Both of Us
.
A Bleach fanfic
All Charas by Kubo Tite
.
.
May, 16
Pita kuning melingkarri tempat terjadinya kecelakaan. Kurang dari satu menit sejak Shiro menelpon, seorang polisi langsung tiba di tempat kejadian dan mengamankan TKP. Nanao dan beberapa rekannya tiba di tempat sekitar lima belas menit kemudian. Dia menyapa Shiro seperlunya lalu tenggelam dalam kesibukannya. Shiro mengamati dari luar pita kuning. Beberapa orang wartawan media cetak dan elektronik mulai tampak. Kerumunan masyarakat yang berada di sekitar TKP semakin menumpuk.
"Sopir bisnya sudah dimintai keterangan?"
"Sudah, Pak," jawab Nanao. "Dia dan beberapa orang saksi mengatakan korban menyebrang sesaat setelah lampu hijau menyala."
"Sepertinya murni kecelakaan," kata laki-laki bertubuh besar dengan rambut hitam dan kumis tipis di dagu.
Mata Nanao melotot seperti mau protes, tapi dia urungkan.
"Ya, kita tunggu saja sampai dia datang."
"Dia?"
"Ah itu dia!" laki-laki itu menunjuk pada sebuah jeep hitam yang baru saja tiba dan di parkir di dekat TKP. Seorang pemuda dari kursi penumpang turun dengan angkuh menerobos krumunan manusia yang susah payah di halau oleh beberapa polisi. Dia berjalan lurus mendekati TKP. Lalu seorang lagi keluar dari kursi kemudi, dia juga berjalan mendekati TKP. Seorang polisi menghadang pemuda angkuh itu sebelum dia berjalan terlalu dekat dengan TKP. Pemuda itu melotot jengkel, lalu pemuda yang satunya lagi berlari kecil mendekat sambil menunjukkan lencana polisinya. Mereka berdua diizinkan memasuki lingkaran pita kuning.
Atasan Nanao tadi langsung menyingkir, memberi tempat pada pemuda angkuh itu untuk mendekati korban. "Sudah cepat di periksa! Nanao mengatakan, sesaat sebelum meninggal dia melakukan kontak dengan mereka," perintahnya.
"Nanao?" tanyanya bingung.
"Saya Nanao, orang baru di tim ini," Nanao memperkenalkan diri.
"Nanao, ini Ichigo, biarpun masih muda, dia tidak kalah hebatnya denganmu!" puji atasan Nanao.
"Mohon bantuannya."
Pemuda angkuh bernama Ichigo itu hanya membalas perkenalan singkat mereka dengan menganggukan kepalanya sekali. Dia lalu berjongkok di dekat kepala korban. Mengamati sosok tubuh yang tidak bernyawa itu dengan warna merah darah yang mendominasi hampir seluruh pakaiannya.
"Pak Kyoraku, siapa yang pertama kali mengatahui kejadian ini?" tanya Ichigo pada atasan Nanao tesebut.
Kyoraku langsung mengarahkan telunjuknya pada Nanao. Ichigo langsung menyipitkan matanya. Otaknya di penuhi seribu satu pertanyaan tentang bagaimana orang baru tersebut bisa lebih tahu lebih dulu dari pada siapapun yang sudah bergabung dengan SATU.
"Ah, aku di bantu dia!" Nanao menunjuk sosok pemuda yang terus mengamati TKP dari luar, dia agak ragu melakukannya, tapi tidak ada pilihan lain. Melihat bagaimana sikap atasannya terhadap Ichigo, menyakinkan Nanao dia pastinya bukan pemuda biasa.
"Suruh dia kemari!" perintah Ichigo pada Nanao tapi yang menjalankan perintahnya justru Kyoraku. Dia berjalan dengan langkah-langkahnya yang besar dan berat ke tempat yang sekiranya ditunjuk Nanao tadi.
