N/A : Setelah balik ke Malang, langsung bikin apdet... Emang kalo nggak ada modem, jadi nganggur saya... Udah deh, curhat nggak penting...
Disclaimer : Inazuma Eleven owned by Level-5 and Ouran Koukou Host Club owned by Bisco Hatorri
Rated : Antara K atau T...
Character(S) : Kazemaru Ichirouta, Endou Mamoru, Goenji Shuuya, Kidou Yuuto, Fubuki Shirou, Fubuki Atsuya, Tachimukai Yuuki, Otonashi Haruna, Kogure Yuuya, Utsunomiya Toramaru
Genre(S) : Humor, Friendship, Parody
Warning : AU, Shonen-Ai, maybe OOC...
Inazuma Host Club
Episode 7
Penguin Arc
"Brother and Sister Shared Dreams"
Hand to Hand, Smile with Smile
Ichirouta's POV
Setelah kemunculan 'anak macan' alias Toramaru yang tiba-tiba, perubahan sikap Shuuya, dan bangkitnya Mamoru dari ladang jamur depresinya(?), Shuuya menanyakan secara langsung kepada Toramaru perihal Yuuya dan Haruna... Dan sekarang, kami semua berada di atap sekolah gedung SMP, untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi...
"Jadi, Toramaru." Shuuya memulai. "Bisa kau jelaskan?"
Toramaru mengangguk lalu mulai mengeluarkan suaranya...
"Sebenarnya, aku juga tidak tahu detailnya. Karena kejadiannya sendiri terjadi di daerah kelas 3." Hmm? Jadi... "Ah, Kazemaru-san! Aku ini kelas 2. Kogure-san dan Otonashi-san itu senpai ku." Seperti menyadari apa yang kupikirkan, Toramaru menambah penjelasannya. Aku menangguk dan Toramaru pun melanjutkan...
"Katanya ada salah seorang murid kelas 3 yang jatuh dari tangga dan terluka. Lalu Kogure-san dan Otonashi-san..."
"Disalahkan karena itu?" Suara dingin Shuuya menyambung kalimat Toramaru. Toramaru mengangguk.
"Iya, Otonashi-san dan Kogure-san juga berada di tempat kejadian waktu itu. Murid yang terluka itu juga sekarang masih berada di rumah sakit. Kudengar keluarganya menyalahkan Otonashi-san dan Kogure-san di kejadian ini..."
"Kenapa begitu...?" Mendengar suaraku, mereka semua – Mamoru, Shuuya, dan Toramaru – menoleh menghadapku. "Kenapa langsung menyalahkan begitu...? Mereka memang berada di tempat kejadian, tapi belum tentu...!"
"Ichirouta." Kalimatku terpotong oleh suara Mamoru. Kulihat ke arahnya, wajahnya berubah menjadi serius, walaupun dia masih tersenyum kecil. Tapi matanya, sedih... sama seperti waktu itu... Mamoru lalu menoleh ke arah Toramaru,
"Toramaru, murid yang terjatuh itu... Siapa?"
Begitu mendengar pertanyaan Mamoru barusan, Toramaru menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan, "Maaf... Aku tidak tahu. Tapi yang kudengar..."
"Anak itu berasal dari 'musuh' keluarga Kidou... Benar, kan?" Mamoru kembali menyambung kata-kata Toramaru. Junior berambut hitam itu hanya bisa mengangguk. 'Musuh'...?
"Begitu ya. Berarti mereka tahu kalau Otonashi dan Kogure masih berhubungan dengan Yuuto." Kudengar Shuuya berkata secara pelan. Diikuti oleh anggukan Mamoru dan Toramaru.
"Yosh! Kalau sudah tahu itu, jadi gampang! Terima Kasih, Toramaru!" Sambil berdiri, Mamoru tersenyum lebar mengatakan hal itu. Kami semua mengikutinya berdiri, aku ikut tersenyum sambil mengangguk pada Toramaru,dan Shuuya mengusap-usap kepala Toramaru sambil tersenyum. Kulihat wajah Toramaru, pipinya bersemu merah dan dia tertawa. Sepertinya, dia senang sekali diusap-usap begitu... Dan, Shuuya sendiri sepertinya sangat menyayangi Toramaru, mirip adik kakak...
Mengelus kepala... Mirip adik kakak... Mirip dengan... Aku dan 'dirimu' dulu...
"Ichirouta?"
Suara Mamoru sontak mengagetkanku. Aku melihat wajah bingung mereka semua. Sepertinya aku terlalu lama melamun ya... Aku hanya bisa tertawa hambar melihat wajah bingung mereka semua...
"Kazemaru-san. Kenapa senyum-senyum sendiri...?" Toramaru bertanya. Uggh, jadi tadi itu aku senyam-senyum sendiri? Uwahh, aku harus menghentikan kebiasaan ini! Kebiasaan melamun, menghela nafas, dan juga senyam-senyum sendiri...! Sungguh, tambah aneh saja diriku sejak bersekolah di sini... Tidak,lebih tepatnya... sejak aku mengenal yang namanya 'Inazuma Host Club' itu...
Aku pun tertawa dengan pikiranku sendiri. Dan tiga orang yang ada di sampingku hanya bisa cengo melihat sikap anehku ini. Ah, sepertinya hanya dua orang yang bingung. Shuuya masih berwajah cool seperti biasanya...
