Alohaaa everyone :D *nari-nari gak jelas* makasih buat yg udah nge-review. Support kalian sangat berarti buatku. Dibanding silent reader aku lebih menghargai yang repot2 memberi review karena adanya review dari kalian itu tanda ada yg membaca dan review membuat hati author manapun senang . Thanks to everyone who read and reviewed this! Carry on! :*

Selalu tengok ke kamus ketjil di akhir cerita, ya. Karena disana ada terjemahan yg penting.

Theme song (yg author dengerin tanpa henti) : Demi Lovato – Skyscraper

Chapter 2: Soiree

.

.

.

.

.

"Tadaima."

"Kau sudah pulang."

Lho, suara itu...

Aku bergegas melempar sepatu kets yang kupakai, tidak mempedulikan bagaimana jadinya nanti setelah kutelantarkan begitu saja. Pintu masuk apartemen kubiarkan terbuka lebar. Yang ada di pikiranku saat ini adalah menghampiri sumber suara yang sangat kukenal tadi.

"Ne-neji!" seruku mengenali rambut kecoklatan gelap miliknya.

Dia menoleh dari posisinya di meja makan. "Hn?"

Hoh...aku lega sekali melihatnya. Kulempar tasku ke sofa, mataku bersinar penuh harap ketika tubuhku melayang ke arah Neji. "Neji~"

Bruk!

"Aw!" rintihku kesakitan. Saat kubuka mata, baru aku sadar kalau Neji melemparku ke atas meja makan.

"Kau ini kenapa? Tiba-tiba menyerang seperti itu." tukasnya dingin.

Alisku mengerut. Kupelototi sosok Neji yang terbalik dari sudut pandangku. "Kau ini bodoh atau apa? Aku barusan mau memelukmu!"

Neji mengerutkan alis balik. "Kau...apa yang kau kenakan?"

"Kenapa? Pasti aneh kan, melihatku dengan baju seperti ini?" tukasku judes seraya bangkit. Ow, tulang punggungku sakit sekali. Perlahan kuusap punggungku. "Kau pria yang kasar, Neji."

Ia terdiam sejenak. "Kau wanita jadi-jadian, Tenten."

"WHAT?"

"Lihat saja dirimu." kursi berderak menggesek lantai saat Neji berdiri. "Dandananmu tidak cocok dengan perawakanmu yang kasar. Berkacalah. Kau tampak…aneh."

Pipiku terasa panas. Jantungku bak dihujam beribu pisau mendengarnya. Kok..sejak kapan aku jadi peduli tentang apa yang dipikirkan orang tentangku?

"Lalu, aku peduli? Kau tahu kan aku melakukannya demi kakakku? Lagipula..." aku mengambil jeda untuk menelan ludah. "Ada yang memujiku cantik jadi kurasa aku tidak jadi-jadian seperti yang kau bilang."

...

Wow. Aku mengatakannya. Aku melakukannya, bukan? Dari mana rasa percaya diri ini datang...aku tidak tahu. Tapi wajah orang itu terlintas di benakku dan, aku mengatakan hal itu.

Neji tersenyum tipis. "Kedengarannya seperti kau baru bertemu seseorang."

Aku merona. "M-maksudmu?"

"Seseorang yang pengelihatannya setengah buta." ujarnya sambil beranjak.

Aku terdiam sejenak mencerna perkataan Neji sebelum akhirnya meloncat dari atas meja, mengejarnya penuh geram.

"Nejiii! Kau sialan!"

.

.

.

.

.

Srrrrrrrrs...

Aah...mandi air panas setelah beraktifitas dengan Neji memang enak. Dasar, dia kasar sekali sih. Ah, jangan salah paham. Beraktifitas disini maksudku adalah belajar. Aku berhasil membujuknya untuk mengajariku belajar matematika. Dan kasar yang kumaksud disini adalah kasar dalam artian menegur kesalahanku. Hyuga Neji itu temanku. Titik. Aku sadar beberapa orang berasumsi kami pacaran tapi kutegaskan lagi. Kami. Hanya. Teman.

"Fuh..." helaku dibawah hujan siraman shower air panas. Nikmat.

