A/N : Anjritttt! Apaan itu Hetalia? Bikin saya geregetan sendiri! Dan bikin saya dengan mudahnya jatuh cintrong dengan berbagai macam karakter... Inggris, Cina, dan Masya Allah! Saya juga jatuh cintrong sama Prussia! Eh, tapi beneran itu Indonesia dijadiin cewek? Nggak rela daku...T^T Yosh, curcol selesai! Lanjut...
Eh, tapi serius. Si Gilbert itu cakep uy...
Disclaimer : Inazuma Eleven Owned by Level-5 dan Ouran Koukou Host Club owned by Bisco Hatori
Rated : K+
Character(s) : Kazemaru Ichirouta, Endou Mamoru, Fubuki Shirou, Fubuki Atsuya, Kidou Yuuto, Goenji Shuuya, Someoka Ryuugo
Genre(s) : Friendship, Humor
Warning : AU, Sho-Ai, Brotherly love(?), mungkin OOC dan typo...
Inazuma Host Club
Episode 10
Twin Wolves Arc
"A small snowflake, connect the two brothers"
Nightmare and Warmness
Berkelas.
Itulah kata pertama yang muncul di benak Ichirouta ketika melihat rumah keluarga Fubuki.
Setelah Mamoru menggagaskan ide untuk menengok Fubuki bersaudara di rumah mereka, anggota Host Club pun menyerah dan mengikut keinginan sang kapten. Walaupun sebenarnya anggota yang lain agak tak rela untuk meninggalkan tugas mereka, yang memang tidak sebanyak tugas Ichirouta, toh tetap saja banyak. Lagipula, Someoka juga bilang kalau Atsuya hanya demam biasa, kan? Tapi menghadapi puppy eyes Mamoru, siapa yang bisa menolak? Ichirouta berani mempertaruhkan seluruh jatah makan gratisnya kalau Mamoru hanya ingin menghindari tugas Matematika miliknya itu. Alhasil sekarang mereka berdiri di depan rumah keluarga Fubuki, yang seperti Ichirouta pikirkan tadi, berkelas.
Rumah itu berwarna putih, dengan tambahan abu-abu dan broken white di beberapa bagian dindingnya. Bergaya minimalis, rumah itu lebih cocok dibilang berkelas daripada mewah. Konsep yang sangat cocok karena keluarga Fubuki adalah keluarga yang berkutat di bisnis yang berhubungan dengan seni. Seperti interior ruang dan aksitetur rumah. Setidaknya, itulah yang dijelaskan Yuuto pada Ichirouta.
"Ayo, Kita masuk."
Memimpin para anggota Host club dan membukakan pintu untuk semuannya, adalah Someoka Ryuugo. Ichirouta baru saja berkenalan dengannya tadi. Sekelas dengan Yuuto dan Shirou, dia adalah teman masa kecil Shirou dan Atsuya. Keluarga Someoka juga 'teman' dari keluarga Fubuki, menyebabkannya sangat akrab dengan si kembar. Mamoru juga sempat berkomentar kalau Ryuugo itu lebih seperti 'babysitter' si kembar, karena terlalu sering dibuat panik dan cemas sendiri dengan tingkah laku dua serigala mungil itu.
Begitu masuk, semuanya langsung disambut dengan interior minimalis yang tersusun sempurna. Ichirouta hanya bisa terbengong-bengong melihat bagian dalam rumah itu. Tapi beda dengan kesan berkelas yang didapatnya ketika melihat bagian luar rumah, di dalam terkesan sangat...dingin? Entahlah, dia hanya merasa seperti itu. Walaupun sebenarnya bagian dalam rumah itu terkesan berkelas juga.
"Ryuugo-kun?"
Suara innocent milik Shirou pun terdengar dari lantai atas. Kami menengok ke arahnya, dan melihat wajah Shirou yang kaget melihat kami semua dari lantai dua. Sepertinya dia baru saja bangun tidur, karena wajahnya masih lelah, dan dia mengucek-ngucek matanya.
"Semuanya? Kenapa ada di sini?" Shirou bertanya sambil perlahan turun dari tangga. Dia memakai kaos lengan pendek berwarna biru muda dan juga celana selutut berwana hitam. Begitu melihat kami, wajah lelah berubah menjadi senyum innocent miliknya yang biasa.
"Kami mau lihat keadaan Atsuya-san. Katanya dia demam..." Yuuki berkata perlahan. Shirou lalu tersenyum padanya sambil menjawab,
"Ah, iya. Kemarin kita berdua keasyikkan ngejar Yuuto-kun... Sampai Atsuya jatuh di kolam kecil. Yuuto-kun malah langsung kabur dari kami berdua..." Shirou menopang dagunya, mengingat-ingat kejadian kemarin. Setelah dia menyelesaikan kalimatnya itu, dengan kompak semua mata langsung tertuju pada Yuuto. Yang dibalas deathglare sang esper.
"Terus Atsuya mana?" Suara Shuuya mengembalikan kami semua ke jalan yang benar(?). Shirou memandang ke arah lantai dua.
"Dia sedang tidur. Tenang saja, demamnya sudah turun kok." Semuanya lalu tersenyum mendengar berita itu. Memang kalau semua anggota Host Club tidak berkumpul, rasanya ada yang kurang. "Mumpung kalian di sini, mau minum dan makan kue dulu?" Shirou bertanya seraya berjalan ke arah dapur. Mamoru langsung mengangguk semangat bergitu mendengar kata kue. Mereka semua lalu menuju ruang duduk, menunggu Shirou.
xxxInazuma Eleven!xxx
Ichirouta memperhatikan ruang duduk itu. Hanya ada satu sofa untuk dua orang yang menghadap ke tv plasma berinci besar. Juga meja kecil tempat menaruh makanan. Lantai ruangan itu dilapisi karpet berwarna abu-abu. Tidak ada perabot lain, menyisakan ruang luas untuk seluruh anggota Host Club duduk.
'Ternyata memang benar. Rumah ini...dingin...'
