Katekyō Hitman REBORN! Hanya milik Amano Akira.

(Author hanya meminjam karakternya saja~)


.

.

.

Happy Reading, Minna-san~

.

.

.


Bola mata Giotto turun meninjau garis wajah tegas milik Alaude. Pandangannya terhenti saat manik irisnya menjumpai leher Alaude yang tertutupi sebagian oleh kerah kemeja putih.

"Jika aku menghitung siapa saja yang sudah menyentuhmu..." Giotto menarik paksa kerah itu hingga tiga kancing tersibak. "Akankah... kau—"

"Gio." Alaude memegangi dua tangan Giotto yang bersarang di antara kerah kemejanya. "Belum terlambat untuk mundur." Alaude menggeram tajam, sebagaimana menahan diri agar sisi gelapnya tidak muncul.

Berhubung sang penjaga awan memiliki kecerdasan emosinal yang cukup tinggi, ia dengan mudahnya mengelola emosinya, menghalau libidonya agar daya pikirnya terjaga.

Jangan menganggap Alaude tidak mau melakukannya. Ia ingin memenuhi hasratnya ketika Giotto dalam keadaan sadar.

Ternyata masih banyak hal yang tidak diketahui oleh Giotto. Memang yang paling benar adalah berkomunikasi. Tanpa adanya komunikasi tidak akan mempunyai makna dalam proses interaksi, menyebabkan masing-masing pihak tidak dapat memahami maksud dan perasaan masing-masing. Terjadilah, misdirected.

"Je suis tombé amoureux de toi, ce n'est que de la douleur que je ressens mais j'aime vraiment ça..." Giotto merampas helaian pirang Alaude, menjambak pemuda itu hingga Alaude membungkuk sepenuhnya ke arah Giotto.

Alaude menumpu badannya dengan satu tangan berpegangan pada meja kecil yang didudukki Giotto. Wajahnya berada sangat dekat di telinga bos Primo. Dari mana Giotto menguasai bahasa prancis?

Sedang Giotto meremas rambut Alaude, kepalanya dimajukan ke depan menggapai leher kokoh si penjaga awan.

Hap.

Alaude memicingkan mata merasakan sebuah gigitan kuat dari Giotto.

"Anak nakal..." Alaude menyeringai jahat. Membawakan tangan tegapnya ke belakang kepala Giotto. Pria berdarah prancis mengelus lembut surai kekuningan bosnya untuk menenangkan Giotto.

Alaude yakin gigitan yang dibuat Giotto akan meninggalkan bekas. Rasa ingin menghukum Giotto pun bertambah berlipat-lipat. Mudah saja bagi Alaude untuk menandai Giotto di leher pucat itu, tapi jika ia melakukannya, Giotto pasti berakhir panik dan berpikir yang tidak-tidak.

"..."

Bruk.

Memiliki reflek yang cepat, Alaude menangkap tubuh Giotto yang lemas. Mendekap lama bosnya sambil menciumi pucuk kepala Giotto, membiarkan dia beristirahat di dadanya sementara waktu.


Di kamar mandi, Tsuna mengumpulkan beberapa gelembung dikedua tangannya. Tatapannya kosong, jiwanya serasa beterbangan di langit-langit.

Lama-lama kepalanya sakit memikirkan permasalahannya yang tidak cukup dihitung jari. Kedatangan Vongola Primo beserta penjaganya bukan fenomena yang aneh, tapi SANGAT GILA.

Ini semua ulah Giannini, bukan, bukan, tapi perbuatan Reborn! Tsuna meraung seperti anak singa, ia menyerah membongkar tujuan Reborn. Kalau Vongola Primo hidup kembali di zaman sekarang itu artinya Tsuna tak perlu menjalani hari-hari menyakitkan untuk berlatih menjadi bos kesepuluh?

Namanya pendiri Vongola, kekuatan Giotto beserta penjaganya diluar batas kewajaran kan? Tapi, kalau Tsuna berkata begitu kepada mereka—tak cuma Giotto yang sedih, Gokudera dan yang lainnya turut kecewa!?