'Du bist schön, Tenten'

Aku membuka mata yang terpejam. Kata-katanya terngiang terus di telinga seperti lagu favoritku. Firasatku mengatakan kami akan bertemu lagi.

Aku bersender pada dinding, dahiku dingin menyentuh keramik yang basah tersiram shower. Lirih aku berbisik. "Hatake Kakashi..."

Bibirku mengatup. Nama itu mengalir dengan lancar melewati lidahku. Aku putuskan aku menyukai namanya yang unik itu. Artinya scarecrow of dry land. Bukan berarti namaku juga tidak kalah lucu. Coba kau ketik Tenten di bar Google. Jangan heran kalau kau menemukan gambar sejenis merk makanan udang. Aku pun tertawa saat melihatnya.

Aku teringat sapu tangan abu-abu yang ia berikan. Dilihat dari brand-nya, tampaknya ia membeli sapu tangan itu di ecology shop downtown Konoha. Toko spesialis sapu tangan daur ulang, produk yang ramah lingkungan.

Tok! Tok!

"Tenten! Makan malam sudah siap." teriak Neji dari balik pintu.

"Iya! Sebentar!" balasku sembari mematikan shower.

Dia? Hyuga Neji. Teman dekatku dari kecil. Sepupu dari Hyuga Hinata, salah satu temanku juga. Mata lavender miliknya itu bukan karena dia buta, lho. Banyak yang menganggap dia cakep. Aku juga suka wajahnya, tapi kalau untuk dijadikan orang yang disuka, nggak deh. Orangnya dingin kayak es. Bukan tipe yang bisa dijadikan pacar. Cukup tahu saja dia sudah seperti kakakku sendiri. Seringkali ia datang menginap untuk mengurusku yang tinggal sendiri semenjak kakakku bepergian keluar negeri.

"Hapemu bunyi tuh."

"Dari siapa?" tanyaku yang membuka pintu, handuk membalut badan.

Neji mengerdikkan bahu. "Unknown number."

Dahiku mengernyit. "Unknown number?" dengan rambut basah kuyup yang tak henti menetes aku bergegas menuju kamarku. Melihat tetesan air di lantai, Neji melemparkan handuk warna biru muda miliknya yang belum kering sehabis ia gunakan ke kepalaku. "Kau membasahi lantai. Keringkan dirimu dulu!" tukasnya tegas.

Aku tertawa geli menerima pemberiannya. "Sudah terlanjur basah, biarkan saja!" jawabku seadanya sebelum ngacir ke kamar, was-was agar tidak terpeleset. Aku tidak pedulikan death glare yang Neji tujukan padaku dan membanting pintu kamar, berusaha memperoleh sedikit privasi. Lalu seperti biasa aku loncat ke atas kasur dalam keadaan semi telanjang, kebiasaan buruk yang tidak boleh ditiru oleh adik-adik manis di rumah. Tanganku frantis mencari-cari sumber suara ribut hape di antara lipatan selimut. Saat tanganku mendapatkannya, aku segera memencet tombol gagang telepon hijau, sekilas mengerutkan dahi melihat tak ada nama kontak di layar handphone. "Halo?"

"Hei, ini Kakashi." jawab suara diujung sana.

Deg.

Tanpa dikomando badanku serentak beranjak ke posisi duduk. Saking kagetnya aku lupa akan keadaan berantakan kasurku dengan selimut yang miring ke salah satu sisi kasur. Saking labilnya posisiku sampai aku tergelincir bersama sang selimut ke lantai. Hard.

"Huwa~!"

Bruk!

"Aaaw!" jeritku kesakitan. Sebenarnya tidak terlalu sakit terima kasih untuk sang selimut tebal, tapi yah kau tahulah, refleks. Seperti yang kuduga, dua orang itu seperti kebakaran jenggot mendengar teriakanku yang alay. Neji menggedor-gedor pintu dengan gaya paniknya sendiri. "Tenten! Aku boleh masuk?"

Yaitu tidak pernah mengakui kekhawatirannya akan diriku ini. Sementara Kakashi...

"Tenten? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"

...

Haruskah aku merona sekarang?

"Aku baik-baik saja." bisikku ke Kakashi di seberang.

"Kau yakin?"

