Katekyō Hitman REBORN! Hanya milik Amano Akira.

(Author hanya meminjam karakternya saja~)


.

.

.

Happy Reading, Minna-san~

.

.

.


"Juudaime!" Gokudera melompati meja-meja yang menghalangi segera setelah menemukan bosnya kesakitan oleh seseorang yang sangat ia benci. Gokudera berdiri membelakangi Tsuna, mencengkram kerah seragam milik Hibari sambil menarik pemuda awan itu cukup kasar.

Yamamoto mematung di pintu masuk. Setetes keringat menetes menelusuri ujung pipinya. Niatannya ingin menghentikan Gokudera, tetapi emosi pria pecinta dinamit itu sudah tak memungkinkan untuk dihentikan. Terkadang Yamamoto membenci dirinya sendiri saat ia tidak berdaya menghadapi orang taksirannya.

Sedang Tsuna masih memperlambat deru jantungnya, menatap Gokudera dan Hibari terengah-engah. Ia harus bertindak sesuatu, atau kelas ini akan hancur oleh bom rakitan Gokudera.

"G-Gokudera-kun... Hibari-san tidak salah... Malah dia yang membantuku." Tsuna berkata parau. Efek teriakannya tadi membuat suaranya habis sebagian.

Gokudera melirik Tsuna dengan khawatir bercampur marah. Lalu bola matanya turun memeriksa kaki bosnya tanpa sepatu dan kaus kaki. Bisa dipastikan Hibari lah yang memperbaiki otot-otot Tsuna ke sedia kala.

"Cih." Sang penjaga badai mendecak muak. Perlahan cengkramannya melonggar, hendak membebaskan cengkramannya. "Jangan berlagak sok begitu, Hibari."

Tetapi Hibari lebih dulu menepis tangan Gokudera jauh-jauh. Pemuda pemilik cincin awan itu mengusap-usap pelan kerahnya seraya berjalan ke hadapan bos kesepuluh. Langkah kakinya sangat percaya diri.

"Kau hanya perlu menunggu waktu yang tepat." Hibari memegang sandaran kursi yang didudukki oleh Tsuna. Wajahnya tertunduk menantang Tsunayoshi-nya untuk bertatapan.

"Soon..." Hibari memejamkan matanya dengan senyum mengerikan. "You may be loved to the point of madness."

Tsuna meremas bangku kayu di samping pahanya. Dan tindakannya diperhatikan oleh Hibari dengan insten. Sebelum mengakhiri perbincangan gelapnya, penjaga awan mendekatkan bibirnya tepat ke arah telinga Tsuna.

Sambil berbisik, "Ini peringatan keduamu. Persiapkan dirimu. Akan lebih baik kalau kau patuh untukku, Sawada Tsunayoshi." —sengaja meniup lembut ke lubang telinga Tsuna dengan seduktif.

Walaupun Tsuna tidak paham oleh kata-kata Hibari yang pertama karena berbahasa inggris, tetap saja berpengaruh pada hatinya. Seakan-akan seluruh anggota badannya dibekukan oleh suara berat Hibari.

Bahkan, saat Hibari menghembuskan sedikit nafasnya ke area lubang telinganya, Tsuna berusaha semaksimal mungkin menahan erangannya agar tak terdengar aneh oleh penghuni kelas.

Ternyata, Tsuna sudah melakukan kesalahan paling besar dalam hidupnya. Berurusan dengan Hibari bukanlah hal yang sangat baik, itu petaka. Kiamat menungguinya. Andaikan Tsuna boleh mengelak takdirnya tentang menjadi penerus Vongola, sepertinya kehidupannya tak akan serunyam ini.

"Apa jawabanmu?" Hibari memundurkan sedikit kepalanya untuk menatap Tsuna lekat-lekat. "Hm?" Ia bergumam setelah mendapati mangsanya tetap bungkam.

Hibari menyeringai. "Kuanggap diam mu adalah 'ya'."

Kembali membungkukkan badannya, Hibari berakting merapikan dasi yang dikenakan Tsuna. Punggung jari tengahnya mengusap leher Tsuna searah. "Sayang sekali, Tsunayoshi. Kau terjebak denganku. Dan sudah terlambat untuk mundur."

Set.

Hibari membetulkan dasi Tsuna cukup ketat, "Ja mata." —mencekik bos kesepuluh secara tidak langsung.

Si penjaga awan berbalik, meninggalkan ruang kelas Herbivore nya. Menyisakan keheningan beserta aura kengerian yang ditinggalkan Hibari.

Yamamoto menyampingkan tubuhnya membiarkan Hibari lewat.

Gokudera mendecakkan lidah berkali-kali. Tangannya mengepal sudah tak sabar memukul telak wajah Hibari sampai bonyok.

'...Apa maksudnya?' Tsuna kehilangan akal sehatnya. Ia bersumpah tak paham apa yang dimaksudkan Hibari barusan. Kalau prefek itu ingin membunuhnya kenapa tidak langsung katakan saja pada intinya? Tak usah bertele-tele seperti itu kan?

"Juudaime..." Gokudera payah untuk mengembalikan suasana hati orang agar membaik. Pemuda badai memalingkan wajah tak bisa melakukan apa-apa di saat bosnya sedang terpojok.

Sadar bahwa sekarang gilirannya untuk mencairkan atmosfer, Yamamoto menghampiri mereka berdua dengan senyum terpasang menyegarkan.

"Yo." Yamamoto menepuk pundak Gokudera. "Berhenti mengerutkan keningmu seperti itu, cepat menua loh Gokudera."

