I don't own Infinite Stratos or its characters, all characters and stories orginaled from Izuru Yumizuru. Except my fan character.
Chapter 4
Tugas dan Tanggung Jawab
Pagi esoknya setelah IS Shinji disita oleh para guru ia hanya terduduk lesu didalam ruangan kelasnya ditemani oleh Ichika, Houki, Lin Yin, Cecilia, Charlotte dan Laura yang berusaha untuk menghiburnya.
"Sudahlah. Mungkin kalau sudah selesai diperiksa kau bisa memakainya lagi" Ichika berusaha menghibur Shinji.
"Kalau mereka mau mengembalikan nya" Balas Shinji dengan muka murung.
"Baru IS nya disita sehari saja sudah begitu!" Berbalik dari menghibur Houki, Cecilia, Lin Yin dan Laura malah mencemoh Shinji.
"Kalian tidak mengerti bagaimana rasanya mendapatkan sebuah harta karun yang tiba-tiba langsung dirampok oleh para bandit ya?" Balas Shinji dengan kesal sambil memberikan ungkapan.
"Tidak" Jawab Houki, Cecilia, Lin Yin dan Laura singkat.
"AHH! MENYEBALKAN! AKU MAU RED DRAGON KU KEMBALI!" Teriak kesal Shinji sendirian.
"Red Dragon?" Tanya Charlotte langsung.
"Ya, karena IS itu tidak ada dicantumkan nama makanya kuberi nama Red Dragon karena mirip dengan naga dan berwarna merah" Jawab Shinji dengan lesu.
Sejenak melamun Shinji langsung mengalihkan pandangan nya pada meja depan guru seraya berpikiran jahat.
"Hehe. Akan kutunjukan pada mereka jangan berani macam-macam pada Sanada!" Dengan wajah jahil Shinji langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja guru didepan nya. Ichika dan yang lain nya bingung apa yang akan dilakukan Shinji sebenarnya hanya melihatinya saja.
Shinji langsung menunduk kekolong meja guru, terlihat dibawahnya ada sesuatu seperti pintu kecil menutupi sesuatu. Shinji langsung mengambil obeng dari saku celananya dan membuka paksa dengan mulus pintu kecil itu, didalamnya ada sesuatu seperti komponen motherboard komputer yang sangat rumit. Shinji dengan asal langsung mengobrak-abrik isi komputer itu tapi tak merusaknya hingga berantakan. Puas dengan apa yang dilakukan nya Shinji kembali menutup pintu kecil itu dengan sangat mulus dan berdiri kaget ketika menyadari Ichika berserta Houki, Lin Yin, Cecilia, Charlotte dan Laura sudah berdiri dibelakangnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Houki terlihat was-was.
"Hehe, kau lihat saja saat jam pelajaran nanti" Jawab Shinji dengan tertawa jahil.
Bel masuk kelas berbunyi, tersentak mereka langsung kembali duduk dikursi mereka masing-masing. Shinji berjalan kembali ketempat duduknya dengan tertawa puas kecil sendirian. Tak lama semua murid sudah masuk dan duduk ditempatnya hingga akhirnya Yamada-sensei datang untuk mengisi jam pelajaran pertama. Semua murid dikelas itu langsung berdiri hormat pada Yamada-sensei untuk memulai pelajaran pagi.
"Selamat pagi semuanya!" Sambut Yamada-sensei dengan semua murid dikelasnya.
"Pagi ini kita akan memulai pelajaran dasar yaitu..." Yamada-sensei langsung memulai pelajaran nya dengan meja komputernya, namun komputer dan hologram board nya tidak mau menyala.
Ternyata Shinji membalas dendam dengan merusak peralatan sekolah, ia hanya bisa tersenyum licik melihatnya disertai dengan Ichika dengan kelima teman lain nya yang juga memandangi Shinji seraya memahami apa yang dilakukan Shinji tadi sebenarnya.
"Ehh... Tunggu sebentar ya" Dengan agak panik Yamada-sensei berusaha mengutak-atik keyboard komputernya.
Hingga akhirnya secara kebetulan muncul seseorang dengan pakaian teknisi mesin berwarna hijau terang kebiruan beserta topinya dengan lambang IS Academy dilengan baju dan topinya membawa kotak perkakas ditangan kanan nya melewati kaca jendela luar kelas. Yamada-sensei kontan langsung memanggil teknisi yang kebetulan lewat itu.
"Ahh, maaf! Apa kau punya waktu?" Teriak Yamada-sensei keluar kelas memanggilnya.
Teknisi itu langsung berbalik arah menemui Yamada-sensei.
"Ya, cukup banyak" Jawab jujur teknisi mesin yang wajahnya tertutupi dengan bayang-bayang topinya.
"Kalau begitu, apa kau bisa bantu aku?" Tanya yamada-sensei meminta tolong.
"Selama tugasnya sesuai dengan profesiku, aku bisa bantu" Jawab teknisi dengan dingin.
"Kalau begitu kemari" Ajak Yamada-sensei masuk kedalam kelas.
"Apa... Kau bisa memperbaiki kerusakan ini? Komputer dan hologramnya tidak mau menyala" Beritahu Yamada-sensei mengenai masalahnya sambil menunjukan keyboard komputernya.
Teknisi itu berputar mengitari meja guru menganalisa mencari penyebab kerusakan nya.
"Tunggu sebentar" Lama berpikir teknisi langsung menunduk kekolong meja guru tempat komponen komputernya berasal yang dibongkar oleh Shinji. Teknisi mesin itu langsung membuka pintu kecil tempat komponen komputer berasal, ia melihat kejangalan pada motherboard komputer itu karena susunan komponen nya berantakan.
"Apa masalah ini sudah berlangsung lama?" Tanya teknisi itu kepada Yamada-sensei.
"Ehh... Baru pagi ini" Jawab Yamada-sensei.
"Mungkin penyebabnya oleh tikus yang lewat atau ada seseorang yang menyabotase semua ini" Teknisi itu memberikan kesimpulan permasalahan nya sambil memperbaiki komponen komputernya.
Shinji langsung tersentak kaget mendengar jawaban teknisi mesin itu seraya takut bila ketahuan.
"Yak, kurasa sudah bisa. Coba di test dulu" Selesai teknisi mesin memperbaikinya seraya menyuruh Yamada-sensei mencoba komputernya dan akhirnya komputer dan hologram nya bisa menyala kembali dengan baik.
"Wah... Syukurlah. Kukira bakal tidak bisa belajar nanti" Senang sekaligus lega Yamada-sensei melihat komputer guru kembali menyala.
"Jangan biarkan hal itu terjadi. Kalau tidak masa depan mereka semua ini bakal terancam hanya karena tidak bisa belajar selama beberapa hari" Balas teknisi itu seraya menasehati.
"Kau benar. Terima kasih atas bantuan nya" Yamada-sensei setuju dengan pendapat teknisi itu seraya menunduk terima kasih padanya.
"Tidak masalah. Aku hanya melakukan tugasku. Itu saja" Balas hormat teknisi itu.
"Kalau begitu, aku permisi dulu" Sang teknisi mesin langsung pamit pergi meninggalkan kelas.
Muka Shinji terlihat kesal melihat teknisi mesin itu karena rencana sabotasenya gagal karena seorang teknisi mesin, menciptakan api dendam pada orang itu.
"Ahh... Rencana 'tidak belajar sehari' gagal deh" Kecewa Shinji bicara sendirian diikuti dengan suara Yamada-sensei yang kembali melanjutkan pelajaran.
Bel tanda istirahat berbunyi, singkat pada saat itu Shinji bersama dengan Ichika duduk berbincang sambil makan siang dikantin. Shinji meluapkan kekesalan nya pada si teknisi mesin kepada Ichika.
"Heh, aku tidak bisa membiarkan dia!" Luap kekesalan Shinji pada Ichika sambil makan nasi goreng dengan tempura.
"Yah… Tapikan dia tidak ada salah apa-apa denganmu. Kenapa kau mesti kesal?" Tanya Ichika heran sambil makan bekal makan siang dengan telur dadar gulung.
"Tentu saja dia salah! Dia tidak mengerti bagaimana keadaan nya, kalau dia tidak ada kita sudah bisa dapat jam bebas pelajaran sekarang!" Jawab Shinji yang makin kesal mengingat teknisi mesin itu.
"Kau tadi bertujuan supaya tidak bisa belajar seharian ya?" Tanya Ichika lagi mengenai maksud Shinji saat menyabotase computer guru.