"Nanao, yang mana orangnya?" tanyanya. Belum sempat Nanao berbicara, pemuda berambut keperakan itu menganggkat jarinya. Wajahnya kesal dan melotot marah pada Nanao. Dia cukup di repotkan olah seorang polisi bernama Nanao. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan mereka. Tapi Nanao sudah terlanjur menunjuknya, jadi dia tidak punya banyak pilihan.
"Sepertinya kamu bocah yang pintar!" Kyoraku tanpa sungkan langsung menariknya masuk ke dalam lingkaran pita kuning. "Bagaimana kalau setelah ini kita pergi makan? Aku yang traktir!" godanya.
"Sudahlah, ada perlu apa denganku?" kata Shiro kesal.
Kyoraku buru-buru menariknya menjauhi kerumunan. "Tidak takut melihat mayat kan?" Kyoraku menunggu jawaban Shiro. Shiro mengacuhkannya. "Dari ekspresimu sepertinya tidak," katanya puas. Dia buru-buru menarik Shiro mendekati mayat Inoue Orihime, korban kecelakaan. "Duduk santai saja di sini!" dengan tenaganya, Kyoraku menekan pundak Shiro hingga pemuda itu jatuh terduduk tepat di sebelah Ichigo yang terus menyelidikinya dari ujung kaki sampai ujung kepala sejak Kyoraku membawanya.
"Kurosaki Ichigo, kamu?" katanya tanpa basa basi.
"Hitsugaya Toushiro," balas Shiro sengit.\
"Dari mana kamu tahu dia terlibat dengan mereka?"
"Siapa mereka?"
"Jangan bilang wanita itu," Ichigo menunjuk Nanao, "tidak menceritakan apapun tentang tim ini dan target operasi kami!"
"Oh..." Shiro sedikit paham, para anggota tim SATU tidak pernah menyebut nama timnya dan menyebut para Jehova SEED itu dengan nama 'mereka'. "Aku melihatnya, seorang laki-laki berkacamata mendekatinya dan mengambil sesuatu dari dirinya. Dan laki-laki ada dalam daftar orang yang sedang diburu Nanao. Itu saja!"
"Bagaimana kamu melihatnya, polisi sudah menanyai mereka yang berada di dekat korban saat kejadian, mereka hanya mengaku memang ada seseorang yang mencoba menolongnya, tapi tidak ada yang ingat ciri-ciri laki-laki itu, bahkan tidak kacamatanya."
"Tidak akan ku beri tahu!" balas Shiro singkat. Dia tidak suka dirinya terlibat, dia tidak suka kemampuannya di ketahui banyak orang, dia tidak suka dirinya dimanfaatkan.
Ichigo melotot kesal. Tapi dia tidak banyak bicara. Buru-buru dia mengeluarkan sarung tangan dari dalam sakunya. Memakainya di tangan kanan, lalu meletakkan tangan kanannya di kepala koraban dan memejamkan matanya. Kemampuannya mulai bekerja.
Ichigo mulai menempatkan dirinya, sudut pandang matanya pada korban. Dia menjadin korban, merasakan semua yang dirasakan dan melihat semua yang di lihat oleh korban. Detik-detik kematiannya mulai terasa ketika dia hendak memanggil nama Ishida, ketika laki-laki itu mengambil sesuatu dari tangannya, sebuah memory card.
Lalu dirinya terbawa pada kejadian kemarin. Ketika dia mengurung diri sambil mengenggam telpon genggamnya sambil sesekali melihat layarnya. Dia merasa ketakutan. Tapi tidak tahu dengan pasti apa yang dia takutkan. Dia tidak melakukan apapun selama seharian, hanya menunggu. Dan malam hari akhirnya telponnya berdering. Dia buru-buru mengangkatnya. Suara Ishida terdengar dari sebrang sana. Sikapnya berubah labih tenang. Inti dari percakapan itu mereka membuat janji pertemuan esok hari, hari ini, Ishida meminta Inoue membawa memory card.
Dirinya kemudian terbawa pada kejadian dua hari lalu.