Tsuna melihat Yamamoto dan Gokudera mulai memperdebatkan masalah sepele. Tawa canda dari penjaga hujannya mendatangkan kelegaan kalau dirinya tak sendiri. Itu menjadikan mood Tsuna normal seperti biasa.

Palingan kata-kata dari Hibari tak akan beda jauh dengan makna kamikorosu. Kebiasaan penjaga awan tidak lain hanya ingin memenuhi kebutuhannya untuk menerkam seseorang sepuasnya.

Mungkin menargetkan dirinya sebagai pelepas penatnya Hibari pilihan yang tepat mengingat jika Tsuna seseorang tidak berguna yang tak akan melawan kehendak Hibari.

Tsuna mengendurkan dasinya diiringi helaan nafas panjang. Kekhawatirannya sedikit terobati begitu menyelesaikan kesalahpahaman di otaknya mengenai perilaku Hibari yang berubah drastis.

"Juudaime!" Gokudera berjongkok, mengambil kaus kaki Tsuna yang tergelatak di lantai. "Jangan takut melawan Hibari! Juudaime itu bos kesepuluh Vongola yang sudah resmi! Tikus sepertinya bukan tandingan untuk Anda!"

Yamamoto mendudukkan diri di atas meja di depan bangku Tsuna. "Betul, Tsuna. Kau tidak sendirian, ada kami yang siap membantu."

Kalian salah lagi.

Tsuna menguraikan senyum hangat. "Arigatou, Gokudera-kun, Yamamoto."

"Ehehe, bukan masalah besar! Memang sudah jadi tugasku untuk mendukung Juudaime! Akan aku persembahkan seluruh hidupku kepada Juudaime seorang." Gokudera berkata bangga, senyum lebar terpajang pada wajahnya yang sangar.

Yamamoto merangkul leher Gokudera, membawakan penjaga badai dekat-dekat. "Nice words, Gokudera!"

"Teme Yakyuu Baka!! Jauh-jauh dariku!" Gokudera bersuara keras, ludahnya menyemprot ke arah muka Yamamoto. Tak banyak, tapi dua tetes berhasil mendarat di antara dahi lebar sang penjaga hujan.

Yamamoto tersipu. Ingin sekali rasanya menyeka semprotan ludah Gokudera dan mencicipinya. Ia menggodok hidungnya sembari merahasiakan salah tingkahnya.

Tsuna memundurkan kursi agar dirinya lebih leluasa untuk memakai kembali sepatu dan kaus kakinya. "Berikan padaku, Gokudera-kun."

Gokudera langsung menolehkan pandangannya ke sosok bos tercinta. "Ah, sumimasen! Biar aku yang memakaikannya untuk Juudaime."

Bos itu menggelengkan kepalanya cepat-cepat. "T-tidak usah, Gokudera-kun. A-aku bisa sendiri." Tolak Tsuna, merebut kaus kakinya dari tangan Gokudera dengan perlahan.

"Baiklah Juudaime." Senyum Gokudera masih setia terbentang.

Yamamoto menarik keluar ponselnya. Setiap tombol yang dia tekan membunyikan suara tet, dan Gokudera tak menyukainya.

"Ya-ma-mo-to." Gokudera menunjuk-nunjuk bahu Yamamoto berulang kali. "Bisa tidak kau berhenti memancing emosiku!?"

"Loh, aku kan nggak ngapa-ngapain." Yamamoto mengedip mata polos.

"HP MU!!! MODE BISUKAN!! SUARANYA MENJENGKELKAN!" Hardik Gokudera.

Yamamoto menyerahkan ponselnya ke depan dada Gokudera. "Caranya? Aku tidak tau sih, jadi kau saja ya." Sengaja. Yamamoto mengumpan kemarahan Gokudera agar dirinya dapat lebih banyak berinteraksi dengan calon kekasih. Ahem.

Selagi Tsuna mengenakan sepatunya, bos itu tak berhenti terkekeh menyaksikan kedekatan dua penjaganya. Nampak tidak akur tetapi mereka memiliki ikatan paling erat. Jika salah satu dari mereka berpisah pasti akan ada yang terasa kurang.

Tinggal mengikat tali sepatunya maka akan selesai. Dan ketika Tsuna menaut-nautkan tali-tali tersebut, Sasagawa Kyoko—gadis incarannya datang ke kelas tanpa Kurokawa Hana di sampingnya.

Tsuna mengangkat wajahnya memandang Kyoko ingin tau. Tidak biasanya gadis itu menelpon seseorang hingga tiba di kelas pun tak ditutup sambungan teleponnya?

'Wah... ada yang membuat Kyoko-chan nyaman?' Tsuna mendadak harus menajamkan pendengarannya berharap seluruh percakapan Kyoko terdengar jelas.

"Aku sampai di kelas tanpa ada gangguan kok." Kyoko menempelkan jemarinya ke dagu, tertawa kecil. Suaranya merdu, siapapun akan jatuh cinta padanya. Termasuk Tsuna.

'Onii-san? Mungkin saja...' Masih betah mendengarkan obrolan Kyoko, Tsuna menggeser kursinya ke dekat bangku gadis tersebut. Walau masih cukup berjarak.

"Terima kasih, Haru-chan. Iya, aku... sangat mencintaimu. Jangan... nakal di sana." Ucap Kyoko malu-malu.

Pupil Tsuna melotot sempurna, bola matanya nyaris copot kalau saja dirinya tidak menjaga sikap. Betapa kabar yang mengejutkan. Sasagawa Kyoko menyatakan cintanya kepada Miura Haru?! Haru??? Gadis tulen Haru???

