A Super Junior's Fanfiction

Super Junior
©
Themselves and SM Entertaintment


Warns :
Many bad things
are mine,
and
if you don't like this pair, or this story,
I beg you, do not read

Thanks for your time, may you'll enjoy it :)


[ Their Forbidden Love ]

with
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
Lee Hyukjae as Lee Sungmin's Dongsaeng
and
the other members
inside


.

* Chapter 2 *

Di pagi hari yang hangat, lembut dan cerah serta dihiasi sepoian kelopak bunga Sakura yang berguguran, terlihatlah sebuah sekolah yang tertutup gerbang utamanya. Terlihat sepi memang, jika kau tak memperhatikan bagian dalam sekolah menengah tingkat atas yang didominasi warna putih dan hijau lembut itu.

Banyak spanduk-spanduk penghias yang bertuliskan 'Selamat atas Kelulusan Kalian!'—dan banyak yang lain—membuat suasana sekolah terlihat semarak. Bendera-bendera kecil yang berwarna-warni terlihat memenuhi sepanjang jalan masuk sekolah, mulai dari gerbang masuk, sampai ke daerah bangunan utama sekolah.

Tapi kenapa sekolah ini terlihat lengang? Tidak ada murid yang terlihat sedari tadi. Tidak ada suasana belajar yang terlihat di lapangan olahraga maupun di ruang kelas siswa. Bahkan para guru pun tak terlihat di dalam ruangannya masing-masing.

Hm, kenapa?

Alasannya adalah karena sekarang seluruh siswa dan siswi Success Museum High School itu sedang berkumpul di ruang aula sekolah yang berada di dalam bangunan utama—yang terletak di lantai dua.

Mereka semua memakai jas hitam serta celana hitam untuk siswa, dan blazer hitam, rok dan kaos kaki selutut berwarna senada dengan blazernya untuk siswi. Tak lupa setelan putih yang mereka pakai di dalam jas maupun blazer mereka.

Di saku masing-masing siswa terdapat setangkai mawar merah dengan aksen daun hijau, dan pada blazer masing-masing siswi terdapat setangkai kecil mawar putih yang melekat indah di saku depan seragam mereka.

Raut wajah mereka tak lepas dari rona kebahagiaan dan senyum lebar—bahkan tangis haru—selama seluruh seonsangnim mereka mengucapkan selamat kepada 'anak-anak' mereka yang telah lulus dan akan meninggalkan sekolah ini. Tak lupa pula sang Kepala Sekolah menyampaikan bahwa jalan yang harus mereka tempuh masih sangat panjang.

Setiap orang mendengarkannya dengan seksama, mencoba memasukkan ke dalam tekad dan hati mereka tiap kata bijaksana yang dikatakan 'orang-tua' mereka selama di sekolah ini.

Namun ternyata tidak semua orang mendengarkan.

Sesosok namja yang memiliki tinggi sekitar 170 cm lebih, telah meninggalkan barisan kelasnya yang rapi dengan mimik tidak bersalah. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya—celana yang memperlihatkan kakinya yang cukup panjang itu—dengan santai.

Murid-murid yang berasal dari kelas lain menatap heran dan tak mengerti mengapa seseorang seperti namja itu malah melakukan hal yang tak sopan seperti yang dilakukannya barusan. Padahal, dia terkenal dengan julukan 'anak kesayangan guru' karena otaknya yang terkenal cerdas.

Sikap dinginnya itu pun menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para yeojya yang mengaguminya. Yah, itulah beberapa anggapan dan respon dari orang-orang yang tidak terlalu mengenal namja berambut coklat-kehitaman itu.

Tapi tidak begitu respon dari kelasnya sendiri.

Setiap orang yang berada di barisan kelasnya akan membukakan jalan saat dia mendekat, serta mengucapkan sepatah kata yang terdengar seperti 'aku titip salam ya' kepada namja berambut coklat-kehitaman itu.

Dan ucapan tadi dibalas senyum kecil yang terukir di bibir tipis namja itu.

Seonsangnim yang melihat si namja bertubuh tinggi itu, juga membiarkan saja tindakan kurang sopan dari murid mereka itu. Mereka seakan mengizinkan 'anaknya' itu untuk berbuat semaunya.

Mungkin terlihat seperti meng–anak–emaskan salah seorang murid. Tidak salah untuk berpikir begitu. Tidak salah, sungguh.

Tapi, itu bukan alasan sebenarnya.

Mereka semua seakan membiarkan namja itu, karena mereka mengerti apa alasannya untuk berbuat tidak sopan seperti itu. Karena mereka mengetahui hari apa ini. Karena mereka mengerti kebiasaan namja tampan itu setiap upacara kenaikan ataupun kelulusan selama beberapa tahun terakhir.

Karena hari itu... selalu bertepatan dengan tanggal upacara kelulusan ataupun kenaikan kelas.

Ya, hari itu.

Hari di mana seorang Cho Kyuhyun—nama namja tadi—,kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya tujuh tahun yang lalu. Tepat pada hari ini.

.

.

Kyuhyun melangkahkan kakinya ke bangunan yang tak jauh dari sekolahnya. Bangunan yang merupakan Success Museum Primary School itu terlihat lengang karena seluruh siswa sedang menikmati liburan akhir tahun ajaran.

Success Museum High School adalah sekolah terlengkap di daerah Seoul. Karena mereka memiliki taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan juga sekolah menengah atas dalam satu area yang sangat luas.

Sistem sekolah ini tentu saja merupakan sistem eskalator. Namun, untuk siswa-siswi lain yang ingin masuk ke dalam jajaran pelajar SM, mereka akan mendapatkan banyak tes masuk terlebih dahulu sebelum dapat menyandang gelar SM's Students. Dan yang dapat diterima hanya 15 dari ratusan siswa yang mendambakan sekolah ini.

Ketat sekali, huh?

Tentu saja. SM High School adalah sekolah favorit di daerah Seoul. Dengan fasilitas terlengkap, kualitas pendidikan terbaik, serta tata etika yang terpelajar membuat sekolah ini menjadi salah satu tujuan utama para orang tua untuk menyekolahkan anak mereka.