"Iya-"

Gratak!

"Tenten?" Neji mulai kehilangan kesabarannya. Gagang pintu kamarku mulai dirusak olehnya. "Aku akan masuk!"

"Tung-" panik, bahkan aku tidak sempat menyelesaikan ucapanku. Aku lebih memilih jawdropped melihat handukku yang tergeletak di lantai di bawahku. Handuk biru Neji juga bernasib sama.

"Tenten, kau benar-benar baik saja?"

"Iya, tunggu sebentar." jawabku sambil membenamkan diri di dalam selimut. Kalau Neji mendobrak kedalam kamarku pas keadaanku begini bisa berabe.

"Aku masuk!"

"JANGAAAN!"

"Tenten? Siapa disana?"

Drak!

Shit, man! Aku langsung merampas handuk biru di lantai dengan gemas. Lekas aku berputar, menghadap pintu yang dengan cepat membuka.

"Ten-ubh!"

Yes! Handuk tadi mendarat tepat di wajahnya. Tanpa membuang waktu aku berlari menuju pintu menyeret serta selimut di badan. Derap langkah kakiku bertambah cepat ketika tangan Neji menyingkap kain handuk di wajahnya, insting bertarungnya terangsang mendengar langkah kaki mendekat. Aku langsung melakukan tendangan berputar ke dadanya, memukul Neji mundur. Bertumpu pada kakinya sebagai rem Neji langsung memasang kuda-kuda.

"PERVERT!"

Brak!

Neji yang dumbfounded melepas kuda-kudanya, garuk-garuk kepala. Dia kan khawatir? Kok malah ditendang?

.

.

.

.

.

Greek! Brak!

Fuh. Pintu jendela balkon kututup. Setelah mengenakan piyamaku yang nyaman aku bersender pada pagar balkoni, memandangi kota Konoha yang bertaburan bintang dari neon dan pijar. Angin berhembus kencang, meniup tetesan air dari lembaran helai rambutku. Cuaca akhir musim panas menjelang musim gugur memang tidak jelas. Panas tapi dingin.

"Hei...masih disana?"

Aku memejamkan mata, tersenyum. "Masih."

Terdengar tawa renyah dari seberang. "Kukira kakakmu berhasil melakukan hal tidak senonoh padamu saat kau berteriak jangan."

Aku tertawa bersamanya. "Neji hanya salah paham. Dia memang penganut aliran ekstrim."

"Kukira dia masochist."

Aku hanya tersenyum mendengar tawanya lagi. Mengganti posisi handphone ke telinga kiri, aku mengacak-acak rambut santai. "So...what made you call me?"

Aku hampir bisa mendengar senyumannya saat dia bicara. "Are you free tomorrow afternoon?"

Aku mengecek kalender kamar dari pintu kaca balkon. Besok hari sabtu. "Mungkin."

Dia tertawa lagi. "Jawaban macam apa itu?"

"Hei, aku ada urusan dengan seorang teman besok. Dan ya, now you're flirting with a highschool student." jawabku dengan sedikit sarkasme.

"So? Aku hanya ingin mengajakmu bertemu besok siang. Bukan flirting karena aku sudah punya pacar dan ini hanya caraku untuk membalas budi."

Perlahan senyumku memudar. Begitu dia mengatakannya amarah memenuhi dadaku. Rasanya sesak. Tapi aku meyakinkan diriku perasaan aneh ini karena keadaan labil psikologis-ku yang sebentar lagi akan 'dapet'.

"Hn." responku mengikuti gaya Neji.

"Ah, bagaimana kalau kukirim alamat tempatku tinggal lalu kau datang saja?"

Deg.

Oke. Yang barusan terdengar sugestif. Way too suggestive. Ke rumahnya? Aku tahu dia nggak bermaksud untuk membuatnya terdengar tidak pantas, tapi kedengarannya begitu. "Ke...tempatmu?" aku meneguk ludah. "Rumahmu...begitu?"

"Ya." jawabnya santai.

Aku menggigit bibir. "Lalu? Aku ke rumahmu untuk apa?"

"Menginap semalam."

