And The Past
.
A Bleach fanfic
All Charas by Kubo Tite
.
.
May, 15
Lorong gelap dan sunyi itu bukan suatu tempat yang ingin dilewati siapapun karena di ujung sana yang menanti mereka hanya duka dan kesedihan mendalam. Perpisahan abadi dalam kesunyian dengan mereka yang dicintai.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Kurosaki Ichigo, cowok tampan diawal usia dua puluhan. Putra tunggal pemilik rumah sakit ini. Melewati lorong ini sudah menjadi hal biasa baginya. Meski tahu apa yang menanti dirinya di ujung sana, hatinya tetap terbungkus rapat. Kesedihan tidak mampu menyelinap masuk dalam diirnya.
Kurosaki Ichigo, menutup pintu hatinya semenjak dia menyadari dirinya berbeda dengan manusia pada umumnya. Dia punya sesuatu yang membuat dirinya menjadi salah satu kuda hitam di kelopisian terutama di tim SATU. Sudah jadi rahasia umum di tim SATU bahwa lelaki mata duitan itu memiliki kemapuan membaca masa lalu. Kekuatan sempurna yang banyak membantu mereka dalam menangkap gembong teroris.
Hari ini seperti hari-hari biasanya, setelah dibangunkan secara paksa oleh telpon dari pimpinan SATU, Komjen Kyoraku, dirinya bergegas kemari, ke rumah sakit tempat dia harus bekerja. Meliha masa lalu kaliennya, mayat.
Di depan rumah sakit dia sudah disambut oleh seseorang berambut merah, Abarai Renji. Dua manusia dengan berbeda sifat ini entah kenapa seringkali dipasangkan dalam menyelesaikan tugas penting. Ichigo tidak terlalu ambil pusing dengan siapa dia dipasangkan. Selama orang tersebut bisa bekerja dengan baik. Sebaliknya Renji sepertinya kurang suka dengan Ichigo. Sikapnya yang sok penting dan mata duitan itu membuat Renji sebal.
"Lalu mana yang harus kuperiksa?" tanyanya ketus setelah petugas kamar mayat membukakan pintu dan mereka melagkah masuk ke dalamnya.
Didepan mereka berjajar tiga mayat. Dua mayat laki-laki dan satu mayat bocah laki-laki. Dua orang petugas forensic sedang memeriksa mayat laki-laki yang ada di tengah.
"Laki-laki yang ada di pinggir," jawab Renji sambil menunjuk mayat terletak paling pinggir.
Tanpa banyak bicara lagi Ichigo langsug melakukan tugasnya. Semakin cepat selesai semakin baik, semakin cepat bayaran dia terima.
Ichigo melangkan ke arah mayat klien-nya. Matanya terus menyaksikan tubuh yang terbujur kaku dan terutup kain putih dari perut ke bawah.
Tidak ada bekas memar, tidak ada bekas luka. Kesimpulan pertama yang diambilnya. Lalu setelah berada tepat di sebelah mayat. Ichigo mengangkat tangan kananya dan meletakkan telapak tangan tersebut di kepala korban. Jari-jarinya yang panjang menyentuh kepala mayat itu dengan lembut. Dia memejamkan matanya dan kekutannya mulai bekerja. Bayang-bayang kehidupan yang dijalani oleh raga itu sebelum akhirnya menutup mata untuk selamanya.
Sunyi dan gelap. Sekelebat gambar-gambar kabur tidak jelas melintas diantara kegelapan dan tidak menentu. Sesekali terdengar suara, samar.
"Maaf, kami sudah tidak sanggup lagi," salah satu suara yang mampu Ichigo tangkap ditengah warna hitam yang pekat.
"Kami akan mencabut semua alat bantu nya," timpal suara yang lain.
Lalu kembali sunyi. Terdengar isak tangis. Lalu terjadi gunjangan. Ichigo merasakan sesuatu yang basah menyentuh kulitnya. Semakin lama semakin terasa dan setelah itu semuanya kembali gelap.
