Katekyō Hitman REBORN! Hanya milik Amano Akira.

(Author hanya meminjam karakternya saja~)


.

.

.

Happy Reading, Minna-san~

.

.

.


Yamamoto dan Gokudera tengah memasak di dapur rumah Tsuna. Keduanya fokus mengupas bahan-bahan yang akan dimasukan ke dalam adonan masakan. Selesai mengupas wortel beserta dagingnya, Yamamoto membentuk nasi-nasi itu dengan bentuk lucu, bukan sushi namanya kalau ditambahkan wajah kelinci menggunakan rumput laut.

Gokudera melirik Yamamoto sejenak, responnya hanya mendecak kesal. Bibirnya maju hendak mengirimkan ejekan-ejekan yang ingin membuat Yamamoto berhenti menjadi pemenang hati Bos Juudaime.

"Che, sushi atau makanan bayi?" Gokudera menggeleng-gelengkan kepala, "melihatnya saja selera makanku sudah menghilang."

Yamamoto masih setia menggulung nasi dengan karakter animasi kucing yang sering muncul di televisi. Kelinci dan anjing sudah jadi, sisanya menambahkan daging ikan juga sosis sebagai hiasan.

"Ini menu baru yang Ayah buat. Tujuannya memang untuk menarik perhatian anak-anak kecil." Yamamoto tersenyum puas, hasil karyanya benar-benar menggemaskan. Tidak salah lagi, anak-anak seusia 2-11 tahun pasti menyukai makanan buatannya.

Tapi Gokudera tidak setuju. "Itu keluar dari aturan per-sushi-an. Kau mau menghancurkan makanan khas jepang begitu saja, hah?" —urat perempatan merahnya keluar.

Yamamoto mengedikkan bahu. "Saa naa, yang penting restoran Ayahku laku menjual ini."

Gokudera mengaduk saus keju yang dibuatnya tanpa melihat, atensinya sibuk memelototi Yamamoto. "Kalau seperti itu namanya juga harus beda! Itu bukan sushi, itu—"

"Gokudera-kun, bagaimana dengan Gnocchi nya? Perlu aku bantu?" Segera Tsuna menengahi kericuhan antara Gokudera dan Yamamoto, kalau dibiarkan bisa-bisa mereka bertengkar lebih jauh.

Sang penjaga badai yang selalu mementingkan Juudaime nya menjadi lupa akan mengomentari masakan Yamamoto, sinar matanya berapi-api, dengan bangga memperlihatkan masakannya.

"Gnocchi nya hampir mau matang, Juudaime!" Gokudera menaikkan nyala kompor sampai batas maksimum. "Silakan Juudaime tunggu saja di meja makan, aku akan menyiapkan sarapan Juudaime sebentar lagi!"

Tsuna menghela nafas lega. "Baguslah." Kemudian menoleh ke arah Yamamoto, "Wahh~ kawaii! Itu kucing, kah?"

Yamamoto meletakkan nasi berbentuk kucing ke piring. "Yup, ini dari animasi Neko neko boom yang dari tv."

Tsuna mengambil piring Yamamoto, mendekatkannya agar dapat melihatnya jelas. "Ini matanya dari rumput laut ya? Sugoi Yamamoto!" Tangannya yang gatal menekan-nekan permukaan nasi tersebut.

Gokudera membuang muka, pipinya mengembung cemberut. Rasa iri terhadap Yamamoto berkecamuk di antara hatinya. Padahal Gokudera sudah susah payah mengatur segala suhu dan potongan kentangnya agar terpotong sama. Tapi Juudaime kenapa hanya Yamamoto saja yang dipuji?

"Coba gigit saja, Tsuna." Yamamoto membulat-bulatkan nasi dengan senyum mengembang riang. "Ada sesuatu loh di dalamnya."

"Eh? Benarkah?" Kalut oleh penasaran, Tsuna menggigit nasi buatan Yamamoto.

Gokudera mengintip diam-diam, memerhatikan reaksi Juudaime nya.

"Gimana? Enak?" Yamamoto bertanya ingin tahu. Jemarinya belum berhenti bekerja membentuk nasi-nasi menjadi karakter hewan lainnya.

Tsuna memegang pipi dengan gumaman panjang. "Mmhh~ Oishi! Ternyata ada isiannya! Gokudera-kun, coba ini." Sambil memberikan potongan nasi yang sudah digigitnya kepada Gokudera.

Gokudera mengambil nasi bekas gigitan Tsuna, ia sama sekali merasa tidak jijik dengan itu. Pemberian dari Juudaime nya nomor satu, apapun yang dimintai oleh bosnya Gokudera akan melaksanakannya tanpa pamrih.

"Ham." Gokudera memakan nasi itu, mengunyahnya perlahan dengan bola mata menatap atap-atap bangunan dapur.

Yamamoto tersipu. Pandangannya sayu memandangi gerak-gerik bibir Gokudera tengah memakan kreasinya. Terasa sangat intim mendapati orang yang diincar me—Ahem. Yamamoto menunduk, berusaha melanjutkan rekaan pada nasinya.