Mengapa tidak dari taman kanak-kanak saja mereka mendaftar?

Karena, tes pada saat anak-anak masih kecil itu lebih berat dan menyusahkan.

Tentu bukan biaya masalahnya.

Sejak awal mereka masuk ke sekolah ini, ada kemampuan khusus yang harus dimiliki tiap satu siswa. Dan di umur mereka yang masih begitu belia, wajar saja jika saat itu kemampuan mereka belum ditemukan ataupun disadari 'kan?

Karena itulah, tiap awal ajaran taman kanak-kanak SM selalu hanya memiliki murid tak lebih dari dua puluh orang. Dan dua puluh anak-anak itu bukan anak-anak biasa, tentu saja.

Mereka memiliki keahlian masing-masing yang unik, dan menjadi ciri khas mereka.

Baiklah, kembali ke pada namja Cho tadi.

Kali ini dia sedang berjalan pelan di sebuah koridor yang di dindingnya dihiasi berbagai macam hasil kreativitas anak murid sekolah ini. Ada yang menggambar siklus metamorfosis kupu-kupu, ada yang membuat lukisan dinding yang acak-acakan namun terlihat sekali permainan warnanya, dan ada banyak lagi yang lain.

Kyuhyun berhenti di sebuah dinding yang ditempeli banyak sekali gambar-gambar lucu. Tujuh tahun yang lalu, terpasang sebuah lukisan hasil goresan kuas orang yang disayanginya di sini.

Senyum itu muncul lagi. Tipis, dan penuh kesakitan.

Jemarinya menyentuh dinding itu pelan. Menyentuh tempat lukisan khayalan yang tercipta dalam memorinya itu pernah berada. Sentuhan itu begitu pelan dan lembut. Mata beriris obsidian itu menyendu saat dia tersadar.

Bukan lukisan itu yang berada di sana.

Yang ada di sana hanya sebuah gambar minimalis berbentuk bunga yang sedang mekar, di sisi bawah gambar itu terlihat sebuah tulisan kecil yang terbaca 'Shin Chae Kyoeng, V-1' oleh namja Cho itu.

Jemari itu pun terjatuh kembali ke sisi tubuhnya dengan lemah.

Lirihan kecil tercipta dari namja tampan itu dan diiringi dengan senyum sedih yang kembali tercipta sesaat sebelum bibir itu bergerak pelan. "Bahkan aku masih mengingatnya dengan jelas, hyung."

Kali ini, dia berhenti di depan sebuah pintu geser. Dia sedikit ragu-ragu untuk membukanya—terlihat dari bahasa tubuhnya yang berdiri mematung di depan pintu itu. Tangannya terulur lambat, untuk menggeser pintu tempatnya masuk.

Suara gesekan yang khas tercipta kala tangan itu mendorong sang pintu untuk membukakannya jalan.

Kyuhyun sedikit menundukkan tubuhnya saat memasuki ruangan kelas yang silau itu. Dia terdiam, dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mungil namun rapi itu. Aroma khas dari bunga matahari yang ditanam di samping kelas menguar segar memenuhi ruangan, menyapa Kyuhyun yang masih terpaku.

Dia tidak mengerti, mengapa suasana kelas ini begitu sama? Mengapa tidak berubah sama sekali? Padahal... sudah tujuh tahun dia meninggalkan kelas ini.

Ah, sebenarnya tiap tahun, pada tanggal yang sama Kyuhyun memang selalu pergi ke kelas ini. Tapi, dia sama sekali tidak menyangka suasana ini tidak pernah berubah. Masih sama seperti terakhir kali dia mengingatnya.

Atau memang hatinya yang tidak rela mengubah semua hal itu?

Namja itu melangkahkan kakinya pelan menuju meja yang ada di dekatnya. Menyentuhnya perlahan. Dan terus seperti itu hingga dia sampai di barisan kursi paling belakang. Tempat yang paling nyaman untuk tidur saat dia sedang bosan mendengarkan pelajaran—tanpa diketahui gurunya.

Dan, tempat yang paling nyaman untuk memandangi sosok seseorang yang dia kasihi.

Perasaan sesak itu mengaburkan matanya sekarang. Selalu seperti ini, selalu saja menyesakkan dan menyakiti hatinya, mencekat tenggorokannya, bahkan mencuri pasokan udara yang harus dihirupnya.

Sesak.

Kyuhyun meremas dadanya kuat. Sudah lewat tujuh tahun, tapi tetap saja rasa sakit itu tidak bisa hilang. Kyuhyun sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan kesakitan itu.

Dia sudah memukul dadanya berulang kali untuk mengalahkan rasa sakit itu.
Dia sudah memaksakan diri untuk tidur dan mencoba menghindari kesesakan itu.

Bahkan kakaknya sudah meminta bantuan dokter maupun psikiater untuk membantu adiknya itu.

Tapi hasilnya? Nihil.

Tidak ada.

Bahkan rasa itu semakin mengakar kuat di tiap emosi rapuh yang disimpannya dalam-dalam.

"Minnie-hyung," isaknya dalam. Dia tidak mampu mengendalikan dirinya—lagi.

"Aku... sekarang sudah lulus dari sekolah kita, Minnie-hyung. Kau tahu? Hari ini, upacara kelulusan kita dan yang lain."

Namja berambut coklat-kehitaman itu mengerjapkan kedua matanya cepat. Mencoba mengusir butiran air asin dan bening yang menggenang di kedua sudut bola matanya.

"Ah, chingudeul juga mengirim salam mereka untukmu, hyung. Mereka merindukanmu," lirih Kyuhyun pelan. Hatinya terasa begitu berat untuk dirasakan sekarang.

Begitu juga aku yang rindu padamu.

"Kalau saja kau masih di sini," digenggamnya ujung jasnya sambil menarik napas. "kita pasti akan melakukan ritual kita ya, hyung?"

Senyum bahagia merekah perlahan di bibirnya saat mengingat kenangan yang pernah mereka lalui bersama.

