Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.
Genre : Romance/Supernatural
This is an epilogue for this story.
First of all, I'd like to say many many thanks to all of you, minna-san, who have read, reviewed, faved and alerted the story. Really, without you all, I don't even know what will happen to this fic. So, my greatest appreciation goes to you all. Thank you very much!
Special thanks to those who have reviewed the last chapter : Yuki Tsukushi (tapi sebenernya chapter kemaren tuh chapter terpendek dari 5 chapter yang laen lho? :P), Lullaby Afa (senangnya ada yang bilang GaiXAyame cocok XD *kesian juga sih Ayame* wkwkwk..), Arigatou (silakan, epilogue-nya:D), NaraUchiha'malfoy (maafin kalau chapter sebelumnya kurang seru yaa..DX), Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura (ini epiloguenya, douzooo!), neechan (nee-chaaan…*peluk-peluk nee-chan, hontou ni arigatou buat dukungannya selalu :D), kyu's neli-chan (duh? Porsi SasoTema-nya nggak terlalu banyak yah nih? Hahaha…), Cendy Hoseki (kenapa jadi humor ya? Saya juga nggak ngerti :P), Deidei Rinnepero13 (iya ya, saya nggak masukin itu slogan…XD), uchan (silakan diliat, apa isi epilogue kali ini. tapi maaf kalau ada satu permintaan uchan yang nggak kumasukin, nggak dapet cara yang pas soalnya…DX) , Nyx Quartz (hehehe, nggakpapa, thanks dah read n review yaa), Miya-hime Nakashinki (iya ya? Chapter kemaren bukan romance-nya yang menonjol, malah pesan moralnya…hahaha… diganti di chapter ini deh, walaupun cuma sekilas :p), Harukaze Chiharugak log in (thank you! ShikaIno juga bilang thank you tuh! :P), uchihyuu nagisa (pasti dunk, semua pasangan nyempil lagi kok. Fufufu~…)
Then, for the last thank, I'd like to say that to Masahiro 'Night' Seiran for checking the draft of this epilogue, even though just for a little, I really appreciate your suggestion ^^v
Okay, without wasting any more time…
Please enjoy the story!
Konoha Gakuen – Perguruan Konoha.
Sebuah perguruan terkenal yang terdiri dari Kindergarten sampai dengan High School. Sekolah terkemuka yang sudah berdiri puluhan tahun. Banyak orangtua lulusan sekolah itu yang kemudian menyekolahkan anak-anaknya di almamater mereka tersebut. Benar-benar suatu sekolah yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya.
Tapi…
Apa kau tahu bahwa di bagian High School dari perguruan ini memiliki suatu legenda yang cukup unik?
Tidak?
Kalau begitu biar kuceritakan sedikit padamu.
Di tengah-tengah tangga antara lantai 1 dan 2, terdapat sebuat jam kuno. Jam tersebut berbentuk sebuah jam tinggi dengan pemberat yang mengayun-ayun di bawahnya. Konon, jam tersebut tetap berjalan walaupun tidak disetel puluhan tahun. Yah, soal itu sih bisa jadi bohong. Dan memang bukan itu legenda yang kumaksud.
Yang ingin kusampaikan adalah…
Saat kau mendengar jam tersebut mendadak berdetak dengan keras yang diikuti suara lonceng yang berdentang dua kali, maka saat itulah kau akan mengalami suatu perjalanan waktu yang tak terduga.
Kau percaya?
Sebaiknya kau percaya. Banyak yang bisa membuktikannya padamu.
Ya, mereka…
Mulai dari pasangan yang sering bertengkar, mereka yang menyembunyikan perasaan dan tidak bisa jujur satu sama lain, mereka yang kikuk dan canggung, mereka yang awalnya sulit menyatukan perbedaan, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kusebutkan satu-satu. Mereka yang mengalami perjalanan waktu dengan jam legenda itu akan berakhir dengan selesainya masalah mereka. Semua bahagia.
Dengan begitu kisah ini pun…
Ng? Kau tidak percaya kalau mereka bahagia? Ah! Kau benar-benar skeptis ya?
Baiklah, kalau kau tidak percaya, silakan kau lihat sendiri faktanya.
.
.
.
