Chapter 3
Permohonan maaf, hukuman dan hadiah
Pagi diasrama siswa, tepatnya dikamar milik Orimura Ichika tinggal sendirian dikamarnya, terlihat sedang tertidur pulas dengan tenangnya. Sampai akhirnya Shinji datang diam-diam menghampiri Ichika yang masih tertidur dengan pakaian seragam putih bergaris merahnya. Dengan tertawa cekikikan kecil Shinji memasangkan earphone ketelinga Ichika, lalu menyetting volume suaranya hingga maksimum, dan akhirnya Shinji memainkan lagu heavy metal melalui Mini FLAC Player nya. Kontan saja Ichika langsung kaget mendengar suara lagu heavy metal yang keras itu, saking terkejutnya Ichika sampai berteriak kaget begitu kencang hingga hampir membangunkan penghuni kamar sebelahnya. Shinji hanya tertawa melihat respon kaget Ichika. Ichika yang akhirnya terbangun dan melihat Shinji yang lagi tertawa berguling-guling langsung memarahinya.
"Apa-apaan kau ini?" Kesal Ichika karena tidurnya terganggu.
"Hahahah, pagi Ichika" sambil sedikit menahan ketawa Shinji menyapa Ichika.
"Ehh, kenapa kau ada disini?" Tanya Ichika setelah menyadari Shinji ada disitu.
"Mulai malam tadi, aku akan tinggal dikamar ini!" Shinji menjelaskan pada Ichika kenapa dia ada disitu.
"Berarti kau benar-benar masuk ke akademi ini ya?" Dengan penuh harap Ichika bertanya lagi.
"Yap, benar. Mohon bantuan buat kedepan nya ya" Jawab Shinji lalu menunduk hormat pada Ichika.
"Iya, sama-sama" Balas tunduk Ichika dengan sedikit rasa senang dihatinya.
"Dan sebaiknya kau cepat mandi dan pasang bajumu, biar kita bisa dapat sarapan dikantin nanti" Shinji menyuruh Ichika untuk bergegas.
"Tapi ini baru jam setengah enam pagi!" Kaget Ichika setelah melihat jam dinding didekatnya.
"Karena itulah, semakin cepat semakin baik. Ayo cepat mandi sana!" Paksa Shinji sambil mendorong paksa Ichika ke kamar mandi.
Selesai Ichika mandi mereka langsung keluar dari kamarnya, jam menunjukan sudah pukul enam pagi. Terlihat dijendela koridor asrama mereka langit masih terlihat agak gelap dan sekitar koridor masih sepi, kemungkinan karena murid-murid yang lain masih belum bangun. Selagi mereka berjalan menuju kantin Ichika bertanya-tanya kepada Shinji kenapa ia tiba-tiba ingin masuk ke IS Academy.
"Jadi, kenapa kau tiba-tiba langsung ingin masuk kesini?" Tanya Ichika pada Shinji.
"Hmm, kenapa ya?" Sambil bingung sendiri Shinji memikirkan nya. "Mungkin karena aku ingin seperti 'dia' " Jawab lanjut Shinji.
"Dia?" Bingung Ichika siapa yang dimaksud dengan 'dia' .
"White Knight" Jawab Shinji lagi. "Kau tahukan bagaimana ceritanya Infinite Stratos itu menyelamatkan Jepang dari serangan militer massal dunia?" Tanya Shinji lagi.
"Ya, aku masih ingat itu ceritanya dari Onee-san. Orang pertama yang menaiki IS saat itu, menyelamatkan Jepang dari serangan misil yang datang dari seluruh markas militer dunia, sendirian" Seraya Ichika mengingat cerita dari kakaknya.
"Karena itulah, aku akan berusaha jadi seperti dia, melindungi dan menyelamatkan orang-orang! Yah, mungkin terlihat seperti impian anak kecil, tapi aku akan berusaha mewujudkan hal itu!" Dengan agak malu-malu Shinji mengutarakan perasaan nya.
"Maksudmu jadi seperti super hero begitu?" Tanya Ichika lagi yang masih bingung dengan maksud Shinji.
"Bukan nya karena aku ingin jadi super hero juga sih, tapi karena aku ingin melihat orang lain bahagia" Jawab Shinji dengan agak serius kali ini.
"Walaupun aku belum pernah melihat secara langsung peristiwa itu, tapi aku bisa membayangkan ketakutan penduduk Jepang saat itu" Lanjut Shinji seraya membayangkan serangan itu. "Tapi pada akhirnya, 'white knight' datang, menyelamatkan jutaan penduduk Jepang dan akhirnya orang-orang itu menangis bahagia karena telah terselamatkan. Selain itu, dia juga tidak meminta apa-apa dari penduduk Jepang atas perbuatan nya, meskipun pemerintah dunia lain nya merasakan bahwa dia adalah ancaman dunia" Lanjut Shinji lagi seraya mulai mengakhiri pembicaraan nya. "Karena itulah, aku akan melindungi kebahagiaan orang lain, meskipun harus rela menderita, tanpa meminta imbalan apa-apa asalkan mereka bisa bahagia!" Tutur tegas Shinji bersumpah pada dirinya. Ichika terkesan mendengar pendirian Shinji yang cukup besar.
Setibanya dikantin, disana masih sepi, yang ada hanya koki dan penjaga kantin didapurnya. Tanpa memakan waktu lama Shinji dan Ichika memesan sarapan pagi mereka, roti bakar isi keju ditengahnya dengan segelas susu hangat.
"Rasanya terlalu sepi ya?" Heran Ichika melihat sekeliling meja kantin yang masih kosong.
"Tentu saja, inikan masih agak pagi" Jawab Shinji santai sambil memakan rotinya.
Tak lama setelah itu murid-murid lain nya mulai berdatangan, sebagian ada yang masih mengantuk dan sebagian nya lagi ada yang memegang perutnya karena kelaparan. Diantara murid-murid yang datang itu Houki berjalan menemui Ichika dan Shinji sambil membawa roti bakar isi cokelat.
"Tumben kau cepat bangun Ichika?" Heran Houki bertanya pada Ichika sambil duduk didekatnya.
"Terima kasih karena dia" Ichika menunjuk Shinji yang duduk didepan nya sedang memakan rotinya dengan lahap.
"Pagi, gadis ponytail" Shinji menyapa Houki dengan mulut penuh dengan roti.
"Namaku bukan 'ponytail', tapi Shinonono Houki!" Kesal Houki seraya mengoreksi namanya.
"Ahh, maaf kalau begitu, Houki-chan" Shinji meminta maaf sambil mengangguk tanda maaf. Houki jadi agak malu-malu karena dipanggil –chan oleh Shinji dan langsung merubah topik pembicaraan nya.
"Tapi, aku tidak menyangka ternyata kau bakal masuk di akademi ini!" Houki merasa tidak senang melihatnya walaupun dengan nada agak malu-malu.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolahku disini" Jawab santai Shinji. "Selain itu, karena kebetulan kamu ada disini, berarti saatnya aku harus membayar hutangku" Lanjut Shinji lagi.
"Membayar hutang?" Bingung Ichika dan Houki. Shinji langsung mengambil note dari saku celananya dan membacakan catatan hutangnya.
"Gadis pony- Bukan, Houki-chan, 36 buah kesemek masak dan pedang katana. Lalu Ichika, sebotol minuman isotonik" Shinji membeberkan semua hutangnya pada mereka, meskipun Houki dan Ichika merasa aneh mendengarkan nya.
"Oi oi, sejak kapan kau mencatat semua itu?" Bingung Houki pada Shinji.
"Yah, ini buat mengingatkanku saja, dengan siapa aku bersalah" Jawab Santai Shinji.
"Sekarang, apa yang kalian inginkan?" Lanjut Shinji sekaligus bertanya pada mereka berdua.
"Heh?" Bingung Houki lagi mendengar maksudnya.
"Sebagai ganti rugi atas kesalahanku, aku siap untuk menuruti keinginan kalian!" Jawab tegas Shinji menjelaskan maksudnya. "Yah, asal masih dibatas wajar saja permintaan nya" Shinji menambahkan.
"Apa saja ya, hm…" Houki memikirkan apa yang ingin dilakukan pada Shinji.
"Hei, kau serius mau melakukan nya?" Tanya ragu Ichika mengenai perjanjian Shinji.
"Tentu saja! Ini adalah sumpah laki-laki ku selama aku hidup dan akan terus kupegang itu!" Jawab Shinji dengan semangat membara.
"Kalau begitu, aku minta 10 juta Yen!" Houki memutuskan keinginan nya seraya ingin mengerjai Shinji.
"Punya rekening bank?" Tanya Shinji seraya mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya.