"Kita akan makan-makan bersama di rumahku, kemudian di rumah hyung. Makan sampai kita kekenyangan," katanya riang.

Namun ekspresi itu hanya sebentar. Karena binar bahagia itu meredup lagi karena kenyataan yang menghantamnya kuat.

Impian itu tidak akan pernah terwujud lagi.

Kyuhyun menahan napasnya yang tersendat-sendat itu. Dia tidak terdengar seperti orang yang menangis. Bukan. Dia tidak selemah dulu, dia sudah mulai dewasa. Dan air matanya seakan terlalu angkuh untuk jatuh sekarang.

Menangis adalah hal yang tabu bagi seorang namja sepertinya.

Dan semua alasan konyol itu hilang saat dia berada di sini. Saat-saat di mana dia mengembalikan ingatannya kepada orang yang disayanginya.

Saat dia tersadar kembali, akan pahitnya kenyataan.

Getaran suaranya yang tertahan dan tersendat itu membuat yang mendengarnya akan merasakan bagaimana hatinya sekarang. Meski tujuh tahun telah terlewati, kesakitan dalam hati itu tidak akan pernah hilang.

Kadang, tangisan itu diperlukan untuk melepaskan hati yang terkukung dalam rasa rindu maupun pedih.

Selama apapun waktu telah berjalan, ada kepingan hati yang bila sudah rusak ataupun retak tidak akan pernah bisa sembuh lagi. Dan Kyuhyun memiliki retakan hati itu. Yang tak akan pernah bisa kembali baik sebelum penyebab itu kembali menyembuhkannya.

Sebelum orang yang dikasihinya itu kembali padanya, hatinya akan tetap retak dan kosong.

"Minnie-hyung... aku percaya kau masih hidup. Aku tahu bagaimana kau, hyung. Kau tak akan semudah itu menyerah. Iya kan, hyung?" tanya Kyuhyun pada kebisuan di sekelilingnya.

Seyakin itu dia bertanya pada keheningan. Bahkan kilau matanya yang semula memudar, kini kembali bercahaya kecil saat menanyakan pertanyaan itu pada sang hening.

Sudah puluhan kali—bahkan ratusan, mungkin ribuan kali—pertanyaan itu terlontar dari bibirnya, namun sebanyak itu pula jawaban tak pernah datang kepadanya. Keyakinan yang susah payah dibangunnya kini mulai runtuh.

Hyungnya memang sudah meninggal.

Beribu kali bisikan itu ditepisnya jauh-jauh. Dia tidak ingin percaya. Dia tidak mau. Tapi kenyataan seakan menepiskan keyakinan Kyuhyun dan malah berkata sebaliknya.

Sudah tujuh tahun dia menunggu kabar baik yang akan melegakan seluruh sesaknya.
Sudah tujuh tahun dia memandangi kediaman Lee yang kini mulai dimakan usia itu—tidak ada yang diizinkan menempati kediaman itu oleh keluarga Cho, terutama oleh Kyuhyun.

Sudah tujuh tahun dia duduk tiap malam di beranda kamarnya yang berhadapan dengan kamar Sungmin. Menunggu terus hingga senyum hangat milik hyungnya itu menyapanya dan suara lembutnya yang menyuruhnya untuk tidur.

Tapi selama tujuh tahun itu pula, tidak ada yang terjadi. Tidak ada kabar baik, apalagi senyum hangat yang dirindukannya itu.

Kyuhyun mengepalkan kedua telapak tangannya. Jemari berkulit pucat itu semakin pucat saat kepalan itu mengerat. Membuat kuku-kuku jemarinya melukai telapak tangannya sendiri.

Kyuhyun tidak rela.

Dia tidak pernah rela atas kepergian Sungmin. Dia membenci siapapun yang berani mengambil dan merenggut hyungnya itu darinya. Ingin sekali dia membunuh ataupun membalas rasa sakitnya ini pada orang yang bahkan dia tidak tahu siapa.

"Hyung... apa yang harus kulakukan? Apa hyung?" sebutir air mata mengalir lembut, seakan memahami perasaan namja ini.

"Keyakinanku, mulai hancur. Bisikan itu terus berputar dan bersarang di otakku."

"Membuatku mulai yakin kalau kau benar-benar telah meninggalkanku di sini," Kyuhyun menutup wajah memerahnya dengan satu telapak tangannya. Sedangkan yang lain masih mengepal kuat di sisi tubuhnya.

"Aku sakit, hyung... sungguh sakit," lirihnya pilu.

Isakan itu membuat tubuhnya bergetar. Dia bahkan sampai memegang kursi yang dulu pernah didudukinya untuk menyangga tubuhnya yang terasa lunglai itu. Butiran air kembali jatuh perlahan, meninggalkan jejak kecil di lantai yang menjadi pijakan Kyuhyun.

Kyu.

Kyuhyun mendongakkan wajahnya yang terlihat memerah dan basah itu. Dia seakan mendengar suara orang yang sangat dirindukannya.

Kyu.

"H-hyung?"

Sudah, Kyu.

"Hyung?"

Kyuhyunnie, jangan menangis.

"Minnie-hyung?"

Kyuhyun berlari menuju jendela tempat suara itu berasal. Dia membuka jendela itu dengan kasar dan menolehkan kepalanya dengan cepat. Mencoba mencari suara yang telah membuat hatinya berdesir itu. Namun, sebuah helaan napas kecewa muncul saat dia mendapati apa yang dicarinya tadi.

Tidak ada apa-apa. Ah, tepatnya tidak ada siapa-siapa.

Yang ada hanya hamparan bunga matahari yang terlihat menyilaukan dan juga sebuah kursi taman yang diletakkan di samping kelas mereka. Saat dia melihat ke arah kursi itu, bola matanya membelalak lebar.

Kyuhyun terperangah.

Dia seperti melihat bayangannya di sana dengan... Sungmin. Mereka duduk berdampingan, dan Kyuhyun terlihat seperti sedang menangis.

Namja Cho itu ingat dengan jelas, kilasan memori apa yang ada di hadapannya sekarang itu.

Itu... saat mereka masih berumur delapan tahun.

.

