Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekazu

Warning: sedikit OOC, OC, fem! Indonesia, loosely based on real historical event, graphic violent description and swear words on this chapter.


"Kita... tidak jadi menghadiri ulang tahun Nesia.."

.

.

=BLAAAAAAAR=

.

.

Ruangan itu bermandikan cahaya biru-putih selama sepersekian detik, diikuti suara menggelegar halilintar. Selanjutnya, kesunyian menelan keempat orang di dalam ruang tersebut. Tak satupun dari mereka bertukar pandang. Ned memandang lurus kedepan dengan kaget. Beatrix menghindari kontak mata dengan Ned. Bernhard menunduk dengan kedua tangan terkepal. Juliana memilih diam dan memandang jauh ke arah jendela.

"..kenapa?", Ned memecah kesunyian diantara mereka dengan sebuah pertanyaan. Suaranya lebih pelan dari beberapa saat lalu, tapi masih tersisa sedikit nada marah bercampur ketidakpercayaan.

" Tidakkah kamu melihat tayangan televisi belakangan ini, Ned?", Beatrix balas bertanya

"Apa-apaan ini, kenapa mereka malah bertanya hal tidak penting begini..", gerutu Ned dalam hati sambil mencibir. Belakangan ini ia memang sibuk, tapi tentu saja Ned masih sempat melihat televisi sesekali..

"..tentu saja..", gumam Ned

"..aku tentu tidak ingin ketinggalan highlight pertandingan Ajax musim ini.."

.

.

Sunyi.

Beatrix menghela nafas sambil bergeleng pelan dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti, "..aduh, anak ini.."

"Apa? Ada apa sebenarnya?", tanya Ned lagi dengan sedikit keras. Tampaknya ia terprovokasi dengan respon Beatrix.

"..kamu benar-benar tidak melihat siaran berita belakangan ini ya, Ned?", balas Beatrix dengan pelan.

"Gak..", jawab Ned singkat

Sejujurnya, ia tidak peduli dengan siaran berita. Kalau ada suatu kejadian besar berskala dunia, Nation-tan lain pasti sudah memberitahunya. Dan berita-berita kecil tentang kejadian dalam negeri adalah urusan bosnya, bukan urusannya.

Merasa tidak bisa mengelak lagi, akhirnya Beatrix menerangkan dengan lirih..

"..rencana ini menuai kontroversi besar Ned, aku tidak percaya kamu baru mengetahuinya..", Beatrix mengatupkan kedua bibirnya dan sekilas melirik Bernhard dengan sebal. Ayahnya itu tidak memperhatikan. Beatrix melanjutkan,"..lalu beberapa hari lalu, parlemen Belanda memprotes keras kunjungan ini dan menolak mengijinkanku datang pada tanggal 17 Agustus.."

"Ngh, Apa?", seru Ned dengan nada meninggi. Alisnya naik tajam, dahinya berkerut.

"Ah, tapi kita tetap akan berangkat mengunjungi Nesia kok Ned..", tambah Beatrix buru-buru.

"Tapi... tidak pada saat ulang tahunnya.."

Ruangan itu kembali ditelan kesunyian. Suara desis hujan terdengar menembus kaca jendela. Sepasang mata hijau menatap tiga orang dengan ekspresi keras, membuat Beatrix enggan bertukar pandang dengannya. Akhirnya, Ned kembali memecah kesunyian

"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi..."

"Cerita sebenarnya...", gumam Beatrix sambil menggigit bibirnya. Jeda sejenak.

"Ah, kelihatannya ayah lebih bisa menerangkannya.."

Pandangan Ned beralih ke arah Bernhard. Pria tua itu mengangkat wajahnya lalu bangkit dengan perlahan dari kursi. Ned masih menatapnya. Bernhard menatap balik dan berkata,

"Mari kita bicarakan ini di ruang sebelah, Ned.."

Pangeran Bernhard berjalan dengan pelan ke sebuah pintu di pojok ruangan. Ned meletakkan kotak tulipnya di atas meja kayu kecil, disamping sebuah lampu duduk. Ia lalu mengikuti Bernhard ke pojok ruang, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku. Ned mencibir pelan,

"Tsk"

Bernhard membuka pintu. Keduanya melangkah masuk ke ruang sebelah, sebuah ruang baca indah dengan rak-rak buku dari kayu berpelitur yang berjajar rapi mengelilingi mereka. Ned menutup pintu dibelakangnya, lalu menatap Bernhard yang telah berdiri di tengah ruang.