"Hehe! Ichirouta itu aneh ya...!" Kudengar Mamoru berkata. Kulihat senyumnya mengembang lebar. Yah, bisa dibilang semua kebiasaanku itu berasal darimu Mamoru ya... Sang pemberi kebahagiaan... Melihat senyummu, aku pun ikut tersenyum... Ternyata memang mirip, Mamoru dengan 'dirimu'... Bisa dengan mudah,membuatku tersenyum...
Tiba-tiba, masih melihatku, Mamoru menghentikan senyumnya. Matanya bertemu dengan mataku... Tapi... Aku sama sekali tak bisa membaca apa yang dipikirkan Mamoru... Apa yang...? Tanganku pun bergerak ke wajahnya...
"Heei! Endou-san! Kazemaru-san! Nanti kami tinggal lo...!" Gerakanku tangankupun terhenti. Dan sepertinya Mamoru pun tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah pintu keluar. Kami berdua melihat Shuuya dan Toramaru berdiri di dekat pintu, menunggu kami berdua.
"Ah! Maaf." Setengah berlari, aku menuju ke tempat mereka. Setelah di dekat pintu, aku menoleh ke belakang. Kulihat Mamoru, tidak bergerak sama sekali, menatap langit...
"Endou-san...!" Sekali lagi Toramaru memanggil. Masih tidak bergerak dan masih menengadah menatap langit dia membalas,
"Duluan saja. Aku mau di sini sebentar lagi..."
Mamoru...? Toramaru menoleh ke arah Shuuya, Shuuya pun mengangguk kecil. Lalu mereka berdua mulai keluar pintu. Aku masih memandang Mamoru. Apa sebenarnya...? Kurasakan tangan seseorang menyentuh pundakku. Kulihat Shuuya, tanpa berkata apa-apa, dia menurunkan tangannya lalu mulai menuruni tangga. Secara tidak langsung, menyuruhku untuk pergi dari situ... Akhirnya, aku pun mengikutinya menuruni tangga. Terakhir kali, kulihat pintu menuju atap yang sudah tertutup. Mamoru... Kenapa melihatku dengan mata seperti itu...? Mata yang menyadari sesuatu...
End of Ichirouta's POV
Mamoru, masih di atap, mulai menundukkan kepalanya. Lalu dia terduduk pelan, tangannya menutup kedua matanya. Cowok itu lalu membuka matanya dan menghadap langit, lalu menghela nafasnya...
"Ternyata benar..." Tangannya mulai bergerak lagi menutupi wajahnya. Melindungi ekspresi yang dikeluarkannya sekarang...
"Ichirouta... Sebenarnya, siapa yang kau lihat dariku...?"
Tralala...Trilili...Pembatas Cerita...
Ichirouta's POV (again...)
KRIING!
Akhirnya, bel tanda pulang berbunyi. Aku mulai merapikan buku-bukuku. Pelajaran terakhir tadi adalah pelajaran Sejarah jepang. Pelajaran yang agak kusuka, walaupun aku masih lebih suka pelajaran olahraga dan Kimia sih...
Setelah merapikan buku, aku berdiri dari tempat dudukku. Kupandangi seluruh penjuru kelas. Ada Handa dan Max di dekatku, mengobrol tentang pelajaran barusan. Di samping kananku, kulihat Rika, Aki, dan beberapa murid perempuan lainnya saling mengobrol juga. Si Wakil Ketua Kelas, Megane, sudah dari tadi pergi ke ruang guru, melaporkan absen seperti biasanya. Dan akhirnya, mataku sampai di bangku belakang, tempat Mamoru dan Shuuya... Walaupun, yang kulihat hanya Shuuya yang juga mulai berdiri dari bangkunya sambil membawa tas...
Mamoru... sejak ditinggal sendirian di atap tadi, dia tidak kembali ke kelas. Melewati dua mata pelajaran, Matematika dan Sejarah Jepang barusan. Kuingat-ingat matanya tadi... Kenapa Mamoru memandangku seperti itu...? Dan lagi, kenapa dia tidak kembali ke kelas...?
Sraak!
Kuarahkan pandanganku menuju pintu kelas yang bergeser. Kulihat Mamoru masuk, dengan menggunakan jersey olahraga SMA Inazuma, Jersey berwarna biru dan kuning dengan lambang petir. Dia juga mengelap wajah dan rambutnya dengan handuk putih, headband orange miliknya masih terpasang. Kulihat Mamoru langsung menuju ke tempat duduknya. Aku pun memanggilnya...
"Mamoru...!" Sambil menuju ke bangku belakang, aku memanggil namanya. Mamoru menoleh padaku sambil tersenyum. Shuuya berada di sampingnya, menyerahkan tas ransel orange miik Mamoru. Cowok headband itu lalu mengambilnya sambil bergumam 'Terima Kasih'.
"Kenapa pakai jersey...?" Rupanya Shuuya juga mempunyai pertanyaan yang sama denganku. Kami berdua – Aku dan Shuuya – melihat Mamoru baik-baik, menunggu penjelasannya...