"Hmp. Tidak buruk, Yamamoto." Gokudera berujar sinis. Kini si penjaga badai meneruskan kegiatannya yang tertunda, mengaduk-aduk saus keju dan bumbu yang akan dilumuri ke atas kentang.

Tsuna mengulum senyum gembira. Syukurlah dua sahabatnya akur lagi. Bisa pusing kalau mereka berdebat.

Ah ya, Tsuna belum mencobai masakan Gokudera.

"Gokudera-kun, boleh aku minta satu?" Tsuna berdiri di samping Gokudera.

"Silakan Juudaime! Makan saja semuanya!" Gokudera mempersilakan Tsuna untuk mencicipi masakan andalannya.

"Arigatou." Tsuna pun mencomot kentang yang belum dibubuhi keju. Ham. Ia berhasil menyuapi kentang itu ke dalam mulutnya sendiri.

Sedetik, Tsuna mengunyah makanan kesukaannya dengan khidmat. Tiga detik, Tsuna memperlambat kunyahannya. Kelima detik, Tsuna menutup mulutnya—mendorong kentang-kentang itu ke tenggorokannya.

'A-apa ini... kentangnya asin sekali!!! Gokudera-kun menambahkan garamnya kebanyakan!' Tsuna memaksakan diri menampilkan senyum selebar mungkin.

"E-enak sekali kah, Juudaime??" Gokudera memasang mimik paling ceria. Background blink-blink memenuhi punggungnya.

'Y-yaampun... jangan pasang wajah seperti itu Gokudera-kun!! Kalo begini aku merasa bersalah nantinya!!' Tsuna menggosok hidungnya kebingungan sembari mencari-cari alasan.

"E-enak kok, Gokudera-kun. Aku s-suka." Dusta Tsuna. Jari-jarinya gemetaran selagi memberitahu Gokudera.

Gokudera menitikkan air mata, tubuhnya mendadak lemas sehingga berlutut di hadapan Tsuna. "Ini harus kujual ke restorannya si Lampo... Atau kah langsung membuat rumah makan sendiri? Bagaimana menurut Anda, Juudaime?"

'TIDAAAKKKKK!!!!!' Tsuna menjerit keras-keras dalam hati.

Yamamoto mendekati Gokudera, membungkukkan badan untuk meraih kentang yang sudah dimakan Tsuna. Lalu berucap, "Minta satu ya, Gokudera."

Masih dengan kondisi pipi yang memerah malu, Yamamoto memakan kentang itu sekaligus empat potong.

Betapa Tsuna ingin menjatuhkan diri ke jurang. 'YAMAAAMOTOOO ASTAGAAA TOLONG JANGAN KATAKAN YANG SEJUJURNYA!!'

Tak lama, Yamamoto menelan seluruh kentang di mulutnya. Sang pemegang cincin hujan mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Arah matanya tertuju kepada Gokudera.

"Gokudera, apa kau sedang memasak makanan faforitku? Kentang ini enak sekali, akhirnya kesampaian juga~ Dari dulu aku menginginkan kentang yang dimasak seperti ini. Sankyuu na, Gokudera." Yamamoto mengangkat jempol, memberi pujian atas kerja keras Gokudera sangat tulus.

Gokudera memalingkan wajah. Getaran hatinya terasa lebih kencang saat Yamamoto memuji masakannya. Rasanya berbeda dari yang dilakukan Tsuna. Yamamoto lebih menyentuh hatinya.

'Apa sih.' Gokudera menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. Memunggungi Yamamoto, berpura-pura memasak.

"Seleramu tidak jelek juga." Balas Gokudera ketus.

Tsuna menatap Yamamoto lama. 'Bohong kan...?' Intuisinya bilang Yamamoto sedang menipu dirinya sendiri. Sebenarnya untuk apa?

"Tsuna, masakan Gokudera buatku saja semuanya ya?" Yamamoto memberi tatapan yang sulit diartikan, disertai senyuman sedalam lautan biru.

"..." Awalnya Tsuna masih terdiam mengkhawatirkan Yamamoto. Tapi, begitu iris karamelnya beradu pandang dengan Yamamoto—keraguannya menghilang ditelan angin.

'Entah apa yang direncanakan Yamamoto... tapi syukurlah.' Tsuna memberikan ekspresi menyejukkan. "Silakan Yamamoto, semuanya milikmu.."

Gokudera tidak bisa protes setelah menerima izin bosnya. Toh, jantungnya sudah berdetak tak karuan. Ia lebih baik tidak menambah hal yang akan membuat detakannya semakin berantakan.

Selang beberapa saat, Lampo muncul.

"Buongiorno, Decimo dan para penjaganya." Sapa Lampo diiringi dengan menguap lebar.

Tsuna membalikkan badan, menjawab sapaan Lampo. "Selamat pagi, Lampo-san! Sarapannya sudah mau siap!"

Kehadiran Lampo disambut urat kemarahan Gokudera yang masih menyimpan dendam pribadi gara-gara kejadian kemarin.