Ichigo membuka matanya pelan. "Kau sedang mempermainkanku?" katanya ketus ditujukan pada Renji.
"Apa maksudmu?" jawab Renji bingung.
"Jangan bercanda. Apa maksudmu menyuruhku membaca masa lalu orang yang sudah terbaring koma selama berbulan-bulan!"
Renji terlihat kaget, kemudian seulas senyum tersungging di wajahnya. Dia memang sedang mengetes kemampuan Ichigo. Sengaja membuatnya kesal.
"Jangan lupa bayaran untuk mayat ini!" ancam Ichigo sambil menunjuk mayat yang tadi diterawang masa lalunya.
Setelah melontarkan ancaman dan membersihkan tangannya, Ichigo berjalan keluar. Renji mulai panik, jelas, karena buah dari keisengannya mungkin akan berujung pada pemotongan gaji. Ichigo tidak pernah macam-macam soal uang pembayaran! Harusnya dia mendengar kata atasannya. Memang benar mereka berdua sering dipasangkan, Ichigo sendiri secara tidak langsung bisa dibilang sebagai bagian dari tim SATU. Dia terlalu sering melihat Ichigo beraksi, sekali-kali dia ingin mengetes cowok menyebalkan itu. Sampai sejauh mana kemampuannya.
"Maaf-maaf," rengek Renji sambil menahan tangan Ichigo.
Ichigo diam saja.
"Kita kan partner, jangan perhitungan gitu soal duit!"
Senyum sinis terukir di wajah tampannya, membuat Ichigo terlihat bak setan kegirangan. "Partner katamu? Jangan membuatku tertawa," balasnya, "Aku tidak peduli kita partener atau bukan, kerjaan tetap kerjaan, jasa yang sudah dipakai tetap harus dibayar!"
"Ayolah Ichigo, kalau kau pergi aku bisa dipecat!" Renji menarik lengan Ichigo dan menyeretnya masuk kembali ke kamar mayat.
Ichigo tidak melawan. Dia sudah cukup puas melihat kepanikan Renji. Yang tidak dia mengerti alasannya Renji menahannya di kamar mayat. Ada sesuatu diantara kedua mayat itu. Pasti!
"Ok kita mulai saja sekarang, bisa? Aku serius kali ini. Jadi tolong jangan masukan yang tadi dalam bon tagihan!" Renji terus memohon sambil menuntun Ichigo ke tempat mayat yang ada di tengah. Mayat yang sedang diperiksa oleh dua orang alhi forensic. "Ini klien kita." Renji menunjuk mayat tersebut, "Maaf bapak-bapak mengganggu kerja kalian sebentar," Renji nyengir lebar yang langsung dibalas tatapan tidak suka oleh dua orang itu.
"Kami anggota SATU," kata Ichigo tegas yang sontak langsung memberikan respon kaget pada kedua ahli forensic, mereka cukup tahu diri dengan mundur teratur dan berhenti memasang wajah kusam.
Ichigo kembali memulai aksinya. Dia meletakkan jari-jarinya yang lentik diatas mayat laki-laki berusia akhir tiga puluhan.
Sebuah ruangan luas dengan puluhan orang terpampang di depannya. Bunyi mesin penghitung dan suara orang berbicara terdengar di seluruh ruangan. Lalu matanya mentapa pada sosok mobil van yang berhenti tepat di depan pintu masuk. Tiga orang dengan jaket anti peluru dan senapan serbu di pundak mereka menyerbu masuk. Wajah mereka tertutup rapat, hanya memperlihatkan sepasang mata yang menyorot tanpa belas kasihan.
"Semuanya diam di tempat!"
Sebuah senapan laras panjang ditodongkan ke arahnya. Tubuh itu terhuyung ke belakang beberapa langkah. Matanya sempat mengamati keadaan sekitar. Dua orang lainnya mulai melaksanakan tugas masing-masing. Yang satu bertugas mengumpulkan nasabah, yang satunya lagi mengumpulkan para karyawan bank.
