A Super Junior's Fanfiction

Super Junior
©

Themselves and SM Entertaintment


Warns :
Many bad things
are mine,
and
if you don't like this pair, or this story,
I beg you, do not read

Thanks for your time, may you'll enjoy it :)


[ Their Forbidden Love ]

with
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
and
the other members
inside


.

* Chapter 1 *

.

Suasana ribut dan ramai terlihat di halaman depan milik sebuah sekolah dasar yang lumayan terkenal di daerah pusat kota Seoul itu. Itu semua karena para anak kecil yang lucu, menggemaskan, imut—dan yang pasti, mereka terkadang menyebalkan—sedang mengikuti senam rutin yang diadakan pada akhir pekan.

Hampir semua murid bergerak dengan lincah dan bersemangat. Mengapa hampir? Karena ada satu orang yang tidak bergerak sama sekali.

Sosok mungil berpakaian seragam putih-biru muda itu memegangi kepalanya dengan sebelah tangan kanannya. Tak lama kemudian, dia terhuyung ke belakang dan kehilangan keseimbangannya. Dia hampir saja membentur tanah jika tidak ada yang menahannya.

"Minnie-hyung!"

Sosok mungil lainnya langsung berlari dan menangkap tubuh yang kehilangan keseimbangan itu. Mata hitam kelamnya menatap sosok yang sekarang bersandar di lengan kecilnya itu. "Gwenchana, hyung?"

Mata indah milik namja yang hampir jatuh tadi berkedip-kedip pelan—seakan sedang mencoba mengembalikan fokusnya yang hilang. Tak berapa lama, mata secemerlang milik kelinci itu menatap mata hitam kelam milik orang yang menolongnya.

"Gwenchanayo, Kyu."

Wajah tampan milik namja kecil yang dipanggil Kyu itu berubah semakin tampan saat senyum lebar terlukis di bibirnya. "Jinjja, Minnie-hyung?"

Dan pertanyaan itu dibalas oleh anggukan dan senyuman manis dari orang yang Kyu panggil 'hyung' itu. Selang beberapa saat, seonsangnim mereka datang dengan wajah cemas dan segera menuntun mereka berdua untuk pergi ke ruang kesehatan.

.
I will protect you no matter what
Cause I hate to see when you suffer for that damn illness

[ Kyuhyun ]
.

Baiklah, kedua namja ini masing-masing bernama Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin.

Mereka berdua sangat dekat layaknya saudara, tempat tinggal mereka berdekatan, dan orang tua mereka juga bersahabat. Ketiga alasan di atas menjadi pendukung untuk hubungan baik antara kedua namja yang masih berumur sepuluh tahun itu.

Sebenarnya usia Kyuhyun lebih muda beberapa tahun dari Sungmin. Tetapi, karena saat itu Kyuhyun sudah terlalu dekat dengan Sungmin, dia jadi tidak mau terpisah dengan putra bungsu keluarga Lee itu.

Dan jadilah, mereka masuk ke taman kanak-kanak dengan kelas yang sama. Begitu pula waktu mereka di sekolah dasar.

Guru-guru tidak protes ataupun keberatan dengan usia Kyuhyun. Toh, anak itu lebih cepat dan tanggap dalam menjawab pertanyaan maupun mengerjakan soal. Malahan, dia yang selalu jadi juara kelas.

Nah, mari beralih ke masa kini.

Mengapa Sungmin bisa sampai hampir pingsan seperti tadi?

Jawabannya : dia menderita anemia sejak lahir. Karena itu, namja yang sering dipanggil 'Minnie' oleh orang dekatnya itu tidak boleh kelelahan.

Tapi, tetap saja.

Sungmin adalah sosok yang bisa dibilang aktif dalam banyak hal. Dia suka sekali mempelajari hal baru yang belum dia bisa. Dia suka menari, menyanyi, memainkan alat musik, belajar bela diri, dan dia suka sekali tersenyum. Apalagi setelah bertemu Kyuhyun saat mereka baru masuk taman kanak-kanak.

Perilaku Sungmin semakin lama semakin aktif dan sepertinya kesenangannya bertambah satu.

Bertanding game melawan Kyuhyun.