"Sebenarnya dua. Yang pertama karena aku mau membalas dendam karena sudah menyita Red Dragon, dan yang kedua karena memang aku tidak ingin belajar" Jawab Shinji santai.
"Kau bicara seakan ini sangat gampang melakukan nya" Ragu Ichika pada Shinji.
"Bukan nya karena gampang, tapi karena aku menikmatinya dengan senang hati" Balas Shinji santai sambil tersenyum dengan sumpit ditangan kanan nya diam-diam mengambil telur dadar gulung Ichika.
"Oi! Itu punyaku!" Kaget Ichika melihat telur dadar gulungnya yang mau siap dilahap Shinji.
"Aku cuma ambil satu saja! Pelit sekali!" Shinji berusaha mepertahankan telur dadar gulung 'curian' nya.
"Kalau begitu aku ambil tempura mu!" Ichika membalasnya dengan mengambil tempura Shinji.
"Hei! Itu potongan terakhirku! Jangan dimakan!" Shinji membalas untuk mempertahankan tempura nya.
"Setidaknya kita bisa tukaran!" Balas Ichika lagi.
"Aku tidak mau tukaran kalau ada sisa yang terakhir! Itulah salah satu jalan laki-laki ku!" Balas Shinji juga membela diri.
"Tapi kau mengambil telurku! Pelit sekali kau!" Balas Ichika yang mulai agak kesal.
"Tapi punyamu masih banyak, tidak masalahkan berbagi sedikit untuk orang lain?" Balas Shinji kembali.
Ichika dan Shinji akhirnya bertarung 'adu sumpit' berusaha mempertahankan makanan mereka, hingga akhirnya Shinji melihat sosok yang ia kenal.
Seseorang dengan pakaian teknisi berwarna hijau terang kebiruan dan wajah yang tertutupi oleh bayangan topinya, teknisi mesin yang sudah menjadi 'pengganggu' untuk Shinji sedang berjalan dengan nampan berisi hamburger dan minuman soda cola kesalah satu meja kantin agak jauh dari tempat Shinji duduk. Teknisi mesin itu menaruh nampan nya dimeja itu, tepat sebelum mengambil hamburger nya ia melihat tangan nya yang kotor entah oleh kenapa.
"Ah, aku cuci tangan dulu" Gumam teknisi mesin sendirian menyadari tangan kotornya dan pergi ketoilet didekat kantin untuk cuci tangan meninggalkan makanan nya sementara. Melihat teknisi mesin itu pergi meninggalkan makanan nya mata Shinji langsung mendelik pada hamburger nya dengan pikiran jahat.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan" Tebak Ichika melihat Shinji.
"Tepat sekali!" Jawab Shinji dengan nada jahil sambil mengeluarkan sebuah botol saus cabai berwarna merah dengan label tulisan 'All-World Chili Sauce'.
"Darimana kau mendapatkan itu?" Tanya Ichika penasaran melihat Shinji mengangkat botol itu.
"Dari dapur kantin" Jawab Shinji singkat.
"Kau ini suka seenaknya saja ya?" Bingung Ichika melihat perilaku Shinji.
"Aku tidak akan berhenti sampai dia merana!" Jawab Shinji dengan nada jahil. Shinji langsung berjalan diam-diam menuju meja tempat teknisi mesin tadi menaruh makanan nya. Sambil memandang sekelillingnya bila ada yang mengawasinya Shinji lalu membuka roti bagian atas hamburger nya dan menuangkan saus cabai keatas bagian dagingnya dan menutupnya kembali.
"Selamat menikmati" Salam Shinji pada hamburger itu dengan tertawa cekikikan dan kembali kemeja kantin nya bersama Ichika.
"Dasar kau ini, hati-hati jangan sampai kau kelewatan mengerjainya!" Setelah Shinji kembali Ichika langsung menasehatinya.
"Jangan khawatir, kalau cuma kepedasan tidak masalahkan?" Jawab Shinji dengan enteng.
Tak lama ada seseorang yang mendatangi meja itu, tapi bukan teknisi mesin yang datang, melainkan seorang gadis kecil berambut pirang panjang dengan pakaian seragam IS Academy berdasi merah.
"Ehh? Siapa itu?" Penasaran Shinji melihat gadis itu.
"Itu anak kelas satu kan?" Jawab Ichika yang juga penasaran.
"Ya, aku tahu soal itu. Tapi apa hubungan nya gadis kecil itu dengan teknisi mesin tadi?" Tanya Shinji balik.
"Entahlah. Mungkin karena tidak punya tempat duduk dia disitu atau karena dia itu adiknya?" Jawab Ichika memberikan pendapatnya.
Teknisi mesin akhirnya kembali dari kamar kecil sehabis cuci tangan, dilihatnya gadis kecil duduk didekat mejanya ia langsung terperanjak melihatnya.
"Alicia, sedang apa kau disini?" Tanya teknisi mesin melihat gadis itu yang bernama Alicia.
"Memangnya kenapa? Kakak tidak senang ya aku disini?" Tanya Alicia dengan sedih.
"Bukan nya begitu... Tapi golongan kita ini berbeda" Jawab teknisi mesin itu menjelaskan.
"Tapi... Bukankah kakak pernah bilang dulu kalau semua manusia didunia ini sama dan tidak ada yang dibeda-bedakan?" Tanya Alicia lagi seraya mengingatkan.
"Heh... Kau benar" Balas teknisi mesin itu dengan senang sambil mengelus kepala Alicia.
"Heh? Dia itu adiknya?" Kaget Shinji yang mendengar pembicaraan mereka.
"Memangnya ada yang salah dengan itu?" Tanya Ichika pada Shinji.
"Tentu saja salah! Dari wajahnya saja mereka itu tidak terlihat ada kemiripan sama sekali!" Jawab Shinji asal.
"Darimana kamu tahu wajah mereka tidak mirip? Padahal wajah orang itu tertutupi oleh topi?" Bantah Ichika mendengar jawaban Shinji yang tidak masuk akal.
Selagi Ichika dan Shinji berdebat tanpa disadari Alicia langsung mengambil hamburger milik teknisi mesin.
"Hei, itu punyaku" Teknisi mesin memberitahu sekaligus menunjuk hamburger yang dipegang Alicia.
"Sebenarnya tadi aku ada pesan spagetti, tapi karena terlalu lama aku makan punya kakak saja ya? Biar nanti spagetti nya kakak yang makan" Jawab Alicia sambil memohon.
Teknisi mesin itu hanya bisa tersenyum pasrah saja melihat makanan nya diambil.
Tepat saat Alicia mengigit hamburger itu ia mengalami kepedasan yang hebat.
"UAAAAHH! PEDASSS!" Teriak panik Alicia karena kepedasan. Shinji langsung kaget ketika mendengar teriakan Alicia.
"Alicia! Tenang dulu! Minum ini!" Dengan cepat tanggap teknisi mesin memberikan minuman cola pada Alicia untuk menghilangkan rasa pedasnya.
"Ahh... Kacau" Kecewa Shinji karena rencananya gagal sambil menempelkan tangan diwajah.
"Kakak tidak bilang kalau ada memasukan saus cabai didalamnya!" Kesal Alicia seraya mau menangis pada teknisi mesin.
"Tapi… Aku tidak ada memasukan saus cabai tadi! Lagipula kamu tahukan aku juga tidak suka makanan pedas?" Teknisi mesin berusaha membela diri seraya memberikan alasan nya.
"Lalu, kenapa hamburger ini rasanya pedas?" Tanya Alicia langsung sambil menjulurkan lidahnya yang terbakar pedas.
"Pasti ada orang yang usil disekitar sini!" Curiga teknisi mesin sambil memandang sekelilingnya.
Shinji yang saat itu melihat mereka sekaligus sudah selesai makan langsung pergi dari kantin seraya berpura-pura tidak tahu apa-apa diikuti dengan Ichika yang juga sudah selesai makan.
"Nah… Sekarang apa yang akan kau lakukan nanti?" Tanya Ichika yang curiga dengan gerak-gerik Shinji.
"Kau lihat saja dikelas nanti!" Dengan nada kesal bercampur jahil Shinji menjawab.
Sekembalinya kekelas, bel masuk kelas belum berbunyi. Selain itu dikelas saat itu tidak ada orang selain Ichika dan Shinji. Memanfaatkan kesempatan itu Shinji kembali kekolong meja guru dan membuka pintu kecil tempat komponen komputer sebelumnya. Kali ini Shinji merusak komponen itu dengan palu.
"Heheh... Biar dia kerepotan mengurusinya!" Tertawa licik Shinji melihat kerusakan yang diperbuatnya.
"Oi! Apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Ichika yang mulai takut.
