Chapter sebelumnya :

.

"Bagaimana? Apakah kalian ingin berhenti di sini, atau...," gantung Michella dan seketika, dua buah api yang bergerak cepat turun dari lingkaran sihir Michella dan melesat melewati masing-masing pipi Irina serta Xenovia hingga membuat mereka kembali terkejut karena tidak melihat pergerakan serangan Michella.

"Melanjutkannya?" tanya Michella, Xenovia serta Irina yang mendengar itu mengeluarkan keringat diri, mereka terdiam beberapa saat lalu menundukkan kepala mereka.

"Kami menyerah."

Mendengar itu, Michella pun menghilangkan lingkaran sihir di atasnya dan seketika sayap apinya yang berwarna api hijau kembali menjadi pelangi lalu turun dengan perlahan. Gabriel yang ada tak jauh dari posisi Xenovia serta Irina pun kembali ke mode awalnya dan menghilangkan seluruh tombak cahayanya serta rantai putih yang mengikat mereka.

"Hoo... Sepertinya sudah selesai," gumam Azazel sambil tersenyum senang, sementara Luminas hanya diam beberapa saat lalu menghembuskan nafasnya.

"Huft," Hela Gabriel, dirinya cukup kelelahan karena harus menggunakan banyak [Mana] untuk melakukan rencana Michella, tapi sejujurnya Michella juga mengeluarkan [Mana] yang sangat banyak untuk menciptakan [Magic] seperti tadi.

Dirinya tidak menyangka, Michella berhasil membuat rencana yang sangat hebat, "Tampaknya Kakak serta Adik sama-sama memiliki kepintaran yang hebat," batin Gabriel lalu mendekati Michella yang di bantu untuk duduk di kursinya oleh Inori. "Kerja bagus, Gabriel-chan," ucap Michella sambil tersenyum lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Gabriel.

Gabriel yang melihat itu ikut tersenyum lalu membalas telapak tangan Michella membuat mereka melakukan 'High Five'. Sementara Xenovia serta Irina mereka melihat ke arah Gabriel serta Michella dengan tatapan sedikit kecewa karena kalah dari mereka, "Ya... Sepertinya kita kalah," gumam Irina dengan nada santai, dirinya tidak masalah kalah dari mereka lagi pula ini hanyalah latihan.

"Ternyata mereka cukup kuat juga," gumam Xenovia menghilangkan pedang besarnya, "tidak aku sangka mereka memiliki rencana seperti itu." Dirinya memang benar-benar tidak menyangka bahwa Gabriel serta Michella memiliki sebuah rencana yang sangat matang dalam waktu singkat.

Awalnya dirinya berpikir bahwa serangan mereka tidak terarah sama sekali, tapi tidak di sangka ternyata semuanya telah di atur sedemikian rupa.

Melihat kemampuan mereka membuat Xenovia menghembuskan nafas berat sambil mengepalkan tangannya, namun seketika ia tersentak ketika merasakan sebuah helusan di kepalanya.

"Jangan di pikirkan... Kalian sudah melakukan yang terbaik," ucap Luminas yang telah di samping mereka sambil memberi mereka semangat kembali. Xenovia yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Gomenasai, Luminas-sensei."

Beralih ke sisi Naruto saat ini ia telah di banjiri keringat karena telah melakukan latihan ayunan pedang dengan pemberat di tangannya cukup lama, setelah beberapa ayunan Naruto menghentikan ayunannya lalu memasang posisi santai sambil mengatur nafasnya.

["Tampaknya pertarungan mereka telah berakhir."] Naruto yang mendengar Ophis berkata demikian pun menoleh dan benar saja ia melihat Gabriel serta Michella mendekatinya.

"Nii-chan!" panggil Michella dan di balas senyuman oleh Naruto. "Ou! Apakah kalian sudah selesai?" tanya Naruto dan di balas anggukkan oleh mereka.

"Fufu, berkat Michella-san kita bisa menang mengalahkan mereka," ucap Gabriel sambil melirik Michella. "Ah, tidak juga... Itu juga berkatmu, Gabriel-san," balas Michella.

"Souka... Baguslah kalau begitu," balas Naruto sambil ikut tersenyum senang lalu menatap tangannya yang berisi pemberat, walau pun dirinya mulai terbiasa dengan berat pemberat di tangannya, tapi dirinya merasa tetap saja latihan ini masih terasa belum cukup.

Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah pohon besar di sampingnya, dirinya menatap pohon tersebut beberapa saat hingga setelah itu dia pun menyimpan pedangnya ke sarungnya kembali lalu melakukan peregangan tangan.

"Nii-chan, bukankah sebaiknya kau istirahat, kau sudah terlihat kelelahan," ucap Michella menatap khawatir kakaknya yang bermandikan keringat, terlebih ia bisa menebak bahwa kakaknya akan kembali melanjutkan latihannya walaupun dia sudah bermandikan keringat.

"Ya... Aku akan menyusul, aku masih belum merasa lelah, jangan khawatir," ucap Naruto melirik Michella sesaat lalu menatap tajam pohon di depannya, lalu ia pun memasang kuda-kuda bertarung tangan kosong sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.

"Jaa... Mari kita lanjutkan!" ucap Naruto lalu melayangkan tinju ke arah pohon di depannya.

Buagh!

.

.

Chapter saat ini :

.

.

Begitu tinju Naruto mendarat di batang pohon di depannya, pohon itu bergetar pelan hingga menjatuhkan beberapa helai daun. Michella serta Gabriel yang melihat itu tentu sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Naruto.

"Nii-chan! Apa yang kau lakukan?!"

"Tentu saja latihan, ini sudah biasa Michella-chan. Selama di tinggal oleh Tenka-senpai, aku selalu melatih fisikku seperti ini, jadi tidak perlu khawatir," jawab Naruto lalu kembali memukul pohon di depannya dan ia lakukan berkali-kali dengan gerakan pelan namun pukulannya sangat kuat hingga membuat pohon di depannya bergetar.

"Tapi... Jika begitu, bukankah tanganmu akan terluka?" tanya Gabriel tetap khawatir, namun Naruto hanya tersenyum sambil terus melanjutkan latihannya. "Memang, tapi luka ini sudah biasa untukku," jawab Naruto membuat Gabriel terdiam, jikalaupun dirinya menghentikannya, ada kemungkinan Naruto akan kesal jadi dia serta Michella tidak bisa menghentikan perbuatan Naruto.

"Michella-san! Gabriel-san! Bersiaplah untuk sparing kalian melawan Luminas-sensei," panggil Azazel membuat mereka menoleh ke arah Azazel dan menganggukkan kepalanya. "Jaa, Nii-chan... Kami akan melanjutkan sparing kami dulu," ucap Michella membuat Naruto menghentikan pukulannya sesaat dan melihat ke arah mereka sambil tersenyum.

"Ya... Berjuanglah," ucap Naruto memberi mereka semangat. Michella serta Gabriel menganggukkan kepala mereka mendengar itu lalu pergi ke tengah lapangan untuk sparing dengan Luminas.

["Apa kau tidak tertarik untuk melihat sparing mereka? Dengan begitu kau bisa mengetahui kemampuan guru bernama Luminas itu agar saat sparing nanti kau bisa menyiapkan rencana melawannya?"] tanya Ophis, Naruto yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.