Sifatnya yang terlalu ingin tahu banyak hal itu membuat orangtuanya sampai was-was jika kondisinya sampai drop. Mengetahui itu, Kyuhyun pun mencoba melindungi hyung-nya itu agar kondisinya jangan sampai 'jatuh' karena kelelahan.

Meski Kyuhyun lebih muda daripada Sungmin, tapi terkadang mereka berdua saling memiliki ketergantungan. Kadang Sungmin mengingatkan Kyuhyun mencuci sepatunya, dan kadang Kyuhyun selalu meneriaki Sungmin lewat jendela kamar mereka—yang berseberangan—untuk cepat bangun dan pergi ke sekolah

Kyuhyun tidak akan pernah lupa hal ini.
Dia tidak akan lupa kebiasaan hyung kesayangannya itu.

Susah bangun kalau sudah tertidur dengan lelap.

Dia tahu, kalau kebiasaan itu terjadi karena efek samping dari anemia yang dideritanya. Biasanya, penderita anemia atau tekanan darah rendah akan susah bangun pagi karena suplai darah menuju otak yang memicu kesadaran berkurang.

Yah, itulah yang sekiranya Kyuhyun dapatkan dari buku. Oh, dia sungguh berterima kasih pada buku itu.

.

.

Kyuhyun memandangi wajah Sungmin yang sedang tertidur akibat pengaruh obat yang diberikan Jaejoong-seonsangnim tadi. Dada hyungnya itu bergerak naik-turun dengan teratur, dan desah napas lembut terdengar jelas di telinga namja Cho itu.

Kyuhyun mendekatkan kursi tempat dia duduk ke tepi ranjang, tempat Sungmin terlelap. Dia membelai lembut helai rambut pirang keemasan milik hyung kesayangannya itu.

"Minnie-hyung, kau terlalu memaksakan diri," lirihnya.

Kelopak mata Sungmin bergerak-gerak pelan. Kyuhyun yang melihatnya langsung tersenyum kecil. Dia menyibakkan poni yang sedikit menutupi kedua mata Sungmin.

Akhirnya, kedua bola mata kehitaman milik Sungmin terbuka pelan. Dia menggumam lirih, dan Kyuhyun mendekatkan telinganya ke arah bibir Sungmin—untuk mendengar suaranya yang terlalu pelan itu.

Dengan cepat Kyuhyun bangkit dan mengambil gelas di tepi tempat tidur dan membawanya menuju dispenser yang ada di dekat pintu masuk. Tak lama kemudian, dibawanya hati-hati gelas kaca itu menuju tempat tidur.

"Gomawo, Kyu," lirih Sungmin pelan. Dia menerima gelas yang diulurkan Kyuhyun padanya dan meneguk air di dalamnya.

"Ne, hyung. Kita izin pulang cepat ya?" tanyanya sambil menyentuh dahi Sungmin—untuk mengecek suhu tubuhnya.

"Anni, aku ada ulangan Kyu."

Kyuhyun menghela napas. Ini juga salah satu sifat Sungmin yang tak bisa menang dilawannya. Sudah hampir enam tahun mereka berteman, dan tentunya—meskipun mereka masih anak kecil—mereka sudah mengetahui sifat masing-masing.

Minnie-hyung terlalu keras kepala dan terlalu memaksakan diri.

Kyuhyun tahu mengapa Sungmin bisa sampai jatuh tadi. Karena tadi pagi, sebelum mereka melakukan senam rutin dia membantu teman-temannya untuk melengkapi jumlah pemain untuk bermain kasti.

Dan, terlalu baik pada semua orang.

Namun kali ini, Kyuhyun sudah tidak tahan dengan sifat hyung-nya itu. "Sekali-kali kau harus dengar aku, Minnie-hyung."

Mendengar nada serius dari dongsaeng yang disayanginya itu, Sungmin menatap Kyuhyun langsung dan menemukan kilat yang tak–bisa–dibantah di sana.

"Arra, Kyu. Kita pulang."

.

.

Setelah mendapat izin dari Yunho-seonsangnim—wali kelas mereka—Kyuhyun dan Sungmin membereskan tas mereka. Dan yang membuat Kyuhyun sebal, masih sempat-sempat saja hyungnya itu meladeni pertanyaan yang menurutnya tidak penting dari teman-teman sekelas mereka.