TIME ~The Reason~
Epilogue : The Reason Why The Story Should be Ended Now
~07.20~
"SHIKAMAAARUUU! BANGUUUUNN!" teriak gadis berambut pirang pucat sambil menarik selimut yang tengah digunakan pemuda bernama Shikamaru itu untuk membuat tubuhnya tetap hangat. "Mau tidur sampai kapan, Tuan Pemalas? Kau tahu kan acaranya dimulai pukul 9?"
"Ngh! Aku nggak pernah bilang kalau aku akan datang ke acara itu, Ino! Mendokuse!" jawab Shikamaru sambil mengubah posisi tidurnya, membelakangi sang gadis yang bernama Ino tersebut.
"Oh? Yang benar saja, Shika? Dia temanmu lho? Sahabatmu!" ujar Ino sambil berkacak pinggang sebelah. Tangannya yang lain masih menahan selimut Shikamaru yang tadi direbutnya.
"Hmm…" jawab Shikamaru cuek. Ia malah menarik bantal dari bawah kepalanya dan menggunakannya untuk menutup kepala, sekaligus telinganya, agar ia tidak perlu mendengar celotehan bawel dari pacarnya tersebut.
"Ugh! Ayolah, Shikaaa~!" ujar Ino sambil menarik bantal yang menutupi kepala Shikamaru dengan kasar. Dan tindakan gadis itu lagi-lagi membuat Shikamaru mendengus dengan kesal.
"Ino, kalau kau nggak berhenti mengganggu tidurku dengan ocehanmu…" ancam Shikamaru dengan alis yang mengernyit. Sekali ini, Shikamaru sudah dalam posisi duduk di atas kasurnya, memandang kekasihnya yang tengah memegang benda-benda ' penunjang' tidur nyenyaknya.
"Kalau nggak memang kenapa, Shika?" jawab Ino sambil menyeringai dan kemudian melempar bantal serta selimut yang tadi dipegangnya ke wajah Shikamaru saat pemuda itu menguap lebar. "Kau bisa apa memang?" tantang Ino sambil setengah membungkuk dengan kedua tangan diletakkan di pinggang.
"Huh!" jawab Shikamaru dengan wajah yang cemberut. Tangannya memegang bagian tengah selimut yang sempat menutupi wajahnya. Ia kemudian mengambil bantal yang jatuh ke lantai setelah menabrak dirinya lalu meletakkannya di bagian atas ranjang. "Kau kira aku nggak bisa apa-apa, heh?"
Begitu Shikamaru berdiri hingga mata keduanya kini saling mengunci, Ino kemudian berkata dalam nada sinis dan senyum yang disengajakan agar terlihat manis, "Lalu apa Shika? Apa yang bisa kau lakukan untuk membuatku diam? Menciumku?"
Selesai Ino mengatakan itu, tanpa aba-aba, Shikamaru langsung menarik kepala gadis itu dan mengecup bibirnya. Ino yang tidak siap, hanya bisa menjatuhkan tangan yang semula ia letakkan di pinggang ke masing-masing sisi tubuhnya. Beberapa detik berlalu hingga akhirnya Ino mulai memejamkan matanya, berusaha menikmati ciuman yang diberikan kekasihnya.
Sambil berciuman, perlahan, Shikamaru mendorong tubuh gadisnya itu. Perlahan-lahan… hingga Ino tidak menyadari bahwa dirinya tengah digiring Shikamaru ke… luar kamarnya! Dan begitu tubuh Ino sudah berada di luar kamarnya, dengan cepat Shikamaru melepaskan ciuman tersebut.
Ino terngaga, bersamaan dengan usahanya mengisi paru-parunya dengan oksigen. Sementara itu, Shikamaru hanya menyeringai melihat Ino yang seolah belum juga sadar apa yang akan dia lakukan.
"Baiklah, selamat menunggu!"
Dan…
Brak!
Pintu kamar pemuda berambut nanas itu pun kembali tertutup. Meninggalkan Ino yang masih mengatur pemikirannya hingga ia sadar apa yang baru saja terjadi.
"SHIKAMARU SIALAANNN! AWAS KALAU KAU TIDUR LAGIII!"
o-o-o-o-o
~08.05~
"SA-KU-RA-CHA~N!" teriak pemuda berambut kuning dengan model jabrik tersebut. Sekali lagi, "SA-KU-RA-CHAAAAAANNNN!"
Pintu dibuka dah memperlihatkan sosok seorang gadis berambut merah muda dengan raut wajah yang tampak tidak senang.
