7 Days
Kidnapping TouShiro!
A Bleach fanfiction
All charas by Kubo Tite
May, 17
Shiro sedang dalam perjalann menuju pintu gerbang kampus ketika dia merasakan sesuatu menempel pada punggungnya. Sebelum dia sempat berbelok, melihat siapa orang iseng yang menganggungnya panas-panas begini, tangan kanannya sudah lebih dulu diplintir ke belakang.
"Jalan!" bisik orang di belakang.
Jantungnya langsung berdetak kencang. Pikirannya terus mengatakan sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Minim pengalaman menghadapi situasi seperti ini, Shiro memutuskan mengikuti kemauan penculik.
Dia dibawa menuju ke lapangan parkir dan mereka berhenti pada sebuah mobil SUV warna silver. Penculik tersebut membuka pintu kemudi. Mendorong masuk Toushiro ke dalam. Sedangkan dia sendiri duduk di kursi belakang.
Dari kaca spion Shiro bisa melihat wajah sang penculik. "Kamu!" pekiknya kaget. Dan jantungnya makin bergemuruh tidak karuan. Ini lebih gawat dari perkiraannya. Orang yang menculiknya bukan sembarangan orang. Dia orang yang berbahaya. Rasanya keputusan Shiro bergabung di tim SATU kemarin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bisa saja dia akan mengemudikan mobil itu ke tempat sepi. Lalu peluru dari pistol semiotomatis tadi akan menembus masuk ke rongga kepalanya, merusaka otak dan membunuhnya. Setelahnya dia akan dibuang entah dimana.
Sambil menodongkan pistol ke belakang kepala Shiro pemuda tadi mengeluarkan remote. Layar audio di mobil menyala menunjukkan tulisan Load lalu kurang dari semenit mobil itu dipenuhi suara bising.
"Jalankan mobilnya!" perintah Ishida.
Shiro menurut. Dia membawa mobil ke luar lapangan parkir kampus. Setelah jalanan mulai terlihat, Ishida menyerahkan sesuatu pada Shiro yang ternyata adalah sebuah handphone. "Jangan banyak bicara dan ikuti petunjuknya!" lagi-lagi Ishida memerintah sambil menunjuk pada handphone yang tadi dia serahkan.
Tidak terlalu paham maksud teroris yang menculiknya, Shiro memilih meletakkan benda tersebut di dekat odometer. Dia berjalan terus karena tidak tahu harus berbuat apa, sambil berpikir berbagai kemungkinan meloloskan diri atau mencari bantuan. Pikirannya terhenti ketika sebuah suara terdengar dari arah handphone yang dia letakkan di depan odometer.
" Ten meters turn left."
Shiro buru-buru melihat layar handphone tersebut. Ternyata sebuah GPS telah di setting memandunya ke suatu lokasi.
"Nine meters."
Shiro memperhatikan lokasi yang akan dituju oleh GPS. Sebuah kompleks apartment. Jantungnya berdetak semakin kencang. Bayangan dirinya akan diseret ke markas musuh, tanpa sadar membuat sebutir keringat menetes dari keningnya.
Dari arah belakang, tiba-tiba Ishida menyerahkan secarik kertas padanya. Shiro menerimanya dan membaca sederet huruf yang tercetak di atasnya.
Jangan macam-macam
Dan kamu selamat
Shiro meremasnya setelah selesai membaca. Seakurat apa janji tulisan tersebut, dia tidak tahu. Tapi kalo ada sedikit harapan, mungkin itu layak diperjuangkan. Jadi dia memilih diam dan menurut.
Dugaan awal Shiro bahwa dirinya akan dibawa ke markas Jehova SEED dan mungkin disiksa rame-rame, salah seratus persen. Dia berada di apartment Ishida. Ruangan seluas enam puluh meter persegi, tertutup rapat, hanya ada satu ventilasi, dan pintu keluar yang rangkap dua. Satu pintu dari kayu yang tampak seperti pintu-pintu kamar apartment pada umunya. Dan bagian dalamnya ada pintu besi seperti pintu penjara.