Ichirouta tidak berani untuk mengutarakan pikirannya barusan. Karena dingin yang dimaksud bukanlah suhu, melainkan suasana. Rumah itu dingin, kosong, dan... sepi. Rasa sepi yang dirasakannya sekarang benar-benar menusuk. Cowok ponytail itu memeluk dirinya sendiri, sedikit takut dengan rasa dingin rumah ini.
"Kazemaru, kau kenapa?"
Ryuugo mengangkat alisnya melihat Ichirouta yang sepertinya kedinginan dan...ketakutan? Yang ditanya hanya menggeleng pelan dan mencoba untuk tersenyum. Walaupun jelas sekali kalau senyum itu adalah senyum yang dipaksakan. Ryuugo pun berdiri dari tempat duduknya.
"Mukamu pucat. Akan kuminta Shirou meyiapkan minuman hangat. Tunggu sebentar." Dia pun beranjak menuju dapur, menyusul Shirou.
Ingin rasanya Ichirouta bilang kalau dia tidak sakit. Dia hanya tidak enak dengan aura dingin dan sepi milik rumah ini. Bahkan dia merasa apartemennya yang sempit lebih baik dari rumah mewah nan berkelas ini. Dia pun menutup matanya dan mengambil nafas perlahan, menenangkan dirinya sendiri.
"Bukan Cuma kau yang merasa di sini itu dingin." Suara Mamoru sontak membuat Ichirouta menoleh ke arah sang kapten. Begitu juga anggota Host Club yang berada di situ. Mereka bergantian melihat ke arah Mamoru dan Ichirouta. Dan mengerti apa yang dimaksud Mamoru.
"Jadi itu yang membuatmu pucat. Tahanlah sampai kita pulang nanti." Sekarang Yuuto yang bicara. "Beginilah keadaan rumah yang hanya dihuni oleh dua orang." Dia kembali menambahkan.
"Hanya dihuni dua orang...?" Ichirouta bertanya pelan. Itu berarti hanya Shirou dan Atsuya yang tinggal di sini? Bagaimana dengan...
"Meninggal karena kecelakaan." Suara dingin Shuuya terdengar. Ichirouta memandang ke arah cowok berambut putih tulang itu. "Orang tua mereka sudah tidak ada. Mereka tinggal berdua."
Semua lalu menundukkan kepala mereka. Terlihat raut sedih di wajah dan mata mereka. Ichirouta hanya bisa terdiam sambil ikut menundukkan kepalanya, melihat ke arah tangannya yang terkepal. Hanya tinggal berdua...
"Maaf menunggu!"
Suara ceria milik Shirou memecah keheningan di sekitar anggota Host Club. Mereka semua pun langsung memasang senyum terbaik mereka. Kalau Ichirouta tidak ikut dalam pembicaraan barusan, dia pasti menduga kalau senyum Mamoru, Yuuto, Shuuya, dan Yuuki adalah senyum sungguhan. Pada saat seperti inilah dia benci karena tahu hal yang sebenarnya. Dan dia juga membenci dirinya sekarang karena ikut tersenyum bersama yang lain...
Teh hangat dan beberapa macam kue kering tersedia di atas meja kecil. Mereka semua lalu duduk melingkari meja kecil itu. Ichirouta meminum tehnya dan menyadari ada sedikit rasa madu di teh tersebut.
"Ryuugo-kun bilang kalau Ichirouta-kun sedang tidak enak badan. Jadi kutambahkan madu ke tehmu." Shirou sambil tersenyum manis berkata. Ichirouta membalasnya seraya mengucapkan terima kasih dan tersenyum.
Setelah itu pembicaraan mulai mengalir. Tentang penyakit Atsuya, tentang repotnya Shirou mengurus si adik kembar, tentang tugas sekolah. Begitu topik berubah ke arah tugas, Yuuto langsung menyarankan agar semuanya mengerjakan tugas mereka sekarang, di tempat itu. Yang disambut penolakan Mamoru. Tapi diiyakan oleh semuanya mengingat jumlah tugas mereka yang banyak. Terutama Ichirouta...
Setelah itu, hanya suara kertas yang ditulis yang terdengar. Sekali-kali mereka bertanya satu sama lain untuk hal yang tidak dimengerti. Yuuto mengajarkan Fisika dan Matematika, Shuuya mengajarkan Biologi, Yuuki membenarkan Sejarah yang salah, dan Mamoru membantu Ichirouta dalam tugas kesenian. Ichirouta membantu yang lain dalam Kimia.
Ryuugo dan Shirou yang tidak mendapat tugas, karena mereka memang tidak masuk sekolah tadi, hanya melihat dari luar lingkaran dan kadang-kadang membantu. Walaupun Shirou terlihat lelah dan mengantuk. Dia menguap beberapa kali dan mengucek-ngucek matanya. Ryuugo yang ada di sampingnya menyuruh untuk tidur lagi. Yang ditolak oleh Shirou dengan sopan. Sampai akhirnya Mamoru masuk dalam pembicaraan itu.
"Shirou, maaf kalau kami seenaknya memakai rumahmu untuk mengerjakan pr. Lebih baik kau tidur saja daripada nungguin kami semua. Kamu ngantuk, kan?"
Setelah Mamoru berkata seperti itu, Shirou pun mengangguk pelan dan akhirnya setuju untuk kembali tidur. Ryuugo yang ingin mengantarnya ke kamar kembali ditolak halus. Shirou sambil berkata 'maaf' pada semuanya, naik ke lantai dua menuju ke kamar untuk tidur.
"Shirou-san... Tidak apa-apa dibiarkan sendirian?" Yuuki bertanya pelan sambil mengerjakan tugas-tugasnya. Yang lain tetap diam masih mengerjakan tugas, tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ryuugo sebagai satu-satunya yang bebas dari tugas, menjawab sambil menghela nafas terlebih dahulu.
"Aku juga sebenarnya tidak yakin dia bisa ditinggal sendirian. Semalaman dia menjaga Atsuya, yang Tsundere-nya makin keluar kalau sakit..."
