Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekazu
Warning: sedikit OOC, OC, fem! Indonesia, loosely based on real historical event, cracked di tengah-tengah chapter. This chapter is not really important to the whole story, by the way..
Ned terbangun dari tidurnya, ia merasa pusing. Belum lagi lehernya terasa sakit. Dengan bingung, ia mencoba mengingat-ingat. Ah, sepertinya minum bir habis-habisan dan tertidur di pesawat bukan ide yang begitu bagus. Ia mencoba meregangkan otot-ototnya, tapi mendadak menyadari ada sesuatu yang menahan pinggangnya. Entah siapa yang memasangkan sabuk pengaman ini.
Seperti orang bingung, Ned memandang berkeliling untuk melihat keadaan. Di kirinya, Willem masih tertidur dengan mulut terbuka, kepalanya condong ke samping tetapi badannya tertahan sabuk pengaman. Botol-botol Heineken sudah tidak lagi berserakan, mungkin sudah dibereskan pramugari. Dan di kursi di hadapannya, duduk manis kotak tulip milik Ned. Sabuk pengaman melilit kotak itu.
Ned menyisir rambutnya dengan jari secara refleks, sementara ia berusaha memfokuskan pandangan. Kepalanya masih berdenyut-denyut kecil. Ia melirik jendela, terlihat beberapa pesawat sedang terparkir rapi di depan sebuah gedung memanjang, juga langit biru yang cerah.
"Maaf, meneer", terdengar suara wanita memanggil. Ned menoleh, dilihatnya seorang wanita berseragam biru membawa nampan berisi dua buah handuk putih.
"Selamat datang di Singapura, saya mewakili staff KLM merasa terhormat bisa melayani anda..", katanya sambil menyerahkan salah satu handuk putih itu. Ned tidak begitu memikirkan basa-basi si pramugari, ia langsung menyeka wajah dengan handuk hangat yang didapatnya.
"Saat ini kita sedang menunggu penumpang di kabin bawah turun. Selain itu kami informasikan juga bahwa mobil dari kedutaan sudah menunggu di bawah..", lanjutnya sambil tersenyum. Ned hanya mengangguk sebagai balasan.
Pramugari itu sekarang beralih ke Willem, "Yang Mulia, maaf, Yang Mulia?" , ia memanggil dengan suara pelan. Sepertinya merasa tidak enak harus membangunkan tidur seorang putra mahkota kerajaan Belanda.
"Ah sini biar aku saja..", gumam Ned. Tanpa basa- basi ia menjejalkan handuknya ke mulut Willem yang setengah terbuka.
"Hoy, bangun tukang mabuk!"
Willem bangun dengan terkejut, sementara itu si pramugari menatap mereka dengan ekspresi yang...priceless.
Tidak setiap orang bisa melihat putra mahkota yang mulutnya disumpal handuk.
.
xxx
.
Sebuah limousine meluncur di jalan bebas hambatan, meninggalkan kompleks airport. Didalamnya terdapat anggota inti rombongan kerajaan; Ratu Beatrix beserta suami dan anaknya, Pangeran Claus dan Pangeran Willem-Alexander. Ditambah sosok misterius berambut jabrik yang sedari tadi memeluk kotak plastik berisi buket bunga tulip.
Ned duduk disamping Willem, berseberangan dengan Beatrix dan suaminya. Ia sedang menyetel ulang jam tangannya, memutar-mutar tonjolan kecil untuk menaruh jarum jamnya di angka 4 dan 8. Sekarang tanggal 16 Agustus, sore hari. Kurang dari 12 jam lagi menuju ulang tahun Nesia.
Ned menghela nafas. Dari balik kaca yang digelapkan, ia bisa melihat pencakar langit Singapura menjulang di kejauhan. Kalau saja saat ini mobil mereka sedang terjebak diantara angkot dan bajaj, mungkin ia tidak akan merasa sehampa ini. Ah, tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Ned?", Beatrix bertanya dengan nada khawatir. Ned membalasnya dengan tatapan setengah hati. Beatrix kelihatan ragu melanjutkan. Keempatnya terdiam, hanya terdengar suara halus mobil yang meluncur di atas jalan tol.