"Tidak... Aku tidak ingin melihatnya karena jika seperti itu, aku merasa latihanku saat melawan Luminas-sensei nanti akan jadi kurang," jawab Naruto lalu bersiap melanjutkan latihannya, Ophis yang mendengar jawaban Naruto terdiam di kursi kebesarannya begitu juga dengan Jeanne yang ada di pingangnya.

"Aku ingin melawan Luminas-sensei dengan cara bersih, jika dia tidak tahu kemampuanku, maka aku juga akan melawannya tanpa mengetahui kemampuannya seperti apa, karena begitulah caraku untuk berlatih agar menjadi kuat." Setelah mengatakan itu Naruto kembali meninju pohon di depannya dengan kuat dan kali ini getaran pada pohon di depannya semakin Kuat.

.

Beralih ke tengah lapangan, saat ini Luminas telah berdiri berhadapan dengan Gabriel serta Michella yang masih terbang dengan sayap apinya. Sementara Azazel, beserta Xenovia, Irina, Asia dan Inori menonton dari sisi lapangan.

"Apa kalian sudah siap?" tanya Luminas masih memasang posisi santai, Gabriel yang mendengar itu menciptakan tombak cahaya di tangannya lalu memasang posisi siaga.

Sementara Michella, sayap apinya yang berwarna-warni mulai berubah menjadi sayap api merah, lalu dari tangan kiri dan kanan Michella keluar semburan api yang membentuk sebuah pedang.

"Kami siap!" jawab Mereka kompak, Luminas yang melihat Michella mengubah kemampuan apinya hanya terdiam lalu melirik ke arah Azazel untuk memberi aba-aba. Mengerti lirikan Luminas, Azazel pun bersiap memberi aba-aba, "Baiklah... Sparing ke dua antara Luminas Valentine melawan Gabriel serta Michella Watch... Di mulai...," jeda Azazel lalu melempar sebuah batu kecil ke atas dan saat batu jatuh mengenai tanah, Azazel melanjutkan kalimatnya.

"Dari sekarang!"

.

.

Disclaimer

Naruto © Masashi Kisimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

Summary : Uzumaki Naruto, Sosok pemuda yang tidak harus kehilangan ingatannya akibat benturan keras dari keluarga yang ingin membunuhnya, tetapi dia di selamatkan oleh sebuah keluarga dan membawanya ke kehidupan yang baru, bagaimana kah perjalanan hidupnya yang baru kali ini?

Naruto : The Magical Battle

Pair :

Naruto x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Romance, Humor, Sci-Fi, Echhi, Incest, Harem, Future!Sett.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Jutsu/Magic Buatan sendiri, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, Friendship!Vali.

"Naruto." berbicara

"Naruto." batin

["Naruto."] Beast/Sacred Beast berbicara

["Naruto."] Batin Beast/Sacred Beast.

.

AliA - Impluse

.

Drum sfx

Gambar memperlihatkan tanah yang bergerak cepat hingga akhirnya muncul sebuah cahaya terang.

Guitar & Piano & Violin sfx

Setelah itu muncul judul cerita Naruto : The Magical Battle

Kusatta

Gambar memperlihatkan team Naruto di mana Naruto berada di tengah dengan Gabriel di sisi kiri dan Michella di sisi kanan serta terdapat lambang Libra di belakang mereka melihat ke arah kemera.

sekai ga boku wo mushibandeita tte

Lalu gambar di ganti dengan Team Sasuke serta Menma dengan lambang ular serta rubah di belakang mereka, dan gambar kembali berubah ke wajah Naruko yang menundukkan wajahnya yang lirih sambil memejamkan matanya.
kattena

Gambar kembali berubah dengan gambar team Kiba dengan lambang anjing menyeringai.

risou dake

Layar berubah kembali dengan Team Neji dengan Neji di tengah, Tenten di sisi kanan dan Rock Lee di sisi kiri yang tersenyum ke arah kamera dengan lambang kepalan tinju di belakang mereka.

nani mo kikazu

Gambar berubah kembali menjadi Team Shikamaru di mana Shikamaru berada di tengah dengan Chouji di sisi kirinya dan Ino di sisi Kanannya serta lambang bunga lotus putih.
oshitsukerarete

Layar kembali berubah dengan Team Uchiha di mana terdapat Shisui di tengah dengan Itachi di sisi kanan dan Naori di sisi kirinya dengan lambang Uchiha di balakang

Boku no nani wo

Gambar kembali berubah dengan Team Tenka di mana Tenka di tengah sambil tersenyum manis serta mengangkat tangannya ke arah kamera, Kyouka yang ada di sisi kirinya serta Arthuria di sisi kanannya dengan lambang Sebuah pedang dengan pusaran di belakang pedang.

shitteiru nda?

Gambar kembali di ganti dengan Team Gremory di mana terdapat Rias berada di tengah, dengan Akeno di sisi kiri dan di sisi kanannya terdapat Shinoa dengan lambang Spirit api membawa Tombak petir serta cahaya merah.
Shinasadame sarete

Gambar kembali berubah dengan gambar ruangan Tsunade dan terdapat pembimbing masing-masing team yang menoleh ke arah kamera sambil tersenyum.

tamaru mon ka?

Lalu gambar kembali berganti dengan kediaman ruang tamu kediaman Michella di mana terdapat Nei yang tersenyum senang ke arah kamera dengan Grayfia di sampingnya.

Nanakorobiyaoki kurikaeshite

Lalu gambar kembali berubah dengan gambar 3 bayangan wanita yang belum di ketahui.
seikai ga nani ka wakaranai

Lalu gambar memperlihatkan gambar Jeanne, serta Inori dan Ophis yang berada di kegelapan dengan wajah kosong mereka lalu mereka menoleh ketika melihat sebuah cahaya terang menyinari mereka.

Damatte itanda hitei sareru no kowaku natte

Mereka pun mulai berdiri dan berjalan mendekati cahaya tersebut.
Boku no hangeki sutoorii

Setelah itu Jeanne menggenggam cahaya tersebut menggunakan tangan kirinya, Inori menggenggam cahaya tersebut dengan tangan kanannya, sementara Ophis menggenggam cahaya tersebut dengan kedua tangannya.

ima ni mitero hora.

Seketika cahaya tersebut pun berubah menjadi sosok Naruto yang tersenyum sambil menarik tangan Jeanne, serta Inori dan Ophis yang memeluk erat leher Naruto dari belakang, Jeanne, Inori serta Ophis yang melihat itu tersentak.

Shoudou? Gensou? stand up right now!

Layar kembali berubah di mana Michella yang terbang dengan sayap apinya mengibas sabit apinya hingga memunculkan tornado api biru,.
Nantodemo ie kimeta no wa boku da

Lalu layar kembali berubah di mana Gabriel yang menyerang musuh dengan secara brutal hingga membuat ledakan besar dan dari balik ledakan keluar Naruto yang datang sambil berputar dan mengayunkan pedangnya ke arah para musuhnya.

we can be the change need it!

Gambar lalu berubah dengan gambar Azazel serta Kakashi yang saling bekerja sama mengalahkan banyak musuh.