Ichirouta sweatdrop mendengar perkataan Ryuugo barusan. Jadi penasaran bagaimana tingkah Atsuya kalau sedang sakit. Tapi langsung menghilangkan pikiran itu ketika mendengar perkataan Ryuugo selanjutnya...
"Tapi dia melakukan itu untuk menyakinkan dirinya sendiri. Bahwa Atsuya tidak akan pergi kemana-mana dan dia tidak sendirian..."
Ryuugo kembali menghela nafasnya. Ichirouta memandang wajah cowok berkulit gelap itu. Sedih... sedih karena mengingat sesuatu yang tidak ingin diingatnya.
"Hey, Someoka." Ryuugo menoleh ke arah Mamoru. "Boleh tidak kami menceritakan keadaan Shirou dan Atsuya sekarang pada Ichirouta? Karena hanya dia yang tidak tahu..."
"E-eh? Tapi itu hal pribadi! Malah bagus kalau aku tidak tahu...!"
"Silahkan saja."
Ichirouta terbelalak mendengar persetujuan Ryuugo. Seharusnya dia tidak boleh tahu kehidupan pribadi orang lain! Kenapa sekarang dia diminta untuk mendengarnya? Walaupun dia memang anggota Host Club, dia masih orang luar! Baru saja sebulan mereka bersama, tidak lebih dari itu!
"Kau sudah bukan orang luar lagi, Ichirouta. Kau bagian dari Host Club jadi kau boleh tahu tentang kami. Itu hal yang wajar, kan?"
Seperti biasanya, Yuuto seakan membaca pikiran Ichirouta dan berkata seakan dia benar. Tapi tetap saja...
"Bahkan Kidou bilang begitu. Dan tidak biasanya Endou mau menceritakan hal pribadi pada orang lain. Kau benar-benar sudah menjadi bagian dari mereka, Kazemaru..." Ryuugo menambahkan. Ichirouta hanya terbengong melihat tatapan teman-temannya. Semua menatap dengan tajam dan yakin. Percaya pada Ichirouta. Dan... apakah dia juga melihat harapan di mata mereka semua?
Cowok itu akhirnya menyerah dan kembali mengambil nafas untuk menenangkan dirinya. Dia lalu membalas tatapan teman-temannya. Membalas dengan tatapan yang siap menerima apapun. Melihat ini, Mamoru tersenyum kecil. Senyuman kecil yang sedih...
"Seperti yang dibilang Shuuya tadi, orangtua Shirou dan Atsuya sudah meninggal. Mereka meninggal waktu mereka berdua masih kecil."
Mamoru lalu menoleh ke arah Ryuugo. Cowok itu mengerti dan menanggukkan kepalanya, menggantikan Mamoru bercerita.
"Mereka sedang berlibur ke Hokkaido pada musim dingin. Liburan layaknya keluarga biasa. Aku seharusnya juga ikut, tapi tidak bisa karena ada acara keluarga.
Semuanya benar-benar sempurna, setidaknya itulah yang dikatakan dua anak itu ketika mereka menelpon dari Hokkaido. Mereka bermain ski, snowboard, bahkan sepak bola di tengah salju. Tentu saja mereka senang karena bisa bersama orang tua mereka adalah hal yang langka. Mengingat keduanya selalu sibuk bekerja.
Seminggu mereka berada di sana. Pada hari terakhir, mereka memutuskan untuk melihat bintang di rumah kenalan keluarga Fubuki. Karena ingin seperti keluarga biasa, mereka memutuskan untuk naik mobil di mana hanya mereka berempat yang ada di dalamnya.
Tidak ada yang menyangka mereka akan terlibat kecelakaan. Salju longsor. Bukan hanya mereka yang tertimbun, banyak orang yang kehilangan nyawanya.
Orangtua mereka meninggal tertimbun salju. Sedangkan Shirou selamat hanya dengan luka-luka kecil dan memar. Semua itu karena Atsuya yang melindunginya dan mendorongnya keluar dari mobil. Atsuya sendiri mengalami benturan di kepala dan patah tulang.
Aku dan keluargaku yang mendengar kecelakaan itu bergegas menemui mereka berdua. Aku masih ingat sampai sekarang... Tatapan kosong milik Shirou dan juga wajah Atsuya yang tertidur.
Karena benturan di kepala, Atsuya sempat koma untuk beberapa bulan. Itulah alasannya kenapa sekarang dia masih kelas satu SMA. Syal putih yang selalu dipakainya, itu hadiah terakhir dari orang tua mereka ketika berlibur.
Ketika Atsuya koma, Shirou... dia menjadi pendiam. Kosong, dia benar-benar jadi putih kosong seperti namanya. Dia bahkan sempat susah tidur di malam hari, karena melihat mimpi buruk terus-menerus. Dia jarang bicara pada orang dewasa di sekitarnya. Aku sendiri saja jarang diajaknya bicara...
Semua itu berlanjut sampai Atsuya terbangun. Seperti hidup kembali, Shirou menangis sejadi-jadinya waktu itu. Perlahan-lahan dia kembali tersenyum dan bicara pada orang di sekitarnya. Oh, dan mungkin pertemuan dengan Endou dan masuk ke Host Club juga berpengaruh besar. Dia lebih banyak tersenyum sejak masuk Host Club."
Ryuugo tersenyum pada kami semua. Seperti terlepas dari beban yang berat yang menindih pundaknya. Mamoru dan semuanya balas tersenyum padanya.
"Tapi.. dia tetap saja takut." Ryuugo berkata sambil melihat ke arah lantai dua. "Dia takut sendirian, takut akan kesepian, dan lebih dari apapun... takut ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya."
Keheningan kembali terjadi. Takut karena ditinggal oleh orang yang disayangi... Ichirouta tidak menyangka Shirou seperti itu. Yah, dia tidak bisa menyalahkan Shirou. Karena dia juga sama dengannya.