.

Di bangku taman itu, kedua namja kecil yang memakai pakaian santai sedang duduk berhadapan. Saat mereka menyantap bekal makan siang mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka menunjuk wajah yang lain dengan wajah panik.

"Hyung! K-kau berdarah!"

Namja yang diberitahu itu segera menyentuh aliran yang terasa keluar dari hidungnya dengan jemarinya. Dan dia sedikit terkejut melihat cairan kental berwarna merah pekat di telunjuk dan ibu jarinya itu.

Kyuhyun menangis pelan saat melihat cairan berwarna merah pekat mengalir dari kedua hidung Sungmin. Ini saat pertama kali bagi Kyuhyun kecil melihat hyungnya mengalami pendarahan hidung yang biasa disebut 'mimisan' itu.

Sungmin mengambil tisu di saku celananya dengan cekatan dan meletakkannya dengan cepat di ujung hidungnya. Menekannya perlahan, mencoba menahan aliran darah yang seenaknya keluar.

"Gwenchana, Kyu," jawab Sungmin sambil tersenyum.

"S-sakitkah? Kau terlihat... pucat, Minnie-hyung."

"Jeongmal gwenchanayo, Kyuhyunnie. Percayalah padaku," katanya sambil mengelus kepala Kyuhyun lembut. Dan senyum itu masih tetap terukir indah di wajah ramah Sungmin.

"Jinjja?" tangis Kyuhyun mulai mereda saat melihat senyuman hangat hyungnya itu.

"Ne. Sudah, jangan menangis lagi ya? Aku benar-benar tidak apa-apa kok."

Tetapi, suara lembut dan menenangkan milik Sungmin belum berhasil mencegah Kyuhyun menangis. Karena, namja kecil bermarga Cho itu melihat tisu yang dipakai Sungmin sudah mulai penuh dengan darah.

"Anni, hyung. Uuukh, darahnya banyak sekali, hiks."

"Heyo!"

"N-ne, Minnie-hyung?"

"Kalau kau menangis aku jadi takut, tahu! Kau mau aku menangis juga?"

Dan 'ancaman' itu berhasil membuat Kyuhyun terdiam dan segera menghapus jejak air matanya yang tercetak jelas di wajah tampannya itu.

"N-ne! Hyung jangan menangis dong!"

"Seharusnya aku yang bilang begitu, pabboya Kyu."

"Hyung nado pabbo! Ah, kita ke ruang kesehatan ya?"

"Ne."

Sesaat sebelum mereka meninggalkan bangku itu, Sungmin menyentuh pipi Kyuhyun lembut. "Aku tidak suka melihatmu menangis, Kyu. Jadi, jangan menangis lagi ya? Arra?"

"Arrasso. Dan Minnie-hyung juga tidak boleh menangis. Aku juga sedih kalau lihat hyung menangis. Arra?"

"Arrayo, Kyuhyunnie. Asal kau tepati permintaanku tadi."

"Deal!"

Mata kelinci polos milik Sungmin sedikit menyipit saat mendengar kata yang masih belum dikenalnya itu.

"Heh? Maksudnya apa Kyu?"

"Aigoo! Minnie-hyung lucuuu!"

Dan Sungmin semakin tidak mengerti saat melihat Kyuhyun yang tadi menangis sekarang malah tertawa lebar dengan rona merah khasnya saat sedang bahagia.

.

.

Setitik air dari bola mata kehitaman jatuh ke lengan jas hitam milik Kyuhyun saat melihat kilasan kenangan itu.

Dia terpaku.

Kenangan itu seakan menyampaikan satu hal yang dilupakannya. Keinginan hyungnya itu... permintaannya agar seorang Kyuhyun tidak menangis.

Caranya yang jujur dan blak-blakan, khas kepolosan seorang anak kecil. Senyumnya yang lembut, dan sentuhan jemarinya yang hangat bahkan terasa begitu nyata untuk Kyuhyun sekarang.

Aku tidak suka melihatmu menangis, Kyu. Jangan menangis ya? Atau kau ingin aku menangis juga?

Seukir senyum manis tercipta saat gema khayalannya bersuara lagi. Kali ini, bukan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Tapi rasa aman dan hangat. Air matanya masih menyeruak keluar, tapi kali ini menyiratkan kebahagiaan.

Minnie-hyung masih hidup. Dia masih hidup.

Seperti ada keyakinan lagi dalam dirinya yang tumbuh setelah tadi mulai hancur perlahan. Dia memejamkan matanya sejenak dan mendongakkan kepalanya ke arah langit. Menatap silaunya langit sekaligus menikmati harumnya aroma bunga matahari yang berada begitu dekat dengannya.

Senyum tanpa kesedihan itu kali ini muncul. Benar-benar senyum—bukan paksaan.

"Aku akan berusaha menepati janjiku, Minnie-hyung—"

Kyuhyun menghela napasnya panjang. Membenahi wajahnya yang sempat kacau, mengusapnya dengan ujung lengan jasnya. Ada kilau baru yang muncul di mata beriris obsidian itu.

"—dan izinkan aku percaya, kau masih hidup. Entah di mana."

Aku akan menemukanmu.

.
I dont know why nor the reason
The memories about you that still remains inside me
always make me cry and sad

But in the same time,

You make me smile as good as you make me cry
You make me happy as good as you make me sad

[ Kyuhyun ]
.


Five years passed and,
Sungmin still can not be found by Kyuhyun.


.

"Cho-sshi!"

"Ne?"

"Kau dipanggil Soo Man-sshi ke ruangannya sekarang. Arra?"

"Arra, gamsahamnida Kim-sshi."

"Cheon, Cho-sshi."

Namja bernama Kyuhyun yang semula ingin duduk santai barang sejenak di ruangannya itu mendengus pelan saat mengetahui bahwa atasannya ingin bertemu dengannya. Diusapnya helai rambutnya perlahan, mencoba menghilangkan pikiran buruknya atas kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga sang atasan memanggilnya.

Ya.

Sekarang namja Cho itu sudah berumur dua puluh dua tahun. Dia telah menjadi salah satu anggota Kepolisian Seoul yang bertugas di bagian kriminal.