"Oh, ini? Tadi waktu aku mau kembali ke kelas, Aku lewat jalan pintas di belakang gedung SMP. Tapi tiba-tiba dari atas..." Dengan nada sangat mendramatisir, Mamoru memutus kalimatnya. Benar-benar membuatku gemas dan ingin mencubit pipi gembulnya itu. "Tiba-tiba..."
"...Ada serbuan KODOK jatuh tepat di atas kepalaku! Aaaa! Mengingatnya saja sudah ngeri...!" Dan Mamoru langsung bergidik ria setelah mengatakan itu. Ko,kodok...? Kok bisa...?
"Kodok untuk pratikum jatuh dari jendela lantai dua..., jatuh tepat di kepalaku... Seragamku lengket kena kodok... Jadi aku langsung mandi dan ganti baju... Ahhh... Nggak mau ingat lagi..." Suara Mamoru makin lama makin mengecil, dan sekarang dia ada di pojok kelas, bersiap-siap untuk memunculkan kembali ladang jamurnya(?). Aku dan Shuuya bersweatdrop ria melihat tingkah kapten imut yang satu ini...
Sraak!
"Kapten!" Suara ini... Kami semua menoleh ke arah pintu kelas yang kembali terbuka. Shirou berdiri di situ, lalu masuk mendekati kami semua. Tentu saja, dia juga melihat Mamoru dengan jamur-jamur depresinya...
"Kapten..." Wajah innocent miliknya mulai berubah menjadi cemas. "Kapten sepertinya..." Sepertinya...?
"Sepertinya sangat menikmati ritual(?) menanam jamur itu ya...!" Dan Shirou tanpa merasa berdosa sedikitpun, mengatakan hal yang sungguh berlawanan dengan kenyataan yang ada! Aku dan Shuuya yang ada di sampingnya langsung bersweatdrop ria, melihat Shirou dengan innocent smile nya itu.
"Oh, ya!" Tiba-tiba Shirou menepuk kedua tangannya, "Aku ke sini ingin memberi tahu, Yuuto-kun absen dari tadi pagi, dan para guru juga tidak membicarakannya di kelas, jadi..." Dia menarik nafas,
"Apa masalah yang terjadi berhubungan dengan pihak sekolah juga?" Wajah innocent miliknya lalu berubah menjadi serius. Membuatku kaget sedikit, karena aku tak pernah melihat Shirou – dan Atsuya tentunya – bersikap serius...
"Begitulah. Shirou memang cepat tanggap, ya." Dan bak penampakan(?) di siang bolong, Mamoru dengan cepat membalas pertanyaan Shirou tadi. Sejak kapan dia kembali ke tempat kita dari pojok ladang jamurnya...? Ahhh! Dari tadi mikirin jamur melulu, kan ada yang harus ditanyakan!
"Hei..." Mendengar suaraku, mereka semua menoleh ke arahku, "Dari tadi aku ingin tanya, Haruna-san itu adik kandung Yuuto kan?" Kuhentikan pertanyaanku sampai di situ, kulihat mereka bertiga mengangguk pelan. "Lalu kenapa, marga mereka berbeda...?"
"Itu... karena mereka sekarang berada di keluarga berbeda." Mamoru menjawab dengan suara pelan. Keluarga berbeda...? Apa maksudnya? Mamoru lalu menghela nafas dan melanjutkan penjelasannya.
"Yuuto dan Haruna, kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika mereka berdua masih kecil. Setelah itu, karena tidak ada kerabat lain, akhirnya mereka diadopsi oleh keluarga berbeda. Yuuto diadopsi oleh keluarga Kidou dan Haruna diadopsi oleh keluarga Otonashi."
Sambil menjelaskan hal itu, Mamoru tersenyum sedih. Tidak, bukan hanya Mamoru, Shuuya dan Shirou juga terlihat sedih. Mereka berdua menundukkan kepala mereka. Begitu ya... Ternyata memang benar, diantara Host juga ada yang kehilangan orang berharga mereka...
"Ah, lalu tentang Yuuya..." Mamoru lalu menjelaskan kembali. "Keluarga Kogure itu 'teman' keluarga Otonashi. Dan akhir-akhir ini, mereka juga jadi akrab dengan Keluarga Kidou karena hubungan antara Yuuto dan Haruna." 'teman'...? Tadi juga ada 'musuh' kan? Sebenarnya apa maksudnya...?
"Ichirouta-kun, kau bingung tentang 'teman' itu ya?" Shirou – dengan senyum innocent – bertanya padaku. Aku pun hanya mengangguk. "Artinya persis seperti itu, 'teman' adalah keluarga lain yang mendukung keluarga kami. 'Musuh' adalah keluarga lain yang berlawanan dengan keluarga kami. Hanya seperti itu."
Setelah mengatakan itu, pandangan Shirou seperti menerawang. Seperti mengingat kejadian yang telah lewat... Tapi, dengan penjelasan seperti itu...
"Kurang jelas, ya?" Kutolehkan kepalaku ke arah sang penanya, Shuuya. Dia tersenyum kecil lalu melanjutkan, "Misalnya saja, keluargaku, keluarga Goenji yang berpusat pada ilmu kedokteran, ber'teman' dengan keluarga Fubuki yang mengurus hal-hal berbau seni. Keluarga kami saling membantu, baik dari hal sepele seprti interior atau juga pengenalan klien-klien baru. Dengan contoh begini, lebih mudah dimengerti, kan?"