Ned tahu sebenarnya tidak adil memperlakukan Beatrix seperti itu. Mereka berdua toh sama-sama korban dalam drama besar ini. Tapi bagaimanapun, ia tidak bisa menahan diri menumpahkan kekesalannya kepada seseorang, dan sayangnya Beatrix adalah kandidat paling memungkinkan. Claus tidak relevan untuk dicuekin, sementara Willem... Ah, Willem tidak akan sadar dia sedang dicuekin.
Mobil mereka berkelok di sebuah jalan layang, lalu turun dan memasuki jalan raya lebar. Ned memandangi para pejalan kaki dengan malas. Orang-orang berpotongan turis, menjinjing tas-tas belanja besar, beberapa memakai kacamata hitam. Ia mendengus. Pemandangan itu hanya semakin mengingatkannya bahwa ia saat ini tidak di Indonesia. Ned memalingkan muka dari jendela dengan kesal.
Limousine hitam mereka berhenti di persimpangan jalan, menanti gilirannya untuk melanjutkan perjalanan. Ned yang berusaha menghalau pikiran-pikiran tentang Nesia memutuskan membuka percakapan.
"Jadi... Apa yang akan kita lakukan selama di sini?", gumam Ned. Pandangannya masih menerawang ke luar. Beatrix menjawabnya dengan ragu-ragu.
"Aah kau tahu Ned, kunjungan kita ini agak sedikit mendadak. Terlalu sempit waktu untuk menyiapkan hal-hal yang biasa, selain itu pemerintah Singapura..."
"Ehm...", Ned berdeham kecil, memotong uraian Beatrix. Sang ratu,tahu apa maksud Ned, segera menambahkan dengan pelan.
"..baik Ned, sejujurnya tidak ada rencana yang berarti. Kelihatannya Singapore saat ini sudah ada bersama Nesia. Si kecil itu adiknya kan? Aku sendiri akan menemui beberapa pejabat Singapura dan satu-dua kunjungan lain, sementara kamu mungkin bisa, eeh, belanja? Atau jalan-jalan? "
"Hmph, ya ya, bisa dimengerti..", balas Ned. Dengan malas, ia kembali memalingkan pandangan ke jendela.
.
xxx
.
Malam itu Ned tidak bisa tidur, terima kasih kepada fenomena bernama jetlag. Setelah sempat berguling-guling di kasur tanpa hasil, ia akhirnya berhenti mencoba tidur dan memilih menghabiskan malam bersama pipanya. Balkon kamar Ned sepertinya tempat yang sempurna untuk menenangkan pikiran.
Digesernya pintu kaca menuju balkon. Semilir angin sejuk langsung menyambut. Ned menghirup nafas dalam-dalam, ia selalu menyukai udara malam di negeri tropis. Dalam diam ia membuka kotak tembakau dan memasukkan isinya kedalam pipa.
Tak lama kemudian Ned sudah menghirup pipanya. Ia bersandar santai pada teralis beranda, sambil memandangi cahaya lampu yang berkilau di hadapannya. Sayup-sayup terdengar keramaian lalu lintas. Di bawah sana jalanan masih benderang, dipenuhi banyak orang berlalu lalang. Memandang lebih jauh lagi, kelip-kelip lampu kapal berseliweran keluar masuk pelabuhan, berlatarkan hitamnya laut. Jauh di cakrawala, terlihat beberapa titik cahaya berpendar lemah.
Ned menghembuskan nafas. Ia memandangi titik titik cahaya di cakrawala, mendengus kecil atas ironi yang muncul. Ia begitu dekat dengan Nesia sekarang, sangat dekat, tapi ia hanya berdiri diam tidak melakukan apa-apa.