Kini, dia sudah memiliki tujuan untuknya tetap bertahan.

Yaitu, untuk mencari pelaku kasus dua belas tahun yang lalu. Pelaku perampokan, pembunuhan dan dugaan penculikan terhadap keluarga Lee. Dia sangat ingin menangkap pelaku itu hidup maupun mati.

Karena dia yakin, sangat yakin. Bahwa Sungmin masih tetap hidup, meski dia tidak tahu di mana. Dan dengan mengetahui siapa pelaku kejahatan brengsek itu, mungkin Kyuhyun akan menemukan satu titik terang yang akan menuntunnya menuju Sungmin.

Alasan itulah yang membuat Kyuhyun bekerja keras untuk menjadi andalan satuan distrik Kriminal itu. Dan ini... adalah salah satu bentuk kesetiaan Kyuhyun pada sosok Sungmin dalam hatinya.

Janji mereka waktu kecil.

Cukup lama dia bernostalgia dengan memorinya, hingga tak terasa dia sudah sampai di depan ruangan atasannya itu. Diketuknya pintu kayu berwarna hitam itu dengan pelan.

"Masuk."

Cklek.

Suara khas itu tercipta saat Kyuhyun menekan kenop pintu ke arah bawah. Dia mendorongnya pelan dan mendapati wajah atasannya yang terlihat sedang menandatangani berkas—yang entah apa isinya.

Mendapati sosok yang dicarinya, namja paruh baya itu mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun sekilas. "Cho Kyuhyun-sshi?"

"Ne, Soo Man-sshi."

"Silakan duduk," kata namja bernama lengkap Lee Soo Man itu. Saat Kyuhyun duduk di kursi yang berhadapan dengannya, jemari Soo Man membenarkan letak kacamatanya.

"Kau tahu kenapa kau dipanggil?"

Kyuhyun menggelengkan kepalanya singkat. "Anniyo, Soo Man-sshi. Apa saya berbuat salah?"

Kali ini kedua lengan namja paruh baya itu sudah bertumpu di atas meja kerjanya. Mengaitkan kedua telapak jemarinya dan dia meletakkan dagunya di atas punggung tangannya.

Satu jemarinya yang memegang bolpoin—yang digunakannya untuk tanda tangan tadi—teracung ke arah Kyuhyun.

"Kau... diangkat menjadi anggota penyelidikan kasus berat, Cho-sshi."

Kyuhyun terkejut.

Anggota penyelidik untuk bagian kasus berat adalah anggota pilihan. Simpelnya, mereka disebut anggota elite oleh polisi yang lain. Mereka semua ahli di bidang masing-masing. Salah satu hyungnya pun masuk ke dalam jajaran lima orang elite itu.

Hyung yang dimaksud Kyuhyun di sini adalah Choi Siwon. Namja rupawan itu diangkat menjadi salah satu analysis dan memiliki gelar terkuat yang dimiliki Seoul sekarang.

Tentu saja, itu rahasia.

Sudah banyak kasus tak terpecahkan yang mampu mereka selesaikan. Dengan dua orang ahli analisa, dua orang ahli senjata, dan seorang ahli strategi—yang terbaik dari seluruh anggota Kepolisian—tentu saja pekerjaan yang sangat sulit bagi orang awam itu terasa lebih mudah untuk mereka.

Dan ini adalah salah satu divisi yang sangat diharapkan Kyuhyun untuk bisa dimasuki olehnya. Karena—sudah menjadi rahasia umum—di divisi ini terdapat begitu banyak informasi yang tidak boleh dibocorkan kepada orang lain selain kepada atasan dan juga kepada masing-masing anggota.

Mungkin saja... ada petunjuk tentang kasus itu.

"Cho-sshi?" tanya namja paruh baya itu. rupanya dia mencoba menyadarkan Kyuhyun yang entah mengapa malah melamun.

"N-ne? Apa anda serius?"

Soo Man hanya menganggukkan kepalanya sekilas. "Kau diangkat karena kemampuan strategi dan taktikmu yang cerdas, Cho-sshi. Mungkin dengan adanya kau, salah satu anggota divisi ini akan terbantu."

"Arrasso, Soo Man-sshi. Gamsahamnida sudah mempercayakan ini pada saya."

"Ne, dan kau juga harus waspada. Karena, kita sedang mendapat ancaman baru yang sulit."

Kyuhyun mengangguk. Beberapa minggu ini sudah banyak sekali kasus pembunuhan baru dan diyakini dilakukan oleh satu orang pelaku yang sama. Dan yang membuatnya tidak mengerti adalah cara membunuh dan juga target korban yang dibunuh.

Cara membunuh yang halus, dan mematikan. Dengan satu tembakan tepat di jantung. Benar-benar tepat, karena tidak ada bekas tembakan lain selain di bagian dada sang korban.

Dan yang menjadi targetnya adalah para perampok kelas kakap—yang sudah lama diburu oleh pihak Kepolisian dan tak pernah berhasil ditangkap oleh mereka.

Dengan caranya yang rapi, tanpa tenggang waktu yang jelas untuk melakukan pembunuhan, dan juga orang yang menjadi targetnya, Kyuhyun sendiri bingung dan tidak mengerti.

Orang ini ada di pihak mana?

"Saya tahu, Soo Man-sshi."

"Kemunculan pembunuh misterius yang mengincar dan membunuh para perampok kelas kakap yang kita tak pernah bisa kita tangkap," lelaki paruh baya itu mengusap dahinya pelan. Dia pusing. "Aish. Siapa sebenarnya dia? Di pihak mana sebenarnya dia?"

Namja Cho itu mengangkat kedua bahunya pelan. "Saya juga tidak mengerti."

Soo Man mengerjapkan kedua matanya yang ada di balik kacamata itu. "Baiklah, silakan kembali ke pekerjaanmu, Cho Kyuhyun-sshi. Kau bisa mulai bergabung dengan mereka mulai lusa."

"Ne, Soo Man-sshi. Gamsahamnida, permisi."