Hoo, jadi begitu. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka semua lalu tersenyum padaku. Aku pun ikut tersenyum bersama mereka. Sayang, kedamaian sementara ini harusa dirusak dengan sebuah teriakan...
"Aniki!" "Shuuya-san!"
...Maksudku dengan dua teriakan. Kamu semua pun menoleh ke arah pintu, di mana sosok Atsuya dan Toramaru berdiri di situ, terengah-engah setelah berlari. Dibelakang mereka berdiri Yuuki, yang sepertinya tidak kelelahan sama sekali. Tapi wajah mereka semua, cemas...? Dan juga takut...?
"Ada apa?" Shirou dan Shuuya pun mendekati mereka, lalu mengajak mereka untuk keluar kelas. Aku dan Mamoru saling pandang, lalu kami berdua mengikuti mereka beranjak keluar kelas.
"Ini gawat, Shuuya-san!" Di luar kelas Toramaru dengan wajah panik berkata. "Kogure-san dan Otonashi-san dipanggil ke ruang kepala sekolah. Dan tadi aku juga melihat Kidou-san bersama mereka pergi ke sana..." Suaranya makin lama semakin pelan.
"Bagaimana ini, kapten?" Kami semua lalu menoleh ke arah Mamoru. Wajahnya kembali menjadi serius, dan matanya cokatnya menjadi lebih tajam.
"Ayo, kita pergi ke ruang Kepala Sekolah."
Tralala...Trilili...Pembatas Cerita...
Karena itulah, sekarang kita semua berada di sini. Minus Toramaru, yang walaupun ingin ikut membantu, tidak diperbolehkan oleh Shuuya. Alhasil, sekarang kami berenam – Aku, Mamoru, Shuuya, Shirou dan Atsuya, serta Yuuki – berada di depan gedung guru pusat. Gedung ini adalah gedung pusat tempat seluruh guru dari SD sampai SMA berkumpul – walau di setiap gedung SD sampai SMA ada ruang guru masing-masing – dan juga Gedung di mana Ruang Kepala Sekolah berada.
"Yosh! Ayo masuk!" Atsuya dengan semangat seperti pemain bola yang terpilih jadi wakil Jepang(?), berteriak sambil meninjukan tangan kanannya ke udara. Tapi, belum maju selangkah, dia sudah ditahan oleh sang kakak.
"Biar Kapten, Shuuya-kun, dan Ichirouta-kun yang masuk. Aku, Atsuya, dan Yuuki-kun akan menunggu di sini." Sambil tersenyum, Shirou membuat pernyataan. Mamoru pun menangguk pelan lalu menoleh padaku dan Shuuya. Aku dan Shuuya ikut menangguk.
"Ehh? Kenapa kita tidak ikut masuk, Aniki?" Atsuya langsung berngambek ria pada kakaknya. Tentu saja dengan suara sangat merdu, yang dapat membuat Orochimaru bangkit dari kubur sambil berjoget ular(?)... Tunggu dulu, siapa itu Orochimaru? Ahh, sudahlah...
"Atsuya..." Suara Shirou berubah menjadi lebih dalam. Ekspresinya tertutupi oleh poni putihnya itu. Perasaan ini... "Kamu mau membantah...?" Dengan sebuah senyum, yang benar-benar terlihat seram dimataku, melekat di wajahnya, Shirou bertanya. Huwaaa, ternyata benar! Selain Dark!Yuuki juga ada Dark!Shirou ya...! Sepertinya, yang ini level mengerikannya lebih di atas deh... Aku sampai melihat ada badai salju dan serigala yang siap menerkam mangsa, tepat di belakang Shirou.
Reaksi Atsuya? Dia hanya bisa menelan ludah sambil panik sendiri. Kata – kata yang keluar dari mulutnya pun berhamburan, hanya terdengar beberapa seperti "Nggak!" atau "Maaf!"...Seram, lebih seram dari Dark!Yuuki. Kalau Yuuki seperti anjing kecil yang bisa mengamuk tiba-tiba, maka Shirou adalah serigala yang memang siap menerkam siapa saja. Di sampingku, Mamoru juga langsung tegang sendiri melihat Shirou, dan Shuuya melihat adegan 'kasih sayang' si kembar tanpa berkedip. Mungkin kaget sendiri ya...
"Mamoru-san." Tanpa kusadari, Yuuki sudah berdiri di depan kami. Wajahnya tidak terlihat kaget sama sekali. Yah, Yuuki juga punya Dark side tersendiri sih. Mungkin dia tidak takut dengan shirou... Wajahnya menatap kami bertiga – Aku, Mamoru, dan Shuuya – dengan serius lalu berkata,
"Kami akan menunggu di sini. Karena itu kembalilah dengan semuanya, dengan Yuuto-san, Haruna-san, dan Yuuya-kun. Kembalilah dengan tersenyum..."
Sambil mengatakan itu, dia mengeratkan pelukan pada boneka kesayangannya. Di belakangnya, Shirou – yang sudah kembali ke mode innocentnya – dan Atsuya yang masih sedikit cemberut ikut berkata,
"Kami menunggu dengan senyum. Karena itu kalian juga harus kembali dengan tersenyum!"