Pagi-pagi buta dia menyiapkan bekal untuk enam orang. Lalu dengan tangan gemetar memasukkan obat tidur ke dalam makanan dan minuman. Hanya ada lima kotak makanan dan lima botol minuman yang diisi dengan obat tidur. Kotak makanan dan minuman yang tidak di beri obat tidur dia beri tanpa dengan spidol merah pada tutupnya. Lalu dia mengambil dua buah hand gun yang di sembunyikan di dalam kotak cereal. Memasukannya dalam tas. Memasukkan bekal tersebut dalam sebuah kantong plastik putih dengan logo sebuah restoran cepa saji tercetak di luarnya. Dia menggantungkan tasnya ke pundak kanan, membawa dua kantong besar plastik lalu pergi menuju ke tempat yang di janjikan. Setelah itu apa yang terjadi tidak jauh berbeda dengan apa yang dilihat Ichigo kemaren.
Tiga hari sebelum kematiannya mulai Ichigo jalani. Tidak ada yang istimewa hari itu. Hanya pertemuan mereka bertiga, dirinya, Ishida dan Chad membahas persipan perampokan besok.
Lalu hari keempat dimulai. Tidak ada yang istimewa. Dia hanya pergi makan malam bedua dengan Ishida di sebuah restoran mewah.
Hari kelima dimulai. Dia mengawali harinya di sebuah kafe di siang hari. Ishida ada di sebelahnya, baru saja selesai melakukan pembayaran. Mereka lalu bergandengan tangan pulang. Ishida mengantarnya hingga masuk ke dalam kamar apartment. Sebelum pulang dia mengecup dahi Inoue dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Hati-hati jangan sampai ada yang melihatnya, setelah ini simpan benda itu dalam kotak cereal." Ishida lalu pulang meninggalkan dirinya sendirian. Inoue menuju dapur, dia melakukan apa yang dikatakan Ishida. Membuka tasnya dan memasukkan dua buah hand gun pada dua kotak cereal yang berbeda. Setelah itu dia pergi tidur.
Ichigo menunggu dimulainya hari ke-enam. Tidak terjadi apapun! Ichigo menunggu, tapi sudah tidak terlihat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Kosong. Dia tidak bisa menembus ingatan gadis itu. Dia hanya bisa melihatnya sampai hari kelima. Tidak ada hari ke-enam atau ketujuh. Hanya ada kekosongan semata.
Ichigo membuka mata. Dia duduk terjatuh. Matanya sudah terbuka tapi tangan kanannya masih mencengkram erat kepala Inoue. Ekspresi wajahnya campuran antara rasa shock dan ketakutan.
Renji yang melihat ekspresi wajah Ichigo langsung berlari menghampirinya. Ini untuk pertama kali dia melihat Ichigo berwajah ketakutan seperti itu setelah melihat masa lalu. Separah apapun dan semengerikan apapun dia tidak pernah berwajah sekalut itu. Dia selalu bersikap tenang. Nyaris tanpa ekspresi seolah-olah itu bukan hal besar baginya.
"Maaf permisi," Renji memegang pundak Shiro yang duduk di sebelahnya. Shiro berdiri menggeser tubuhnya, membiarkan laki-laki berambut merah itu mendekati Ichigo sampai tiba-tiba dia melihat penerawangan. Matanya mulai memandang kosong ke depan. Kemampuannya mulai bekerja.
"Ichigo, apa yang terjadi kamu baik-baik saja?" tanya Renji sambil menggoncang bahu Ichigo. Ichigo tetap diam.
"Aku coba sekali lagi." Ichigo kembali memejamkan matanya. Renji berada di sebelahnya, menunggu dengan harap-harap cemas, begitu juga dengan Kyoraku. Nanao menatap Ichigo dengan pandangan bingung. Semenit kemudia dia membuka matanya dengan ekspresi wajah yang jauh lebih ketakutan.
"Ichigo?" panggil Renji.