"Mustahil? Kau punya 10 juta Yen?" Houki terkejut melihat ekpresi Shinji yang begitu tenang saja menerima permintaan nya.
"Yah, semenjak aku membuat tabungan dari kelas 1 SD aku sering memenangkan banyak hadiah dari bank" Jawab Shinji santai.
"Bukan dari mencurikan?" Ragu Houki mendengar alasan Shinji.
"Tentu saja tidak! Kalau kau tidak percaya lihat saja buku tabunganku hasil uang halal!" Shinji membantah kecurigaan Houki. Merasa permintaan nya terlalu gampang Houki lalu mengganti permintaan nya.
"Baiklah, yang lain saja kalau begitu. Apa kau bisa bermain kendo?" Seraya mengganti permintaan Houki menanyai Shinji.
"Yah, sedikit" Jawab Shinji agak meragukan dirinya.
"Kalau begitu, permintaanku nanti adalah, membawamu untuk ikut latihan kendo bersamaku! Sepulang sekolah nanti!" Dengan tegas Houki memutuskan dengan matang permintaan nya.
"Baiklah! Latihan kendo, sepulang sekolah nanti! Aku setuju!" Semangat Shinji setuju menerimanya. "Lalu, kau sendiri mau apa Ichika?" Tanya Shinji pada Ichika langsung yang tidak ada ngomong apa-apa tadi.
"Yah, aku belum memikirkan apa-apa dulu mau berbuat apa" Ragu Ichika menjawab.
"Kalau begitu, pikirkan saja dulu matang-matang. Aku siap kapan saja waktunya!" Respon Shinji dengan semangat.
Setelah mereka selesai makan dan membuat perjanjian, Shinji, Ichika dan Houki keluar dari kantin sekolah menuju kelas mereka.
Berjalan dikoridor kelas nampak ada sebagian siswa perempuan sedang membicarakan sesuatu dengan kelompok mereka masing-masing diluar kelasnya. Entah itu gosip biasa atau masalah pelajaran. Sambil menuju kekelasnya Shinji membaca daftar hutangnya ditemani dengan Ichika dan Houki.
"Gadis twintail, kerusakan pada IS dan…" Shinji membaca daftarnya tapi terpotong oleh omongan Ichika.
"Gadis twintail yang kau maksud itu namanya Huang Lin Yin" Ichika mengoreksi nama Lin Yin.
"Namanya Lin Yin ya? Kalau begitu ganti!" Seraya Shinji baru mengetahui namanya lalu mengganti daftar nama di buku hutangnya.
"Gadis Inggris itu…" Lanjut baca Shinji tapi kali ini terpotong oleh omongan Houki. "Dia namanya Cecilia Alcott" Houki ikut mengoreksi namanya.
"Cecilia ya…" Shinji kembali mengganti daftar namanya.
"Lalu, gadis pirang dengan ponytail pendek dan gadis berambut panjang dengan…" Shinji lanjut baca lagi tapi kali ini dipotong oleh Ichika dan Houki bersama-sama.
"Namanya Charlotte dan Laura" Jawab mereka bersamaan.
"Hehe, maaf. Aku belum tahu nama mereka soalnya" Malu Shinji pada Ichika dan Houki sambil mengganti nama dicatatan nya lagi.
Selagi Shinji membaca catatan nya akhirnya mereka tiba diruangan kelas 2-1, ruang kelas mereka. Didalam terlihat ada sebagian murid yang duduk ngobrol santai dengan teman nya dan ada juga yang membaca buku. Diantara para siswi itu Lin Yin sedang terlihat duduk melamun dikursinya. Shinji langsung menemuinya untuk melunasi hutangnya.
"Hei, Rin-chan" Shinji menyahut Lin Yin dengan asal sambil berjalan menemuinya.
"Apa urusanmu disini, orang mesum?" Lin Yin terlihat masih tidak senang bertemu dengan nya lagi. "Selain itu, darimana kau tahu nama panggilan kecilku?" Dengan agak kesal Lin Yin bertanya lagi.
"Ehh? Rin-chan itu nama panggilanmu ya?" Tanya Shinji balik dengan polos sekaligus tidak mempedulikan lagi panggilan 'mesum' nya.
"Lupakanlah. Mau apa kau disini sebenarnya? Mau melanjutkan masalah hari itu?" Seraya tidak mempedulikan permasalahan sebelumnya Lin Yin bertanya lagi dengan wajah tampak bosan.
"Sebenarnya, aku kesini ingin minta maaf padamu" Sambil menunduk maaf Shinji menjelaskan maksudnya.
"Minta maaf buat apa?" Heran Lin Yin mendengar maksud Shinji.
"Yah, karena hari itu aku sudah merusak IS mu. Jadi... Aku harus bertanggung jawab untuk itu" Shinji menjelaskan alasan nya. "Jadi, apa permintaanmu?" Lanjut tanya Shinji dengan siap.
"Hah?" Bingung Lin Yin mendengar maksud Shinji.
"Sebagai ganti rugi karena telah merusak IS mu, aku siap untuk menuruti apa permintaanmu! Karena ini jalan laki-laki ku! Asal dibatas kewajaran saja permintaan nya" Tegas Shinji menyerukan sumpahnya pada Lin Yin.
Berpikir sejenak Lin Yin memikirkan apa permintaan nya sekaligus dapat mengerjai Shinji untuk balas dendam.
"Kau bisa memasak?" Tanya Lin Yin pada Shinji.
"Yah, sedikit" Jawab Shinji ragu dengan dirinya sendiri.
"Kalau begitu, kau tidak keberatan bila aku memintamu untuk memasak?" Tanya Lin Yin lagi dengan senyum agak licik.
"Apapun itu asal bisa membuatmu senang!" Jawab tegas Shinji.
"Sesulit apapun masakan nya?" Tanya Lin Yin lagi dengan agak ragu.
"Aku usahakan sebisa mungkin!" Yakin Shinji menerimanya.
"Baiklah, kalau begitu nanti siang kau buatkan aku makan siang Dim Sum, mengerti?" Lin Yin membuat permintaan nya pada Shinji.
"Tapi aku tidak bisa membuat Dim Sum" Bingung Shinji sambil menggaruk kepalanya.
"Harus bisa! Kau bilang akan lakukan apapun kan? Kalau tidak permintaan nya kubuat lebih berat nanti!" Paksa Lin Yin pada Shinji.
"Baiklah, meski kelihatan agak mustahil bagiku, aku akan berusaha sebisa mungkin asal kau senang!" Tutur tegas Shinji pada dirinya sendiri.
"Jangan sampai masakan nya gagal dan harus tanpa bantuan orang lain membuatnya!" Lin Yin langsung memperingatkan Shinji.
"Pasti!" Shinji meyakinkan dirinya berhasil.
"Ini, didalamnya ada cara memasak Dim Sum kau pelajari itu sampai jam makan siang nanti" Seraya Lin Yin memberikan bantuan kecil pada Shinji berupa buku resep masakan Cina.
Meski permintaan Lin Yin agak berat, menyuruh Shinji untuk memasak, Shinji tidak mengeluh sama sekali ataupun merasa tidak senang, karena dia telah memegang teguh pendirian nya itu.
Bel masuk kelaspun berbunyi, semua murid yang ada diluar kelas tadinya langsung masuk kedalam dan duduk ditempatnya. Shinji melihat Cecilia, Charlotte dan Laura langsung masuk ke kelas, dia bermaksud ingin meminta maaf pada mereka, tapi tidak sempat karena Yamada-sensei sudah masuk lebih dulu. Lama Shinji menunggu jam istirahat untuk menuntaskan janjinya pada Lin Yin, dia menghabiskan waktunya dengan membaca buku masak tentang masakan Cina yang ia pinjam dari Lin Yin dan tersamar oleh buku pelajaran IS nya. Tidak ada yang menyadari apa yang dibaca Shinji karena semua terlihat serius untuk mengikuti pelajaran, terkecuali Shinji dengan buku masaknya. Selesai Shinji memahami cara memasaknya ia menutup bukunya dan melihat jam dinding kelas, masih lama lagi untuk menunggu waktu jam istirahat. Shinji akhirnya berniat untuk mengikuti pelajaran, meskipun ia tidak tahu harus memulai dari mana karena tidak memperhatikan pelajaran dari awal. Mendengar penjelasan Yamada-sensei dari kursinya sepertinya saat ini mereka sedang belajar Biologi. Untungnya tidak ada yang memperhatikan Shinji tadi karena ia salah menunjukan buku. Merasa suntuk dengan pelajaran nya Shinji akhirnya memutuskan untuk lanjut meminta maafnya.