"Kau belum merasakan apa yang disebut kenakalan remaja ya?" Tanya Shinji balik.
"Yah... Selama ini belum" Jawab Ichika dengan lugu.
"Kalau begitu biar kutunjukan, asal kamu diam saat ada yang bertanya soal masalah ini maka semua akan baik-baik saja!" Balas Shinji setelah menutup pintu komponen komputernya seraya mengancam Ichika untuk tutup mulut.
"Tapi... Merusak properti sekolah..." Ichika mulai ragu untuk menjawabnya.
"Kalau bukan masalah bukan nakal namanya!" Sahut balik Shinji.
Akhirnya bel masuk kelas berbunyi, Shinji dengan suasana senang tapi menyimpan sedikit kejahatan langsung kembali ketempat duduknya. Ichika terpaksa berdiam diri mengenai masalah yang sebenarnya bukan urusan nya. Tak lama semua murid kembali ketempat duduknya masing-masing, diikuti dengan guru mata pelajaran selanjutnya yang ternyata adalah Chifuyu.
"Baiklah semuanya, hari ini kita akan melanjutkan pelajaran kemarin mengenai sistem add-on weapon IS" Chifuyu langsung saja memulai pelajaran nya tanpa sapaan. Chifuyu mulai menghidupkan komputernya, tapi tidak mau menyala.
"Kenapa ini?" Bingung Chifuyu karena komputernya telah dirusak Shinji tanpa sepengetahuan nya. Beberapa kali Chifuyu-sensei mengutak-atik komputernya seperti Yamada tadi pagi tapi belum juga berfungsi.
Semua murid mulai berbisik-bisik lagi mengenai kerusakan komputer guru itu, seeakan ada sesuatu yang mistis dibalik itu semua, terkecuali Ichika yang melihatnya sendiri siapa pelaku dibalik itu semua. Dilain pihak Houki, Cecilia, Lin Yin, Charlotte dan Laura langsung mendelikan mata mereka kearah Shinji seraya curiga siapa pelakunya.
"Orang itu... Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran nya?" Jengkel Houki dalam hati melihat Shinji yang sedang tertawa senang melihat Chifuyu yang sedang kesusahan.
Tak lama teknisi mesin melewati kelas itu lagi, Chifuyu langsung memanggilnya.
"Hei kamu! Kemari!" Chifuyu-sensei memanggil teknisi mesin itu.
Ia pun langsung berbalik arah menemui Chifuyu.
"Ya? Ada yang bisa kubantu?" Tanya teknisi mesin itu dengan sopan.
"Aku ada sedikit masalah disini. Kau bisa bantu?" Tanya Chifuyu balik.
"Selama tugasnya sesuai dengan profesiku, aku bisa bantu" Jawab teknisi mesin dengan dingin.
"Dan ini memang berhubungan dengan profesimu" Balas Chifuyu dengan dingin juga. Chifuyu langsung mengajak teknisi mesin kedalam kelas.
"Seingatku tadi pagi ada masalah seperti ini juga?" Curiga teknisi mesin menyadari masalah tadi pagi sebelumnya.
"Benarkah?" Tanya Chifuyu.
"Ya, guru berambut hijau berkacamata tadi pagi ada memanggilku untuk memperbaiki masalah yang sama" Jawab teknisi mesin itu dengan jelas.
Tanpa berpikir lama ia kembali membuka pintu tempat komponen komputer berasal, setelah membukanya terlihat komponen-komponen komputernya sudah rusak berat, bukan nya teracak-acak seperti pagi sebelumnya.
"Hmm... Sepertinya tikus penghuni lubang ini tidak senang bila rumahnya dirapikan" Curiga teknisi mesin itu melihat kerusakan nya yang makin parah.
"Tikus? Apa makhluk itu pelakunya?" Tanya Chifuyu yang penasaran apa yang dimaksud teknisi mesin.
"Bukan nya apa-apa, itu hanya sebuah kiasan" Jawab teknisi mesin.
"Jadi... Bagaimana?" Tanya Chifuyu kembali kepada kerusakan komputernya.
"Parah" Jawabnya singkat.
"Perlu berapa lama supaya bisa digunakan lagi?" Tanya Chifuyu lagi.
"Supaya bisa berfungsi seperti semula kira-kira paling cepat 2 hari, atau yang paling lama seminggu. Tergantung kondisi dan keadaan" Jawab teknisi mesin itu dengan jelas.
"Jadi artinya kelas ini tidak bisa digunakan untuk beberapa saat?" Tanya Chifuyu seraya butuh penjelasan lagi.
"Bisa saja selama pelajaran nya tidak membutuhkan komputer untuk beberapa hari kedepan" Jawab teknisi mesin menjelaskan.
Sementara itu Shinji tertawa kecil sendirian tanpa disadari orang-orang disekelilingnya, membayangkan sang teknisi mesin kerepotan memperbaiki komputer itu untuk beberapa hari, sesuai dengan perencanaan Shinji untuk membuat teknisi mesin itu merana.
"Heh… Terpaksa aku harus mengajar diluar kelas dihari panas ini" Hela nafas lesu Chifuyu sambil melihat jendela keluar, memang saat itu matahari siang sudah panas.
"Baiklah semuanya! Kita langsung adakan praktek add-on weapon IS diluar kelas! Persiapkan pakaian latihan dan IS kalian!" Chifuyu langsung memerintahkan semua murid untuk belajar diluar kelas, diikuti dengan suara lemas kecewa karena terpaksa belajar diluar kelas dihari yang panas.
"Yah… Walaupun tidak berjalan sesuai rencana sesungguhnya tapi setidaknya aku sudah cukup puas membuat teknisi mesin sialan itu sengsara!" Pikir Shinji didalam hatinya sendirian.
"Tunggu dulu!" Tepat sebelum semua murid keluar kelas teknisi mesin langsung menghentikan mereka.
"Ada apa?" Tanya Chifuyu.
"Tidak, aku hanya curiga bila tikusnya masih ada disekitar sini" Jawab teknisi mesin.
"Maksudmu?" Tanya Chifuyu yang bingung dengan maksud teknisi mesin itu.
"Yah… Anda tahu sendirikan seekor tikus tidak mungkin bisa menghancurkan komponen komputer ini dengan tangan kecilnya hingga rusak kan?" Teknisi mesin itu menjelaskan maksudnya dengan sedikit kiasan.
"Maksudmu kau curiga bila pelakunya ada diantara mereka?" Curiga Chifuyu mendelikan matanya kepada semua murid yang masih berdiri dikursi mereka dengan rasa agak takut bila dituduh melakukan nya.
"Mungkin, tapi kita tidak bisa memastikan nya siapa pelakunya" Balas teknisi mesin itu seraya berpikir.
Sebentar berpikir teknisi mesin langsung mendekatkan mulutnya kedekat telinga Chifuyu membisikan sesuatu padanya. Chifuyu hanya menjawabnya dengan mengangguk seraya menyetujui sesuatu.
"Baiklah kalian semua! Sebaiknya kalian mengaku siapa yang merusak komputer ini! Kalau tidak, kalian semua akan kuhukum lari keliling pulau ini 100 kali!" Teriak Chifuyu-sensei langsung mengancam seluruh isi kelas untuk mengaku.
Seluruh isi kelas langsung berisik karena panik mendengar ancaman Chifuyu. Mereka saling menuduh satu sama sama lain nya untuk mengaku. Hingga akhirnya Ichika serta Houki, Cecilia, Lin Yin, Charlotte dan Laura langsung menunjuk Shinji yang berdiam diri berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Shinji Sanada pelakunya! Aku melihatnya tadi pagi ada merusak komputernya!" Jawab jujur Houki, Cecilia, Lin Yin, Charlotte dan Laura sambil menunjuk Shinji.
"Dan siang ini dia membuatnya jadi tambah parah" Ichika menambahkan kesaksian nya dengan terpaksa karena takut dihukum.
"KALIAN SEMUA PENGKHIA- Ups!" Teriak kesal Shinji tanpa sengaja mengakui perbuatan nya.
"Heh, sang tikus akhirnya mati kena perangkap" Teknisi mesin memberikan ungkapan lagi.
"Dan sepertinya aku mengenal tikus itu" Balas Chifuyu memandangi Shinji dengan kejam.
"Mati aku…" Shinji bicara sendirian sambil meneguk liurnya sendiri melihat Chifuyu.
"Sanada! Sebagai hukuman karena sudah merusak peralatan sekolah, kau dihukum membersihkan gedung stadion sekarang!" Teriak Chifuyu menghukum Shinji.