"Aneh, ini aneh!" kata Ichigo. Dia menyeka dahinya dengan lengan baju kiri. Wajahnya berkeringat bukan karena panas tapi karenan ketakutan. Ichigo kembali memejamkan matanya. Renji kembali menunggunya, kali ini dengan mimik wajah lebih kalut. Kyoraku ikut berjongkok di dekat mereka.
"Ada yang aneh?" tanyanya pada Renji.
"Tidak biasanya dia begini. Dia tidak pernah setakut ini dan ini untuk pertama kalinya dia melihat sampai tiga kali berturut turut. Biasanya dia hanya mengulang jika merasa ada yang terlewat, itu pun tidak dilakukan berturut-turut seperti ini!" terang Renji.
Ichigo akhirnya membuka mata. "Aku hanya bisa melihat sampai hari ke lima. Itupun hanya setengah hari! Ada yang aneh!" katanya agak gugup.
"Hari kelima, apa maksudmu?" tanya Renji
"Ingatannya seperti di hapus! Kosong tidak ada apapun setelah hari kelima."
Renji tiba-tiba berdiri. Wajahnya pucat dan mulai berkeringat. Dia yang terbiasa berpasangan dengan Ichigo tahu ada yang tidak beres dengan ingatan korban. Dugannya yang paling kuat, seseorang di Jehova SEED memiliki kemampuan. Dan kemampuan itu menghapus ingatan orang.
"Hey! Dilarang mendekat!" seorang petugas yang berjaga di luar pita kuning berteriak. Pemuda itu berlari mendekati Ichigo. Sebuah pisau tergenggam erat di tangan kanan. Untungnya Renji segera menyadari maksud pemuda asing itu. Dia menahan tubuh pemuda itu. Tapi sayang perhitungannya meleset. Pisau yang di genggam pemuda itu menusuk dada kiri Renji. Seketika itu juga tubuhnya langsung terjatuh lemas. Nanao langsung menahan pemuda asing itu, Ichigo dan Kyoraku berhampur ke arah Renji. Dia memanggil-manggil Renji dan mengguncang tubuhnya, pelan-pelan semuanya mulai kabur dan terasa dingin.
Shiro kembali dari penerawangannya.
"Tidak biasanya dia begini. Dia tidak pernah setakut ini dan ini untuk pertama kalinya dia melihat sampai tiga kali berturut turut. Biasanya dia hanya mengulang jika merasa ada yang terlewat, itu pun tidak dilakukan berturut-turut seperti ini!" terang Renji.
Ichigo akhinya membuka mata. "Aku hanya bisa melihat sampai hari ke lima. Itupun hanya setengah hari! Ada yang aneh!" katanya agak gugup.
"Hari kelima, apa maksudmu?" tanya Renji
"Ingatannya seperti di hapus! Kosong tidak ada apapun setelah hari kelima."
Renji tiba-tiba berdiri. Wajahnya pucat dan mulai berkeringat.
Shiro melihat ke arah luar lingkaran pita kuning, ke tempat di mana pemuda asing itu akan datang menyerang. Dia sudah dekat, tidak banyak waktu lagi! Dia harus cepat bertindak!
"HENTIKAN DIA!" teriak Shiro sambil menunjuk ke arah pemuda yang sedang berlari ke arah mereka. "DIA MAU MENUSUK ICHIGO!"
"Hey! Dilarang mendekat!" seorang petugas yang berusaha mencegah pemuda itu berteriak. Tapi dia kalah cepat, pemuda itu sudah menerobos masuk. Dia berlari mendekati Ichigo siap menerjang. Renji sudah bersiap menghentikannya.
"Renji dia membawa pisau! Dia akan menusukmu!" Shiro memperingatkan.
Berkat peringatan Shiro barusan Renji langsung memfokuskan dirinya pada ke dua tangan pemuda itu. Dengan cekatan dia berhasil menarik pundak pemuda tersebut, memegang pergelangan tangan kananya dan membanting tubuh yang jauh lebih besar dari tubuhnya itu ke aspal.