Pemuda itu kembali menghirup pipa. Berdiam sejenak menikmati sensasi hangat yang memenuhi rongga dadanya, lalu menghembuskan asap lewat celah mulutnya. Ah, andai situasinya tidak serumit ini. Seandainya ia hanyalah manusia biasa, ia akan segera berlari ke pelabuhan, mencari kapal untuk menyeberang ke Indonesia. Masih ada cukup waktu untuk menghadiri ulang tahun Nesia.
Ned menghirup lagi pipanya, lalu mengeluarkan asapnya dalam dengusan pelan.
Pintu kamar Ned terbuka, pemuda itu menoleh kebelakang. Di ambang pintu berdiri seseorang, tersenyum sambil memamerkan sebuah kartu kecil di tangannya.
"Hoi broer...", orang itu melangkah masuk dengan santai.
"Ngh, darimana kamu dapat kunci cadangan itu, Will?", balas Ned.
"Rahasia..", jawab Willem , "Omong-omong aku mau pergi keluar jalan-jalan, ikut?"
Ned menatap calon bosnya itu. Ia menghirup kembali pipanya.
"Tidak...", jawabnya sambil menghembuskan asap.
"Hey, hey, broer.. Ayolah, malam ini aku traktir semua minumannya..", bujuk Willem.
Ned mengangkat sebelah alisnya. Dengan malas ia berbalik, kembali memandangi lampu-lampu jalanan.
"Aku sedang tidak ada niat untuk..", Ned mendengus, "..bersenang-senang.."
"Aww...", keluh Willem. "Kadang-kadang kamu terlihat seperti orang tua, broer.."
Terdengar suara dengusan lagi, kali ini bernada geli. Ned mengibaskan tangannya.
"Pergilah, bersenang-senanglah.."
"Ja, ja.. Tapi jangan protes ya, aku udah mengajakmu lho, broer..", jawab Willem. Ia lalu melangkah santai ke pintu kamar dan menutupnya perlahan.
"Hmph, anak muda...", gumam Ned saat ia mendengar suara pintu ditutup. Pemuda itu kembali menghirup pipanya.
Kadang-kadang Ned merasa iri dengan anak muda, manusia normal. Tidak seperti dia yang berpenampilan muda tetapi berumur ratusan tahun. Dalam sebuah hubungan, semakin lama kau hidup semakin banyak faktor yang mempengaruhi. Luka-luka lama, kenangan bersama. Diperparah dengan fakta bahwa personifikasi negara, walaupun banyak, yang ada hanya itu-itu saja. Cepat atau lambat kamu akan berteman dengan bekas musuhmu atau bermusuhan dengan bekas temanmu.
Ned melirik pergelangannya. Sebuah jam tangan melingkar disitu, menunjukkan jarum pendek yang hampir menyentuh angka satu. Pemuda itu menghembuskan asap.
"Heh, Nesia... Tahun ini pun, aku tidak bisa menemani di hari ulang tahunmu.."
.
xxx
.
Saat Ned akhirnya tertidur, ia mendapat mimpi yang sangat aneh. Bermula dengan suara gedoran keras di pintu.
"Hey kepala tulip, ayo cepat bayar pajakmu.."
Ned membuka pintu, mendapati Spain berdiri di depannya sambil memegang kertas tagihan super panjang. Di belakangnya, Romano mengunyah tomat dengan tampang menyebalkan.
"Spaaaaaiiin! Aku butuh tomat lagi, belikaaan!", teriak Romano keras. Belum sempat Ned memprotes, saat itu juga België muncul membawa sepiring wafel coklat. Ia berjalan dengan lincah dan menyodorkan sesuap wafel ke mulut Spain.
"Boss, ayo buka mulutmu, aa..."
Ned tidak menghiraukan adiknya yang sedang bermanja-manja itu, ia melihat Nesia kecil berlari menyusuri pematang sawah. Ned segera mengejarnya.
