7 Days

Jehova SEED

A Bleach fanfiction

All charas by Kubo Tite


May, 16

Rangiku baru saja selesai 'memeriksa' otak Aizen. Dia sama halnya dengan Ichigo atauToushiro, memiliki kemampuan aneh sejak lahir. Dia tidak bisa melihat masa lalu atau masa depan, tapi dia bisa mendengar apa yang ada di dalam pikiran seseorang. Kemampuan yang hampir sama dengan milik Ichigo. Bedanya, kemampuan Rangiku ini hanya bisa di terapkan pada mereka yang masih hidup. Dan Rangiku tidak bisa melihat seperti Ichigo. Dia hanya mampu mendengar apa yang ada dalam pikiran seseorang pada saat-saat tertentu termasuk mendengar apa yang sedang dipikirkan.

"Bagaimana?" tanya Byakuya Kuchiki. Laki-laki berwajah dingin itu adalah orang nomer dua di organisasi Jehova SEED.

Rangiku menghela nafas kesal. "Kita salah perhitungan."

Byakuya mengerutkan dahi. Semua rencana ini disusun oleh Ishida, orang paling pintar di organisasi dan yang selama ini merancang setiap serangan teror yang di lancarkan Jehova SEED. Jadi kemungkinan salah perhitungan itu bisa dibilang nol bulat karena Ishida sendiri tidak pernah gagal selama ini.

"Bagian mana yang salah perhitungan?" tanya orang nomer satu di Jehova SEED, Juushiro Ukitake.

"Ya, bagian mana yang salah perhitungan? tanya Grimmjow Jaegerjaquez, 'tukang pukul' yang tidak sabaran itu.

"Semuanya sudah sempurna. Sesuai perhitungan kita. Hanya saja. Sepertinya ada sesutu yang salah. " Rangiku menerangkan yang disambut dengan wajah-wajah tidak puas. "Hey, kesalahan bukan dipihak kita!"

"Lalu?" potong Ishida tidak sabar. Ya dia otak dari semua rencana yang akan dilaksanankan, dia yang paling tidak terima ketika rencananya tidak berjalan sesuai perhitungan.

"Menurut ingatan Aizen, detik-detik menjelang eksekusi, seseorang dengan rambut putih meneriakkan sesuatu. Seperti sebuah peringatan dan teriakan itu cukup memperingatkan Ichigo dan orang-orang disekitarnya jadi lebih waspada."

"Dia membaca taktik kita?" giliran Juushiro yang bertanya.

"Rasanya tidak. Seperti bukan membaca, tapi lebih tepat jika dibilang dia tahu apa yang akan kita lakukan. Dengan tepat dan akurat!" jawab Rangiku.

Kebingungan menguasai seisi ruangan yang berisi enam petinggi organisasi teroris paling dicari di seluruh dunia itu.

"Itu benar Aizen?" tanya Byakuya dengan sorot mata menuduh seolah semua kesalahan ini adalah dosa Aizen sepenuhnya.

"Ya, aku mendengarnya. Dia meneriaki 'bonekaku,' bahkan ketika boneka itu belum sempat melintasi pita kuning," Aizen membela diri. Mereka selalu menamai orang-orang korban kekuatan aneh mereka dengan boneka. Karena fungsi mereka memang tidak lebih dari sekedar boneka yang mengikuti kehendak dalangnya.

"Hanya meneriakki?" Byakuya kembali mengintrogasi. Meski dia orang nomer dua, tapi dibandingkan pimpinan organisasi itu sendiri Byakuya Kuchiki lebih aktif bertindak. Dia bahkan lebih ditakuti dari pada Juushiro. Sorot matanya yang dingin dan penuh kebencian cukup untuk membuat seorang bocah kecil yang sedang bermain riang menangis tersedu-sedu.

"Dia mengatakan sesutu yang mengejutkan," Aizen berhenti sejenak. Dia masih belum mempercayai apa yang dia lihat dan dengar sejam yang lalu. Bagaimana reaksi sosok asing berambut putih itu ketika melihat bonekanya bergerak melaksanakan perintah seperti yang dia sisipi kedalam otaknya.