Disobek kecil kertas buku kosongnya Shinji menulis sesuatu dikertas itu lalu dibulatkan dan melemparnya pada Cecilia tepat kena dikepalanya dengan pelan. Cecilia langsung memandang kebelakang mencari pelakunya siapa yang melemparkan kertas itu padanya. Dilihatnya Shinji sedang memperagakan sesuatu padanya seperti kata sandi gerak, menyuruhnya untuk membuka kertas yang ia lempar tadi. Cecilia dengan agak kesal karena diganggu tadi langsung membuka kertasnya, terlihat tulisan Shinji dikertas itu yang bertuliskan "Aku minta maaf" padanya.
Cecilia langsung merobek kecil kertas dibukunya dan menulis sesuatu juga disitu lalu melempar balas pesan Shinji tadi. Shinji menerima pesan dari Cecilia yang bertuliskan "Minta maaf kenapa?" dan langsung membalasnya dengan cepat.
Cecilia menerima kembali pesan dari Shinji, kali ini agak panjang isinya. "Aku minta maaf karena hari itu aku sudah membuat masalah padamu. Karena itu, sebagai ganti ruginya aku siap untuk mengikuti semua perintahmu. Note: asal masih dalam batas kewajaran saja" Isi tulisan pesan itu dari Shinji.
Lama agak berpikir Cecilia lalu kembali mengirimkan pesan ke Shinji seraya menyudahi 'perang lempar kertas' nya. Shinji membaca pesan dari Cecilia yang bertuliskan "Kita lanjutkan pembicaraan ini sepulang sekolah nanti saja dan jangan lempari aku dengan kertas lagi!"
Merasa sudah memahami situasinya Shinji langsung menghentikan lempar pesan nya, sampai akhirnya ia kaget ketika namanya dipanggil oleh Yamada-sensei, meminta penjelasan mengenai pelajaran biologi nya.
"Sanada, apa kau mengerti apa yang sensei maksud?" Tanya Yamada-sensei dengan halus.
"Ahh... iya. Tentang seleksi alam dan bioma nya kan?" Jawab asal Shinji dengan agak panik.
"Yap, benar. Syukurlah kukira kau tidak memperhatikan pelajaran tadi" Lega Yamada-sensei mendengarnya sambil tersenyum. Sementara Shinji hanya bisa menghela nafas lega karena jawaban asalnya benar.
Lama akhirnya menunggu akhirnya bel istirahat berbunyi. Shinji langsung menyiapkan kuda-kudanya untuk keluar dari kelas setelah hormat perpisahan. Tepat setelah Yamada-sensei keluar kelas Shinji langsung memerintahkan Lin Yin untuk menunggu di kantin.
"Tunggu dikantin dulu, aku akan segera membuatnya!" Sahut Shinji pada Lin Yin dan langsung berlari keluar kelas dengan cepat menuju kantin.
Dengan cepat Shinji langsung berlari kekantin dan bertanya pada penjaga kantin untuk meminjam perlengkapan dapurnya.
"Paman, boleh aku pakai dapurnya sebentar?" Tanya Shinji kepada penjaga kantin itu sambil mengambil nafas karena habis berlari.
"Yah, boleh saja. Tapi buat apa?" Tanya penjaga kantin itu mengizinkan seraya penasaran kenapa.
"Ada janji yang harus kupenuhi" Jawab Shinji langsung.
"Kalau begitu, kesini" Seraya penjaga kantin itu langsung membukakan pintu dapur untuknya.
Didalam agak cukup ramai dan panas, keributan dari para juru masak yang sedang membuat makan siang dan panas dari oven dan kompor. Shinji langsung memasangkan celemek dan topi koki didekat gantungan pakaian disebelahnya.
"Baiklah, saatnya memasak!" Semangat Shinji dengan serius.
Sementara itu Lin Yin sedang menunggu masakan Shinji disalah satu meja kantin, dengan perasaan tidak sabaran menantinya. Tak lama akhirnya pintu dapur terbuka, terlihat Shinji dengan seragam akademi ditambah dengan celemek dan topi koki nya sedang memegang keranjang bambu berisi Dim Sum didalamnya bergaya seakan dia adalah koki profesional.
"Siapa yang ada memesan Dim Sum tadi?" Tanya santai Shinji sambil memandang sekelilingnya mencari Lin Yin. Tepat saat Shinji melihat Lin Yin ia langsung mendekatinya dan menjamu tuan putri selayaknya seorang butler.
"Silahkan dinikmati" Seraya Shinji menuduk hormat memberikan Dim Sum itu kepada Lin Yin.
"C-Cepat sekali?" Kaget Lin Yin melihat kerja Shinji yang begitu cepat. Sejenak Lin Yin memikirkan bagaimana bisa Shinji membuat Dim Sum dengan begitu cepat tapi langsung tidak dipedulikan nya. Curiga bila terlihat gagal Lin Yin langsung membuka keranjang bambu itu dan ternyata isinya memang menu Dim Sum lengkap didalamnya.
"Apa kau minta bantuan kepada koki didalam tadi?" Curiga Lin Yin pada Shinji.
"Tentu saja tidak! Aku membuatnya sendiri kok!" Shinji membela dirinya dengan alasan yang sangat jelas.
"Kalau begitu, kau coba makan ini!" Lin Yin masih meragukan makanan nya dan menyuruh Shinji untuk memakan nya. Shinji dengan santai mengambil sumpit didekatnya dan dimakan nya bagian pangsit didalamnya.
"Hmm… Ini enak kok" Jawab santai Shinji sambil memakan pangsit Dim Sum nya.
"Itu baru pangsit nya, coba siomay ini" Masih tidak yakin Lin Yin menyuruh Shinji mengetes siomay nya.
"Ini juga enak" Jawab Shinji lagi sambil memakan nya. Setelah beberapa kali mencoba makanan yang berbeda dari Dim Sum nya, bukan nya merasa percaya Lin Yin malah makin tidak percaya.
"Jangan-jangan yang kau makan itu yang tidak ada racun nya!" Marah Lin Yin kepada Shinji.
"Kau tidak percaya padaku? Kalau begitu aku buktikan makanan ini aman!" Shinji dengan kesal langsung memakan semua Dim Sum itu untuk membuktikan dirinya.
"Lihat? Apa aku terlihat sakit sekarang?" Tanya Shinji membuktikan dirinya setelah memakan Dim Sum nya.
"Ya, tapi kau memakan semuanya" Dengan tatapan kesal Lin Yin melihat keranjang Dim Sum yang sudah kosong dimakan Shinji semua.
"AHH! MAAF! SEGERA KUBUATKAN LAGI!" Kaget Shinji setelah sadar telah memakan semua Dim Sum nya dan langsung pergi kedapur kantin lagi.
Belum sempat Shinji selesai memasaknya bel masuk kelas berbunyi. Kontan saja semua murid langsung cepat-cepat lari ke kelasnya dan sebagian menghabiskan makanan nya yang masih tersisa.
"Ahh sial! Aku tidak jadi makan siang sekarang! Setidaknya dia tidak ada dikelas nanti" Kesal Lin Yin campur senyum licik mendengar bel masuk dan langsung pergi dari kantin.
"Maaf menunggu lama!" Shinji yang tidak menyadari Lin Yin sudah pergi dan suara bel masuk keluar dari dapur kantin sambil membawa Dim Sum dan melihat isi kantin yang sudah kosong.
"Heh? Kemana yang lain nya?" Bingung Shinji sendirian melihat kantin nya sudah kosong.
Tersadar bel masuk sudah berbunyi Shinji berlari dengan cepat menuju kelasnya. Koridor sudah kosong karena semua murid sedang belajar, yang tersisa hanya suara langkah lari dari sepatu Shinji. Dari koridor lain disebelah kirinya terlihat gadis berambut pirang ponytail pendek dengan mata berwarna violet juga sedang berlari mendekatinya, itu Charlotte.
"Telat juga ya?" Tanya Shinji pada Charlotte sambil berlari.
"Iya, aku terlalu lama berada di kamar kecil!" Jawab Charlotte sambil berlari juga.
Shinji sempat membayangkan apa yang dilakukan gadis Perancis itu dikamar kecil, tapi hanya sejenak ketika mereka sudah tiba diruang kelas 2-1.
"Maaf aku terlambat!" Jawab Shinji dan Charlotte bersamaan ketika pintu otomatis kelas mereka terbuka. Didalamnya ada Chifuyu-sensei yang lagi mengajar didepan kelas mereka.
"Maaf Sanada, Dunois. Kalian terlambat. Harap tunggu diluar kelas sampai pelajaran selesai nanti" Chifuyu-sensei tidak mengizinkan Shinji dan Charlotte masuk karena terlambat seraya memberikan hukuman pada mereka.