"Aishiteru, aishiteru, aishiteru Haru-chan! Semangat sekolahnya, ya. Sepulang nanti aku ingin berkencan lagi bersamamu~" Kyoko tampak bahagia.

'KENCANN??!!!!' Tsuna memegangi dada kirinya erat-erat. 'Kyoko-chan kencan...???? Loh, bukannya mereka sesama perempuan?!!'

Menyadari seseorang ada yang memantaunya, Kyoko segera menutup teleponnya. Gadis itu melirik ke arah Tsuna dengan wajah yang masih memerah bagai rebusan tomat.

"Tsuna-kun?" Kyoko melihat Tsuna dengan senyum merona. "Ohayou, Tsuna-kun."

'Dia... tidak. Ekspresi itu bukan karena untukku.' Tsuna menelan ludah.

"Tsuna-kun, bisakah Tsuna-kun merahasiakan hal tadi?..." Kyoko berkata pelan, jari-jari mungilnya meremat ujung rok.

Tsuna lemot, ia menyerang Kyoko dengan pertanyaan. "M-maksud Kyoko-chan?... Yang tadi itu... H-Haru?"

Kyoko menyembunyikan sisi kiri dan kanan bibirnya melalui tangannya, menjawab, "Aku berpacaran dengan Haru-chan. Jangan beritahu siapapun soal ini ya, Tsuna-kun?"

Eh?...

'Entah kenapa aku tidak merasa sakit hati setelah mendengarnya.' Ada banyak sekali yang ingin Tsuna ketahui, tapi kondisi Kyoko yang dilanda virus cinta seperti itu—terpaksa ia urungkan. Toh, soal percintaan merupakan sesuatu yang privasi.

"U-un. Aku janji tak akan memberitahu siapa pun." Tsuna menorehkan senyum simpul. Semoga Kyoko tak sadar dengan bibirnya yang kaku.

"Arigatou, Tsuna-kun. Kami tidak melakukan hal yang buruk kok, kami hanya saling mencintai." Kyoko memperlihatkan senyum yang baru pertama dilihat Tsuna.

'Haru... kau melakukan apa saja sampai Kyoko-chan tersenyum setulus itu?...' Tsuna tertegun. "S-souka... kalau begitu semoga hubungan kalian berdua bertahan sampai... akhir."

Kyoko mengeluarkan buku-bukunya dari tas. "Arigatou, semoga Tsuna-kun segera punya pacar."

'Pacar...?' Tsuna mengangguk, mengubah posisi duduknya menjadi tegak lurus. 'Siapa yang akan jatuh hati kepada seseorang yang gagal sepertiku?...' Anehnya ia merasa tidak sedih. Tsuna menyadari hal itu dan tidak tau alasannya.

Bos Decimo tak mampu memahami perasaannya sendiri. Ia tak bisa mengertikan dirinya sendiri. Keinginan dan kebutuhannya saja tidak tau. Tsuna yang malang.

Ding... Dong...

Bel pertanda jam pelajaran dimulai terdengar nyaring. Serentak, murid-murid di kelas kembali ke tempat duduk masing-masing bersiap untuk belajar.

...

A hopeless romantic.

Tak terasa waktu pun bergulir begitu cepat.


Giotto mengunci pintu rumah Tsuna. Seharusnya Reborn menunggu di dalam sambil menjaga rumah, tetapi dia selalu pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui semua orang. Entah ada urusan apa hingga Reborn tak mau menceritakan kepergiannya.

Saat ini, Giotto sudah lengkap memakai kemeja dan jas polos berwarna hitam. Sejujurnya ia tidak tau busana yang cocok untuk menghadiri kunjungan wali murid ke sekolah. Buruknya Giotto lupa menanyakan hal itu.

Menurut instingnya kemeja dan jas polos merupakan pilihan paling tepat. Tidak mungkin para wali mengenakan kaus kan? Memulai perjalanannya menuju SMP Namimori, Giotto melangkahkan kakinya.

Konsentrasinya pecah terbagi-bagi. Giotto benar-benar tidak tau bagaimana dirinya akan menghadapi G selama kunjungan wali berlangsung? Menyapa penjaga badainya seolah tidak ada yang terjadi?

Giotto merapikan poninya nan panjang. Soal G biarkan alam yang menentukan. Yang penting dirinya berusaha semampunya untuk menghindari konflik berkepanjangan.

Tak membutuhkan waktu lama, Giotto hampir tiba di Namichuu. Tinggal beberapa meter lagi sampai di gerbang SMP Namimori—tiba-tiba siluet merah muncul menghadangnya.

Reflek, Giotto mengangkat wajahnya mencari tahu.

"...!?"

Pupil oranye miliknya melebar gemetaran. Kontrol ekspresinya pun pudar. Giotto tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. Orang yang berada di depannya sekarang—

"...Cozarto?" Hatinya mencelos tatkala pandangannya terpaku pada sosok pemilik iris scarlet yang sangat ia kenali.

Hancur sudah pertahanan Giotto dalam sekejap. Satu tangannya terangkat dengan kondisi bergetar shock ingin meraih lengan pria bernama Cozart. Kepalanya menengadah sepenuhnya ke arah surai merah itu.

"Giotto-kun." Cozart memahat bibirnya lebih ekspresif. "Akhirnya aku menemukanmu." —Kedua tangannya langsung menelusup ke badan ringkih Giotto, memeluk Bos Vongola Primo dengan posesif.

Giotto masih termakan oleh perasaannya yang awut-awutan. Ia belum memberikan reaksi melainkan hanya berdiri menyerupai patung porselen yang diukir elok oleh mahakarya andal.

