A/N : Maaf lama menunggu… akhirnya saya berhasil menyelesaikan chapter ini dengan selamat sejahtera. Tanpa banyak bacot, silahkeun dibaca dan dinikmati kalo bisa.


Hubungan persahabatan antar golongan darah (part II)


A – A (Japan - Germany)

"Jadi seharusnya kita menyerang mereka dari depan!" teriak Japan yang tensinya sedikit melewati batas.

Germany menggelengkan kepalanya, tatapannya meremehkan. "Kau yang tidak mengerti strategi perang!"

Mereka berdua kini bertatap-tatapan dengan amarah. Germany mengusulkan untuk membuat strategi perang dengan sedikit trik mengecoh, dan dapat dipastikan Japan tidak bisa menerima cara curang seperti itu. Darah bushido yang mengalir di tubuhnya menolak mentah-mentah. Menyerang dari belakang itu hanya tindakan pengecut. Sedangkan Germany berkeras kalau itu bukan suatu kecurangan, melainkan strategi berperang.

"Vee~ aku lapaaar…." Italy yang sedari tadi melihat Germany dan Japan berdebat akhirnya angkat bicara. Ya, minta makan.

"Mau kubuatkan onigiri, Itaria-kun?" tawar Japan.

Senyum Italy mengembang seketika, "Waah, terimakasih Japan!"

Selang beberapa menit kemudian Italy kembali protes, "Aw! Aw! Aaw! Germany….. tolong akuuu…."

"Ada ap—BULGARIA SUDAH KUBILANG KITA INI SATU TIM!"

Dengan muka datarnya, Bulgaria segera meninggalkan Italy setelah dibentak oleh Germany, membawa ranting yang dipakainya untuk memukul kepala Italy. Ia sedang bosan.


Masalah seriusnya adalah karena masing-masing keras kepala. Kedua belah pihak tidak akan mundur satu langkah pun. Namun keduanya merupakan pribadi yang senang melayani dan bisa bersimpati pada orang lain.


A – B (Japan - Indonesia)

Japan merapikan lembaran-lembaran hasil kerjaannya yang telah ia cetak barusan. Menjepitnya dengan penjepit kertas dan memasukkannya ke dalam map berwarna biru. Selesai seudah kerjaannya untuk hari ini. Hanya tinggal melapor pada Indonesia bahwa semuanya telah beres dan menunggu beberapa konfirmasi darinya. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Ia berpikir untuk menelepon Indonesia, karena perbedaan waktu 2 jam, pastinya Indonesia belum tidur karena di sana masih pukul 21.00.

'kesana kema~ri mencari alamat! Dung dung! Namun yang kute~mui bukan dirinya!'*

'Nada deringnya berubah lagi.' pikir Japan.

[Yayaya, siapa ini? haloo?]

"Ha..halo. Indoneshia-san?"

[Siapa? Oh, Japan! Kenapa?]

"Anu…saya cuma mau tanya soal acara minggu depan. Apa semua sudah siap? "

[BRAK! GEDUBRAK! AHAHAHAHAHA!]

Terdengar suara benda—atau mungkin manusia—jatuh disusul suara tawa yang membahana dari seberang sana.

"Indoneshia-san?"

"Haloo?"

[A…ah! Maaf! Maaf! Sebentar ya Japan!] kemudian samar-samar terdengar suara teriakan Indonesia, tampaknya ia menutup telepon menggunakan telapak tangannya.

[Heh Malay! Kecilin dulu itu tipinya! Gue lagi nelpon tau enggak!]

[Kan elu yang telpon, kok gue yang repot?]

[Ini telpon penting dari Japa—AHAHAHAHAHA! GOBLOK BANGET ITU SI SULE!]

[Nah pan itu elu juga yang nonton, pake protes…]

[Udah keciliiin… gue gak konsen nih!]

Suara Televisi di seberang sana makin samar terdengar, dan kini suara Indonesia jelas kembali.

[Maaf ya, gangguan teknis. Si Malay nelen botol tadi.]

Japan yang malas berdebat dengan Indonesia hanya mengiyakan saja. "Jadi, bagaimana? Semua persiapan untuk minggu depan sudah beres?"

[Aah! Acaranya minggu depan ya? Nggak kerasa ya, ahahhaa!]