"Berisik, Naruto! Apa kau nggak bisa sabar sedikit?" omel Sakura sambil berkacak pinggang. Sementara, pemuda yang dimarahinya hanya bisa… terbelalak dan ternganga.
Bagaimana tidak? Sosok gadis di hadapannya mengenakan mini dress sepanjang lutut berwarna peach dengan bagian bawah berupa rimpel yang tidak rata. Bagian atas dress tanpa lengan ini bermodel asimetris dengan bentuk kain yang melintang dari bahu kanan atas sampai ke bagian bawah ketiak kirinya. Dan di bagian bahu tersebut, terdapat bunga sakura berwarna merah muda pucat yang sangat cocok dengan warna peach dari dress itu sendiri. Rambut merah muda sang gadis pun diikat tinggi hingga menyisakan bagian rambut pendeknya di sekitar tengkuk. Secara keseluruhan, penampilan gadis itu cukup memperlihatkan kulitnya yang memang putih dan mulus.
"Apa-apaan tatapanmu itu, Naruto?" ujar Sakura sambil menjitak pelan kepala si pemuda bernama Naruto tersebut. "Mesum!" tambahnya sambil menyeringai.
"A-ah…" jawab Naruto sambil melayangkan sebuah senyum salah tingkah. Ia bahkan menggaruk bagian belakang kepalanya. "I-ie! Itu karena Sakura-chan sangat cantik! Maksudku, biasanya juga cantik sih, tapi sekarang… eto… lebih cantik!"
BLUSH!
Seketika itu juga, warna pipi Sakura berubah menjadi senada dengan warna bunga sakura yang tersampir di bahunya. Naruto yang mengenakan jas berwarna hitam dengan tampilan yang sedikit berantakan – khas dirinya – masih tampak salah tingkah sesaat sebelum Sakura tersenyum lembut padanya.
"Gombal!"
Naruto terkekeh kecil sebelum ia kemudian mengambil tangan Sakura yang tidak memegang dompet kecil dan kemudian menggenggamnya.
"Nggak. Kau benar-benar cantik, Sakura-chan…"
Sakura berdeham kecil. "Yah… makasih deh kalau begitu."
Naruto mengangguk sambil memamerkan cengiran andalannya. "Kalau begitu… kita berangkat sekarang?"
Sakura menggumamkan kata 'iya' dan keduanya pun perlahan bergerak, meninggalkan kediaman keluarga Haruno, menuju sebuah taksi yang terpakir di depan.
"Ah, sebelumnya, Sakura-chan…" ujar Naruto sambil berhenti berjalan tiba-tiba. Ia pun memutar kepalanya, kembali melihat ke arah Sakura yang sudah memandangnya dengan tatapan kebingungan. Memanfaatkan kondisi Sakura yang sedang tanpa pertahanan, Naruto pun mengecup bibir Sakura dan membuat mata gadis itu semakin terbuka lebar.
"Hehehe. Maaf! Aku nggak bisa menahan diriku! Dan aku nggak mungkin melakukannya di taksi ataupun di acara nanti!" ujar Naruto tanpa rasa bersalah. Sementara, Sakura sendiri perlahan menyentuh bibirnya dengan jari-jarinya sebelum urat-urat kemarahan menyembul di pelipisnya.
"NARUTO BAKAAA!"
BUAK!
"Ittai!" seru Naruto saat satu tinjuan Sakura menghantam kepalanya. "Kenapa aku dipukul sih, Sakura-chan?" protes Naruto sambil merengut tidak terima.
"Salah sendiri! Siapa suruh kau berani-beraninya menciumku di depan rumahku sendiri, tanpa pemberitahuan lebih dulu!" sanggah Sakura sambil melipat tangannya di depan dada.
"Uh…" keluh Naruto sambil mengelus kepalanya yang baru dihantam secara tidak tanggung-tanggung oleh Sakura. "Jadi nggak boleh? Kita kan pacaran…"
"Hemh… begitulah!" jawab Sakura sambil berjalan di depan Naruto.
Masih sedikit tidak terima, Naruto pun mengikuti Sakura berjalan sampai tiba-tiba, gadis itu berbalik. Naruto yang kaget pun tidak sempat menghindar saat bibir Sakura menempel di bibirnya. Ah, dia tidak kaget pun dia tidak akan menghindar, bukan? Ini Naruto yang sedang dibicarakan! Mana mungkin dia akan menolak ciuman manis dari kekasihnya tersebut.