Joutou janai kakugo wa dekita!

Gambar kembali berubah di mana Team Sasuke serta Team Menma melawan banyak musuh, lalu di ganti dengan wajah Naruko yang menoleh dengan ekspresi khawatir.

Kanjou kaihou stand up right now!

Lalu gambar kembali berganti dengan gambar seorang perempuan yang melayang di udara melayangkan sebuah serangan berwarna putih ke arah Naruto

Boku wa boku da hai agatteyaru

Gambar kembali di ganti dengan Naruto yang melesat ke arah serangan tersebut dan menerobosnya dengan menggunakan tangan kirinya.

we can be the change need it

Lalu gambar di ganti dengan wajah perempuan yang melayang menyeringai ke arah Naruto Lalu menghentikan serangannya dan melesat ke arah Naruto.

kankaku juushi doko ga waruino?

Layar kembali diganti dengan Naruto yang berhasil menembus serangan perempuan tersebut lalu bersiap beradu tinju dengan perempuan tersebut lalu layar berubah menjadi putih

Zenbu uso ka? Kudaranai

Layar kembali berganti dengan gambar Naruto dari depan yang berjalan tenang

Rikutsudarake tsumaranaina

Lalu gambar memperlihatkan tangan Naruto yang menarik pedang di pinggangnya sambil memutar-mutarnya.

Boku wa boku da

Setelah itu Naruto mengangkat pedangnya setinggi dadanya dengan sisi pedangnya menutupi sebagian wajahnya.

It's none of your business.

Tangan Naruto yang menggenggam gagang pedangnya pun memutar gagangnya

Boku wa Boku da!

Seketika Naruto tertutupi oleh luapan Energi yang sangat terang.

Guitar, Piano & Violin sfx

Layar kembali di ganti memperlihatkan tubuh Naruto yang terlapisi armor putih lalu gambar kembali berubah wajahnya lalu membuka matanya yang berubah menjadi emas.

.

Chapter 19 : Traning with Another Class Part 2

.

.

Gabriel yang mendengar itu meleset ke arah Luminas dengan cepat lalu menebaskan tombaknya ke arah tubuh Luminas, namun dengan santai dia menghindari serangan Gabriel tersebut.

Melihat serangannya berhasil di hindari dengan mudah walaupun tadi dia sudah bergerak cepat ke arahnya, Gabriel kembali melakukan serangannya dengan mengayunkan tombak cahayanya secara terus menerus ke arah Luminas, namun dengan santai ia menghindari semua serangan Gabriel.

["Fire Magic : Raven Claws!"] Luminas yang mendengar suara Michella melirik ke belakang dan ia melihat Michella menebaskan pedang apinya ke arahnya hingga mengeluarkan tiga gelombang berbentuk cakar.

Luminas pun melompat menghindari serangan tersebut dan saat dia mendarat, Gabriel telah di depannya sambil mengayunkan tombaknya dengan cepat. "Tepat waktu, Michella-chan!" ucap Gabriel tersenyum, namun ayunan Gabriel seketika terhenti karena Luminas berhasil menahannya dengan tangan kosong.

"Dia menahannya dengan tangan kosong?!" kejut Gabriel begitu juga Michella, melihat itu Gabriel menjaga jaraknya sesaat sambil memandang tak percaya Luminas yang tidak tergores sedikit pun saat terkena tombak cahayanya saat menahannya dengan tangan kosong.

"Tidak ada luka sama sekali di tangannya... Apakah mungkin dia juga pengguna [Light Magic] mengingat Quarta-san, Argento-san dan Shidou-san memiliki [Light Magic] juga," batin Gabriel menatap tajam Luminas yang hanya melihatnya dengan santai.

"Jika dia pengguna serta kebal [Light Magic], ini akan susah untukku membuatnya terluka dan hanya Michella-san yang bisa melukainya... Masa iya aku harus merepotkan Michella-san kembali," batin Gabriel tidak ingin merepotkan Michella karena pertarungan sebelumnya, Michella lebih banyak mengambil peran dari pada dirinya.

"Ayo... Tunjukan kemampuan kalian," ucap Luminas sambil meletakkan tangan kirinya di pinggang. Michella yang mendengar itu menggenggam erat pedang apinya, ["Fire Magic :...,"] gantung Michella lalu melesat dengan cepat ke arah Luminas.

Swush!

Setelah di dekat Luminas, Michella menebaskan pedang apinya, ["Fire Blow Slash!"] lanjut Michella dan seketika terjadi ledakan memanjang hingga membuat kumpulan asap tebal. "Apakah berhasil?!" batin Gabriel yang tidak bisa melihat situasi karena kumpulan asap.

Swush!

Dari kumpulan asap, terlihat Michella keluar dengan wajah tidak senang yang membuktikan serangannya tidak berhasil mengenai Luminas-sensei, "Tidak berhasil ya," batin Gabriel.

Kumpulan asap ledakan yang di buat oleh Michella mulai menipis memperlihatkan Luminas yang menekuk tangan kanannya ke atas dan di sampingnya terdapat sebuah lingkaran sihir kuning berukuran cukup besar.

"Tadi itu boleh juga," ucap Luminas lalu menghilangkan lingkaran sihir kuningnya lalu menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu. Azazel yang melihat itu hanya menghela nafasnya, sementara Xenovia dan Irina tersenyum senang karena guru mereka baik-baik saja.

Michella yang tadinya terbang agak jauh dari Gabriel mulai terbang di sisinya dan mempersiapkan rencana selanjutnya.

"Sepertinya ini akan sedikit sulit," ucap Michella dan di balas gumaman pelan Gabriel. "Tentu saja... Itu karena dia adalah seorang guru," jawab Gabriel menatap lekat Luminas yang tampak tak memberikan perlawanan atau pun menyerang mereka.

Jikapun mereka bertarung melawan Azazel, dia akan menyerang atau pun melawan mereka, tetapi untuk guru yang mereka hadapi saat ini... Dirinya tampak tenang sekali seolah-olah mereka bukanlah apa-apa untuknya.

"Ck, mengesalkan sekali...," batin Gabriel mendecak kesal dalam hati, "Michella! Ayo kita serang dia bersama, siapa tahu kita bisa menemukan celah untuk menyerangnya," ucap Gabriel sambil menggenggam erat tombak cahaya di tangannya.

Michella yang mendengar itu mengangguk pelan, sayap api di punggung Michella mulai membara semakin besar lalu setelah itu ia melesat dengan cepat dari sebelumnya ke arah Luminas.

"Dia semakin cepat dari sebelumnya," batin Luminas menyipitkan matanya lalu memiringkan kepalanya menghindari tebasan pedang api Michella.

Tak!

Dengan cepat Luminas menangkap tangan Michella dan berniat mengunci gerakannya, namun baru saja akan menariknya ia tersentak ketika dari sisi lain muncul tiga lingkaran sihir merah.

Dari tiga lingkaran sihir merah itu pun keluar tiga bola api berukuran sedang yang langsung mengenai Luminas dengan telak membuat Michella terbebas dari genggaman Luminas.