"Sudah beres belum?"

Terdengar suara kepala digaruk.

[Su…dah.]

"Bisa diperinci?"

[Jadwal acara sudah beres…err…mungkin. Semua pengisi acara sudah dihubungi. Emm, apalagi ya…Oh! Design banner & poster sudah selesai.]

"Kapan dicetak? Kan tinggal seminggu lagi? Memangnya sempat?"

[Sempet kok sempeet… kata abang-abangnya bisa 3 hari jadi.]

"Yakin?"

[Iya…kalo sepi sih…]

Japan hening sejenak, "Lalu kapan dicetak?"

[Emm…kapan itu…]

"Kapan?" tanyanya mulai tak sabar.

[Ya… aku sendiri belum tau.]

"Kok enggak tau!"

[Ya gimana? uangnya belum cair! …Ups! Eh barusan bukan aku yang ngomong lho!]

"IN-DO-NE-SHI-A-SAN! KALAU BESOK UANGNYA BELUM CAIR JUGA, AKAN KUDATANGI ATASANMU!"

Kemudian sambungan telepon diputus oleh Japan.

Berapa menit kemudian Japan terduduk lemas setelah amarahnya mulai mereda.

Aku bodoh. Kenapa aku tidak bisa menahan diriku untuk marah?

Aku jadi lupa minta lagu yang dipakai Indonesia untuk nada dering itu. Padahal bagus…


Meski banyak perbedaan dan ketidakcocokan pendapat, secara tidak diduga-duga pasangan A dan B bisa menjadi teman bicara yang bertahan lama. Orang bergolongan darah A berpendapat bahwa ucapan maupun tindakan orang bergolongan darah B itu menarik. Sedangkan orang bergolongan darah B perlu sedikit peduli bahwa A itu orang yang sensitif.


A – AB (England - Hongkong)

Coret. "Begini."

Coret lagi. "Sesuaikan dengan garis ini."

Coret, coret dan coret lagi. "Lihat, ini tidak terlalu sulit, kan?"

Hong Kong menatap lembaran kertas penuh garis-garis tipis di hadapannya. Di tengah-tengah kertas itu terdapat coret-coret aneh, berbentuk seperti genangan air.

"Coba kau gambar peta rumah dan daerahmu sendiri. Kau lapar kan? Biar kusiapkan sementara kau menggambar." kata England yang kemudian meninggalkan Hong Kong sendiri.

"Gambarnya jelek." komennya setelah sang pemilik rumah pergi. Namun Hong Kong tetap mengikuti urutan yang diajarkan England untuk menggambar sebuah peta. Berdasarkan data pelayaran yang dipinjamkan England padanya, Hong Kong mulai menggambar sesuai dengan garis lintang dan bujur yang benar.

Sudah lewat beberapa tahun sejak Hong Kong meninggalkan rumah kakak kandungnya, China. Sebenarnya Hong Kong tidak terlalu peduli dan tidak ingin membandingkan China dan England yang telah menjadi kakak angkatnya kini. Namun diluar kuasanya, pikiran-pikiran semacam itu tetap berlari-lari di benaknya. Mereka berdua memang kakak yang baik. Kalau disuruh memilih, tentu saja Hong Kong akan tetap memilih untuk tetap tinggal dengan kakak kandungnya. Meski ia tidak bisa tidak mengakui bahwa England memang kakak yang bertanggung jawab. Tidak seperti China yang terkadang meninggalkannya sendiri di belakang barang dagangan, menyuruhnya berdagang sehingga China sendiri bisa berdagang barang lain di tempat lain. Yang ada di pikiran China memang tidak ada yang lain selain berdagang, mengembara untuk berdagang, dan mengumpulkan sebanyak mungkin uang untuk berdagang lagi. Selalu saja tentang jualan.

Berbeda dengan England, kakaknya sekarang. England begitu memerhatikan apa-apa yang dibutuhkan oleh Hong Kong. Meskipun dia memang agak sedikit sinting karena suka berbicara sendiri. England juga tidak pernah pelit dalam mengajarkan ilmunya pada Hong Kong. Bukan dalam hal memasak tentu saja. Seburuk-buruknya masakan Hong Kong, setidaknya tidak beracun dan masih layak makan.