"Aaarghhh... Pusing..." Tsuna menghembuskan nafas panjang. "Si Reborn... wajah tak berdosa itu... harusnya dia yang menangani ini semua!! Kenapa jadi aku?!" Tak mau tetangganya kebisingan, Tsuna berusaha keras untuk menurunkan volume teriakannya.

Tsuna meraih bebek yang mengapung di bathup, memencetnya sambil diangkat ke depan mata.

Raut wajah Giotto sepulang tadi membuat Tsuna ingin menanyakan kondisinya. Mungkinkah Giotto memikul tanggung jawab yang berat? Galau karena sesuatu? Harusnya tak mungkin, kembali ke kenyataan, itu kelewatan.

Tsuna pasrah. "Aaah... Mana mungkin, aku berpikir terlalu berlebihan..."

Bos Decimo menuruni bathup, tangannya terulur menyalakan shower. Hujaman air hangat mengenai seluruh tubuhnya. Tsuna mendongakkan kepala, menikmati rintikan shower nya agar berjatuhan pada wajahnya.

"Kunantikan pertemuan kita selanjutnya."

Deg.

"Oyasumi, Tsunayoshi."

Deg... deg... deg...

Suara berat Hibari terngiang-ngiang diingatannya. Wajar kah kejadian itu terus menghantui pikirannya? Tsuna jadi gagal fokus untuk melakukan segalanya.

"Hibari-san..." Tsuna memejamkan mata, tangannya gencar memeluk tubuhnya sendiri. Sensasi asing yang baru dirasakan Tsuna datang tanpa diundang.

Perutnya bagai diisi puluhan kupu-kupu hidup. Semburat merah di pipinya menjalar ke sekujur wajah. Tsuna menempelkan keningnya ke tembok berkeramik.

"...Uh. Hibari-san..." Tsuna mengerang, menyerukan nama Hibari putus asa.

"Mangsa Herbivore milikku."

"A-aah!" Tsuna mematikan shower. Dadanya sesak, seakan-akan saluran pernafasannya menyempit. Terjadi lagi, nada bicara Hibari terdengar begitu jelas.

Tsuna menyambar handuk kimono yang bergantung tak jauh. Masih dengan rambutnya yang basah, Tsuna mengakhiri acara mandinya terburu-buru.

Kelas 2 SMP Namimori, sepertinya Tsuna mengalami masa—pubertas? No, no, lebih dari pubertas? Bukan juga. Tidak lain ialah Tsuna sedang dikuasai oleh nafsu birahi. Pertama kali dalam hidupnya? Maybe.

"Ha—ah..." Tsuna mati-matian memutar knop pintu. Setelah terbuka, dirinya hendak berlari menuju kamarnya untuk berpakaian tapi sayang harus dihentikan.

Ada langkah kaki yang mendekat.

Dengan ekspresi cukup erotis Tsuna terpaksa menutup setengah wajahnya menggunakan handuk kecil yang lain.

Tak lama, Alaude muncul sembari menggendong Giotto ala pengantin.

Tsuna tercengang dengan pemandangan yang ditontonnya. Sungguh di luar perkiraan, penjaga awan generasi pertama yang selalu terkenal akan kesendirian—tengah memangku bosnya cukup protektif.

"Dimana kamarnya?" Setelah sampai di depan Tsuna, Alaude bertanya dingin.

Tsuna menelan ludah paksa. "...D-di depan sana..."

"Jangan beritahu soal ini padanya." Kata Alaude, menatap Tsuna dalam-dalam.

"E-eh?"

"Paham?" Alaude menuntut pengertian Tsuna, tak mau memberikan pilihan lain.

"I-iya, Alaude-san...." Mustahil untuk menolak, Tsuna mengiyakan. Sebenarnya ada apa?

Ketika Alaude berbalik ke arah kamar yang telah ditunjuknya, Tsuna mencegat pria penjaga awan itu.

"Giotto-san... kenapa?" Tanya Tsuna ragu-ragu.

Alaude menghentikan langkah kakinya. Ia melirik sedikit ke arah Tsuna, "Mabuk."