'Walaupun untukku sudah terlambat... karena orang yang paling kusayangi sudah meninggalkanku... Lebih tepatnya, aku yang meninggalkan 'dirimu' begitu saja...'
Ichirouta menutup matanya. Mengingat masa lalunya, ketika orang yang paling disayanginya tidak ada di sampingnya lagi. Satu-satunya hal yang paling disesali Ichirouta dalam hidupnya sampai saat ini.
"Ichirouta...?"
Mamoru memanggil Ichirouta. Cowok ponytail itu lalu tersenyum pada Mamoru, seakan mengatakan 'aku tidak apa-apa'. Sang kapten hanya menangguk pelan, jelas sekali tidak percaya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya berpikir kalau Shirou itu mirip denganku..." Mamoru memiringkan kepalanya, tanda tak mengerti. Ichirouta kembali tersenyum sambil memandang langit-langit. Dia merasakan sekarang dirinyalah yang dipandang oleh teman-temannya.
"Aku juga tidak punya orang tua. Walaupun mereka tidak meninggal seperti orangtua Shirou dan Atsuya. Ibuku meninggal karena sakit dan Ayahku menghilang entah kemana..."
Semua terdiam menunggu Ichirouta melanjutkan.
"...Dan lagi, orang yang paling kusayangi sudah pergi meninggalkanku. Tapi aku yakin, kalau dia berpikir akulah yang pergi meninggalkannya..."
Hening. Semua menundukkan kepalanya setelah mendengar ini. Berkecamuk dalam pikiran masing-masing, perasaan yang berbeda-beda tapi pada dasarnya sama. Orang yang disayangi dan ketakutan akan ditinggal...
"Dia mirip denganmu..." Ichirouta kembali berbicara. "Selalu tersenyum dalam keadaan apapun, seperti bunga matahari. Juga benci kekalahan. Benar-benar mirip denganmu, Mamoru..."
Mamoru terbelalak mendengar ini. Mereka berdua saling bertatapan. Dan akhirnya Mamoru mengerti. Siapa sebenarnya yang dilihat Ichirouta di dalam dirinya...
"Kenapa kau memberitahu kami hal itu, Ichirouta?" Shuuya berkata, lebih pelan daripada biasanya. Ichirouta menanggapinya sambil tersenyum kecil.
"Kalian bilang aku bagian dari Host Club, kan? Aku sudah mendengar tentang Shirou dan Atsuya, juga Yuuto dari keributan yang lalu. Wajar kalau aku memberitahu kalian tentang diriku sendiri."
"...Dan lagi bohong besar kalau aku tidak penasaran tentang kalian semua." Ichirouta menambahkan dengan berbisik, tapi masih bisa didengar oleh yang lain. Mereka semua lalu tersenyum. Mencairlah keheningan dan rasa dingin di sekitar mereka.
"Begitu ya. Kalau begitu kami juga harus bercerita tentang diri kami semua!" Mamoru kembali berbicara dengan suaranya yang biasa. Bagai anak kecil.
"Aku setuju dengan Mamoru. Akan kumulai." Yuuto mengambil nafas lalu kembali melanjutkan. "Kau sudah tahu orangtua kandungku meninggal waktu aku kecil. Aku diadopsi oleh keluarga Kidou dan Haruna oleh keluarga Otonashi. Sekarang aku tidak punya Ibu, hanya ada Ayah." Yuuto tersenyum. "Orang yang kusayangi, Haruna."
"...Jangan melihatku seperti aku ini incest atau semacamnya. Dia satu-satunya adik dan keluarga asliku yang ada. Tentu saja aku sayang pada Ayahku yang sekarang. Juga Yuuya dan Akio..." Yuuto tersenyum lembut mengingat satu persatu orang yang disayanginya. Dia lalu menoleh ke arah Yuuki yang ada di sampingnya.
"Aku? Emm, aku jarang bertemu dengan orangtuaku. Dan karena berbagai macam hal aku tidak terlalu akrab dengan mereka." Yuuki menunduk sambil mengatakan ini. Terlihat dia tidak mau membahas tentang orangtuanya. "Sekarang aku tinggal bersama kakek dan nenekku, bersama beberapa murid dojo. Untuk orang yang disayangi, tentu saja aku sayang kakek dan nenek. Juga murid-murid dojo yang menganggapku sebagai keluarga mereka. Lalu..." Yuuki mengeratkan pelukannya pada boneka kesayangannya. Wajahnya sekarang terbenam di rambut pink boneka itu.
"Tsunami-senpai?" Mamoru, Yuuto, Shuuya, bahkan Ryuugo bertanya secara bersamaan. Yang semuanya harus dibayar dengan ketegangan ekstrim ketika kunai melesat disampingmu dan hanya berjarak beberapa milimeter saja. Ruangan pun langsung dipenuhi aura hitam Dark!Yuuki. Juga ketegangan semuanya yang baru saja meregang nyawa dari kunai yang sudah menancap manis di dinding.
"Kalau begitu, giliranku." Shuuya berkata seakan tidak terjadi apa-apa. "Ibuku meninggal karena sakit, tapi dari awal badannya memang lemah. Ayahku seorang dokter. Aku tinggal bersama adikku, Yuuka, dan seorang bibi yang sudah merawat kami berdua dari kecil. Terkadang Toramaru juga menginap di rumahku. Juga sepupuku yang terkadang datang membawa adik-adiknya..." Shuuya tersenyum, hal yang sangat jarang. "Semuanya adalah orang yang kusayangi."
"Yosh, Giliranku." Mamoru berkata sambil meninju udara.
"Orangtuaku selalu sibuk bekerja, tapi mereka sering menelponku. Di rumah aku tinggal dengan beberapa Maid dan juga kepala Butler bernama Hibiki-san." Ichirouta menangguk-angguk mendengar penjelasan Mamoru. "Orang yang disayangi... tentu saja orangtuaku dan Hibiki-san dan juga orang-orang yang kukenal! Semuanya penting bagiku!" Jawaban yang sungguh khas Mamoru. "Tapi, tentu saja ada yang paling kusayangi dari semuanya..." Mamoru mulai memegang Headband oranye yang selalu bertengger di kepalanya.