"Hah, terpaksa deh" Shinji terpaksa menjalani hukuman nya langsung berdiri dengan gaya malas-malasan berjalan keluar kelas.
"Jaga sikapmu itu!" Chifuyu memperingatkan Shinji yang berjalan malas keluar kelas.
"Dan yang lain nya, persiapkan diri kalian untuk praktek dilapangan nanti!" Lanjut Chifuyu menyuruh murid-murid lain nya.
Shinji akhirnya menjalani hukuman nya membersihkan gedung stadion. Dari sana Shinji bisa mendengar suara mesin jet dan ledakan senjata dari lapangan disebelah gedung stadion itu, mengingat pelajaran praktik diluar lapangan seperti yang dikatakan Chifuyu sebelumnya.
Dengan tongkat pel lantai dan ember berisi air Shinji berputar mengelilingi gedung mengepel lantai, dilanjutkan dengan membersihkan jendela kaca disekitar gedung itu. Lama akhirnya Shinji membersihkan seluruh gedung itu dengan bersih sempurna.
"Heh... Semua sudah beres. Tinggal apa lagi ya?" Bingung Shinji sendirian apa yang harus dilakukan nya lagi.
Shinji akhirnya menghabiskan waktu luangnya dengan bermain-main, dari bermain sliding dilantai yang licin hingga menirukan tarian dan nyanyian dari seorang bintang.
Tak lama Shinji bermain-main bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, menandakan waktu bermain Shinji sudah habis.
"Yap. Bel berbunyi dan saatnya memberikan laporan!" Semangat Shinji langsung mengangkat tongkat pel dan ember seraya ingin memberitahukan hasil kerjanya pada Chifuyu.
Baru berjalan dikoridor stadion Shinji langsung bertemu dengan Chifuyu yang kebetulan juga jalan bersama dengan Yamada langsung memberikan laporan padanya.
"Lapor! Tugas hukuman sudah dijalankan!" Shinji langsung melaporkan diri pada Chifuyu sambil mengangkat tangan tanda hormat.
"Ya... Kuakui kerjamu sangat memuaskan" Kagum Chifuyu-sensei sambil melihat sekeliling koridor stadion yang terlihat bersih mengkilap.
"Hehe, baguskan?" Senyum bangga Shinji pada Chifuyu.
"Aku tidak tahu darimana kau dapat stamina sebanyak itu, tapi sesuai peraturan bila seseorang telah menuntaskan hukuman nya dia boleh pergi" Balas Chifuyu penasaran seraya menerangkan.
"Heh, baguslah kalau begitu. Tapi kenapa anda semua ada disini?" Hela nafas lega Shinji setelah mendengar perkataan Chifuyu dilanjutkan dengan bertanya pada mereka.
"Kami akan mengoperatorkan IS baru punya anak kelas 1, karena itu kami mau pergi keruang operator stadion sekarang" Jawab Yamada dengan halus.
"Ahh, ngomong-ngomong soal IS bagaimana dengan IS ku?" Shinji langsung mengalihkan pertanyaan nya mengenai IS nya.
"Kami belum bisa mengkonfirmasikan nya sekarang, tapi kalau terbukti itu adalah IS illegal kami terpaksa harus menghancurkan nya" Jawab Chifuyu langsung seraya memperingatkan.
"EHH? Aku tidak mau sampai dihancurkan!" Protes Shinji seraya membayangkan IS nya diremukan oleh mesin penghancur sampah.
"Bersabarlah, Sanada. Kami akan berusaha untuk mencari kebenaran IS itu supaya kau bisa menaikinya lagi" Hibur Yamada pada Shinji.
"Yamada-sensei, anda baik sekali!" Shinji dari dalam hati ingin terharu mendengarkan perkataan Yamada.
"Baiklah, sebaiknya kita juga cepat Yamada-sensei, para tamu VIP pasti juga sedang menunggu" Chifuyu langsung mengembalikan topik permasalahnya pada Yamada.
"Baik. Sampai nanti Sanada" Yamada menuruti perintah Chifuyu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang operator seraya pamit dengan Shinji.
"Berapa lama lagi supaya aku bisa memakai IS ku lagi?" Pikir Shinji dalam hati seraya pergi mengembalikan tongkat pel dan embernya.
Selesai Shinji mengembalikan tongkat pel dan ember diruang kebersihan gedung stadion ia berencana untuk kembali pulang kekamarnya. Hingga tepat sebelum Shinji keluar gedung ia melihat teknisi mesin dan Alicia yang memakai pakaian latihan IS berwarna putih bergaris biru disalah satu koridor sedang membicarakan sesuatu. Penasaran apa yang mereka bicarakan Shinji diam-diam menguping pembicaraan mereka.
"Rasanya… Agak memalukan memakai baju ini" Keluh Alicia memakai pakaian latihan IS nya yang seperti pakaian renang.
"Jangan salahkan aku, tanyakan pada pihak akademi ini kenapa pakaian latihan nya seperti baju renang" Balas teknisi mesin itu tidak terlalu mempermasalahkan nya.
"Yah… Sebenarnya bukan itu juga permasalahnya" Balas Alicia malu-malu.
"Jadi kenapa?" Tanya teknisi mesin dengan halus.
"Ini… Pertama kalinya aku menaiki IS. Aku… Entah kenapa rasanya jadi agak takut" Dengan gemetaran Alicia menjawab.
Teknisi mesin langsung tersenyum bangga dan langsung mengelus kepala Alicia dengan lembut.
"Aku mengerti perasaanmu" Sambil tersenyum teknisi mesin itu membalas jawaban Alicia.
"Dulu… Sewaktu aku pertama kali memegang senjata aku juga mengalami pengalaman yang sama sepertimu" Teknisi mesin mengingat masa lalunya pada Alicia.
"Ada perasaan yang bercampur didalam hatiku saat menerima senjata itu. Senang menerimanya karena aku mendapatkan sesuatu yang menarik, takut karena benda itu berbahaya dan benci karena benda itu adalah pembunuh" Lanjut teknisi mesin itu melanjutkan kisahnya.
"Tapi pada akhirnya, aku mengatasi kegundahan itu. Sehingga aku bisa menggunakan senjata itu dengan benar" Selesai teknisi mesinmengakhiri kisahnya.
"Bagaimana, caranya kakak mengatasi kegundahan itu?" Tanya Alicia penasaran.
"Tujuan. Tanpa adanya tujuan kau memegang senjata itu maka kau akan ragu untuk menggunakan nya" Jawab teknisi mesin.
"Sama seperti aku disini, bertugas untuk menjagamu" Lanjut jawabnya lagi.
"Kau ingatkan kenapa kau ingin masuk ke akademi ini?" Tanya teknisi mesin langsung pada Alicia.
"Ya! Aku ingin membuat ayah bangga dengan menjadi pilot IS untuk Brotherhood suatu hari nanti!" Jawab Alicia dengan semangat.
"Kalau begitu tunjukanlah! Gunakan IS mu dan bertarunglah disana! Capailah tujuanmu itu!" Teknisi mesin itu berteriak menyemangati Alicia.
"YA! AKU AKAN MENUNJUKAN KEPADA AYAH KALAU AKU BISA!" Teriak Alicia juga seraya menyuarakan janjinya.
"Itu baru yang namanya semangat!" Lanjut dukung teknisi mesin.
"Ehehe, ini semua berkat kakak, aku jadi memiliki keberanian lagi sekarang" Balas Alicia seraya berterima kasih.
"Nah… Sekarang pergilah menuju. Naiki IS mu dan tunjukan pada mereka. Aku akan mendukungmu ditribun" Teknisi mesin menyemangati Alicia lagi.
"Ya! Aku akan berjuang!" Alicia langsung pergi berlari dengan semangat menuju pit sambil melambaikan tangan.
"Ahh… Kuharap aku juga punya adik perempuan" Bisik Shinji sendirian membayangkan dirinya memiliki seorang adik.
Setelah teknisi mesin itu pergi, Shinji keluar dari persembunyian nya dan melanjutkan perjalanan nya pulang kekamarnya. Tapi langkahnya terhenti ketika Shinji bertemu dengan Charlotte ditengah jalan.
"Ah, Shinji-kun sedang apa kau disini?" Tanya Charlotte kepada Shinji.
"Tidak ada. Cuma ingin pulang kekamar saja sehabis menjalani hukuman, Cha-chan" Jawab Shinji memanggil Charlotte dengan Cha-chan.
"C-Cha-chan?" Bingung Charlotte dipanggil Shinji dengan panggilan Cha-chan.