"Mana pimpinanmu!" bentak perampok yang menodongkan senjata padanya
Tangan kanannya terulur menunjuk pintu yang ada disebrang. Laki-laki bertubuh tinggi besar yang menodongkan senapan serbu ke arahnya menoleh ke belakang sebentar, memeriksa kebenaran, dan kembali melihat ke arahnya.
"Kau, jalan di depan! Antar aku kesana."
Tubuhnya bergerak. Kakinya gemetar ketakutan. Sebuah benda ditempelkan ke punggunya. Dengan tangan terangkat, kakinya melangkah. Matanya menatap lurus kedepan, walau demikian dia masih bisa melihat keadaan di sekelilingnya. Tiga orang disebelah kiri sedang menguras semua uang setoran hari ini. Lalu dua orang berjaga dipintu keluar. Menutup akses keluar masuk. Puluhan nasabah berada dalam posisi jongkok dengan tangan memegang kepala.
Mereka sampai di depan pintu kepala cabang.
"Buka!" perintah orang yang menodongnya.
Tangannya bergerak membuka pintu. Dari dalam ruangan matanya menemukan sosok direktur yang terkenal dengan kharismanya meringkuk ketakutan di balik meja, kakinya bergetar. Tubuhnya dipaksa maju dengan senjata yang ditodongkan ke punggung. Lalu sebuah suara nyaring terdengar. Suara letusan. Sesaat kemudian disusul rasa sakit di punggung yang menjalar ke dada, suara teriakan sang kepala cabang meledak. Lalu setelah itu semunya menjadi putih, tubuhnya terjatuh bersamaan dengan datangnya kegelapan.
Ichigo tersadar. Dia cukup kaget. Tidak menyangka akan mengalami kematian dengan cara ditembak dari belakang. Bukan sensai yang menyenangkan.
"Dia salah satu korban perampokan bank kemaren."
"Begitulah," balas Renji.
"Mayatnya tidak berguna, tidak banyak membantu!" kata Ichigo, dari kemampuannya melihat masa lalu, biasanya akan membantu Ichigo melihat siapa dalang dari pembunuhan tersebut. Namun ada kalanya korban sendiri tidak mengetahui siapa yang membunuhnya. Kalau sudah begini biasanya dia harus membaca kehidupan korban selama tujuh hari ke belakang. Tapi namanya manusia, terkadang mereka terlalu pintar menyusun rencana pebunuhan yang begitu sempurna sampai-sampai korbannya sendiri tidak sadar dirinya sedang diincar.
"Ini hanya pembuka, pekerjaan yang sebenarnya menanti kita di tempat lain." Renji tersenyum puas.
"Maksudmu!"
"Cukup kau ingat cirri-ciri pelaku. Siapa saja, apa saja yang mereka kenakan. Ya pokonya semua yang bisa kau ingat!" Renji memberi tanda supaya Ichigo mengikutinya dengan jari. "Kita pergi ke panggung utama!"
.
.
Mobil yang dikemudikan Renji berhenti di sebuah gudang kayu yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk setelah lebih dari dua jam berjalan. Di sekeliling gudang yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kayu yang mulai lapuk dimakan usia hanya ada pohon pinus yang menjulang tinggi. Jalan kecil untuk satu mobil yang tampak di depan pintu masuk gudang. Jarak dari gudang ke jalan kecil tersebut sekitar lima puluh meter. Hanya penduduk sekitar yang menggunakan jalan tersebut.
"Menurut laporan warga, semalam mereka melihat ada mobil yang masuk ke dalam," Renji menunjuk gudang yang ada di depan mereka.
Ichigo memandang sekilas bangunan rapuh itu. Pita kuning melingkari bangunan berbentuk persegi panjang tersebut. Dia lalu melempar pandangan pada sekelilingnya dimana tak jauh dari sana tampak wajah-wajah antusias menatap ke gudang. Beberapa polisi dikerahkan untuk mencegah warga sekitar mendekat. Ada pula kumpulan wartawan yang mencoba mendekat.
Seorang petuga polisi datang menghampiri mereka. "Maaf tidak ada yang boleh masuk selain polisi."