"Dia berteriak 'dia mau menusuk Ichigo', bukan begitu Aizen?" Rangiku meneruskan kalimat Aizen yang terhenti. Aizen membalas ucapan Rangiku dengan anggukan kepala beberapa kali.

"Dia tahu kita akan membunuhnya?" tanya Ishida tidak percaya.

Aizen mengangguk. Tidak seorang pun dalam ruangan itu yang bisa menerima kebenaraan ini.

"Bahkan dia tahu kita akan membunuhnya dengan cara menusuknya." tangan Ishida terjatuh lemas. Berhadapan dengan seorang Ichigo sudah cukup membuat otaknya bekerja ekstra keras. Dan sekarang ada seseorang yang tidak dia kenal, tidak tahu apa kemampuannya, tapi yang menakutkan dia mengetahui dengan akurat rencananya. Entah bagaimana dia harus menyusun rencana berikut-berikutnya. Dan kalau benar di sehebat yang diingat Aizen, bisa dipastikan kemungkinan rencana ini gagal adalah seratus persen.

Sikap Ishida menimbulkan seribu satu tanda tanya pada Byakuya. Dengan cepat dia memberikan sinyal lewat mata pada Juushiro. Juushiro menerima sinyal itu, berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan, mengiyakan apapun rencana yang ada dalam otak Byakuya.

Byakuya menggengam erat tangan Rangiku yang ada di sebelahnya. Sikap Byakuya itu terbaca oleh Ishida yang kebetulan mengarahkan pandangannya pada Byakuya dan Rangiku yang duduk bersebrangan dengannya.

Meski tidak memiliki kemampuan aneh seperti Byakuya, Rangiku, atau Juushiro. Atau memiliki kemampuan menghipnotis orang seperti Aizen dan kekuatan fisik sehebat Grimmjow yang bukan hanya ahli bela diri tapi juga ahli menggunakan semua jenis senjata. Satu-satunya kelebihan Ishida hanya otaknya yang cemerlang dan kepandaiannya membaca situasi, menyimpulkan semua tanda-tanda kecil menjadi sebuah petunjuk.

Dan jika semua orang menganggap Juushiro adalah penggerak mereka, Ishida punya pemikiran sendiri, Byakuya orang yang paling ditakuti itulah yang menggerakkan organisasi ini. Semua rencana buah pemikirannya harus melewati seleksinya terlebih dahulu. Pemimpin mereka Juushiro terlalu mempercayai wakilnya, dia menyerahkan semua keputusan pada Byakuya. Jika Byakuya setuju, dia akan menyetujuinya. Jika Byakuya menolak, dia juga akan menolaknya.

Dan jika banyak orang dalam organisasi mereka yang beranggapan bahwa Byakuya memiliki hubungan khusus dengan Rangiku karena kebiasnnya menggengam erat tangan Rangiku, Ishida memiliki pemikiran lain. Byakuya sedang tidak bemesraan dengan Rangiku! Dan genggaman tangan itu adalah sebuah sinyal.

Kebanyakan dari mereka percaya untuk menggunakan kemampuan aneh ketiga petinggi Jehova SEED, mereka memiliki kondisi khusus. Seperti Ichigo yang hanya mampu membaca masa lalu dengan menyentuh kepala jenasah, Rangiku harus meletakkan kedua jari tengahnya pada dahi kiri dan kanan orang yang akan didengarnya.

Namun melihat sikap aneh Rangiku dan Byakuya, dan kebiasaan Rangiku yang tidak suka disentuh atau bersentuhan dengan siapapun menguatkan kesimpulan Ishida bahwa Rangiku dapat mendengar pikiran orang hanya dengan menyentuhnya selama beberapa saat. Suatu sikap yang disalah artikan oleh banyak orang karena Rangiku tidak pernah protes dengan cara apa dan bagaimana Byakuya menyentuhnya.