Cozart menyandarkan dagunya di atas bahu kecil Giotto. Pria itu sedikit menunduk, mengendus aroma pakaian dari sahabat sejati nya. Dan tanpa seizin sang empu, jemari tangan Cozart dengan nakal merayap sensual dari punggung Giotto yang semakin naik ke arah telinga.

"Giotto-kun, kenapa diam saja?" Cozart menyentuh daun telinga Giotto, mengelusnya lihai. "Sekiranya berikan aku suaramu. Kau tau sendiri kan? Apa pun tentangmu akan terasa lezat untukku."

Cozart menarik mundur wajahnya, memandang Giotto mesra. Permainan yang bagus.

"Nufufufu... how cute." Kepulan kabut memenuhi dirinya dan Giotto di sudut jalan. Wujud Cozart memudar digantikan oleh Daemon Spade. "Itu ekspresi yang baru kulihat, Giotto-kun." Sembari menekankan nada suaranya saat menyebut Giotto-kun.

"Daemon." Raut wajah Giotto sedikit mengeras. Salahkan dirinya yang tidak bisa fokus, menganggap bayangan tadi adalah Cozart sungguhan.

Daemon mengulum seringaian sadis. "Apa pertunjukanku barusan menyentuh hatimu?" Bertanya dibarengi kekehan kejam.

Penjaga kabut di hadapannya sudah mengkhianatinya berkali-kali di masa lalu, dan berkali-kali Giotto memaafkannya. Menambahkan embel-embel hanya Daemon yang cocok untuk menjadi pemegang cincin kabut Vongola.

Givro eterna amicizia, salah satunya ini. Itu yang membuat Giotto sulit mengeluarkan Daemon dari Vongola. Tak hanya itu, perubahan penjaga kabutnya merupakan separuh dari dosa Giotto untuk Elena.

Grep.

Daemon menyergap tenggorokan Giotto dengan cengkraman kuat. Pria berkemampuan ilusi mengangkat tubuh bosnya tinggi-tinggi dan membenturkan punggung Giotto ke tembok yang ada di belakangnya.

"Da—emon—" Giotto membuka lebar-lebar mulutnya, kesulitan bernafas.

Daemon menyematkan badannya dengan Giotto berhimpitan. Ia menempelkan keningnya ke dahi bosnya tanpa ada niatan sedikit pun untuk melepaskan tenggorokan Giotto dari cekikannya.

"Terkadang aku ingin sekali melindungimu." Daemon mempererat cengkramannya hingga Giotto melenggak atas-atas. "Di sisi lain, aku juga ingin menghancurkanmu."

Giotto memegang tangan Daemon yang terulur ke arah lehernya. "...Ada apa Daemon?... Kau—bisa memberitahuku... apa yang salah..."

Daemon tersenyum bengis. "Aku menginginkan kebencianmu. Elena-ku tak butuh bos lembek sepertimu."

"...Begitu, kah?" Giotto tersenyum lembut. "Bagaimana... bisa... aku membenci...mu...? Elena... mempercayaiku... untuk... menjaga—"

Daemon mengencangkan cengkamannya di tenggorokan Giotto kala sekelabat ingatannya mendadak menampilkan senyuman Elena yang dirindukan.

Elena mirip dengan Giotto. Itu menyulitkan Daemon. Dendamnya kepada Vongola, rasa ditinggalkan oleh orang yang dicintai, Daemon memejamkan matanya erat, keningnya mengerut tajam.

"Giotto pasti menerimamu tanpa syarat. Bergabunglah dengannya."

...

Daemon menghela nafas panjang. Ia menurunkan Giotto seraya melepaskan tangannya dari leher bosnya.

Giotto terbatuk pelan.

"Elena-ku." Daemon berlutut satu kaki, bersimpuh tunggah hati di hadapan Giotto. Perlahan, mengambil tangan Vongola Primo—meletakkan jemari lentik milik Giotto ke bibirnya.

Daemon mengecup punggung tangan Giotto. "Cantik-ku. Elena-ku." —Berkata menggunakan nada rendah dengan mata terpejam.

Giotto memijat pelipisnya, kini kepalanya berdenyut sakit. Bertubi-tubi menemui masalah itu ternyata tak sebaik yang ia kira. Syukurlah perkara antara penjaga kabutnya terselesaikan tertib. Tidak ada bangunan hancur.

Kabut di sekitar Giotto juga Daemon turut menghilang selama suasana keduanya melunak.

"Kau punya urusan apa di sini, Primo?" Daemon merekatkan telapak tangan Giotto ke pipinya.

Ibarat kejadian tadi tidak pernah terjadi, Daemon membuka percakapan santainya dengan Giotto.

"...Menjadi wali Decimo." Jawabnya. Enggan meloloskan tangannya dari genggaman Daemon.

"Decimo merepotkanmu?" Daemon menciumi jari-jari itu dengan agresif.

Giotto menggeleng. "Sama sekali tidak. Sebentar lagi kunjungan walinya akan dimulai." —Sambil menahan sensasi menggelikan dari sentuhan Daemon.

"Nufufufu..." Daemon menegakkan kembali badannya. Memperlihatkan perbedaan tinggi keduanya yang berbanding terlalu jauh. "Aku sedikit merindukanmu, Primo."

Jadi itu alasannya?

"Kau bisa berkunjung ke kediaman Decimo." Sorot mata Giotto menyiratkan kelelahan. Dan Daemon mengetahuinya.

Pria kabut itu pun membebaskan tangan Giotto seraya berbalik memunggungi bosnya. "Baiklah. Bertahanlah sampai aku menemukan cara untuk memiliki tubuhmu, Primo."