"Tapi atasan saya ada di dalam sana dan dia menyuruh kita berdua menemuinya," Renji mulai basa-basi. Dia tidak bisa mengatakan pada sembarangan orang, terutama di tempat umum, dia adalah anggota tim SATU. Tidak banyak yang tahu tentang mereka dan memang sengaja dibuat demikian. Untuk menghindari kepanikan masa berlebih.
Bayangkan bagaimana jika polisi berpangkat rendah di depannya tahu mereka dari tim SATU? Dia akan menyimpulkan bahwa kasus kali ini berhubungan dengan terorisme. Lalu bahgaimana jika dia tidak bisa menjaga mulutnya, menyebarkan berita itu pada para wartawan? Lalu apa yang akan dipikirkan masyarakat saat membaca koran yang ditulis oleh seorang wartawan minim informasi tersebut? Mereka akan panik! Itulah yang harus dihindari.
Petugas tadi menatap wajah mereka bergantian. Tidak percaya pastinya. Wajah mereka berdua terlalu asing.
"Katakan saja pada atasan anda, kami anak buah komjen Kyoraku."
Ekspresi polisi tadi langsung berubah setelah mendengar kata 'komjen' dari mulut Renji. Siapa pun mereka, yang pasti mereka bukan orang biasa.
"Ikuti saya," perintah polisi tadi. Dia berjalan melewati pita kuning. Mereka berdua mengekor di belakangnya. Polisi tadi membawa mereka masuk ke dalam gudang. Menyuruh mereka menunggu di dekat pintu gudang sementara dirinya berjalan ke tengah ruanan dimana sebuah van diparkir.
Polisi tadi berbicara setengah berbisk pada seorang laki-laki sambil menunjuk-nunjuk mereka. Ichigo memperhatikan dengan kesal. Dia tahu memang ini prosedur yang harus mereka lewati. Tapi tetap saja ini buang-buang waktu. Kenapa tidak menunggu mereka membawanya ke kamar mayat unuk diperiksa baru memanggilnya. Bukannya menyuruhnya ke TKP seperti ini.
Polisi tadi berjalan menghampiri mereka setelah berbisik-bisik dengan atasannya.
"Atasan saya mengizinkan anda ikut memeriksa selama tidak merusak TKP," katanya dingin. Ada rasa tidak suka di nada suaranya. Itu sudah biasa terjadi. Mau bagaimana lagi, orang asing yang tidak dia kenal tiba-tiba dipersilahkan masuk dan berbuat sesukanya.
"Tenang saja, kami hanya ingin memeriksa mayatnya dan menyentuh kepalanya, itu saja!" balas Renji ramah.
Polisi tadi tidak banyak bicara, dia langsung berbalik dan menuntun mereka berdua ke tempat dimana terdapat enam mayat di baringkan.
Ichigo mulai mengamati kondisi keenam mayat tersebut. Disimpulkan mereka berenam meninggal karena luka tembak di kepala mereka.
"Sarung tangan!" perintahnya pada Renji.
Renji menyerahkan sarung tangan hasil rampasan yang dia perolah dari salah seorang tim forensik terdekat.
Ichigo segera menyarungkan di tangan kanannya. Dia mulai beraksi. Mayat pertama yang dia pilih adalah yang terletak di bagian paling kanan. Ritual penerawangan dimulai. Ichigo meletakkan tangan kanan di dahi mayat tersebut, terdiam selama semenit lalu dia beralih ke mayat yang di sebelahnya. Terus berulang seperti itu hingga mayat terakhir.
"Ayo," Ichigo mengajak Renji pergi dari TKP setelah selesai melakukan pemeriksaan.
Mereka berdua berjalan keluar tanpa di sadari siapapun yang ada di sana.
Renji menekan remote, membuka mobil, mereka berdua masuk kedalam lalu Renji mulai menjalankan mobil.
"Bagaimana? Mereka para pelaku perampokan itu?"
"Begitulah," jawab Ichigo, pandangan matanya menerawang jauh melewati jendela kaca di sisi kirinya.