Dan mereka berdua tersenyum lebar. Shirou mengelus-elus kepala Atsuya, dibalas dengan teriakan Atsuya kepada kakak kembarnya itu. Yuuki yang berada di sampin mereka tertawa kecil, sambil memeluk bonekanya. Aku tersenyum melihat mereka semua, sedikit merasa tenang. Karena apapun yang akan kami hadapi, masih ada orang-orang yang akan menyambut kami denga senyuman. Kulihat ke arah Mamoru dan Shuuya, mereka mengangguk lalu mulai berjalan memasuki gedung. Aku mengikuti mereka, ingin melihat penyelesaian masalah ini dengan mata kepalaku sendiri...
Tralala...Trilili...Pembatas Cerita
Di dalam gedung guru, kami langsung menuju ke lantai paling atas. Lantai tempat ruang sekolah berada. Menuju ke sana, kami juga bertemu beberapa guru, bahkan beberapa di antaranya menyapa kami. Kami hanya mengangguk sambil tersenyum, tanpa sadar mempercepat langkah menuju lantai paling atas.
"Akhirnya... Di depan situ ruang Kepala Sekolah." Mamoru menunjuk ke arah ujung ruangan, di mana bisa kulihat pintu kayu besar berada di situ. Di situ ya... Kami pun berjalan secara pelan, tidak ingin membuat keributan di lantai yang sangat sepi itu. Sangat berlawanan dengan lantai di bawahnya yang penuh dengan guru-guru, di sini tidak ada orang sama sekali...
Kami sudah berada di depan pintu besar itu, Mamoru berdiri di tengah sementara Shuuya dan aku ada di kanan kirinya. Tangan mungil Mamoru mulai mengepal, bersiap-siap untuk mengetuk pintu. Dan secara tiba-tiba, suara itu terdengar oleh kami...
"Bukan Begitu! Kenapa kalian tidak percaya pada kami?"
Suara ini... Yuuya, kan? Ternyata mereka memang berada di dalam. Kutolehkan kepalaku ke arah Mamoru, Shuuya pun melakukan hal yang sama. Mamoru masih terdiam di tempatnya. Mata miliknya menatap tajam pintu di depannya. Tapi dia tidak mencoba masuk, hanya menempelkan telapak tangannya ke pintu tersebut...
"Bukannya kami tidak percaya. Kami, pihak sekolah hanya ingin memastikan apa tuduhan yang ditujukan untuk kalian itu benar atau salah..."
Sekarang yang terdengar adalah suara kebapakan. Kudengar Mamoru bergumam 'Kepala Sekolah' secara pelan...
"Tapi itu sama saja dengan...!" Suara Yuuya terputus oleh sesuatu. Setelah itu, terdengarlah suara yang sangat akrab ditelingaku...
"Tenanglah, Yuuya." Suara yang terkesan berwibawa dan memimpin itu pun terdengar di telinga kami semua. Suara cowok gogle dengan status esper yang masih diragukan(?) itu, terdengar tegas. Bisa kubayangkan, mungkin Yuuya sekarang tertunduk takut karena teguran Yuuto barusan...
"Kepala Sekolah, Saya mohon maaf karena masalah keluarga kami menjadi masalah di sekolah juga." Suara milik Yuuto kembali terdengar. "Saya sendiri yang akan menerima hukumannya. Jadi, Saya mohon untuk mengeluarkan Haruna dan Yuuya dari tuduhan itu."
"Yuuto-san!" "Onii-chan!"
Dua suara langsung terdengar, menanggapi pernyataan Yuuto barusan. Yuuya dan... suara anak perempuan. 'Onii-chan'... Berarti itu Haruna-san, ya?
"Tapi walaupun Aku menerima tuduhan itu, Aku tetap percaya pada perkataan Haruna dan Yuuya. Mereka tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Masih dengan suara yang penuh percaya diri, Yuuto mengatakannya. Bisa kubayangkan, wajah Yuuto yang tersenyum sambil berbicara.
"Tapi, ada kemungkinan kau dikeluarkan dari sekolah sebagai hukuman. Apa kau siap?"
Dikeluarkan dari sekolah? Mataku sontak terbelalak mendengarnya. Kulihat Mamoru dan Shuuya, mereka juga sepertinya kaget mendegar hukuman yang mungkin diterima Yuuto. Walaupun perkataan Yuuto selanjutnya, lebih mengagetkan kami semua...
"Aku siap." Yuuto lalu menyambungnya lagi, "...Karena itu juga kewajibanku sebagai bagian dari Keluarga Kidou."
"Tapi, Yuuto-san...! Bagaimana dengan kenangan di sini? Teman-temanmu? ...Anggota Host Club?" Suara Yuuya terdengar lirih, sangat berbeda dengan suara 'iblis kecil' yang biasanya. Yuuya... Kuperhatikan Mamoru, dia mulai mengepalkan lagi tangannya dan juga mengigit bibirnya. Ekspresi itu... Dia marah...?