"Jadi, apa yang akan kita bicarakan?", Ned membuka percakapan.

"Alasan kenapa aku mendesak parlemen untuk memprotes keberangkatan putriku..", jawab Pangeran Bernhard. Ia mulai berjalan mondar-mandir, kedua tangannya dibelakang punggung. Suara derap sepatu memenuhi ruangan.

"Tentu kamu tahu apa artinya jika Beatrix datang tepat pada tanggal 17 Agustus..", lanjut Bernhard sambil menatap Ned.

Ned diam, tapi ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini.

"...ya, pengakuan kemerdekaan Nesi.., ah,.. maksudku Indonesia..", gumam Ned. Nada suaranya melemah, ia sekarang memandang lantai dibawahnya.

"Masalahnya Ned, masih ada banyak orang yang merasa lebih nyaman mengetahui Indonesia baru merdeka pada 27 Desember 1949..", balas Bernhard. Ia lalu melanjutkan dengan pelan,

"terutama... karena Politionel Acties.."

Bernhard sudah mengatakan dua kata yang paling ingin Ned lupakan selama hampir setengah abad..

.

xxx

.

Politionel Acties, Aksi Polisionil.

Kenangan buruk masa lalu yang sudah mulai berhenti menghantui Ned. Meskipun begitu, secara mendadak dihadapkan dengannya membuat Ned tidak kuasa menahan ingatan-ingatan yang bermunculan. Bernhard masih berbicara sambil mondar-mandir, tetapi tak satupun kata-katanya bisa didengar Ned. Pemuda itu telah tenggelam dalam memori gelap masa lalunya.

.

.

Suara gemeritik kayu berlatarkan bunyi desingan peluru. Bau asap bercampur aroma khas daging terbakar menguar dari perkampungan yang dibumihanguskan.

Dua mata saling berpandangan

"Bajingan, apa yang kamu inginkan dengan semua ini..", seorang gadis menatap dengan marah. Mata yang sama juga menggulirkan air mata, sebuah ekspresi kesedihan dan kemarahan yang tak terkatakan.

"Tidakkah jelas, aku ingin kamu pulang sayang..", kata-kata dingin dari mulut sang pemuda meluncur penuh ironi. Sepasang mata lain menyaksikan mereka dengan tatapan kosong. Di antara kedua mata itu, lubang hitam bekas tembakan peluru.

"Setan! Bangsat! Apa yang...telah...kamu lakukan..", gadis itu menjawab dengan suara bergetar. Kedua tangannya semakin kuat mencengkram sebilah bambu runcing. Tubuhnya bergetar, seakan tidak bisa menahan kemarahan yang meluap-luap.

"Aku hanya datang untuk mendisiplinkan gadisku, isteriku yang menolak tinggal dengan suaminya ini..", pemuda itu menjawab sambil mengelus senapannya. Sebuah pemandangan yang memuakkan.

"Aku bukan isterimu, aku bukan lagi milikmu...", balas gadis itu. Bambu runcingnya sudah dalam posisi siap mengujam setan pembantai dihadapannya. Pemuda itu hanya tersenyum kecil dengan tatapan licik sambil berkata,

"Benarkah begitu... Indië..."

"ANJIIING, MATI KAU!"

Gadis itu berlari, mengarahkan bambu runcingnya ke arah si pemuda dengan nafsu membunuh. Diluar dugaan, pemuda itu juga berlari menerjang kedepan, bersiap menerima serangan bambu runcing. Ia tidak cukup cepat menghindar ke kiri, seragamnya militernya terkoyak, sisi kanan perutnya tergores tajamnya bambu. Menghiraukan rasa perih terkoyak, ia menangkap bambu runcing dengan tangan kanannya dan mencengkeram kerah seragam gadis di depannya dengan tangan kiri.