"Indië, tunggu..."
Nesia terus berlari, berlari, berlari, sampai akhirnya ia masuk pelukan seorang lelaki pendek berambut hitam lurus. Nihon menggendong Nesia sambil berkata,
"Nesia-chan, ayo kita sama-sama lihat Doraemon di rumahku.."
"Asiik, asiiik, Doraemooon..."
Ned berusaha mengejar Nihon, tapi terlambat. Nihon mengeluarkan baling-baling bambu dan segera terbang membawa Nesia kecilnya. Ned berteriak marah, tapi yang didengarnya adalah suara adiknya memanggil dari belakang punggung..
"frère pays-bas", panggilnya.
Ned berbalik, ia menatap dengan horror adik kesayangannya sedang tersenyum di pelukan France.
"Lihat, lihat, aku belajar bahasa Perancis, terdengar lebih seksi deh..", ujar België sambil mengeluarkan senyum kucingnya. "Oh omong-omong, belakangan ini kamu nyebelin.. Je te deteste, je veux ma liberté..."
"BELGIIIIËËË!", Ned menerjang marah, berusaha menonjok France yang membuat adiknya sekarang berbicara dalam dua bahasa. France menghilang. Ned memandang murka, berusaha menemukan France. Tapi kemudian ia mendengar deru mesin pesawat. Ned mendongak.
Puluhan pesawat hitam terbang diatasnya. Samar-samar terlihat logo Nazi di badan pesawat. Ned berusaha lari, tetapi terlambat. Ratusan bom menghujani bumi dengan kejam. Kilatan-kilatan cahaya menyelubungi Ned. Pemuda itu jatuh tersungkur.
Saat ia bangun, Ned mendadak merasa sangat lapar. Lapar. Lapar yang tidak terbayangkan rasanya. Ia bangkit dan mendapati dirinya berdiri di tengah hamparan salju. Dengan susah payah ia berjalan terseok-seok, melewati mayat-mayat membeku yang tergeletak di tepi jalan. Lalu sekali lagi, suara deru baling-baling pesawat terdengar. Ned mendongak.
Turun dari langit dengan anggun, seorang pemuda berkacamata memakai gaun putih. Rambut pirangnya berkibar. Sayapnya membentang, bulu-bulu putih berjatuhan laksana salju. Tangan kanannya membawa roti, tangan kirinya membawa tongkat kecil dengan ujung berbentuk daun mapel.
"Netherland... Aku, Canadia Angel akan menyelamatkanmu!"
Canada mengibaskan tongkat mapelnya. Cahaya benderang memancar. Ned menutup matanya, tidak kuasa melihat sinar putih yang dipancarkan Canada.
Ketika ia membuka matanya, Ned sudah berada di ruang sidang. Ia duduk di tengah ruangan, tangannya terborgol, hey apa-apaan ini.
=TOK= =TOK=
Pemuda di hadapannya mengetuk palu. America duduk di kursi hakim, baru saja mengetuk palu dan berdeham. Di pojok ruangan, England berdiri. Mata Ned terbelalak melihat England, pria itu mengenakan jubah hitam panjang dan wig putih kriwil.
"Sidang gugatan cerai antara tuan Netherland dan nona Indonesia..", England membaca kertas di depannya dengan nada formal. "Agenda final, tuduhan pemerkosaan oleh tuan Netherland terhadap nona Indonesia dengan saksi utama tetangga dari nona Indonesia.. Tuan Australia, anda dipersilahkan berbicara.."
Sesosok pemuda dengan baju safari maju ke depan sambil menggendong seekor koala. Ia berdiri menghadap para hadirin, sementara koalanya memandang Ned dengan sinis.
"Yah, waktu itu aku lagi memasukkan kangguru-kangguruku ke kandang, tiba-tiba terdengar keributan dari rumah Nesia..", Australia memulai kesaksiannya. "Aku pikir salah satu buayaku lepas dan nyelonong ke rumah Nesia, baru aja aku mau ambil senapan, tiba-tiba terdengar Nesia menjerit.."