Kyuhyun pun menarik lengan Sungmin keluar dari kelas dan membuat teman-temannya kompak menjadi anggota paduan suara 'huuu' ke arahnya.

Namja Cho itu tidak peduli. Dia hanya ingin Sungmin cepat sampai dan berbaring di kamarnya sendiri.

"Eh, Kyu, aku terpikir sesuatu," kata Sungmin pelan.

"Ne, Minnie-hyung?"

"Kalau kau sudah dewasa nanti kau mau jadi apa Kyu?"

Kyuhyun terdiam. Sebenarnya belum ada terpikir olehnya untuk menjadi apa dan siapa nantinya. Karena, prinsipnya adalah jalani saja yang ada di depanmu sekarang. Tapi, karena hyung kesayangannya itu menatapnya dengan bola mata yang berbinar, dia jadi teringat sesuatu yang pernah diimpikannya waktu masih TK.

"Aku ingin jadi pembela kebenaran, hyung!" jawabnya senang.

Sungmin terkejut. Matanya membulat tak mengerti. "Eh? Waeyo?"

Pertanyaan polos Sungmin membuat Kyuhyun tersenyum lebar. "Karena mereka kuat, hebat, dan dicintai banyak orang, hyung!"

"Dan, aku tidak bisa membiarkan orang yang seenaknya merusak kebenaran!" katanya bersemangat.

Sungmin yang awalnya terpana melihat dongsaengnya itu akhirnya tersenyum lembut saat mendengar alasan mengapa Kyuhyun ingin menjadi pembela kebenaran. "Haha, aku juga ingin kalau begitu alasanmu Kyu."

Kyuhyun mengangkat jari kelingking tangan kanannya dan mengarahkannya ke arah Sungmin. "Ayo jadi pembela kebenaran, Minnie-hyung!"

"Ne, Kyu," dia tersenyum dan mengangkat kelingkingnya juga. Mengaitkannya pada kelingking Kyuhyun.

Tanda janji.

Dengan senyum dan tawa, mereka berdua pun berjalan dengan ringan menyusuri jalan menuju rumah mereka.

Senyum yang begitu indah.

.
Our promise is our bond
I'll keep it and will never let it go
It's more than anything

[ Sungmin ]
.

"Minnie-hyung!"

"Ne, Kyu?"

"Mianhae, aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini. Ada persiapan untuk training olimpiade matematika beberapa hari lagi, hyung."

"Ne, gwenchana. Ah, berapa lama kau di sana?"

"Molla, mungkin dua sampai tiga hari."

Kyuhyun menatap Sungmin sedih. Ini bukan pertama kalinya Kyuhyun mengikuti lomba seperti ini, malahan sudah terlalu sering. Tapi entah kenapa, rasanya untuk kali ini hatinya berat untuk pergi.

"Kyu?" tanya Sungmin. Dia menyentuh kedua sisi wajah Kyuhyun dengan pelan.

"Aku khawatir, hyung. Rasanya ada sesuatu yang tidak enak di sini," lirihnya sambil menunjuk dada kirinya.

Sungmin tersenyum lembut. Dia meletakkan telapak tangan kanannya ke dada kiri Kyuhyun. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," katanya sambil menepuk pelan bagian yang dirasakan sesak oleh Kyuhyun.

Kyuhyun menggenggam telapak tangan Sungmin yang masih menepuk dadanya. "Aku harap begitu, Minnie-hyung."

Sungmin membiarkan Kyuhyun menggenggam tangannya, entah mengapa dia merasa kekhawatiran sahabatnya itu ada benarnya.

Mungkin hanya perasaan saja.

"Heyo, kau ditunggu Yunho-seonsangnim tuh."

Kyuhyun menoleh ke belakang dan mendapati wali kelasnya itu berdiri sambil membawa tas besar yang diyakini Kyuhyun berisi soal latihan untuknya selama tiga hari ke depan.

"Aku pergi dulu, Minnie-hyung," katanya sambil tersenyum lesu.

"Hei, jangan berwajah seperti itu. Kau bukan Kyu yang aku kenal."

Mendengar pernyataan Sungmin, Kyuhyun segera memeluk hyungnya itu dengan erat. "Minnie-hyung, jaga dirimu. Jangan sampai kau kenapa-napa."