Ichigo menginjak tangan kanan pemuda itu hingga pisau terlepas dan buru-buru mengambilnya. Nanao langsung datang, mengeluarkan borgol dari saku jas dan mengaitkannya pada kedua tangan pemuda tersebut.
"Apa lagi ini!" keluh Kyorku kesal. "Bawa dia ke kantor! Awasi dengan ketat!" perintahnya.
Nanao mengangguk tanda paham, dia menarik lengan pemuda itu supya dia berdiri lalu menggiringnya ke dalam mobil.
"Sepertinya ada yang mengincarmu!" Kyoraku memutar bola matanya ke sekeliling sambil menepuk pundak Ichigo. "Kita kembali ke kantor! Dan kamu!" Kyoraku menunjuk Shiro, "juga ikut!"
"Tapi..."Shiro protes.
"Sudah ikut saja!" Renji merangkul pundak Shiro dan memaksanya ikut dengan mereka.
.
.
.
"Maaf, saya gagal!" seorang laki-laki berkacamata yang sedari tadi terus berada di sana, mengamati situasi, beranjak dari duduknya sambil berbicara dengan rekannya melalui telepon genggam.
"Kembali dulu, Aizen!"
"Aku akan tiba di sana dalam lima belas menit! Akan aku ceritakan semuanya!" dia merogoh kantong celananya, mengambil remote mobil dan menekan tombol unlock. Sebuah mobil sedan hitam yang diparkir di pinggir jalan berbunyi. Dia buru-buru membuka pintu kemudi dan masuk ke dalamnya. "Sepertinya kita terlalu meremehkan kemampuan bocah itu, dan lagi ada yang aneh!" Aizen menutup pintu. Memasukkan kunci dan menghidupkan mesin.
"Apanya yang aneh, Aizen! Jangan mencari alasan atas ke gagalanmu!"
"Tidak, aku tidak sedang melakukan pembelaan. Panggilkan saja rangiku! Kau akan tahu!" Aizen menutup telponnya. Menaruhnya di kursi sebelah dan mulai menjalankan mobil.
.
.
.
Kyoraku menggoyangkan kaleng minuman berisi kopi yang baru saja dibukanya. Satu tangannya lagi digunakan untuk menyangga dahinya yang berkerut-kerut saat membaca laporan yang baru saja dia terima. Salah seorang anak buahnya baru saja selesai melakukan introgasi pada pemuda yang tadi hendak menusuk Ichigo.
"Hasilnya jelek?" tanya Renji yang baru tiba dan memilih menarik kursi yang bersebrangan dengan tempat Kyoraku duduk. "Atau aneh?"
"Entahlah! Aku sendiri bingung," Kyoraku meneguk kopinya lalu kembali menggoyangnya. "Ceritanya seperti sebuah kebohongan, tapi saat diintrogsi tadi dia tidak tampak seperti sedang berbohong."
"Kalau dia tewas mungkin akan lebih mudah mengintrogasinya, haha...," canda Renji.
"Ya, mungkin semuanya bisa lebih mudah kalau dia kita bunuh!" balas Kyoraku.
"Jangan seenaknya memanfaatkanku!" protes Ichigo yang baru saja tiba bersamaan dengan Nanao dan Shiro yang bertampang kusut. Sudah dua jam lamanya dia ditahan di sini. Dikurung dalam ruang kerja Nanao. Dia jadi tidak punya kesempatan melihat-lihat sekeliling. Padahal markas tim SATU ini cukup menarik. Bentuknya hanya sebuah rumah, rumah mewah di daerah perumahan elit. Siapa sangka di dalamnya ada gudang senjata atau penjara bawah tanah.
Ichigo menarik kursi di sebelah Kyoraku. Nanao memilih duduk diantara Renji dan Ichigo. Sedangkan Shiro duduk diantara Kyoraku dan Renji.