"Sa-Sakura-chan?" ujar Naruto dengan wajah tan-nya yang sedikit diwarnai rona merah.
"Ini rumahku! Jadi aku yang berkuasa!" ujar Sakura sambil menjulurkan lidahnya sedikit. "Dan di sini, kau nggak boleh berbuat macam-macam! Cuma aku yang boleh! Mengerti?"
Bagaikan boneka yang digerakkan benang, Naruto hanya bisa mengangguk patuh. Setelah itu, Sakura berlari kecil ke arah taksi, meninggalkan Naruto yang seolah masih tersihir hingga terdiam mematung tepat selangkah sebelum keluar dari gerbang rumah Sakura.
"Naruto~! Apa yang kau lakukan? Cepatlah! Nanti kita terlambat!" teriak Sakura yang sudah siap masuk ke dalam taksi sambil melambai ke arah Naruto.
Naruto pun tersadar dari lamunannya dan kemudian tersenyum.
"Ah? Oke!" jawabnya pada Sakura. Namun, sebelum melangkah, ia pun bergumam, "Kalau begitu lain kali akan kuajak kau ke rumahku biar aku yang berkuasa! Fufufu! Tunggu saja, Sakura-chan!"
o-o-o-o-o
~08.30~
Gadis bermata pearl itu melihat ke sekelilingnya yang mulai dipenuhi orang. Pemuda di sampingnya kemudian menariknya saat gadis itu nyaris tertabrak oleh orang yang tidak memperhatikan jalan.
"A-ah?"
"Kenapa celingak-celinguk gitu?" tanya si pemuda dalam nada dingin yang menjadi andalannya.
"T-tidak, ano, itu, Sasuke-kun… aku belum melihat Sakura-chan dan Ino-chan…"
Pemuda berambut raven yang dipanggil Sasuke itu hanya bisa mendecih pelan mendengar jawaban kekasihnya.
"Lalu kenapa kalau mereka belum datang?"
"Uhm… Maksudku…"
"Apa kau tidak puas kalau cuma aku yang ada di sampingmu, Hinata?"
Mata gadis bernama Hinata itu terbelalak. Ia pun dengan cepat menatap pemuda di sampingnya. Begitu mulutnya siap membuat penyangkalan, wajahnya-lah yang terlebih dahulu bereaksi dengan membuat rona merah saat mata kedua insan itu saling bertatapan.
"Hn?" pancing Sasuke lagi.
"Bu-bukan begitu!" sangkal Hinata yang akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya dengan susah payah. "Ano…" Hinata pun menunduk dengan membawa kegugupannya. "Go-gomen…"
"Untuk?"
"A-ano… Itu… tadi… aku tidak bermaksud…" Hinata kemudian memainkan jari-jarinya dengan gugup. Matanya pun sudah melirik-lirik gelisah, bergantian memandang antara kekasihnya dengan lantai.
Melihat kelakukan Hinata yang seperti itu, mau tidak mau Sasuke-pun jadi tersenyum tipis. Ia kemudian menarik tangan Hinata dan menggenggamnya dengan erat. Setelah itu, Sasuke pun mendekatkan wajahnya pada Hinata.
"Kalau kau memang merasa bersalah, aku tunggu permintaan maafmu nanti!"
"Hee?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Sasuke semakin mengembangkan seringainya sebelum pemuda itu membisikkan sesuatu ke telinga Hinata. Seketika itu juga, wajah Hinata pun langsung memerah dengan hebat.
"Ta-tapi… Sasuke-kun?"
"Tidak terima penolakan," jawab pemuda itu acuh tak acuh. Hinata sudah hendak berkata-kata lagi – tentu saja dengan wajah yang masih sangat memerah – saat Sasuke tiba-tiba berkata, "Lupakan dulu soal itu! Tuh! Acaranya sudah akan dimulai!"
Dengan tangan yang masih saling bergenggaman, keduanya pun siap mengikuti jalannya upacara pernikahan salah satu teman dan guru mereka. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa Hinata sesekali masih memikirkan ucapan Sasuke mengenai permintaan maaf yang harus dilakukannya nanti. Bahkan kedatangan Sakura dan Ino yang sudah ditunggunya sejak tadi pun tidak dapat menghapuskan kegelisahannya soal permintaan Sasuke tadi.
