Warning: possibly OOC, OC fem!Indonesia, human name used, loosely based on real historical event, i apologize for any inaccuracy.

Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekazu


Jakarta, 21 Agustus 1995

Iring-iringan mobil memasuki kompleks Istana Negara. Para wartawan yang telah menanti mulai beraksi, mengabadikan momen-momen yang akan terjadi. Kilatan lampu blitz menyambut datangnya sebuah mobil hitam yang dikawal serombongan mobil polisi.

Di dalam mobil, tiga orang tampak mempersiapkan diri. Mobil itu berhenti tepat di depan karpet merah yang membentang. Salah satu pengawal istana segera membukakan pintu.

"Ned, duluan ya..", bisik Beatrix sementara dia melangkah keluar mobil. Orang keempat dalam mobil itu mengangguk kecil sambil tetap menyilangkan kakinya. Dia memperhatikan Beatrix yang saat ini sudah berdiri di karpet merah, dihujani kilatan lampu blitz.

Pangeran Claus segera bergabung dengan isterinya. Lalu terakhir, Willem turun dari mobil dan melengkapi formasi keluarga kerajaan Belanda tersebut. Pintu mobil ditutup. Ned masih sempat melihat Beatrix dan keluarganya berjalan menaiki undakan istana sebelum mobil yang dinaikinya meluncur pergi. Ia menyandarkan kepala, sementara mobilnya semakin menjauhi kerumunan di depan Istana Negara.

.

xxx

.

Mobil hitam tersebut berjalan memutari kompleks istana, lalu masuk melewati portal kecil yang dijaga beberapa petugas. Ned memperhatikan taman serta gedung-gedung kantor kepresidenan yang ia lewati. Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah pintu. Pintu belakang Istana Negara.

Ned membuka pintu mobilnya dan langsung disambut sengatan mentari Jakarta. Ia sedikit melonggarkan syal, lalu berjalan menuju pintu di depannya. Dua orang pengawal menjaga pintu tersebut. Ned menunjukkan Id-cardnya. Salah seorang pengawal memeriksa, dan setelah yakin dengan identitas Ned, ia mempersilahkan pemuda itu masuk.

Hawa dingin langsung menyambut Ned. Ia berjalan pelan sambil memperhatikan koridor mewah di depannya. Tidak banyak yang berubah sejak Ned terakhir kali mendatangi tempat ini, kecuali keberadaan pendingin ruangan yang menjaga istana ini tetap nyaman di tengah terik mentari Jakarta.

"Ck ck ck..", gumam Ned. "Padahal rumah ini sudah dirancang untuk menjaga suhu di dalamnya tetap dingin. Berlebihan sekali memasang pendingin ruangan.."

Pemuda itu berjalan pelan menyusuri koridor. Tidak menghiraukan beberapa pelayan istana yang berseliweran sambil memberinya tatapan aneh. Ia memperhatikan berbagai dekorasi yang menghias istana. Sepertinya tempat ini makin lama makin mewah saja. Bendera merah putih masih menggantung di beberapa tempat. Sisa-sisa perayaan besar beberapa hari yang lalu?

"Maaf tuan..", terdengar suara tegas memanggil dari belakang. Ned berhenti.

"Tuan tidak bisa berkeliaran tanpa ijin di istana ini.", lanjut suara itu. Ned berbalik. Dilihatnya seorang pria berseragam rapi memandangnya tegas.

"Tolong sebutkan identitas tuan!", kata pria itu. Ned mendengus sambil mengeluarkan lagi id-card miliknya.

"Lars Anderson..", jawab Ned malas. "Aku bersama rombongan Yang Mulia Ratu..", lanjutnya dengan penekanan pada kata Yang Mulia. Agak risih juga harus memanggil Beatrix dengan gelar-gelarnya itu.

Pria itu segera memeriksa clipboard yang dipegangnya. Ekspresinya langsung berubah, Ned yakin di clipboard itu tertulis "Pangeran Lars Anderson dari negeri Belanda" atau yang semacamnya. Ia tidak begitu peduli samaran apa yang kali ini diberikan kepadanya.

"Ah, maafkan saya yang mulia..", pria itu langsung membungkuk. Ned memutar matanya.

"Saya kira yang mulia adalah wartawan yang mencoba menyelinap masuk..", lanjut pria itu sedikit gugup. Salah mengenali seorang bangsawan Belanda sudah cukup buruk, ditambah lagi sang 'pangeran' saat ini mengeluarkan aura-aura ketidaksenangan yang kental.