"Hong Kong! Makanannya sudah jadi!" kata England dengan riangnya saat masuk kembali ke kamar membawa nampan dan semangkuk—boleh kusebut racun?—sup.

"Apa itu?"

"Ini cream sup. Kau kan tidak suka scone dengan selai strawberry buatanku kemarin, jadi kubuatkan yang lain."

"Aku bukannya tidak suka."

England bengong sejenak. 'Aku bukannya tidak suka' kata-kata Hong Kong berulang di kepalanya.

JADI DIA SUKA?

"Jadi sebenarnya kau suka?" tanya England penuh harap.

"Sayangnya tubuhku yang menolak makanan itu masuk. Eh, yang kemarin itu makanan kan, ya?"

England pun hancur seketika.

"Ngomong-ngomong, gambarmu jelek. Boleh kugambar ulang?"

Dan England yang sudah hancur kini menjadi debu yang perlahan hilang tertiup angin.


Kunci dari hubungan kedua golongan darah ini ada pada AB. Orang yang bergolongan darah AB mengagumi sifat dan tanggung jawab dari golongan A. Namun tidak ada yang bisa dilakukan A apabila AB sudah bertindak semaunya. Jika AB dapat mengerti ke-sensitif-an golongan A, maka hubungan ini akan berjalan sangat baik.


B – B (Indonesia - Malaysia)

"Kak, kita mau kemana dulu nih?" tanya Singapore pada kedua kakaknya. Brunei tak perlu ditanya, toh kalaupun ditanya jawabannya hanya 'terserah kakak saja'.

"Rumah Hantu!" "Roller Coaster!" jawab Indonesia dan Malaysia bersamaan.

"Rumah Hantu dulu!" teriak Indonesia.

"Enggak! Roller Coaster dulu! Mumpung sepi, nanti keburu rame males ngantrinya tauk!" balas Malaysia tidak mau kalah.

Indonesia berkacak pinggang, "Kalo ke Rumah Hantu pas udah capek nggak seru! Nggak berasa serem!"

"Sereman juga muka elu, Ndon."

"Apa lo bilang?"

"Sereman. Muka. Elu. Budek ya?"

"Lo tau nggak? Abang-abang penjaga Roller Coaster juga enggak bakal ngijinin lo masuk. Overweight. Lo kebanyakan makan nasi lemak."

"Nasi Lemak itu namanya doang. Bego. Bukan nasi campur lemak!"

"AAAAAAAH!" Singapore berteriak stress dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan brutal, "Udah deh kak. Aku bosen tiap hari harus begini terus."

"Istighfar kak." Kata Brunei berusaha menenangkan Singapore.

Kini Singapore yang berkacak pinggang, wajahnya menunjukkan amarah yang ditahan. "Gini aja, aku bakal ke Rumah Hantu sama Kak Nesia. Brunei bakal ikut Kak Malay naik Roller Coaster. "

Akhirnya mereka semua setuju untuk berpisah menjadi 2 kelompok dan pergi masing-masing.

Setengah jam kemudian…

"Hoeeekk…"

"Kak Malay? enggak apa-apa?" tanya Brunei sambil menepuk-nepuk punggung Malaysia.

Kemudian setelah berkumur dan membersihkan mulutnya, Malaysia kembali menegakkan badannya. Wajahnya masih sedikit pucat, namun kondisinya sudah membaik.

Ia menoleh pada adiknya dan berkata, "Ternyata salah ya naik Roller Coaster abis sarapan. Harusnya tadi kita ke Rumah Hantu dulu…."

Sementara itu di pintu keluar Rumah Hantu…

"Hantunya belon selese dandan… kita malah ngeliatin mereka lagi make-up. Tau enggak, harusnya tadi kita naik Roller Coaster dulu aja…" kata Indonesia seraya menatap Singapore dengan tampang sedikit menyalahkan. Sepanjang hari itu Singapore bersabar untuk tidak menendang bokong kakaknya.


Seandainya bisa saling terbiasa dengan sifat sesukanya sendiri, maka hubungan keduanya akan luar biasa. Karena orang bergolongan B tidak bisa berlama-lama menyatukan diri dengan tindakan maupun pemikiran orang lain, maka kedua belah pihak akan bertindak sesukanya sendiri sehingga pada awalnya akan banyak sekali perbedaan.