Aku menganga mendengarnya. Saking kagetnya aku nyaris menjatuhkan hapeku. Nyaris! Bakal hancur berkeping-keping nih kalau tadi jatuh ke bawah. Wajar kan, soalnya apartemen tempatku tinggal berada di lantai dua puluh.

"Me...menginap? Kau yakin?"

"Yep." suaranya terdengar lebih dari yakin. "Langit musim panas terlihat lebih indah dari apartemenku."

Eh...

Aku sontak mendongak. Dari apartemenku ini, ada yang tidak bisa kulihat? Bintang-bintang? Langit kelam? Permata Konoha; lautan lampu neon di hamparan kota?

"Aku harap kau tahu kalau aku sedang menatap langit musim panas di saat ini juga."

Ia tertawa. "Aku harap kau tahu aku sedang melakukan hal yang sama."

Aku tersenyum mendengarnya. "Entahlah. Kurasa tak ada bedanya. Langit dimanapun sama."

"Oke. Dengar. Kurasa kau orang yang agak sulit. Kau butuh persuasi lebih dan aku tahu satu kata yang mampu membuatmu percaya dan ikut."

"Apa itu?"

"Obon."

"Kaa-san, what is obon festival?"
Kaa-san, apa itu festival obon?

"It's the same kind of firework festival. Native Japanese used to celebrate it in an eventful festival where everyone gathered in order to honor the spirits of their ancestors. All in all, it's the most fun part for the summer break."
Itu semacam festival kembang Jepang merayakan festival yang ramai dimana semua orang berkumpul untuk menghormati roh-roh para leluhur mereka. Pendeknya, obon adalah bagian paling menyenangkan dari libur musim panas.

"That sounds fun. Isn't there any in Detroit, Kaa-san?"
Kedengarannya menyenangkan. Apa di Detroit orang-orang juga merayakannya, Kaa-san?

"No, honey. It's only held in Japan."
Tidak, sayang. Obon hanya dirayakan di Jepang.

"Aww. I wanna see the festival!"
Aww. Aku ingin melihat festivalnya!

"I'm sure someday Tou-san will take us all to see the festival. Kaa-san was born there, after all."
Aku yakin Tou-san akan membawa kita berempat ke festival itu suatu hari nanti. Lagipula dulu Kaa-san lahir disana.

Aku memejamkan mata. Festival obon, ya...meski lama di Jepang aku tidak pernah mau pergi. Aku lebih memilih tinggal di rumah sakit tiap kali Ayame jatuh sakit. Aku melihat yukata dimana-mana menjelang festival tapi tidak pernah benar-benar mengunjungi satupun. Itu karena satu hal. Ada yang tidak ada. Dan kekurangan itu fatal.

Tidak akan ada Tou-san bersamaku disana.

"..."

"Tenten?"

Aku menggeleng. "Ya?"

"Bagaimana?"

Aku terhenyak. Bagaimana? Harusnya aku yang tanya! Aku harus jawab bagaimana?

"Kalau hanya festival obon, di dekat sini juga ada..." aku memberi alasan.

"Obon disini beda, dirayakan empat hari berturut-turut. Diadakannya di dekat pinggir sungai yang kemarin. Kebetulan ada kuil yang terkenal di dekatnya. Ramai, lho."

"Tapi aku tidak melihat ada gunanya untuk menginap..." hindarku lagi.

"Oh, tentang itu..."

"..."

"...ada acara fall countdown di daerah sini, kita bisa melihat matahari terbit musim gugur yang pertama. Posisi strategis ada di apartemenku."

Deg.

"Alasan sebenarnya sih karena ada teropong bintang di balkonku."

"Eh?"

"Aku yakin kau mau ikut melihat meteor Halley secara dekat, kan?"

"Heeeh?"

"Tahun ini, besok malam meteor Halley posisinya dapat dilihat melalui teropong bintang. Tapi kalau kau tidak bisa, aku tidak memaksa..."

"Tung-"

"76 tahun sekali saja bisa dilihat. Sayang kau tidak bisa ikut. Sudah, ya..."

Aku tersenyum dalam hati. Dia pintar memanasiku agar mau menginap di tempatnya. Baiklah. "Kakashi! Aku ikuuuuut!"

.

.

.

.