Luminas yang terkena serangan Michella perlahan berubah menjadi pecahan cahaya yang membuktikan dia bukanlah yang asli.

Swush!

Michella yang melihat itu tersentak dan ia semakin terkejut ketika merasakan hawa kehadiran dalam sekejap di belakangnya.

Bang!

Suara benturan terdengar dengan sangat keras, sebuah perisai cahaya muncul di sisi kiri Michella menahan sebuah pukulan keras dari sosok yang muncul di belakang Michella.

Duak!

Dari arah lain, Gabriel langsung datang dengan cepat mengarahkan sebuah tendangan untuk menyelamatkan Michella, serangannya berhasil di tahan dengan menggunakan salah satu tangannya namun ia tetap terdorong menjauh dari Michella.

["Light Magic :...,"] gantung Gabriel sambil mengangkat tangannya ke atas, dari atas sosok itu pun muncul beberapa lingkaran Sihir berwarna kuning, ["Multiple Light Spears!"] lanjut Gabriel sambil menurunkan tangannya.

Lingkaran sihir di atas sosok itu pun mengeluarkan tombak cahaya yang melesat dengan cepat, namun sosok itu langsung mengayunkan tangannya menghancurkan seluruh tombak cahaya Gabriel.

"Yang benar saja," gumam Gabriel mendesis kesal ketika serangannya kembali di hancurkan dengan mudah, ia memandang sosok yang tak lain adalah Luminas dengan perasaan sedikit kesal.

Swush! Swush! Swush!

Michella yang melihat kesempatan muncul di sisi Luminas dan menebaskan pedangnya secara berkali-kali namun dengan mudah di hindari oleh Luminas.

Michella yang melihat Luminas selalu bisa menghindari serangannya menahan emosinya dan terus melancarkan serangan secara terus menerus hingga ia melihat sedikit celah, pedang api di tangan kiri Michella mulai membara dan perlahan api yang awalnya merah berubah menjadi kuning begitu juga sayapnya.

["Fire Magic : Yellow Fire :...,"] jeda Michella mengayunkan pedang api kuning di tangan kirinya, dan seketika pedang itu berubah menjadi sebuah tongkat Magic. ["Fire Dynamite!"] lanjut Michella dan seketika dari dada Luminas muncul enam lingkaran sihir kuning dan seketika meledak cukup dahsyat hingga membuat Luminas terpental cukup jauh dan menabrak satu pohon hingga tumbang.

Gabriel yang melihat itu terkejut karena serangan Michella berhasil mengenai Luminas, Azazel yang melihat itu menggumam pelan sambil menyentuh dagunya, sementara Xenovia dan Irina yang melihat itu melebarkan mata mereka.

"Luminas-sensei!"

"Jadi begitu, dia sengaja mencari jarak dekat dan menyerangnya secara terus menerus untuk melihat celah terbuka, lalu dia mengubah modenya ke serangan yang lebih dekat," batin Azazel menatap Michella yang menghembuskan nafasnya lalu memutar tongkat Magic dari api kuningnya dan menatap lekat posisi Luminas berada.

Tap! Tap!

Suara langkah kaki terdengar dengan jelas di telinga Michella serta Gabriel dan mereka melebarkan mata mereka ketika melihat Luminas keluar tanpa luka sedikit pun di tubuhnya.

"Tidak mungkin! Aku melihat jelas seranganku mengenainya... Bagaimana bisa dia tidak terluka sedikit pun," batin Michella menatap tajam Luminas yang kembali menepuk-nepuk pakaiannya.

"Tadi itu tidak buruk juga, aku beri nilai 8 dari 10," ucap Luminas sambil tersenyum tipis. Gabriel yang melihat itu menyipitkan matanya sambil berpikir keras, "Ada yang tidak beres, jelas-jelas serangannya tadi mengenainya dengan telak... Lalu bagaimana bisa dia tidak terluka...," batin Gabriel lalu tersentak.

"Mungkinkah... dia punya magic Regenerasi?" batin Gabriel menebak salah satu kemampuan Luminas. Michella yang melihat Luminas baik-baik saja mengentakkan tongkat magicnya dan seketika di sekitarnya tercipta puluhan Lingkaran Sihir Kuning yang lalu menyebar segala arah dan menghilang.

"Hoo... Kau menyiapkan ranjau untukku huh? Tidak buruk juga," ucap Luminas ketika melihat sihir Michella, lalu ia mengarahkan tangan kirinya ke depan dan seketika tercipta lingkaran sihir kuning di berbagai tempat, Michella yang melihat itu melebarkan matanya.

"Dia..."

Swush! Blaaam!

Seketika dari lingkaran sihir yang di ciptakan Luminas mengeluarkan pedang-pedang cahaya yang langsung menancap di tanah, Michella yang melihat itu langsung terbang menjauh... tak berselang lama ledakan beruntun pun terjadi di berbagai tempat.

"Dia bisa mengetahui letak ranjauku," batin Michella yang sudah menjaga jarak dari posisinya yang terkena area ranjau sihirnya.

Swush!

Dari balik ledakan, keluar Luminas yang melesat ke arah Michella dengan cepat dan bersiap menyerangnya dengan tangan kosong.

Bam! Twush!

Tinju Luminas melesat ke arah dada Michella, namun dia berhasil di tahan menggunakan tongkat sihir apinya hingga dirinya terdorong semakin jauh. "Kuat sekali," ucap Michella mengembangkan sayap apinya hingga membuatnya berhenti dari terpentalnya.

Swush! Srash!

Dari berbagai arah Luminas, muncul lingkaran sihir kuning yang langsung mengeluarkan tombak cahaya yang mengunci gerakan Luminas, tak berselang lama muncul dua Gabriel di depan Luminas sambil bersiap mengayunkan tongkat cahayanya.

Swush! Trank!

Ayunan Tombak Gabriel seketika tertahan karena munculnya pedang Cahaya entah dari mana membuat ke dua Gabriel terkejut karena cepatnya respon Luminas.

"Gabriel! Menghindar dari sana!" ucap Michella lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah Luminas, dan seketika lingkaran sihir api kuning muncul di bawah Luminas.

Ke dua Gabriel yang melihat itu melompat mundur, ["Fire Magic : Yellow Fire : Hands Explosion!"] ucap Michella lalu mengepalkan tangan kanannya, seketika muncul tangan dari api kuning yang meremas Luminas dan meledak cukup dahsyat.

Inori yang bersama Asia menciptakan lingkaran sihir pelindung untuk melindungi mereka, sementara Azazel melindungi Xenovia serta Irina yang ada di sampingnya.

Untuk Naruto yang memang dari tadi mendengar suara ledakan dan merasakan angin akibat pertarungan mereka hanya diam sambil terus fokus berlatih.

"Bagaimana dengan itu," gumam Michella penasaran apakah serangannya berhasil memberi luka Luminas, ke dua Gabriel yang ada di sisi Michella juga penasaran, namun mereka harus terkejut ketika Luminas masih berdiri dengan luka bakar di bagian kirinya, serta sebuah pelindung cahaya berukuran kecil melindunginya.