"Siapa...?" Tanpa sadar Ichirouta bertanya. Mamoru hanya tersenyum lembut. Dia lalu mengambil teh dan minum.
"Kiyama, kan?"
...Sukses membuat Mamoru tersedak tehnya sendiri. Sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus, mungkin bingung mau malu atau marah. Dan dia menghadap ke arah Yuuto dan Shuuya yang tadi bertanya secara bersamaan. Mulutnya buka tutup, seperti ikan mas. Membuat Ichirouta tertawa pelan. Bahkan semuanya mulai tertawa, termasuk Shuuya yang kesusahan untuk menahan tawanya.
"A,apa-kenapa...Agghhh!"
Ichirouta memang belum tahu siapa itu Kiyama. Tapi hanya menyebut namanya bisa membuat Mamoru panik seperti ini. Ichirouta jadi ingin bertemu dengan orang ini. Orang yang paling disayang oleh Mamoru... Ichirouta memegang dadanya, perasaan sedih tapi juga senang mengalir keluar...
"Yuuya akrab dengannya, kau tahu itu. Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi kalau bisa membuat Yuuya menurut, itu berarti dia hebat." Yuuto berkata di sela-sela tertawa. Bisa membuat Yuuya yang ITU menurut? Sungguh membuat Ichirouta penasaran...
"Dia satu-satunya yang bisa membuatmu tenang dan tidak bertingkah, kan?" Sekarang Shuuya yang bertanya. Dia sudah menenagkan diri dan kembali memasang wajah cool. "Juga tingkahmu yang selalu nempel seperti koala kalau ada didekatnya..."
Mamoru dengan kecepatan luar biasa melempar buku tugas matematikanya ke arah dua orang itu. Dan dengan keajaiban, sukses menghantam wajah Shuuya dan Yuuto.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa dia membuat Yuuya menurut. Dan aku bisa tenang didekatnya karena alasan yang tidak jelas juga. DAN aku tidak seperti koala kalau ada didekatanya!" Mamoru berkata dengan nada marah. Tapi mukanya yang masih merah bak kepiting rebus mengkhianati dirinya.
Semuanya pun tertawa melihat tingkah laku Mamoru yang satu ini. Ichirouta semakin penasaran ingin mengenal orang bernama Kiyama yang bisa membuat Mamoru panik. Dan seperti koala? Shuuya ternyata bisa mengatakan perumpamaan seperti itu...
xxxLet's Go! Yeah!xxx
Setelah keributan yang disebabkan oleh kepanikan Mamoru, yang sebenarnya itu ulah Yuuto dan Shuuya yang mumpung sedang kompak, mereka semua kembali mengerjakan tugas. Keheningan melanda mereka yang sibuk dengan tugas masing-masing. Ryuugo yang tidak dapat tugas memutuskan untuk membaca buku. Keheningan yang hangat.
Hujan yang turun membuat keheningan itu sempat terhenti. Mereka semua melihat ke luar jendela, di mana hujan turun dengan lebatnya.
"Deras sekali. Kita jadi tidak bisa pulang..." Ichirouta berkata pelan. Semuanya menangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, kalian menginap saja di sini. Aku yakin Shirou dan Atsuya tidak akan keberatan." Ryuugo memberi saran pada semuanya. Mereka semua lalu saling pandang. "Sekalian mengerjakan tugas kalian bersama-sama, kan?"
"Aku sih tidak apa-apa kalau mau menginap. Toh aku memang tinggal sendiri." Ichirouta berkata sambil merenggangkan tubuhnya. Pegal karena menulis tanpa henti.
"Aku juga tidak apa-apa, asal memberitahu orang rumah." Yuuto berkata diikuti anggukan Yuuki dan Shuuya. "Mamoru?"
"Pasti kena marah Hibiki-san... Tapi, nggak apa-apa! Tinggal bilang kalau tugasnya memang banyak!" Mamoru berkata sambil tersenyum.
"Yosh, sudah diputuskan...!" Kata-kata Ryuugo terputus mendengar suara itu.
GUBRAK!
Suara benda jatuh dari lantai dua. Sepertinya keras sekali. Disusul dengan teriakan yang sudah sangat dikenal oleh semuanya...
"ADUH!"
Teriakan yang membuat semuanya sweatdrop. Terdengar suara tapak kaki dari arah lantai dua. Dan terlihatlah sosok Fubuki Atsuya yang perlahan turun ke bawah. Dia mengusap-ngusap kepalanya sambil merintih pelan. Memakai piyama berwarna abu-abu, lengkap dengan syal putih panjang miliknya.
"Aduuh...Hm? Kapten dan yang lain? Kenapa ada di sini?" Masih mengusap-ngusap kepalanya, dia bertanya dan memasang wajah penasaran. Ryuugo pun mendekat ke arah si adik kembar dan menjelaskan semuanya.
"Mereka mau menengokmu, sekalian mengerjakan tugas bersama-sama." Atsuya ber-oh pelan menanggapi ini. "Dan...bunyi apa barusan? Kau jatuh?"
"Jatuh dari ranjang setelah berkutat dengan selimut..." Atsuya menjawab pelan, mukanya merah karena malu. Dia lalu melihat semuanya dan bertanya lagi, "Mana Aniki?"
"Shirou-san pergi tidur. Sepertinya dia kurang tidur karena menguap terus." Yuuki menjawab pertanyaan Atsuya. Atsuya kembali ber-oh pelan sambil memandang ke arah lantai dua.
"Terus, tugas apa yang kalian kerjakan?"
Dan semuanya lalu menjelaskan tugas mereka yang menumpuk itu pada Atsuya. Atsuya hanya tertawa dan sedikit merasa bersyukur karena dia tidak masuk hari ini. Langsung dibalas dengan teriakan Mamoru yang ngambek. Bukannya berhenti, Atsuya malah semakin nyaring tertawa.