Ishida menyarungkan senjata api yang dari tadi digunakan untuk megancam Shiro ke balik kaos polonya lalu mengunci rapat pintu. Shiro mengamtai seluruh ruangan. Ada beberapa foto dengan bingkai kayu berdiri di meja kerja. Sementara Shiro sibuk mengamati ruangan, mencari celah melarikan diri, Ishida lagi-lagi memutar musik dengan volume cukup keras. Suatu sikap yang dirasa cukup aneh menurut Shiro.
Dan sikap anehnya semakin jelas terlihat ketika dia menyerahkan secarik memo dengan coretan tulisan tangan Ishida.
Baca masa depanku!
Shiro mengerutkan dahi, melihat bergantian antara Ishida dan memo yang baru dia serahkan pada Shiro. "Kenapa kita harus berkomunukasi seperti ini!" protesnya.
Ishida buru-buru membungkam mulut Shiro dan mencekik lehernya. "Kalau ingin selamat, jangan banyak bicara! Paham!" ancamnya.
Shiro yang mulai kehabisan nafas mengangguk sekuat tenaga.
Ishida melepaskan ancamannya. Dia memberika ballpoint pada Shiro. Shiro mulai menulis. Cukup panjang. Kurang dari semenit Shiro mengembalikan memo yang sudah dia tulisi pada Ishida, dia mulai membacanya.
Butuh syarat dan kondisi khusus. Tidak bisa semudah itu! Kalau seseorang tidak harus mati dalam waktu tujuh hari atau kurang. Aku tidak bisa melihat masa depannya.
Selesai membaca tanpa perlu melihat reaksi Shiro, Ishida kembali menulis, tidak lama, lalu mengembalikan notes pada Shiro.
Coba saja!
Shiro melotot kesal. Mulutnya bergerak tanpa suara mengatakan, aku tidak bisa.
Ishida tidak banyak bicara. Dia mengeluarkan kembali senjata api yang tadi disembunyikan di balik kaos dan menodongkan moncongnya pada Shiro, dia menarik pelatuknya, siap menembak.
Shiro mundur selangkah, kaget. Setelah menarik dan membuang nafas sekali, dia putuskan mencoba. Dia mengulurkan tangannya, Ishida sempat bingung beberapa detik, tapi dia langsung menyambut uluran tangan tersebut dengan masih menodongkan senjata ke kepala Shiro.
Shiro tidak yakin bisa. Tadi mereka sudah bersentuhan, dan dia tidak mendapat pengelihatan. Jadi kemungkina kali ini dia bisa melihatnya juga nol.
Di tengah-tengah situasi yang menegangkan, handphone Ishida tiba-tiba berbunyi. Matanya langsun menyipit saat melihat nama sang penelpon pada layar. Sambil sesekali menatap ke arah Shiro dia bergeser. Mengecilkan volume suara audio sebelum menerima telpon.
"Ya," katanya singkat.
Suasane hening.
"Aku, sedang di kafe. Kenapa?"
Kembali jeda.
"Tidak sendirian. Aku akan segera ke sana, selesai menghabiskan minumanku!"
Dan telpon terputus.
Ishida kembali mengeraskan volume dan kembali pada Shiro. Mengulurkan tangannya. Dan ketika kulit itu bersentuhan, sesuatu terjadi. Matanya menatap kosong ke depan. Ishida yang bingung melihat reaksi Shiro menempelkan moncong senjata ke dahi Shiro. Tapi tidak ada reaksi apapun. Shiro seperti sebuah mayat. Diam dengan pandnagan kosong dan tanpa ekspresi.
Ishida memutuskan untuk menunggu. Mungkin ini adalah prosesnya. Dia sering melihat Ichigo menggunakan kekuatannya. Dia jika sedang membaca masa lalu sikapnya juga seperti Shiro. Tidak bereaksi pada apapun. Seperti mayat. Perbedaannya, Ichigo matanya terpejam.
Setelah semenit, Shiro tersentak kaget. Nafasnya naik turun. Keringat dingin yang sudah mengering kembali keluar dari balik kulit. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya terjatuh dan bergetar hebat. Dia mendongak ke atas, menatap Ishida dengan mata tidak percaya dan ketakutan. "Jang-" Shiro buru-buru menghentikan ucapannya. Dia mengambil notes yang ikut terjatuh ke lantai, dan menulis.
Jangan kembali! Mereka akan membunuhmu! Mengorbankanmu!
Dia menulis seperti itu dan menyerahkannya pada Ishida.
