Warning: possibly OOC, OC fem!Indonesia, loosely based on real historical event and by no means reflect the actual event. I apologize for any inaccuracy.
Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekazu
Jakarta, 16 Agustus 2005
Sore itu, Nesia sedang sibuk sendiri di dapurnya. Ia baru saja selesai memarut kunyit, dan bersiap menanak nasi.
"Fuh..", gadis itu menyeka keringat dengan punggung tangannya.
Cuaca Jakarta sore itu panas seperti biasa. Ditambah dandang yang mengepul di hadapannya, membuat wajahnya langsung berkeringat deras. Ah, tapi mau bagaimana lagi. Tumpeng nasi kuning sudah menjadi sesuatu yang wajib di setiap acara ulang tahun Nesia. Belum lagi kacang dan pisang rebus untuk acara tirakatan nanti malam. Nesia melirik setampah kacang dan sesisir pisang yang belum disentuh sama sekali. Ia menghela nafas.
=Ting Tong=
Samar-samar terdengar suara bel pintu dari ruang depan. Nesia segera menoleh.
=Ting-Tong=
"Ya, bentar...", teriak Nesia. Gadis itu segera meninggalkan dapur sambil bertanya-tanya siapa yang datang mengunjunginya. Apa mungkin Pak RW ya? Siapa tahu paman itu mau mengabari Nesia, minta dibawakan lebih banyak kacang rebus untuk acara tirakatan nanti malam. Ah tapi kenapa ga lewat HP aja? Nesia terus bertanya-tanya.
=Ting-Tong=
Nesia berlari ke ruang depan. Sebelum membuka pintu, ia menyempatkan diri mengintip sedikit dari jendela. Kalau yang datang salesman, Nesia akan pura-pura tidak ada di rumah.
Pelan-pelan, ditariknya sedikit tirai yang menutupi jendela. Nesia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depan pintu. Daun jendela menutupi sosok tamunya itu. Ia hanya bisa melihat kain panjang menjuntai yang sepertinya sebuah syal. Syal itu berwarna putih dengan garis...biru.
"Ah, tidak mungkin.."
Buru-buru Nesia membuka gerendel pintu, lalu segera menarik pegangannya.
Di depan pintu, Ned sudah berdiri menanti.
.
xxx
.
Mereka berdiri berhadapan, Ned dan Nesia. Si pemuda tampil rapi dengan kemeja dan syal panjang. Si gadis tampil ala kadarnya dengan kaos, celana pendek, dan celemek masih menggantung di pinggang. Keduanya terdiam.
"Hai, Nesia...", sapa Ned memecah kesunyian. Gadis di hadapannya masih menatap Ned dengan tampang kebingungan, dan mulut yang setengah terbuka.
"Nng, maaf ya ga bilang-bilang kalau mau datang, hehe..", lanjut Ned. Ia tertawa kecil, kelihatan bahagia sekali. Tangan kanan Ned maju, mengulurkan sebuah buket bunga besar berhiaskan kain berenda dan pita satin.
"Ini untukmu, Nesia..."
Nesia masih mematung. Mukanya menunjukkan ekspresi campuran antara bingung dan tidak percaya. Mata coklatnya masih beradu dengan sepasang mata hijau di depannya. Si pemilik mata hijau mengangkat sebelah alis.
"Nesia?", tanya Ned. Lengan kokohnya masih menyodorkan buket bunga.
Pelan-pelan, kedua tangan Nesia meraih buket itu. Kain pembungkusnya terasa halus, bersentuhan dengan tangannya yang masih bernoda kunyit. Ia lalu memperhatikan bunga-bunga tulip yang bermekaran di pelukannya. Separuh di atas berwarna merah darah, separuh lagi berwarna putih tulang. Wangi tulip semerbak menerpa wajah Nesia. Ia yakin, ini bukan mimpi. Aroma khas yang memenuhi dadanya dengan perasaan nostalgia ini terasa nyata. Tapi kalau begitu, bagaimana ini terjadi?
Nesia mengangkat wajahnya. Ia kembali menatap si pemuda.
"Ned...", tanya Nesia pelan. Ia tidak ingin berspekulasi, ia tidak ingin dikecewakan lagi. Ia ingin memastikan.
"Kenapa...kamu...disini..?"