"LAMPOO TEME!! AYO KITA BERTANDING LAGI MAKAN KERIPIK PEDAS!" Gokudera berjalan marah hendak melayangkan tinju.

"HIEEEE!!! Tenanglah Gokudera-kun!" Tsuna menghalangi Lampo, berharap suasana runyam di sini mereda sedia kala.

Yamamoto tertawa ramah. "Maa, maa, kita lakukan nanti saja. Sekarang ayo bersiap sarapan bersama~"


Giotto membuka matanya perlahan. Yang ia rasakan pertama kali adalah pusing, mual—bahkan perutnya serasa dikoyak oleh gunting. Pelipisnya dipijat sebentar sembari merubah posisinya menjadi duduk.

Jam berapa sekarang? Giotto menarik tirai kamarnya sedikit, cahaya matahari pun menyoroti wajahnya. Bola matanya menatap luyu ke arah langit yang ditemani banyak awan di atas sana. Pupilnya bergetar berulang-ulang menyaksikan pergerakan awan yang halus.

Giotto menyandarkan keningnya ke jendela sambil mendengarkan kicauan burung yang menenangkan. Baru saja Giotto memejamkan penglihatannya, tiba-tiba ia mengingat kejadian kemarin. Dimana dirinya dihalau oleh penjaga badainya—parahnya G sudah merenggut ciumannya.

Apa artinya? Giotto mengerutkan kening cemas , bibirnya digigit memikirkan tindakan G. Mengapa penjaganya melakukan hal seperti itu? Menciumnya? Apa yang dia inginkan? Giotto tidak ingin memercayakan tebakannya. G sahabat semasa kecil, tidak mungkin menumbuhkan cinta.

"Demi kau, bodoh!"

Giotto mendorong tirai yang masih dicengkramnya agar mentari dapat merambat masuk ke kamar.

"Aku tidak peduli dengan organisasi yang kau mainkan. Aku mematuhi tugasku karena kau yang meminta!"

Suara G berdenging dalam benaknya. Giotto menutup kedua telinganya serapat mungkin.

"Sumanai..."

Giotto bangkit, memutuskan untuk membereskan tempat tidur. Berharap kata-kata G dapat ia lupakan. Kalau begini, Giotto akan kesulitan untuk menemui para penjaganya jika ada pertemuan dadakan.

Tidak ada cara lain?

Bos Primo melangkahkan kakinya pelan-pelan menuju laci. Ada jam weker emas dengan api harapan langit yang tertata rapi. Giotto membawakan jam tersebut ke dadanya.

Apapun yang terjadi, terjadilah. Giotto tidak dapat memutarbalikkan waktu, memang sudah harus seperti ini takdirnya. Ia hanya perlu menghadapi semuanya dengan baik.

"..." Giotto menyimpan jam wekernya ke tempat semula. Tersenyum tipis sebelum tubuhnya melenggang pergi meninggalkan ruangan.

Ah, jangan-jangan Giotto melupakan momennya ketika dia mabuk? Padahal Alaude ada bersamanya saat itu.

Cklek.

"...Decimo?" Setelah pintu terbuka, sosok Sawada Tsunayoshi sudah berdiri dengan raut khawatir. Giotto menutup pintunya pelan-pelan, lalu menatap penerusnya dengan lembut.

"Ada perlu sesuatu, Decimo?" Giotto bertanya, suaranya membuat semua orang nyaman.

Tsuna menggaruk-garuk dagu, matanya bergulir ke kiri dan kanan tampak bimbang. Peluh bertetesan membuat sudut pipinya mengkilap indah.

"A-ano..." Tsuna melawan ketakutannya, rasa gugupnya tak dapat disembunyikan. Terlihat jelas dari bagaimana ia bicara.

Giotto menyeka keringat Tsuna yang tak berhenti berjatuhan. Bos pertama masih mempertahankan senyumnya. "Katakan saja, Decimo. Ada apa, hm?"

Tsuna menunduk malu begitu Giotto mengusap keringatnya. Dia mundur sebanyak tiga langkah lalu membungkuk.

Giotto terkejut. Segera, ia menyentuh kedua pundak Tsuna, "Decimo? Kau kenapa?"

"Maafkan aku Giotto-san... Kemarin, aku malah memberikanmu minuman beralkohol... padahal Giotto-san baru saja pulang... Sungguh aku tidak tau kalau botol itu... botol itu..." Tsuna meremas kain celananya.

Giotto mengulum senyum. "Decimo." Panggilnya, mengingikan Tsuna untuk menatapnya.

Tapi Tsuna belum berani bertukar pandang dengan Giotto. Pemuda itu tetap tertunduk untuk menebus kesalahannya.

"Tatap aku, Decimo." Giotto menunggu Tsuna dengan sabar.

Juudaime muda ragu-ragu mengangkat wajahnya. Manik kecoklatannya melihat pantulan dirinya sendiri pada iris mata Giotto.

"Aku baik-baik saja kan?" Giotto menarik tangannya, beralih menyentuh rambut di dekat telinga Tsuna.