Reaksi Ishida berbeda seratus delapan puluh derajat dari reaksinya. Dia tersenyum, wajahnya terlihat tenang. Tidak ada ketakutan sedikitpun. Dia bahkan menyimpan senjatanya kembali.
Shiro yang merasa sedikit lebih tenang mencoba berdiri. Dia berhasil melakukannya meski tubuhnya belum berhenti bergetar. Tangan kananya mengambil paksa notes di tangan Ishida dan kembali menulis. Tangannya bergetar hebat. Dia benar-benar ketakutan, tapi dia memaksakan diri tetap menulis.
Ishida membaca apa yang di tulis Shiro.
Siapa mereka! Orang-orang macam apa mereka!
Begitulah kurang lebih tulisan Shiro. Butuh usaha keras untuk membaca tulisan orang yang sedang ketakutan.
Giliran Ishida yang menulis.
Siapa yang kamu maksud?
Shiro buru-buru menulis kembali setelah membaca pesan Ishida.
Laki-laki berambut putih yang mencuci otakmu, laki-laki berambut hitam yang membuatmu seperti orang linglung dan wanita yang tahu apa yang ada di otakmu!
Ishida langsung paham apa yang dimaksud Shiro tapi dia hanya tertawa, tawa yang dipaksakan. Lalu kembali menulis, kali ini cukup lama, sepertinya dia menulis cukup banyak kata kali ini.
Pemimpin Jehova SEED!
Aku jadi punya gambaran apa yang mereka lakukan padaku saat pulang nanti.
Tinggalah di sini sementara. Semua kebutuhan sudah aku siapkan.
Demi kebaikanmu juga!
Selesai menulis dia menyerahkan notes tersebut. Dan selagi Shiro membaca dengan seribu tanda tanya di kepalanya, Ishida berlalu pergi. Saat tersadar dia sudah berada di balik jeruji besi yang mengurungnya. Shiro terpenjara di apartment Ishida. Sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu kayu, dia tersenyum. Wajahnya tampak tenang meski dia tahu dia akan tewas dalam waktu dekat. Dan meski tahu mereka akan mengkhianatinya, dia tetap pergi. Rasanya sulit dipercaya, dia orang yang merencanakan pembunuhan Orihime Inoue kalau melihat wajahnya saat ini. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ishida yang dilihat Shiro dalam penerawangannya kemaren.
"Aku titip dia." katanya sambil menunjuk pada deretan bingkai foto di meja kerja yang sekilas sempat Shiro perhatikan saat masuk ke ruangan ini.
Shiro menoleh ke arah telunjuk Ishida terarah. Dia belum terlalu paham siapa yang dimaksud Ishida.
"Katakan, aku tidak menyalahkannya, dan sampaikan maafku padanya."
Setelah menyampaikan pesan terakhir Ishida meninggalkan ruangan. Shiro terjatuh dalam keadaan terduduk dia akan terkurung di sini entah sampai kapan. Menunggu bantuan datang. Tapi Shiro juga tidak terlalu yakin dengan itu. Ruangan ini dilengkapi dengan peredam suara. Membuat keributan sepertinya usaha yang sia-sia. Buktinya, tidak ada seorangpun yang protes meski musik mengalun kencang dari ruangan ini. Dan berteriak minta tolong, rasanya juga akan sia-sia.
Shiro jadi berpikir, seandainya dia tidak bergabung dengan tim SATU, apa hari ini dia akan bernasib seperti ini? Sekarang dia jadi paham maksud Ichigo, ini bukan pekerjaan tanpa resiko. Ini pekerjaan dengan mempertaruhkan nyawa. Lalu, meski dia mampu membaca masa depan orang lain, dia tetap tidak bisa mengubah masa lalu. Dan penyesalan selalu datang terlambat.
May, 19
Satu jam belakangan, Nanao tidak henti-hentinya berurusan dengan telpon selular. Sudah semalaman dia terobsesi dengan benda itu. Tiada henti menelpon Shiro, mengamati tulisan 'calling' pada layar yang tak kunjung berubah menjadi 'connected'. Dan mau berapa ribu kali dicoba, nada suara di sana hanya memperdengarkan suara sang operator yang mengatakan nomer yang dia tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area. Gagal dengan satu nomer, dia beralih ke nomer ponsel Shiro yang lain, yang baru dia terima tiga hari lalu saat memutuskan bergabung dengan tim SATU. Hasilnya sama saja. Perbedaanya, telpon yang satu ini aktif tapi tetap tidak tersambung.