"M-mabuk???" Tsuna mencengkram kepalanya sendiri. Mabuk? Mabuk? Mabuk? Mabuk? Mabuk?

Alaude melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat diinterupsi. Merebahkan Giotto di atas ranjang dengan hati-hati. Ia tau persis seperti apa orang bernama Giotto ini, jika seandainya kejadian ini diingat oleh bos pertama, itu hanya akan memperparah mental Giotto.

Biarkan Giotto menganggap semuanya sebagai bunga mimpi.

Sementara Tsuna, dia menatap horror kemasan botol yang sudah diberikan kepada Giotto waktu lalu. Tangannya gemetaran dikelilingi perasaan bersalah.

"Dame-Tsuna... Kau benar-benar Tsuna payah paling bodoh di dunia! Bisa-bisanya menawari seseorang yang kehausan dengan miras?!!!!" Tsuna membentur-benturkan botol itu ke dahinya.

Dan Reborn muncul tiba-tiba di samping Tsuna. "Yo. Benar-benar Tsuna tidak berguna ya kau ini." Ejek Reborn, sudah mengenakan piyama hijau muda.

Tsuna tersentak dengan kedatangan Reborn yang misterius. "Astaga Reborn!!!! Sudah ngejek, bikin orang kaget!! Kau ini niat tidak sih jadi tutorku???"

"Ho... Kau itu cuma biji jagung, Tsuna. Aku ragu kau bisa berumur panjang kalau seperti itu terus." Reborn tersenyum polos.

Birahi Tsuna yang terpendam pun sepenuhnya sudah menghilang dan tidak akan disadari, berterima kasih lah kepada sosok Reborn.

"Terserah!!" Tsuna mengembungkan pipi kesal.

Ditengah-tengah pertikaian antara murid dan guru, Alaude kembali dengan mantel yang dilipat di sekitar lengan. Tumben tak dipakai?

"Alaude, bacanya sudah selesai?" Reborn bertanya santai.

"Akan ku lanjut nanti." Balasnya. Kemudian Alaude mengangguk sekali, "Selamat malam."

"S-selamat malam, Alaude-san..." Tsuna tersenyum kaku.

Reborn melambaikan tangan, "Malam, Alaude."

Cklek.

Pintu pun ditutup.

"Oh ya, Tsuna. Besok bukannya ada kunjungan orang tua ya ke sekolah?" Reborn memecahkan keheningan. Jujur saja, kesunyian tadi membuat atmosfer rumah menjadi angker.

Buruknya, Tsuna tidak menyahut apa yang dikatakan Reborn. Matanya melamun ke lantai kayu dengan hampa. Masih memikirkan Hibari Kyouya? Atau kepo oleh hubungan Alaude dan Giotto?

Alaude ialah penjaga awan milik Giotto, Hibari pun penjaga awannya—eh apa? Maksudnya? Jadi nanti setelah sepuluh tahun ke depan, hubungan dirinya dan Hibari akan seerat itu?

Termasuk digendong Hibari...?

Duak!

"Itteeeee!!!!!!"

Reborn meniup palu dari partner kesayangan, si kadal hijau pun kembali ke wujud asli sesudah melaksanakan perintah majikan. "Dame-Tsuna, dengarkan saat orang dewasa bicara."

"Orang dewasa apanya? Aaahhh bisa tidak sih kalau apa-apa jangan main pukul dulu!" Tsuna meringis perih. Kepalanya ibarat digigit sejuta semut.

"Hm." Reborn tersenyum lebar. "No good Tsuna. Giotto lima ratus persen kecewa banget."

"Jangan bawa-bawa Giotto-san! Dia lebih baik darimu seribu persen!!!" Semprot Tsuna tidak terima dengan komentar pedas si tutor Arcobaleno.

Reborn menodongkan pistol. "Apa?"

"HIEEEE!!!! IYAAAAA BERCANDAAA!!!" Tsuna beringsut ke belakang meja, melindungi diri dari todongan Reborn.