"tadi itu tidak buruk juga," ucap Luminas menghilangkan pelindung yang melindunginya, setelah itu luka bakar di bagian kirinya perlahan mulai memulih kembali dengan cepat. "Jadi benar dia punya regenerasi, itu pun tingkat tinggi," batin Gabriel ketika melihat itu lalu melirik Michella yang terdiam dengan ekspresi sedikit kesal.

"Jangan di bawa ke dalam hati, Michella... Lagi pula ini hanya sparing," ucap Gabriel membuat Michella terdiam sesaat lalu menghembuskan nafasnya pelan. "Maaf... Aku terlalu terbawa suasana tadi, Arigato... Gabriel," balas Michella berterima kasih, dirinya benar-benar terlalu terbawa suasana hingga lupa bahwa mereka saat ini lagi sparing, bahkan dirinya terlalu bawa ke hati ketika melihat semua serangannya tidak berpengaruh kepada Luminas, walau pun kena tapi dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

"Baiklah... Sekarang giliranku melakukan serangan... Ini tidak akan bertahan lama," ucap Luminas lalu mengarahkan tangan kirinya ke arah Gabriel serta Michella, dan seketika dari bawah muncul rantai cahaya yang langsung mengikat mereka dengan sangat kuat.

Lalu Luminas sedikit menurunkan tangannya membuat rantai yang mengikat mereka mengetat, dan menarik mereka untuk berlutut kecuali Michella yang di biarkan masih terbang dengan sayap apinya, sementara Gabriel harus berlutut karena kuatnya tarikan rantai.

"Khhh!" gumam Michella berusaha melawan rantai yang mengikatnya. "Terlalu kuat," gumam Gabriel yang berusaha berdiri tapi tidak bisa karena kuatnya tarikan rantai Luminas.

"Jangan memaksakan diri kalian... Jika kalian memaksakan diri kalian, tulang kalian akan patah... Jadi sudah cukup sampai di sini," ucap Luminas membuat Gabriel serta Michella terdiam lalu tidak melawan tarikan rantai Luminas.

"Azazel, aku sudah selesai." Azazel yang mendengar itu menghembuskan nafasnya pelan, Luminas lalu melepaskan sihirnya membuat Gabriel bisa berdiri kembali. Sementara Michella ia juga kembali ke posisi santai, api kuningnya juga kembali menjadi api pelangi.

"Dia tidak perlu mengeluarkan banyak kekuatan untuk mengalahkan kami... Jadi ini kekuatan Luminas-sensei," batin Gabriel serta Michella kompak sambil melihat Luminas mendekati mereka.

"Kalian beristirahatlah... Kalian sudah melakukan yang terbaik, tadi itu luar biasa," ucap Luminas memberi semangat kepada Gabriel serta Michella. Mereka yang mendengar itu terdiam sesaat lalu tersenyum tipis dan membungkukkan badan mereka sesaat, "Arigato Gonzaimasu untuk sparingnya, Luminas-sensei."

Setelah itu, mereka pun pergi ke pinggiran untuk melihat keadaan latihan Naruto, sementara Luminas berjalan ke arah Azazel. "Kau memiliki murid yang hebat, Azazel," ucap Luminas membuat Azazel hanya mengendikan bahunya.

"Begitulah, tapi kemampuan mereka masih harus di asah lagi untuk ke depannya," balas Azazel sambil melirik ke arah Gabriel dan Michella, "untuk sekarang sebaiknya kau bersiap-siap untuk sparing berikutnya nanti... Kau akan melawan Naruto nanti, dia sedikit berbeda dari mereka berdua jika sudah menyangkut pertarungan."

"Apakah itu semacam peringatan keras?" tanya Luminas dengan ekspresi tertarik. "Kau bisa mengatakannya begitu," jawab Azazel lalu berjalan santai ke tengah lapangan.

Luminas yang mendengar itu terdiam sambil melihat punggung Azazel, "Kau baik-baik saja kan, Luminas-sensei?" tanya Xenovia sambil mendekati gurunya bersama Irina dan Asia. "Ya, aku baik-baik saja... Sebaiknya kalian bersiap untuk sparing melawan," ucap Luminas sambil tersenyum tipis, Xenovia serta Irina yang mendengar itu menganggukkan kepala mereka.

"Baiklah!" ucap mereka lalu berlari ke tengah lapangan menyusul Azazel, melihat mereka sudah pergi Luminas pun mendudukkan dirinya bersama Asia dan Inori yang duduk diam sambil melihat pertandingan berikutnya.

"Dari tadi aku tidak melihat Uzumaki-kun... Apakah dia masih latihan?" tanya Luminas dan di balas anggukkan oleh Inori. "Ha'i, dia masih berlatih sekarang...," jawab Inori membuat Luminas terdiam, dirinya sebenarnya berniat melihat bagaimana latihan Naruto sampai sekarang, tapi dia membatalkan niatnya karena khawatir jika terjadi sesuatu pada Muridnya.

Apa lagi yang di lawan muridnya adalah pak tua mesum.

.

.

Bam! Bam! Bam!

Di sisi tempat latihan Naruto, terlihat saat ini Naruto meninju pohon di depannya dengan cepat serta kuat hingga membuat kulit pohon di depannya terkelupas dan memiliki beberapa bekas darah dari tangan Naruto.

Menghentikan pukulannya sesaat, Naruto menarik nafas dalam-dalam sambil mengambil posisi istirahat sesaat membuka botol minumnya dan meminumnya, dirinya sudah memukul pohon di depannya cukup lama dan itu membuatnya kekurangan pasokan udara karena terkadang-kadang dia menahan nafasnya untuk melakukan pukulan cepat.

["Master... Tanganmu sudah terluka... Bukankah sebaiknya kau menghentikan latihanmu dan mengobati tanganmu itu?"] ucap Jeanne menatap khawatir Naruto yang tampak memaksakan latihannya, apa lagi sampai membuat tangannya terluka.

Untuk Ophis, dirinya hanya bisa diam sambil melihat keadaan tangan Naruto yang terluka akibat latihan kerasnya sejak tadi, dirinya berpikir apakah seperti ini Naruto selama ini untuk melatih kekuatannya untuk menjadi kuat.

Dia memaksakan dirinya hingga anggota tubuhnya terluka, dan menganggapnya itu bukanlah apa-apa, padahal dirinya yakin bahwa ia juga sangat kesakitan karena hal itu, tapi dia tidak menunjukkan rasa sakitnya di depan orang-orang agar tidak membuat mereka khawatir.

["Apakah kau selalu berlatih sekeras ini selama ini untuk menjadi kuat hingga kau tidak memperdulikan keadaanmu sendiri?"] batin Ophis.

"Naruto-nii-chan!"

Naruto yang di panggil pun menghentikan minumnya sesaat dan ia melihat Gabriel serta Michella mendekatinya. "Oh... kalian... sudah selesai? Jadi... Bagaimana?" tanya Naruto dengan nafas masih sedikit memburu.

Michella yang melihat itu menatap khawatir Naruto lalu mendekatinya dan berniat menuntunnya untuk duduk beristirahat sebentar. "Kau terlalu memaksakan dirimu, Nii-chan," ucap Michella berniat menggenggam tangan Naruto, namun ia terkejut ketika melihat jari-jari Naruto bagian depan memerah dan mengeluarkan sedikit darah.