Sungmin mengelus punggung Kyuhyun dengan lembut. "Arra, Kyu."

Lama mereka berpelukan sampai Yunho-seonsangnim terbatuk-batuk—seakan iri dengan kedekatan dua muridnya itu. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari Sungmin dengan tak rela. Namja Lee itu mendorong lembut bahu dongsaengnya ke arah wali kelas mereka.

"Hati-hati, Kyu."

"Kau juga, Minnie-hyung."

Sungmin terus melambaikan tangannya, sampai Kyuhyun dan Yunho-seonsangnim tidak terlihat lagi dalam jangkauan pandangnya. Dia tersenyum kecil. "Aku akan menjaga diriku sendiri, Kyu."

.

.

Sudah dua hari sejak kepergiannya, dan ini mulai membuat Kyuhyun gelisah. Dia baru saja mendapat pesan dari Sungmin yang menanyakan keadaannya semalam. Tapi, yang membuat Kyuhyun heran adalah mengapa setelah dia membalas pesan itu, hyungnya itu malah tidak membalasnya?

Kyuhyun mengira Sungmin sudah tertidur, jadi dia mengenyahkan pikiran buruknya lalu memutuskan untuk tidur juga. Dan pagi ini, sama sekali belum ada jawaban dari Sungmin.

Hyung, kau kenapa?

Saat ini jantung Kyuhyun berpacu lebih cepat dan membuatnya merasa sesak napas. Dia khawatir, benar-benar khawatir. Seandainya saat ini dia tidak sedang berada di tempat yang jauh dari rumahnya, dia pasti akan berlari kencang menuju rumah hyungnya itu.

Tru Tru Tru.

Ponsel hitam Kyuhyun bergetar—ponsel hadiah dari appa dan umma-nya karena dia berhasil menjuarai olimpiade bulan kemarin—dengan nada dering yang disetelnya hanya untuk panggilan dari keluarganya, keluarga Sungmin, dan Sungmin sendiri.

"Yeoboseyo, Noona?"

Kyuhyun mendapati suara ribut-ribut di seberang sana. Tidak ada pikiran apapun yang terlintas karena keramaian adalah hal yang biasa mengelilingi noona-nya, Ahra.

"K-kyu..."

DEG!

Sekarang, ini bukanlah hal yang biasa bagi Kyuhyun. Suara terisak milik kakak perempuannya itu hampir tidak pernah didengarnya sebelumnya.

"Waeyo, Noona? Gwenchana?"

"Ce–cepat...lah pulang, Kyu. Kumohon," isak tangis Ahra semakin keras di telinga Kyuhyun.

Tanpa menghiraukan apa-apa lagi, Kyuhyun segera memanggil nama wali kelasnya dengan kalap. "Yunho-seonsangnim! Aku harus pulang sekarang juga!" teriak Kyuhyun tanpa memperhatikan bahasanya yang entah sopan atau tidak itu.

Yunho menuruni tangga dengan cepat saat mendengar teriakan muridnya itu. "Waeyo, Kyuhyun-ah?"

"Aku harus pulang. Ada sesuatu yang gawat terjadi di rumahku, seonsangnim," jelas Kyuhyun panik.

Melihat wajah pucat muridnya, Yunho segera mengambil kunci mobil yang ada di atas meja makan dan segera membawa Kyuhyun ke dalam mobilnya.

"Kencangkan sabuk pengamanmu," perintah Yunho halus.

Dan mobil sport hitam milik guru Matematika itu melaju dengan kencang, beberapa detik setelah ia menyuruh anak muridnya mengencangkan sabuk pengamannya.

.

Selama di perjalanan Kyuhyun menggigiti bibirnya dan mengatupkan kedua tangannya erat. Kulit wajahnya yang putih itu semakin pucat dengan rona khawatir yang begitu kentara. Yunho, sang wali kelas tidak bisa melakukan apapun selain tetap berkonsentrasi pada jalan dan melajukan mobilnya sekencang yang dia bisa.

Apa firasatku benar?Kenapa Ahra-noona sampai terisak begitu? Dan... kenapa Minnie-hyung tidak membalas pesanku?

"Tenanglah, Kyuhyun-ah."