Giotto menatap punggung Daemon. "Terima kasih, Daemon."

...

Daemon mendengus geli. "Sesukamu, Primo." —menambahkan untaian senyum tipis.

Ini, rutinitas yang dilakukan mereka terus-menerus dan tidak akan pernah berubah di masa lalu... juga sekarang.

Penjaga kabutnya sirna dari pandangan. Giotto melambai di udara, mengantarkan kepergian Daemon dengan helaan lega. Saatnya menghadiri kunjungan wali penerusnya.

Sebelum bergegas memasuki gerbang sekolah, Giotto merapikan jasnya, menyisir poninya agar tertata lebih nyaman. Dirasa sudah cukup, Giotto menarik nafas kemudian menerobos pagar Namichuu yang menjulang tinggi.

"Kyaaa! Siapa itu? Bule dari mana???"

Giotto menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya, ada beberapa siswi berkumpul dengan mata mereka membentuk love. Penasaran, ia menengok ke belakang. Tapi tidak ada orang lain selain dirinya.

Mengabaikan teriakan dari para gadis, Giotto mempercepat langkah kakinya ke dalam gedung SMP Namimori. Ia masih belum tau dimana letak kelas Tsuna, sisa waktunya akan digunakan untuk mencari keberadaan bos kesepuluh itu.

"Aaahhh ada G-sensei jugaa! Ya tuhan, G-sensei tampan sekali!!"

Giotto merinding ketika nama G disebut-sebut. Dimana? Jangan sampai G melihatnya terlebih dahulu.

"Giotto-san!"

"Primo-san!"

"Primo!"

Panik. Giotto melirik sekilas suara-suara yang memanggilnya dengan keras. Wajahnya terangkat, tampak lah Tsuna, Gokudera, Yamamoto dan Asari berada di atap bangunan lantai dua. Ia mengangguk pelan sebagai balasan. Tanda bahwa dirinya akan segera menyusul ke sana.

Semoga G tak menjumpainya.

Giotto berjalan tergesa-gesa ke dalam gedung, kakinya melangkah dengan kecepatan tinggi.

Sayang sekali, G sudah memonitori bosnya lebih dulu. Dari kejauhan, penjaga badai itu mengawasi Giotto sembari memasukan tangannya ke saku celana. Dia menyisir rambut merah mudanya ke belakang dan membuntuti Giotto.


Sret...

Giotto menggeser pintu kelas yang ditempati Tsuna. Dan kemunculannya disambut meriah oleh ketiga penerus kesepuluh dan satu penjaga hujannya.

"Giotto-san! Terima kasih sudah datang!" Tsuna berujar gembira.

"Senang bisa membantumu, Decimo." Tak kalah dari Tsuna, Giotto menggambarkan wajahnya sebuah senyuman sehangat api harapannya.

"Ayo masuk, Giotto-san. Kunjungan wali akan dimulai dalam lima menit lagi." Ajak Tsuna mempersilakan Giotto memasuki kelasnya.

Mereka kembali ke tempat masing-masing. Tsuna, Gokudera dan Yamamoto berada di bangkunya. Mereka bertiga tidak hentinya mengobrol asyik, itu membuat kawanan kelas merasa iri dengan kedekatan mereka.

Sedang Giotto dan Asari, keduanya menyatu bersama wali murid lainnya di belakang.

"Primo, kau baik-baik saja?" Asari menanyakan kondisi Giotto yang cukup berbeda dari pertama kali dirinya bertemu.

"Entah lah." Giotto mengepal tangannya. "Begitu masuk kemari, aku merasakan ada hal buruk yang akan terjadi."

Asari membulatkan mata. "Hal buruk?... Seperti apakah itu?"

"Knuckle dimana?" Giotto mengganti topik pembicaraan, tidak membalas pertanyaan Asari.

"Dia berada di kelas tiga. Ada yang kau butuhkan dengan Knuckle?" Samurai itu memadati perhatiannya ke arah bosnya.

Giotto memalingkan tatapannya mengarah ke jendela. "Tidak, aku hanya berharap sesuatu yang buruk tak akan terjadi."

Mengikuti arah pandangan Giotto, Asari memandangi langit biru nan menawan. "Benar. Kalau pun terjadi, ada aku dan dua penjagamu di sini."

Tanggapan Asari menghasilkan penyembuhan yang efektif untuk kecemasannya. Giotto merasa sangat terbantu dengan kehadiran Asari di sampingnya.

"Arigatou, Asari." Senyumnya mengembang bagaikan bunga bermekaran.

Ibu-ibu wali menunjukan pipi mereka yang memerah. Siapa lagi? Penyebab utamanya Giotto. Jangan remehkan paras seseorang berketurunan Italia.

Tap... tap...

"Selamat siang, murid Namimori dan para wali murid yang telah hadir." G datang dengan helaian rambutnya bergaya slicked back man bun.

Bagaimana Giotto bertingkah biasa-biasa saja di depan penjaga badainya? Melihat wajah G saja otomatis menyeret memorinya ke adegan ciuman yang menuntut.

G berjalan arogan ke meja pengajar sembari menyapu penglihatannya yang langsung terkunci tepat ke arah Giotto. Tidak ada bentuk sapaan seperti senyuman yang umumnya sering ia lakukan.

Sorakan dari siswi kelas memenuhi seisi ruangan. Begitu pun dengan wali perempuan murid, mereka menyoraki ketampanan G bersamaan.