Padahal itu hanya permintaan mudah yang tidak perlu dipikirkan sampai sebegitu mendalam.
Tapi, yah… namanya juga Hinata.
o-o-o-o-o
~09.00~
Semua orang mulai menutup mulutnya, menimbulkan suasana hening di gedung tempat acara pernikahan akan dilangsungkan. Sosok pemuda berambut merah kini dengan pakaian serba putih kini sudah berdiam tenang di depan altar, menunggu pasangannya yang akan tiba sesaat lagi.
Dan begitu sosok yang ditunggunya sudah datang, semua orang menahan napas terkejut. Demikian pula dengan pemuda berambut merah tersebut. Bagaimana tidak, di samping seorang pria tua, telah berdiri seorang gadis berambut pirang dalam balutan gaun putih keemasan. Berbeda dari biasanya, gadis yang sehari-harinya tampak tomboy itu kini terlihat begitu feminin dengan rambut yang ditata sedemikian rupa – dicepol di bagian belakang dengan dua buah kepang di kiri dan kanannya yang ditarik sampai ke bagian cepol-nya. Sebuah bunga putih yang besar tampak tersemat di bagian kiri rambutnya dan kerudung transparan yang dikenakannya menutupi wajahnya sampai bawah dagu.
Melihat calon istrinya datang, pemuda berambut merah itu tersenyum tipis.
Perlahan, dengan didampingi oleh Tou-san-nya di samping dan seorang bride's maid di belakangnya, sang pengantin wanita pun berjalan perlahan ke arah altar. Dan begitu sampai di altar, tangan gadis itu pun diserahkan pada pemuda yang sudah menunggunya semenjak tadi. Pria paruh baya dan bride's maid itu pun menjauh, menuju ke tempat duduk mereka masing-masing.
Kedua calon suami-istri itu pun kemudian menghadap ke arah altar, dimana seorang pendeta telah menunggu mereka untuk melakukan upacara pernikahan.
Semua yang hadir telah duduk di kursi mereka masing-masing. Acara pun berlangsung dalam khidmat. Tidak butuh waktu lama sampai acara mencapai puncak – bertukar cincin dan kemudian, yang paling ditunggu… adegan ciuman pengantin sebagai tanda keabsahan sebagai suami-istri.
"Kau boleh mencium istrimu sekarang," pandu sang pendeta.
Semua hening, menunggu sang pengantin pria untuk mencumbu gadis yang baru saja menjadi istrinya tersebut.
Perlahan, sang pengantin pria pun membuka kerudung sebagai satu-satunya benda yang menghalangi aksesnya untuk melihat wajah istrinya.
Lembut, sang gadis pun berkata, "Akhirnya hari ini datang juga, ne, Sasori?"
Pemuda yang dipanggil Sasori itu pun tersenyum simpul. "Ini hanyalah permulaan untuk suatu perjalanan panjang ke depannya, Temari…"
"Aku tahu…"
Wajah keduanya semakin mendekat. Sebelum bibir mereka saling terpaut, sang gadis bernama Temari itu pun berkata-kata dalam suatu bisikan.
"Asalkan bersamamu…"
Setelah itu, mereka pun saling merasakan bibir satu sama lain. Suatu ciuman hangat yang tidak singkat, namun juga tidak lama. Sebuah ciuman yang menandakan bahwa keduanya kini saling terikat satu sama lain, suami-istri yang sah.
Penonton pun bertepuk tangan. Keluarga dan teman dekat menitikkan air mata haru.
Ya, mulai saat ini, Sasori dan Temari telah resmi menjadi pasangan yang diikat dalam lembaga pernikahan.
Yang dua… menjadi satu.
o-o-o-o-o
~10.10~
"Kyaa! Selamat ya, Tema-chaaan!" Seorang gadis berambut coklat dicepol dua dengan gaun berupa dress sepanjang lutut berwarna kuning langsung menghampiri sang pengantin wanita tepat setelah pemberkatan selesai dilakukan. Tentu saja, sang gadis yang merupakan bride's maid itu bermaksud sama seperti yang lain, hendak memberi selamat pada pasangan pengantin baru tersebut.