Terkejut dengan cepatnya keadaan berubah, cengkeraman si gadis terhadap senjatanya mengendor. Musuhnya menggunakan kesempatan itu untuk merenggut paksa bambu runcingnya, lalu melempar senjatanya itu. Sekarang ia terpojok, tanpa senjata, dan lengan kuat musuh melingkari lehernya.

Ia masih berusaha melawan, kakinya menendang-nendang liar tetapi perlawanannya tidak berarti bagi musuhnya.

"Sudahlah Indië, berhentilah melawan dan jadilah isteri yang baik..", pemuda itu berkata sambil mencium pipinya. Dengan jijik ia bisa merasakan hembusan nafas musuhnya, menyentuh kulit.

Kakinya masih menendang liar, tapi secara tiba-tiba kaki pemuda itu menyapu tungkai si gadis. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang diatas tanah berdebu. Si pemuda dengan sigap menindihnya, mengunci tubuhnya. Lehernya kembali tercengkeram dengan kuat.

Si gadis masih berontak, tangannya mencakar-cakar punggung pemuda dihadapannya. Matanya menatap tajam, seakan tatapan matanya bisa membunuh. Si pemuda hanya tersenyum senang.

"Padahal ini akan lebih mudah jika kau tidak melawan, Indië..", ia berbisik dengan nada dingin di hadapan si gadis. Begitu dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Mata mereka saling bertatapan, sementara tangan kanan si pemuda sibuk berkutat dengan gespernya.

"..karena kelihatannya kau bersemangat sekali..", bisik pemuda itu sambil menciumi rambut hitam si gadis.

"..bagaimana kalau kita melakukannya..", ia mendekatkan bibirnya ke telinga si gadis.

.

.

"..sekarang.."

.

Pemuda itu menarik lepas sabuknya. Di mata si gadis terpancar sinar ketakutan.

.

"TIDAAAAAK-!"

.

.

=BRAAAAK=

Pangeran Bernhard menghentikan monolognya. Ia memandang Ned. Pemuda itu terengah-engah, kepalanya tertunduk, satu tangan memegangi pelipis, satu tangan mengepal dan baru saja menghantam meja kayu disamping. Tubuhnya kelihatan bergetar, keringat dingin menetes jatuh.

"Cukup...", Ned menjawab dengan lirih. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sebuah kursi berlengan.

"Cukup, aku mengerti.."

Keduanya terdiam. Suara hujan menerobos masuk dari jendela besar dibelakang meja kayu. Bernhard tampak bersimpati dengan keadaan Ned, ia bisa mengerti, ia sudah pernah melihat ini sebelumnya.

Bernhard berjalan ke salah satu kabinet kayu. Meninggalkan Ned sendirian di atas kursinya. Tak lama kemudian, ia kembali dengan gelas kristal pendek berisi cairan berwarna coklat-oranye.

"Ned, brandewijn?", Bernhard mengulurkan gelas itu kepada Ned. Ia membalasnya dengan menggumam "dank u", lalu langsung menenggak habis brandynya.

"Is het goed? Butuh sesuatu yang lebih keras?", Bernhard sudah bersiap bangkit dari kursinya.

Ned memandang jendela sambil memain-mainkan gelas kosongnya. Ia lalu menaruhnya di atas meja kayu dan bergumam, "tidak perlu.."

Keduanya ,saling duduk berseberangan, kembali terdiam. Hujan masih mengguyur di luar istana. Wajah Ned sudah kembali ke ekspresi default-nya, meskipun Bernhard tahu dibalik wajah tenang itu berbagai hal masih berkecamuk.

"Ned, kamu keberatan kalau aku melanjutkan?", kata Bernhard dengan nada hati-hati. Pemuda di hadapannya kembali memandangi jendela, sambil bertopang dagu, tapi ia tidak menyuarakan keberatannya. Bernhard menganggap ini sebagai sinyal positif.

"Maaf Ned kalau harus mengingatkanmu..", Bernhard memulai kembali pembicaraannya.

"Tapi, yang harus menanggung beban ini tidak hanya kamu. Kami, para veteran perang juga..."

Bernhard mengambil jeda sejenak. Ned mengalihkan sedikit perhatiannya kepada pria tua yang duduk di hadapannya.