Keramaian yang ditimbulkan oleh Mamoru dan Atsuya memang tak tergantikan oleh siapapun. Si kapten dan adik kembar yang tadi saling berteriak dan menertawakan, sekarang malah berlebay ria dengan tugas-tugas yang banyak itu. Semuanya ikut tertawa melihat tingkah laku mereka, sampai kegelapan terjadi di sekitar mereka.
"Huwaa?" Mamoru berteriak kaget, sekelilingnya gelap gulita. Semuanya –kecuali Atsuya- mengeluarkan handphone masing-masing, memberikan sedikit cahaya untuk melihat sekelilingnya.
"Mati lampu, ya? Mungkin karena hujan deras..." Ryuugo berkata pelan. "Sebentar aku ambil lilin..." Dia beranjak menuju dapur, diikuti Atsuya yang menyusulnya.
"Hey, Ryuugo. Sekalian ambil senter, aku mau melihat Aniki." Dia berkata sambil berjalan di samping Ryuugo. Cowok berkulit gelap itu mengangguk dan mengambil senter dari salah satu laci dapur. Dia juga dengan cepat menyalakan beberapa lilin. Dibantu Atsuya, dia membawa lilin-lilin itu ke tempat duduk semuanya.
"Sebentar lagi pasti nyala lagi..." Atsuya berkata sambil menaruh lilin-lilin itu di atas meja. Anggota Host Club lainnya merapikan tugas-tugas mereka dan menaruhnya di dalam tas. Mati lampu begini tidak mungkin mengerjakannya, kan?
"Aku mau melihat Aniki dulu." Atsuya berkata sambil menyalakan senter. "Kalau saja dia takut sekelilingnya gelap gulita begini." Dia pun tertawa kecil membayangkan kakak kembarnya ketakutan. Semuanya hanya bisa pasrah melihat tingkah laku Atsuya yang satu ini.
"Atsuya..." Ryuugo berkata dengan nada menasehati. Atsuya hanya menyeringai, memasang wajah aku-Cuma-bercanda. Dia pun mulai beranjak dari situ, menuju ke tangga...
...Sampai sebuah bunyi petir memekakkan telinga semuanya. Bahkan Yuuki dan Mamoru sampai menutup telinga mendengar suara petir –atau guntur? Entahlah- yang benar-benar nyaring itu. Semuanya terdiam, termasuk Ryuugo dan Atsuya yang terbelalak dan saling pandang.
"Hey, kalian..." Belum sempat Ichirouta menyelesaikan kalimatnya, Atsuya dan Ryuugo langsung berlari menuju lantai dua. Anggota Host Club yang lain, merasakan ada yang aneh dengan kedua orang itu mengikuti menuju lantai dua. Dengan menggunakan Handphone sebagai penerangan, mereka semua berlari menyusul Atsuya dan Ryuugo. Kedua orang itu menampilkan wajah cemas dan takut...
"Aniki!" "Shirou!"
Atsuya dan Ryuugo berteriak secara bersamaan ketika membuka sebuah pintu. Mereka lalu masuk, masih dengan wajah yang menyiratkan kecemasan yang luar biasa. Mamoru, Ichirouta, dan yang lainnya hanya berdiri di depan pintu.
Dibalik pintu itu adalah sebuah kamar. Cukup besar dengan sebuah ranjang yang bisa ditiduri dua orang ada di tengah. Lemari, meja belajar, dan juga berbagai macam kertas dan buku berserakan di lantainya. Ada juga poster dan foto yang ditempel di salah satu bagian dinding.
Tapi semuanya hanya memandang ke arah ranjang berlapis warna biru muda itu. Ditengahnya ada seseorang yang tersembunyi di dalam balutan selimut. Dia duduk sambil melingkarkan badannya, badannya bergetar hebat, dan kedua tangannya menutup telinganya. Atsuya dan Ryuugo berlari dan langsung duduk di samping sosok berselimut itu.
...Dan sosok itu melompat ke pelukan Atsuya dan Ryuugo. Membuat mereka bertiga jatuh terjerembab ke lantai. Tidak mempedulikan rasa sakit, Atsuya langsung memeluk balik sosok itu. Selimut yang tadi menutupi seluruh sosok itu, sekarang terbuka dan memperlihatkan sosok Fubuki Shirou yang ketakutan. Wajahnya benar-benar menyiratkan rasa takut yang luar biasa. Bergetar hebat seiring dengan rasa takut yang menjalar di seluruh tubuh...
Suara petir kembali mengagetkan mereka semua. Shirou semakin bergetar, mengeratkan cengkraman tangannya di piyama Atsuya. Atsuya hanya memeluk kakak kembarnya itu, sekali-kali berbisik menenangkan. Ryuugo yang ada di samping kakak adik itu, terdiam sambil mengelus kepala mereka berdua. Ichirouta, Mamoru, Yuuto, Shuuya, dan Yuuki hanya melihat dari pinggir. Tidak mampu berbuat apa-apa, hanya dapat melihat.
Mereka terus dalam posisi seperti itu, sampai suara petir mereda, sampai hujan berubah menjadi rintik. Tanpa ada suara. Hanya terkadang bisikan Atsuya yang menenangkan kakak kembarnya terdengar.
"Aku ada di sini..."
Kalimat pendek yang paling sering diucapkan untuk menenangkan Shirou. Setelah beberapa saat, hujan berubah menjadi rintik, dan Atsuya mulai melonggarkan pelukannya pada sang kakak. Shirou langsung oleng ke samping dan ditangkap oleh Ryuugo yang masih berada di samping dua serigala mungil itu. Terlihat Shirou kembali tertidur, ada bekas air mata di wajahnya. Ryuugo menghela nafas dan menidurkan Shirou di ranjang. Tidak lupa menyelimutinya dengan selimut.