"Bisa kita mulai?" tanya Kyoraku.
Semuanya mengangguk setuju kecuali Shiro dia malah mengangkat tangannya. "Saya mau pulang, Pak!"
Kyoraku tersenyum tapi sorot matanya memdang tajam dan mengeluarkan aura intimidasi. "Mulai hari ini kamu jadi bagian dari tim ini, bocah!"
"Saya menolak!"
"Bocah, kamu tidak berada dalam posisi berhak untuk memilih! Dan lagi, ini demi kebaikanmu juga! Mulai besok kamu akan di dampingi Nanao, kalau dia sedang sibuk aku akan menugaskan anak buahku yang lain!"
"Kebaikan apanya!" gerutu Shiro pelan sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Siapa namamu bocah?"
"Hitsugaya Toushiro, panggil Shiro saja!" jawabnya dengan wajah cemberut.
"Langsung kita mulai saja! Ichigo ceritakan semua yang kamu lihat!"
Ichigo mulai berbicra, menceritakan semua yang dia lihat dalam ingata Inoue. Mulai dari hari terakhir dia hidup, hari ini, lalu mundur ke hari berikutnya, sampai hari kelima.
"Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di hari keenam dan ketujuh!" katanya bingung.
"Mungkin dia sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri," Kyoraku coba mencari alasan.
"Tidak bukan begitu, meski dalam keadaan tidak sadar sekalipun aku tetap bisa mendengar suara-suara. Bukan hanya itu, hari kelima dimulai di tengah-tengah bukan di mulai ketika dia bangun tidur. Itu aneh, Pak!" Ichigo ngotot.
Kyoraku kembali meneguk kopi dalam kaleng yang dari tadi terus digoyang-goyangkan. "Mungkin gossip itu ada benarnya, diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang mengerikan seperti kalian!"
Shiro dan Ichigo langsung menatap tajam Kyoraku, seolah tidak terima kemampuan mereka dibilang mengerikan. Toh dia sendiri memanfaatkan kemampun mereka berdua.
"Lalu bocah, sepertinya kamu punya kemampuan yang unik juga," Kyoraku bertanya pada Shiro.
"Hanya kemampuan yang mengerikan," balasnya kesal.
Kyoraku tersenyum tipis. Sepertinya dia lebih pemarah dari pada Ichigo. "Bisa ceritakan dengan detail kemampuanmu itu?"
"Aku menolak!" jawab Shiro tegas.
"Ayolah, ini demi kebaikanmu juga! Aku yakin cepat atau lambat mereka akan menyadari keberadaanmu dan kemampuanmu. Lebih baik kau jelaskan sekarang, supaya kami bisa melindungimu dan membantu penyelidikan."
"Tidak ada untungnya buatku!"
"Dia dibayar loh!" Kyoraku menunjuk Ichigo, "dan tidak murah!" Lagi-lagi dia tersenyum. Senyum kemenangan.
"Aku sudah menyelidiki latar belakangmu," Renji membaca selembar kertas yang tadi di bawanya dan dia letakkan di atas meja, "Pada intinya, kamu yatim piatu, sedang kuliah dan mengambil jurusan psikologi, kerja paruh waktu di lima tempat. Pada intinya, anda mengalami kesulitan ekonomi. Jadi kenapa tidak terima tawaran ini?"
Shiro mati kutu. Yang dikatakan Renji memang benar. Dia butuh uang. Dan kerja paruh waktu di lima tempat benar-benar menguras waktu dan tenaga. Lagi pula Kyoraku mengatakan dia akan dibayar mahal. Tapi dengan demikian dia seperti menjual kekuatannya, mengeksposnya pada dunia. Shiro jadi merasa tidak enak.
"Jangan terlalu lama berpikir, Shiro! Cepat putuskan, bukan hanya bayarannya yang mahal, kami juga menawarkan fasilitas tempat tinggal dan perlindungan jika kamu menginginkannya."