"Mama lagi tidak ada dan besok sekolahmu mengadakan kunjungan wali." Reborn menyimpan Leon di atas bahu.

Tsuna mengedip empat kali. "Kunjungan wali?..."

"Ckckck. Jangan bilang kalau kau melupakannya." Reborn memasang raut mematikan.

Sang bos kesepuluh menggeleng polos. "Tidak tau tuh... Kemarin aku tidak dapat informasi apa-apa tentang kunjungan wali."

"Jadi, besok kau datang dengan siapa?" Reborn malas menghadapi kepikunan anak didiknya alhasil menanyakan inti pembicaraan saja.

Tsuna mengetuk-ngetuk kuku jarinya ke dagu. "Hm..."

"Mau ajak Giotto?" Memang itu rencana awal Reborn, menempatkan Giotto dan Tsuna ke sekolah selama kunjungan wali berlangsung. Bukan ide buruk loh seharusnya. Asupan Reborn yang terpendam bisa tersalurkan lancar tanpa masalah.

"Giotto-san?... Mmh, dia mau tidak ya?" Tsuna bersila di lantai, menimbang-nimbang apakah tak masalah membujuk Giotto untuk menemaninya?

Reborn memutar badannya yang mini ke kamar. "Ajak saja. Aku tidur dulu."

'Semoga Giotto-san mau jadi waliku untuk besok...' Batin Tsuna sembari meluruskan badannya, menghampiri kamarnya.

Selagi pintu terbuka dengan perlahan, arah pandangan Tsuna langsung tertuju kepada dua sahabatnya yang masih berbaring di atas ranjang. Gokudera dan Yamamoto bergolek berdampingan.

Tsuna tersenyum iba. Mereka selalu bersemangat bila seseorang menantang berduel. Apalagi kalau ditambah embel-embel penjaga di masa Primo. Perasaan tidak mau kalah itu seperti apa?

Ah, Tsuna jadi teringat momen dimana ia bertarung habis-habisan dengan Xanxas. Memperebutkan pecahan cincin Vongola. Ia merasa tak boleh kalah dari Xanxas karena Tsuna tidak ingin membiarkan Xanxas memegang cincin Vongola.

"Ugh Tsuna... ayo tidur!" Mengakhiri halusinasinya sendiri, Tsuna menghamparkan kasur lipat. Mengambil bantal, guling dan selimut cadangan di dalam lemari.

Kala Tsuna berlutut untuk bersiap tidur, sebuah nada dering dari ponsel cangging terdengar mengganggu kenyamanan sunyinya malam.

"Eh? Ponsel?" Tsuna mendekati dimana sumber suara itu.

Tak menghabiskan bermenit-menit, Tsuna melihat sebuah layar kotak kecil yang menyala dari saku celana Gokudera.

"M-maaf Gokudera-kun..." Tsuna menarik keluar ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon.

Si menyedihkan G?

G?

G...?

'JANGAN-JANGAN TELEPON DARI PENJAGANYA GIOTTO-SAN??? PENJAGA BADAI, G-SAN???!!!' Mulut Tsuna menganga lebar dengan histeris.

Berniat menerima panggilan tersebut, Tsuna memencet 'ok'.

"Bocah, kemana saja jam segini belum pulang?" G berbicara serak.

Tsuna menggesek-gesekkan giginya tidak tenang.

"A-ano..." Tsuna memasukan jari telunjuk untuk digigit, berharap rasa gugupnya berkurang.

"Suara ini? Decimo, kah?"

"Emm... T-Tsuna, etto... Gokudera-kun ada di rumahku, dia... pingsan sehabis menerima tantangan makan keripik pedas dari Lampo-san..." Tsuna menjawab sebisanya.

"Lampo? Begitu ya. Aku harus memberi dia pelajaran saat bertemu nanti."

Mata Tsuna membelalak sempurna. "T-tidak usah, G-san!"

Terdengar tawa ringan G setelah Tsuna berespon dengan gagap.

"Primo... ada di sana juga?"

Tsuna meremat ujung kimono handuknya. "Giotto-san sudah tidur kok."