Baca pikiran Ishida nanti malam saat dia tertidur, usahakan Ishida tidak menyadari pikirannya sedang dibaca.

Rangiku yang baru saja selesai mendengarkan pikiran Byakuya membalasnya dengan mengenggam erat tangan Byakuya.

Ishida tidak tahu apa yang direncanakan Byakuya, bisa jadi itu menyangkut dirinya. Bisa jadi tidak. Tapi apapun itu dia harus membuat rencan cadangan.

"Rapat ini sudah selesai?" tanya Ishida.

"Ya," jawab Byakuya.

"Kalau begitu aku pamit. Ada sesutu yang harus aku kerjakan?"

"Apa itu!"

Byakuya dan Ishida saling menatap. Sebagai orang paling pintar di organisasi Byakuya merasa curiga Ishida merencanakans sesuatu diluar sepengetahuan mereka. Ishida sendiri tidak bodoh. Dia tahu Byakuya mencurigainya sejak sinyal kecil yang dia berikan pada Rangiku.

"Aku tidak tahu seberapa cepat para anjing-anjing itu akan mengembalikan jenazah orihime pada keluarganya, tapi sebagai pacar idaman tentu aku harus mengunjugi rumah orang tua orihime, menyampaikan bela sungkawa dan menemani mereka melewati masa-masa sulit ini. Bukan begitu?"

Byakuya tidak bisa membantah meski dia tahu apa yang dikatakan Ishida hanya lima puluh persen benar. Sisanya hanya kebohongan.

"Terserah, tapi kembali kemari sebelum pagi!" perintah Byakuya.

"Tentu. Aku juga tidak ingin berlama-lama diluar sana. Aku harus menambahkan beberapa hal dalam rencana kita."

Setelah menyelesaikan kalimat terakhir yang dia harap dapat meyakinkan semua yang ada di sana, terutama Byakuya, Ishida meninggalkan ruangan itu. Dia pergi meninggalkan kamar paling atas apartment mewah yang terletak di jantung kota.


Telpon genggan berbentuk sliding milik Ichigo berbunyi. Ichigo merogoh saku celananya untuk mengambil benda mungil tersebut. Dilihatnya layar. Tidak ada nomer tidak ada nama. Private number. Buru-buru dia keluar dari markas besar SATU dengan gaya setenang mungkin sambil mematikan telponnya.

Ichigo tahu siapa penelpon itu. Hanya ada satu orang di dunia ini yang tahu nomer telpon yang dirahasiakan ini. Karena setiap anggota SATU memiliki nomer telpon terpisah yang mereka gunakan untuk saling mengontak sesama anggota tim. Tidak boleh ada orang luar yang mengetahuinya. Tapi Ichigo melanggar persyaratan itu. Dia memberikan nomer yang sangat rahasia ini pada seseorang.

Ichigo sudah berada di luar markas dan berpura-pura sedang berjalan kelua dari kompleks perumahan tempat markas mereka berada menuju halte bus yang ada di luar komplek dan menunggu di sana.

Tepat seperti kebiasaan yang mereka lakukan. Lima menit setelah telpon pertama dimatikan, terlpon kedua akan masuk setelah lima menit sejak telpon pertama ditolak.

"Kenapa?" tanya Ichigo ketus.

"Tim-mu punya anggota baru?" tanya suara di sebrang sana.

Ichigo kaget tidak menyangka dia tahu berita terbaru tim SATU secepat ini. Padahal baru sejam lebih sejak Toushiro menyatakan kesanggupannya bergabung dengan tim SATU.

"Jadi dugaanku benar."

"Lalu apa pedulimu!"

"Katakan apa kekuatannya!"

"Itu bukan urusanmu! Cukup lakukan saja rencana gilamu dan aku akan menghentikanmu!"

"Dia tipe yang berlawanan denganmu bukan!"

"Itu bukan urusanmu!" bentak Ichigo semakin keras.