Nesia buru-buru kembali memfokuskan pandangannya ke bunga-bunga tulip di pelukannya. Ia tidak benar-benar ingin mendengar jawaban Ned. Ned mungkin hanya sedang mampir. Oh ya, dia mungkin baru saja ada urusan di Indonesia dan mampir sebentar untuk memamerkan tulip-tulipnya yang baru saja dipanen. Pasti setelah ini dia harus buru-buru pulang, ah itu jelas. Dia tidak mungkin ada di sini besok. Dia tidak akan ada disini besok, karena besok...
"Karena besok hari ulang tahunmu, Nesia..", sebuah jawaban meluncur dari mulut sang pemuda. Jawaban yang paling tidak disangka si gadis. Nesia kembali memandang Ned. Pemuda itu tersenyum.
.
.
Keduanya terdiam. Sebuah bajaj melintas, memecah kesunyian.
.
.
Ned menarik nafas dalam.
"Nesia, aku memutuskan berhenti lari dari kenyataan..", lanjutnya pelan.
"Enam puluh tahun aku menghindar, sangat berat menerima kenyataan Nes, tapi...", Ned menarik nafas panjang, "..aku sudah bisa menerima, ulang tahunmu adalah besok. Kamu merdeka pada 17 Agustus, Nesia.."
"Ned...", Nesia hanya bisa mengatakan itu. Ia bingung harus berkata apa. Dipeluknya tulip-tulipnya lebih erat.
"Butuh waktu lama untuk... untuk menyadari bahwa..", kepala Ned sedikit menunduk. "..perpisahan kita terlalu berlarut-larut, dan... diiringi kekerasan yang berlebihan.."
.
.
Keduanya diam, sama-sama teringat akan lembaran hitam sejarah hubungan mereka berdua.
.
.
"Adanya aksi militer saat itu pasti merupakan pengalaman pahit bagimu..", Ned menggigit bibirnya, "..aku juga sudah membuatmu terluka, membuatmu menderita, Nesia.."
Mata Ned menatap Nesia dengan pandangan yakin, ia melanjutkan
"Saat itu aku berdiri di sisi yang salah Nes, aku sangat menyesali hal itu.."
Nesia menatap kedua mata Ned. Mata hijau itu tidak sedang berbohong.
"Anggaplah ini sebagai bentuk penyesalanku yang mendalam..", lanjut Ned. "Aku tahu tidak akan mungkin menghilangkan kenangan akan masa itu, tapi... aku harap itu tidak menghalangi ,eh, upaya kita untuk...berbaikan.."
.
.
Keduanya terdiam, saling berpandangan. Nesia tidak berkata apa-apa, ia hanya memeluk buket tulipnya dengan erat. Ned juga tidak berkata apa-apa lagi, hanya seulas senyum mengatakan bahwa ia lega baru saja mengungkapkan beban puluhan tahunnya.
.
Akhirnya Nesia menanggapi.
"Aku menerima penyesalanmu, Ned..", jawab Nesia sambil mendekatkan jarak dengan Ned. Ujung sepatu Ned dan ujung sandal Nesia sekarang sudah bersentuhan. Nesia berjinjit, berusaha mengurangi jarak antara kedua wajah mereka. Ned membungkuk sedikit sebagai tanggapan.
.
Bagi Ned, mendadak semuanya terasa bagai dalam adegan slow motion. Nesia mendekatkan wajahnya. Aroma rempah dan bumbu dapur tercium samar, ah sepertinya Nesia tadi baru saja masak.
Ia bisa merasakan bibir Nesia menekan lembut pipi kanannya dalam sebuah kecupan singkat. Gadis itu beralih, kali ini Ned merasakan pipi kirinya dikecup dengan lembut. Terakhir, Nesia mengecup sekali lagi pipi kanannya sebelum ia kembali menjauhkan wajahnya.
Nesia tersenyum. Ned bisa melihat rona merah samar di kulit kecoklatan si gadis.
"Ehm, begitu kan caramu menyambut teman dekat di Belanda?", ujar Nesia. "..selamat datang di rumahku, Ned.."
.
.
Ned langsung mendekap Nesia, sambil membisikkan "Terima kasih" di telinga gadis itu. Dengan pelan, Nesia melingkarkan kedua lengannya di tubuh Ned sebagai jawaban.
"Kamu tahu Nes, segala hal tentang masalah ulang tahunmu ini sangat melelahkan..", bisik Ned lagi. "Aku lega ini sudah berakhir.."
.
"Ya..", jawab Nesia. "Aku tahu.."
.
.