"Se..sekarang, mari saya tunjukkan kamar yang mulia..", Pria itu memberi tanda, mempersilahkan Ned mengikutinya. Ned berjalan dengan malas dibelakang si pria.

"Hmph, protokoler istana dimana-mana sama saja.."

.

xxx

.

Ned berdiri di depan cermin besar, memeriksa penampilannya. Dia sudah berkali-kali melakukan hal tersebut. Sebagian karena ia sangat perhatian dengan detil penampilannya, sebagian lagi karena sejujurnya ia cukup gugup menghadapi malam ini.

"Hey broer, santai sajalah..", gumam Willem. Ned memberinya tatapan galak sebagai balasan.

Bukan hanya Ned yang kelihatan gugup. Beatrix sedari tadi berjalan mondar-mandir, bergumam sendiri sambil membaca secarik kertas di hadapannya. Ia akan memberikan pidato resmi di acara jamuan makan malam kenegaraan. Jika itu saja tidak cukup menegangkan, fakta bahwa ia adalah ratu dari negara mantan penjajah yang sampai saat ini masih belum mengakui tanggal kemerdekaan mantan jajahannya menambah tingkat kesulitan pidato ini. Mengingat sensitifnya masalah, kesalahan berkata-kata bisa menimbulkan reaksi hebat di Belanda, atau di Indonesia, atau kalau Beatrix benar-benar sial, kedua negara akan mengkritiknya habis-habisan.

=Tok= =Tok=

Terdengar suara ketukan di pintu. Mereka menoleh, dilihatnya pintu itu terbuka dan seorang pria berseragam memberi hormat.

"Yang Mulia Ratu, kami sudah siap menerima kedatangan anda..", ujar pria tersebut.

"Ah, baik..", kata Beatrix. Ia buru-buru melipat kertas pidatonya.

Empat orang beranjak meninggalkan ruang. Di depan pintu, ada dua lagi pria berseragam yang sudah menunggu.

"Jamuan makan malam ke arah sini, Yang Mulia..", salah seorang petugas protokoler memberi arahan kepada Beatrix. Petugas yang lain memberi hormat kepada Ned.

"Yang Mulia Pangeran Lars Anderson van Oranje-Nassau van Houten...", si petugas berkata dengan agak ragu. Ned memutar matanya. Willem kelihatan sedang menahan tawa, ah sekarang ketahuan siapa yang memberi Ned gelar bangsawan abal-abal ini.

"Yang Mulia sudah ditunggu. Silahkan ikut saya..", ia mempersilahkan Ned. Ned mengangguk singkat.

"Lars..", panggil Beatrix. "Semoga beruntung.."

Ned menatap sebentar ratunya, lalu menjawab singkat. "Yang Mulia juga.."

Mereka berdua berpisah. Beatrix dan keluarganya menghadiri jamuan makan malam, Ned datang ke pertemuan empat mata dengan... ah, ia jadi sedikit penasaran, kamuflase macam apa yang digunakan Nesia.

Kedua orang tersebut berjalan pelan menyusuri koridor. Mau tidak mau Ned kembali merasa tidak nyaman. Ia tidak begitu yakin harus melakukan apa saat bertemu Nesia nanti. Mengingat ia batal datang ke acara ulang tahunnya, tidak membawa apa-apa, dan hubungan mereka masih kaku sejak Nesia mendampratnya habis-habisan empat tahun lalu, Ned punya cukup alasan untuk merasa khawatir.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda. Petugas protokoler yang mengawal Ned memberi hormat.

"Silahkan, Yang Mulia sudah ditunggu di ruangan ini..", ujarnya sambil membukakan pintu.

Ned mengangguk singkat lalu segera masuk.

.

xxx

.

Ruangan yang dimasuki Ned cukup besar, bermandikan cahaya kuning lembut yang memancar dari lampu kristal di tengah ruangan. Beberapa lukisan tergantung di dinding, menampilkan keindahan alam Indonesia. Di seberang ruangan, terdapat jendela besar berbingkai tirai merah panjang. Seorang gadis berdiri menunggu di depan salah satu jendela, memandang keluar.

Ned menutup pintu dengan pelan. Ia memandang gadis di seberang ruangan. Gadis itu memakai kebaya putih. Rambutnya yang biasanya dikucir, kali ini digelung dalam sebuah sanggul mungil. Si gadis tampaknya belum menyadari keberadaan Ned, atau ia sengaja mengacuhkannya.