"Berguna?" yang dimaksud Renji adalah ingatan mayat-mayat tadi.
"Tidak terlalu. Mau kueritakan sekarang, atau nanti saja? "
"Nanti saja, sekalian di depan pimpinan dan anggota tim SATU dari pada dua kali kerja."
"Ah," Ichigo menepuk jidatnya pelan, "Aku ada kuliah jam sebelas nanti sampai sore. Antarkan aku ke kampus!"
"Aku bukan sopirmu!" tolak Renji.
"Jangan lupa, kamu masih punya hutang!"
Renji terdiam. Mati kutu. "OK, tapi hutangnya kita anggap lunas?" tawarnya.
"Tidak, baru terbayar sepersepuluh."
Renji mendelik. Gila anak orang kaya tapi mata duitan, batinnya.
"Sambil menunggu, aku ceritakan sekalian hasil penerawanganku, sepertinya aku tidak bisa hadir di rapat nanti siang."
Renji mau tidak mau mengambil HP dari saku celana dan memberikannya pada Ichigo. Ichigo menerima HP tersebut dan langsung mencari fungsi recording.
"OK, kita mulai!" Ichigo mengambil nafas sekali sambil mulai merekam, "Dari enam mayat yang di temukan pada hari ini tanggal lima belas Mei, ke-enam mayat tersebut positif dinyatakan sebagai pelaku perampokan Bank sehari sebelumnya yang menewaskan seorang petugas keamanan. Lima diantara mereka hanya preman kelas kakap. Sedangkan yang satunya lagi adalah anggota Jehova SEED."
"Apa! Hanya satu!" Renji menyela.
"Kamu pikir siapa Jehova SEED? Mana mungkin mereka mengorbankan banyak anggotanya hanya untuk merampok bank!" jawab Ichigo ketus.
"Ok, lanjutkan," perintah Renji.
"Kelima preman tersebut direkrut oleh anggota teroris dengan code name Chad. Mayat kedua dari kanan, laki-laki bertubuh besar dengan kulit kecoklatan. Chad sekaligus bertindak sebagai otak dari operasi ini."
Ichigo berhenti sesaat. Dia sedang mencoba menarik sebuah kesimpulan dari enam ingatan yang harus disatukan.
"Rencana di susun tiga hari yang lalu. Supply senjata, akomodasi dan semua perlengkapan yang mereka butuhkan berasal dari Chad. Sedangkan Chad sendiri mendapatkan semua itu dari seorang wanita bernama Inoue Orihime. Besar kemungkinan dia juga salah seorang anggota Jehova SEED."
Ichigo tidak yakin dengan kesimpulannya. Dalam ingatan Chad dia memang sempat bertemu dengan salah seorang petinggi Jehova SEED, Ishida Uryu. Tapi Ichigo tidak pernah melihat mereka bertiga kumpul bersama. Inoue Orihime hanya pernah bertemu Chad. Mungkin saja dia hanya seorang penjual senjata api ilegal.
"Rencana semula, setelah selesai melakukan perampokan, mereka membawa van beserta hasil rampasan ke daerah pedalaman. Di perjalanan mereka berhenti di sebuah restoran siap saji. Menjemput Inoue Orihime. Seorang wanita yang dipanggil Orihime ikut dalam Van tersebut dengan membawa beberapa kotak makanan yang di beli dari restoran tersebut."
"Sesampainya di tempat mereka berpesta, melahap semua makanan dan minuman berakohol yang dibawa Orihime, kecuali satu orang, Chad. Di tengah keasikan mereka berpesta pora dan mabuk, Orihime memberikan senjata, hand gun pada Chad lalu Chad menembaki teman mereka satu persatu. Sepertinya dia seorang penembak ulung. Selesai menghabisi mereka semua Chad mengembalikan senjata itu. Lalu ketika sibuk mengepak hasil jarahan mereka, Orihime ganti menembak Chad dengan senjata yang sama." Ichigo menyelesaikan ceritanya sambil menghentikan rekaman pada HP Renji.