"Sudahlah terima saja, toh selama ini kamu juga sudah banyak membantuku, dan gratis," bujuk Nanao.
"Baiklah!" Shiro akhirnya mengiyakan. Lebih baik di bayar daripada jadi sukarelawan Nanao.
"Jadi bisa jelaskan apa kemampuanmu? Kemampuan yang tadi digunakan untuk menolong Ichigo?" Kyoraku meletakkan kaleng kopinya di meja lalu melipat kedua tangannya di dada, siap mendengarkan cerita Ichigo.
"Kemampuanku berlawanan dengannya," Shiro melihat ke arah Ichigo, "aku mampu melihat masa depan seseorang selama tujuh hari kedepan."
"Wow! Cool!" Renji berdecak kagum. "Jehova SEED bisa segera kita bereskan nih!"
"Tidak semudah itu! Ada beberapa batasan-batasan. Aku tidak bisa menggunakannya sesuka hatiku, dia datang sendiri, seolah-olah seperti orang tersebut yang menunjukkannya padaku. Itu batasan pertama."
"Kedua, yang kulihat hanya gambaran kematian. Jadi, jika orang tersebut tidak akan meninggal dalam waktu seminggu atau kurang, aku tidak bisa melihatnya."
Kyoraku mengangguk-angguk. Meski terlihat tenang dia menunjukkan minat yang besar pada kemampuan Shiro.
"Ketiga aku tidak bisa mengulanginya. Hanya terjadi sekali untuk setiap orang."
"Maksudnya? Kamu tidak bisa melihatnya kembali jika dibutuhkan?" tanya Ichigo sedikit kecewa.
"Tidak, dan itu hanya bisa dilakukan sekali pada setiap orang. Contoh pada kasus Renji, aku sudah melihat masa depannya sekali, aku tidak bisa melihatnya lagi untuk ke dua kali. Jadi jika setelah ini ada kematian mengancam, tidak ada yang bisa kulakukan. Aku sudah tidak bisa melihatnya."
"Sangat berguna dan terbatas," puji Kyoraku. Dia beranjak dari kursinya. "Tidak masalah. Kita punya seorang detektif hebat disini," Kyoraku melihat ke arah Nanao. "Selamat datang di tim SATU Hitsugaya TouShiro!" Kyoraku menyalami Shiro lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Maaf, aku melibatkanmu seperti ini," sesal Nanao.
"Sudahlah, anggap saja kau membantu perekonomianku!" Nanao memaksakan sebuah senyuman. "aku tinggal dulu," pamitnya.
Selang beberapa detik, Renji ikut meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Shiro dan Ichigo berdua. Mereka duduk dalam diam di kursi masing-masing. Sampai akhirnya Ichigo mulai menatapnya dan mulai berbicara. "Aku tidak menyangka akan bertemu seseorang dengan kekuatan yang berlawanan denganku."
"Aku juga."
"Aku harap tujuanmu bergabung dalam tim ini semata-mata hanya demi uang!" Ichigo berdiri dari duduknya.
"Memangnya kenapa kalau aku punya tujuan lain!"
"Sebaiknya jangan. Karena kita tidak pernah bisa merubah masa lalu dan penyesalan selalu datang terlambat," nasehat Ichigo. Dia pun meninggalkan ruangan itu.
Sekarang hanya tinggal Shiro seorang di sana. Dia masih tidak paham perkataan Ichigo barusan. Bukankan setiap orang punya tujuannya masing-masing saat bergabung di tim ini? Bukankah Nanao juga begitu, dan tujuan utamanya pasti bukan materi. Mungkin saat ini tujuannya hanya materi, tapi jauh di lubuk hatinya Shiro menyadari, kalau kemampuannya bisa mencegah lebih banyak kematian, dia rela membantu tim ini cuma-cuma.
Shiro benar-benar tidak paham. Baginya masa depan lah yang lebih penting, masa lalu hanya sebuah cerita untuk dikenang. Tidak lebih!