Para hadirin serempak menahan nafas.
"Eeh, saat aku cek ternyata buaya bejat itu..", Australia menodongkan jarinya dengan gaya kurang ajar ke arah Ned , ".. sedang menginvasi vital region Indonesia! Pakai kekerasan lagi.."
Para hadirin serempak ber-"Ooooh" ria. Beberapa mulai mencemooh Ned. America dengan gusar mengetok palunya.
=TOK= =TOK= =TOK=
"Kalian diem dooong, kalau pada ribut aku jwadwi lwapwar nwiih..", America berkata sambil mulai mengunyah hamburger. "Owkwe, jadwi adwakwah =SRUUUT= pembwelaan dwari pengwacwara twuwan Netwerlwand?"
Ned mendengar suara tangisan di sampingnya. Ia menoleh, dilihatnya België mengubur wajahnya dengan sepucuk sapu tangan hijau berenda-renda yang sewarna dengan bandonya. Gadis itu menggeleng pelan sambil terus terisak.
America menaruh botol milkshakenya, lalu dengan mulut bernoda coklat ia berteriak,
"Oke, sebagai HERO aku memutuskan Netherland bersalah dan harus segera hengkang dari Indonesia! HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA~!"
"TIDAAAAAK, DIA ISTERIKUU!"
.
"Mimpi aja terus...", terdengar suara dingin setengah mengejek. Ned menoleh, dilihatnya Nesia menatapnya tajam sambil cemberut. Ia memegang sebuah bantal besar.
"Kamu kapan mau dateng ke acara ulang tahunku, Ned?", tanya Nesia sambil melempar bantal tepat ke muka Ned. Ned berontak, bantal itu menutupi hidungnya, ia tidak bisa bernafas...
.
.
Ned terbangun. Ia buru-buru mengenyahkan bantal yang entah bagaimana menutupi sebagian mukanya.
"Ah, mimpi...", gumamnya. Pemuda itu melirik jendela kamar, diluar langit berwarna oranye senja. Lampu-lampu pencakar langit sudah dinyalakan. Sepertinya dia tertidur lama sekali.
.
xxx
.
Jumat pagi, tanggal 18 Agustus, pola tidur Ned sudah kembali normal. Ia sedang duduk menonton TV dengan malas. Stasiun TV Singapura kebetulan sedang menyiarkan liputan tentang ulang tahun emas negara tetangga mereka. Mendadak telepon berbunyi, Ned mengalihkan pandangannya dari TV lalu mengangkat telepon kamarnya.
"Hallo, met Lars...", jawab Ned.
"Netherland?", balas si penelepon.
"...ja, siapa ini?"
"Ini Singapore, aku datang mengunjungimu..", jawab si penelepon.
"...baik, naiklah.."
Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu kamar Ned. Ia membuka pintu, sesosok pemuda kecil tersenyum kepadanya.
"Masuklah..", kata Ned sambil kembali berjalan masuk kamarnya. Pemuda itu mengikuti. "Maaf aku tidak berpenampilan layak..", Ned menunjuk kaos oranyenya sebelum menghempaskan diri ke sofa. "..aku tidak sempat mempersiapkan diri.."
Singapore membenarkan letak kacamatanya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, maaf juga aku tidak segera mengunjungi, aku pergi ke tempat kakak..."
"Ngh, itu salahku.. berkunjung di waktu yang aneh..", gumam Ned. "Jadi.. bagaimana kemarin, di tempat Nesia?"
"Ah, maksudmu ulang tahun kakak?"
"Ngh, apalah..", gumam Ned. Singapore memutar matanya. Drama ulang tahun antara Ned dan Nesia sudah menjadi rahasia umum di antara para negara. Ia pernah mendengar France mengomentari ini sebagai "konflik romantis sisa-sisa pertikaian rumah tangga", serta menawarkan Ned tutorial khusus menghadapi mantan kekasih. Seingat Singapore, Ned langsung mencekik France dengan syalnya.