"Nesia?", panggil Ned pelan, memecah keheningan ruangan tersebut.

Gadis berkebaya putih di seberang ruangan membalikkan badannya dengan pelan. Ia tersenyum seperti biasa, hanya saja ada sesuatu yang lain di senyum Nesia kali ini. Ned tidak bisa mengatakan apa itu, tapi ia tahu senyum Nesia bukan senyum tulusnya yang biasa.

"Ah Nederland..", gumam Nesia datar. Gadis itu menaikkan lengan kirinya. Dengan demonstratif ia memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangannya.

"..kamu terlambat."

Dalam beberapa detik pertama percakapan mereka, Ned tahu bahwa Nesia tidak menyambutnya dengan ramah. Kalau senyum palsunya itu belum cukup sebagai bukti, gadis itu juga membuat jarak dengan dirinya saat ia memanggil Ned dengan panggilan lengkapnya.

Dan kata-kata "terlambat" yang diucapkan Nesia, sepertinya lebih untuk menekankan fakta bahwa Ned datang empat hari setelah perayaan ulang tahun gadis itu.

"Hmm, maaf..", balas Ned singkat.

.

.

Keduanya diam. Saling bertukar pandang melintasi ruangan. Ned berdiri tegak, sikap Nesia membuatnya secara refleks bersikap defensif. DI seberang ruangan, Nesia berdiri sambil melipat kedua tangannya.

.

"Ah omong-omong..", lanjut Nesia. "..kemana tulip yang selalu kamu bangga-banggakan itu? Tidak biasanya kamu tidak membawa tulip kebanggaanmu.."

.

Ned mengalihkan pandangannya. Ia bisa merasakan, Nesia masih menatap tajam dari seberang ruangan. Bagaimana ia harus menjawab? Menerangkan panjang lebar tentang tulip merah-putih yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, tentang tulipnya yang sudah cacat dan ia tinggal di Singapura, atau...

"Hmm, ya begitulah...", gumam Ned. Ada nada tidak enak dalam jawabannya. "Aku tidak membawanya."

Nesia menjawab dengan sebuah "oh" pelan, yang terkesan dingin dan mengejek.

.

.

Keduanya kembali diam. Masih dalam sikap defensif, saling bertatapan dari seberang ruangan. Ned mulai merasa terganggu dengan segala komentar Nesia.

.

"Aku punya teh, mau minum?", tanya Nesia datar. Ia menuju meja kecil di tengah ruangan, bersiap menyajikan teh. "Bagaimanapun juga kamu tamu yang spesial.."

Ned baru akan menjawab, tapi Nesia keburu melanjutkan.

"Ah, kamu kan tamu pertamaku setelah hari ulang tahunku yang ke-50.", lanjut Nesia dengan intonasi menyindir yang amat sangat jelas sekali.

.

"Baik, berhenti menyindirku! Kita berdua sama-sama tahu masalahnya..", ujar Ned keras. Ia tidak tahan lagi dengan segala macam komentar Nesia.

Nesia menaruh kembali poci tehnya dengan kasar. Terdengar suara porselin beradu dengan nampan perak. Gadis itu memandang Ned dengan ekspresi keras.

"Bagus kalau gitu, capek harus berbasa-basi sama kamu..", tukasnya tak kalah keras. Atmosfer kebekuan yang menyelimuti ruangan itu pecah.

"Nesia, aku kesini untuk memperbaiki hubungan denganmu..", Ned berkata sambil menyisir rambutnya dengan jari, frustasi.

"Ngh, oke caramu aneh sekali kalau gitu..", jawab Nesia. "Harusnya kamu datang kemarin, empat hari lalu saat aku ulang tahun!"

"Aa.. apa-apaan ini, kenapa kamu terus-terusan mengungkit-ungkit ulang tahun!"

"Karena aku mengharapkanMU datang, bodoh!"

.

Bibir Nesia kembali mengatup. Ia mengalihkan tatapannya, tidak lagi memandang Ned.

"Padahal aku kira kamu akhirnya akan datang..", lanjut gadis itu. Nesia menggigit bibirnya. "Lima puluh tahun itu, masih belum cukup untuk menggerus egomu?"

Rahang Ned mengeras mendengar perkataan Nesia yang terkesan menantang.

"Bukannya aku tidak mau datang...", balas Ned getir. " Dan ini bukan masalah ego, lebih rumit dari itu.."