"Kamu memang mudah ditebak kurosaki. Jadi dugaanku tepat bukan?"

Ichigo berdecak kesal. Ada kalanya tidak menyenangkan juga ketika kita memiliki seseorang yang begitu dekat. Yang hafal di luar kepala semua kebiasaan kita yang baik atau buruk dan bisa memahami pikiran meski tidak terucap dengan kata-kata.

"Katakan dimana aku bisa menemuinya!"

"Tidak akan!"

"Ayolah! Ini demi kepentingan dia juga. Kau tidak akan menyesalinya. Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan terakhir dariku untukmu!"

"Kenang-kenangan apa lagi yang akan kamu berikan! Aku tidak butuh semua itu! Cukup dengan kejadian tadi siang!"

"Kamu marah karena itu? Apa boleh buat. Bukankah itu perjanjian kita? Ayolah. Beritahu aku dimana aku bisa menemuinya. Karena aku mungkin sudah tidak bisa melanjutkan permainan kita."

"Apa maksudmu! Jangan sok melankolis!"

"Tanggal 21 nanti, tepat hari perayaan itu kamu akan tahu apa yang kumaksud. Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Pikirkanlah, Ichigo."

telpon terputus.

Ichigo duduk terdiam coba mencerna apa maksud percakapan singkat barusan. Tidak banyak orang yang tahu dia adalah mantan anggota Jehova SEED, setaunya hanya pimpinan tim SATU yang mengetahui kenyataan itu. Ichigo juga tidak yakin sampai sejauh mana Kyoraku tahu keterlibatannya dulu dalam Jehova SEED. Masuk tim SATU juga bukan keinginannya. Itu keinginan ayahnya, Kurosaki Ishin. Dia hanya menginginkan imbalan uang atas kemampuannya itu. Uang yang dia harap suatu saat nanti dapat dia gunakan untuk menolong sahabatnya, Ishida Uryuu. Ichigo berharap suatu saat nanti Ishida akan memafkaan dia dan ayahnya. Melupakan dendam mereka dan menjalani hidup yang baru. Cita-cita yang sebenarnya dia sendiri tahu itu terlalu muluk-muluk karena Ishida yang sekrang, Ichigo tahu dengan persis, bukan Ishida Uryuu yang dulu dia kenal. Ishida yang selalu tersenyum. Ishida yang sok jagoan demi melindungi dirinya. Ishida yang hatinya belum tercemar dengan kebencian dan balas dendam.

"Mau pulang? Kuantar ya," Renji menepuk pundak Ichigo yang sedang melamun.

"Tidak usah," tolaknya.

"Ayolah, ini kewajibanku sebagai bodyguard-mu!" paksa Renji.

"Siapa bodyguard si rambut putih?"

"Kemungkinan besar Nanao, mengingat dia mengenal Shiro lebih lama daripada siapapun. Jika keadaannya benar-benar gawat, mungkin komandan akan mengirim seseorang yang jauh lebih mengerikan dari Nanao."

Ichigo tersenyum. Entah kenapa Renji selalu menganggap Nanao mengerikan. Padahal dia hanya detektif muda yang terlalu kurus untuk ukuran seorang penegak hukum yang sering kali harus berurusan dengan bahaya. Dia juga tidak punya sorot mata sedingin dan sekejam Byakuya mantan atasannya di Jenova SEED. Jadi apa yang harus Renji takuti dari Nanao.

"Eh, jangan meremehkan dia ya. Di balik kacamatanya itu tersimpan seribu satu misteri."

"Ya, ya, ya, terserahlah," jawab Ichigo.

"Ya sudah. Tunggu di sini sebentar. Aku ambilkan mobil. Jangan pergi! Awas kalau pergi," ancam Renji.

"Ya, ya aku tahu, kamu hanya takut dipecat komandan bukan karena tidak becus menjalankan tugasmu!"

Renji mengayunkan tinjunya sekilas sebelum melesat pergi mengambil mobil yang diparkirkan di depan markas.