B – AB (Indonesia – Hong Kong)

"Kata pak guru kita disuruh mengamati perkembangan tanaman terong ini setiap hari selama 2 minggu." Indonesia menjelaskan tugas kemarin pada Hong Kong yang menjadi kelompoknya.

Karena kemarin Hong Kong sakit dan tidak bisa mengikuti pelajaran, ia hanya bisa pasrah saat mendapatkan kenyataan bahwa ia sekelompok bersama Indonesia. Alamat tugas enggak selesai. Kalau selesai, mungkin bakal berantakan.

"Berarti kita harus melihat perkembangan si Terong setiap hari di jam yang sama." terang Hong Kong.

Indonesia masih melipat kedua lengannya di depan dada, dahinya berkerut. "Kenapa harus Terong ya?"

"Hmm?"

"Aku nggak suka Terong. Rasanya aneh."

Mendengar itu, Hong Kong ikut-ikut bingung. "Mungkin karena pak guru suka. Atau mungkin karena warnanya ungu."

"Memangnya kenapa kalau ungu?"

"Hmm… lucu?"

Indonesia memiringkan kepalanya, "Sebenernya kita lagi ngomongin apa sih?"

"Terong?"

"Bukannya tugas?" koreksi Indonesia.

"Ah iya." 'POK' Hong Kong menepuk telapak tangannya. "Tugas. Jadi, kapan kita melihat Tuan Terong?"

Indonesia menghela napas. Ia malas. "Tidak usahlah…"

Sebelum Hong Kong bertanya, Indonesia sudah mengemukakan alasannya. "Kita ukur saja saat terakhir. Selisih panjangnya baru dibagi 14. Nanti tinggal dibedakan 0,1-0,2 saja supaya pak guru enggak curiga. Soal format tabelnya, kita tanya sama Singapore saja."


Dapat dikatakan orang yang paling mengerti golongan AB adalah golongan B. Di lain pihak, golongan AB dapat memahami cara berpikir praktis golongan B. Pasangan ini akan menjadi pasangan yang cocok dan santai, karena si B akan menanggapi perubahan suasana golongan AB yang tiba-tiba dengan biasa-biasa saja.


AB – AB (Hong Kong - Norway)

"Halo." Sapa Norway yang kebetulan bertemu Hong Kong di sebuah taman. Hong Kong hanya menundukkan kepalanya sedikit sebagai jawaban.

Tanpa dipersilahkan, Norway duduk di sebelah Hong Kong yang sedang menatap awan-awan di langit. Kedua telapak tangannya kini bersentuhan dengan helai-helai rumput hijau yang halus.

"Hari yang tenang ya." Sahut Hong Kong yang belum merubah posisi duduknya, dagunya masih terpaku pada kedua lututnya.

Norway langsung menimpali dengan anggukan, "Iya."

"Ada perlu apa?" tanya Hong Kong.

Norway menoleh, "Hmm… tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberi sedikit informasi bahwa fanfiction ini akan segera berakhir."

Hening sejenak.

"Lalu?"

"Tidak apa-apa."

"Oh. Baiklah."

Angin pun berhembus pelan mengelus helai-helai rambut mereka.


Dibandingkan dengan golongan darah lain, persamaan temperamen dari orang yang bergolongan AB itu banyak. Orang bergolongan AB itu seandainya berkumpul, akan mengerti satu sama lain. Dalam setiap pembicaraan yang mereka lakukan ada suatu perasaan damai.


IYAK! TAMAT! BUBAR BUBAAAR! ABANGNYA MAU PULAAANGG!


Norway enggak bohong, emang fic ini akhirnya TAMAT! YEAAHH! Setelah sekian lama, buhuahahaha XD

Oh iya, jangan salahkan saya kalo cerita Indonesia – Hong Kong sama Norway – Hong Kong nya abstrak banget. Yang ada AB biasanya emang abstrak karna makhluknya sendiri juga abstrak, jadi maklumin aja. [cari kambing hitam]

Catatan kakinya siapa (?)

Bushido : Jalan samurai

*Nada dering [Ayu Ting-Ting – Alamat Palsu] #demamayutingting kemanaaa kemanaaa kemaaanaaaa~