Shinji dan Charlotte hanya pasrah saja menerima hukuman itu dan berdiri diluar kelas. Tidak ada siapapun dikoridor luar kelas saat itu, terkecuali hanya Shinji dan Charlotte yang sedang menjalani hukuman nya. Mengingat janjinya dan dengan siapa yang didekatnya Shinji langsung meminta maaf pada Charlotte.
"Aku minta maaf" Sambil berdiri Shinji meminta maaf pada Charlotte.
"Minta maaf kenapa?" Tanya Charlotte halus.
"Karena aku sudah merusak IS mu hari itu" Jawab Shinji dengan agak serius.
"Tidak perlu khawatir soal itu. Para ahli mekanis bisa memperbaikinya kok" Balas Charlotte dengan tersenyum.
"Yah tapi… Aku merasa harus bertanggung jawab untuk itu" Balas Shinji balik dengan agak ragu memikirkan cara meminta maafnya. Sejenak ketika terdiam sebentar Charlotte langsung meminta tolong pada Shinji.
"Ehh… Apa aku bisa minta tolong padamu?" Tanya Charlotte agak malu pada Shinji.
"Apa itu? Bilang saja apa yang kau inginkan" Jawab Shinji melihat kesempatan nya untuk meminta maaf.
"Apa… Kau tinggal sekamar dengan Ichika?" Tanya Charlotte lagi semakin malu-malu pada Shinji.
"Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Shinji balik sambil mengaruk kepalanya seraya bingung apa yang di inginkan oleh Charlotte.
"Aku…" Dengan muka merah padam suara Charlotte tidak kedengaran oleh Shinji.
"Apa? Aku tidak dengar" Shinji membalas seraya menempelkan tangan ke telinga supaya bisa mendengar dengan jelas. Charlotte langsung mendekatkan mulutnya ketelinga Shinji membisikan sesuatu takut bila obrolan nya didengar orang, walaupun disitu hanya ada mereka berdua.
"Aku ingin kau memata-matai Ichika" Bisik pelan Charlotte malu-malu ditelinga Shinji.
"Meh? Buat apa?" Tanya Shinji dengan wajah kelihatan seperti orang tolol. 2 detik kemudian Shinji langsung mengerti maksud Charlotte.
"Ah! Aku menger-" Sebelum menyelesaikan kata-katanya setelah sadar Charlotte langsung menyumbat mulut Shinji dengan tangan nya.
"Tolong jangan bilang siapa-siapa mengenai hal ini!" Charlotte memohon kepada Shinji. Dengan pelan Shinji membuka bungkaman mulutnya dari tangan Charlotte seraya ingin berbicara lagi.
"Aku mengerti kok maksudmu" Angguk Shinji pada Charlotte. "Dari ekspresi wajahmu saja sudah menunjukan pada hal itu" Jawab jelas Shinji sambil tersenyum santai.
"Kamu... Berjanji untuk tidak mengatakan ini pada semua orang?" Tanya Charlotte seraya ingin memohon.
"Ya, aku janji. Karena ini jalan laki-laki ku! Pria sejati harus tetap memegang janjinya pada seseorang!" Jawab Shinji dengan tegas dan serius.
"Terima kasih banyak. Maaf bila merepotkanmu" Balas Charlotte sambil menunduk terima kasih sekaligus maaf sambil tersenyum senang. Shinji terpana sebentar ketika melihat senyum Charlotte, sampai akhirnya ia tersadar dengan maksud meminta maaf nya.
"Y-Yah, anggap saja ini sebagai ganti rugi karena telah merusak IS mu" Jawab Shinji malu-malu sambil menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.
Charlotte hanya tertawa kecil melihat ekspresi Shinji sedangkan ia sendiri hanya bisa menghembus nafas lega karena telah menuntaskan misi minta maafnya. Shinji langsung mengubah perhatian nya dengan merogoh kantong celananya dan mengambil beberapa buah permen karet rasa cola lemon. Seraya membuka bungkus dan memakan nya Shinji menawarkan permen karet nya kepada Charlotte.
"Mau?" Tawar Shinji pada Charlotte sambil mengunyah permen karetnya.
"Ehh… Tidak apa-apa?" Dengan agak ragu Charlotte menerimanya.
"Jangan khawatir, sewaktu aku masih SD saat aku terlambat masuk sekolah aku menghabiskan waktuku dengan makan permen karet!" Jawab santai Shinji dengan muka agak usil. Charlotte pun akhirnya menerima permen karet pemberian Shinji setelah mendengar perkataan nya sekaligus percaya padanya.
Sudah berbagai hal yang dilakukan Shinji agar bisa mengusir kebosanan nya selama masa hukuman nya bersama Charlotte. Dimulai dari makan permen karet, main suit gunting-batu-kertas, hingga main game handheld console punya Shinji. Hebatnya lagi perilaku mereka tidak terdeteksi oleh Chifuyu-sensei yang memperhatikan dari luar kaca jendela ruangan kelas. Hingga tak terasa akhirnya bel pulang berbunyi, Shinji langsung mengantongi game handheld console nya supaya tidak ketahuan oleh Chifuyu-sensei tepat setelah pintu kelas terbuka.
"Kuat juga kau bisa berdiri disitu" Heran Chifuyu-sensei pada Shinji.
"Yah… Mungkin ini kekuatan dari alam liar selama 3 tahun" Jawab asal Shinji berbohong.
"Sebenarnya kami-" Charlotte dengan polosnya ingin berbicara jujur tapi tepat saat itu Shinji menyikutnya dengan pelan seraya memperingatkan 'jangan memberitahu dia'.
"Terserahlah. Yang pasti kalian nanti minta salian PR kalian nanti sama teman sekamar kalian. Itu saja dan kalian boleh pergi" Seraya tidak peduli dengan omongan mereka Chifuyu-sensei menyuruhnya untuk pergi.
Shinji dan Charlotte lalu masuk kedalam kelas meninggalkan Chifuyu-sensei yang keluar dari kelas juga untuk mengambil tas mereka. Shinji dan Charlotte hanya bisa tertawa kecil melihat respon Chifuyu-sensei yang tak menyadari apa yang mereka lakukan tadi. Setelah Shinji mengambil tas dari mejanya dilihatnya Cecilia masih duduk menunggu memandanginya. Shinji jadi teringat dengan janjinya saat jam pelajaran pertama dengan Cecilia.
"Kau duluan saja dulu" Shinji memandangi Charlotte seraya memintanya untuk pergi.
"Aku mengerti. Berusahalah Shinji-kun" Charlotte mengangguk mengerti dan keluar dari kelas. Shinji merasa agak aneh ketika dipanggil Charlotte dengan panggilan 'Shinji-kun' lalu kembali memandangi Cecilia dan mendatanginya.
"Maaf membuatmu lama menunggu" Shinji mengangguk minta maaf pada Cecilia.
"Tidak apa. Kau tepat waktu kok" Jawab Cecilia dingin.
"Jadi… Apa permintaanmu?" Tanya Shinji langsung pada Cecilia sambil memandangi langit siang menjelang diluar jendela kelas.
"Ini… Permintaan pribadiku, jadi…" Muka Cecilia langsung menjadi merah malu-malu bicara dengan Shinji dan langsung mendekatkan mulutnya ketelinga Shinji seraya membisikan sesuatu.
"Aku ingin kau memata-matai Ichika" Bisik Cecilia ditelinga Shinji. Merasa pernah mendengar permintaan yang sama tidak perlu waktu lama bagi Shinji untuk memahami maksudnya.
"Aku mengerti" Angguk Shinji langsung setelah mendengarnya.
"Heh? Benarkah?" Seraya hampir tidak percaya Shinji mengerti permintaan nya Cecilia bertanya untuk meyakinkan dirinya.
"Ya aku tahu kok! Kamu suka deng-" Dengan lantang dan santai Shinji memberitahukan nya tapi tepat sebelum selesai bicara langsung dibungkam oleh Cecilia.
"Baiklah aku percaya! Tapi kumohon jangan diberitahu siapa-siapa!" Cecilia malu-malu langsung menutup mulut Shinji seraya memohon.
"Jangan khawatir! Aku bisa pegang janji itu!" Seraya Shinji membuka mulutnya ia menepuk dada memegang janjinya.
"Kau janji?" Cecilia masih agak tidak percaya menanyai Shinji.
"Aku jamin! Kalau tidak aku akan menjadi budakmu seumur hidup! Kau bisa pegang janji itu!" Dengan tegas Shinji menjaminkan janjinya.
"Baiklah, aku pegang janji itu! Awas nanti kalau tidak!" Cecilia menunjuk pada Shinji menerima janji itu dengan muka serius dan langsung pergi keluar dari kelas.