"Masih belum bisa dihubungi juga?" tanya Kyoraku yang mulai cemas.
"Begitulah," jawab Nanao putus asa. "Pak, bisa minta tolong lacakan sinyal yang dipancarkan handphone milik Shiro yang masih aktif?"
"Aku usahakan," sedetik kemudia Kyoraku mulai sibuk menelpon, dia melakukan apa yang diinginkan Nanao, setelah menunggu beberapa manit, hasil yang mereka inginkan keluar. "Dia ada di kampus." kata kyoraku. Dia mulai terlihat tenang dibanding sebelumnya.
Semalam saat Nanao menghubunginya dan mengatakan dia tidak bisa menghubungi Shiro, baik kyoraku, Renji dan Ichigo sibuk mencari pemuda berambut keperakan tersebut. Tapi mereka tidak menemukannya dimana pun.
"Kalau dia ada di sana, kenapa tidak menerima telpon dariku!"
Melihat kecemasan Nanao, Kyoraku akhirnya kembali memberi perintah lewat handphone-nya. Menyuruh seseorang mencari Shiro.
Detik-detik berlalu berganti menit. Lalu menit berganti jam. Nanao memilih diam. Dia mencemaskan Shiro. Instingnya mengatakan sesuatu yang buruk sedang menimpa Shiro. Renji terlihat lebih santai. Dia masih sempat merokok dan ngobrol apa saja dengan Kyoraku.
Ichigo hampir sama bingungnya dengan Nanao. Kecemasannya terhadap keselamatan Shiro tidak sebesar Nanao. Dia lebih mencemaskan perbuataan seseorang yang mampu mengcaukan semua rencana tim SATU.
Hampir dua jam ketika telpon Kyoraku berdering. Dilihat dari raut wajah Kyoraku yang berubah serius, semua yang ada di ruangan itu tahu, Shiro tidak ada di kampus seperti yang mereka perkirakan. "Handphone nya dibuang di semak-semak. Orang yang aku perintahkan mengatakan dia sudah mencari Shiro ke seluruh kampus. Tapi tidak ada seorangpun yang melihatnya sejak kemaren."
Tangan Nanao langsung terjatuh lemas. "Pasti sesuatu yang buruk sudah terjaid padanya."
"Renji, bawa Kaien bersamamu! Lakukan pencarian!"
"Siap!" sahut Renji dan langsung meninggalkan ruangan. Kalau tidak berurusan dengan mayat, Renji memang tidak bekerja berpasangan dengan Ichigo.
"Ichigo, pergi ke lap forensik. Periksa satu persatu setiap mayat yang masuk mulai tanggal enam belas malam."
"Semuanya?" Ichigo sedikit protes.
"Se-mu-a-nya! Paham! Kita tidak tahu apa yang dilakukan oleh Jehova SEED. Mereka bisa saja memanipulasi seseorang lalu membunuhnya."
"Tapi kalau mereka juga melakukan sesuatu pada ingatan mayat, hasilnya sama saja!" bantah Ichigo.
Kyoraku melotot dan menaikkan ke dua tangannya ke pinggang. "Just do it!" bentaknya.
Kalau kyoraku sudah seperti itu. Ichigo tidak punya keberanian melawan. Ada banyak asalan mengapa dia enggan melakukan semua ini. Pertama prosedur berbelit-belit yang harus dia lewati. Meski dia membawa surat perintah, atau lencana khusus anggota tim SATU yang mempunyai akses ke manapun, tapi berurusan dengan orang-orang lab forensik jauh lebih menjengkelkan dari pada berurusan dengan seorang wanita. Mereka memperlakukan mayat seperti benda berharga. Terlalu berhati-hati. Dan terkadang sentuhan tangan pada dahi, sesuatu tindakan yang menurut orang awam adalah perbuatan tidak jelas, bagi mereka orang-orang forensik terlihat sebagai pencemaran barang bukti, dan mengarah pada perbedatan panjang tanpa akhir. Kalau ada Renji masih mendingan. Dia yang akan beradu mulut sementara Ichigo mencuri kesempatan memeriksa. Sekarang dia harus berangkat sendiri, menyelesaikan tugasnya. Tentu saja Ichigo menolak mati-matian.