"Giotto-san... anu, lain kali aku benar-benar akan berhati-hati! Hontouni sumimasen!" Tsuna menunjukkan tekadnya tak main-main.

'Tidak hanya itu... Aku meminta maaf juga karena merahasiakan soal Alaude-san kemarin malam...' Batinnya seraya memeras ujung bajunya sampai kusut.

Giotto tertawa kecil. "Setiap orang wajar melakukan kesalahan, aku senang mendapat kebaikan darimu, Decimo."

Tsuna merasa nyaman dengan belaian yang dilakukan Giotto pada surainya. Mungkinkah seperti ini jika ia memiliki seorang kakak?

"Arigatou, Giotto-san... K-kalau begitu, ayo sarapan bersama! Mereka sudah menunggu kita." Tsuna mengajak Giotto, tak lupa memoles senyum lega.

"Ikou." Giotto berjalan di belakang Tsuna.

Semburat merah di pipi Giotto bekerlapan samar-samar. Ia jadi mengingat halusinasinya ketika masih dalam keadaan mabuk yang mana Alaude muncul. Meski tak dapat mengenali seluruh insiden tidak nyata itu, Giotto merasa hatinya menghangat.

Sesampainya di meja makan...

Gokudera langsung berdiri, membungkuk hormat serendah-rendahnya dengan binar mata berkilauan begitu dua bos generasi pertama dan kesepuluh Vongola datang ke dapur.

Lampo duduk santai sambil melambaikan tangan menyapa kedatangan bosnya dan Tsuna.

Sementara Yamamoto tersenyum menyambut mereka berdua.

"S-selamat pagi... Primo-san!" Sapa Gokudera, semangatnya berkobar-kobar.

"Ohayou!" Yamamoto berseri-seri.

Tsuna duduk lebih dulu di tengah antara Gokudera dan Yamamoto. Mengapit sumpit pada jari-jemarinya mulai mengambil jatah sarapannya. Cuaca hari ini sangat bagus.

Lampo mengedip mata, "Pagi Primo~"

Kesialan Giotto bersama satu penjaga bodoh dan penerus Vongola kesepuluh pun dimulai.

(OST Lambo Bovino Theme)

Round 1.

Giotto menganggukkan kepala satu kali. Membalas penghormatan yang diberikan Gokudera. Sebenarnya tindakan seperti itu tak diperlukan untuknya.

"Selamat pagi, Gokudera Hayato, Yamamoto Takeshi, Lampo." Giotto mendudukkan diri di samping penjaga petirnya. Menjaga senyumnya agar tidak luntur.

Balasan Giotto membuat gelora kegembiraan Gokudera meluas. Dengan bangganya, ia menyodorkan sepiring BESAR berisikan Gnocchi yang dibuatnya ke depan Giotto.

"Aku sengaja menyisihkan ini untukmu, Primo-san! Dimohon untuk mencobanya! Yakyuuiie, Yamamoto bahkan Juudaime sangat menyukai masakanku yang ini!" Kata Gokudera penuh harap. Emot blink-blink.

Tsuna melotot horror, tangannya membeku di udara ketika hendak mengapit sayuran bayam. BAGAIMANA INI? BOHONG MEMANG TIDAK BENAR.

Yamamoto menggigit kuku jari, melirik Tsuna, menyiratkan rupa wajah APA YANG HARUS KITA LAKUKAN? Tidak mungkin baginya untuk menghentikan Giotto memakan masakan Gokudera.

Selalu ingat, Yamamoto naksir Gokudera berat sekali.

"Ah. Terima kasih, err—" Giotto kebingungan memanggil nama penjaga badainya Tsuna.

"Hayato. Panggil saja aku Hayato, Primo-san!" Gokudera menatap Giotto dengan tampang cemerlang.

Giotto terkekeh lembut. "Hayato, aku jadi merasa tidak enak sudah merepotkanmu."

Gokudera menggeleng kuat-kuat, membantah seluruh pernyataan bos pertama. "Sama sekali tidak, Primo-san! Silakan dicicipi!" —langsung duduk tegak dengan mata berkilat oleh gairah positif.

"Baiklah, terima kasih ya Hayato." Giotto mengambil garpu, ia tidak bisa menggunakan sumpit. Beruntung Tsuna sudah berinisiatif menyediakan sumpit, sendok dan garpu di meja makan.

Sebelum memakan makanan yang disodorkan Gokudera, Giotto menawari Lampo terlebih dahulu.

"Lampo, mau?" Tawarnya halus.

Lampo mengunyah nasi buatan Yamamoto, mulutnya penuh. "Mmhh... aku...tidaak...suka.. nhmm... nyammm... kentang..."

Gokudera menahan diri untuk tidak membantai Lampo di depan Giotto. Jemari tangannya mengepal kencang sambil menyipitkan matanya, menatap Lampo kesal.

Yamamoto dan Tsuna saling beradu pandang kebingungan.

'Yamamoto!!!'

'Tsuna!'

Mereka berdua seolah-olah sedang bertelepati.

"Baiklah, kalau begitu selamat makan." Giotto menancapkan garpunya ke kentang yang oh, god, kelewat banyak.