Shinji tersadar Cecilia memiliki permintaan yang sama dengan Charlotte, itu membuat Shinji bingung apa yang harus dilakukan nya. Lagipula Shinji juga sudah berjanji untuk tidak memberitahukan permintaan rahasia mereka kepada orang lain.
"Aku harus bagaimana ya?" Bingung Shinji sendirian sambil menempelkan jari telunjuk dikepalanya seraya berpikir. "Mungkin kalau aku tidak bilang semua baik-baik saja" Pikir Shinji santai seraya tidak mempedulikan nya lagi dan pergi keluar kelas.
Shinji keluar kelas tidak langsung menuju kamar asramanya. Shinji pergi menuju kantin sekolah. Disana terlihat sepi, entah karena semua murid terlalu sibuk dengan urusan nya masing-masing atau karena tidak lapar Shinji tidak begitu memperhatikan nya. Shinji berdiri didepan mesin penjual minuman otomatis dan memasukan uang koin 100 Yen buat membeli minuman kaleng soda rasa cola. Tepat sebelum Shinji membuka minuman nya ia melihat Lin Yin sedang duduk terdiam memandangi jendela disalah satu meja kantin. Tanpa pikir panjang Shinji langsung masuk kedalam dapur kantin dan membuka lemari penghangat, didalamnya ada Dim Sum yang ia buat saat jam istirahat dan mengambilnya. Keluar dari dapur kantin dengan membawa Dim Sum Shinji langsung memberikan nya kepada Lin Yin.
"Ini, makanlah. Kau pasti laparkan?" Shinji memberikan Dim Sum nya kepada Lin Yin.
"Kenapa kau ada disini?" Kesal Lin Yin terasa terganggu oleh Shinji.
"Aku hanya melakukan tugasku, itu saja" Jawab Shinji dengan agak serius.
"Selain itu, aku tidak suka bila ada orang yang membuang-buang makanan nya" Shinji menambahkan seraya menasehati Lin Yin.
"Kenapa harus sampai segitunya kau melayani aku?" Tanya Lin Yin dengan agak kesal.
"Aku bisa melihatnya dari perilakumu sekarang" Jawab Shinji lalu duduk dikursi sebelah dekat meja Lin Yin. "Kau belum makan dari tadi siangkan? Aku bisa melihat kau saat ini sedang lemas dan lapar sekarang" Shinji menambahkan penjelasan nya.
Lin Yin langsung memalingkan wajahnya melihat Shinji, mukanya memang terlihat agak murung. Shinji langsung membuka keranjang Dim Sum seraya melayani Lin Yin. Tanpa waktu lama Lin Yin langsung memakan Dim Sum nya perlahan dimulai dari bagian bakpao nya.
"Ini… Enak!" Lin Yin memakan bakpao nya dengan sangat menikmatinya.
"Heh? Benarkah?" Shinji hampir tidak percaya mendengar penilaian masakan nya.
"Iya! Rasanya tidak seperti orang amatiran yang buat!" Lin Yin memakan semua Dim Sum nya dengan lahap sambil memberikan komentar tentang masakan nya. Tak lama Lin Yin sudah menghabiskan semua Dim Sum itu, Shinji langsung memberikan minuman kaleng teh dingin. Sambil menenangkan diri minum teh Lin Yin meminta maaf pada Shinji.
"Maafkan aku" Lin Yin menunduk minta maaf pada Shinji.
"Minta maaf kenapa?" Tanya Shinji dengan bingung. "Karena aku... Sudah mengerjaimu tadi" Jawab Lin Yin dengan rasa agak bersalah.
"Jangan khawatir soal itu! Aku akan tetap meme-" Jawab balik Shinji dengan santai tapi disela omongan Lin Yin.
"Bukan karena itu!" Lin Yin langsung memotong omongan Shinji.
"Aku... Pada awalnya berencana ingin mengerjaimu, tapi..." Lanjut Lin Yin dengan rasa menyesal. Shinji memperhatikan omongan Lin Yin dengan serius, tepat sebelum selesai bicara Shinji menghentikan nya sambil memegang kepala Lin Yin.
"Aku mengerti kok" Jawab Shinji tersenyum senang. Lin Yin jadi malu ketika kepala nya dipegang oleh Shinji dengan halus.
"Aku sudah mendengar dari Ichika, kau rela hampir mati karena menolong orang ya?" Tanya Lin Yin dengan agak malu-malu.
"Bagiku, tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. Kalau orang lain bahagia, aku juga akan senang" Jawab Shinji serius sambil tersenyum. Lin Yin jadi terkesan mendengar perkataan nya. Shinji langsung berdiri dari kursinya sambil mengelus kepala Lin Yin seraya pamit pergi. Lin Yin merasa malu campur senang menerimanya.
"Tunggu dulu!" Lin Yin berdiri memanggil Shinji yang belum jauh keluar dari kantin.
"Ada apa?" Tanya Shinji tanpa membalikan badan nya.
"Apa aku bisa minta tolong lagi?" Tanya Lin Yin balik dengan malu-malu.
"Apapun itu asal bisa membuatmu senang. Aku turuti" Jawab Shinji sambil balik badan menghadap Lin Yin.
"Apa... Kau mau membantuku memata-matai Ichika?" Tanya Lin Yin dari kejauhan. Shinji terdiam sejenak menyadari Lin Yin adalah orang ketiga yang meminta permohonan yang sama.
"Untuk apa?" Shinji bertanya seraya berharap permintaan nya lain dari Charlotte dan Cecilia.
"Bukan urusanmu! Apapun yang dilakukan Ichika sekecil apapun besok dilaporkan padaku dan jangan beritahu hal ini pada orang lain!" Kesal Lin Yin dari jauh sambil malu.
Shinji sudah menduga bakal ada yang minta tolong seperti ini lagi. Yang bisa Shinji lakukan hanyalah menuruti permintaan nya, tidak peduli asal dapat membuat Lin Yin senang.
"Baiklah! Aku siap melaksanakan nya!" Shinji berjanji sambil mengancungkan jari jempol kanan nya tanda siap.
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku ada janji dengan seseorang" Shinji langsung pamit keluar kantin dengan Lin Yin seraya mengingat janjinya dengan Houki berlatih kendo tadi pagi. Selagi berjalan menuju dojo kendo Shinji pusing memikirkan permintaan 3 orang tadi.
"3 orang memohon permintaan yang sama..." Pikir Shinji sambil berjalan dan lipat tangan. "Memangnya apa yang special dari Ichika itu?" Tambah bingung Shinji lagi.
Shinji berjalan menuju area olahraga, lebih tepatnya area pelatihan kendo, tempat ia berjanji untuk menemui Houki. Sesampainya disana Shinji melihat Houki yang berdiri ditengah area kendo yang masih menggunakan seragam akademinya memandangi Shinji dengan wajah kesal. Menyadari kesalahan nya Shinji langsung mendekati Houki dan menunduk minta maaf.
"Maaf sudah lama menunggu" Tunduk maaf Shinji pada Houki.
"Kau lama" Houki membalasnya seraya tidak menerima permintaan maaf Shinji.
"Ehh... Tapi dimana perlengkapan kendonya?" Shinji tidak mempedulikan keterlambatan nya sekaligus terheran melihat Houki yang masih belum mengenakan perlengkapan kendo.
"Hari ini tidak ada latihan, jadi tempat ini kosong" Houki menjelaskan keadaan sekitarnya.
"Tapi... Kau bilang tadi pagi sepulang sekolah nanti kita latihan kendo kan?" Bingung Shinji mendengar penjelasan Houki.
"Sebenarnya... Aku memintamu kesini untuk melakukan permohonan pribadi" Jawab Houki menjelaskan maksudnya dengan dingin dan langsung duduk dilantai dengan lutut didepan.
"Apa itu?" Tanya Shinji dengan duduk jongkok.
"Sebelumnya, apa tadi ada orang yang mengikutimu?" Houki balik bertanya pada Shinji langsung seraya curiga.
"Hmm... Sepertinya tidak ada" Jawab Shinji dengan polos sambil melihat pintu dojo dibelakangnya.
"Baiklah, kalau begitu langsung saja!" Lanjut Houki dengan serius. "Aku ingin kau membuntuti Ichika" Permintaan Houki pada Shinji.
"Heh?" Shinji terdiam langsung mendengar permintaan Houki karena permintaan nya sama dengan ketiga orang lain nya.
"Kau bisakan? Hanya tinggal membuntuti Ichika dan beritahu sesuatu rahasia dari dia?" Tanya Houki ragu sambil menjelaskan tugasnya.
Shinji ingin berkata bahwa ada 3 orang lain nya yang memiliki permintaan yang sama seperti Houki, tapi ia tidak berani karena sudah berjanji untuk tidak mengatakan nya kepada orang lain.