Ichigo mengamati kepergian Renji hingga sosok itu menghilang. Setelah sosok partner-nya itu tidak terlihat, Ichigo buru-buru mengirim email lewat hand phone-nya.

Dia mahasiswa jurusan psikologi semester akhir Karakura University, Toushiro Hitsugaya.

Ya, Ichigo memutuskan untuk memberitahu sedikit informasi tentang rekan barunya itu. Entah apa yang akan terjadi nanti, hati kecil Ichigo yakin Ishida tidak akan membunuhnya. Selain itu Ichigo juga sudah punya seorang bodyguard. Dan menurut ingatan Ichigo Nanao bukan polisi biasa, apapun kelebihan-nya Ichigo tidak tahu, tapi satu yang pasti, hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk tim SATU. Jadi Shiro seharusnya aman berada dalam perlindungan Nanao.

Shiro menghapus isi pesan yang baru saja dia kirim bersamaan dengan datangnya mobil Renji. Secepat kilat dia menyelipka benda mungil itu ke dalam saku celananya dan dengan gaya angkuhnya melangkah masuk ke kursi penumpang yang ada di depan.


May, 17

"Bagaimana?" tanya Byakuya.

Di kamar berukuran lima kali lima dengan nuansa klasik yang mewah, tiga orang petinggi Jenova SEED sedang mengadakan rapat rahasia. Juushiro berbaring santai di ranjang ukuran besar. Byakuya duduk di dekat kaki Juushiro sedangkan Rangiku duduk sopan di depan Byakuya.

Rangiku baru saja selesai melaksanakan tugas yang diberikan Byakuya saat rapat kemaren. Membaca pikiran Ishida.

"Sesuai dugaanmu, Byakuya, dia mengetahui, menebak lebih tepatnya, kemampun bocah berambut putih tersebut. Dan seperti dugaan kita, dia memiliki kemampuan melihat masa depan."

"Kemampuan unik yang sangat menguntungkan. Sayang dia tidak ada dipihak kita," Juushiro menanggapi.

"Ya, seandainya saja Ichigo dan bocah berambut putih itu memihak pada kita," Rangiku berandai-andai.

"Kita hanya perlu membubuhnya!" potong Byakuya sebelum mereka berdua berandai-andai lebih jauh sekagius memberikan solusi yang paling cepat dan tepat.

Rangiku cemberut mungkin dia salah satu dari dua orang di dunia ini yang tidak takut pada Byakuya. "Tidak semudah itu Byakuya!" keluhnya, "Kita sudah coba membunuh Ichigo. Berkali-kali! Entah sudah berapa banyak boneka yang kita gunakan untuk melakukan tugas tersebut! Tapi semuanya nihil! Dia masih hidup sampai sekarang!"

"Kita tidak pernah sungguh-sungguh melakukannya, Rangiku!" ralat Byakuya.

Rangiku melotot protes.

"Kita melakukan semua itu sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Ishida. Dari mana kita yakin seratus persen rencana itu akan berhasil! Aku tidak yakin dia benar-benar berniat membunuhnya!"

"Sudah-sudah!" Juushiro yang paling tua diantara mereka berdua menghentikan adu mulut. "Kalau benar bocah berambut putih itu bisa melihat masa depan, bisa dipastikan rencana kita gagal seratus pesen. Kecuali dia membutuhkan kondisi-kondisi khusus seperti Ichigo."

Byakuya, sebagai orang yang paling lama mengikuti Juushiro dan menganggap laki-laki itu seperti kakak dan ayahnya langsung paham apa yang dimaksud Juushiro. "Aku akan menyusun rencana ulang dan menyingkirkan Ishida," jawabnya cepat.

"Singkirkan dulu Ishida, Byakuya. Nanti siang setelah dia selesai melaksanakan tugasnya, menyiapkan bahan peledak, suruh dia kemari dan hilangkan ingatannya. Aku akan menulis ulang ingatannya. Dan Aizen menghipnotis dia sesuai petunjuk kita!"