"Anniyo, seonsangnim. Aku tidak bisa tenang meski aku ingin."

Sebentar lagi... sebentar lagi. Tuhan, lindungi orang-orang yang kusayangi.

Mobil sport hitam itu memasuki daerah rumah Kyuhyun melalui gerbang depan perumahan yang ditinggalinya. Rumah Kyuhyun berada di blok C—blok yang berada tak lumayan jauh dari gerbang masuk.

Saat Yunho membelokkan mobilnya, dia terkejut melihat betapa banyak mobil yang terparkir di jalan yang berukuran sedang itu. Dan yang lebih membuatnya terperangah adalah mobil-mobil itu bukan mobil biasa.

Melainkan mobil ambulance, dan mobil polisi.

Yang membuat Yunho lebih terkejut adalah suara bantingan pintu yang sangat keras dari sisi sebelahnya. Dari arah muridnya duduk tadi.

Kyuhyun melarikan kakinya dengan membabi buta menuju rumahnya. Dia ketakutan hingga jantungnya berdebar kencang. Saat melihat rumahnya dia bernapas lega sejenak saat melihat tak ada garis polisi ataupun kerumunan di sana. Namun, jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat kediaman keluarga Lee.

Kediaman Sungmin.

Kyuhyun tak dapat berpikir lagi. Dia segera membuka pintu gerbang rumahnya dan mengetuk pintu rumahnya dengan keras. "Noona! Noona!"

Tak lama pintu kayu itu terbuka.

Menampilkan sesosok yeojya cantik yang sedang menghapus air matanya dengan sapu tangan putihnya. Wajahnya memerah dan matanya membengkak.

"Ahra-noona! Waeyo?" tanya Kyuhyun kalap sambil memeluk noonanya yang lebih tinggi daripada dia itu.

Ahra mengusap rambut Kyuhyun dan balas memeluk namdongsaengnya itu. Dia terisak lebih keras saat mengingat apa yang harus dikatakannya tentang sahabat adiknya ini.

"Noona, waeyogudhae?" tanya Kyuhyun lebih lembut sambil mengusap pelan punggung Ahra.

"K-kyu, kumohon... hiks, jangan... terkejut," lirih Ahra terputus-putus sambil menyembunyikan wajahnya di bahu kecil Kyuhyun.

Kyuhyun tercekat. Ada rasa yang mengganjal saat mendengar noona-nya berkata begitu. "W-waeyo? Tolong jangan membuatku takut, noona."

"Kyu, orang tua Sungminnie meninggal dunia," Ahra menarik napasnya yang semakin sesak. "kemarin malam karena dirampok."

Kyuhyun hanya terdiam, membiarkan noonanya itu menjelaskan apa yang terjadi.

Ahra menyentuh kedua sisi wajah Kyuhyun yang terlihat pucat itu. Dia merasa tidak sanggup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada namdongsaengnya itu. Yeojya itu menarik napas dalam sebelum memulai suaranya yang terasa habis itu.

"Hyukkie di rumah sakit karena luka tusuk yang dideritanya. Dan,"Ahra menggantung kalimatnya saat melihat wajah cemas Kyuhyun. "Sungminnie menghilang."

Kyuhyun terperangah dan melepaskan diri dari sentuhan Ahra. "Tidak mungkin!"

Ahra semakin terisak. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya—menahan isakan yang semakin menyiksanya. Baginya, Sungmin dan Hyukkie sudah menjadi namdongsaengnya juga. Mereka sudah bersama selama lebih dari lima tahun.

Mereka sudah seperti keluarga kandung.

"Percayalah Kyuhyunnie," lirih Ahra semakin pelan.

"Itu tidak mungkin, Noona," ingin sekali Kyuhyun mencari kebenaran di mata kakaknya, namun hanya ada air mata kesedihan yang keluar di sana. "Tidak... tidak mungkin... ANDWAE!" teriaknya keras.

Kyuhyun meremas dadanya erat. Entah kenapa dadanya terasa begitu sakit dan sesak sekarang.

Jadi ini maksudnya? Perasaan sesak sebelum meninggalkan Minnie-hyung kemarin. Tidak... tidak mungkin.