Keheningan terjadi. Hanya rintik hujan yang terdengar. Dan yang terlihat hanya pandangan mata yang berbeda-beda. Atsuya dan Ryuugo yang memandang Shirou dengan penuh kasih sayang dan rasa ingin melindungi. Pandangan mata Yuuto dan Shuuya yang mengerti apa yang terjadi, atau mungkin itu pandangan orang yang sama-sama memiliki saudara yang ingin dilindungi. Pandangan mata Yuuki yang sedih melihat itu semua, ingin membantu tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya mengeratkan pelukan pada bonekanya dan berdoa di dalam hati.
Sedangkan Ichirouta dan Mamoru. Tanpa mereka sadari, mata mereka mengisyaratkan hal yang sama. Kesedihan melihat kakak adik yang saling melengkapi. Juga kerinduan untuk mendapatkan kehangatan dari orang yang disayangi. Juga kata-kata yang paling ingin didengar ketika bersama orang itu.
"Aku ada di sini..."
xxxInazuma Elevenxxx
Setelah itu, seakan tidak terjadi apa-apa mereka semua turun ke bawah. Meninggalkan Shirou yang tertidur dan Atsuya yang menemaninya. Mereka semua hanya diam dan tanpa berkata apapun memutuskan untuk membatalkan rencana mereka untuk menginap. Mereka tahu kalau sekarng bukanlah waktu yang tepat. Tidak setelah kejadian tadi...
Ryuugo mengantarkan mereka sampai keluar rumah. Untunglah mereka semua membawa payung. Dan lagi, beberapa dari mereka memang akan dijemput oleh supir masing-masing. Ichirouta perlu mengingatkan dirinya lagi kalau teman-temannya memang orang kaya. Susah juga, dengan tingkah laku mereka yang seperti itu...
"Shirou... dia phobia dengan suara nyaring. Terutama petir." Ryuugo menjelaskan pelan. Semuanya sambil menyiapkan payung, mendengarkan dengan teliti. "Karena suara itu mengingatkannya dengan suara salju longsor..."
Semuanya tetap diam mendengar ini. Tidak bisa berkata apapun. Akhirnya mereka semua beranjak pergi dari rumah keluarga Fubuki. Ryuugo memasang wajah meminta maaf pada semuanya. Dan mereka hanya menyampaikan sampai jumpa seadanya saja.
Ichirouta berjalan di tengah rintik. Memandang kakinya yang menginjak beberapa genangan air. Dia menghela nafasnya. Tidak menyangka hari ini dia bisa memeliki perasaan campur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena sudah menjadi bagian dari teman-temannya sekarang. Sedih karena melihat rasa sepi dan takut yang luar biasa dari kakak adik kembar itu.
Dan lagi, dia merasakan rasa rindu yang luar biasa. Untuk bertemu dengan orang yang paling disayanginya. Untuk kembali menyentuh dan memeluk orang itu. Untuk saling membisikkan kata-kata yang paling ingin didengar olehnya kapan pun...
"Aku ada di sini..."
Hanya tiga kata itu, yang sangat ingin didengarnya. Tapi dia tahu dia tidak bisa lagi mengharapkan hal itu. Karena orang yang paling disayanginya tidak ada lagi disampingnya. Karena mereka saling meninggalkan satu sama lain.
Mamoru mirip dengan orang itu. Ichirouta tahu itu dari awal dia mengenal Mamoru. Dia mencari kebahagiaan yang sama dari Mamoru. Kebahagiaan yang mengingatkannya pada orang tersayang. Dia mungkin menggunakan Mamoru sebagai pengganti orang itu. Mungkin saja, dia tanpa sadar menganggap orang yang disayanginya dan Mamoru adalah orang yang sama...
Tapi hanya kebahagiaan yang satu ini. Kebahagiaan yang didapat ketika orang yang kau sayangi ada di sampingmu. Ketika orang itu memelukmu dan kau balas memeluknya. Ketika orang itu tertawa dan kau balas tertawa. Ketika orang itu menangis dan kau ikut menangis. Ketika orang itu mengatakan "Aku ada di sini..." ...
Hanya kebahagian itulah yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Bahkan oleh Mamoru yang begitu mirip dengan orang itu. Tidak bisa. Karena Mamoru adalah Mamoru. Karena Mamoru memiliki orang yang paling disayanginya lebih dari siapapun. Dan orang itu bukanlah Ichirouta. Yang hanya menggunakan Mamoru sebagai pengganti sumber kebahagiaan.
Ichirouta memandang langit kelabu di atasnya. Sedikit berharap kalau ini sudah malam, dia bisa memanjatkan harapan pada bintang, bukannya langit gelap tidak bersahabat ini. Tapi dia berhak mendapatkan langit gelap ini. Karena seperti itulah hatinya sekarang.
"Aku ingin bertemu lagi. Dengan 'dirimu' yang sangat kusayangi..."
Dan dia kembali berjalan. Hati kelabunya berharap kalau saja perasaan itu tersampaikan pada orang itu. Dia juga berharap besok akan kembali menjadi hari-hari yang biasanya. Di mana semuanya tersenyum dalam kebahagiaan semu yang mereka buat bersama...
Tu Bi Kontinyu...
Gah! Endingnya gantung lagi! Maafkan diriku yang sedang tak menentu ini. Kayaknya Twin Wolves Arc! Tidak terlalu bermasalah, ya. Hanya menceritakan masa lalu Fubuki bersaudara...
Dan ini Ending Arc ini! Saya hobi banget bikin cerita gantung, ya... Chapter depan selingan sebelum lompat ke Arc berikutnya. Mudahan chapter depan bisa ke Humor lagi. Ini chapter kebanyakan sedihnya...
'Kiyama' pasti sudah tahu siapa... Dan 'dirimu'? Masih Rahasia! Tanyalah pada rumput yang bergoyang(?).
Btw, cerita ini bagusan pake sudut pandang Ichirouta seperti dulu, atau chapter sekarang yang pake pandangan orang ketiga? Saya keseringan pake orang ketiga, jadi agak susah nulis POV...