Kyuhyun bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat sejenak pada Kepala Kepolisian yang merupakan atasannya itu. Dia membalikkan tubuhnya dan membuka pintu tempat dia masuk tadi dengan pelan.

Setelah di luar, dia berdiri diam sejenak sebelum mengambil ponsel hitamnya dari saku celananya.

Ditekannya nomor yang sudah sangat dikenalnya. "Yeoboseyo, Hyukkie-hyung."

"..."

"Um, kita makan siang bersama yuk. Ajak Ahra-noona juga. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian."

"..."

"Ne. Kita bertemu di kedai biasanya ya, hyung."

"..."

"Yak, kutunggu lima belas menit lagi."

"..."

"Ok, gomawo Hyukkie-hyung."

Kyuhyun menutup flap ponselnya dengan wajah puas. Akhirnya, ada sedikit kabar baik yang mungkin dapat disampaikannya kepada Hyukkie-hyung—dongsaeng dari Sungmin—setelah dua belas tahun asa tanpa kepastian selalu menghantui mereka.

Setelah kejadian itu, keluarga Cho dengan senang hati dan antusias menerima Lee Hyukjae—Hyukkie—sebagai bagian dari keluarga mereka. Awalnya, namja yang masih berumur sepuluh tahun itu menolak dengan halus atas kebaikan tetangga mereka itu.

Namun, orang tua Kyuhyun dan Ahra bersikeras untuk merawat Hyukkie yang merupakan putra dari keluarga Lee, sahabat baik orang tua Ahra dan Kyuhyun.

Kyuhyun ingat sekali saat-saat awal Hyukkie-hyung tinggal di rumahnya. Namja itu tidak pernah bisa tidur pada saat malam mulai merajai. Mendengar satu bunyi kecil yang asing saja dia langsung terjaga dan berteriak.

Hal itu membuat seluruh keluarga Cho merasakan betapa dalamnya luka yang diberikan oleh para perampok brengsek dan tak bertanggung jawab itu. Ahra bahkan menemani 'dongsaeng'nya itu sampai dia benar-benar terlelap.

Dan Kyuhyun semakin mendendam pada siapapun yang telah membuat hancur perasaan Hyukkie-hyung dan juga yang telah merenggut orang yang sangat berarti baginya.

Deretan gigi itu berbunyi pelan saat Kyuhyun menggemeretakkan gigi atas dan bawahnya. Mata hitamnya berkilat marah. Penuh kebencian mendalam yang asalnya dari lubuk hatinya.

Damn.

Namja Cho bertubuh tinggi itu melangkahkan kaki jenjangnya untuk segera menemui dua orang yang kini mungkin sudah menunggu di tempat yang disebutkannya tadi. Mengacuhkan rasa benci yang semakin menggerogoti hatinya itu.

.

.

Drap Drap Drap.

DOR!

Sesosok namja berbalut jas hitam itu terlihat menurunkan tangannya perlahan setelah teracung untuk menembakkan satu timah panas. Sosok yang lain—yang terkena sang timah panas—tengah menggelepar dengan lirihan memilukan.

Yang tentu saja tidak membuat sang penembak iba.

Sosok bertubuh proporsional itu mengancingkan kembali jasnya yang tadi dilepaskannya—untuk memudahkannya bergerak. Sinar matahari yang panas merembes masuk ke celah-celah tempat orang yang ditembaknya tadi mencoba melarikan diri darinya.

Membuat jalan gelap itu terlihat seperti ruangan remang-remang yang biasa ada di bar.

Dia melangkahkan kakinya dengan pasti menuju ke tubuh yang mulai melemah itu.

Sedikit menunduk, dilihatnya wajah memelas dari orang yang menjadi targetnya kali ini. Mata itu penuh dengan harapan 'tolong jangan bunuh aku'.

Dan itu membuat namja berjas hitam itu merasa muak.

Diinjaknya telapak tangan yang tergeletak lemah di sisi tubuh korbannya itu. Lirihan kecil tercipta dari bibir namja dewasa yang telah meregang nyawa itu. Dan namja yang menutupi bagian bawah wajahnya itu hanya tersenyum sinis. Tentu saja, tanpa dapat dilihat oleh sang korban.

"Munafik," desisnya penuh kebencian.

Beberapa detik kemudian, mata yang memohon kehidupan lebih panjang itu menutup perlahan. Napas tersendat yang tadi masih tersisa di tubuhnya hilang sudah.

Namja yang mengenakan penutup wajah itu melepaskan injakannya dari telapak tangan sang korban.

Dimasukkannya kembali pistol yang menjadi rekannya itu ke balik jas hitamnya. Rambut hitamnya terlihat sedikit berantakan karena dia sempat berlari untuk mendapatkan namja yang sudah tak bernyawa itu.

Dilepaskannya penutup wajahnya sambil meminum sebuah obat kecil berwarna merah. Dia merasa sedikit pusing setelah aksi kejar-kejaran tadi, dan dia mengerti itu salah satu sinyal tubuhnya.

Dan apa yang terlihat setelah penutup wajah itu terbuka?

Seukir wajah rupawan, dengan mata hitamnya yang mempesona seperti mata seekor kelinci yang manis. Dan bibir berwarna alami yang sungguh mendukung penampilannya. Hidungnya yang kecil dan sedikit bangir, tak berlebihan. Semuanya terasa pas dengan kulit putih yang bersinar lembut dalam gelap itu.

Yang kurang hanyalah, ekspresi kebahagiaan yang harusnya menghiasi keindahan wajah elok itu.

Ekspresi yang sekarang melekat di wajah manis sekaligus terlihat seksi itu adalah ekspresi datar. Dingin... dan nyaris tanpa ekspresi sama sekali. Dia hanya menatap datar pada sosok berbalut pakaian berbahan sweater yang terkapar di hadapannya itu.

Tak ada kata yang keluar dari bibir kecil itu. Tak ada desah kepuasan atau rasa bahagia. Yang ada hanya kehampaan yang tergambar jelas di wajah rupawan itu.

Tapi, siapa yang tahu kalau sekarang hatinya tengah menjerit pilu?