Singapore membenarkan lagi posisi kacamatanya sebelum menjawab.
"Ah kemarin menyenangkan, ada pesta besar dan banyak sekali yang datang berkunjung..", jawab Singapore. "..dan kembang apinya luar biasa sekali.."
"Oh, begitu..", Ned menjawab dengan gumaman.
Ada keheningan yang tidak menyenangkan di antara mereka berdua. Ned tidak melanjutkan percakapan, sementara Singapore ragu untuk melakukannya. Akhirnya ia memberanikan diri.
"Sayang sekali...", lanjut pemuda itu pelan. "Banyak yang mengira kamu akan datang.."
Ned melirik Singapore, membuat pemuda itu merasa tidak enak.
"Kenapa?", tanya Ned
"Ya..karena ini ulang tahun kakak yang ke-50, sepertinya akan pas, hahaha..", jawab Singapore sambil berusaha mencairkan suasana. Andai Ned dan kakaknya tahu, Monaco menjadikan momen ini sebagai ajang taruhan besar-besaran. Sepertinya setelah ini akan ada banyak yang bangkrut mendadak, terpaksa mempermalukan diri di depan umum, atau sekedar bertukar posisi sementara dengan pasangannya.
Ned tidak menanggapi. Ia hanya mendengus pelan.
"Padahal kakak juga, sepertinya berharap kamu datang lho..", lanjut Singapore. "Ia kemarin diam-diam berkomentar, menyayangkan tahun ini lagi-lagi tidak semua temannya datang.."
Ned mengalihkan pandangannya, lalu menanggapi dengan pelan.
"Ya, sangat disayangkan.."
.
xxx
.
Tidak tahan menghadapi kebosanan akut yang melanda, Ned akhirnya keluar dari kamar hotelnya pada hari Sabtu. Ia menghabiskan sepanjang hari berjalan-jalan tanpa tujuan.
Minggu pagi diisi Ned dengan membereskan kamar hotelnya. Mereka akan berangkat ke Indonesia pada Senin pagi. Ned menyalurkan antusiasme dengan merapikan barang-barang bawaannya, termasuk menyetrika dan melipat ulang seluruh baju-bajunya. Sudah hampir seminggu, ia ingin baju-bajunya tetap wangi dan licin.
Ketika ia sedang membereskan kotak tembakau serta pipanya, Ned menangkap sesuatu yang janggal. Ia mendekati kotak tulipnya. Sejak sampai di Singapura, ia tidak begitu memperhatikan buket tulipnya itu. Sekarang, setelah lewat tiga hari, Ned memperhatikan buketnya dengan seksama. Kelihatannya ada sesuatu yang berbeda.
Ned mengangkat kotak itu dan memperhatikan isinya. Apakah ini hanya perasaannya, atau tulip-tulip itu kelihatan sudah...tidak segar?
.
.
"GODVERDOOOOOMMMMEEEEE!"
.
xxx
.
Beatrix segera berlari ke kamar Ned. Beberapa saat yang lalu, anaknya menelepon lewat interkom. Dengan heboh ia melaporkan sesuatu tentang "..tulip..", "..Ned..", dan "..ngambek.."
Pintu kamar Ned terbuka, saat ia masuk wanita itu menemukan Ned sedang telungkup di atas kasur. Wajahnya tertutup bantal. Willem berdiri di samping kasur, mengguncang-guncang tubuh Ned.
"Oi.. oi, broer, ayolah...", bujuk Willem.
"Ngggh, pergi..", gumam Ned kasar sambil mengayunkan satu tangan.
"Apa yang terjadi?", bisik Beatrix dengan wajah kebingungan. Willem segera menjelaskan
"Ga tau, tadi dia marah-marah sambil mengumpat, terus tau-tau ngambek di kasur..", bisik Willem. Pria itu lalu menunjuk kotak tulip di atas meja. "Gara-gara itu kayaknya.."