Dan sang kakak hanya bisa menahan napasnya yang terasa begitu sesak saat melihat namdongsaengnya yang berumur sepuluh tahun jatuh berlutut sambil menangis. Menjerit, dan memukul lantai tempatnya bertumpu hingga telapak tangan dan buku jarinya memerah.

"Andwae, Minnie-hyung... Minnie-hyung..." lirihnya pilu dengan air mata yang jatuh satu persatu. Seperti napasnya yang semakin terputus karena isakannya yang semakin menggila

Ahra memeluk tubuh kecil Kyuhyun yang bergetar. Perasaan Kyuhyun sekarang pasti lebih sakit daripada dia. Karena, kedekatan Kyuhyun dengan Sungmin bukan hubungan biasa. Mereka seperti memiliki ikatan imaginer yang bahkan lebih kuat dari ikatan nyata.

Seperti burung yang bergantung pada kekuatan sayapnya, seperti itulah adiknya yang sudah bergantung pada kehangatan namja Lee itu.

"Sudah Kyu, sudah," bisik Ahra sambil mengeratkan dekapannya di sekeliling Kyuhyun yang semakin terdengar memilukan dengan lirihan suaranya yang terus memanggil nama Sungmin.

Aku harus menemukanmu, Minnie-hyung.

.
I need to find you
I have to find you
I really need to see that you are so much fine

[ Kyuhyun ]
.

"Appa, bagaimana kasus perampokan di rumah keluarga Lee? Apa ada perkembangan?"

"Anni, Siwon-yah. Kasus ini seperti buntu. Waeyo?"

"Hm, anak yang hilang ini adalah temanku, Appa. Aku khawatir sekali dengan keadaannya, begitu pula dengan Kyuhyun-ah."

"Perampokan ini terlalu rapi, seperti sudah direncanakan dari lama. Mereka mengincar saat pasangan suami-istri Cho, dan juga saat Cho Ahra serta Cho Kyuhyun, anak mereka sedang tidak ada di rumah."

"Menurut appa, apa motifnya?"

"Hanya mengincar harta sepertinya. Kau tahu keluarga Lee memiliki kekayaan yang berlimpah kan?"

"Ne, appa. Kumohon cepatlah temukan Sungmin-ah. Aku tidak tega melihat Kyuhyun-ah dan Hyukkie semakin tersiksa seperti ini."

"Appa akan berusaha sebisa mungkin, Siwon-yah."

Namja berumur dua belas tahun itu memeluk orangtuanya dengan erat. Ayahnya tersenyum lembut sambil mengacak rambut hitam milik putranya itu.

Orang ini adalah Choi Siwon, sunbaenim Kyuhyun, Sungmin dan Hyukkie. Awal mereka berteman adalah saat mereka masih taman kanak-kanak. Dia menganggap ketiga namja itu sebagai saudaranya sendiri. Meskipun Hyukkie dan Sungmin lebih tua daripada dirinya sendiri, Siwon lebih menganggap mereka sebagai adik karena tingkah mereka yang lumayan kekanakan daripada dia itu.

Ayahnya adalah Kepala Kepolisian bagian tindak kriminal berat. Dan satu kasus yang masih belum dapat pencerahan sama sekali adalah kasus perampokan, pembunuhan, bahkan penculikan di keluarga Lee.

Kasus ini sampai dimuat dalam koran selama berhari-hari, banyak kritikan kepada kepolisian karena terkesan lambat dan bertele-tele dalam menyelesaikan kasus berat itu.

Dan yang membuat Siwon tak tahan adalah sikap dari kedua dongsaengnya, Hyukkie dan Kyuhyun. Mereka berdua tak pernah terlihat tersenyum, tertawa, bahkan berbicara banyak.

Mereka seperti kehilangan jiwa.

Yang lebih buruk lagi adalah Kyuhyun. Jika Hyukkie masih bisa merespon 'uluran tangan' dari Donghae—sahabatnya sejak SD—maka Kyuhyun tidak dapat merespon apa-apa selain dari Sungmin.

Hyung kesayangannya.

Dia selalu hadir ke sekolah, memang. Dia juga memperhatikan pelajaran dengan baik. Tapi yang membuat teman sekelasnya dan orang-orang yang mengenalnya merasa sesak dan sedih adalah sikapnya sewaktu istirahat maupun waktu pulang sekolah.