"Kau terluka?!"

"Um? Ah... Iya... Ini sudah biasa untukku," jawab Naruto sambil tersenyum tipis seolah biasa saja. "Biarkan aku mengobatimu, Naruto-kun," pinta Gabriel berniat mengobati tangan Naruto namun di tahan oleh Naruto sendiri

"Tidak... Jangan sekarang, aku berniat menyelesaikan latihanku lagi sebentar saja," jawab Naruto lalu melihat ke arah pohon yang menjadi objek latihannya di mana bagian yang selalu di pukul Naruto, kulit pohonnya telah mengelupas dan terdapat bercak darah. "Apa yang kau katakan?! Tanganmu itu sudah terluka seperti itu?! Sebaiknya kau menghentikannya sekarang!" pinta Michella, namun Naruto menggelengkan kepalanya lalu mendekati pohon itu kembali.

["Master... Sebaiknya kita hentikan ini sejenak?!"] pinta Jeanne, namun Naruto tidak membalas ucapan Jeanne. Setelah dekat, Naruto pun kembali meninju pohon di depannya dengan sangat keras dan terus mengulanginya berkali-kali.

Buagh! Buagh!

Pukulan Naruto yang awalnya lamban perlahan semakin cepat setiap detiknya hingga 35 detik, gerakan pukulan Naruto semakin cepat hingga membuat pohon di depannya berguncang dengan keras dan menjatuhkan dedaunannya.

"Pukulannya semakin cepat," gumam Gabriel tidak percaya dengan apa yang ia lihat, padahal tangan Naruto berisi pemberat, namun pukulannya sangat cepat seolah beban di tangannya bukanlah masalah.

Luminas, Asia serta Inori yang mendengar suara gaduh akhirnya menoleh dan ia melihat Naruto yang terus meninju pohon di depannya dengan sangat cepat.

"Kau bercanda bukan... tangannya itu berisi pemberat tapi dia bisa memukul secepat itu?!" batin Ophis cukup terkejut dengan Naruto yang sudah bisa beradaptasi dengan pemberat di tangannya, "Dia... Memang bukan manusia biasa."

"Master...," batin Jeanne khawatir dengan keadaan tangan Naruto yang sudah terluka dipaksa untuk memukul pohon dengan cepat dan itu bisa saja membuat lukanya semakin parah.

BUAGH!

Naruto lalu melayangkan sebuah tinju yang sangat keras hingga membuat suara benturan yang cukup keras juga bersama terdengarnya sebuah retakan dari pohon, lalu ia kembali meninju pohon di depannya dengan cepat dan kembali melayangkan tinju yang kuat sekali lagi hingga terdengar benturan yang keras dan retakan kembali

Hingga 1 menit berlalu, Naruto lalu melayangkan tinju kuat yang terakhir ke pohon di depannya hingga membuat bagian yang ia tinju hancur dan menjadikan pohon itu dua bagian.

Michella serta Gabriel yang melihat itu melebarkan mata mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, begitu juga Asia serta Luminas. Mereka melihat dengan mata serta kepala sendiri bagaimana Naruto bisa membuat pohon itu menjadi dua bagian hanya dengan pukulannya saja.

Untuk manusia biasa tanpa [Mana] mungkin melakukan itu adalah hal mustahil, karena pasti membutuhkan latihan yang lama serta memiliki fisik yang kuat. Namun Naruto berhasil melakukannya yang menandakan, dia memiliki fisik serta tenaga di atas manusia rata-rata, dan rumor-rumor yang mereka dengar soal Naruto memang bukanlah bualan belaka.

"Sugoii!" batin Asia ketika melihat hasil latihan Naruto, sementara Luminas terdiam melihat pohon yang di tumbangkan oleh Naruto sambil memikirkan sparing berikutnya antara dirinya dan Naruto.

"Yosh! Sudah selesai...," gumam Naruto tersenyum dengan hasil latihannya, sementara Jeanne serta Ophis yang melihat hasil latihan Naruto hanya bisa terdiam.

Setelah beberapa menit terdiam Ophis mengusap wajahnya dengan pelan, "Dia itu benar-benar manusia yang penuh kejutan," batin Ophis, untuk Jeanne dia menghembuskan nafasnya bersyukur karena akhirnya latihan keras Naruto selesai, namun di dalam hatinya dia sangat kesal karena masternya itu terlalu memaksakan dirinya dan tidak memperdulikan ucapannya.

"Huft... Michella-chan... Kau sudah bisa mengobatiku," ucap Naruto membuat Michella serta Gabriel tersadar dan langsung mendekati Naruto.

Michella lalu menggenggam kedua tangan Naruto dengan lembut, lalu seketika kedua tangan Naruto terbakar oleh api berwarna oranye kemerahan. Luka yang ada di kedua tangan Naruto perlahan mulai mengikis sendirinya, bekas darah yang ada di tangannya juga perlahan menghilang.

"Seperti biasa... api pengobatanmu yang terbaik," ucap Naruto namun Michella hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Naruto, namun dalam hatinya ia tersenyum kecil karena setiap dia terluka karena latihannya dirinya lah yang mengobatinya dan agar tidak membuatnya khawatir ia akan selalu mengatakan itu.

"Nii-chan diamlah sebentar... Gabriel-chan," panggil Michella tangan mengalihkan pandangannya dari kedua tangan Naruto, mendengar Michella memanggilnya seolah memberi kode dia lalu menyentuh kedua tangan Naruto dari atas lalu menyalurkan sihir penyembuhnya untuk membantu Michella mengobati tangan Naruto.

Setelah beberapa menit, kedua tangan Naruto yang awalnya terluka pun akhirnya pulih sedia kala, Naruto yang melihat itu tersenyum sambil mengepal-ngepalkan tangannya. "Arigato, Michella-chan, Gabriel-chan," ucap Naruto berterima kasih karena telah di sembuhkan.

"Hmph! Jika Nii-chan kembali memaksakan diri, aku tidak akan mengobati Nii-chan lagi, paham?" ucap Michella mengancam Naruto sambil mengembungkan pipinya membuatnya tampak lucu.

Naruto yang mendengar itu tertawa kecil lalu mencubit pelan pipi Michella, "Ha'i... Ha'i," balas Naruto, "sekarang ayo kita berkumpul dengan yang lainnya," ajak Naruto sambil berjalan ke tempat yang lain berkumpul, sementara Michella yang melihat itu berkecak pinggang karena pasti kakaknya akan melakukan latihan seperti ini, untuk Gabriel hanya bisa tertawa kecil sambil mengikuti Naruto.

Trank!

Beralih ke tempat latihan, saat ini Azazel tengah mengarahkan tombak cahaya miliknya ke leher Xenovia yang terdiam di tempat karena senjata Durandalnya berhasil di jauhkan darinya, sementara Irina saat ini tengah berlutut di belakang Xenovia karena kelelahan.

"Sudah cukup," ucap Azazel menjauhkan tombaknya dari leher Xenovia. Melihat itu Xenovia langsung jatuh dengan ekspresi kesal karena kalah melawan Azazel, dan ini sudah kekalahan mereka yang kedua kalinya.