Kelihatannya G tidak peduli akan teriakan para kelompok fan-girl. Ia memfokuskan atensinya hanya kepada Giotto-nya seorang. Mata merahnya menyala berbahaya, mempertegas bahwa dirinya serius ingin memikat bosnya.

Giotto membuang muka dengan raut wajah bersalah.

Tsuna memerhatikan keanehan G. Bos Decimo mengintip diam-diam kepada Giotto. 'Apa yang terjadi di antara mereka berdua...? Giotto-san... Bukankah G-san adalah tangan kanannya?...'

"Kita akan memulai sesi kunjungan walinya." G membuka lembaran bukunya yang tebalnya tujuh senti. Tentu, tak membiarkan pandangannya beralih dari Giotto.

Berpuluh-puluh menit kemudian—

Di sepanjang bagian kunjungan wali berlangsung, Gokudera Hayato adalah murid paling unggul di antara lainnya. Otaknya begitu encer, soal dari mata pelajaran apa pun dapat ia kuasai layaknya membalikkan kertas.

Tetapi, ketika acaranya hanya berjalan lima belas menit lagi—intuisi Tsuna mendadak menghujam jantungnya. Bola matanya melebar seperti sedang menonton hantu. Keringat bercucuran membiaki area leher dan telapak tangannya.

Akan ada tragedi yang mengerikan di sini.

Entah apa yang membuat Tsuna ingin menilikan tatapannya ke arah Giotto. Dan benar saja, bos Primo merasakan hal yang sama dengan dirinya.

Mereka bertatapan lama sekali sampai ketika Giotto menganggukkan kepalanya sekali, baru lah Tsuna mengangguk juga menuruti instingnya.

"A-ano." Tsuna mengacungkan tangan. "G-sensei, aku dan Giotto-san meminta izin untuk permisi sebentar."

Belum sempat G menerima izin dan mengirimkan pertanyaan terkait akan pergi kemana, Giotto dan Tsuna bersicepat hendak meninggalkan kelas.

Tsuna berlari keluar, sementara Giotto menunjukkan beberapa kode tangan kepada G yang hanya penjaga generasi pertamanya yang paham akan maksud tersebut.

"Primo. Oi!" G melotot tak percaya.

"Juudaime!" Gokudera bangkit dari bangku, khawatir.

Sret.

Pintu kelas ditutup.

Kode itu berarti ada sesuatu yang buruk terjadi di tempat yang dipijakki dan meminta penjaganya yang tengah bertugas untuk membereskan tugas-tugasnya yang sedang dikerjakan.


Tsuna merogoh saku seragamnya. Memegangi pil pencongkel mode hyper nya dan dua buah sarung tangan. Bos Decimo menuruni anak tangga dengan hati gelisah. Langkahnya diikuti Giotto dari belakang.

"Aku tidak tau dimana... Tapi aku merasa sudah dekat dengan tempatnya." Kata Tsuna.

"Ikuti saja intu—"

DOR DOR!

Giotto merangkul bahu Tsuna, menutupi seluruh badan penerusnya. Ia mendorong bos kesepuluh agar tengkurap usai mendengarkan bunyi tembakan.

Senapan yang ditembakki berkedap suara. Herannya kenapa di sini tidak ada seorang pun yang lewat? Apa ini hanya kebetulan? Atau sudah direncanakan oleh seseorang? Kalau benar begitu, ini menguntungkan mereka. Semoga aksi Tsuna dan Giotto tak menarik perhatian orang-orang untuk kesini.

"I-ittatatata..." Tsuna menggosok-gosok dahinya.

Giotto menatap tajam ke arah pintu kelas yang auranya sangat pekat, dipenuhi kegelapan.

"Decimo, masuk ke mode hyper sekarang." Pinta Giotto terus terang.

"Ha'i, Giotto-san." Tanpa pikir panjang, Tsuna menelan dua pil. Sontak, api harapan langitnya muncul di tengah keningnya.

"Aku yang akan menanganinya." Tsuna memancarkan api harapan langit itu di kedua tangannya, memang nyala api yang indah.

Giotto tersenyum simpul, "iia, kita akan melakukannya bersama."

Tsuna menoleh, memandangi Giotto. "..."

Sky flame. Giotto sudah berada dalam mode hyper. Matanya bersinar hangat dengan letak api harapan yang sama dengan Tsuna.

'Ini... apinya Vongola Primo...' Tsuna terkagum-kagum.

"Kita periksa perlahan." Giotto berdiri di samping pintu yang ia duga di dalamnya ada beberapa penjahat pengguna senjata api.

Tsuna tidak protes, melaksanakan perintah Giotto tanpa melambungkan sepatah kata.

DOR DOR DOR DOR!

"Kita serbu dalam hitungan ketiga." Giotto menatap Tsuna. Ada kekhawatiran yang mendalam di matanya.

Ingin sekali menyuruh Tsuna untuk menyerahkan masalah ini padanya seorang diri, meskipun bos Vongola di era sekarang masih Kyuudaime, Giotto terpaksa melibatkan Tsuna karena rasanya sia-sia bila meminta penerus kesepuluhnya mundur.

Tsuna mengangguk paham dengan arahan sang Primo.

"Tiga..." Giotto memegang pintu. "Dua..." Tangannya sudah bersiap membuka pintu tersebut. "Satu...!"

Sret—

"Hentikan kalian semua." Tsuna berucap lantang.

Terlalu percaya diri kah? Terlalu pemikir positif itu baik atau buruk? Betapa pemandangan yang mencengangkan. Belasan mayat tanpa nyawa bergelimpangan. Semua korban tanpa memakai seragam SMP Namimori, bisa dipastikan tubuh tak bernyawa itu salah satu wali murid—atau... orang asing yang secara sengaja mematok pembunuhannya di sini?