"Bukan masalah ego apanya! Ini sudah jelas sekali...", Nesia kembali berteriak. "Selama ini kamu gak pernah mengakui ulang tahunku, kamu terus-terusan melecehkanku.."

"Aku TIDAK PERNAH bermaksud melecehkanmu, Nesia!", potong Ned

"PERNAH! Serius, kita itu teman kan? Tapi kamu gak mengakui hari ulang tahunku, teman macam apa itu? Apa kamu bermaksud melecehkan sejarahku..."

"NESIA!", geram Ned. "Aku kesini untuk berbaikan denganmu, bukan untuk adu teriak.". Pemuda itu kembali menyisir rambutnya dengan jari, nafasnya tidak beraturan. "BERHENTI...menyinggung-nyinggung ulang tahun, tolong.."

"Apa?", Nesia menukas dengan nada menantang. "Sekarang kamu mau mendikteku? KAMU yang harusnya berhenti bersikap pengecut, tuan Nederland!"

"SEPENTING ITUKAH HARI ULANG TAHUN BAGIMU?", bentak Ned. Ia sudah habis kesabarannya.

"SEEGOIS ITUKAH KAMU, TERUS-TERUSAN MENGINGKARI ULANG TAHUNKU?", Nesia membalas dengan bentakan yang lebih keras.

.

.

Keduanya diam. Saling memandang tajam tetapi tidak berkata apa-apa. Keduanya sudah tahu, lawan bicara mereka tidak akan berubah pendirian. Tidak ada gunanya melanjutkan saling bentak.

Nesia membalikkan badannya. Ia berjalan pelan ke arah jendela, berdiri diam disana menatap keluar.

Ned, walaupun marah, bagaimanapun mulai merasa bersalah melihatnya. Nesia hanya tidak paham dengan keadaan. Sebagai pihak yang pernah ditindas, wajar saja jika ia marah. Tapi gadis itu tidak mengerti, betapa perih rasa bersalah yang menyiksa sang penindas. Tidak ada yang benar-benar salah dalam situasi ini, hanya takdir yang dengan kejam mempertemukan mereka.

Dengan pelan, Ned berjalan ke arah Nesia. Ia berhenti tepat satu langkah dibelakang gadis itu. Pemuda itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dilihatnya pundak Nesia, naik turun tidak teratur seiring nafas si gadis.

.

.

"Nesia...", bisik Ned pelan.

"Aku..."

.

.

Ned tidak melanjutkan kata-katanya. Kepalanya tertunduk.

.

.

"Ned, ulang tahunku adalah simbol kemerdekaanku...", bisik Nesia. Ned diam, mendengarkan.

"Kemerdekaanku..."

.

.

Nesia tidak melanjutkan kata-katanya. Tidak perlu. Ned sudah tahu apa arti kemerdekaan bagi Nesia. Ia tahu bagaimana Nesia selalu ingin mandiri, dan tumbuh besar menjadi bangsa yang disegani. Cita-cita yang sudah ada sejak ia masih menggendong Indië kecilnya itu. Ned tahu betapa bangga Nesia dengan kemerdekaannya, tidak perlu ada yang memberitahunya. Bukti itu ada, dalam bentuk parut-parut luka di tubuhnya.

.

Bukti itu juga ada, di depan mata.

.

Ned memandang lurus ke depan, ke arah yang juga dilihat Nesia. Melewati jendela, halaman istana, dan pagar besi yang kokoh. Di seberang lalu lintas ibu kota, berdiri monumen putih tinggi dengan ujung keemasan.

Monumen Nasional, simbol kemerdekaan Indonesia.

.

.

Mereka berdua berdiri dalam diam. Tidak membuat suara sedikitpun, tidak juga membuat gerakan. Seakan keduanya larut dalam keheningan.

.

.

Akhirnya Nesia berbicara.

"Ned, maaf aku tidak bisa lebih lama menemanimu..", gadis itu membalikkan badannya. Wajahnya kelihatan tenang, dengan ekspresi yang tidak dingin tapi juga tidak ceria. Hampa..

"Aku akan kembali ke jamuan makan malam. Senang bisa bertemu denganmu.."

Nesia mengangguk kecil, lalu berjalan pelan meninggalkan ruangan. Ned masih menatap jendela, mendengarkan setiap bunyi langkah Nesia yang diakhiri suara halus pintu yang ditutup. Pemuda itu menghela nafas.

.

xxx

.

Pintu terbuka, seorang pemuda dengan rambut pirang kecoklatan masuk sambil melonggarkan kerah kemejanya.