"Ehh... Iya. Baiklah. Aku terima permintaan nya" Jawab Shinji dengan gugup dan terpaksa melaksanakan nya.
"Dan jangan sampai kau memberitahu atau minta tolong dengan orang lain! Itu saja" Lanjut Houki langsung menyudahi permintaan nya.
"Sebelumnya, boleh aku tanya satu hal?" Tanya Shinji pada Houki yang masih duduk jongkok.
"Apa itu?" Tanya Houki balik.
"Kenapa kau memintaku untuk mencari rahasia tersembunyi Ichika?" Tanya Shinji berharap jawaban nya lain daripada ketiga orang sebelumnya.
"Hmph, Bukan urusanmu. Sekarang pergilah!" Houki menolak untuk menjawab sekaligus menyuruh Shinji pergi.
"Meeh... Baiklah" Shinji dengan nada pasrah mendengar jawaban Houki langsung berdiri dan keluar dari dojo.
Jawaban Houki memang tidak seperti Cecilia, Charlotte dan Lin Yin, Tapi Shinji merasa yakin dibalik sikap dingin Houki saat meminta tolong tadi sebenarnya ada maksud lain dibalik reaksinya itu. Sambil berjalan pulang menuju kamar asramanya Shinji menuliskan catatan permintaan orang yang ia tolong. Melihat semua catatan nya Shinji jadi semakin bingung memikirkan maksud ke empat orang yang ia tolong itu.
"Kenapa mereka ini semua mengincar Ichika? Memangnya mereka ini kekurangan persediaan 'melihat laki-laki' ya?" Bingung Shinji sendirian lagi sambil melihat catatan nya.
"Jangan bilang... Besoknya lagi bakal semua perempuan yang ada disini yang minta tolong padaku membuntuti Ichika!" Shinji langsung membayangkan pemandangan ketika dia terjepit diantara semua siswi yang minta tolong padanya dengan bayangan mengerikan.
"GAH! KALAU MAU CARI LAKI-LAKI KENAPA TIDAK CARI ORANG LAIN SAJA! KALAU PERLU AKU JUGA MAU!" Teriak kesal Shinji menghapus bayangan nya sendirian karena merasa kalah populer dibandingkan Ichika.
Shinji ditemani dengan cahaya senja yang masih terang terus berjalan dengan santai melupakan khayalan aneh sebelumnya menikmati suasana senja saat itu hingga ia sampai didepan gedung asramanya. Gedung itu terkesan futuristik berwarna cokelat mengkilap karena terkena sinar senja dengan tinggi 5 lantai. Tepat sebelum Shinji masuk kedalamnya ia melihat seorang siswi dengan rambut perak dan menggunakan penutup mata dimata kirinya diam berdiri seperti sedang menunggu, dia adalah Laura Bodewig. Shinji yang menyadari kesalahan sebelumnya langsung mengambil kesempatan berduanya untuk minta maaf pada Laura. Tapi tepat sebelum Shinji mulai bicara Laura lebih dulu langsung memberikan sebuah pudding cokelat padanya.
"Kau mau?" Tanya Laura pada Shinji.
"Ahh... Makasih. Tapi kenapa?" Dengan agak malu Shinji menerima pudding itu sekaligus bertanya mengapa Laura memberikan pudding itu padanya.
"Karena aku ingin minta tolong sesuatu padamu" Jawab Laura dengan tenang. Mereka berdua langsung duduk dikursi taman dekat gedung asrama mereka dan kembali membicarakan permasalahan mereka masing-masing.
"Sebelumnya... Aku ingin minta maaf dulu padamu" Setelah duduk Shinji meminta maaf dengan Laura dengan agak malu.
"Minta maaf kenapa?" Tanya Laura bingung mendengar maksud Shinji.
"Yah... Karena hari itu aku sudah merusak IS mu" Jawab Shinji dengan polos.
"Tidak perlu khawatir soal itu, IS akan diperbaiki dengan sendirinya oleh para ahli mekanik disini setelah dalam keadaan closed form" Jawab balik Laura dengan jelas dan dingin. "Malah, aku merasa kagum ketika kau mengalahkan aku waktu itu" Lanjut Laura memuji Shinji.
"Meeh? Kagum kenapa?" Tanya Shinji dengan bingung dan lugu.
"Karena kau sudah mengalahkan aku hanya dengan menggunakan IS biasa" Jawab Laura menjelaskan nya seraya mengingat ketika Shinji melemparkan pedang kearahnya.
"Heh? Memangnya faktor kemenangan itu ditentukan dari seberapa canggihnya senjata yang dimiliki orang itu ya?" Shinji tambah bingung memikirkan kemenangan nya hari itu sambil memakan pudding cokelat yang diberikan Laura padanya.
"Karena itulah, hari itu kau telah membuktikan nya padaku. Seberapa canggihnya senjata yang kau miliki tidak akan bisa mengalahkan orang dengan persenjataan yang lemah tapi memiliki kemampuan yang hebat" Laura memuji Shinji lagi.
"Hehe... Jadi malu mendengarnya. Ngomong-ngomong tadi kau ingin minta tolong apa?" Balas Shinji malu-malu lalu mengganti pembahasan nya.
"Begini... Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu untuk memata-matai Ichika. Apa kau bisa bantu?" Laura langsung menjelaskan permintaan nya.
Shinji menyadari sudah lima orang hari ini yang meminta permohonan yang sama padanya, tapi karena terpaksa akan sumpahnya Shinji harus memenuhi permintaan nya.
"B-Buat apa kalau aku boleh tahu?" Tanya Shinji dengan ragu berharap Laura memiliki tujuan yang lain.
"A-Aku hanya ingin mengumpulkan data-data rahasia mengenai semua murid yang ada disini, itu saja!" Jawab Laura dengan agak panik dan malu-malu. Shinji menyadari perkataan Laura hanyalah untuk menutupi maksud sebenarnya. "Kenapa? Apa permintaan nya terlalu sulit?" Tanya Laura dengan agak ragu.
"Ehh! Tidak! Tidak ada masalah! Aku bisa kok!" Jawab Shinji kaget mendengarnya dan terpaksa menuruti permintaan nya.
"Baguslah. Oh, dan jangan sampai hal ini diketahui oleh orang lain!" Lega Laura mendengarnya seraya memperingatkan Shinji mengenai misinya.
"Siap!" Dengan tangan keatas tanda hormat sambil duduk dan mulut penuh dengan pudding Shinji menyangupi permintaan Laura.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Besok aku akan menemuimu lagi untuk menerima laporan nya" Laura langsung berdiri pamit dan pergi meninggalkan Shinji yang masih duduk seraya menyuruhnya lagi untuk tindakan selanjutnya. Setelah Laura menghilang dari pandangan memasuki asrama Shinji akhirnya menghela nafas lega dan membuka nota catatan nya lagi menulis permintaan Laura sekaligus melihat catatan permintaan ke empat orang lain nya.
"Dengan begini lengkap lima orang yang selalu bersama Ichika" Gumam Shinji sendirian. "Sial, beruntung sekali dia didekati oleh banyak perempuan!" Dengan rasa agak iri membayangkan Ichika yang dikelilingi oleh kelima perempuan itu Shinji langsung bangkit berdiri dari kursi taman yang ia duduki dan langsung melanjutkan perjalanan nya kembali kekamarnya.
Shinji memasuki gedung asrama dan langsung menaiki lift menuju lantai 5 tempat dimana kamarnya tinggal. Sampai dilantai 5 Shinji melanjutkan lagi jalan nya hingga ia berhenti dipintu kamar nomor 565, Kamar tempat Shinji dan Ichika tinggal. Terlihat jelas ditulisan papan penghuninya tertera nama Shinji Sanada dan Ichika Orimura disamping pintunya. Shinji mencoba untuk menarik tuas pintunya mengecek bila Ichika belum pulang atau pintunya masih terkunci, tapi ternyata pintunya bisa terbuka dan terlihat Ichika yang sedang duduk ditempat tidurnya berserta kereta dorong yang sangat besar berisi beberapa kotak kardus.
"Aku pulang" Sahut Shinji pada Ichika. "Selamat datang" Balas Ichika langsung. "Ehh... kotak apa ini?" Tanya Shinji langsung mengalihkan perhatian nya melihat kereta dorong itu.
"Ah iya! Tadi Yamada-sensei ada datang kesini membawa kereta dorong ini. Katanya barang-barang ini untukmu" Jawab Ichika.
"Benarkah?" Shinji langsung senang sekaligus penasaran melihatnya.
"Coba saja kau buka" Balas Ichika yang juga ikut penasaran. Shinji memulainya dengan mengambil kotak besar yang besar memanjang.