Dia yang selalu duduk di bangku Sungmin saat istirahat.
Dia yang selalu menunggu seakan Sungmin masih ada di sana.

Dia... Cho Kyuhyun yang tertidur dengan damai di bangku itu setelah pulang sekolah, seakan-akan Sungmin akan datang, membangunkannya, dan mengajaknya pulang bersama.

Pernah satu kali saat Siwon mencoba membujuk Kyuhyun untuk pulang ke rumah karena hari sudah mulai malam. Siwon yang merupakan siswa SMP mendatangi kelas di mana Kyuhyun berada. Saat menggeser pintu masuk, Siwon tertegun.

Dia melihat Kyuhyun yang tidur dengan damai di atas meja Sungmin.

Saat namja Choi itu mendekat, samar-samar dia mendengar lirihan kecil dari dongsaengnya itu.

"Minnie-hyung... Minnie-hyung..."

Siwon tidak mengerti. Yang dia tahu, perasaan dongsaengnya ini sangat terluka semenjak Sungmin dinyatakan hilang. Dadanya terasa sesak saat melihat Kyuhyun yang terkenal usil dan kuat itu menangis pelan dalam tidurnya.

"Bogoshippo, Minnie-hyung. Aku rindu sekali padamu..."

Tanpa Siwon sadari, sebutir air mata mengalir di pipinya saat melihat namja Cho itu menangis lirih dengan tubuh bergetar pelan.

Sambil terus menyebut nama Sungmin dalam tidurnya.

.

.

Satu bulan berlalu, dan Lee Sungmin dinyatakan meninggal oleh pihak kepolisian.

Hyukkie menangis histeris di pelukan Ahra, Siwon hanya terdiam, termangu. Dan Kyuhyun, langsung memasuki rumah Sungmin dan berlari menuju kamar hyung kesayangannya itu.

Kamar itu tidak berubah sama sekali.

Kyuhyun mengingat detail kamar ini dengan baik. Di mana Sungmin menyimpan hadiah pemberian Kyuhyun waktu ulang tahunnya, di mana Sungmin menyimpan barang pribadinya, di mana Sungmin bersembunyi saat dia sedang sedih.

Dia menuju tempat tidur Sungmin yang terlihat rapi—karena keluarga Cho meminta tolong pada petugas kebersihan untuk membereskan kekacauan di rumah keluarga Lee pasca kasus brengsek itu.

Perlahan, Kyuhyun mengambil boneka kelinci berwarna pink lembut berukuran besar dan halus itu ke dalam pelukannya.

Itu adalah hadiah Kyuhyun pada saat Sungmin berusia sembilan tahun.

Dia mendekap erat boneka kelinci itu, mencoba menghilangkan rasa rindu pada hyungnya. Menciumi dan menghirup aroma Sungmin yang mungkin masih tertinggal di sana.

Lee Sungmin dinyatakan meninggal.

Kyuhyun tersentak saat ada suara yang masuk ke kepalanya seperti gema berulang. "Andwae, Minnie-hyung pasti masih hidup."

Lee Sungmin dinyatakan meninggal.

"Andwae! Tidak mungkin!"

Lee Sungmin dinyatakan meninggal.

"Tidak... tidak mungkin..."

Lee Sungmin dinyatakan menin

"ANDWAE!"

Kyuhyun tertelungkup di atas tempat tidur Sungmin, dia mendekap erat boneka kelinci itu dalam pelukannya. Isakan lirih terdengar jelas dari bibir Kyuhyun. Siapapun yang mendengarnya pasti mengerti betapa sakit dan perihnya luka yang disimpan dalam hati namja kecil itu. Bibirnya tak henti menyebut nama orang yang disayanginya. Dirindukannya.

Semua hal memang terus berjalan, tapi tidak untuk Kyuhyun. Ada yang hilang, dan itu tidak akan utuh sebelum Kyuhyun menemukan Sungmin. Menemukan orang yang disayanginya.

.

Minnie-hyung... datanglah padaku. Katakan bahwa semua ini hanya kebohongan. Aku rindu sekali padamu, Minnie-hyung.