"Semoga tidak banyak orang mati dalam tiga hari ini," keluh Ichigo sebelum akhirnya pergi.
Dia memilih mencapai tempat tujuan dengan taxi daripada dengan mobil dinas yang disediakan. Dia juga tidak langsung menuju ke sana. Kalau bisa mendapat jawaban lebih cepat kenapa harus repot-repot memeriksa semua mayat yang ada.
Sesampainya di dalam mobil, Ichigo mengambil handphone dan menelpon dengan merahasiakan nomernya. Telpon tersambung, tapi tetap tidak ada jawaban. Aneh. Tidak biasanya begini. Ichigo mencoba sekali lagi, tetap sama hasilnya. Dia terus mencoba sampai lima kali. Tapi hasilnya tetap sama. Jadi chigo memutuskan mengontak Ishida dengan cara lain.
"Maaf pak, bisa pinjam telpon?" tanya Ichigo pada sopir taxi setengah tua yang mengantarnya.
Laki-laki tua tersebut sepertinya ragu menjawab. Ichigo merogoh tasnya, mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Ini cukup?" tawarnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang nominalnya sanggup untuk membeli sebuah handphone baru.
Melihat lembaran-lembaran uang yang menggiurkan, dia mengeluarkan handphone dari dalam saku celana kiri. "Ambil saja sekalian!" katanya sambil memberikan benda mungil berwarna biru pada Ichigo lalu buru-buru mengambil lembaran uang yang ditawarkan Ichigo. Sedikitpun sopir bodoh itu tidak menaruh curiga pada Ichigo.
Ichigo menerimanya dan mulai menekan nomer telpon Ishida yang dia hafal luar kepala. Kali ini tanpa menyembunyikan nomernya. Dan benar, setelah beberapa kali nada sambung, suara Ishida terdengar.
"Halo," suara Ishida terdengar ragu.
Ichigo menunggu sebentar, mencoba menganalisa suasana tempat Ishida berada sebelum menjawab. Sunyi senyap. Sepertinya tidak ada seorangpun di dekat Ishida.
"Ishida! Apa yang kamu lakukan padanya," bentak Ichigo.
"Apa maksudmu! Dan siapa ini!" tanya suara di sebrang sana dengan nada kesal.
"Jangan main-main. Kamu menanyakan tentang dia tiga hari yang lalu. Apa yang kamu lakukan!" Ichigo makin kesal.
"Aku benar-benar tidak kenal siapa kamu! Sebelum menyerangku dengan pertanyaan bertubi-tubi, perkenalkan dirimu!"
"Apa maksudmu! Aku menelponmu dengan cara biasa sebanyak lima kali dan semuanya diacuhkan. Kamu malah mengangkat telpon dengan nomer asing! Berhentilah berpura-pura dan katakan dimana dia. Aku yang repot gara-gara ulahmu ini!"
"Harus kukatakan berapa kali aku tidak kenal denganmu," bentak Ishida bersamaan dengan suara pintu diketuk. Lalu terdengar pintu di buka. Kemudia terdengar suara perempuan berbicara pada Ishida.
"Ada apa, kenapa berteriak?" tanya suara itu.
"Hanya orang iseng," jawab Ishida sambil menunjukan handphone.
"Sarapan sudah siap! Cepat turun, jangan buat yang lain menunggu!"
Lalu terdengar langkah kaki menjauh. Dan sebuah suara di sebrang sana mengejutkan Ichigo. "Kamu teman Ishida? Siapa yang kamu cari?"
Ichigo tercekat kaget. Suara perempuan. Suara yang sama dengan yang tadi mendatangi Ishida.
"Ah, terlalu takut menjawab ya? Kalau takut matikan saja telponnya, jangan menguping pembicaraan orang. Dan apapun yang terjadi antara kalian tiga hari yang lalu, Ishida tidak bisa mengingatnya, jadi jangan buang-buang pulsamu untuk menelponnya."