"Kerja bagus untuk kalian," ucap Azazel memuji Xenovia serta Irina, "saran dariku, kalian perlu meningkatkan kemampuan kalian lagi ke depannya."

"Ha'i, Arigato Azazel-sensei," ucap Irina berterima kasih, sementara Xenovia hanya diam sambil berjalan ke arah pedangnya, dirinya masih kesal karena tidak bisa seperti Gabriel serta Michella.

"Hoo, sudah selesai huh?" Xenovia yang mendengar suara Naruto menoleh dan ia melihatnya telah berdiri tak jauh dari mereka, "heh... Aku harap ke depannya kau tidak kalah dariku, Gorilla-onna."

Twich!

Perempatan muncul di kening Xenovia ketika mendengar itu, dirinya ingin sekali melempar pedangnya ke arah Naruto, namun dia kali ini masih lelah dan tidak membalas ucapan Naruto.

"Satte... Apakah kau sudah siap sparing denganku, Luminas-sensei?" ucap Naruto sambil meregangkan badannya dan melirik ke arah Luminas.

Luminas yang mendengar itu terdiam, bayangan Naruto yang menumbangkan pohon tadi masih terbayang di kepalanya apa lagi peringatan Azazel sebelumnya yang membuatnya harus waspada kepada Naruto.

"Tentu saja."

.

.

Akademi Konoha Magic

13.00 PM

.

Beralih ke sekolah Magic Konoha tepatnya di bagian kantor kepala sekolah, terlihat saat ini Tsunade tengah sibuk mengurus data-data misi yang telah di selesaikan oleh beberapa muridnya.

Tok! Tok!

Tsunade yang mendengar suara ketokan pada pintunya menghentikan kegiatannya sesaat, "Masuk!" perintah Tsunade. Tak lama setelah itu, pintunya pun terbuka dan memperlihatkan Tenka, Kyouka serta Arthuria yang memasuki ruangannya.

"Konichiwa, Tsunade-sama," ucap Arthuria mewakili teamnya sambil berjalan ke arah meja Tsunade, sementara Kyouka serta Tenka hanya berdiri sekitar 2 meter dari meja Tsunade, "Kami telah menyelesaikan tugas kami, para penjahat juga telah di ambil alih oleh kepolisian Konoha."

"Kerja Bagus, kalian bertiga," ucap Tsunade sambil tersenyum tipis menerima kertas misi team Arthuria dan melihatnya terdapat cap kepolisian Konoha yang membuktikan misi mereka benar-benar di Approve oleh polisi.

"Point kalian akan di kirim nanti oleh ketua Osis, sekarang kalian sudah bisa kembali," ucap Tsunade dan balas bungkukkan pelan oleh Tenka, Arthuria serta Kyouka.

"Baiklah."

"Ah! Tunggu sebentar?!" mereka bertiga yang baru saja akan pergi meninggalkan ruangan itu, terhenti ketika Tsunade menghentikan mereka, "ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua saja, Tenka-chan... Kyouka-chan."

Keduanya yang di panggil saling melirik satu sama lain, sementara Arthuria terdiam dengan wajah polosnya. "Untuk Arthuria-san, maafkan aku jika terdengar kasar... Tapi bisakah kau...," gantung Tsunade tidak ingin melanjutkan kalimatnya karena tidak ingin menyinggung Arthuria.

"Tidak mau." Jawaban singkat Arthuria membuat Tsunade terdiam sesaat, "apakah yang ingin Anda bicarakan terhadap mereka soal Naruto-kun?" tanya Arthuria dengan ekspresi tenangnya.

Tsunade yang mendengar itu tersentak, dirinya memang berniat membahas soal Naruto kepada mereka berdua saja, tapi Arthuria mengetahui topik yang akan dia bahas.

"Apakah benar, Tsunade-sama?" tanya Kyouka memastikan, Tsunade yang mendengar itu terdiam beberapa detik lalu menganggukkan kepalanya. "Aku juga ingin mendengarkan pembicaraan kalian," ucap Arthuria dengan mata membinar antusias membuat mereka bertiga Sweatdrop karena ini pertama kalinya mereka melihat Arthuria yang terkenal tenang menunjukkan ekspresi seperti itu.

Terutama Kyouka serta Tenka yang sudah satu team dengannya sejak lama, dia hanya menunjukkan ekspresi seperti itu ketika dirinya melihat makanan super banyak saja.

"Kenapa kau juga ingin ikut?" tanya Tsunade setelah dari sweatdropnya. "Maaf mencela... Apakah ini soal hubungan kami dengan Naru-kun?" sebelum membiarkan Arthuria menjawab, Tenka lebih dulu bertanya kepada Tsunade.

"Ya, selain itu... aku juga ingin tahu apakah kalian memiliki perasaan terhadap Naruto-kun?"

"Tentu saja!" jawab mereka bertiga kompak membuat Tsunade melongo. "Eh? Aku tidak salah dengar kan? Aku tadi mendengar Arthuria-san bilang tentu saja memiliki perasaan terhadap Naruto-kun?" tanya Tsunade sambil mengurek kupingnya memastikan dirinya tidak salah dengar

"Tidak, Tsunade-sama... Aku memang mengatakannya," balas Arthuria membuat Tsunade terdiam. "Kami bertiga memang memiliki perasaan terhadap Naru-kun, Tsunade-sama," timpal Tenka membuat Tsunade menghembuskan nafasnya lalu tersenyum sambil tertawa pelan.

"Apakah ada yang lucu?"

"Haha... Tidak... Aku memang bisa menebak bahwa Tenka-chan serta Kyouka-chan pasti memiliki perasaan terhadap Naruto mengingat tingkah lakunya yang salah tingkah begitu aku membicarakan kalian padanya, apalagi Kyouka-chan habis kencan dengan Naruto akhir-akhir ini, tapi tidak aku sangka bahwa Arthuria-san juga memiliki perasaan terhadap Naruto," jawab Tsunade menjelaskan kenapa dia tertawa, "dia berhasil memikat 1 tim sekaligus, cukup luar biasa untuknya."

Tenka yang mendengar itu tersenyum senang, untuk Kyouka ia memainkan rambut putihnya sambil melirik ke arah lain dengan semburat merahnya, untuk Arthuria dia hanya diam dengan ekspresi tenangnya.

"Lalu, bagaimana menurut kalian?" tanya Tsunade sambil berjalan mendekati mereka bertiga, "apakah kalian siap saling berbagi cinta kalian terhadap Naruto?"

"Tentu saja... Kami sudah sepakat akan saling berbagi cinta kami terhadap Naru-kun, bahkan aku berniat membuat Naruto menciptakan Harem sebelum anda menjelaskan CRA pada Naru-kun," ucap Tenka mewakili yang lainnya. Tsunade yang mendengar itu terdiam sesaat lalu tersenyum karena pemikiran Tenka sama sepertinya yang menyarankan Naruto untuk membuat Harem agar akar Clan Uzumaki tetap berlanjut.

"Souka... Itu artinya kau sudah tahu bahwa Naruto harus menjalani CRA ya," balas Tsunade membuat Tenka menganggukkan kepalanya, "mungkin hal ini akan memberatkan hati Naruto karena harus melakukan CRA, tapi mau tidak mau dia harus menjalankan hal ini, aku yakin tetua Uzumaki juga akan menyarankan hal yang sama."

