagi kalau bukan – Tou-san Tenten, Gai-Sensei.

"Ah, gawat," gerutu Neji saat melihat pria berbaju serba hijau itu. Digenggamnya tangan Tenten erat.

"AYO CEPAT KEMBALI KE KELAS, JANGAN GUNAKAN MASA MUDA KALIAN HANYA UNTUK MEMBOLOS! BELAJAR ITU JUGA PENTING LHOOO!" teriak Gai dengan berapi-api, walaupun bukan nada marah yang mendominasi.

Tenten menghela napas sejenak. "Baik Tou-san," jawab Tenten yang sudah hendak menaiki tangga untuk kembali ke kelasnya. Tapi ia pun tertahan oleh tangannya yang masi dipegang oleh Neji.

"Hei, Ten…"

"Ng?"

"Kau pikir aku orang yang kaku kan?" tanya Neji dengan ekspresi yang serius.

Tenten mengernyitkan alisnya. "Memangnya…"

"Tapi sekali-sekali, aku juga ingin mencoba melanggar peraturan!" ujar Neji sambil menyeringai. Ia kemudian mengangkat Tenten, bridal-style.

"Kyaa?"

Gai yang melihat itu langsung cengok di tempatnya. Neji kemudian menengok ke arah Gai.

"Maaf, Sensei. Sekarang aku akan menikmati masa mudaku dengan putri Anda! Dakara… Jaa!"

Dengan itu, Neji langsung melesat, menuruni tangga, meninggalkan Gai yang masih loading sebelum guru berbaju hijau itu mengejar Neji. Namun terlambat, Neji sudah menghilang, meninggalkan gedung sekolah sambil membawa Tenten bersamanya. Teriakan Gai dari arah gedung sekolah yang samar-samar terdengar hanya membuat Neji dan Tenten tertawa kecil karenanya.

Setelah berada cukup jauh dari sekolah, Neji pun menurunkan Tenten. Dan setelahnya, mereka saling tatap sebelum berjalan bergandengan tangan ke mana pun langkah membawa.

Dan sama seperti suara Gai yang makin lama makin terdengar samar, suara bel yang berdentang satu kali itu pun jadi terasa jauh, meskipun masih cukup keras untuk dapat selalu tersimpan dalam hati mereka masing-masing.

Lalu kini, yang tersisa hanyalah kedua orang itu, dalam dunia mereka.

Dunia yang penuh perbedaan.

Namun, asalkan kedua tangan itu masih saling bertautan, perbedaan apapun pasti akan melebur.

Hingga yang dua… menjadi satu.

*** FIN***


Ok, last chapter's done!

NejiTen. Aneh ya? Sebenarnya agak bingung dengan couple ini, entah kenapa ide yang dulu saya pikirkan malah gak gitu cocok, jadi agak diganti plot-nya. Hasilnya, jadi tetep aneh ya? Gomen, minna-san T^T Ngomong-ngomong, tema-nya kali ini berkaitan dengan parents lagi dan pola asuhnya.

Di sini, Neji dan Tenten sama-sama kelempar ke masa lalu, buat liat kenapa orangtua pasangan masing-masing bisa bersikap kayak sekarang. Tapi mereka kelempar ke beda masa, soalnya Gai dan Hiashi-Hizashi itu ceritanya beda angkatan pas SMA-nya. Gai, katakan saja, lebih muda dari Hizashi. Hahaha. Dan… soal Gai yang jadi Tou-san Tenten…. saya cuma bisa ketawa. Bahkan saya menciptakan crack pair lagi, GaiXAyame, meskipun gak terlalu keliatan sih. :P

Setelah chapter ini beres, next chapter adalah epilogue yang gak bakal terlalu panjang. Tapi saya berharap minna-san tetap mau membaca epilogue-nya nanti.

Oke deh, gimana dengan chapter ini menurut minna-san? Saya masih tetap membutuhkan review-nya lho… Jadi…

Review, onegai? :3

Masukan dan kritik membangun amat sangat diharapkan. ;)

~Thanks for reading!~