Lalu telpon terputus. Wajah Ichigo pucat pasi. Siapapun orang itu, dia tahu apa yang dia katakan dengan Ishida. Bisa saja dia menguping dari awal. Tapi apa benar demikian. Dan suara itu, rasa-rasanya dia mengenalnya. Itu suara Rangiku! Lalu apa yang sebenarnya terjdi pada Ishida.
Bunyi dering telpon menarik Ichigo dari kekagetannya. Buru-buru Ichigo mengeluarkan telpon tersebut dan melihat nama atasannya terpancar dari layar.
"Ya," jawabanya.
"Cepat kembali ke kantor. Ada saksi mata yang mengatakan melihat Shiro pada tanggal tujuh belas bersama seseorang sepulang kuliah. Dan orang itu Ishida."
Plak! Ichigo menepuk jidatnya sendiri. Ketakutannya benar-benar terbukti. Dia menculik Shiro. Tapi apa tujuannya?
"Pak, putar balik." perintah Ichigo
"Kemana?" tanya sopir taxi itu bingung.
"Tempat awal! Aku tidak jadi pergi! Dan cepat!"
Sopir tadi langsung menekan gas dalam-dalam. Dia menarik mobil sekencang yang dia bisa, mengingat kemurahan hati Ichigo.
Sial! Buat apa dia menculik Shiro segala! Batin Ichigo kesal. Dia menyesali kebodohannya mempercayai kata-kata Ishida begitu saja. Percaya dengan janji Ishida bahwa dia tidak akan membunuh Shiro. Ok, dia mungkin saja tidak membunuh Shiro. Tapi kalau Ishida membawanya ke sarang Jehova SEED, apa ada jaminan Shiro tidak dibunuh? Kalau saja dia tidak memberi tahu Ishida apapun tentang Shiro, semua ini tidak perlu terjadi. Sekarang bagaimana dia harus menghadapi rekan-rekannya di SATU. Kalau kyoraku tahu dia membocorkan rahasia anggota tim, bisa-bisa dia menembak kepala Ichigo tanpa pikir panjang. Ya walau dari luar terlihat tenang dan bijaksana, laki-laki bertubuh besar itu bisa bertindak kejam sesekali.
Kalau dia tutup mulut, bagaimana kalau Shiro berhasil diselamatkan, lalu dia menuding dirinya sebagai mata-mata Jehova SEED? Yang manapun yang harus dia lakukan, tidak ada satupun jawaban yang menguntungkan.
Tapi tunggu! Ichigo tiba-tiba teringat dengan sikap aneh Ishida. Tidak mungkin Ishida berpura-pura tidak mengenal dirinya. Itu terlalu aneh. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Meski masing-masing membela kubu yang saling bermusuhan, tapi Ichigo tidak pernah ambil pusing dengan Ishida. Apapun rencana Ishida untuk melenyapkannya, bagi Ichigo itu adalah sebuah tantangan. Ichigo akan melakukan apapun untuk menggagalkan permainan itu.
Biasanya Ishida yang terlebih dahulu menelpon Ichigo, sekedar memprovokasi. Lalau ketika Ichigo menemukan cara untuk membatalkan rencana Ishida, giliran dia yang menghubungi Ishida. Selalu seperti itu.
Jadi kalau dia berhasil menculik Toushiro, seharusnya Ishida menghubungi dirinya. Menantangnya untuk menemukan rekan satu timnya. Tapi kali ini tidak. Lalu sikap Ishida yang melupakan dirinya, membuat Ichigo jadi berpikir sesuatu terjadi pada Ishida.
Ichigo pernah bergabung dengan organisasi teroris itu. Sedikit banyak dia tahu siapa saja orang-orang di dalamnya. Menurut berita yang beredar, beberapa diantara mereka memiliki kekutaan aneh seperti dirinya. Tapi siapa saja orang itu dan apa kekuatannya, Ichigo tidak tahu. Dia jadi makin kesal. Seandainya dia bergabung di sana lebih lama, mengorek inforamasi sebanyak mungkin.
"Kita sudah sampai!" perkataan sopir taxi barusan menyadarkan Ichigo dari kekalutan pikirannya. Lagi-lagi Ichigo mengeluarkan beberpa lembar uang dan menyerahkan pada sopir taxi tersebut.
"Terlalu banyak uangnya," sopir taxi tadi mencoba bersikap tidak serakah.