Dicengkeramnya lengan kirinya dengan jemari-jemari kanannya. Membuat getaran pelan saat jemari itu mencengkeram kuat lengannya yang terbalut jas hitam itu. Sebuah lirihan begitu pelan terdengar dari sang namja berambut hitam.

"Appa, Eomma, Hyukkie... aku, akan membalaskan kesakitan kita."

Tiba-tiba sebuah ingatan lain menembus relung kegelapan hatinya. Suara riang seorang anak kecil, yang diingatnya begitu jelas seperti dia mengingat kesakitan hatinya selama dua belas tahun terakhir.

...-hyung!

Mata indah itu mengerjap pelan saat suara yang dirindukannya itu terdengar. Sebuah senyum kecil tergambar di wajah yang datar tadi.

"Nae, saengi?" tanyanya lembut pada suara khayalannya itu.

Lama tak ada jawaban, dan tentu saja memang seharusnya tidak ada jawaban. Senyum tadi kemudian hilang seakan merutuki atas kebodohan yang dilakukannya. Namja itu kemudian membenahi pakaiannya sambil melangkah keluar dari tempat perburuannya tadi. Dilewatinya berbagai tumpukan sampah yang terletak di sekitar jalan kecil itu.

Ditinggalkannya dompet milik namja dewasa yang sudah tidak bernyawa tadi di tengah jalan yang terlihat ramai itu.

Meninggalkan sebuah petunjuk bagi para polisi yang mungkin sekarang sedang memburu namja bernama Joo Ah Eun selama dua bulan lebih. Tepatnya, buruan yang sudah dihabisinya terlebih dahulu.

Joo Ah Eun, seorang perampok sekaligus pembunuh bayaran yang telah banyak merenggut nyawa korbannya di bagian selatan Seoul. Dia terkenal lihai dalam menyamar dan melakukan berbagai perampokan dan berbagai kejahatan lainnya.

Karena itulah dia sangat sulit untuk ditangkap pihak Kepolisian.

Namja yang kini sudah masuk ke dalam mobil sewaan berwarna hitam mengkilap itu mendesis saat kata 'kepolisian' dan 'perampok' mendengung di pikirannya. Dia menghirup udara di sekitarnya perlahan untuk mengisi paru-parunya yang sedikit terasa sesak karena kilasan ingatan buruk mulai berputar bagai video di kepalanya.

"Berterimakasihlah padaku, Kepolisian brengsek."

Jalan kecil itu terletak di tengah-tengah keramaian menuju stasiun kereta api. Sehingga meskipun ada suara melengking seperti suara tembakan yang diciptakannya tadi, tidak akan ada yang sadar karena ada suara lain yang lebih mengalihkan perhatian mereka.

Suara bising milik sang ular besi.

Bahkan, keramaian itu membuat namja bermata indah itu sangat terbantu. Karena tidak akan ada yang curiga dengan aksi pengintaian dan kejar-kejaran yang dilakukannya tadi. Kebanyakan orang yang memilih stasiun ini adalah orang-orang yang sangat sibuk dan hampir tidak mau memperhatikan yang lain, kecuali berita kedatangan kereta mereka.

Mobil hitam yang dimasukinya tadi segera melaju, meninggalkan hiruk-pikuk yang terasa begitu senyap di telinganya. Menambah satu luka baru dalam hati kecilnya, dan itu membuatnya semakin merasa tersiksa.

Karena ada satu hal yang seharusnya tak dilanggarnya.

Janjinya.
Janjinya dengan orang yang dikasihinya dulu.

Ikatannya.

Janjinya untuk menjadi seorang pembela kebenaran, penjunjung tinggi keadilan dan seorang pelindung banyak orang. Menjadi seseorang yang dapat menegakkan keadilan yang mulai menghilang.

Mianhae... Kyuhyunnie.
Aku membenci janji yang kita ucapkan dulu, sekarang.

Sebentuk senyum sinis terukir di wajah namja yang kini sedang menyetir itu. Dia membenci polisi dan segala anteknya seperti dia begitu membenci perampok yang telah merenggut kebahagiaannya. Merenggut nyawa kedua orang tuanya, bahkan adiknya. Hatinya semakin terasa sesak saat mengingat kejadian di masa lampau. Kejadian yang seharusnya tidak usah pernah terjadi.

Karena mereka tak lebih dari pendusta yang bahkan tidak menolong dan melindungi saat aku membutuhkan mereka.

To Be Continued


Pojok Chat *

*Yuera Kichito-Cloudyue291 : gomawoyo, sunbaenim :) ne, saya juga sesak nulis adegan itu. and I'm a kind of sensitive too. Sungmin ada di mana ya? Ngga jauh-jauh dari Seoul kok :D Hyukkie itu rin bikin jadi adiknya Minnie di sini.. hehe.. ada kok sunbaenim :D ditunggu aja ya :D

*Ly-saeng : *hug* Annyeong Ly :D ngga ngerti yang mananya ya? Rin jadi bingung *plak*. Gamsahamnida semangat dan semangatnya saengi :) * nado saranghae :)*

*C0coNdvl78 : ne, Minnienya hilang... dan akhirnya ada lagi tuh :D *plak* gomapta semangatnya chingu-sshi :D ne, ini udah lanjut :D

*Yenni gaemgyu : iya.. Kyu kayak begitu karena dia yakin kalau Sungmin udah meninggal awalnya.. tapi sekarang dia udah mulai kuat kok :D Tujuan mereka menculik ya karena apa ya? Tunggu chapter selanjutnya! Hehe *plak* Gomapta semangatnya chingu-sshi!

*Cho RhiYeon : hehe, Rhi-sshi suka lihat Kyuhyun menderita ne? Entah kenapa, rin juga kadang suka lihat magnae itu merasa sedih *plak* tapi di fic aja kok! Ne, nado joahaeyo Rhi-sshi :D Gamsahamnida semangatnya!