To Be Continued


Pojok Chat *

*Yuera Kichito-Cloudyue291 : gomawo, sunbaenim :) great story? anni, masih banyak kekurangan di sini ^^a iyaa! saya juga suka! Minnie sih~ *plak* Apa update ini lama chingu-sshi? :D

*Ly-saeng : *hug* Annyeong Ly :D oh jelas, ficnya aja KyuMin's Pair :D hehe, iya lagi demen.. tapi rin ngga selingkuh dari SiBum kok :D hehe. Gamsahamnida semangatnya saengi :) *saranghae :)*

*Ladymin : diusahakan chingu-sshi :D Ini sudah update, semoga menikmati :D

*unknown : ne! diusahakan chingu-sshi :D nado joahaeyo! *plak*

*LittleLiappe : Gamsahamnida sunbaenim :) ini sudah lanjut :D

*bluEviLf15 : ne, chingu-sshi :) udah lanjut nih :D gomapta!

*C0coNdvl78 : iyay XD gomapta semangatnya chingu-sshi :D ini udah lanjut :D

*han gyn : nado annyeong chingu-sshi :D Rin imnida, dan umur 16 tahun, chingu-sshi sendiri? :D silakan tunggu jawaban pertanyaan anda di chapter depan *plak* gamsahamnida, chingu-sshi :D

*Yenni gaemgyu : wuaah! gamsahamnida, chingu-sshi *jabat tangan* ne, udah lanjut ini :D

*Cho RhiYeon : iya, itu sungmin :D aku suka dia :D ne, udah update ini, Rhi-sshi :D gomawo yaa :D

*Raimei-chan : nado annyeong, chingu-sshi :D Rin Imnida, dan salam kenal juga :) ini udah update chingu :D

*ElFishyShfly : annyeong nado *plak* gomawo, chingu-sshi :) ini udah lanjut :D

*Aliciela P.M : oh yes! I love him too! *but I love Siwon most, *plak* ne chingu XD gamsahamnidaa :D ini udah fast update belum?

*star yoori : iya, lebih tepatnya dia itu seksi. *plak* ini lanjutnya chingu-sshi :D gamsahamnidaa :D

*Evil Baby Snow : gomapta chingu-sshi! Gamsahamnidaa :D

*Farizu : gamsahamnida Farizu-sshi :) ini udah lanjut :)

*af13knight : wah, ada af :) gamsahamnida Af, rin suka sekali baca cerita kamu :) ini udah update, gomapta!

*kim EunSoo ah : ne, ini udah lanjut, chingu-sshi :) menarik? benarkah? *plak* gamsahamnida chingu-sshi :)

*Maharu P Natsuzawa : anni, rin tidak berpikir begituuu.. ini rin manggil apa ke chingu-sshi? Maharu-san atau yang lain? :) kalau tangkap-tangkapan masih nanti chingu-sshi, ini masih permulaan :D hehe :) ah, gamsahamnida chingu-sshi, untuk nanti rin minta tolong sekalii

*Kim Furisanchypo : yay, Sungmin jadi devilmode *plak* maybe sad, maybe happy, i still not decide it, chingu-sshi :) gamsahamnida ya :D

*Uyung-chan : ne, gamsahamnida, chingu-sshi :) cerita ini masih banyak kesalahannya ^^ ini udah update, :D

*Kuchiki Hirata : anni, rin belum pantas dibilang bagus Kuchiki-sshi ^^a gamsahamnida ya :D itu cuma penghias cerita, adegan bunuh-bunuh dijelaskan singkat aja :) karena rin tidak terlalu menonjolkan bunuh-bunuhannya Kuchiki-sshi, saya kan ngga bisa dan ngga suka genre begituan :D sekali lagi gomawo, Kuchiki-sshi :)


R/N

Apa ada yang ketinggalan? Kalau ada kesalahan nama ataupun penulisan, mohon maaf ya chingudeul-sshi. maklum, saya juga manusia penuh kesalahan :)

Jeongmal gamsahmanida atas semangat, komentar, dan reviewsnya chingudeul-sshi :)
Maaf kalau ceritanya aneh begini, chingudeul-sshi :) Hope you'll like it, enjoy it, and wait it :) *plak*

And mind to review again, please?

Gomapta! Joahaeyo :D


Karena seorang penulis tak akan berarti tanpa adanya pembaca
:)