"Mereka pasti mengerti..." Suara Yuuto pun mulai mengecil. 'Mengerti'? Apa kau sungguh berpikir begitu, Yuuto...? Karena menurutku, tidak ada satu pun dari anggota Host Club yang akan mengerti sikap keras kepalamu yang satu ini. Dan tentu saja, sang kapten pasti juga tidak setuju dengan hal ini. Kenapa? Karena Mamoru sendiri sekarang sudah siap dengan kakinya untuk menendang pintu yang menghalangi Dirimu dengan kami semua...
Braak!
Dan pintu itu sukses terbuka dengan indahnya. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku mencemaskan apa pintu tersebut rusak atau tidak. Tapi sekarang, yang ada dalam pikiranku hanyalah satu orang esper nanas keras kepala yang berdiri menatap kami –Aku, Mamoru, dan Shuuya – dengan mulut menganga. Bukan hanya Yuuto, kedua orang disampingnya yaitu Yuuya dan juga seorang murid perempuan dengan rambut biru pendek dan kacamata bersemat di rambutnya. Jadi ini Haruna-san ya...? Mereka berdua juga menatap kami dengan tatapan kaget. Hanya satu orang yang tidak kaget dengan kehadiran kami, yaitu seorang Bapak yang duduk di meja tepat di ujung ruangan. Orang dengan kacamata dan rambut abu-abu yang dikepang kecil di belakangnya. Pak Kepala Sekolah... Dia hanya tersenyum, seperti menyambut kedatangan kami...
"Yuuto."
Kami semua langsung menoleh ke asal suara, Mamoru. Wajahnya masih sedikit menunduk, menutupi ekspresinya dengan bayangan. Walaupun begitu, sepertinya dia sangat...
"DASAR BUODOOOOOHH!"
Dan sambil meneriakkan kata-kata Caps Lock dan Bold barusan, Mamoru dengan ganasnya melempar sepatu yang sekarang telah beristirahat dengan tenang(?) di wajah Yuuto. Yuuto yang sangat kaget, sampai terjatuh ke lantai menerima serangan sang kapten.
"Dari tadi!" Mamoru berteriak sambil menunjuk-nunjuk Yuuto yang masih terduduk di lantai. "Kenapa kau selalu seenaknya memutuskan sesuatu? Kenapa kau tidak pernah meminta bantuan pada orang lain? Padahal kami semua ada di sampingmu...!"
"Tapi aku..." Yuuto mulai membalas semburan(?) Mamoru.
"Nggak ada tapi-tapian! Dasar Kepala Batu!" Balas Mamoru lagi tanpa belas kasihan, benar-benar menohok hati sang cowok gogle. "Kau kira dengan begini..." Mamoru mulai memelankan suaranya.
"Kau kira dengan begini, Yuuya dan Haruna akan senang...?"
Pertanyaan atau mungkin bisa disebut pernyataan Mamoru barusan, sukses membuat kami semua terdiam. Yuuto perlahan menolehkan wajahnya ke arah Yuuya dan Haruna. Dan melihat wajah mereka berdua, wajah sedih milik kedua orang itu...
"Aku..." Yuuto menundukkan kepalanya.
"Onii-chan."
Mendengar suara Haruna, Yuuto kembali mendongak ke atas. Kami semua melihat, Haruna tersenyum pada sang kakak.
"Aku sangat senang dengan perhatian Kakak padaku dan juga Yuuya-kun. Karena aku tahu, Kakak melakukannya untuk kebahagiaanku dan Yuuya-kun. Tapi..." Masih tersenyum, Haruna melanjutkan...
"Bagaimana dengan Kakak? Bagaimana dengan... kebahagiaan milik Kakak sendiri? Sama dengan Kakak yang ingin Aku dan Yuuya-kun bahagia, kami juga ingin agar Kakak bahagia. Dan tempat yang bisa membuat Kakak bahagia, adalah tempat dimana teman-teman yang sangat menyayangi Kakak ada, kan?"
Setelah mengatakan hal itu, dia menoleh padaku, Mamoru, dan juga Shuuya sambil tersenyum. Sama halnya dengan Yuuya, yang sekarang telah tersenyum lebar pada kami semua. Kebahagiaan akan didapat ketika kau berada bersama orang yang menyayangimu... Dan kau juga menyayangi orang itu, dimana kau lebih mengharapkan kebahagiaan orang itu... Melebihi kebahagiaan dirimu sendiri...
"Begitu ya..." Yuuto mulai ikut tersenyum, lalu berdiri dari posisi duduknya di lantai. "Terima kasih Haruna, Yuuya. Dan juga terima kasih... teman-teman." Setelah mengatakan itu, dia lalu menghadap kepala sekolah, lalu membungkukkan badannya.
"Maaf, Kepala Sekolah. Saya tidak bisa menerima hukuman untuk dikeluarkan dari sekolah. Saya akan menyelesaikan sendiri masalah ini... Sebagai keluarga Kidou dan juga sebagai seorang kakak..."
Kepala Sekolah tersenyum mendengarnya, seperti sudah mengira akan terjadi seperti ini. "Baiklah, sebisa mungkin selesaikan secepatnya. Sebelum masalah ini jadi perbincangan dewan guru dan anggota yayasan."
"Baik! Terima Kasih, Kepala Sekolah!" Yuuto menjawab dengan lantang dan tersenyum. Dia benar-benar senang ya... Kami semua ikut tersenyum sambil tertawa bersama...