Oke. Aku tahu awalnya aku tidak tertarik dengan obon atau semacamnya. Tapi dengan iming-imingan melihat komet Halley, aku ikut dengan sukarela. Kenapa? Mudah saja.

I fuckin love stars!

Aku suka sekali bintang!

Meski komet bukan bintang, tapi kalau berhubungan dengan bintang aku suka!

Sama-sama bersinar dan menghiasi langit. Romantis banget.

"Jadi, kamu setuju mau menginap di rumahnya?" tanya Sakura yang berhenti sejenak dari kegiatan menyeruput es jeruknya. Mata emeraldnya mengamati tiap goresan pulpenku yang tak henti menyalin peer matiknya. "Ya."

"Kau gila? Kau kenal dia kurang dari sehari dan sekarang kau sudah mau menginap di tempatnya? Tenten!"

Aku melepas kedua tanganku dari telingaku yang sengaja kugunakan untuk menutup telinga. "Aku mendengarmu, Sakura. Tidak perlu teriak."

"Ini serius, Tenten! Kau tidak tahu jika dia psikopat atau sejenisnya! Atau dia paedofilia! Bahkan bukan nggak mungkin kalau dia penjual perempuan dan anak-anak-" kata-kata Sakura terpotong oleh lemon cake yang kujejalkan ke mulutnya.

"Calm down, girl. Kau kelewat paranoid. Kau pikir gelar juara kendoku untuk apa? Pajangan? Aku bisa jaga diriku sendiri."

Gadis berambut pink itu menggerutu, tangannya sibuk menyapu noda krim di pipinya. "Kau tidak boleh meremehkan laki-laki, Tenten. Mereka itu licik."

Aku memutar bola mataku. Terkadang Sakura berlebihan dalam menanggapi hal-hal begini. Kuakui ucapannya ada benarnya juga. "Itulah kenapa aku membawa beberapa senjata. Kalung ini?" aku menekan pendant kalungku, bentuknya seperti bulan sabit. "Ini celurit."

Sakura berkedip.

"Di saku celanaku? Ada pisau mini. Di tasku? Belati."

Masih berkedip.

"Sebenarnya aku berniat membawa bat baseball tapi it would be too obvious."

Sakura hanya mengangguk. "Baiklah."

Aku menyengir. "Di dalam bra-ku ada-"

"STOP!" Sakura menutup telinganya. "Aku juga tidak mau tahu kalau di tempat lain ada-"

Aku beranjak dari kursiku. Menarik tangannya cepat, aku berteriak. "Di celana dalamku juga ada, Sakura!"

Air muka Sakura memucat mendengarku berteriak, rupanya suaraku menarik perhatian semua pelanggan cafe favorit kami. Semua kepala berputar menatapku yang terbahak-bahak.

"Tenten!" bentaknya kesal.

Aku tidak memedulikan Sakura dan gengsinya yang segede jidatnya itu. Tawaku berderai tak henti-henti.

"Oke, kau mulai menyebalkan, Tenten!" ucapnya dengan muka merah.

"Aha-ahahahaha! Mukamu aneh, Sakura!"

Ia menghela napas, menyenderkan dagu di telapak tangan. "Aku bisa ikutan tidak waras kalau terus berteman dengan mickey mouse sepertimu."

"Well..." aku tersenyum-senyum. "...mickey mouse tidak diciptakan Walt Disney untuk membuat anak-anak seluruh dunia waras. Justru kebalikan."

Mata emerald menyipit. "Yeah. Aku bisa melihatnya di hadapanku sekarang."

"Oh! Sudah jam segini! Aku harus mengejar kereta!" seruku melihat jam tangan. "Makasih peernya ya, Sakura-chan! Auf wiedersehn!" ucapku, terburu-buru memasukkan seluruh alat tulis kedalam tas sebelum bergegas pergi.

"Ah, hei! Siapa yang bayar, nih?"

"Dan danke untuk makan siangnya!"

"APA?"

.

.

.

.

.

Aku mendongak. "I...ini..."

Di hadapanku berdiri bangunan apartemen mewah setinggi kira-kira dua puluh lima tingkat. Ragu, aku melihat kembali ke alamat yang terpampang di layar hapeku. Benar, kok. Tapi...