"Hahaha. Terimakasih, Ten!" jawab sang pengantin wanita – Temari – sambil menerima pelukan yang ditawarkan oleh sang gadis bride's maid – Tenten. "Bukankah kau akan segera menyusulku?" ujar Temari sambil melirik ke arah kekasih Tenten yang tengah memberi selamat pada suaminya.
"Ah… yaaa… mungkin?" jawab Tenten sambil memamerkan gigi-giginya.
"Kalau begitu," ujar Temari sambil mengambil buket bunga yang sebelumnya ia letakkan di meja dekat altar, "kau harus berhasil mengambil buket bunga ini. Ne, Tenten?"
Tenten tertawa kecil. "Nggak akan kuserahkan pada yang lain. Lihat saja!"
Tidak lama setelah sesi pengucapan selamat, pembawa acara pun membawa para hadirin beserta pengantin untuk beranjak ke bagian luar, ke taman tempat diadakannya sesi selanjutnya, sesi yang paling ditunggu oleh semua wanita yang belum menikah– apalagi kalau bukan sesi pelemparan bunga?
"Baiklaaahhh!" seru si pembawa acara yang merupakan rekan guru dari pengantin pria – Anko. "Sekarang semua yang ingin mengadu nasibnya, silakan berkumpul di sebelah sini!"
"A-apa aku harus ikut, Tenten-nee?" ujar Hinata yang harus ditarik-tarik oleh Tenten.
"Ikut sajalah, Hina-chan!"
"Fufufu~ Sakura-Dekorin, aku nggak akan kalah darimu!" ujar Ino sambil melemparkan pandangan persaingan.
"Kau mau cepat-cepat menikah, eh, Buta-chan?" balas Sakura sambil menyeringai mengejek.
"Kenapa nggak? Memangnya kau nggak mau segera bersama dengan si Baka-chan-mu itu?"
"Oh, wah… aku nggak bilang nggak mau. Tapi sebaiknya kau turunkan keagresifanmu kalau nggak mau si Mendokuse-chan-mu itu kabur!"
Saling melempar ejekan seperti itu bukan hal yang aneh apabila terdengar dari Sakura dan Ino. Bahkan ketika sesi pelemparan buket sudah akan dimulai, keduanya masih saja berdebat, membuat Naruto dan Shikamaru saling melempar pandang sebelum keduanya menggelengkan kepala dengan pasrah.
Kedua gadis berambut kuning dan merah muda itu bahkan tidak sadar saat pengantin wanita sudah membelakangi para 'peserta' dan siap melempar buket bunga.
"Cewek-mu benar-benar penuh semangat masa muda ya, Neji-san!" seru seseorang yang tetap saja berpakaian serba hijau di saat-saat seperti ini pun. "Benar-benar mirip dengan Gai-Sensei yang kukagumi!"
Neji memandang datar pada pemuda berambut bob di sampingnya.
"Baik! Aku juga tidak mau kalah! Akan kudapatkan buket bunga itu dengan semangat masa muda! YEAAHH!" Pemuda itu pun meloncat, meninggalkan Neji yang hanya bisa menghela napas dengan malas.
Neji pun kemudian mengabaikan sesi yang menurutnya tidak penting itu dan menuju ke meja di dekatnya yang menyajikan beberapa minuman. Tepat saat jemarinya sudah menyentuh gagang gelas, teriakan terdengar di taman tersebut. Neji masih mengabaikannya dan memilih berkonsentrasi dengan minumannya. Satu tegukan dan isi di gelas itu pun berpindah ke mulutnya, membasahi kerongkongannya, dan berlanjut ke perutnya.
Begitu tangannya selesai meletakkan gelas kosongnya di bagian meja yang khusus menampung gelas bekas, Neji pun langsung menunjukkan ekspresi terkejut. Di depannya, sudah berdiri kekasihnya yang tengah memandangnya sambil tersenyum.
"Apa?"
Perlahan, Tenten menarik tangannya dari balik punggung dan menyodorkan buket bunga yang berhasil ditangkapnya pada Neji. Mata Neji pun seketika itu membelalak. Rona merah di wajahnya tidak dapat dihindari saat ia melihat puluhan pasang mata sudah memandangnya dengan ekspresi yang bermacam-macam.
"Kalau menurut kepercayaan yang ada… gadis yang mendapatkan buket bunga, akan menjadi pengantin wanita selanjutnya lho?" ejek Ino yang sudah mengamit lengan Shikamaru.