"Itu sebagai balasan karena kau memanggilku Shinji-kun. Supaya kita impas memiliki nama panggilan" Jawab Shinji menjelaskan dengan santai.
"Hehe… Kamu orang yang unik ya?" Charlotte tertawa kecil seraya tidak mempermasalahkan nama panggilan nya.
"Hmm… Entahlah apa aku ini. Ngomong-ngomong sedang apa kau disini?" Shinji juga tidak terlalu mempermasalahkan nya sekaligus bertanya pada Charlotte.
"Sebenarnya, aku kesini ingin latihan dengan IS ku. Tapi karena stadion nya dipakai oleh anak kelas 1 jadi aku terpaksa menunggu dulu" Jawab Charlotte menjelaskan.
"Yah, tak apalah. Sesekali mengalah pada junior tak masalahkan?" Balas Shinji santai.
"Ehh... Kau tidak mau melihat anak kelas 1 latihan ya?" Tanya Charlotte seraya mengajak Shinji.
"Yah, karena aku juga tidak ada kerjaan dikamar bolehlah!" Shinji langsung menerima ajakan Charlotte.
Charlotte dan Shinji akhirnya jalan bersama menuju tribun penonton, disana terlihat ada cukup banyak anak kelas 1, sebagian kelas 2 dan kelas 3 serta para tamu VIP yang duduk dikursi VIP nya ingin menyaksikan latihan tanding itu. Shinji juga memiliki alasan tersendiri mengapa ingin menonton pertandingan itu karena penasaran dengan Alicia. Setelah Shinji dan Charlotte memilih tempat duduk yang bagus tak lama Ichika datang menyapai mereka.
"Char! Maaf aku terlambat!" Ichika memanggil Charlotte sambil minta maaf.
"Tidak apa, pertandingan nya belum mulai kok" Balas sapa Charlotte.
"Oi, kau tidak menyapaku ya Ichika?" Tanya Shinji merasa dilupakan oleh Ichika.
"Ahh iya, maaf Shinji aku tidak tahu kau ada disini" Ichika meminta maaf pada Shinji setelah menyadarinya dan langsung duduk dekat dengan Charlotte.
"Ngomong-ngomong, disini tidak ada penjual makanan keliling ya?" Tanya Shinji lugu memandang seraya berkeluh-kesah.
"Kau kira ini stadion sepak bola ya?" Balas Ichika langsung.
"Yah... bisa sajakan kalau ada yang lapar dan haus kita bisa beli langsung darinya" Balas balik Shinji seraya menyarankan. Charlotte hanya tertawa kecil saja mendengar pembicaraan Shinji dan Ichika.
Tak lama selagi mereka berbincang terdengar suara Chifuyu mengumumkan pertandingan nya.
"Baiklah, sebentar lagi kita akan mengadakan latihan tanding dari kelas 1-1. Dengan peserta Alicia Trevary, kadet dari Amerika Serikat melawan Himura Masomi, kadet dari Jepang. Para peserta diharapkan keluar dari pit segera!" Chifuyu langsung memanggil peserta latih tanding dari ruangan operatornya.
Dari 2 sisi hangar yang berlawanan muncul 2 pilot IS, yang satu adalah Alicia dengan IS warna putih hampir mirip dengan IS Shinji, yang membedakan nya hanyalah bagian warna, helm dan body armor nya yang terbuka dan bertanduk biru satu. Sedangkan disisi lain adalah anak kelas 1 yang Shinji tidak begitu kenal dengan memakai IS biasa.
"P-Personal IS ya?" Kaget Ichika melihat IS Alicia.
"Wah... Cantiknya" Charlotte terkagum dengan IS Alicia yang berwarna putih mengkilap.
"Tapi... IS nya itu hampir mirip dengan IS ku!" Curiga Shinji melihat IS Alicia.
"B-Benar juga. Sekilas memang agak mirip dengan Red Dragon mu" Balas Ichika mulai menyadarinya.
"Kalau tidak salah dengar, IS itu adalah Generation 4th IS buatan Amerika" Balas Charlotte juga menjelaskan.
"Begitu ya. Ngomong-ngomong dimana teknisi mesin itu ya?" Angguk Shinji mengerti seraya mengingat teknisi mesin tadi yang ingin menonton Alicia bertanding sambil memandang sekeliling. Shinji akhirnya menemukan teknisi mesin itu sedang berdiri memandang Alicia disalah satu tribun VIP disamping seorang pria tua yang kelihatan sangat berwibawa, Shinji menduga kemungkinan orang itu adalah ayah dari sang teknisi mesin dan Alicia.
"Pertarungan dimulai!" Pikiran Shinji terganggu ketika mendengar teriakan Chifuyu dari speaker memulai pertandingan.
Alicia langsung mengeluarkan senjata pedang biru berlapis kristal hijau bening ditangan kirinya dan perisai ditangan kanan nya. Murid lawan nya langsung menyerang Alicia dengan pedang katana nya dengan cepat, tapi hal itu sudah diantisipasi oleh Alicia dan langsung menangkis serangan itu dengan perisainya.
"Heh, kurang cepat!" Alicia meremehkan serangan lawan nya dan membalik serang memukul mundur dengan perisainya hingga lawan nya terpental.
"Wow! Shield bash!" Mata Shinji mendelik kagum melihat serangan Alicia.
"Shield bash?" Bingung Ichika yang tidak mengerti kenapa Shinji malah kagum melihatnya.
"Itu teknik serangan dengan menggunakan perisai sebagai senjatanya! Lebih tepatnya mendobrak lawan menggunakan perisai!" Shinji menjelaskan sambil menirukan gerakan nya.
"Darimana kau belajar itu?" Tanya Ichika curiga.
"Dari video game" Jawab Shinji lugu.
"Sudah kuduga" Balas Ichika kecurigaan nya benar.
Kembali pada pertarungan, Alicia memimpin pertarungan tersebut. Beberapa kali lawan nya menyerang dengan katana nya tapi selalu ditangkis dengan baik oleh Alicia dan langsung dibalas balik dengan perisai ataupun dengan pedangnya.
"Hmm... Dengan menggunakan senjata pedang dan perisai dia memiliki kekuatan serangan dan pertahanan yang seimbang. Tapi kelemahan nya dia hanya memiliki serangan untuk jarak dekat saja" Komentar Shinji menilai IS Alicia.
"Tapi lawan nya sama-sama memiliki serangan jarak dekatkan?" Tanya Charlotte pada Shinji.
"Memang, tapi perbedaan nya terletak pada senjatanya Cha-chan. Dia menggunakan pedang dan perisai, jadi dia bisa menangkis serangan lawan dengan mudah dengan perisainya dan menyerang balik dengan tebasan pedang atau pukulan perisainya. Sedangkan lawan nya hanya menggunakan senjata pedang tanpa pertahanan lain nya, terkecuali kalau dia sangat gesit saat menghindari serangan baliknya" Shinji menjelaskan sambil menunjuk Alicia dan lawan nya.
Pertarungan semakin sengit dan lawan Alicia sudah hampir kehabisan Energy Shield nya. Alicia langsung mengeluarkan serangan terakhirnya dengan pukulan dari perisainya dan dilanjutkan dengan tebasan energy blade dari pedangnya. Alicia menang sempurna tanpa kekurangan Energy Shield sedikitpun.
"Tidak buruk, untuk anak kelas 1" Shinji bertepuk tangan sekaligus kagum pada Alicia diikuti dengan sorak riuh dari penonton lain nya.
"Bagus sekali, Alicia" Disatu sisi ditribun VIP teknisi mesin pun juga memuji penampilan Alicia.
"Hah, aku kalah" Keluh menyesal lawan Alicia.
"Tadi itu pertarungan yang hebat, kuharap suatu hari nanti kita bisa bertarung lagi" Balas Alicia sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Ya, saat itu juga aku tidak akan kalah lagi darimu Trevary!" Balas lawan nya lagi dan langsung berjabat tangan dengan Alicia.
"Heh, respect your enemy ya?" Gumam teknisi mesin itu sendirian.
Sambutan kemenangan itu tidak berlangsung lama, hingga ada sesuatu yang jatuh dari langit seperti meteor mendarat dilapangan itu sekitar 4 buah.
"Apa itu? Meteor ya?" Shinji bertanya sekaligus kaget dan penasaran.
"Bukan! Itu..." Ichika terkejut karena menyadari apa itu sebenarnya.
"Orimura-sensei! Itu..." Yamada juga terkejut menyadari benda jatuh itu sebenarnya dari ruang operatornya.
"Trevary! Masomi! Cepat kembali ke pit sekarang!" Chifuyu langsung menyuruh mereka untuk kembali dari suara speaker nya.