Tsuna menubrukkan lututnya ke kaki Yamamoto semasih menonton mukbang dadakan Giotto.

'BAGAIMANA INI YAMAMOTO???'

'Aku tidak tau Tsuna!'

Disaat-saat gawat seperti ini, Yamamoto dan Tsuna malah membuka bakat baru, bertelapati.

Hamp.

Giotto memakan Gnocchi hasil karya Gokudera Hayato. Dan rasanya, sangat asin, kebanyakan merica, ini adalah masakan yang paling buruk semasa hidupnya. Kemampuan Bianchi diwariskan kepada Gokudera ternyata.

Yamamoto juga Tsuna merasakan hal yang sama kala makanan itu masuk ke dalam mulut. Ini tak beda jauh dengan Poison Cooking nya Bianchi.

Lidah Giotto terbakar oleh panasnya merica. Pahit—pokoknya bukan makanan yang baik untuk sarapan pagi. Tetapi Giotto berusaha tak menunjukan reaksi yang takutnya mood Gokudera menurun drastis.

Terkadang tak tegaan itu menjadi titik kelemahan yang sulit dihindari.

"B-bagaimana, Primo-san? Rasanya enak? Terlalu enak??" Gokudera berdiri menggebrak meja antusias.

Yamamoto dan Tsuna terperanjat kaget. Keduanya merinding.

Giotto mengusap ujung bibirnya menggunakan punggung jari telunjuk. "Bagus. Gnocchi nya memuaskan."

"YATTTAAA!!! Aku akan membuat restoranku sendiri! Menunya apa saja ya kira-kira!?" Gokudera menyantap nasi yang dibikin Yamamoto seraya menuliskan beberapa hal di buku memo.

'Asin...' Giotto menelan kentang tersebut susah payah. Terlebih, Gokudera menyiapkan sepiring raksasa untuknya. Jangan bilang ia harus menghabiskan semua itu sendirian?

Tidak ada cara lain, kah?...

Tak punya pilihan, Giotto memakan Gnocchi dengan mata terpejam. Senyumnya masih belum meleleh.

Beberapa menit telah berlalu—

Tsuna pura-pura buta. Bos Decimo menyelesaikan makanannya lancar tanpa masalah. Begitu pun dengan Yamamoto, si penjaga hujan tidak berani mengintip bagaimana cara Giotto menghabiskan makanan terkutuk dari Gokudera.

Lampo? Dia sibuk bermain media sosial melalui ponsel barunya, satu jari digunakan untuk memencet tombol alat komunikasinya, dan tangannya yang lain menggenggam sushi.

Gokudera? Menulis bahan-bahan dan tata cara memasak Gnocchi yang sudah ia lakukan menit lalu.

Dan Giotto—Gnocchi yang disuguhkan Gokudera habis tanpa menyisakan setitik noda pun. Kedua bahunya naik turun dengan nafas memburu, tentunya ia menyembunyikan keadaannya, menutup bibirnya melalui jemarinya.

"...Apa ada teh manis, Decimo?" Giotto masih memejamkan mata, mengatur suhu tubuhnya agar keringat tidak berceceran di pelipisnya.

Tsuna menegang, menatap Giotto gelisah. "A-ada, Giotto-san!"

"Aku minta teh—" Giotto yang meminta izin kepada Tsuna untuk meracik teh manis bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya—

"Biar aku saja! Sang Koki Gokudera Hayato akan membuatnya!" Gokudera berangkat ke lemari dapur.

Tsuna dan Yamamoto gemetaran.

"...Terima kasih." Giotto duduk lagi. Telapak tangannya basah oleh peluh.

Round 2.

"T-Tsuna, kita nyalakan tv saja bagaimana?" Yamamoto mencoba mengubah suasana menjadi tidak kaku.

Tsuna mengangguk. "I-ide bagus." Ia mengulurkan tangannya menggapai remote dan menyalakannya.

Lampo mengalihkan perhatiannya dari ponsel, berganti menonton televisi yang baru dinyalakan. Siaran televisi yang sedang tayang adalah semacam drama khusus gadis remaja.

Yamamoto dan Tsuna menyaksikan drama tersebut.

"Teh nya sudah datang!" Gokudera meletakkan empat teh di depan mereka masing-masing.

'AKU JUGA KEBAGIAN????' Tsuna menggulung jemari kakinya.

"Beritahu rasanya bagaimana? Kalau enak akan kutambahkan untuk calon restoranku!" Ucap Gokudera berbunga-bunga.

Belum ada yang mau meminumnya. Sedangkan Gokudera mulai mencoret-coret buku memonya dengan bahan pembuatan teh barusan.

Lampo memegang gelas, menyeruput teh manis.

"Apa-apaan ini? Kok rasanya—awwhhh aaaahh e-enak..." Lampo menundukkan kepala.

Giotto mencubit pinggang Lampo supaya penjaga petirnya tidak berkomentar terlalu jujur tentang teh buatan Gokudera.

"Hoo, biar aku mencobanya." Yamamoto menenggak teh manis itu.