Ada jeda sejenak dari G. Pada detik ke-tujuh barulah kembali memberi tanggapan.

"Baiklah... Terima kasih, Decimo. Kututup teleponnya, selamat malam."

"Sela...mat malam... juga... G-san..." Jawabnya ketakutan.

G karnivora buas yang menyeramkan.

Eh, ngomong-ngomong. Tsuna melupakan sesuatu. Badannya masih dililit handuk.

"Astagaaaa..." Dengan malas Tsuna memeluk piyamanya dan berganti pakaian di kamar mandi.

40 menit kemudian...

Tsuna tidak bisa tidur, sekalipun mengganti bajunya dengan yang lebih lembut. Posisinya sudah miring ke kiri dan kanan tetapi hasilnya nihil. Dirinya tak mau tertidur tanpa alasan.

Mungkinkah karena Tsuna belum terbiasa tidur di bawah? Takut kecoak? Tidak, tidak. Mau bagaimana bisa tidur kalau Tsuna sendiri yang menjadi penyebabnya. Baru matanya terpejam, bayangan Hibari Kyouya hadir di benaknya.

Pindah terlentang, masih sama. Siluet si penjaga awan tetap setia tidak mau meninggalkan pikiran Tsuna sedikit pun.

'Hibari-san...' Tsuna meringkuk, menenggelamkan wajahnya pada guling yang dipeluknya. 'Aku terus memikirkan Hibari-san... sebesar itu kah ketakutan yang kurasakan?'

Tsuna merapatkan kedua pahanya hingga saling bergesekan, sensasi baru yang diterima tubuh Tsuna pun membuat nafasnya gelagapan.

'Ini panas... Hibari-san...' Tsuna menahan rintihannya.


05.30

"...Hah?"

Gokudera membuka mata pelan-pelan. Kenapa kasurnya mendadak sesak sekali? Saat dirinya menoleh ke samping, betapa kagetnya Gokudera setelah menemukan Yamamoto berada di sebelahnya. SEBELAHNYA? Tadi semalaman Gokudera TIDUR BERDUAAN? SATU RANJANG?

"YAKYUU BAKAAA!!!" Gokudera menendang pinggang Yamamoto sampai pemuda pemegang cincin hujan itu terjatuh ke bawah, menimpa Sawada Tsunayoshi.

BUK!

"H-haaaa!!! AMPUN JANGAN SERANG AKU!! RUMAHKU TAK PUNYA APA-APAAA!" Tsuna menjerit, air matanya tumpah dengan derasnya.

Gokudera cengo. Bengong. Shock. Merasa dongkol dengan diri sendiri.

"J-Juudaime... Juudaime!!" Buru-buru Gokudera menyingkirkan Yamamoto dari atas Tsuna, menarik si penjaga hujan sembarangan. Keselamatan bosnya nomor satu!

"Hah... haaah... astagaaa!" Tsuna mengatur deru nafasnya yang memburu. Sembari menenangkan irama jantungnya yang kencang, Tsuna menyeka keringatnya yang berkumpul di kening.

Gokudera bersujud. "Maafkan aku Juudaime! Aku bersumpah aku tidak tau kalau Juudaime ada di bawah!!!"

"D-daijoubu.... Gokudera-kun. Aku sudah tak apa kok." Bohong kalau Tsuna berkata baik-baik saja, bokongnya sakit ditindih Yamamoto dalam keadaan tak siap.

Gokudera masih belum mengangkat wajahnya. "Ini kesalahanku!! Tolong hukum aku, Juudaime!!"

Kepala Tsuna berdenyut sakit. "Aku tidak apa-apa Gokudera-kun, lihat! Badanku ok semua." —Sembari menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.

Lucky, Yamamoto bangun dari mimpi panjang. Langsung duduk dengan lutut ditekuk ke atas.

"Eh? Ada apa kalian berdua?" Yamamoto bertanya. Jangan lupakan raut muka polos si penjaga hujan.