"Apa itu sebenar- UWAH!" Shinji yang masih penasaran ingin mendekat melihat benda jatuh tadi hingga tiba-tiba tribun penonton nya tertutupi oleh dinding besi darurat mengunci semua orang didalamnya.
"Kenapa ini? Ada apa sebenarnya?" Panik Shinji yang tidak mengerti apa yang terjadi.
"Sudah kuduga" Tanggap Ichika dengan serius.
"Kau tahu ini, Ichika?" Tanya Shinji pada Ichika yang mengetahui masalah tersebut.
"Unmanned IS" Charlotte menjawab langsung.
"Apa itu Unmanned IS?" Tanya Shinji lagi.
"Bisa dibilang, itu adalah IS yang dikendalikan tanpa awak pilot" Jawab Ichika menjelaskan.
"Memangnya ada ya yang seperti itu?" Tanya Shinji lagi semakin penasaran.
"Dulu kupikir juga tidak mungkin. Hingga aku melawan nya sendiri hari itu" Jawab Ichika lagi sambil mengingat pertarungan nya dulu melawan Unmanned IS.
Ditribun VIP sendiri para tamu mulai berbisik-bisik panik, terkecuali sang teknisi mesin yang dengan tenang mengutak-atik salah satu pintu keluar disana hingga berhasil terbuka.
"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, kumohon kalian semua tetap duduk tenang disini. Aku akan segera membawakan bala bantuan secepatnya!" Sebelum pergi keluar teknisi mesin itu menenangkan para tamu VIP.
"Graves. Kau tahu tugasmu kan?" Pria tua yang duduk didekat teknisi mesin tadi sebelumnya mengingatkan sesuatu padanya.
"Yes, I know it" Jawab teknisi mesin dan langsung keluar melewati pintu yang terbuka tadi.
Kembali disalah satu tribun tempat Shinji dan murid-murid lain nya terperangkap Shinji berusaha untuk mencari jalan keluar.
"Jadi bagaimana kita sekarang?" Tanya Shinji dengan panik.
"Entahlah, salah satu cara untuk menghentikan semua ini hanyalah dengan mengalahkan semua Unmanned IS itu" Jawab Ichika dengan ragu.
"Jadi... Dengan mengalahkan 4 robot aneh itu semua orang disini bisa bebas?" Tanya Shinji lagi.
"Aku sendiri juga tidak tahu apa bisa atau tidak!" Balas Ichika dengan kesal.
"Cih, jadi kita terperangkap disini untuk beberapa lama ya?" Kesal Shinji juga pada dirinya sendiri.
"Jadi... Kita hanya bisa berharap pada anak kelas 1 itu?" Tanya Charlotte dengan rasa panik mengingat Alicia dan lawan nya yang masih ada diluar.
"B-Benar juga!" Kaget Shinji tersadar Alicia masih ada diluar.
Sementara itu sang teknisi mesin berusaha mencari jalan keluar dari stadion, hingga ia berhenti disalah satu pit dan melihat Alicia dan lawan tandingnya tadi menghindari semua serangan dari ke-4 Unmanned IS itu, mereka kelihatan sangat kewalahan menghadapinya.
"Alicia!" Terkejut teknisi mesin itu melihat Alicia kesusahan menghadapi lawan barunya. Ia ingin berlari menyelamatkan Alicia, tapi langkahnya terhenti karena mengingat kejadian nya dimasa lalu.
"Tidak... Kekuatanku sekarang tidak cukup untuk melawan IS!" Bisik didalam hati teknisi mesin dengan ragu sambil membayangkan masa lalunya, dimana ia terlihat sekarat ditengah badai salju bersama dengan 4 orang lain nya yang sudah tewas dan melihat IS yang terbang menjauhi dirinya entah kemana. Pikiran nya langsung berubah saat melihat Alicia terkena serangan laser beam dari salah Unmanned IS yang menembaknya.
"Ah!" Terkejut teknisi mesin itu melihat Alicia kena serang dari hangar dikejauhan.
"Benar... Tanpa tujuan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Karena tugas dan tanggung jawabku adalah untuk melindunginya!" Teknisi mesin itu menyadari tugasnya dan keberanian nya langsung kembali bangkit.
Tepat sebelum teknisi mesin itu keluar mencari senjata, ia melihat sebuah IS, berwarna putih bercampur jingga, itu adalah Rafale Revive Costum II milik Charlotte.
"It's seem sounds crazy but..." Pikirnya ingin memakai IS itu.
Kembali ketempat Shinji berada, ia terlihat sedang berdebat dengan Ichika.
"Kita tidak bisa berdiam diri disini terus lama-lama! Kita harus menolongnya! Tidak mungkin mereka bisa menang melawan 4 IS sekaligus!" Protes kesal Shinji pada Ichika.
"Aku juga ingin menolong mereka! Tapi bagaimana caranya kalau kita terjebak disini?" Balas kesal Ichika mempertanyakan caranya.
"SIAL! Andai saja aku bisa menghancurkan dinding besi ini..." Shinji sudah sangat kesal pada dirinya sendiri sambil meninju dinding besi didepan nya.
"KALAU KAU INGIN MENGHANCURKAN DINDING ITU TANPA PERLU MERUSAK TANGANMU, KENAPA KAU TIDAK MEMAKAI IS SAJA?" Tiba-tiba suara DEVIL keluar dari device ditangan kiri Shinji.
"D! Tapi... Bagaimana?" Kaget Shinji mendengar suara DEVIL sekaligus bertanya diikuti dengan Ichika dan Charlotte yang juga ikut mendengarnya.
"TENTU SAJA, KARENA AKU BISA TERHUBUNG BAIK DARI DEVICE MU ATAUPUN DARI IS" Jawab DEVIL datar.
"Tapi... Apa maksudmu tadi dengan memakai IS? Padahal IS ku kan disita?" Tanya Shinji lugu mendengar maksud DEVIL tadi sebelumnya.
"MUNGKIN SAJA IS MU DISITA, TAPI TIDAK DENGAN DEVICE NYA BUKAN?" DEVIL langsung menjelaskan maksudnya.
"Benar juga! Berarti aku bisa menggunakan IS ku walaupun sedang disita?" Shinji memahami maksud DEVIL sambil memandang device ditangan kirinya.
"TEPAT SEKALI" Balas DEVIL datar.
"Tapi... Bukankah kau tidak boleh memakai IS tanpa seizin guru?" Tanya Charlotte pada Shinji dengan agak ragu.
"Heh, siapa yang peduli dengan peraturan bila nyawa seseorang dalam bahaya, Cha-chan?" Jawab balik Shinji dengan serius.
"Ehh?" Bingung Charlotte dan Ichika bersama bercampur kagum.
"Aku tidak peduli dengan peraturan atau nyawaku sendiri, asalkan aku bisa membuat orang lain bahagia, AKU RELA MELAKUKAN APAPUN!" Shinji langsung menyerukan sumpahnya.
Shinji mengepalkan tinju ditangan kirinya dan langsung membuat posisi tangan menyilang lalu menekan tombol touchscreen bertulisan 'Called IS'.
"Keluarlah! Red Dragon!" Teriak Shinji memanggil IS nya.
Tubuh Shinji langsung dikelilingi dengan cahaya berwarna merah membentuk armor IS Red Dragon disekujur tubuhnya hingga terpasang sempurna.
"D, apa IS ini memiliki senjata?" Tanya Shinji langsung kepada DEVIL dari IS nya.
"SILAHKAN DIPILIH!" Dari layar hologram didepan mata Shinji muncul 3 buah senjata, yang satu adalah 2 buah pedang berwarna hitam, ditengahnya ada senjata sejenis assault rifle, dan dibawahnya ada senjata yang Shinji tidak begitu kenal apa itu.
"Berikan aku pedang!" Perintah Shinji kepada DEVIL setelah melihat senjatanya.
"BAIK" Balas DEVIL datar.
Dari kedua sisi sayap IS Shinji keluar gangang pedang dan langsung diambil Shinji segera membentuk pedang.
"Semuanya mundur!" Sambil memainkan kedua pedangnya dengan memutar-mutarnya Shinji menyuruh orang-orang yang didekatnya untuk menghindar.
"HIYAH!" Shinji langsung menebas secara brutal dinding besi didepan nya.
Dilain tempat teknisi mesin sedang menyentuh IS Charlotte didepan nya, seraya ingin membicarakan sesuatu.
"Kumohon, pinjamkan aku kekuatanmu!" Bisik teknisi mesin dari dalam hati. Konseterasinya terganggu saat mendengar suara Alicia terkena serangan.