"Ironis, hmm? Kami berangkat untuk membelamu, mengamankan hartamu yang paling berharga, menumpas pemberontak sisa-sisa kekuasaan fasis Jepang, mengembalikan perdamaian...", Bernhard berhenti sejenak, memandang jendela. Ia melanjutkan, "..aku masih ingat para relawan yang mendaftar, mereka semua masih muda, dengan semangat membela negara dan menjaga perdamaian..", ia berhenti lagi, menghela nafas , "..sayang sekali banyak hal berakhir luar biasa salah.."

Ned mengalihkan posisi duduknya, ia sekarang memberi perhatian sepenuhnya kepada Bernhard.

"..saat rencana kunjungan Beatrix tersebar, banyak rekan-rekan veteran merasa diingatkan lagi akan kenangan buruk mereka, kesalahan buruk mereka... Banyak yang mendatangiku Ned, mereka bercerita tentang mimpi buruk yang mulai datang lagi, kesalahan masa muda yang datang meneror hari-hari tua mereka, memori kelam yang terlalu berat untuk dipikul saat ini... Karena itu aku ,mewakili para veteran ,berbicara di depan parlemen, mendesak mereka memprotes rencana putriku.. Maaf Ned bukan berarti aku tidak memikirkan hubunganmu dengan Nesia, tapi..."

Pangeran Bernhard menghela nafas, mencopot kacamatanya dan memijit keningnya dengan dua jari. Ia lalu melanjutkan

"...aku tahu, kami tahu, bahwa apa yang terjadi selama Politionel Actie adalah sebuah kesalahan. Dan kesalahan itu sudah terlalu lama mengendap, terlalu menyakitkan untuk diungkit sekarang.. Apalagi kalau ditambah dengan pengakuan kedaulatan, semuanya akan terlalu berat untuk ditanggung.." , Bernhard menundukkan kepalanya, dua jarinya masih memijit-mijit kening.

"..Ned, kami, rekan-rekan seperjuanganmu di masa perang dulu, sekarang sudah beranjak tua.. Akan lebih tidak menyakitkan bagi kami untuk terus membohongi diri, daripada menerima kenyataan yang terlalu pahit. Akan lebih mudah menganggap bahwa dulu kami berjuang menegakkan keamanan dan ketertiban dalam negeri, dan bukan berperang melawan sebuah negara yang baru saja merdeka.. Kelak, kamu masih ada waktu untuk meluruskan sejarah kita Ned, sementara kami... "

.

.

Bernhard tidak melanjutkan. Ned memandang pria didepannya. Sebelum ini, ia tidak pernah memperhatikan betapa tua rekan tentaranya itu. Dulu saat mereka bersama-sama mengusir Jerman, ia kelihatan jauh lebih gagah.

.

.

Sunyi, hanya terdengar suara desis hujan yang semakin melemah.

Lalu, sebuah tepukan ringan mendarat di pundak Bernhard.

"Tidak apa-apa broer, aku mengerti..."

Pria tua yang ditepuknya itu berdiri, mengenakan kacamatanya dan tersenyum kecil..

"Hahahaha, broer, sudah lama sekali.. kapan terakhir kamu memanggilku broer, Ned?"

"Ah tidak ada bedanya, kita teman seperjuangan, kamu akan selalu jadi broerku..", Ned membalas juga dengan senyum kecil. Mereka berdua berjalan berdampingan, kembali ke ruangan tempat Beatrix dan Juliana menunggu.

Saat mereka berdua kembali memasuki ruangan, Beatrix dengan takut-takut segera menoleh, memperhatikan ayahnya dan Ned mendekat. Juliana masih sibuk menyesap tehnya sambil memandangi hujan yang mulai reda di balik jendela.

"Tenang saja Beatrix, aku sudah berbicara dengan anak ini..", Bernhard berkata sambil mengacak-acak rambut tulip Ned , "..dia mengerti.."

"Ned?", tanya Beatrix dengan nada memastikan

Ned hanya membalas dengan mengangkat bahu dan bergumam, "mau bagaimana lagi?"

Beatrix tersenyum. Jawaban seperti itu sudah sangat luar biasa jika keluar dari mulut Ned.