'Étoile Appartement'

Aku sweatdropped. Qui est trop beau pour être vrai! Trop...d'elite. Atau jermannya das ist zu schön, um wahr zu sein. Zu elite.

Mantap banget! Apa benar laki-laki yang menolongku kemarin tinggal disini? Ah, jangan-jangan Sakura benar. Dia orang yang sebenarnya menjual gadis-gadis seperti aku ini! Atau lebih parah, dia menjual organ tubuh manusia! Tidak, tidak! Tapi penampilannya tidak seperti orang super kaya yang mampu tinggal di tempat seperti ini. Ukh...

Aku melangkah terhuyung ke resepsionis. Ke-elitan decor dan interior tempat ini too breathtaking. "Ee...e...permisi..." sapaku pada resepsionis. "Anu...apa benar Hatake Kakashi-san tinggal disini, mademoiselle?"

Tanpa tahu-tahu resepsionis berhidung bengkok itu mengetik sesuatu dengan cepat di layar komputernya. "Laissez-moi voir en premier. Êtes-vous par hasard ont pris rencontre avec lui?"

Aku berkedip tolol mendengarnya. Barusan bahasa perancis, ya? Aku sudah agak lupa pelajaran bahasa perancisku. "Erm...sie sprechen deutsch mit mir? Ich bin nicht flie£en Französisch."

Menatap padaku, resepsionis itu tersenyum. "N'est-ce pas? Désolé. Was ist jetzt? Sie können flie£en sein jetzt?"

Aku tersenyum balik padanya. "Viel besser. So, Hatake-san lebt hier?"

Dia mengangguk. "Ja, er lebt hier. Sie sind der Gast?"

Aku menggaruk pipi. "Wie kann ich sagen, dass es...ah, sagte er mir ind dieser Zeit zu komme."

"Hmm...sind Sie verpassen Tenten?"

Aku terkejut mendengarnya. "Das bin ich."

"Oh! Sie sind die, die er angeblich zu erfüllen ist. Komm! Er wartet schon auf Sie!"

Eh? Orang itu sudah menungguku? "Bist du sicher?"

Dia mengangguk cepat. "Naik saja lift disana itu ke lantai 25." ujarnya kali ini dalam bahasa jepang. Sialan, tahu gitu dari awal aja bahasa jepang semuanya."Begitu pintu terbuka, seluruh lantai 25 itu kamar Hatake-san yang kau cari, minna-san."

"HAH?"

.

.

.

.

.

Ting!

Pintu lift terbuka di depanku. Aku jadi was-was. Di tv aku pernah menonton film dimana apartemen mewah orang kaya itu pintunya adalah pintu lift. Jadi tiap tingkat apartemennya adalah kamar dari pemilik yang berbeda. Tapi aku tidak menyangka di Jepang juga ada yang beginian. Sekaya apa sih si Hatake itu sampai bisa tinggal di lantai teratas apartemen teuer begini?

Mataku langsung disambut ruang tamu mewah pemanja mata. Dari arsitektur hingga design decor sampai interior...ukh. Speechless! Aku cuma bisa menganga.

Perlahan aku coba untuk melangkah keluar dari lift.

"Permisi..."

...

Tak ada jawaban. Aku menengok ke segala arah. Ada tangga ke atas di sebelah pintu besar yang tertutup. Aneh. Bukankah ini sudah lantai teratas? Dari bentuknya sepertinya model ruangan apartemen disini tidak mempunyai lantai dua.

"Pakkun, sini!"

Aku mengangkat alis. Kakashi?

Aku berlari kecil menuju tangga. "Hatake-san?"

Guk! Guk!

"Wuaaah!" teriakku kaget. Anjing berwarna putih berbulu panjang berdiri menerkamku hingga jatuh ke belakang. Kejadiannya begitu cepat aku tidak sempat mengantisipasi jatuhku. Datangnya beberapa ekor anjing lain juga tidak memperbaiki keadaan.

"Siapa disitu?"

"Hatake-san! Tolong-hahahahaha! Aduh! Kyahahaha! Geli! Hei! Disitu jangan dijilat! Huahahaha!"