*Raimei-chan : jinjja? Feelnya kerasa? Maaf kalau di chapter ini ngga kerasa ya? :( gomawo Raime-sshi :)

*Aliciela P.M : Annyeong, Licie-sshi :) anni, fic beginian dibilang daebak belum pantes chingu-sshi .. hehe. Minnie udah mulai beraksi sedikit-sedikit.. sabar yaa? :D Nado sarang, Minnie :D Gamsahamnida semangatnya Licie-sshi :D

*Evil Baby Snow : Minnie diculik sama si perampok dan.. tunggu chapter selanjutnya :D mianhamnida atas lambatnya update :( Gomawoyo, chingu-sshi! :')

*af13knight : ne, rin selalu nunggu update cerita kamu :) alasan Minnie jadi penjahat, bisa ditebak di chapter ini :) Ne, Hyukkie sekarang tinggal sama keluarga Cho. Rin 16 tahun, apa rin lebih tua dari Af? :) Gamsahamnida Af :D

*kim EunSoo ah : hehe, iya.. udah update nih :D jangan dibilang kayak orang bego dong.. tambah sedih nanti si magnae.. *plak* ne, masih hidup Sungminnya, :D udah update chingu-sshi :D gomapta yaa! :D

*Maharu P Natsuzawa : anni.. masih banyak sekali kekurangannya :( bahasa saya agak membosankan :( ne.. itu yang rin tekankan di chapter kemarin, perasaan sedihnya Kyuhyun :) hehe, with same much love :) Gamsahamnida Maharu-sshi :)

*kim chaeri : jeongmal gamsahamnida Asteri-ah :D ne, sudah diupdate nih :D

*rara : annyeong, chingu-sshi :D salam kenal juga, Rin imnida :D jinjja? Masih banyak kekurangannya kok chingu-sshi :'( mungkin angst, mungkin happy.. masih nunggu pencerahan nih *plak* haha, gomawoyo, chingu-sshi!

*kyuminbee : mianhae sudah bikin nangis, chingu-sshi :( i just want to describe his feeling :( anni, saya masih belajar.. belum pantas untuk mendapat pujian seperti itu :) jeongmal gomawo, chingu-sshi! :D

*Kim Ryesha : iya, dia kasihan.. *plak* mungkin tebakan chingu benar, tapi tunggu chapter depan ya :D *plak* jeongmal gomapta, chingu-sshi! :')

*Uyung-chan : ne.. sedih :( *plak* arrasso, chingu-sshi, sudah rin update nih! :D gamsahamnida ya :)

*Minnie Chagiy4 : gwenchana, chingu-sshi :) rin berterima kasih karena sudah bersedia review chap.2nya :D nanti... mereka pasti akan bertemu , tapi belum tentu bersatu :) gamsahamnida, chingu-sshi :D

*WhiteViolin : chukkae! Reviewnya chingu-sshi yang paling panjang :'D Saya jadi terharu melihat adegan yang chingu-sshi tulis itu :') sungguh.. ne, sudah update :) gamsahamnida chingu-sshi :D

*Yunie Love Uminnie : jinjja? Rin merasa banyak yang belum bisa rin sampaikan :( ne, udah lanjut, chingu-sshi.. Gamsahamnida ya :D

*Misaki Aekyo .13 : ne, saya juga sedih pas ngetiknya :'( ne, udah update, chingu-sshi :D gomawo yaa!

*Maki Kisaragi : Annyeong, Maki-sshi :) rin suka baca cerita Maki-san :D Hehe, anni.. masih banyak kekurangan dalam fic ini, Maki-sshi :) iya, whitekyu vs blackmin :) tapi tetep KyuMin kok :D gamsahamnida Maki-sshi! :D

*kiannielf : ne, annyeonghi, Kiana-sshi. Rin imnida :D gwenchana, gomawo review di chap2nya :D silakan panggil Rin :D mungkin begitu, tapi mungkin juga tidak :) lihat chapter depannya ya? *plak* gomawoyo Kiana-sshi! :D

*RizmaHuka-huka : ne, Sungmin memang masih hidup, dan dia ngga jadi perampok kok :D jinjja? Masih banyak kekurangannya, chingu-sshi :'( tapi, gomawo :D Gamsahamnida, sunbaenim :D

*Jung Ah Mi : annyeong, chingu-sshi :D anni, masih sangat banyak kekurangannya kok :) Ne, Hyukkie tinggal sama keluarga Cho :D gamsahamnida chingu-sshi! :D

*VainVampire : annyeong, Aki-sshi, Rin imnida :D hehe, kemarin langsung ngebut ngetik pas ternyata banyak yang baca fic ini :') *plak* ne, itu memang bikin saya nyesek pas nulisnya :'( hehe.. ini udah update, chingu-sshi :D gamsahamnida yaa :D

*kyuminhottie : anni, chingu-sshi.. masih banyak kekurangannya kok :') ne, udah lanjut nih :D gamsahamnida yaa :D


R/N

Apa ada yang ketinggalan? Kalau ada kesalahan nama ataupun penulisan, mohon maaf ya chingudeul-sshi. maklum, saya juga manusia penuh kesalahan :)

Jeongmal gamsahmanida atas semangat, komentar, dan reviewsnya chingudeul-sshi :)
Maaf kalau ceritanya aneh begini, chingudeul-sshi :) Hope you'll like it, enjoy it, and wait it :) *plak*

Dan, kalau ada bahasa yang berulang, ataupun membosankan, tolong bilang saya ya? Tolong beri saran bagaimana baiknya :) hehe, saya juga sangat perlu masukan kalian :D

Oh ya, mianhamnida atas telatnya update.. saya kalau mau update, pasti harus ngetik pada hari itu juga. Dan kemarin ada sedikit penghilang mood, karena dompet saya hilang :( jadi, saya ngga bisa lanjut hari itu dan harus nunggu mood balik lagi :'( Mianhamnida chingudeul-sshi :(

And mind to review again, please?

Gomawoyo! Jeongmal joahaeyo :D


*PS.
kalau chingudeul-sshi mau kritik, saran, mau ngingetin rin untuk update, atau apa saja, you can contact me on Ichinikyuu Rin ( Facebook ) :D


Karena seorang penulis tak akan berarti tanpa adanya pembaca
:)