Diikuti Tsuna dan yang terakhir Giotto.

'Terlalu manis...' Batin mereka bersamaan.

Round 3.

Usai menelan minuman terkutuk terkecuali Gokudera—mereka berlima serempak menonton drama televisi.

"Ciuman apa itu?" Lampo melayangkan protes. "Menjijikkan sekali ciuman pertamanya bukan untuk si pemeran utama pria."

Jleb.

Giotto menyandarkan punggungnya, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya tetap TENANG.

"Kalau aku jadi si pemeran utama pria, mendingan kutinggalkan saja perempuan itu. Murahan, tidak bisa jaga bibir untuk pasangannya." Celetuk Gokudera.

Jleb.

Hawa tubuh Giotto panas bercampur dingin.

"Tapi itu juga bukan kemauan perempuannya, loh." Tsuna dengan serius masih menyimak drama itu.

Yamamoto memilih diam menikmati tontonannya.

Lampo menghela nafas. "Bukan masalah mau atau tidaknya, tetap saja bibir perempuan itu bekas orang lain."

Jleb. Jleb.

"Memangnya kenapa?" Tsuna menatap Lampo penasaran. "Situasi perempuannya juga tidak meyakinkan."

"Justrul itu, ciumannya dengan pemeran pria utama sudah tidak istimewa lagi. Pemeran pria utama harus merelakan perempuan itu dengan pemeran kedua. Ingat, takdir itu tak selamanya berjalan sesuai keinginan kita dan tak bisa dipaksakan juga." Ujar Lampo terus terang.

Jleb. Jleb. Jleb.

Tsuna mengangguk-angguk. "Un... begitu ya."

Giotto memencet sudut dahinya dalam-dalam. Drama itu sedang menyindir dirinya, kah?

Round 4.

"Giotto-san?" Tsuna memanggil leluhurnya.

Yang dipanggil menoleh, "...Ya, Decimo?"

"Anu... sebenarnya hari ini sekolahku mengadakan kunjungan wali... Berhubung Kaa-san dan Tou-san liburan ke Italia... apa Giotto-san mau menjadi waliku...?" Tsuna menaut-nautkan jarinya, menetralisir kecanggungannya.

Sekolah SMP Namimori, tempat ketiga penjaganya bekerja. Giotto tidak ingin dulu bertemu dengan G. Tetapi, jika hanya menjadi wali Tsuna mungkin dirinya tak akan bertemu dengan G?

"Boleh." Giotto membeberkan senyum indah.

"Ah! Arigatou gozaimasu, Giotto-san!" Tsuna menyatukan tangan.

"Ngomong-ngomong, wali kelasnya Decimo siapa kalau boleh tau?" Giotto bertanya untuk memastikan.

"G-san." Balas Tsuna polos.

JLEB.


Tsuna berjalan sendirian menuju Namichuu. Yamamoto dan Gokudera pulang lebih dulu lantaran ada yang harus mereka lakukan sebelum berangkat ke sekolah. Sementara kunjungan wali diadakan setelah istirahat makan siang, sekitar pukul satu Giotto harus sudah ada di sekolah.

"Syukurlah Giotto-san bersedia menjadi waliku~" Gumam Tsuna dengan perasaan baik, adem, sejahtera seperti tanpa beban apa-apa.

Di tengah-tengah perjalanan mengarah ke Namimori, langkah kaki Tsuna terhenti begitu sorot matanya menangkap siluet bergakura serba hitam sedang bersandar di tiang listrik.

Otomatis jantung Tsuna berpacu cepat. Kenapa Hibari Kyouya ada di dekat jalan rumahnya? Bukankah waktu-waktu sekarang paling cocok untuk berpatroli?

Haruskah Tsuna memutar jalan ke belakang menghindari Hibari? Sebenarnya sih ia tidak apa-apa kalau hanya menyapa Hibari dan kembali fokus ke tempat tujuan, tapi masalahnya Tsuna selalu merasa aneh kalau berada di sekitar penjaga awannya.

Beberapa hari yang lalu kan Hibari bersikukuh menemani Tsuna pergi ke sekolah bersama—Hibari pasti tidak ingin menerima penolakan.

'Duh, gawat!' Akhirnya Tsuna bersembunyi di belakang tembok tetangga. Ia berjongkok supaya Hibari tak menemukannya. Apa sebaiknya Tsuna menunggu prefek itu angkat kaki?

Hibari menyimpan ponselnya ke saku kemeja seragam kebanggaannya. Senyum gelap yang dipasang di bibirnya menjadi suatu kengerian paling utama bagi pemandangan orang-orang.

Remember this, Hibari mampu mencium aroma Sawada Tsunayoshi kalau hanya berjarak seratus meter saja. Dia memang cocok untuk dipanggil Carnivore buas. Tentu saja, Hibari sengaja mengingat-ingat bau mangsanya dengan jelas.

Akibatnya, Hibari melangkah dengan angkuh menghampiri tempat persembunyian Tsuna.

Tap.