Sosok maskulin berambut silver menuruni tangga. Teriknya sinar matahari membuat siluetnya tampak tebal. "Tenten?"

"Aduh, sudah, sudah!" kataku sambil menenangkan anjing-anjing lucu disekelilingku. Mereka ada banyak. Bangun untuk duduk, aku tidak berharap untuk melihat sosoknya yang semi-telanjang dengan selembar kain handuk. Sixpack miliknya tidak mengecewakan untuk dilihat, sih.

"Eh-KYAAAAA!"

"Eh? Eh?" dia tampak kebingungan.

Aku menutup mataku, pipiku terasa panas. "A-aku minta maaf! Aku nggak bermaksud-"

"Oh! Tidak apa-apa. Aku yang salah." jawabnya. Dari nada bicaranya ia terdengar menyadari apa yang kulihat.

Ia melangkah mendekat, "Aku baru saja mentas dari jacuzzi-"

Slip!

Aku yang mengintip dari sela-sela jari bertemu mata dengannya, mulut sama-sama menganga ketika tubuh Kakashi kehilangan keseimbangannya.

"KYAAA!"

"WUAH!"

Bruk!

...

"Adududuh..." rintihku kesakitan, memegangi kepala yang lagi-lagi menghantam lantai. "Kamu ngapain, sih?"

"Maaf. Aku terpeleset."

Aku mendecak kesal. "Kalau aku gegar otak gimana-"

Deg.

"Maaf, ya." ucapnya serius. Mata onyx miliknya menatap padaku. Rambut silvernya yang tajam merunduk kebawah karena basah. Badannya yang lebar dan kekar memenjarakanku. Sinar matahari dari pintu atas memberi kesan 'cool' pada profilnya sekarang. Samar aku mencium harum bath gel dari tetesan air di permukaan kulitnya.

"Kau baik-baik saja?"

Deg.

Terlepas dari masker bodoh di wajahnya, aku langsung merasa baik-baik saja.

"I...iya..."

Dia tersenyum ala rubah. "Baguslah."

"Eng...bagus sih bagus, tapi..." aku menggigit bibir, "...please get up."

"Ah, iya." Ia berusaha untuk bangkit, namun di tengah jalan anjingnya yang berwarna coklat memutuskan untuk menggigit handuk yang melingkar di pinggangnya. Dan kabur bersamanya. Ah, ecchi shonen.

"!"

"GYAAAAAAAAAAAAA!"

How did I get into this mess?

.

.

.

.

Kamus ketjil (tidak juga…)
Soiree: Sleepover/acara menginap
'Étoile Appartement': Apartemen Bintang
Qui est trop beau pour être vrai! Trop...d'elite: Das ist zu schön, um wahr zu sein. Zu elite. : Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Terlalu…elit.
Mademoiselle: Nona
Laissez-moi voir en premier. Êtes-vous par hasard ont pris rencontre avec lui: Biarkan aku melihat sebentar. Apa anda sudah membuat janji dengannya?
Erm...sie sprechen deutsch mit mir? Ich bin nicht flieβen Französisch: Erm…apa kau bisa berbahasa jerman? Aku tidak terlalu fasih bahasa Perancis.
N'est-ce pas? Désolé (perancis) Was ist jetzt? Sie können flieβen sein jetzt? (jerman) : Begitukah? Maafkan saya. Bagaimana sekarang? Anda mengerti sekarang?
Viel besser. So, Hatake-san lebt hier?: Lebih baik. Jadi, apa Hatake-san tinggal disini?
Ja, er lebt hier. Sie sind der Gast?: Ya, dia tinggal disini. Apa kau tamunya?
Wie kann ich sagen, dass es...ah, sagte er mir ind dieser Zeit zu komme: Bagaimana bilangnya, ya…ah, dia memintaku untuk datang.
Hmm...sind Sie verpassen Tenten?: Hmm…apa anda Tenten?
Das bin ich.: Itu aku.
Oh! Sie sind die, die er angeblich zu erfüllen ist. Komm! Er wartet schon auf Sie!: Oh! Kau orang yang akan dia temui. Silakan! Dia sudah menunggu anda!
Bist du sicher?: Kau yakin?