Bagi Giotto, tontonan di depannya bukan hal baru di dunia mafia. Namun, beda cerita untuk Tsuna.

Seakan-akan mengenali Tsuna bagai adik lelaki berharganya, Giotto menghalangi pandangan bos kesepuluh menggunakan telapak tangannya. Ia tidak mau apa yang dilihat Tsuna jatuh menjadi trauma.

Ada satu orang pria yang masih hidup. Senapan tersebut ditodongkan menghadap Tsuna dan Giotto.

"Satu rambut pirang... satunya rambut coklat... sarung tangan I dan X... datanya persis yang sudah dilaporkan." Sebut pria Z, dia berbicara tenang.

Giotto menaikkan satu alis. Satu rambut pirang? Satunya rambut coklat? Sarung tangan I dan X? Data? Apakah ada seseorang yang merencanakan ini? Dari mana orang asing itu mengetahui keberadaannya? Apa pergerakannya sudah dibaca olehnya?

Tsuna menurunkan tangan Giotto. "Aku tidak apa-apa."

"Tapi aku tak punya waktu lagi untuk menjelaskannya pada kalian... Atau dia akan mengamuk." Pria Z meraih kerah seseorang yang tidak sadarkan diri.

Lalu, "Hentikan mode hyper kalian jika kalian ingin menyelamatkannya."

Dia bahkan tau soal... itu?

Penjahat dari mana?

Salah satu keluarga mafia yang berseteru dengan Vongola?

"Kau!" Tsuna menggertakkan gigi, tenggelam oleh emosinya yang berantakan.

Padahal Giotto baru saja mau mengetes kemampuan tempurnya setelah sekian lama tak digunakan. Ingin tidak ingin, Giotto menghentikan laju mode hyper nya.

"Bagus. Aku suka anak penurut. Kau, rambut coklat, hentikan apimu." Pria Z memerintah.

Tsuna berdecak. "Tch..."

Giotto punya rencana. Ia akan membekukan penjahat itu. Tapi untuk melancarkan titik nol memerlukan jarak yang cukup dekat. Membekukan lantai? Tidak, itu terlalu berisiko.

Tsuna keluar dari mode hyper. "Kau... kenapa melakukan hal keji seperti itu?!"

Pria Z menghela nafas panjang. "Aku tak mau membuang waktuku... Baru kali ini ada yang mengancamku hingga tulang-tulangku rasanya hancur berkeping-keping..."

Giotto menanggapi kalimat pria Z cermat.

"Tapi... oke lah. Lagian kejahatanku tak akan termaafkan, sekali pun menyewa pengacara profesional. Setidaknya aku dikalahkan oleh orang yang lebih elite." Pria Z tertawa menyedihkan. "Cukup bangga... hahahahahaha."

Tsuna memampangkan mimik kengeriannya. "...Apa yang dia bicarakan..."

"Kau, rambut pirang, kesini." Pria Z menggerakkan jari telunjuknya ke arahnya.

"Maksudmu aku?" Giotto menyipitkan mata.

"Ya... kau, rambut pirang bernama Giotto." Pria Z mengetuk-ngetuk ujung pistolnya ke kepala si sandera. "Jangan tanyakan padaku kenapa aku mengetahui namamu..."

Sengaja Giotto menguji seberapa banyak hal yang diketahui oleh pria tersebut. Keberuntungan memihaknya, menjawab rasa penasarannya karena pria Z langsung menyebutkan namanya.

Tak salah lagi, dia musuh Vongola.

"..." Giotto maju perlahan menghampiri pria Z.

Tsuna mengepalkan tangannya erat-erat. "Giotto-san!"

'Sedikit lagi...' Giotto dengan sabar menunggu langkah kakinya tiba di depan pria Z.

'Dapat...' Giotto memegangi pistol yang digenggam oleh pria Z.

Pria Z menyeringai. "Seperti dugaannya... kau akan membekukanku, kan?"

"...Apa?" Giotto tidak meluncurkan serangannya, tersentak akan ujaran barusan.

Pria Z tersenyum penuh kemenangan. Jemarinya dilindungi sarung tangan kulit sehingga sidik jarinya tidak akan tertanam pada senjata itu. Berhubung Giotto tidak dalam mode hyper, satu-satunya yang akan membuktikan bahwa dia tidak bersalah harus lenyap karena begitu dirinya keluar dari mode hyper, sarung tangannya turut menghilang.

"Arrivederci." Pria Z memaksakan tangan Giotto untuk mencengkram pistol itu. Kemudian, menembakki dirinya sendiri melalui jari Bos Primo.

Bunuh diri?

Dor!

"GIOTTO-SAN!!" Tsuna berlari menyamperi bos pertamanya.

Giotto melihat orang yang ditawan pria Z ternyata sudah tak bernyawa. Dengan kata lain, pria Z berhasil menipunya. Sempurna. Mulus sekali. Musuh Vongola kali ini lebih tangguh dari generasi sebelumnya.

Melampaui intuisinya?...

"Giotto-san...?" Tsuna mengecek badan sang Primo, tak ada bekas luka tembak. Perasaannya jadi tidak enak. Ia memberanikan diri mengincar kebenaran.

Manik mata Tsuna turun menelusuri pria Z terkapar ke lantai. Darah merembes mengotori keramik putih.

"Giotto—"

"DI SANA PAK POLISI! TANGKAP MEREKA!"