"Kumohon! Pinjamkan aku kekuatanmu! Aku ingin menyelamatkan dia!" Teriak teknisi mesin itu dari dalam hatinya lagi. Ia langsung membayangkan Alicia sedang terjatuh saat melawan Unmanned IS itu.
"Dulu, aku sudah kalah olehmu karena kelemahanku saat itu. Dan karena itulah, aku berada disini untuk berusaha menjadi lebih kuat lagi, walaupun itu sangat mustahil bagiku!" Teriak teknisi mesin itu didalam hatinya sambil membayangkan masa lalunya lagi. Tanpa disadari olehnya Alicia sudah terjatuh pingsan terkena serangan Unmanned IS.
"Tapi sekarang, aku ada seseorang yang ingin kujaga dan kulindungi, orang yang telah menjadi tujuan hidupku. Karena itulah, pinjamkan aku kekuatanmu! Untuk menyelamatkan dia!" Teriak teknisi mesin lagi dari dalam hatinya seraya menyerukan sumpahnya.
Tiba-tiba IS Charlotte langsung bersinar, menandakan IS itu menerimanya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa kau bisa menerimaku" Bingung teknisi mesin melihat cahaya tadi seraya memahaminya. Ia langsung memasangkan IS Charlotte kebadan nya dan ternyata bisa terpasang.
"Bisa!" Kaget teknisi mesin itu bisa memakai IS sambil mengecek pergerakan tangan nya.
"Baiklah, jangan membuang-buang waktu lagi!" Teknisi mesin itu langsung lepas landas dari pitmenuju lapangan.
Sementara Shinji yang masih menghancurkan dinding besi penghalangnya berhasil dihancurkan tepat setelah teknisi mesin tadi lepas landas.
"Heh... Akhirnya" Hela nafas Shinji agak kecapekan karena terus menebas pedangnya.
"Eh... Siapa itu?" Kaget Ichika melihat seseorang menaiki IS Charlotte.
Topi dari sang teknisi mesin langsung terlepas karena hempasan angin saat terbang, terlihat rambut hitam terkesan rapi dan mata berwarna cokelat kehitaman nampak dari wajah teknisi mesin itu.
"EHH! TIDAK MUNGKIN! DIA BISA MENAIKI IS JUGA?" Kaget Shinji melihat teknisi mesin itu terbang dengan IS Charlotte.
"Laki-laki ketiga!" Kaget Chifuyu dan Yamada melihat teknisi mesin itu dari ruang operator nya.
"UWAAAAH!" Teriak teknisi mesin itu bersiap menyerang Unmanned IS yang mau menyerang Alicia yang tengah pingsan. Dikeluarkan nya senjata Assault Rifle dari IS nya dan langsung menembaknya dari kejauhan, Unmanned IS itu langsung menoleh perhatian nya pada teknisi mesin yang menembaknya tadi.
"Akulah lawanmu!" Tantang teknisi mesin kepada Unmanned IS sambil terbang dengan cepat mendekatinya.
Teknisi mesin itu menyerang Unmanned IS dengan tinju tangan kirinya dan menusuknya dengan senjata pilebunker yang tersembunyi ditangan kirinya, dilanjutkan dengan retetan tembakan dari sub-machine gun ditangan kanan nya hingga hancur meledak. Ia langsung menggendong Alicia dan memanggil Shinji.
"Hei, kau yang pakai IS merah!" Panggil teknisi mesin kepada Shinji lewat virtual contact.
"Ehh... Apa?" Tanya Shinji langsung.
"Aku yang akan menolong mereka, selagi itu kau urus semua IS itu!" Perintah teknisi mesin itu pada Shinji seraya mempercayakan nya.
"Ya! Baiklah!" Shinji langsung menuruti perintahnya dan terbang menghadang ke-tiga Unmanned IS lain nya.
"Lawan kalian selanjutnya adalah aku!" Tantang Shinji pada Unmanned IS itu.
Teknisi mesin langsung menggendong Alicia dan pilot IS lain nya yang juga pingsan ketempat Shinji membuat lubang keluar tadi.
"Tolong jaga mereka" Teknisi mesin itu membaringkan mereka berdua seraya memohon.
"Iya" Ichika yang kebetulan ada disitu langsung menurutinya.
Teknisi mesin itu kembali terbang menghadapi Unmanned IS tadi.
Sementara itu Shinji terus menghindar serangan missile dan menyerang balik dengan senjata assault rifle melawan Unmanned IS.
"Heh, itu saja kebolehan kalian?" Remeh Shinji pada Unmanned IS.
Teknisi mesin langsung membantu Shinji dengan menembakan Shotgun kesalah satu Unmanned IS didepan nya.
"D! Boleh aku Tanya sesuatu?" Ditengah situasi genting melawan Unmanned IS Shinji bertanya pada DEVIL dengan panik.
"APA ITU? CEPATLAH. MUSUH MASIH BANYAK YANG HARUS DIHADAPI!" Tanya balik DEVIL.
"Apa itu kepanjangan dari F.B.L?" Tanya Shinji lagi melihat senjata ke-tiga dari hologram screen nya.
"ITU SINGKATAN DARI FLAMER, BLASTER DAN LASER" Jawab DEVIL datar.
"F.B.L ya? Kedengaran nya menarik!" Shinji langsung mengganti senjata assault rifle dengan twin F.B.L dikedua bawah tangan nya.
"Terima ini!" Shinji langsung menembakan partikel laser kearah kedua Unmanned IS didekatnya, tapi berhasil dihindari oleh mereka.
"Eh? Apa?" Kaget Shinji tembakan nya berhasil dihindari.
"Gunakan lock-on target system dari IS mu itu saat menembak!" Teknisi mesin mendekati Shinji sambil memberi saran.
"Aku tahu!" Balas Shinji pada teknisi mesin.
"Disampingmu!" Teknisi mesin langsung memperingatkan Shinji untuk menghindar dari tembakan laser dari Unmanned IS yang diserang Shinji sebelumnya, beruntung Shinji mendengarkan nya dan berhasil menghindar.
"Huh, nyaris saja" Lega Shinji berhasil menghindar.
"Jangan santai saja melawan mereka, hadapi dengan serius!" Teknisi mesin itu memarahi Shinji yang terkesan main-main melawan Unmanned IS itu.
"Siapa kau ini memangnya? Ibu ku ya?" Balas Shinji jengkel.
"Tidak peduli siapa aku, yang penting utamakan keselamatan semua orang disini!" Teknisi mesin membalas balik seraya tidak mempedulikan kejengkelan Shinji.
"Iya! Aku mengerti!" Angguk Shinji paham.
Shinji langsung mengganti senjata F.B.L nya dengan twin blades nya dan terbang mendekati salah satu Unmanned IS. Tepat sebelum Unmanned IS itu menyadari keberadaan Shinji ia menggabungkan kedua twin blades nya menjadi satu pedang besar.
"Terima ini!" Shinji langsung membelah Unmanned IS itu menjadi 2 hingga hancur meledak.
Disatu sisi teknisi mesin dengan tenang terbang dilangit menghindar 2 serangan hujan laser dari kedua Unmanned IS yang dihadapinya.
"Terima ini!" Teknisi mesin langsung membalas serangan kedua Unmanned IS tadi dengan senjata Shotgun ditangan kirinya dan Assault Rifle ditangan kanan nya.
"D, apa serangan special dari IS ini?" Tanya Shinji kepada DEVIL setelah mengalahkan lawan sebelumnya.
"KAU BISA GUNAKAN KEKUATAN INI" Jawab DEVIL.
"Kekuatan apa?" Tanya Shinji penasaran.
"PERTAMA, GABUNGKAN TWIN F.B.L MU DENGAN TWIN BLADES" DEVIL menginstruksikan dengan datar.
Shinji mengeluarkan senjata Twin F.B.L dan twin blades nya secara bersamaan, tiba-tiba kedua senjata itu bergabung dengan sendirinya membentuk senjata baru.
"Ehh? Apa ini?" Kaget Shinji melihat senjata gabungan nya.
"SENJATA TERKUATMU, 'DRAGONBREATH' RAILGUN" Devil menjelaskan dengan datar.
"SERTA, SUPER-TECH SOLDIER ABILITY" Lanjut DEVIL menjelaskan.
"Apa itu tadi... Super a-ba-ba-liti soliter?" Tanya Shinji tidak mendengar dengan jelas suara DEVIL tadi.