"Hmm... Dugaanku ini pasti TV LCD slim 50 inch!" Shinji mencoba menebak isi kotak berwarna polos cokelat itu sambil menguncang-guncangkan nya. Setelah itu Ichika dan Shinji membuka sama-sama kotak itu dan ternyata dugaan Shinji benar isi nya adalah TV 50 inch.
"Wow keren! Dengan begini kita bisa nonton TV dengan kualitas terbaik!" Senang Shinji melihat TV barunya. Shinji melanjutkan mengambil kotak yang lain, kali ini berukuran sedang dan Shinji kembali mengguncangkan kotak itu lagi.
"Hmm... Kira-kira ini pasti game console!" Shinji kembali menebak isi kotaknya. Shinji langsung membuka kotak itu dan tebakan nya benar lagi, isinya adalah game console.
"Sempurna! Kalau tidak ada acara TV yang seru kita bisa main game bersama-sama!" Tambah senang Shinji melihatnya.
"Tapi... Siapa yang mengirimkan nya ya?" Tanya Ichika yang justru penasaran dengan sang pengirim.
"Mungkin ada surat atau sesuatu didalam sini?" Shinji yang penasaran siapa yang mengirimkan barang untuknya langsung mengobrak-abrik kereta dorong itu mencari petunjuk. Shinji melihat didasar kereta itu ada sepucuk surat didalamnya. Tanpa pikir panjang Shinji langsung membuka surat itu dan membacanya.
Kepada anak ku, Shinji.
Ibu sudah mendengar kabarmu dari tempat penelitian bahwa kau sekarang bersekolah di IS Academy. APA? IS ACADEMY! Aku tak menyangka anak laki-laki ku satu-satunya ternyata masuk kesekolah yang ada banyak gadisnya?
Tapi... Ibu bukan nya bermaksud tidak senang dengan hal ini atau menyuruhmu untuk keluar dari tempat itu. Ibu sendiri juga tidak percaya bahwa kau menjadi salah satu sekian laki-laki didunia ini yang bisa mengendalikan Infinite Stratos, sama seperti pemuda yang bernama Orimura Ichika diberita itu. Mungkin kau berteman dengan nya sekarang?
Ibu hanya bisa mengucapkan selamat karena kau sudah kembali bersekolah lagi. Ibu berpikir apa kau sudah menemukan jawaban hidupmu disana? Atau kau masih ingin mencarinya ditempat itu?
Sebagai ucapan selamat ibu mengirimkan beberapa barang kesukaanmu dari rumah dan sebagian ibu belikan baru untukmu. Semoga kau senang melihatnya.
Salam sayang dari ibumu,
Miyuki Sanada
N.P : Semoga kau juga menemukan pasangan hidupmu untuk kedepan nya disana ^_^
"Semoga kau juga menemukan pasangan hidupmu untuk kedepan nya disana, ini memang tipikal ibuku" Selesai Shinji membacakan surat itu seraya malu membaca bagian akhirnya.
"Aku jadi penasaran seperti apa keluargamu itu?" Tanya Ichika penasaran.
"Mereka semua selalu sibuk, ibuku bekerja dikantor penelitian obat-obatan. Sedangkan ayahku bekerja sebagai pilot" Jawab Shinji datar sambil melanjutkan mengguncangkan kotak yang terlihat kecil seukuran lengan.
"Ini apa ya?" Kali ini Shinji tidak bisa menembak isi kotak itu. Shinji langsung menyobek kertas pembungkus kotak itu, tepat sebelum Shinji ingin membuka kotak itu terlihat kartu ucapan terjatuh setelah ia merobek kertas pembungkusnya.
"Apa ini?" Shinji yang bingung melihatnya langsung mengambil kartu itu dan membacanya.
Untuk anak ku yang selama 16 tahun ini belum pernah satupun kukirimkan hadiah ulang tahun kepadamu.
Dari
Ayah
"Ayah..." Shinji mengakhiri membaca surat itu dengan nada sedih.
"A-Ada apa?" Tanya Ichika dengan agak cemas melihat ekspresi Shinji.
"Tidak apa. Aku hanya sedang membayangkan seperti apa ayahku sekarang" Jawab Shinji dengan sedih.
"Kau... Ada masalah dengan nya dulu?" Tanya Ichika lagi.
"Tidak, aku hanya belum pernah melihat wajahnya saja seumur hidupku ini. Mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sehingga belum sempat menemuiku" Jawab Shinji lagi sambil mengelengkan kepalanya.
"Maaf sudah membuatmu bicara sampai sejauh ini" Ichika menyesal minta maaf karena sudah mendengarkan permasalahan Shinji.
"Yak! Kira-kira seperti apa ya hadiah dari ayahku?" Shinji tidak mempedulikan permintaan maaf Ichika dan langsung kembali bersemangat karena penasaran hadiah dari ayahnya. Membuka kotak kecil tadi, terlihat seperti sebuah sarung tangan yang tergabung dengan suatu benda electronik aneh seperti gabungan antara jam tangan dan PDA dibagian pergelangan tangan nya berwarna merah.
"Ini... Jam tangan ya?" Shinji bingung melihat benda itu. Shinji langsung memasangkan benda itu ketangan kirinya, seketika saja benda itu langsung menyala dan menampilkan sesuatu cahaya seperti peta hologram 3 dimensi pada layarnya, terlihat dari gambar hologram itu seperti peta disekitar pulau akademi itu lengkap dengan dimana posisi Shinji berada sekarang.
"Wow! Keren! Ini device peta navigasi 3 dimensi!" Kaget Shinji sekaligus senang sambil memainkan peta hologramnya dengan memutari dengan tangan kanan nya. Shinji langsung mengutak-atik device itu hingga ia melihat suatu tombol touchscreen yang aneh.
"Called IS?" Bingung Shinji membacanya dan tanpa pikir panjang langsung menekan tombol itu. Sekejap saja dihadapan Shinji muncul bola cahaya merah yang semakin lama semakin membentuk sesuatu. Terlihat seperti baju tempur bersayap seperti sayap naga dan berwarna merah api dengan bagian helmnya terlihat mirip seperti naga bertanduk tiga berlapis emas, itu adalah Infinite Stratos. Ichika juga langsung terkejut melihat IS itu.
"Ayah... INI HADIAH TERBAIK SEPANJANG HIDUPKU!" Teriak senang Shinji melihat IS itu.
"T-Tapi... Itu IS punya siapa?" Tanya Ichika dengan ragu.
"Tentu saja ini punyaku! Ayahku yang membelikan nya untuk ku!" Jawab santai Shinji yang masih senang.
"Memangnya IS bisa dijual bebas ya?" Ichika jadi semakin ragu melihatnya.
"Meeh? Memangnya harga IS itu satunya berapa?" Shinji malah tanya balik pada Ichika.
"Ehh... Entahlah berapa harganya?" Ichika menjawabnya dengan agak bingung bagaimana ia harus mesti menjawabnya.
"Baiklah! Kenapa tidak dicoba saja dulu barang mewah ini?" Shinji yang masih bersemangat langsung mendekati IS itu dan memasangnya. Otomatis bagian tangan dan kakinya langsung terpasang dibadan nya ditambah lagi dengan bagian armor badan dan helm yang menutupi penuh, jarang sekali ada IS yang terlihat full-armor seperti itu.
"SISTEM COMPLETED. ANALYZEING PILOT. SHINJI SANADA, COMFIRMED" Terdengar suara A.I dari IS Shinji.
"Siapa kau?" Dengan tololnya Shinji menanyai A.I itu dengan suara yang tersamar seperti suara mesin karena terpasang helm.
"NAMAKU DEVIL, SINGKATAN DARI DIGITAL EVELOPMENT VIRTUAL INTELEGENCE. AKU DISINI BERPERAN SEBAGAI PEMANDUMU, TUAN SANADA" Jawab A.I yang terlihat cukup cerdas untuk sebuah komputer yang bernama DEVIL.
"Boleh aku panggil kau D saja?" Tanya Shinji dengan lugunya kepada A.I itu.
"APAPUN ITU TERSERAH" Jawab datar A.I itu.
"Hei... Kau sedang berbicara dengan siapa?" Tanya Ichika yang tak bisa mendengar suara DEVIL dari dalam IS Shinji.
"Aku sedang berbicara dengan penghuni IS ini!" Jawab Shinji lugu dengan suara mesin nya.
"Hah?" Bingung Ichika mendengar jawaban nya.
"Tapi... Bagaimana kau tahu namaku?" Tanya Shinji kembali kepada DEVIL.