"Ternyata di sini." Hibari tersenyum, tidak—menyeringai puas. Kepalanya tertunduk menatap Tsuna yang masih ling lung dengan keadaan.

Juudaime muda meneguk ludah paksa. Ia pikir dirinya bisa lolos dari jeratan maut Hibari. Nyatanya sang penjaga awan tak akan membiarkan Tsuna lepas dengan mudahnya.

"O-ohayou... Hibari-san..." Tsuna buru-buru menegakkan badannya, menggarukki belakang kepalanya sambil memperlihatkan senyum kikuknya.

"Hn." Hibari menghilangkan jarak di antara keduanya, kemudian merangkul punggung sebelah kiri Tsuna. "Berangkat sekarang, Herbivore?" Tanyanya.

'TAPI HIBARI-SAN—' Tsuna menahan nafas, entah kenapa saat ini bernafas pun terasa berat. Ia lelah secara mental kah? Benar. Semuanya gegara kepayahannya dalam menghadapi masalah.

"U-un..." Tsuna mengangguk sebagai jawaban. Terlalu takut untuk memberitahu Hibari agar tangan itu menjauhi punggungnya—dia seperti seorang bodyguard!

Melindungi pangeran?

'HIEEEEEE!!!' Tsuna kewalahan.

Ngomong-ngomong, apa Hibari sudah memakan es krim dan teh hijau pemberian dari Tsuna? Mari simak sebentar! Sepulang Hibari dari mengantar kekasi—mangsanya ke rumah, es krim dan teh hijau itu disimpan hati-hati.

Kotak teh hijau ditaruh di samping bantal tidurnya, dan es krim menjadi hiasan kulkasnya. Semalaman Hibari hanya menatap kedua benda tersebut tak henti.

Kembali menceritakan dua insan yang dimabuk cinta salah arah—

Keheningan yang menyelimuti mereka berdua berakhir tak menyenangkan ketika seorang pemuda yang tak dikenali mendadak menabrak Tsuna dari belakang.

Hibari dengan insting tajamnya mendelik tak suka.

Buk!

"M-maaf!" Pemuda bersurai merah mengenakan kacamata membungkuk menyesal. Buku-buku tebal yang jumlahnya tak bisa dihitung berserakan di jalanan dan sebagian menumpuk di kaki Tsuna.

"Ittaiii...!" Pekik Tsuna. Tidak diragukan lagi, kakinya pasti keseleo.

Hibari yang mendapati Tsuna tak langsung berdiri menyimpulkan bahwa mangsa berharganya kesakitan langsung mengeluarkan kedua tonfa berniat menghajar si lelaki nerd.

"Beraninya menyakiti Tsunayoshi-ku." Hibari memandang pemuda asing itu dengan garang. Rasa ingin membantai pria di depannya semakin menggila.

Sebut saja Irie, dia bergeser mundur. Kedua tangannya mengambil seluruh buku-bukunya dengan kecepatan tinggi.

"K-kau... mau membunuhku?!" Irie memeluk segudang bukunya rapat-rapat.

Kening Hibari berkedut marah dengan jawaban yang diberikan Irie. "Kenapa tidak?"

"Kau... gila!!" Irie merangkak sekuat tenaga berusaha kabur. Aura yang dipancarkan oleh Hibari membuat udara di sekeliling mereka terasa berat.

"Orang gila dianggap gila oleh masyarakat hanya karena kecerdasan mereka tidak dipahami." Kata Hibari. Satu tangannya terangkat, serangan pertama dilayangkan ke arah Irie.

Trang!

Beruntunglah Irie, pemuda itu berlari terbirit-birit hingga lenyap dari pandangan. Menyisakan tiang bangunan yang bengkok oleh pukulan tonfa milik Hibari.

Tsuna tertegun. Matanya membulat tidak percaya. Barusan Hibari menyebutnya apa? Tsunayoshi-ku? Bos kesepuluh menggigit bibir, menahan raungannya.

'Tolong jangan seperti ini terus Hibari-san... Kalau jadi salah paham bagaimana?' Dua tangannya mengepal kuat-kuat.

"Herbivore." Hibari sudah menyimpan tonfa ke balik gakura. Ia menekuk satu kakinya sembari memeriksa keadaan mangsa cantiknya. "Mana yang sakit?"

Tsuna menggeleng. "Tidak apa-apa kok, terima kasih Hibari-san." —membalas dengan kebingungan.

Tidak ingin terlihat lemah, Tsuna pun memegangi tiang di sampingnya untuk membantu tubuhnya berdiri.

"Akh!" Tsuna meringis pilu.

"Tidak perlu dipaksakan. Itu hanya akan memperburuk lukamu, Herbivore." Sahut Hibari, tak melepaskan arah tatapannya dari Tsuna.

"Sumimasen.... Hibari-san..." Tsuna berucap pelan.

Hibari mengamati setiap perubahan ekspresi Tsuna dengan insten. Diawali dengusan kecil, ia memulai aksinya. "Mendekatlah."

"...???"

Hup.