"Jadi hasil jarahan dipindahkan oleh cewek tersebut.? Sial!" Renji menggebrak kemudi.
Ichigo menggembalikan HP Renji. Renji menerimanya dan meletakkan di depan layar odometer.
"Memang apa yang kau harapkan?" ledek Ichigo. Di masih heran, ini bukan pertama kalinya mereka berurusan dengan Jehova SEED. Tapi Renji selalu merasa terkejut dengan setiap kejahatan sempurna yang mereka buat.
"Aku tidak bisa membayangkan teror seperti apa yang akan mereka tampilkan dengan uang sebanyak itu."
"Tinggal kita lihat saja, tidak akan lama. Bukankah mereka sudah mengirim surat pemberitahuan?"
Renji terdiam. Surat ancaman tersebut benar adanya. Bukan kerjaan orang iseng. Akhir-akhir ini kelompok itu semakin berani. Tujuan mereka, Menciptakan dunia baru dengan memusnahkan dua pertiga manusia di muka bumi. Tujuan yang gila.
Bukan itu saja, ada yang lain dari kelompok ini. Mereka bukan teroris pada umunya. Mereka punya sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa dipecahkan tim SATU, meski dengan bantuan Ichigo sekalipun, pimpinan mereka tetap tidak terjaman.
Mobil yang dikemudikan Renji behenti pada sebuah gedung perkuliahan megah. Universitas terbaik di seluruh negri ini. Ichigo membuka pintu dan turun dari mobil. Renji membuka kaca mobil penumpang depan, sekedar memberi salam perpisahan dan saat itu baru dia sadari raut wajah ketakutan Ichigo.
"Kenapa?" tanya bingung dari dalam mobil.
"Namanya Inoue Orihime. Rambutnya berwarna oranye. Dia gadis yang periang." ichigo berhenti. " Tolong temukan dia, aku punya firasat buruk tentang kasus kali ini!" pesan Ichigo pada Renji sebelum dia berbalik dan meninggalkan Renji yang masih bingung dengan semua sikap Ichigo.
Ada yang aneh, pikir Ichigo pada setiap langkah kakinya. Tapi dipikir sekeras apapun dia tetep tidak menemukan keanehan itu. Sikap gadis yang dipanggil orihime itu terlalu aneh. Ekpresi ketakutan yang Ichigo lihat melalui wajah Chad saat gadis itu melihat langsung adegan pembantaian tidak mampu dia temukan penyebabnya. Harusnya dia terbiasa melihat adegan pembunuhan seperti itu sama seperti Chad yang mampu membunuh tanpa menunjukan emosi apapun. Orihime, dia benar-benar salah satu anggota Jehova SEED atau dia hanya dimanfaatkan saja? Itu yang tidak Ichigo mengerti.
.
May, 16
HP Ichigo bergetar tiada henti dari lima menit yang lalu. Ichigo tahu itu. Dia sengaja mengabaikannya. Saat ini dia sedang berkonsentrasi mengerjakan soal ujian. Tangannya terus bergerak, menulis di atas secarik kertas dengan kecepatan tinggi tanpa henti. Kurang satu soal lagi sebelum dia bisa keluar dari ruangan ini dan mendapatkan nilai sempurna.
Ichigo berhasil menyelesaikannya! Dia langsung berdiri dari bangku, mengambil HP dari dalam saku sambil berjalan ke meja dosen, menyerahkan lembar jawaban. Begitu keluar dari kelas dia langsun menerima telpon.
"Kenapa lama sekali!" bentak Kyoraku dari speaker phone.
"Aku sedang ujian!" Ichigo balas membentak.
"Cepat keluar, Renji sudah menunggumu di depan kampus!"
"Ada kerjaan?"
"Ya, korban kecelakaan."
Dahi Ichigo mengerut bingung. "Kenapa memanggilku?"
"Dugaanku dia adalah Orihime Inoue!"
Ichigo tidak banyak bicara. Dia langsung menutup telpon dan berlari keluar. Ketakutan menjalar di setiap tubuh. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sedang terjadi. Sesuatu yang mengerikan.