"Oh, satu lagi. Endou-kun." Kami terdiam ketika Kepala Sekolah menyebut nama Mamoru. "Lain kali masuk dengan cara biasa saja, jangan ditendang begitu pintunya..." Sambil tertawa kecil Kepala Sekolah 'menceramahi' Mamoru...
"Hehe... Maaf, reflek..." Mamoru menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kami semua pun tertawa nyaring, minus Yuuto dan Shuuya yang hanya tersenyum.
"Baiklah! Ayo kembali! Semua sudah menunggu!"
Dengan perkataan Mamoru tersebut, kami semua meninggal ruang Kepala Sekolah. Dari sudut mataku kulihat Yuuto dan Haruna saling berpegangan tangan... Berjalan bersama saudara menghadapi apa yang membentang di depan pintu yang telah terbuka lebar...
Tralala...Trilili...Pembatas Cerita...
"Ah! Itu mereka!"
Begitu keluar dari gedung guru pusat, kami disambut oleh teriakan merdu milik Atsuya. Mereka semua yang menunggu – Shirou, Atsuya, dan Yuuki – langsung berlari ke arah kami. Ah, ternyata bukan hanya mereka bertiga. Toramaru juga ada, ikut menunggu dan berlari ke arah kami. Setelah mereka sampai di depan kami, mereka pun tersenyum kompak sambil mengatakan,
"Okaerinasai!"*
Hmm, 'Okaeri' ya...? Yah, tapi memang benar. Tempat di mana ada teman yang menyayangi kalian, lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri, juga teman yang akan selalu menyambut kita dengan senyuman... Tempat itu adalah, tempat sempurna untuk kita 'kembali pulang' kan?
Kutolehkan wajahku ke arah Mamoru, kulihat dia tersenyum lebar sambil mengangguk padaku dan juga yang lainnya. Kami pun segera membalas mereka berempat dengan senyuman... sesuai janji kami, dan membalas dengan...
"Tadaima!"**
Lalu kami semua tertawa, bahkan Yuuto dan Shuuya pun ikut tertawa. Walaupun tawa mereka tidak senyaring Mamoru dan Atsuya... Yah, tapi begini juga tidak apa-apa kan? Kami disambut dengan senyuman dan membalasnya dengan senyuman juga... Bukan senyum yang dipaksakan, tapi senyum yang memang berasal dari kebahagiaan. Kebahagiaan yang kami dapatkan dari 'tempat pulang' kami...
"Yosh! Kalau begitu setelah ini, kita bersiap-siap untuk membantu Yuuto membersihkan tuduhan itu!" Dengan semangat, Mamoru berkata. Diikuti oleh teriakan yang lain...
"Itu tidak perlu."
Suara dingin Yuuto langsung memutus teriakan kami semua. Dengan kompak semua mata tertuju pada Yuuto, termasuk Haruna dan Yuuya yang ikut memandangnya dengan wajah bingung. Mamoru langsung berwajah memelas bin horor seraya berkata 'kenapaaaaaa?'
"Karena bagaimana pun, ini adalah masalah keluargaku. Jadi aku sendiri yang harus menyelesaikannya." Dan keluarlah senyuman khas milik Yuuto. "Tenang saja, aku tak berniat untuk mengecewakan kalian dan 'kalah' dalam hal seperti ini. Setelah ini, aku akan langsung pergi menemui keluarga pembuat tuduhan itu."
Mendengar itu, kami semua pun tersenyum kembali. Haruna dan Yuuya juga ikut tersenyum, lega karena mereka percaya kepada Yuuto. Percaya bahwa Yuuto akan menyelesaikan masalah ini...
"Baiklah! Kalau begitu, Host Club akan dibuka kembali besok!"
Mamoru berteriak kepada kami semua sambil tersenyum lebar. Kami semua menjawab dengan berbagai macam tanggapan. Seperti 'Ya!' yang kompak dari si kembar, 'Baik!' dari Yuuki, Anggukan dan senyuman kecil dari Shuuya, Smirk khas dari Yuuto, juga tanggapan meriah dari Haruna dan Yuuya.
Dariku? Kuberikan senyuman terbaikku. Bukan hanya pada Mamoru yang sekarang ada di depanku, memunggungi kami semua, berjalan lebih dulu dari kami yang mengikutinya dari belakang. Kuberikan juga senyumku untuk semuanya. Untuk Shuuya mengikutiku dan Mamoru. Untuk Toramaru yang telah membantu kami. Untuk Shirou, Atsuya, dan Yuuki yang siap menyambut kami semua dengan senyuman. Untuk Yuuto, Haruna, dan Yuuya yang telah melangkah keluar dari masalah mereka.
Dan tentu saja, Aku tersenyum untuk diriku sendiri. Untuk diriku yang akhirnya telah menemukan salah satu kebahagiaan yang hilang. Kebahagiaan untuk bisa berada di tempat dimana ada orang-orang yang menyayangimu... Tempat dimana kau akan disambut dengan senyuman ketika kau pulang...
Tu Bi Kontinyu...!
Saya : HiksHiks! Selesaiiiii! Ternyata benar, lebih lancar ngetik di Malang daripada di Samarinda. Sungguh, di sana saya selalu tergoda untuk make modem yang otomatis menjadikan saya ngenet terus tampa ngetik...