"Aaaah, akhirnya selesai juga..", gumam Willem. Ia berhenti. Sadar bahwa pintu beranda terbuka. Seseorang tampaknya sudah berada di sana sejak lama.

"Oi, broer? Kamu sudah balik?", tanya Willem. Ia melongok ke beranda, dilihatnya Ned sudah mencopot jas. Si pemuda sedang menghirup pipanya dengan tenang.

"Bagaimana? Sudah selesai?", tanya Ned datar. Willem bergabung ke beranda, ikut memandangi bintang-bintang yang samar terhalang cahaya kota.

"Hmm, ya begitulah..", balasnya.

Mereka berdua diam. Ned masih melanjutkan menghirup pipa. Asap putih tipis melayang-layang di antara mereka berdua.

.

"Broer?", gumam Willem sambil menoleh kepada Ned. Ned melirik, tanda ia mendengarkan.

"Bagaimana pertemuanmu, dengan Indonesia?"

Ned tidak segera menjawab. Ia menghirup pipanya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya dalam satu tarikan nafas. Pita-pita asap saling bertautan, melayang pelan keatas, lalu menghilang.

"Hmm, tidak selancar yang diharapkan..", gumam Ned akhirnya. Willem hanya memberi "oh" pelan sebagai tanggapan. Keduanya kembali diam, hanya terdengar samar-samar suara keramaian lalu lintas di depan Istana.

Ned kembali menghirup pipanya.

"Jakarta... tidak pernah terasa sedingin ini..", gumam Ned. Willem menoleh dan menanggapi dengan pelan,

"Oh, kalau menurut broer juga begitu.. Aku rasa itu benar..", untuk sekali ini ia bisa memahami apa yang sedang dipikirkan Ned.

.

~the next one is the last~

~cerita ini tidak mungkin berakhir begini,kan?~

.


Catatan Penulis:

Ini chapter yang terakhir kali kutulis. Gyaaah, bahkan chapter finalnya udah rampung duluan sebelum ini ditulis. Aku sebagai author sebenernya ga tega mau nulis adegan berantem ala sinetron OTPku tersayang itu, tapi mau gimana lagi.. Sejarahnya emang gitu.

Bagi yang lupa, hubungan Ned-Nesia di tahun 1995 itu masih kaku gara-gara insiden pembubaran IGGI di tahun 1991 (In which waktu itu Nesia marah karena menganggap Ned mencampuri hubungan dalam negerinya, "what the.. go to hell with your aid, i'm not your colony anymore.."). Kunjungan yang diprakarsai Ratu Beatrix di tahun 1995 ini tujuan awalnya untuk memperbaiki hubungan kedua negara, tapi ujung-ujungnya malah menambah runyam masalah gara-gara Beatrix batal dateng pas tanggal 17 Agustusnya. Yep, Indonesia juga tahu kalau Beatrix aslinya mau dateng pas tanggal 17, lalu di detik-detik terakhir batal dan memilih nunggu dulu di Singapura. Reaksi kebanyakan orang Indonesia adalah "Apa sih ini tanggung banget ga jadi dateng pas tujuh belasan, rese amat jadi penjajah orang cuma tanggal doang ampe segitunya banget. Niat kagak sih sebenernya ngakuin Indonesia merdeka? Apa? Protes veteran? Yah sebodo amat sama veteran penjajah.."

Soal jam tangan Nesia. Percaya atau enggak, waktu Ratu Beatrix dateng ke Istana Negara, Pak Harto dengan penuh simbolisme memeriksa jam tangannya tepat sebelum menyambut sang Ratu. Sebagai Presiden yang doyan memberi sinyal-sinyal tertentu, adegan periksa jam Pak Harto kalau diterjemahkan kira-kira, " Ah elu telat nih Bet, negara gue nih ulang tahunnya EMPAT hari yang lalu ya! Lu ngapain aja di Singapur waktu itu.." . Hahaha, aku ngerasa itu cukup keren, jadi aku buat Nesia melakukan hal yang sama.

Dan aku sempat baca komentar Pangeran Claus aka suami Ratu Beatrix tentang kunjungan tahun 1995 ini. Dia bilang, ini kunjungan paling sulit dibandingkan kunjungan kenegaraan yang lain. Dengan segala macam sentimen di Belanda dan Indonesia, emang ga berlebihan sih komentar Claus ini.

Anyway, chapter depan yang terakhir. Ending dari segala masalah perulang-tahunan ini. Hahaha..