"SUPER-TECH SOLDIER ABILITY. INI ADALAH TEKNOLOGI BUATAN AYAHMU DENGAN MENINGKATKAN KEKUATAN DAYA TEMPUR IS MENJADI 10 KALI LIPAT DARI DAYA TEMPUR NORMAL" DEVIL menjelaskan lagi.
"Keren! Tapi kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Shinji kagum bercampur jengkel karena baru tahu.
"KARENA... KEMAMPUAN INI SANGAT BERESIKO BAGI PILOT IS ITU SENDIRI. KEMAMPUAN INI MEMAKSA MENGELUARKAN SELURUH KEKUATAN BAIK DARI IS ITU SENDIRI DAN PILOTNYA" Jawab jelas DEVIL.
"Dengan kata lain, menguras tenaga ya?" Tanya Shinji lagi seraya mulai paham.
"TEPAT SEKALI" Jawab DEVIL singkat.
"Baiklah, kalau cuma sekali pakai tidak masalahkan?" Shinji langsung mengunci target musuhnya dengan senjata Railgun nya.
"Oi kamu! Menyingkir dari tembakanku!" Shinji memperingatkan teknisi mesin yang sedang bertarung dengan kedua Unmanned IS untuk menghindar.
Melihat Shinji yang memegang Railgun teknisi mesin itu jadi paham apa maksudnya dan terbang mundur.
"[TARGET ANNIHILATED]" DEVIL mengaktifkan salah satu super-tech soldier ability tepat sebelum Shinji menembakan Railgun nya.
"Apa ini? Tiba-tiba, rasanya gengaman senjataku jadi mantap dan aku semakin yakin untuk menyerangnya!" Kagum Shinji melihat target nya melalui lock-on target dari optical lense nya.
Shinji langsung menembakan Railgun nya tepat kearah 2 Unmanned IS yang sedang berjejer tadi, meninggalkan bekas lubang rel dari tembakan nya menghancurkan Unmanned IS itu hingga berkeping-keping hingga membuat lubang besar menembus dinding stadion.
"H-Hebat..." Kaget Shinji melihat bekas tembakan nya.
Setelah ke-empat Unmanned IS itu dikalahkan, semua dinding darurat yang menutupi stadion tadi langsung terbuka, menampakan pemandangan kehancuran bekas serangan Unmanned IS tadi. Hal yang paling mengejutkan selain kehancuran itu adalah sang teknisi mesin sendiri yang sedang melayang diudara dengan IS nya, karena dia telah menjadi salah satu sekian laki-laki yang bisa menaiki IS. Teknisi mesin langsung turun terbang mendekati Shinji.
"Aku berhutang budi padamu" Teknisi mesin itu mengucapkan terima kasih pada Shinji.
"Tak masalah, selama orang lain bahagia aku juga ikut bahagia" Balas Shinji juga.
"Sanada! Kau tidak apa-apa?" Yamada langsung mengkontak Shinji lewat visual contact.
"Ya, aku baik-baik saja!" Balas Shinji sambil tersenyum puas.
"Lalu... Siapa kau ini sebenarnya?" Chifuyu mengalihkan perhatian nya pada teknisi mesin.
"Hmph, entah siapa aku ini" Jawab teknisi mesin itu dingin.
"Yah, setidaknya kau bisa memberitahu siapa namamu?" Tanya Shinji penasaran.
"Kau tidak perlu tahu soal itu" Tolak teknisi mesin dingin.
Teknisi mesin itu langsung melepaskan diri dari IS Charlotte, yang langsung berubah menjadi Closed Form berbentuk seperti kalung.
"Aku titip padamu kembalikan IS pinjaman ini" Teknisi mesin itu menyerahkan kalung tadi pada Shinji untuk mengembalikan IS Charlotte dan langsung pergi keluar stadion.
"Heh, sombong sekali dia" Jengkel Shinji pada teknisi mesin itu yang berjalan keluar stadion tanpa mempedulikan orang yang melihatnya.
"Dan kau... Sanada!" Chifuyu langsung mengalihkan perhatian nya pada Shinji yang masih memakai IS melalui visual contact.
"Kurasa aku harus berhutang budi padamu" Tidak sesuai apa yang diharapkan ternyata Chifuyu-sensei berterima kasih pada Shinji.
"Tapi tetap saja memakai IS tanpa izin itu termasuk pelanggaran sekolah!" Chifuyu langsung berubah balik memarahi Shinji.
"Ahh, aku mengerti, hukuman lagikan?" Shinji menebak apa yang akan diberikan Chifuyu yang ternyata tidak sesuai pemikiran nya.
"Hukumanmu, 1 kardus besar minuman soda rasa cola!" Chifuyu memberikan 'hukuman'nya pada Shinji.
"Aku suka hukuman itu!" Senyum Shinji senang mendengarnya.
Teknisi mesin langsung keluar dari stadion sambil melihat arah kiri-kanan bila ada yang melihatnya, walaupun diluar sepi. Sampai akhirnya dia dihadang oleh 4 pasukan bersenjata dan pria tua yang ditemani teknisi mesin sebelumnya.
"Sepertinya eksperimen itu tidak gagal" pria tua itu langsung menyampaikan sesuatu padanya.
"Entahlah... satu-banding-seratus mungkin" Bingung teknisi mesin sendiri sambil melihat tangan nya.
"Aku sudah menyampaikan hal ini pada pemerintah, dan seperti yang kau duga mereka sangat tercengang mendengarnya" Balas pria tua itu.
"Jadi kenapa?" Tanya teknisi mesin balik.
"Mereka... Ingin menjadikanmu sebagai salah satu kadet pilot IS" Pria tua itu langsung menjelaskan permasalahnya.
"Hmph... Sesuai yang diharapkan mereka ya?" Dengan nada angkuh teknisi mesin membalas.
"Kau merupakan salah satu bagian dari project itu Graves, dan Amerika mengharapkanmu dapat menyaingi Pilot IS Jepang itu" Pria tua itu menjelaskan lagi.
"Itu tidak ada didalam daftar tugasku" Teknisi mesin membalas lagi seraya menolak.
"Dan sekarang aku menambahkan nya padamu!" Pria tua itu langsung membalas seraya memaksa.
"Kalau itu perintah dari jenderal, aku akan turuti" Dengan nada tenang teknisi mesin itu setuju.
"Bagus..." Pria tua itu tersenyum senang.
"Tapi!" Teknisi mesin langsung memperingatkan hingga membuat pria tua itu kaget.
"Pertama, aku setuju melakukan ini bukan demi kekuatan militer Amerika. Kedua, aku mau Personal IS yang dibuat oleh dia" Teknisi mesin langsung menjelaskan.
"Semua itu tidak masalah. Selama kau menjalaninya dengan baik. Dismiss soldier!" Pria tua itu menutup permasalahan nya dan langsung pergi bersama pasukan nya.
Selagi pria tua itu pergi menuju landasan helikopter salah satu prajuritnya bertanya padanya.
"Sir, apa anda yakin soal ini?" Tanya prajurit itu dengan agak ragu.
"Soal apa?" Tanya pria tua itu.
"Menjadikan dia sebagai kadet pilot IS?" Balas prajurit itu.
"Tidak" Jawabnya singkat.
"Tapi kenapa?" Tanya prajurit itu lagi.
"Karena dia Nathan Graves" Jawabnya lagi.
"Graves? Maksud anda... Kapten dari freedom?" Tanya prajurit itu lagi sambil tercengang mendengarnya.
"Ya. Dan kuharap kalian semua menutup mulut soal ini, atau seluruh dunia bakal merengek-rengek sama dia!" Dengan nada agak kesal pria tua itu langsung menutup pembicaraan nya.
"Yes sir!" Patuh prajurit itu tanpa bertanya lagi dan merekapun langsung pergi meninggalkan pulau akademi setelah helikopter penjemput mereka datang.
Teknisi mesin melihat helikopter itu pergi sambil memberi hormat, terlihat rambutnya yang berwarna hitam agak berantakan berkibar karena hempasan angin baling-baling helikopter. Tak lama Chifuyu langsung datang menghampirinya.
"Nathan Graves bukan?" Tanya Chifuyu kepadanya yang bernama Nathan Graves.
"Benar" Jawab Nathan singkat.
"Aku sudah mendengar semuanya dari atasanmu" Balas Chifuyu seraya mempersingkat permasalahan nya.
"Mulai hari ini, kau resmi menjadi kadet IS Academy mewakili Amerika Serikat" Lanjut Chifuyu.
Nathan langsung berbalik badan menghadap Chifuyu dan membalas balik.
"Baik. Sensei" Singkat Nathan membalasnya.
N.P : Wonder why i think song reverse/re:rebirth is match for this opening story