Balas Review! :
The Fallen Kuriboh :
Iyah, namanya juga orang kaya, pasti minimal bisa main alat musik... Lagian kalo di Host Club yang asli, Mamoru itu sama dengan Tamaki. Jadi begitulah! *plaak* Yang lain nggak ikut main karena terlalu terpesona dengan permainan Mamoru.. Mungkin... Yang pasti mereka semua –kecuali Ichi- bisa main alat musik juga. Mungkin nanti saya bikin side story ya...
Ode to Joy itu atau Symphony No.9 itu karya Beethoven. Dan juga salah satu soundtrack di Evangelion. Disebut sebagai salah satu karya musik terbaik yang ada. Bisa dilihat di wikipedia untuk lebih lengkap^^
Yay for YuutoxAkio! Begitu ya? Rasanya saya malah nggak puas dengan chapter kemarin itu. Aneh rasanya... Apalagi Ichi's POV nya, aneh... Kalau ada misstypo, maaf ya, saya udah ngecek tapi pasti ada aja yang ketinggalanT_T
Fic-nya pasti direview! Tapi harus saya baca ulang dulu... Inilah kalau habis baca nggak langsung review... Dan log-in lewat hp sekarang sudah enak. Kemarin emang agak aneh tuh...
Chapter selanjutnya masih selingan. Saya belum mikirin Arc selanjutnya untuk siapa... Maunya sih Yuuki, sekalian munculin Tsunami dan chara sang pemilik vas pembawa hutang itu...
Thanks Reviewnya!
Midori Shirou :
Ini udah dilanjutin! Maaf nunggu ya^^ Atsu kasihan? Itulah nasib orang yang basah kuyub tapi tidak segera ganti baju dan mandi... Author banget...
Thanks Reviewnya!
Aurica Nestmile :
Nasib Ichi jadi murid teladan sekaligus murd beasiswa. Yue-chan banyak tugas ya? Bejuang ya! Jangan mau kalah sama Ichi dan anggota Host Club lainnya!
Atsuya sakit gara-gara ngejar Yuuto tuh. Jadi salahkan Yuuto ya! *digigit pasukan penguin* Iya, ya. Aslinya Mamoru pasti nggak bisa maen piano!*plaak* Tapi seiyuu Mamo itu banyak nyanyi lo! Secara dia pengisi suaranya Gon ma Naruto...
Thanks Reviewnya! Saya akan berjuang!
Heylalaa :
Fic senpai bagus lho... Puitis gimanaaa(?) gitu... Maaf nggak ada yang saya review... Waktu itu kayaknya saya masih zaman SMA deh, dan masih nyangkut di Persona... Ahh, nostalgia*plaak* Sekarang ps2 dan persona (juga .Hack/G.U dan Kingdom Hearts dan Bleach dan Naruto) dikuasai adek cowok saya! Demi apa saya kemarin ngajarin tuh anak maen game di atas?
Maaf saya ngelantur... Gara-gara adek saya yang masih SD tapi sudah bisa milih antara Minato dan Souji (dia milih Minato, katanya Souji rambutnya aneh...), juga sangat suka dengan Haseo dan hobi sekali ngelawan Gorre dan Magus di simulator... Oke, saya ngelanturin adek saya. Saya kangen pengen maen game lagiT_T
Kazemaru emang patut untuk disukai. Apalagi dengan sikap keibuan itu... Saya sendiri bingung, dia itu seme apa ibunya Mamoru sih? *plaak*
Rikaaa! Saya ngakak habis ngeliat episode dia pertama kali muncul. Sungguh merana nasib Ichinose dikawinin paksa(?). Touko sudah punya agenda tersendiri, dan dia akan muncul bareng Tsunami dan juga pemilik vas^^ dan chara lainnya! Tunggu aja ya...
Yuuto kan jenius! Dan Akio biar psikopat kan jenius juga! Aaahhh... Saya pasang muka fujoshi klo liat mereka kerja sama di lapangan! Dan di sini tidak tentang sepak bola, jadi Mamoru bisa main piano! Benar juga, kalau aslinya nggak mungkin bisa! *dicekek tangan dewa*
Aaahhh, Atsuya dan Shirou itu kakak adik paling kyut dah. Dan Someoka adalah seme paling setia di InaIre! *plaak*
Thanks Reviewnya!
Aishiro de Zeal Zealous :
Haha, maaf ya. Kemarin itu bingung mo ngelanjutin gimana... Chapter ini dipanjangin, semoga puas!^^ Padahal chapter kemarin itu saya buatnya pusing tujuh kelilingnya, nggak terlalu keluar sense humor saya...
Tugas Ichirouta itu gambaran saya, yang dapat banyak tugas sebelum DAN sesudah UTS... Apalagi yang namanya hafalan kanji tuh! Nggak habis-habis! Iya, saya suka Kimia ama Bahasa Inggris. Kimia dan biologi itu paling enak dari semua pelajaran IPA sih... Dan saya kompak dengan Mamoru, sama-sama benci Matematika! Fisika aja saya masih suka kok... Bahasa Inggris itu mungkin kebiasaan dari SMP, sayang si Ichi nggak suka bahasa Inggris di fic ini...
Hoho, nggak ada yang Gaje, paling Cuma Dark!Yuuki yang keluar sebentar. Chapter ini jadi sedih bin gelap gitu... Yuuto dan Akio wajib jadi Ranking satu! Mereka emang jenius abis!
Ode to Joy... Saya sendiri no komen dah. Itu disebut salah satu karya musik terbaik sih... Saya suka lirik jermannya, makannya saya milih lagu itu. Pensil mekanik itu pensil isi itu lo... Yang bisa diisi ulang dengan isi pensil yang panjang nan tipis itu... Nulis kanji nggak bisa pake 2B, terlalu tebal...
Requestnya masih bisa saya buat kok! Lewat fic 'Yaoi, Oh Yaoi', jadi humor deh... Tunggulah Haruna mengungkap semuanya...setajam silet! *plaak*
Thanks Reviewnya!
Mamoro :
Ini sudah dilanjutin, Thanks Reviewnya!^^
Gaahhh, capek saya... Review please? *tebar tebar konfeti*