"Tunggu! Juushiro, kau akan menggunakan dia sebagai boneka?" protes Rangiku.

"Ada masalah, Rangiku?" tantang Byakuya.

"Aku tidak setuju. Dia salah satu anggota kita! Anggota penting kita! Apa yang akan kalian lakukan! Ingat dia sudah banyak berjasa untuk kita!" Rangiku semakin berapi-api meneriakkan penolakan.

"Rangiku, dia sudah gagal membunuh Ichigo!" Juushiro meluruskan.

"Aizen yang gagal!" ralat Rangiku.

"Terserah! Aku tidak peduli! Yang pasti kegagalan itu menyebabkan Ishida jadi target utama anjing-anjing tim SATU! Dan aku tidak mau semua anggota kelompok menanggung semua akibatnya!"

"Jadi lebih baik mengorbankan Ishida!" Rangiku tetap meneriakkan protesnya.

"Lebih baik begitu!" Byakuya membenarkan ucapan Juushiro, "Ingat, jika dia mati, Ichigo akan dengan mudah membaca pikirannya. Dan setelah itu terjadi para anjing-anjing itu dengan mudah menemukan markas kita, mengetahui kemampuan kita dan setelah itu kita semua akan binasa! Kamu ingin itu terjadi, kita musnah bahkan sebelum rencana kita terlaksana. Aku tidak ma Rangiku!"

Rangiku menyerah walaupun sebenarnya dia ingin melawan. Tapi yang namanya Byakuya, begitu dia memutuskan tidak seorang pun yang bisa mengubahnya kecuali Juushiro. Dan pimpinan mereka saat ini, Rangiku melotot kesal ke arah Juushiro, lebih memilih bersantai-santai ria dan menyerahkan semua keputusan pada Byakuya. Kadang Rangiku sampai bertanya-tanya siapa sebenarnya pimpinan mereka Byakuya atau Juushiro.

"Kalau tidak ada yang dibahas lagi, kembalilah ke kamar masing-masing sebelum yang lain terbangun dan curiga!" perintah Juushiro mengakhiri rapat dini hari dadakan ini.

Rangiku buru-buru keluar dengan langkah-langkah kakinya yang besar. Dia masih kesal dan berlama-lama berada dalam satu ruangan yang sama hanya memebuat hatinya makin kesal.

"Rangiku jangan lupa suruh Aizen dan Ishida segera kembali ke sini setelah tugas mereka selesai!" perintah Juushiro.

Rangiku mengangguk sekali tanda paham sebelum menutup pintu kamar dan menghilang dari hadapan mereka.

"Semoga saja Ishida memberikan kita kejutan manis," kata Juushiro sepeninggal Rangiku.

"Lalu apa rencanamu?"

"Ishida?" Juushiro memperlihatkan mimik wajah bertanya pada Byakuya yang di respon dengan anggukan sekali. "Kita lihat apa saja yang sudah dia lakukan pada sisa waktu dua jam sebelum menjalankan tugas hari ini. Kalau perhitunganku benar, dia akan mencari bocah berambut putih itu. Hanya saja aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan."

Byakuya menggeser duduknya hingga kini dia berada di sebelah kanan kepala Juushiro. "Kita akan mengorbankannya bukan?" katanya ragu.

"Tentu, boneka yang sudah tidak berguna adalah sampah!" jawab Juushiro sambil tersenyum dingin.