"TENTU SAJA. KARENA AKU SUDAH DIPROGRAM OLEH AYAHMU AGAR BISA MENGENALI SIAPA YANG AKAN MENJADI PILOT IS INI" Kembali DEVIL menjawab dengan datar.
"Ehh... Begitu. Lalu, bagaimana dengan kabar ayahku sekarang?" Paham Shinji mendengar jawaban nya sekaligus bertanya lagi.
"DIA BAIK-BAIK SAJA SEKARANG" Jawab DEVIL dengan datar lagi.
"Begitu ya... Syukurlah" Lega Shinji mendengar jawaban nya.
"Hei Shinji, kau tidak mau mencobanya untuk terbang?" Tanya Ichika yang penasaran dengan IS baru itu.
"Ahh iya hampir lupa!" Kaget Shinji menyadari maksudnya tadi.
"Baiklah, bersiap untuk terbang!" Mesin jet dari sayap IS Shinji langsung menyala dan terbang dengan cepat keluar menabrak kaca jendela kamar mereka dan mengacak-acak isinya.
"Ehh... Apa kamar kita ini ada asuransi untuk kerusakan akibat serangan IS?" Tanya Shinji yang langsung berhenti ditengah udara setelah menyadari telah menabrak kaca jendela kamarnya hingga pecah.
"Sepertinya... Tidak ada" Jawab Ichika dengan tampang kacau melihat isi kamarnya.
"Aku akan ganti semua kerusakan itu nanti" Balas jawab Shinji dan langsung terbang melanjutkan mencoba IS nya.
Shinji langsung terbang menjauh dari kamar asramanya, terbang berkeliling mengitari pulau akademi itu dengan sangat cepat ditemani dengan cahaya sore yang mulai meredup ditelan malam.
"CHECK CONDITION. IS ARMOR: FINE. ENERGY SHIELD: FULL. CURRENT SPEEDS: 235 KM/H" DEVIL memberitahu kondisi IS Shinji saat itu.
"Wow! Cepat juga terbangnya!" Kagum Shinji melihat kecepatan nya di hologram screen IS nya.
Shinji melanjutkan terbangnya dengan trik manuver yang sangat mulus, sempat ia dilihat oleh para murid yang sedang ada diluar ataupun terlihat dari jendela gedung. Shinji terus menikmati aksi terbangnya itu, hingga akhirnya ada 4 IS yang datang mencegat Shinji langsung, diantaranya ada Yamada-sensei.
"Cukup berhenti sampai disini dan siapa kamu?" Yamada-sensei datang dengan IS Rafale Revive Basic berwarna hijau tua mengancam Shinji dengan senjata rifle nya, ia tidak mengenali siapa pilot IS itu karena Shinji menggunakan helm.
"Sensei! Ini aku! Shinji Sanada!" Panik Shinji menjawabnya dengan suara mesin karena ditodong.
"Bohong! Tidak mungkin suara Sanada seserak itu!" Yamada-sensei tidak percaya dengan jawaban Shinji karena suaranya lain.
"Ini, apa anda percaya sekarang?" Helm IS Shinji terbuka otomatis membuktikan diri dengan menampakan wajahnya.
"Ehh... Tapi... Bagaimana bisa kau mendapatkan IS itu?" Terkejut Yamada-sensei mengetahui siapa pilotnya sekaligus bertanya mengenai IS itu.
"Ini hadiah dari ayahku. Bagaimana? Kerenkan?" Jawab Shinji dengan santai dan senang. Lama Yamada-sensei berpikir asal-muasal IS itu hingga akhirnya menyuruh Shinji untuk turun.
"Sanada. Kita bicarakan dulu dikantor sekarang!" Perintah Yamada-sensei dengan serius.
Shinji menuruti perintah gurunya dan pergi turun kedepan kantor guru ditemani dengan 3 penjaga lain nya. Sesampainya dibawah Yamada-sensei dan Shinji langsung melepas IS mereka, hingga akhirnya Chifuyu-sensei datang menghampiri mereka.
"Jadi ini ya?" Tanya Chifuyu-sensei dengan Yamada-sensei.
"Apa anda tahu sesuatu mengenai IS ini?" Tanya Yamada-sensei balik. Mata Chifuyu-sensei langsung mendelik tajam pada IS Shinji seakan itu adalah benda yang berbahaya.
"Darimana kau mendapatkan IS ini Sanada?" Tanya Chifuyu-sensei dengan serius pada Shinji.
"Dari kiriman ayahku. Memangnya kenapa?" Jawab Shinji dengan lugu.
"Apa pekerjaan ayahmu?" Tanya Chifuyu-sensei lagi.
"Pilot" Jawab Shinji singkat.
"Apa ayahmu memiliki hubungan dengan perusahaan khusus atau pihak militer?" Lanjut tanya Chifuyu-sensei lagi.
"Ehh... Sepertinya tidak ada" Jawab Shinji ragu karena tidak mengetahui betul tentang ayahnya.
"Kalau begitu, bawa IS itu!" Jawab Chifuyu-sensei seraya memutuskan hasilnya.
"Ehh! Kenapa?" Kaget Shinji karena tidak senang IS nya dibawa.
"Kami hanya memastikan saja apakah IS ini ada secara resmi atau illegal" Jawab Chifuyu-sensei dengan tegas.
"Memangnya ada masalah dengan itu?" Tanya Shinji seraya protes.
"Tentu saja Sanada. Karena dengan adanya IS baru maka akan mempengaruhi kekuatan militer tiap negara dan memiliki IS illegal juga akan mendapatkan sanksi hukuman yang sangat berat" Jawab Yamada-sensei dengan jelas dan halus.
"Begitu ya... Ehh! Berarti ayahku seorang kriminal dong!" Balas Shinji memahami maksud Yamada-sensei seraya meragukan keberadaan ayahnya.
"Kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti hingga kita selesai memeriksa IS ini" Jawab Chifuyu-sensei lagi. Akhirnya IS Shinji dibawa masuk kedalam kantor itu oleh ketiga penjaga yang masih menggunakan IS diikuti dengan Chifuyu-sensei dan Yamada-sensei. Shinji hanya bisa memandangi IS nya dibawa masuk dengan muka kecewa dan pergi kembali kekamarnya dengan suasana suram. Sementara itu sambil berjalan Yamada-sensei masih melanjutkan pembahasan IS Shinji dengan Chifuyu-sensei.
"Orimura-san, apa anda benar-benar tidak mengetahui tentang IS itu?" Tanya Yamada-sensei dengan agak ragu.
"Tidak. Tapi aku sendiri juga ragu kalau semua ini adalah perbuatan 'dia' " Jawab Chifuyu-sensei sambil menggelengkan kepala dengan rasa ragu juga.
Langit sudah menjadi malam, disuatu tempat atau lebih tepatnya stasiun monorail didaratan seberang pulau itu terlihat ada 2 orang yang sepertinya sedang menunggu kereta monorail. Satu orang terlihat laki-laki dengan tinggi seukuran Shinji atau Ichika memakai setelan baju jaket panjang berwarna cokelat kusam seperti gelandangan dan yang satu lagi adalah seorang gadis yang lebih kecil dari laki-laki itu berambut pirang panjang dengan pakaian seragam IS Academy, dengan dasi berwarna merah tanda dia adalah murid kelas 1.
"Kita lihat misinya" Laki-laki itu bicara dengan dirinya sendiri. Laki-laki misterius itu langsung mengambil sesuatu seperti PDA dari kantong dalam jaket bututnya dan dibacanya suatu pesan yang tertulis di PDA itu.
MISSION 1:
SPYING THEY IS AND GATHER INFORMATION ABOUT THEM, ICHIKA ORIMURA. CHARLES DUNOIS. AND THE LAST MAN, SHINJI SANADA.
MISSION 2:
PROTECT MY DAUGHTER, ALICIA TREVARY.
"Laki-laki ketiga didunia ya, what a surprize!" Selesai laki-laki itu membaca pesan nya sekaligus agak terkejut bercampur bahasa Inggris melihat nama Shinji Sanada. Tak lama kereta monorail yang ditunggu akhirnya tiba distasiun itu, dengan semangat gadis kecil itu langsung berlari masuk kedalam monorail itu.
"Kakak! Ayo cepat!" Panggil gadis kecil itu kepada laki-laki misterius itu yang sepertinya sudah sangat akrab.
"Aku datang!" Balas laki-laki itu dengan ramah. Laki-laki itu membuang jaket bututnya dan sekejap saja bajunya berubah menjadi pakaian teknisi mesin berwarna hijau terang kebiruan beserta topinya dengan lambang IS Academy dilengan baju dan topinya memasuki monorail itu.
"Mission, begins" Laki-laki itu bicara sendirian lagi disertai kereta monorail yang berangkat menuju IS Academy.