Beatrix memperhatikan kotak tulip itu sejenak. Ia paham.
"Ned?", tanyanya pelan. Ned menggeram sebagai jawaban.
"Kalau mau, kita masih sempat memesan tulip lagi. Sepertinya Keukenhof masih punya.."
"Tidak..", potong Ned tegas. Pemuda itu bangkit dari kasur. Wajahnya tanpa ekspresi.
"Tidak perlu repot-repot, kamu sudah banyak membantu..", gumam Ned
Beatrix kelihatan mau memprotes, tapi Ned buru-buru mendorong dia dan Willem ke arah pintu.
"Pergi, aku tidak bisa menenangkan diri kalau kalian masih mondar-mandir disini..", kata Ned. Ia sudah hampir menutup pintu, tetapi Beatrix menahannya.
"Ned, kamu benar-benar tidak apa-apa?"
Ned diam. Ia menghela nafas sebelum menjawab.
"Ini bukan pertama kalinya Tuhan mempermainkanku, Beatrix kecil... Sekarang pergilah.."
Pintu ditutup.
.
xxx
.
Senin pagi, 21 Agustus 1995
Ned berdiri di pojok ruangan sambil menggendong buket tulipnya. Sudah hampir seminggu sejak ia menerimanya dengan bahagia di Keukenhof, saat itu ia merasa sangat beruntung bisa mendapat buket bunga yang sempurna. Buket bunganya luar biasa cantik. Saat inipun buket bunganya masih cantik, pita satinnya masih menggantung indah, 50 kuntum tulip masih merekah. Hanya saja waktu telah mulai menggerogotinya. Noda hitam samar di tulip merah, noda kuning samar di tulip putih, kerut-kerut kecil di kelopak yang mengering.
Waktu tidak cukup cepat merenggut kecantikan tulipnya, tapi noda yang ditinggalkan terlalu besar untuk diabaikan. Waktu telah menang. Buketnya tidak sempurna lagi.
Ah,dan seluruh perjalanan ini juga tidak berjalan dengan sempurna.
Pemuda itu mendengus. Dunia kadang terlalu kejam bagi seorang perfeksionis.
"Hoi, broer , pesawatnya sudah siap. Ayo pergi..", Willem memanggil dari seberang ruangan. Di belakangnya, Pangeran Claus memegangi pundak isterinya. Beatrix menatap dengan sedih.
"Baik, tunggu sebentar..", balas Ned pelan.
.
xxx
.
Sebuah jet pribadi tinggal landas meninggalkan bandara Changi, terbang ke arah timur menyongsong mentari pagi. Ned duduk dengan tenang, melirik jendela, memperhatikan garis pantai yang semakin menjauh.
Di bawah sana, di atas meja ruang tunggu VIP, sebuah buket bunga tulip tergeletak diam.
~to be continue~
.
.
Catatan Penulis:
Huaaaah, akhirnya selesai juga nulis chapter 4. Kalau di chapter 3 aku tahu mau nulis apa tapi bingung gimana nulisnya, kali ini aku sama sekali ga tahu mau nulis apa. Ratu Beatrix emang mampir di Singapura selama 4 hari, tapi aku ga bisa nemu artikel tentang kunjungannya di Singapura. Padahal udah kuobrak-abrik google segala, akhirnya di chapter ini aku nulis soal mimpi absurdnya Ned. Hahaha..
Kalau ada yang penasaran soal arti mimpi Ned, itu cuma dramatisasi beberapa kejadian dalam hidupnya. Hihihihihi, ini bagian paling menyenangkan buat ditulis di chapter ini :3
Masih ada dua chapter lagi, berjuanglah Ned! Penderitaan masih panjang..
*Author ngakak*
Oke, thanks udah baca ya. Doakan dua chapter kedepan bisa rampung sebelum 17 Agustus.