All Cast : Oh, Gitu...
Saya : Kok gitu aja tanggapannya? Kalian harusnya senang, saya jadi anak rajin *muntah berjamaah* kalo di Malang!
Ichi : Terserah dirimu deh, cepet dijelasin kata-kata di atas tuh!
Saya : Oh, iya ya...
'Okaerinasai' : Bisa berarti 'selamat pulang kembali'. Kata-kata orang yang berada di rumah yang diucapkan kepada orang yang baru pulang. Tidak saya jadikan bahasa Indonesia karena artinya nggak cuocuok gitu!*lebay*
'Tadaima' : Artinya 'Aku pulang'. Balasan kepada oang yang ngucapin 'okaerinasai'.
'Onii-chan' dan 'Aniki' : Mungkin udah pada tahu... Artinya sama, 'Kakak laki-laki'. Tapi 'Aniki' itu lebih kasar daripada 'Onii-chan' , jadi jangan dipake sembarangan ya Kalau Atsuya nggak apa-apa, emang dia dari sananya begito! (Atsuya : Maksud lo?)
Saya : Kira-kira itu aja? Apa masih ada istilah Jepang yang kurang jelas? Kalau '-san' dan '-kun' semua pasti udah tau kan...
Mamoru : Setelah ini gimana lanjutannya?
Saya : He? Penguin Arc udah selesai lo! Nanti chapter selanjutnya chapter selingan sebelum maju ke Arc selanjutnya. Tenang aja, penyelesaian masalah bakal ada di chapter depan. Sekalian munculin karakter baru... Hohohoho! *tawa nista buka tawa Santa Claus*
All Cast : Hooo...
Saya : BeTeWe, Eniwey, Baswey, sekedar promosi. Suara Yuuki (Tachibana Jousuke), Hiroto(Mizushima Takahiro) dan Akio (Kaji Yuuki) kalau nyanyi KEREN abis! Terutama Yuuki tuh! KYAAAA! *fan girls mode on* Udahlah, ayok balas review...
Aurica Netsmile
Huwaaa, syukur kalo bagus ya :)
Thanks reviewnya...!
Akazora No Darktokyo
ShuuHiroMamo? Jadi Hiroto gitu yang direbutin? *sweatdrop* Hoho, Hiroto yayankku tercinta *ditampol Mamo dan Ryuuji* kayaknya masih agak lama munculnya, tapi pasti muncul kok!
Sepertinya mood saya cepet banget berubah, sebenarnya tu niat bikin cerita serius malah jadi humor... Coba nanti pingin ngetik humor, pasti jadi serius! *plaak*
Hoho... Banyak yang bilang kemunculan Shuuya sangat tiba-tiba. Apa Shuuya berpotensi jadi esper kedua? *ditendang pake fire tornado*
Ini udah dipanjangin, panjang banget malah...
Thanks Reviewnya!
De-chan Aishiro
Ahhh, keren...keren...keren... Sungguh bergema di hati saya...*lebay mode on*
Hoho, iya kasihan Ichi! Dan, pada tahu kalo itu Shadow ya...? Hidup chara cakep! *ditendang pake dark tornado*
Buset, saya dah kena double tornado... Hohe? Ternyata masih ada misstypo...! Mudahan chapter ini gak ada, Amiiin!
Heee... Saya sama juga! Tapi bukan matematika aja, semua pelajaran IPA saya pasti seneng klo denger bel bunyi! *padahal anak IPA...*
Hohe! KittyShipping? Gimana tuh yang laen? Yay for ShuuTora! *plaak*
Auh,auh... Saya melayang nih klo dipuji terus! *double plaak*
Haha! Ngarep tuh! Sebenarnya adegannya tu di tengah hujan gitu, Shirou denger petir langsung teriak "Semua akan mati!" Tapi langsung ditenangin Shuuya (Shuuya megang pundaknya) terus bilang, "Tidak ada yang akan mati!" Hahuuuu, kenapa gak sama Ryuugo seh?
Ini dah dipanjangin, klo ShuuYuu tunggu dulu ya, soalnya saya bingung bikinnya kayak mana...
Thanks Reviewnya!
The Fallen Kuriboh
Haha! Ai loph yu tuu...? Hehe...
Hoho, si Shadow di tunggu ja ya. Dia kan bayangan, datang tak di jemput pulang tak diantar... *dikira jelangkung?*
Munculin! Munculin! Munculin! Di anime ja dibilang begini : 'Syukurlah kau bisa masuk ke tim yang sama dengan Goenji-san yang kau sukai" Ibunya Tora yang bilang! Pake Daisuki no Goenji-san pula! Kyaa!
Saya tunggu HiroMamo na!
Thanks Reviewnya! P.S : Pictnya ditunggu ja! Di pixiv juga jarang mereka berdua, biasanya Yuuto nyempil gitu...
Draco de Laviathan
Yes, saya Apdet!
Hush, jangan tidur di kelas! Nggak baek! Pokoknya jangan ampe ketahuan ya! *plaak*
Iya, silahkan! Belajar bareng Ichi aja supaya dapet beasiswa ke sana...:D
Toramaru terlalu imut untuk tidak dimasukkan! XD
Thanks Reviewnya!
N/A : Hoho, langsung ja... Review puehliiis?