"Tenang saja Ned, kita masih akan berangkat kok malam ini..", kata Beatrix dengan nada keibuan. Si pemuda berambut tulip yang baru saja duduk bergabung dengan rombongan minum teh itu mengangkat alisnya, tanda bertanya.

"Mmm, karena segala hal sudah terlanjur disiapkan, termasuk carter pesawatnya, jadi kita tetap berangkat malam ini..", terang Beatrix, "..kita akan berhenti di Singapura selama beberapa hari, lalu tiba di Indonesia pada tanggal 21.. Kelihatannya tanggal itu sudah cukup,eh, jauh dari ulang tahunnya.."

Ned hanya menghela nafas, lalu mengangguk kecil

.

xxx

.

Luchthaven Schiphol, 8:33 PM

Sebuah jumbo jet berwarna biru berderum sambil perlahan-lahan bergerak menuju landasan pacu, menunggu gilirannya terbang meninggalkan Eropa. Di ekornya yang putih, sebuah logo berbentuk mahkota dan tulisan "KLM" berwarna biru tercetak jelas. Dari salah satu jendela upper deck pesawat, Ned melirik terminal bandara yang makin menjauh. Ia mengalihkan pandangannya ke bagian dalam kabin.

Seluruh dek atas pesawat sudah disewa untuk rombongan kerajaan. Didalamnya terisi keluarga kerajaan, para menteri, rombongan wartawan, juga beberapa orang lain, termasuk dia, sosok misterius di pojok kabin yang duduk di samping jendela sambil memeluk kotak berisi tulip. Ned menyandarkan kepala ke kursi empuk berwarna biru-putih yang didudukinya. Sesosok pemuda bertampang cerah berambut pirang-coklat datang menghampiri Ned.

"Yo Broer, Heineken?", sapanya sambil mengacungkan botol berwarna hijau

"Nanti saja Will, kita hampir take-off..", gumam Ned

Will, Pangeran Willem-Alexander, menaruh botol bir itu di samping kursinya. Lalu ia menatap Ned sambil melipat kedua tangannya. "Hmm, broer tidak terlihat baik-baik saja sepertinya.."

Ned hanya mengangkat alisnya sebagai balasan.

"Aku tidak begitu mengerti, aku pikir ide ibu untuk memperbaiki hubungan broer dan..", Willem nyengir..,"..gadis melayu pujaan hati broer itu ide bagus.."

Ned cemberut, tapi pipinya sedikit memerah. Ia buru-buru memalingkan muka ke arah jendela. Willem masih nyengir menggodanya.

"..maksudku, kalau aku bertengkar dengan pacarku, aku pasti langsung datang kepadanya minta maaf, mungkin membawakan bunga atau mengajaknya ke tempat romantis...", Willem berhenti, melihat orang yang ia anggap kakaknya itu tidak memberi respon.

"..eeh, broer, tapi kelihatannya hubungan antar negara lebih rumit dari hubungan biasa, ya?", tambahnya dengan sedikit merasa bersalah. Ned mengangguk kecil dan kembali menatap jendela.

"..maaf broer, aku hanya mencoba menghibur..", Willem bergumam. Ned tidak menanggapi.

Pesawat berputar pelan, bersiap memasuki landasan pacu. Matahari masih menggantung rendah di horizon. Sinar mentari musim panas menyelusup lewat jendela. Sebuah pengumuman dalam bahasa Belanda disiarkan di dalam kabin. Mendengar itu, Ned dan Willem segera mengenakan sabuk pengaman. Ned sendiri menolak ketika salah seorang pramugari memintanya menaruh kotak tulipnya di bagasi kabin.

Pesawat mulai memacu kecepatan. Ned masih memandang keluar jendela, sambil menghisap permen lemon yang tadi dibagikan, serta memeluk kotak tulip berharganya. Lalu dengan suara deru mesin yang teredam, ia merasa didorong dengan lembut kebelakang, ke arah kursinya. Pesawat itu meninggalkan tanah Belanda. Dari jendela, Ned bisa melihat kota Amsterdam berwarna oranye diterpa sinar matahari.

Ned mengalihkan pandangannya dari jendela lalu menutup mata. Ia sekarang terbang, untuk menemui Nesia. Ia seharusnya merasa bersemangat, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya khawatir.