"Ambil saja kembaliannya. Dan tolong buang sim card telpon yang tadi saya gunakan."
"Untuk apa?"
"Demi keselamtanmu, demi nyawamu, juga demi keluargamu. Percayalah. Aku bukan orang baik-baik yang berurusan dengan hal baik-baik," pesan terakhir Ichigo sebelum melangkah keluar dari dalam mobil dan berlari sekuat tenaga menuju markas tim SATU yang letaknya masih lima ratus meter. Dia sengaja melakukan itu demi menjaga kerahasiaan markas mereka dan keselamatan sang sopir.
Ichigo yang datang paling akhir. Ruang rapat telah dipenuhi oleh orang-orang yang memegang peran penting dalam tim. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Tapi semua kesibukan itu terpusat pada satu tujuan, Toushiro.
"Apa yang terjadi!" tanya ichgo dengan nafas hampir putus. Kedatangan Ichigo sempat menjadi pusat perhatian mereka yang ada dalam ruanan itu selama beberapa detik, lalu mereka kembali pada kesibukan mereka masing-masing.
"Duduk dulu!" perintah Kyoraku.
Ichigo berjalan menuju satu-satunya kursi kosong yang tersedia dan duduk seperti yang Kyoraku katakan.
"Aku sudah mengontak markas besar kepolisian. Mereka mengatakan dalam dua hari ini tidak ada mayat yang mungkin dikenali sebagai TouShiro. Jadi untuk sementara waktu kita bisa menganggap dia masih hidup."
"Tapi hanya menunggu waktu," sela Ichigo.
"Tenanglah dulu! Apa yang bisa kamu pikirkan dengan otak kacau seperti itu!" bentak Renji.
"Ichigo membuang nafas kesal sambil membanting tubuhnya ke kursi. "Ok! Sekarang katakan apa rencana kalian! Otakku sudah cukup tenang dan sudah bisa berpikir dengan baik!"
Kaien yang tadi melakukan investigasi bersama Renji memulai rapat, "Menurut informasi saksi mata yang kita dapat, terkahir kali Toushiro terlihat pada tanggal tujuh belas, setelah kuliah usai bersama Ishida. Perkiraan waktunya antara pukul dua."
Ichigo hanya memandangi penjelasan Kaien dengan wajah kesal. Terkadang keterangan yang bertele-tele memang mengesalkan. Tapi bagaimanapun juga hal tersebut dibutuhkan.
"Aku sudah mengutus orang untuk meminta kaset rekaman kamera yang tersebar di tempat-tempat yang sekiranya dilewati Shiro." Renji menjelaskan.
"Done!" seseorang berparas cantik yang biasa di kenal dengan nama nell berteriak girang sambil meregangkan otot-otot lengan tangan.
"Bagaimana?" tanya Kyoraku tidak sabar.
"Ijin disetujui. Mereka memberi kita akses pada kamera pengawas yang dipasang di jalan."
Ichigo makin bingung. "Apa maksudnya?"
"Ada yang melihat mereka berdua meninggalkan tempat parkir menggunakan mobil SUV warna silver, Ichigo," Kaien menerangkan.
"Kita butuh jenis dan nomer polisi mobil yang besangkutan. Setelah mendapat gambarannya, dengan kamera yang terpasang di jalan-jalan, kita coba melacak jejaknya. Sudah cukup paham?" terang Kyoraku yang ditujukan hanya untuk Ichigo.
Ichigo mengangguk beberapa kali. "Apa yang bisa kubantu?" tawar Ichigo yang langsung menimbulkan kebingungan pada mereka yang ada dalam ruangan, kecuali Nanao.
"Sejak kapan kamu mau melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan melihat masa lalu?" sindir Renji.
Ichigo berecak kesal. "Sudahlah, cepat katakan apa yang harus aku lakukan!"
"Bukan pekerjaan yang menyenangkan loh, kamu mau?" tawar nell.
Ichigo mengangguk pasrah, kali ini dia memang harus membantu. Bagaimanapun juga kasus penculikan ini adalah kesalahannya seratus persen. Semakin cepat Shiro ditemukan, semakin baik. Kemungkinan hidunya juga makin besar. Dan kalau satu tenaga dapat membuat sebuah perubahan sekecil apapun, Ichigo siap melakukannya.