Byakuya tersenyum puas mendengar kalimat Juushiro barusan. Dari dulu dia memang sudah ingin mengenyahkan Ishida Uryu dari Jehova SEED. Sejak pengkhianatan Ichigo yang tiba-tiba menghilang dan menjual informasi tentang organisasi ini pada anjing-anjing SATU, Byakuya dengan tangannya sendiri ingin menggorok leher Ishida. Gara-gara Ishida memasukkan bocah kaya raya yang angkuh itu sekarang para anjing-anjing tim SATU tahu siapa saja petinggi organisasi mereka, dan sekarang semuanya jadi makin sulit. Kebencian Byakuya pada Ishida jauh lebih dalam dari samudra mana pun. Sayangnya Juushiro melarangnya. Di bilang Ishida masih mereka butuhkan. Dan untuk membuktikan kesetiaan Ishida, Juushiro memerintahkan Ishida merancang skenario pembunuhan Ichigo selain merancang rencana-rencana teroris mereka. Dan hasilnya. Selama tiga tahun ini tidak satu pun dari rencana ishdia yang berhasil. Byakuya curiga, Ishida tidak pernah sungguh-sungguh ingin membunuh teman masa kecilnya itu. Dia bahkan tidak yakin Ishida memendam kebencian pada Ichigo sebesar yang dia tunjukkan selama ini.

"Kembalilah ke kamarmu, Byakuya!"

Byakuya menatap Juushiro sesaat.

Seakan tahu keresahan hati Byakuya, Juushiro menepuk pundak Byakuya, "Aku tidak akan menarik kata-kataku kali ini, kita akan membuangnya! Bersabarlah. Kau yang paling tahu bagaimana aku bukan? Tidak pernah ada ampun untuk kesalahan apapun," Juushiro tersenyum lembut. Senyuman yang mampu menenangkan hati Byakuya yang tanpa belas kasihan.

Byakuya menurut seperti anak kecil. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan Juushiro sendirian dalam kamarnya yang luas dan sunyi.

Sepeninggal Byakuya, Juushiro memjamkan matanya, bukan untuk tidur melaikan untuk berpikir. Dalam otaknya berbagai macam gambar hasil imajinasinya berputar, berganti dengan cepat sesuai keinginannya. Tidak banyak yang tahu kehebatan laki-laki berambut putih ini. Dalam waktu bersamaan dia bisa memikirkan lebih dari satu masalah. Memperkirakan apa yang mungkin akan terjadi dan mencari jalan penyelesaian tercepat dan terbaik.

Termasuk saat ini dia sedang menyusun berbagai macam rencana yang mungkin dibuat untuk mengantisipasi orang baru yang dapat membaca masa depan. Sekaligus memikirkan kenangan seperti apa yang akan dia 'tulis' dalam ingatan Ishida nanti. Pastinya sebuah ingatan yang mampu membuat seseorang tunduk padanya tanpa alasan. Menuruti semua perkataannya tanpa keraguan sedikitpun.

Di balik sikapnya yang santai dan seolah acuh tak acuh Juushiro memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan bantuan Byakuya dengan mudah dia bisa menciptakan boneka sebanyak yang dia mau. Tidak banyak yang sadar peran besar Juushiro dalam organisasi teroris ini. Hanya Byakuya yang tahu. Bahkan rangiku sekalipun tidak tahu. Kedekatan pimpinan dan wakil organisasi ini. Bagaimna Juushiro menyusun rencana, byakuya memutuskan dan dengan kepercayaan penuh Juushiro menyerahkan sisanya pada Byakuya. Tidak banyak yang sadar semua keputusan tiba-tiba yang diambil Byakuya selalu sudah melewati persetujuan Juushiro.

Dan tidak banyak yang tahu Byakuya adalah salah satu maha karya Juushiro yang terbaik. Bocah berkemampuan unik yang dia temukan dua puluh tahun lalu. Dengan sedikit menyentuh dahinya. Menarikan jari telunjuknya. Dan sedikit imajinasi liar, dia menciptakan seorang Byakuya, bonekanya yang paling setia. Yang sepikiran dengannya, sepaham dengannya dan saling mengerti satu sama lain.

.

.

.

a/n: Maaf atas update yang super lama. Sebelumnya saya ucapkan beribu-ribu terima kasih pada reviewer, Megami Mayuki, Shirouta Tsuki, mokkun gembul, Yuina Valkyrion, Yurisa-Shirany Kurosaki, Caca 27

Terima kasih atas dukungan semangatnya. Dan semoga cerita ini tidak mengecewakan para readers sekalian.