.

.

"Hey, Bro-Will..."

"Eh, ya broer?"

.

.

"dank u, sudah mengajakku bicara.."

~To Be Continued~


Catatan Penulis yang ga penting-penting amat dan boleh di-skip:

Ooh akhirnya chapter ini selesai juga. Setelah sempat ga lanjut selama 3 hari akhirnya langsung dikebut dalam sehari, atas dorongan motivasi karena dapet review. Hehehe..

Aku akan nulis sedikit background sejarah tentang chapter ini,

So far, aku mengangkat cerita ini dari kunjungan Ratu Beatrix ke Indonesia pada tahun 1995. Waktu itu Ratu Beatrix niatnya sih pingin dateng tepat pas peringatan ulang tahun ke-50 Indonesia, kan cantik tuh momennya buat pengakuan kemerdekaan. Sayangnya, kelompok veteran Politionel Acties aka Agresi Militer menolak kunjungan ini, pokoknya sampe heboh banget lah di Belanda waktu itu.

Pangeran Bernhard sebagai dedengkotnya veteran turun tangan dan berbicara di depan parlemen Belanda untuk menyuarakan protes kaum veteran ("Parlemen, tolong, biarkanlah kami menikmati hari tua dengan tenang").

Parlemen akhirnya mendesak Ratu Beatrix membatalkan rencananya ("Beat, Beat, itu kamu mbok jangan mampir pas tanggal 17nya Beat..")

Akhirnya di detik-detik terakhir, diputuskan Ratu Beatrix akan mampir dulu di Singapura dan baru dateng pas tanggal 21 Agustus 1995. Chapter berikutnya akan mengcover bagian empat hari di Singapura..

Soal flashbacknya Nethere:

Huahahahahaha, entah apa yang merasukiku sampe bulan puasa nulis begonoan. Buat yang masih bertanya-tanya, flashbacknya itu menggambarkan Agresi Militer pertama. In which abang Nethere menginvasi vital regionnya Nesia. (Hey,hey, i'm not kidding! It's all there in history book :P )

Yang menarik, penyebab Agresi Militer I adalah ,lebih kurang, beda tafsir perjanjian Linggarjati, in which i prefer to call it surat nikah Linggarjati. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa Belanda dan Indonesia akan membentuk sebuah rumah tangga sejahtera nan bahagia bernama Uni Indonesia-Belanda, bersama anak-anak mereka ,Suriname, Curacao, dan jajahan Nethere yang kecil kecil lainnya.

Pasca perjanjian, Nethere menganggap mereka sudah dalam Uni, alias sudah sah berumah tangga. Sementara Nesia menganggap mereka berdua baru akan membentuk Uni. Yah jadi Nethere menganggap Nesia udah jadi isterinya, sementara Nesia menganggap ia masih lajang dan baru akan berencana menikah dengan Nethere. Selanjutnya, seperti di sinetron-sinetron, sang suami marah dan melakukan tindak kekerasan terhadap istrinya, and invading her vital regions...with force, huahahahahaha... (malah seneng?)

.

Oh iya, OC baru di chapter ini adalah Pangeran Willem-Alexander, anaknya Ratu Beatrix sekaligus calon bosnya Nethere kelak. Aku masukin dia biar si Ned ada temen ngobrol yang seumuran. Pas tahun '95 Pangeran Will masih 28-tahunan. Masih lumayan muda lah..

Omong-omong soal OC, Putri Juliana nyampah banget ya cuma numpang nongol sambil minum teh. Dia ga begitu penting buat perkembangan plot sih jadi cuma kukasih non-speaking cameo.

.

Last, tambahan baru yaitu sesi "Menjawab Review"

Thanks untuk semua yang udah baca, yang udah review ada Azalea, Gilbird, Nerazzuri, Auriel. Bonus mention untuk Nerazzuri yang udah fave cerita ini. Thanks untuk support kalian, kedepan rencananya masih ada 3 chapter lagi sebelum cerita ini tamat, dan ada juga satu one-shot sequel, yaaaaay..

I hope you enjoy this fic, and my overly-long Author Notes..

review s'il vous plait?