Mereka berpelukan lama, seakan untuk membayar puluhan tahun hubungan yang terganjal masalah ulang tahun.
.
=TOET= =TOET= =TOET=
Sebuah gerobak bakpau meluncur lewat. Tukangnya menoleh, memperhatikan adegan sinetron yang sedang berlangsung di teras rumah.
"Eh, Ned.. udah yuk..", Nesia melepaskan pelukannya. "Malu nih dilihatin orang.."
Ned melepas pelukannya, lalu tertawa kecil. Ah iya ini Indonesia, dimana sebuah pelukan bisa menyulut gosip antar ibu-ibu kampung selama berhari-hari.
"Oh iya Nesia, besok pagi aku akan datang ke upacara kemerdekaan di Istana Negara.", ujar Ned. Nesia tersenyum.
"Bagus itu, barengan ya.. Sekarang masuk dulu yuk..", jawabnya. " eh omong-omong, kopermu mana?"
"Oh, ada di Kuningan. Rumahnya dubes Belanda..", jawab Ned. "Soalnya ,eh, aku pikir lebih baik kalau..."
Ned berhenti. Di depannya Nesia sudah menggembungkan pipi, sambil melipat tangannya.
"Mmm, Ned. Kenapa ga nginep di rumahku aja?", tanya Nesia. "Biasanya juga kalo yang lain main kesini, pada nginep di rumahku kok.."
.
"..tidak perlu merasa ga enak atau apa.."
.
Ned tersenyum kecil. "Baiklah, nanti aku minta koperku dikirim kesini.."
Nesia nyengir. "Asik, hahaha.. Kalau gitu sekarang masuk yuk..", ajaknya. "Terus bantuin aku masak di dapur ya.."
"Hmm? Masak?", Ned bergumam sambil melangkah masuk. Ia menutup pintu dibelakangnya.
"Oke, aku akan menyelamatkan dapurmu dari kekacauan.."
.
"AAH, Ned~!"
.
"Hahaha, bercanda Nes..."
.
"Ned jelek, aku marah nih..."
.
"Aaah, iya.. iya.. ampun.."
.
"Ha ha ha ha ha..."
.
~fin~
.
.
Extra Story:
Ned sedang melumat kentang untuk membuat perkedel. Di sampingnya, Nesia sedang merajang wortel. Keduanya diam, hanya suara panci mendesis dibelakang mereka yang terdengar.
"Oh iya Nes, kalau boleh jujur ya..", Ned membuka percapakan sambil terus melumat kentangnya. Nesia melirik pemuda disampingnya itu sambil terus merajang wortel.
"Aku masih lebih setuju kalau ulang tahunmu bulan Desember lho.."
"Eh..", Nesia berhenti mengiris wortel. Ia menoleh ke arah Ned. Ned balas menoleh sambil nyengir kecil.
"Soalnya kamu jadi lebih muda empat tahun..", jawab Ned. Cengirannya makin lebar.
.
.
"NEDER PEDO LOLI GOMBAAAAAAAAAL!"
Sepotong wortel setengah dirajang sukses bersarang di jambul tulip Ned.
Catatan Penulis:
Akhirnya, akhirnya dengan berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, serta dorongan review-review dari pembaca semua, cerita ini dinyatakan TAMAT. Gyahahahahaha.. #dance
Yeah i know, cerita ini lebih pendek dari chapter-chapter sebelumnya. Ini cuma semacam resolusinya, kalo klimaksnya yang dramatis kan ada di chapter lima.
Dan yep, chapter ini berdasarkan pada pengakuan kemerdekaan RI oleh Belanda pada tahun 2005. Akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan kita saudara-saudara. Diwakili Menlu Bernard Bot, Belanda memberi pengakuan pada tanggal 16 Agustus 2005. Oke, walaupun cuma secara de facto aja, belum secara tertulis. At least, udah ada wakil pemerintah Belanda yang hadir di upacara kemerdekaan. Dan yang lebih penting, Ned akhirnya bisa merayakan ulang tahun Nesia, hahaha (tetep, kepentingan pairing diatas kepentingan sejarah XP )
Apa lagi ya, buat yang belum puas sama romance-romancenya Ned-Nesia di chapter ini, jangan khawatir! Sudah kupersiapkan sekuel yang isinya penuh adegan bahagia OTPku ini, jiyahahahaha..
Akhirussalam, terima kasih udah baca sampai sejauh ini. #tebartebarbunga