Gokudera mendadak berdiri seraya menunjuk Yamamoto kesal. "Teme!! Kalau jatuh jangan timpa Juudaime!! Dia cedera bagaimana?!"

Yamamoto menggaruk rambut. "Aku mana ingat jatuh, Gokudera..."

"Paksain ingat!! Terbang kek!! Jongkok kek!! Lompat kek!! Kemana saja asal jangan ke Juudaime!!" Gokudera mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Tsuna dan Yamamoto sweatdrop.

"S-sudah Gokudera-kun... Bukan masalah besar kok..." Tsuna memaksakan diri untuk tertawa.

Yamamoto ikut nyengir kuda.

"Cih." Gokudera pun menghentikan pertengkarannya.

Tsuna menguap, melirik jam weker dengan sudut matanya. Masih terlalu dini untuk bersiap-siap ke sekolah. Eh tunggu dulu, hari ini kan—

"Gokudera-kun, Yamamoto, benarkah kalau hari ini ada kunjungan wali ke sekolah?" Tsuna menyingkap selimut yang melingkari tubuhnya.

Gokudera menyipitkan mata. "Kunjungan wali? Tanggal berapa sekarang, Juudaime?"

Tsuna meraih kalender kecil yang berdempetan di pinggir jam weker. "Tanggal 18?"

"Oh, berarti benar Juudaime. Hari ini sekolah kita mengadakan kunjungan wali." Gokudera membenarkan keraguan Tsuna.

Yamamoto meregangkan kedua tangannya sambil mengikuti pembicaraan mereka berdua, "Ayahku tak bisa datang kalau hari ini, harusnya Asari tak keberatan kupinta jadi wali sementara."

Tsuna menatap Yamamoto penasaran. "Asari-san? Siapapun bisa jadi wali sih... Aku juga bingung, loh. Kaa-san berlibur dengan Otou-san."

Gokudera tampak mengakali sesuatu. "Juudaime punya si Lampo."

Yamamoto menepuk kepalan tangan ke telapak tangannya yang terbuka. "Ah ada satu lagi, siapa namanya? Purimo? Primoh?"

"Primo yang benar, bodoh!" Hardik Gokudera tak sabar.

"Maa, maa, salah dikit tuh." Yamamoto tersenyum lebar.

Tsuna menghela nafas frustasi. "Lampo-san harus bekerja... tidak mungkin jadi waliku."

Yamamoto menyandarkan punggungnya ke dinding, "Kalau begitu berangkat bareng Primo saja, Tsuna."

Gokudera mengangguk bersemangat. "Betul Juudaime! Sesama bos Vongola saling membantu satu sama lain sangat bagus!"

'Masalahnya aku sudah membuat Giotto-san mabuk...' Tsuna menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mengaung putus asa.

"Jangan khawatir Juudaime! Primo-san orang hebat! Dia kan bos pertama Vongola, sesepuh kita!" Gokudera menunjukan binar matanya yang bercahaya.

Tsuna tertawa garing. "Yah... Nanti kucoba. Arigatou, kalian berdua."

Krucuk... krucuk...

"Ah!" Tsuna memegangi perutnya. Pipinya merona menahan malu.

Yamamoto berdiri, "Saatnya membuat sushi!"

Gokudera lebih dulu meninggalkan kamar, "Aku akan membuat Gnocchi yang paling enak untuk Juudaime!"

"Woah, mau bertanding Gokudera?" Yamamoto tersenyum jenaka.

"Siapa takut! Ayo Yamamoto, kita lihat makanan mana yang akan disukai Juudaime!" Gokudera berlari ke arah dapur.

Tsuna mengulum senyum bahagia. Semenjak kedatangan mereka berdua hari-harinya berubah lebih berwarna. Kehidupan Tsuna menjadi penuh pelangi, tak akan lagi merasa kesepian. Ia harap persahabatannya berperan lama.


TO BE CONTINUE


Terima kasih banyak sudah membaca fanficku! ~ Semoga kalian suka dengan ceritanya~

Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak~ Jejak kalian membuatku bersemangat!~

Kritik dan saran selalu diterima!~

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~

[8 April 2023]