"Mendokuse…"
"Kalau begitu, Neji-Senpai selanjutnya akan melamar Tenten, eh?" sahut Sakura yang tidak mau kalah dan juga memeluk lengan Naruto.
"Sa-Sakura-chan…"
"H-hah?" Neji pun semakin salah tingkah.
"S-Selamat Neji-nii…"
"Hn."
Sudah tahu kan komentar barusan keluar dari siapa? Ya, pasangan yang unik tersebut, Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke. Keduanya masih saja bergenggaman tangan. Dan dilihat dari wajah serta polah Hinata yang sudah tidak panik, sepertinya ia sudah berhasil menyelesaikan permintaan Sasuke di saat orang-orang tidak menyadarinya. Tentu saja, Uchiha Sasuke cukup jeli untuk mendapatkan tempat dimana ia bisa menuntut Hinata melakukan permintaannya!
"Hahaha! Kau benar-benar melakukannya, Tenten!" ujar Temari dengan Sasori yang berada tepat di sampingnya, memeluk pinggangnya. "Kutunggu saja undanganmu selanujutnya ya?"
Tenten semakin menyeringai dan menanggapi komentar-komentar tadi dengan mengacungkan jempolnya.
"Ten… kau itu…"
Tenten berjinjit sedikit. "Memangnya kau nggak mau menikah denganku, Neji?"
"Ck! Bukan itu maksudku, tahu!"
"Kalau begitu apalagi? Tou-san juga sudah menyetujuinya kok!"
Neji menghela napas. "Itu bukan hal yang sebaiknya dibicarakan di sini kan?"
"Kenapa nggak?"
"Yah… itu…" Mata Neji memandang ke arah kerumunan yang masih menatap mereka dengan seringai-seringai mengejeknya. "Ah! Sudahlah! Terserah kau saja!"
Tenten pun langsung meloncat ke dalam pelukan Neji dan kemudian mengecup pipi kekasihnya itu.
"O-oi, Ten?" ujar Neji dengan wajah yang semakin memerah.
"Semua! Dengarkan! Tunggu saja undangan pernikahanku dengan Neji selanjutnya yaa~!"
"HAH?"
Dan seketika itu, kerumunan pun heboh dalam suasana suka cita, tanpa mempedulikan Neji yang sudah semakin salah tingkah dan berusaha menghentikan kekasihnya dari tindakan-tindakan lain yang mungkin akan lebih mempermalukannya. Tapi sia-sia, semua orang kini malah menyelamati mereka sebagai pasangan yang akan segera menikah. Bahkan keramaian itu semakin ditambah ramai dengan adanya Tou-san Tenten dan pengikut setia Tou-san Tenten.
.
.
.
Sudah lihat bukan?
Semua bahagia.
Tentu saja kebahagiaan ini tidaka akan berakhir sampai di sini. Perjalanan hidup mereka masih sangat, sangat panjang dan kisah mereka pun masih jauh dari kata 'ending'.
Tapi… kurasa itu hal yang sudah tidak perlu lagi kuceritakan.
Dan karenanya, walaupun kisah mereka belum akan selesai, ceritaku akan kuakhiri sampai di sini.
Wah, jangan memasang wajah sedih seperti itu. Bukankah semua sedang berbahagia?
Tidak?
Kau belum bahagia?
Kalau begitu…
Dengarkan suara lonceng itu!
Ya, lonceng dari jam kuno yang menjadi legenda itu.
Sudah terdengarkah?
Ya?
Baiklah!
Kurasa kini giliranmu yang membuat cerita bahagia versimu sendiri!
***FIN***
HURAAAAYY! *narik confetti, niup terompet!
Selamat pada SasoTema! Selamat pada NejiTen! Yang lain, ditunggu aja nikahannya! *mulai error*
Yah, pokoknya, ini adalah akhir dari 5 one-shots yang dijadiin multichapter. Apa sih istilahnya? Multi-shots? *makin ngaco*
Ehm… sebelum saya makin ngaco, saya mau mengakhiri saya kebacotan saya di fic ini dengan permohonan seperti biasa…
Review, onegai? ^^v
Masukan dan kritik membangun amat sangat diharapkan.
~Thanks for reading an epilogue for this fic!~
~See you again in another fic*waving hands*~