Tsuna membalikkan badan memeriksa jeritan yang dilontarkan dari arah belakang pintu. Benar saja, para polisi menyerbu tempat ini. Bagaimana bisa...? Dirinya dan Giotto bukan pelaku yang sebenarnya. Penjahat macam apa dia? Melempar kesalahannya kepada mereka berdua?

"Angkat tangan!!! Tidak ada yang boleh bergerak tiba-tiba!!! Kau, berbalik ke arah sini!!" Polisi berbalut kain serba hitam dengan tameng maju sambil menyiapkan kuda-kuda menembak pistol.

Tsuna mengangkat tangan ke atas, ia ketakutan sampai mati.

Giotto memutarbalikkan tubuhnya, senapan yang digenggamnya terjatuh. Menciptakan nada cukup menyeramkan di situasi genting seperti ini. Tak lupa mengangkat dua tangannya mematuhi instruksi dari polisi tersebut.

"Kalian berdua kami tangkap." Polisi itu berucap lugas.

Tsuna menggandeng lengan Giotto, tidak dapat menguasai rasa takutnya. Benarkah ia akan mendekam di penjara selamanya? Walau tak bersalah pun? Tsuna harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Bahkan ketika dirinya dalam keadaan bahaya kepayahannya tak mau meninggalkannya.

"Kubilang dilarang bergerak!!!!" Polisi berperawakan besar membentak Tsuna.

Giotto menoleh ke arah Tsuna, memamerkan senyum yang biasa ia tunjukan kepada para penjaganya. "Decimo, aku selalu bersamamu. Kita akan baik-baik saja."

Perkataan Giotto memerangkap hatinya untuk menangis. Pelupuk matanya sudah terasa panas, Tsuna menunduk seraya mengutuk tingkahnya yang menyamai orang pengecut.

"Anak ini tidak bersalah. Jangan ba—"

"Bawa mereka menghadap komandan!!!" Seolah tidak memedulikan penjelasan dari Giotto, polisi itu tetap teguh pada pendiriannya.

Polisi 1 membekuk kedua tangan Tsuna, menahannya ke belakang.

"Lepaskan! Kami tidak bersalah!" Tsuna berjuang melawan terkaman petugas keamanan.

Polisi yang didapati selaku pemimpin pasukan menyeringai, raut wajah yang menjijikkan. "Buat dia diam. Telingaku bisa pecah mendengar suaranya." —memerintah seenaknya.

"Baik." Petugas keamanan yang mengawal Tsuna memukul titik kelemahan pada bawah tengkuk bos Decimo tanpa ragu.

Alhasil Tsuna langsung tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang lemah diangkat bagai karung beras, ditempatkan di atas bahu petugas itu sembari berjalan menuju keluar ruangan untuk diangkut ke mobil.

Tidak boleh ada yang menyakitinya. Giotto memandang sengit ke arah pemimpin pasukan. Asalkan jangan kepada Tsuna... mereka tak diizinkan untuk membawa bos kesepuluh ke markas polisi. Dia tak bersalah apa-apa.

"Komandan Alaude-sama! Ya, kami sudah menangkap pelakunya!" Pria berkumis melakukan komunikasi dengan seseorang yang sangat penting bagi Giotto.

'Alaude...?'

...

Giotto lekas berlari, menyusup di antara belasan personil polisi.

"JANGAN BIARKAN DIA KABUR!!!"

...

'...Alaude?'

Tiba di gerbang utama SMP Namimori. Giotto memperlambat larinya. Menyaksikan Tsuna dimasukan ke dalam mobil dengan tangan diborgol. Tak hanya itu, mulutnya disumpal oleh kain kasar.

"Decimo!!" Seri mukanya sudah diselimuti kepanikan.

Bermaksud mengejar Tsuna, sebuah mobil hitam bugatti melaju ke arah Giotto dengan kecepatan brutal. Akibatnya, sang bos Primo terpaksa membatalkan niatnya.

Mobil itu berhenti tepat di hadapan Giotto. Sialnya kaca mobil yang terparkir menyamping sembarangan di depannya tak bisa diintip.

Pintu pun terbuka.

Dan Giotto terkejut.

—Menampakkan sosok Alaude yang baru saja turun dari kendaraan mewah. Kaki jenjang itu menapakkan tanah, kemudian berdiri tegap.

Angkuh seperti biasa.

"...Alaude." Tak ada topeng yang disematkan ke dalam wajahnya. Giotto memanggil nama penjaga awannya dengan tertekan.

Sementara di sisi lain...

Hibari menyiapkan tonfa di kedua tangannya. Saatnya mencabik orang-orang yang berani mengambil Tsunayoshi-nya. Bila perlu, menghancurkan pangkalan mereka.

Begitu pun dengan Gokudera dan G.

Disertai Yamamoto dan Asari.

Juga Ryouhei dan Knuckle turut meneriaki bos mereka masing-masing.

Ada satu yang tidak menghampiri tkp, Reborn mengamati semuanya dari atap bangunan Namimori paling tinggi.

TO BE CONTINUE.

Next, chapter 13: Akhirnya giliranmu telah tiba.


Halo!~ Terima kasih banyak sudah setia membaca ceritaku!~ Semoga kalian suka dengan alurnya! Aku minta maaf jika pada akhirnya mengecewakan kalian!...

Saran dan kritik selalu diterima~!

Jangan lupa tinggalkan jejak~ jejak kalian sangat berarti untukku agar semakin bersemangat melanjutkan ceritanya~

Sekali lagi, terima kasih banyak sudah menemaniku sampai chapter 12!~

Stay safe, stay healthy untuk para pembaca setiaku~

Sampai ketemu di chapter selanjutnya~

[15 April 2023]