Hibari memangku Tsuna. Tangan besar itu menahan paha langsing sang bos dan satunya lagi melingkar pinggul Tsuna. Penjaga awan membopongnya seperti memperlakukannya kepada perempuan—terlebih, ini gaya yang sering dilakukan pengantin baru!

"H-Hibari-san?! Turunkan! Kumohon! Aku bisa jalan sendiri!" Tsuna meronta malu. Pipinya memerah manis.

"Sshh... Diam, Tsunayoshi." Hibari mengeratkan pegangannya, sama sekali tak melonggarkan sedikit pun penjagaannya pada bunga hatinya.

Deg.

Tsuna meremas kemeja di bagian dada Hibari. "...Tapi—"

"Tsunayoshi." Iris skylark nya berkilat tegas. Nada bicaranya terdengar absolut membuat Tsuna bergidik ngeri. Hibari memandangi bos kesepuluh itu dalam-dalam.

Akhirnya, Tsuna menurut. Kepalanya tertunduk, belum membebaskan remasannya dari seragam yang dikenakan Hibari. Dan sang penjaga awan tak mempermasalahkan pakaiannya yang akan berantakan oleh tangan Tsuna.

'Aku tidak mengerti... Aku benar-benar tidak tau apa yang membuat Hibari-san berubah menjadi pengertian seperti itu kepadaku... Apa tujuannya? Ini akan sulit...' Tsuna memejamkan mata. 'Kalau aku salah paham... bagaimana... Hibari-san...?'

Tsuna tak bisa memahami perasaannya sendiri. Sensasi yang baru dirasakannya ini sukses membingungkan pikirannya.

Ia dan Hibari sama-sama lelaki. Hubungan sesama itu masih hal yang jarang di zaman ini.

Kira-kira, akan seperti apa ya nantinya?

Sesampainya di Namichuu—

Kedatangan Hibari dengan menggendong salah satu murid yang terkenal tidak berguna mengundang keterkejutan penghuni SMP Namimori. Ini sudah yang kedua kalinya.

Tsuna menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Tidak mau melihat reaksi aneh dari warga Namichuu.

Terkait Hibari membenci kerumunan dan akan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya—mereka para siswa dan siswi sekaligus para guru mengosongkan halaman utama sekolah Namimori.

'Malu... OI!' Lagi-lagi Tsuna menjerit dalam hati.

Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kelas, Hibari masuk ke dalam. Mendudukkan Tsuna di kursi bangku.

Bahkan penjaga awan itu menghafal hal kecil tentang Tsuna...

"A-arigatou.... Hibari-san... H-hati-hati ke kelasnya." Tsuna ingin segera mengakhiri atmosfir ruang belajarnya yang menusuk.

"Aku belum selesai, Herbivore." Hibari membungkuk, mencopot sepatu Tsuna beserta kaus kaki.

"...A-apa yang akan Hibari-san lakukan?..." Tsuna bertanya panik.

Hibari menatap lurus bosnya. "Mengembalikan otot kakimu ke semula."

Mulut Tsuna terbuka lebar. "T-tidak! Tidak, tidak, sepulang sekolah aku akan ke tukang—"

Hibari menaikkan sebelah alis. Siapa bilang akan membiarkan tukang pijat itu menyentuh Sawada Tsunayoshi-nya?

"Tahan sedikit." Hibari mengalihkan perhatiannya ke kaki Tsuna yang mulus Perlahan, memegang pergelangan kaki bosnya lalu memutar-mutar lembut dengan arah beraturan.

"Ugh..." Tsuna mendongak atas-atas, menyembunyikan mulutnya di balik punggung tangannya.

Hibari terkekeh gelap. Betapa reaksi yang menggoda.

"Kau boleh meneriaki namaku, Herbivore." Tawar Hibari.

'MANA ADA!!' Tsuna menyipitkan mata, perih rasanya ketika kakinya diputar-putar seperti itu.

"Aku mulai, Tsunayoshi." Hibari memegang kaki Tsuna lebih kuat.

"P-pelan-pelan... Hibari-san..." Pinta Tsuna dibanjiri keringat.

"Saa ne." Hibari memberikan seringaian liar sebelum meluncurkan aksinya.

Drek!

"Akh!!!!"

Saat itu pula, Gokudera dan Yamamoto muncul.

TO BE CONTINUE

Next, chapter 12: Pembunuhan Pertama di SMP Namimori.


Halo!~ Terima kasih banyak sudah setia membaca fanficku! Tidak terasa sudah chapter 11 lagi XD Chapter 10 dan 11 di publish bersamaan XD /lagi semangat ngetiknya hahaha.

Jangan lupa untuk memberikan jejak ya~ Jejak kalian sangat berarti untukku agar semakin bersemangat melanjutkan ceritanya!~

Saran dan kritik selalu diterima, jangan sungkan~!

Bila ada yang ingin disampaikan kepadaku langsung mengenai ceritaku atau membahas KHR bersama secara pribadi tolong hubungi @ccchicc_ di Instagram~

Sekali lagi, terima kasih ya!~

Sampai ketemu di chapter selanjutnya~

[12 April 2023]