"Aku juga sudah menduga hal itu, maka dari itu kami berdua mengambil langkah lebih dulu menyatakan perasaan kami terhadap Naru-kun karena memang dari dulu kami sudah menyukainya sampai sekarang, dengan begitu kami bisa membimbingnya untuk melakukan CRA tanpa memberatkan hatinya," balas Tenka membuat Tsunade terdiam lalu tersenyum senang.

"Jika begitu, aku bisa tenang karena ada kalian di samping Naruto," ucap Tsunade bersyukur, "lalu, kapan kau akan menyatakan perasaanmu terhadap Naruto?" tanya Tsunade sambil melihat ke arah Arthuria yang dari tadi terdiam.

"Aku sudah mengajaknya jalan-jalan hari Minggu ini, aku berniat menyatakannya saat itu juga."

Tsunade yang mendengar itu mengangguk pelan, "Souka... Semoga acara kalian lancar," ucap Tsunade, "mohon perlakukan Naruto dengan sebaik-baiknya."

.

.

Back to Team Naruto vs Team Xenovia.

Traning land 51

(di waktu yang sama)

.

Kembali ke tempat latihan sparing antara team Naruto dengan team Xenovia. Saat ini Naruto tengah bersiap di tengah lapangan dengan Luminas yang berdiri tak jauh darinya.

Untuk Luminas, dia berdiri diam sambil menunggu Naruto selesai peregangan, jujur saja dirinya merasa tegang berhadapan Naruto apa lagi ia masih mengingat kejadian tadi serta peringatan Azazel.

Naruto yang telah selesai lalu mengeluarkan rantai seperti biasanya dari lengan kedua bajunya lalu menggulungnya di kedua tangannya membuat tangannya terlapisi rantai, lalu kuda-kudanya, "Aku sudah siap," ucap Naruto penuh semangat, untuk Luminas dia menciptakan pedang Cahaya lalu memasang kuda-kuda bertarung.

Gabriel, serta Michella yang melihat itu tersentak karena Luminas memasang kuda-kuda bertarung, berbeda saat mereka melawannya di mana dia memasang posisi santai saja.

"Jadi dia mulai serius heh?" batin Azazel tersenyum karena dirinya yakin Luminas tidak bisa bermain-main atau terlalu santai melawan Naruto, "kalau begitu... Sparing berikutnya antara Uzumaki Naruto melawan Luminas Valentine... di mulai dari...,"

"Sekarang!"

.

.

.

.

.

TBC

.

Preview Next Chapter :

.

Trank! Swush!

Naruto serta Luminas yang telah lama cukup beradu serangan langsung menjaga jarak satu sama lain sambil mengatur nafas mereka yang memburu.

Naruto yang melihat rantai yang menggulung di masing-masing tangannya tampak tidak layak pakai karena selalu berbenturan dengan [Magic] serta serangan pedang Luminas akhirnya memutuskan menghancurkan rantai di kedua tangannya membuat kedua tangannya tidak terlindungi apa-pun.

Luminas yang melihat itu menciptakan sepuluh lingkaran sihir cahaya di belakangnya dan menembakkan hujan pedang Cahaya ke arah Naruto.

Swush! Pyarsh! Pyarsh!

Luminas yang melihat Naruto menghancurkan sihirnya dengan tangan kosong tanpa terlindungi apa pun melebarkan matanya, sementara Naruto yang melihat ekspresi keterkejutan Luminas menyeringai senang.

.

["Light Magic : Divine Punishment!?"] ucap Luminas menembakkan laser cahaya ke arah Naruto. Untuk Naruto yang melihat itu, ia memasang kuda-kuda sambil menggenggam pedangnya dengan erat, ["One Sword Style : Deffends Style : Tori no Gate!"] lalu mengangkat gagang pedangnya ke atas membuat ujung pedangnya di bawah dengan sisi mata pedang mengarah ke depan.

Swush!

Serangan Luminas terbelah menjadi dua ketika membentur mata pedang Naruto, semua yang melihat itu melebarkan mata mereka termasuk Luminas.

Naruto yang menahan dorongan serangan Luminas, menggenggam erat pedangnya dan memasang ekspresi serius ke arah Luminas yang cukup jauh di depannya.

["Master jika begini terus..."]

"Ya, aku tahu... kita akan menyerangnya secara langsung!" balas Naruto lalu menyeringai dengan ekspresi serius.

"Aku datang, Luminas-sensei!" ucap Naruto membuat Luminas tersentak, ["One Sword Style : Rhino Ramming!"] lanjut Naruto mengubah posisi pedangnya ke atas lalu berlari ke arah Luminas sambil terus membelah serangannya.

Luminas yang melihat itu semakin terkejut, "Dia berhasil melawan kekuatan [Magic] ku?!" batin Luminas tidak percaya, melihat Naruto semakin dekat membuatnya menghilangkan sihirnya dan melompat mundur.

Naruto yang melihat itu menggenggam erat pedangnya lalu mengambil kuda-kuda sambil terus berlari, ["One Sword Style : Demon Fox Slash?!"]

.

.

End Preview

.

Note :

Hello semuanya, selamat Sore/Malam, bagaimana keadaan kalian semua? Masih sehat semua bukan.

Kembali lagi bersama saya, Author rendahan dengan karya-karyanya yang juga rendahan. Anjay (walau emang kenyataannya :v).

Bagaimana menurut kalian? Aku harap kalian puas dengan cerita ini, Yap sudah hampir lebih dari 5 bulan atau hampir setahun kah saya tidak melanjutkan cerita ini karena fokus ke Fanfic Zombie saya jadi saya memutuskan untuk mengupdate cerita yang lain dulu saat ini.

Di chapter kali ini, saya hanya memfokuskan latihan Sparing Luminas Valentine dengan Gabriel serta Michella. Jujur saja, saya sedikit kerepotan untuk memikirkan kemampuan Luminas karena saya sudah mencari info tentangnya dan kemampuan yang aku Dapati terlalu sedikit, jadi aku merombak kemampuan Luminas di sini. Jadi jangan terlalu berpikir Luminas kenapa tidak kek di Canon nya.

Lalu rencana Harem/CRA Clan Uzumaki? Kalian sudah bisa melihatnya bahwa Tsunade memang awalnya berniat menjadikan Kyouka serta Tenka sebagai Calon kandidat untuk rencana tersebut karena memang mereka mencintai Naruto serta paling dekat dengannya selain Michella, dan rencana tersebut mulai berjalan sekarang.

Lalu pertarungan Xenovia serta Irina melawan Azazel saya tidak perlihatkan untuk mempersingkat waktunya, dan selanjutnya akan menjadi pertarungan antara Naruto melawan Luminas.

Ok, itu saja dari saya... Nantikan Chapter depan yang akan mendatang entah kapan, dan kali ini saya akan memfokuskan Fanfic saya yang lainnya... Kira-kira apakah itu? Fufufufu. Lihat saja nanti, baiklah itu saja dari saya, 4kagiSetsu... Sang author rendahan undur diri... Jaa na.

.

.

FCI. 4kagiSetsu